Tentang wir

structural engineer, computer programming, drafter, digital photographer, writer, lecturer, father of two children, also christian faith.

daftar jurnal ilmiah internasional teknik sipil – struktur

Banyak alasan memilih kehidupan sebagai seorang dosen dibanding praktisi di lapangan. Namun ada juga yang berpikir bahwa kehidupan seorang dosen itu monoton, maklum dia hanya mengajar materi yang relatif sama kepada mahasiswa-mahasiswanya dari semester ke semester, lalu bertahun-tahun juga akhirnya. Adapun yang selalu baru hanya muridnya. Itu tentunya dengan catatan bahwa muridnya pintar-pintar dan selalu lulus mata kuliah yang diajarkan. Karena kalau muridnya banyak yang tidak lulus, maka saat ini yang dituduh tentu ke dosennya, kesannya dosennya tidak mampu mengajar. ūüėÄ

Adanya pendapat seperti di atas itu juga yang menimbulkan cara pandang pada masyarakat bahwa kehidupan praktisi di lapangan adalah dunia yang nyata. Mereka dapat berbangga, karena mereka ketemu masalah yang selalu baru. Dinamis, begitu pernyataannya. Mereka bahkan berpikir bahwa negaranya maju adalah berkat karya nyata mereka, bukan karena pernyataan para teoritis di kampus, yang notabene adalah dosen-dosen yang disebut monoton di atas.

Apakah seperti itu kehidupan seorang dosen dalam kaca mata sehari-sehari.

Sebagai seorang yang melakoni kehidupan dosen yang dimaksud, maka pandangan di atas tidak bisa disalahkan. Tugas utama dosen, sehingga mereka mendapatkan gajian adalah mengajar murid-murid mahasiswanya. Jika tidak ada mahasiswa yang diajar, maka bisa-bisa institusinya akan memindahkan dosen yang bersangkutan karena membebani anggaran belajannya. Jadi kehidupan sebagai pengajar adalah utama, jika tidak mau gajinya dicoret.

Nah dalam mengajar tersebut maka yang utama adalah membuat pintar murid-muridnya, kalau bisa mereka dapat lulus semua. Itu tentunya tidak sekedar lulus, tetapi berharap bahwa ilmu yang diajarkan dosen dapat menjadi bekal para alumninya untuk berkiprah di dunia nyata setelah lulus.  Jika tujuan itu dapat dicapai, maka tidak ada tuntutan lagi bahwa materi yang diajarkan selalu baru tiap tahunnya. Paling-paling cuma mengikuti peraturan pemerintah yang terkait dengan materi yang diajarkan tersebut.

Lho maksudnya itu apa pak Wir, koq terkait peraturan pemerintah segala ?

Yah memang, itu mungkin hanya berlaku untuk materi kuliah yang aku ajarkan. Maklum, aku khan mangajarkan mata kuliah terapan, seperti Struktur Baja, Struktur Kayu, dan semacamnya. Kalau materinya bersifat dasar, seperti Matematika dan Fisika maka jelas pernyataan saya di atas, tidak berlaku.

Materi struktur baja dalam aplikasinya, seperti perencanaan jembata baja atau gedung baja dapat terkait dengan keamanan publik. Untuk memastikan itu, maka pemerintah membuat suatu peraturan khusus, untuk mensyaratkan setiap perencanaan yang dibuat harus memenuhi ketentuan minimum untuk menjamin keamanan bangunan terhadap hal-hal khusus, seperti beban gempa dsb. Peraturan tersebut bisa berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Lho koq bisa berubah ya pak. Apakah ilmu-ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi itu juga berubah, siapa yang merubah dan dimana perubahan itu dapat dilihat / diketahui ?

Ini suatu pertanyaan filosofi. Tidak setiap orang dapat menjawabnya, apalagi kemudian dikaitkan dengan kehidupan dosen, yang dianggap sebagian orang adalah kehidupan tidak nyata (teoritis) dan stagnan (monoton dan tidak dinamis). Apakah dengan demikian perubahan yang dimaksud dihasilkan oleh para praktisi di lapangan ?

Baca lebih lanjut

Iklan

UAS Struktur Baja 1 – April 2017

Bekerja sebagai dosen di kampus sebenarnya tidak senang jika disebut dosen killer. Nggak ada untungnya di era jaman sekarang ini, yang jika tidak puas sedikit mahasiswanya bisa saja langsung demo (tapi nggak sampai teriak-teriak di jalan). Apalagi mengajarnya di kampus swasta, yang sumber pendapatan utamanya adalah SPP mahasiswa.

Itu makanya saya harus bekerja keras membuat materi-materi lengkap untuk mengajar. Karena lengkapnya maka sampai-sampai laku ketika dibuat menjadi buku. Itu salah satu alasan mengapa saya rajin menulis buku (buku yang aku maksud di distribusikan LUMINA Press). Karena materi yang saya ajarkan relatif banyak, itu lho yang mata kuliah Struktur Baja. Semua materi yang kutulis di buku, yaitu sekitar 900 halaman adalah materi untuk mata kuliah Struktur Baja I, II dan III di Universitas Pelita Harapan. Oleh sebab itu saya sadar, kalau mereka harus menghapal rumus-rumus di buku, pasti banyak yang fail. Oleh sebab itu dalam ujian-ujiannya maka mereka boleh membuat dan membuka catatan tangan yang mereka buat (bukan open books lho).

Baca lebih lanjut

kunjungan ke LRT Palembang

Bagi banyak orang di masyarakat teknik sipil, tentu tidak banyak yang tersinggung jika aku menyatakan diri unggul di bidang teoritis rekayasa struktur, dibandingkan jika kata teoritisnya dihilangkan. Apalagi didukung oleh produk teoritis yang kubuat (buku struktur baja), yang sudah banyak tersebar di kampus-kampus maupun kantor konsultan rekayasa yang ada. Bahkan bagi seorang structural engineer yang menggeluti ilmu struktur baja, bisa dikatakan tidak up-dated jika belum membaca buku-buku tersebut. Jujur, bukuku tentang struktur baja, adalah buku pertama berbahasa Indonesia yang membahas secara detail SNI baja terbaru (2015). Bahkan bisa dijadikan buku pembanding untuk menguasai SNI tersebut (maklum buku tersebut dibuat mengacu langsung AISC 2010 yang merupakan rujukan utama dari SNI baja kita yang terbaru).

Kata teoritis perlu ditekankan, karena aku lebih banyak duduk di meja atau di depan kelas mengajar di kampus, dibanding lapangan (site project). Dalam hal ini, cocoknya aku disebut golongan engineer teoritis, adapun di sisi lain adalah golongan engineer praktisi, yang sehari-hari terlibat pelaksanaan di project.

Di sini, di Indonesia ada kesan bahwa engineer yang sesungguhnya itu adalah golongan engineer praktisi. Tentang itu, aku sering memperhatikan orang-orang proyek memberi kesan sinis pada golongan engineer teoritis, khususnya ketika petunjuk-petunjuk darinya terkesan bertele-tele.

Seperti diketahui, banyak golongan engineer teoritis mempunyai gelar akademik yang berderet-deret (mungkin termasuk aku juga ūüėÄ ). Bagi awam pemilik uang (owner), adanya banyak gelar dapat menjadi petunjuk bahwa mereka layak disebut ahli dan punya idealisme tinggi terhadap mutu. Oleh sebab itu wajar jika di antara mereka (engineer teoritis) banyak yang diangkat menjadi reviewer (pengawas) oleh owner, untuk mempertahankan mutu pekerjaan konstruksi yang dikerjakannya. Karena jadi reviewer atau pengawas itulah maka petunjuk atau nasehatnya harus didengar. Jika tidak, bisa-bisa approval pembayaran tidak keluar. ūüėÄ

Dalam konteks itulah, maka ada anggapan bahwa engineer teoritis yang terlibat di proyek adalah sekedar pelengkap birokratis (administrasi), adapun pelaksana rekayasa yang sejati adalah engineer praktisi. Itu berarti kalau mengaku unggul di bidang teoritis, bukanlah sesuatu yang prestise, sehingga bukan sesuatu yang perlu diperebutkan. ūüėÄ

Baca lebih lanjut

Scopus, ISI-Thomson, dan Predator (Terry Mart)

Komentar : Jujur saja, saat ini sedang terlibat dalam rangka pengurusan jenjang akademik. Oleh sebab itu setiap ada kata-kata penting yang terkait hal tersebut, maka tentunya mata jadi terpincing. Kata-kata yang dimaksud adalah jurnal internasional, yang bereputasi, Scopus, bahkan jurnal abal-abal. Nah siang ini, Selasa 28 Februari 2017 ketika membuka harian Kompas.print on-line ternyata ilmuwan terkenal pak Terry Mart juga sedang membahasnya. Jadi jangan sampai tulisan beliau susah dicari lagi, maka saya abadaikan di blog ini. Jadi artikel di Kompas tersebut saya copy-paste utuh ya. Jujur, ini hanya membantu bagi teman-teman yang membutuhkannya, terkait kebijakan Menteri yang semakin berat bagi penulisan ilmiah para dosen.

Scopus, ISI-Thomson, dan Predator

Terry Mart (Kompas – 28 Februari 2017)

Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 mewajibkan seorang profesor dalam tiga tahun menghasilkan satu karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi, atau tiga karya ilmiah di jurnal internasional, serta menulis satu buku.

kompas-terry-mart

Jika tidak, maka tunjangan kehormatan akan dihentikan. Hal yang mirip, tetapi lebih lunak, juga diberlakukan kepada dosen dengan jabatan lektor kepala. Untuk bidang-bidang tertentu, karya ilmiah tersebut dapat diganti paten atau karya monumental.

Baca lebih lanjut

konsultasi karir dosen – opini

Ada pembaca yang ngotot ingin minta pendapatku tentang karirnya sebagai dosen.  Ini isi suratnya kepadaku :

Pak Wir….saya selalu koleksi buku-buku bapak, sangat membantu dalam kegiatan saya mengajar, terutama sejak saya mendapatkan CD SAP2000 versi student yang ada dalam buku.

Pak Wir… saya boleh sedikit curhat nggak ya? Saya sadar…menjadi dosen professional tidak mudah..tapi itu sudah saya jalani….saat ini saya sudah LK …meski S1 dan S2 tidak sejalur, S1 t. Sipil, lulus tahun 1988 dengan total lulus > 160 sks , S2 Magister Keuangan lulus tahun 1999, pada saat visitasi kopertis 3, saya ditegur karena jabatan LK sy sudah bertahun-tahun tidak diupgrade karena saya tidak punya tulisan di jurnal internasional, dan saya juga disarankan pindah jalur ke ekonomi….terang saja saya tolak…saya ngajar dan riset di sipil….untuk sekolah lagi di s2 sipil….males juga ya pak Wir….kalau langsung ke s3 apa bisa ya ? tapi pastinya berat…..ilmu dasar saya pasti kurang……lebih baik saya tetap lakukan riset dan berusaha untuk bisa nulis di jurnal internasional ….tapi untuk riset kadang juga terkendala …topik apa yang akan saya ambil? Dengan dasar ilmu hanya s1 sipil, konsentrasi struktur, kira-kira topic apa yang cocok untuk saya…

Riset yang pernah saya buat yaitu ‚Äúmengukur nilai factor reduksi beton bertulang (nilai phi) yang sesuai dengan mutu pelaksanaan di Surabaya‚ÄĚ, seperti kita tau nilai phi lentur di SNI = 0.8 , sedangkan nilai phi lentur di ACI = 0.9, begitu juga untuk nilai phi geser dan axial , dengan dasar itulah ‚Ķsy lakukan riset ‚Ķ.Nah topic riset apalagi ya pak wir yang kira2 bisa saya kerjakan? trimakasih atas perhatiannya.

Isi suratnya memang kebanyakan curhat, selanjutnya menyampaikan kondisi karirnya selama ini, lalu diakhiri dengan minta nasihat. Terus terang saya agak bingung, harus menjawab apa. Ini mah bukan keahlian saya, jadi ya saya biarkan saja tidak terjawab. Eh, ternyata yang bersangkutan menagih jawaban, katanya saya tidak memberi perhatian. Ya sudah ya, saya mencoba memberi tanggapan terkait kondisi anda. Seperti biasa, saya akan menjawab apa adanya, jika tersinggung maka ingat saja bahwa anda yang meminta opini saya, dan saya sekedar menjawab apa adanya. Ini nggak basa-basi lho.

Baca lebih lanjut

Seminar di UPH : 17-18 Mei 2017

Bisa mengajar di depan kelas adalah hal bisa dari seorang dosen. Mereka memang dibayar untuk itu. Katakanlah bahwa materi pengajaran di kelasnya sangat inspirati, bagus sekali sehingga murid yang mendengarkannya menjadi terkesan. Jika murid kelasnya sekitar 50 orang, dan mata kuliah itu diberikan di setiap tahunnya maka untuk menginspirasi seribu orang, maka perlu waktu sekitar 20 tahun. Itu berarti menjadi artis akan lebih mudah memberi pengaruh daripada seorang dosen dengan pengajarannya.

Baca lebih lanjut

konsistensi – suatu cara penilaian

Selamat pagi semua.

Salah satu kompetensi penting yang menentukan sukses atau tidaknya kehidupan seorang adalah kemampuan menilai (sesuatu) dan mengambil / menentukan keputusan darinya. Jalan hidup, termasuk di dalamnya jodoh, kesejahteraan, kegembiraan, maupun kegagalan, kesedihan, bahkan kematian, semuanya tergantung dari setiap penilaian dan keputusan yang diambil.

Menentukan sikap terhadap sesuatu, atau tidak, adalah suatu cara penilaian juga. Jadi mengabaikan sesuatupun juga suatu bentuk penilaian, yang umumnya dilakukan karena menilai bahwa sesuatu itu tidak penting. Ketika sesuatu yang diabaikan itu ternyata penting, dan kita tidak mendapatkan keuntungan darinya (ada orang-orang lain yang mendapatkan manfaat), itu artinya kita gagal melakukan penilaian yang benar. Sesuatu yang kita sebut sebagai kesempatan baik, menjadi terlewatkan. Ujung-ujungnya adalah penyesalan.

Untuk menilai memang perlu suatu pemikiran, juga untuk pengambilan keputusan perlu suatu kebebasan. Itulah alasannya mengapa yang namanya kemerdekaan adalah sesuatu yang penting, bahkan jika perlu harus diperjuangkan.  Maklum tanpa ada kebebasan atau kemerdekaan untuk mewujudkan hasil penilaian yang kita lakukan, maka ujung-ujungnya adalah kekecewaan. Ibarat nafsu besar, tetapi tenaga loyo. Nelangsa.

Baca lebih lanjut