konsistensi – suatu cara penilaian


Selamat pagi semua.

Salah satu kompetensi penting yang menentukan sukses atau tidaknya kehidupan seorang adalah kemampuan menilai (sesuatu) dan mengambil / menentukan keputusan darinya. Jalan hidup, termasuk di dalamnya jodoh, kesejahteraan, kegembiraan, maupun kegagalan, kesedihan, bahkan kematian, semuanya tergantung dari setiap penilaian dan keputusan yang diambil.

Menentukan sikap terhadap sesuatu, atau tidak, adalah suatu cara penilaian juga. Jadi mengabaikan sesuatupun juga suatu bentuk penilaian, yang umumnya dilakukan karena menilai bahwa sesuatu itu tidak penting. Ketika sesuatu yang diabaikan itu ternyata penting, dan kita tidak mendapatkan keuntungan darinya (ada orang-orang lain yang mendapatkan manfaat), itu artinya kita gagal melakukan penilaian yang benar. Sesuatu yang kita sebut sebagai kesempatan baik, menjadi terlewatkan. Ujung-ujungnya adalah penyesalan.

Untuk menilai memang perlu suatu pemikiran, juga untuk pengambilan keputusan perlu suatu kebebasan. Itulah alasannya mengapa yang namanya kemerdekaan adalah sesuatu yang penting, bahkan jika perlu harus diperjuangkan.  Maklum tanpa ada kebebasan atau kemerdekaan untuk mewujudkan hasil penilaian yang kita lakukan, maka ujung-ujungnya adalah kekecewaan. Ibarat nafsu besar, tetapi tenaga loyo. Nelangsa.

Oleh sebab itu tidak ada jaminan, bahwa suatu kemerdekaan akan langsung berdampak pada kehidupan seseorang. Kemerdekaan hanyalah kesempatan atau ruang gerak, yang mewujudkkan adalah tindakan, yang dihasilkan dari suatu keputusan berdasarkan hasil penilaian akan sesuatu. Jadi ketika suatu cara penilaian ternyata tidak berubah dibanding yang dahulu (ketika belum merdeka), maka tentunya antara merdeka atau tidak, tidak signifikan perbedaannya.

Nggak juga pak Wir, itu kakek dan nenek saya, antara apa yang mereka lakukan sebelum dan sesudah kemerdekaan (tahun 1945 dulu), kayaknya nggak ada berubah lho. Tetap sederhana dan tidak macam-macam. Pasif gitu lho, tetapi mereka bilang bahwa kemerdeaan itu ada dampaknya lho dan  nereka bangga dengan kemerdekaan tersebut.

Huss, . . .  itu karena yang berwenang mengatur masyarakat (pemerintah baru setelah kemerdekaan) langsung aktif mengambil inisiatif mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positip. Mereka (kakek / nenek juga anggota masyarakat lainnya) meskipun pasif (tidak melakukan hal-hal yang berbeda dari dulu) telah mendapatkan pengaruh positipnya.Jadi suatu proses penilaian dari seseorang yang memiliki kekuasaan (wewenang) maka akan berdampak besar bagi masyarakat lainnya.

Apa pentingnya hal itu pak Wir, kita khan orang-orang biasa, tidak punya kekuasaan dan wewenang. Lebih baik, bekerja dengan baik saja khan pak. Nggak usah ikut-ikutan yang punya kuasa. Tul khan pak ?

Pernyataan anda itu suatu bentuk cara anda menilai sesuatu, yang berujung bahwa hal itu tidak perlu dipersoalkan / dipikirkan karena kita orang biasa. Hanya saja kita perlu ingat, bahwa setiap keputusan orang berwenang terkait masyarakat, maka kita bisa juga kena dampaknya. Jadi perlu kita pastikan bahwa yang berwenang dapat bertindak untuk kepentingan orang atau masyarakat banyak. Apalagi di jaman demokrasi seperti sekarang ini, dimana orang banyak bisa berpartisipasi mewujudkannya, yaitu dengan cara memilih orang yang tepat untuk diberikan kewenangan. Itulah PILKADA.

Dalam hal itu yang penting adalah mampu menilai secara tepat kandindat yang tepat untuk menjadi Kepala Daerah, sehingga diharapkan nanti program-programnya adalah untuk kepentingan orang banyak. Kita sebagai masyarakat tidak akan menyesal kemudian harinya.

Mari kita membahas tentang cara menilai.

Cara menilai yang paling banyak dilakukan adalah dengan cara membandingkan dan mengevaluasinya berdasarkan tangkapan panca indera pribadi yang kita punya. Akibatnya, orang yang berpenampilan fisik lebih baik, atau suara yang merdu dapat mengecoh kita. Ini adalah suatu cara penilaian yang paling bawah (dangkal). Hasilnya bisa sangat subyektif dan bersifat emosional. Cara ini mempunyai porsi yang cukup besar seseorang dalam menilai sesorang wanita untuk dipilih menjadi istri, misalnya.

Cara penilaian di atas, tidak menjamin bahwa yang menjadi pilihannya adalah yang tebaik. Buktinya banyak artis, yang jika dinilai dari tampilan fisik, suara yang menurut panca indera adalah baik, ternyata gagal di tengah jalan ketika menjalani biduk rumah tangga.

Oleh sebab itu perlu cara penilaian yang lain. Cara ini masih saja memakai kriteria membandingkan, hanya saja tidak didasarkan pada panca indera subyektif kita, tetapi juga pendapat orang lain. Ini biasanya sangat membantu untuk mengatasi keraguan yang ada. Jika banyak orang yang sependapat, maka keraguan yang kita miliki semakin terkikis. Selain pendapat orang lain, ada baiknya juga dibandingkan dengan informasi lain yang kita dapat dari literatur.

Adapun yang namanya literatur atau buku, tentunya tidak setiap orang terbiasa melakukannya. Apalagi di Indonesia ini, meskipun sudah lebih dari 1/2 abad merdeka, tetapi banyak dibilang masyarakatnya miskin atau buta literasi. Itu pula alasannya, mengapa pada jaman gadget seperti ini, hanya sekedar membaca judul berita, sudah bisa membuat keputusan. Wawasan yang mereka miliki sangat minim.

Meskipun miskin literasi, tetapi masyarakat Indonesia dikenal akan kuat beragamanya. Oleh sebab itu mereka sudah terbiasa untuk membaca kitab sucinya, bahkan kalau bisa khatam atau tamat mempelajari / membaca akan mendapatkan penghargaan. Orang-orang tua akan berbangga dan bergembira karena anak-anaknya telah khatam dengan alkitab-nya. Ini biasanya dirasakan oleh teman-teman muslim maupun kristen. Kalau di Katolik kelihatannya tidak terlalu menjadi tradisi. 😀

Oleh sebab itu banyak dari proses penilaian yang dilakukan ( di Indonesia atau di negara-negara dengan agamanya kuat) adalah dibandingkan isinya dengan isi kitab suci dari agama yang dianutnya. Nyatanya memang banyak isi dari kitab suci dari suatu agama adalah mengandung kebenaran yang bersifat universal, diakui kebenarannya oleh semua orang. Bahkan kasus penangkapan KPK akan hakim MK yang ditangkap karena menerima suap sebenarnya sudah diketahui sejak jaman dulu, bahwa hal itu adalah tidak baik. Perhatikan nat kutipan dari Alkitab:

Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar. [ Keluaran 23:9]

Bayangkan suatu tulisan ribuan tahun lalu, sampai sekarang masih valid. Jadi menilai dengan membandingkannya dengan kitab suci pada dasarnya tidak ada yang salah. Hanya saja ingat, tidak setiap materi pada kitab suci dapat dengan mudah dimaknai seperti nats di atas. Banyak lagi diantaranya hanya dapat dimaknai secara tepat oleh pembaca yang diberi hikmat. Itu juga berarti, untuk suatu nats atau ayat kitab suci yang sama, dapat dimaknai berbeda oleh pembaca yang lain.

Melakukan penilaian di bidang agama, adalah tidak gampang. Apalagi jika yang menilai, berbeda agama. Bisa terjadi ketersinggungan. Kata kuncinya adalah kepercayaan. Jadi kalau seseorang sudah menaroh kepercayaan pada seseorang, dan ternyata orang yang bersangkutan dapat mengakaitkan setiap penilaian yang diberikannya berdasarkan ayat-ayat yang terkesan pas, maka ya sudahlah itu dianggap sebagai suatu kebenaran. Maklum adanya ayat-ayat suci memberi kesan suatu yang ilahi, yang berasal dari Tuhan.

Koq bisa. Itulah jika dasarnya adalah kepercayaan.

Masalahnya adalah bahwa kepercayaan adalah tidak sama dengan fakta. Kadang-kadang bisa saja, apa yang kita percayai memberikan bukti nyata juga di lapangan, tetapi bisa juga tidak .

Bagi seorang dosen, yang setiap semesternya diberi kewajiban untuk menilai mahasiswa-mahasiswanya maka tentunya harus punya kompetensi menilai yang dapat dipertanggung-jawabkan. Tahu sendiri yang namanya penilaian, dapat mempengaruhi kehidupan mahasiswanya, seperti dapat lulus atau harus mengulang, atau bahkan harus keluar (pindah universitas) . Jadi itu perlu dilakukan secara hati-hati. Salah menilai, hanya sekedar mengandalkan kepercayaan atau naluri emosional, tentu sangat berbahaya. Itulah alasannya, mengapa ada dosen yang dalam kuliahnya selalu memberi murid-muridnya, nilai-nilai yang bagus (lulus semua). Itu terjadi karena menilai seseorang adalah mengandung risiko. Jadi karena tidak mau menanggung risiko, maka lebih baik kasih saja nilai yang baik-baik, mahasiswa senang, dosen juga senang karena masih dapat honorarium. Jelas dosen seperti ini tidak bisa disebut guru, karena bekerja hanya sekedar mendapatkan gaji. Adapun seorang guru, harus tahu betul kapasitas seorang murid, jika belum pantas lulus maka harus berani mengatakannya dan sebaliknya.

Agar dapat menilai dengan baik, maka seorang dosen harus benar-benar menguasai ilmunya. Itu hal yang pertama. Menguasai ilmu dalam hal ini adalah kemampuannya juga mengetahui semua teori terkait dengan ilmu tersebut, tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing. Dengan demikian tahu batasan masalah, atau keterbatasan ilmu yang kita miliki. Akibatnya, soal yang kita buatpun tentunya harus dipilih yang benar-benar kita kuasai hasilnya. Itulah alasannya, mengapa ada dosen yang ketika ujian cukup mengambil contoh soal dari buku teks yang dia baca. Pada titik tertentu, banyak orang yang mengapresiasi hasilnya, maklum banyak murid-muridnya yang tidak membaca, jadi tidak ketahuan.

Untuk bidang teknik, bahkan lebih mudah lagi dalam melakukan penilaian. Maklum materinya adalah eksak. Jadi ketika hasilnya secara numerik tidak sama, maka ini jelas-jelas suatu kesalahan. Tapi untuk mata kuliah yang aku ampu, maka hasil akhir tidaklah satu-satunya data untuk dilakukan penilaian. Biasanya aku menilai juga dari urutan perhitungan yang mereka kerjakan. Aku lihat alur berpikirnya. Ini bisa aku evaluasi karena ujiannya berupa essay. Kalau multiple choice, wah nggak bisa itu.

Wah kalau cara seperti itu, yang eksak, maka tentunya hal itu tidak bisa diterapkan untuk menilai kandindat pimpinan daerah dalam rangka pilkada nanti ya pak Wir ?

Memang sih, menilai hal eksak adalah lebih mudah. Sedangkan untuk menilai suatu narasi yang bersifat abstrak (bukan angka) maka itu tentunya lebih susah. Kadang ada unsur yang bersifat subyektifitas dan relatif sifatnya.Perlu suatu seni. Untung saja saya ini juga seorang penulis, sekaligus seorang peneliti ilmiah, jadi masalah pengamatan dan hipotesis (dugaan) adalah bukan hal asing baginya.

Ketika membaca karangan ilmiah, adalah tidak gampang untuk mengatakan bahwa isinya salah. Apalagi jika yang bersangkutan dapat menyajikannya dengan dukungan rujukan literatur yang tepat. Hanya saja ketika telah dibaca secara keseluruhan, dan terlihat ada hal-hal yang bersifat tidak konsisten, antara apa yang diungkapkan di awal, dengan di bagian belakang, maka setelahnya dapat dengan mantap disebutkan bahwa tulisan itu mengandung kesalahan.

Suatu hal yang tidak konsisten bahkan suatu hal yang membahayakan di bidang engineering. Itu jelas suatu kesalahan yang prinsip, dan harus dihindari melakukannya.

Koq bisa pak Wir, rasa-rasanya saya tidak pernah diajari dosen saya, terkait hal yang tidak konsisten tersebut. Itu khan kesannya karakter atau perilaku seseorang, kita ini khan bidang mati, material yang sifatnya relatif lebih eksak dibanding perilaku seseroang. Gimana  itu pak ?

Ah masak. Dosenmu nggak pernah membahas hal itu. Langsung ke hitungan. Wah gawat itu, dianggapnya seperti robot atau seperti tukang, mengerjakan tanpa tahu apa yang mendasari dilakukan pekerjaannya itu. Bagi saya,  mengajarkan filosofi dari suatu prosedur atau metode adalah sangat penting. Itu adalah suatu cerita, tidak sekedar hitungan.Itulah mengapa, aku bisa menulis buku Struktur Baja yang mana isinya berupa narasi tulisan dan bukan angka. Itu karena aku menceritakannya seperti orang mendongeng, terkait filosofi dari suatu rumus. Oleh sebab itu bagiku, antara narasi satu dengan yang lainnya harus saling mendukung, juga harus saling konsisten. Jika suatu narasi yang aku tulis tidak nyambung, tidak konsisten misalnya, maka jelas membacanya tentu akan pusing. Tidak konsisten adalah suatu kesalahan.

Jadi jika sesorang tidak konsisten antara apa yang diucapkan dahulu, dan yang diucapkan sekarang, maka jelas-jelas pasti ada yang salah dengan salah satu yang diucapkannya. Itu juga berarti yang bersangkutan tidak dapat dipercaya.

O begitu ya pak, jadi untuk menilai kandindat yang tepat untuk dipilih nanti (dalam pilkada), maka salah satu kriteria penting adalah konsisten atau tidaknya yang bersangkutan dengan tindakan atau ucapan yang pernah dilakukan sebelumnya. Tidak konsisten berarti yang bersangkutan tidak punya prinsip. Tidak punya prinsip yang kuat, maka tentunya tidak bisa dijadikan pengharapan kita.

c94d6907a044400ba65c00030c883d8a

Jadi sebaiknya yang kita pilih adalah kadindat yang konsisten dengan prinsip-prinsip lama yang dipegangnya.

Catatan : sebagai seorang dosen yang banyak berkecipung dalam soal nilai menilai, maka selalu mencoba meningkatkan kompetensi dalam hal menilai, adalah hal yang penting dilakukan. Oleh sebab itu, bilamana ada event pilkada maka selalu digunakannya untuk mempertajam kemampuannya menilai, yaitu untuk memprediksi sosok yang tepat. Tentu saja yang bersangkutan akan bersuka-cita jika sosok pilihannya adalah sama dengan pilihan mayoritas. Itu juga berarti adanya prediksi akan kemajuan yang akan terjadi. Jadi sorry ya kalau disuruh netral dan pasif.

Ini artikel penilaianku dimasa lalu, bisa dievaluasi dengan kondisi yang sekarang ini, apakah penilaianku yang aku lalukan sudah on the right track atau tidak.

Iklan

4 thoughts on “konsistensi – suatu cara penilaian

    • Ada apa koq harus dirubah, apalagi jika yang bersangkutan merasa bahwa yang dilakukan selama ini secara konsisten adalah sudah baik adanya. Jika itu yang terjadi maka tentu ada tuntutan atau penawaran dari luar yang menggiurkan, atau bisa juga tekanan yang menakutkan. Ini adalah tipe orang yang tidak punya prinsip.

      Orang yang punya prinsippun nyatanya bisa berubah. Itu terjadi karena yang bersangkutan mendapatkan pencerahan baru, timbul kesadaran bahwa apa yang telah dilakukan selama ini adalah ternyata berbeda dari yang diperkirakan. Ada kesadaran bahwa yang dilakukan adalah buruk, sehingga untuk mendapatkan kebaikan harus berubah. Ini ibarat orang yang bertobat sehingga berubah.

      Ada orang yang bertobat, dari buruk menjadi baik. Bisa juga yang terjadi ada sebaliknya dari baik menjadi buruk. Orang menyebutnya sebagai jatuh dalam dosa, misalnya orang baik-baik yang telah mempunyai anak, ketemu wanita nakal dan tergoda. Dulu konsisten untuk selalu setia kepada istrinya, eh karena godaan bisa berubah, tidak lagi konsisten atau setia.

      Menjadi tidak konsisten bisa berarti itu suatu kebaikan, tetapi bisa juga sesuatu yang buruk. Terkait hal itu, yang penting adalah yang mengalaminya. Apakah itu dianggap buruk atau baik, yang penting adalah tidak ada suatu penyesalan dan menyukurinya ketika itu terjadi. Bahkan jika sampai ditinggalkan orang lainnya.

      Suka

  1. Selamat malam bapak wiryanto, semoga dalam keadaan sehat walfiat sehingga dapat meneruskan ilmu bapak pada saya yang masih terus menggali ilmu untuk masa depan saya.

    Maksud tujuan saya ingin bertanya kepada bapak adalah tidak lebih dari sekedar tugas akhir yang sedang saya susun semester ini.
    Untuk itu, mohon dimaafkan jika mungkin pertanyaan saya masih terdengar awan bagi bapak karena jujur saya masih buta tentang ilmu dinding precast.
    Yang pertama, saya ingin bertanya sekaligus meminta rekomendasi bapak tentang jurnal pabrikasi dinding precast, karena dalam tugas akhir saya akan membahasa dinding precast ditinjau dari segi biaya terhadap kelayakan harga jual (manajemen konstruksi).
    Yang kedua, dengan rendah diri saya ingin bertanya apakah materi yang saya ambil itu terlalu jauh dari cakupan diploma 3.
    Yang ketiga, dengan sangat sopan saya ingin meminta email bapak wiryanto untuk mengobrol konsultasi tentang struktur dinding precast.

    Mengakhiri komentar saya, saya mengucapkan banyak terima kasih pada bapak wiryanto yang tulus menjawab pertanyaan saya.

    Suka

    • Anonim ?

      Jujur saja, saya sebenarnya tidak menyukai akun anonim dan tidak ada kewajiban untuk menjawabnya. Apalagi saat ini isue hoax kemana-mana.

      Tapi karena isi pertanyaan sesuai dengan bidang yang saya geluti, ada baiknya saya coba menjawab.

      Pembahasan pracetak saya kira cukup menarik. Hanya saja apakah itu cocok untuk level D3 atau tidak maka saya kira itu perlu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Maklum, penilaian tugas akhir itu khan dari mereka. Bisa saja saya anggap itu baik, tetapi ternyata tidak sesuai dengan cara pandang atau wawasan dosen. Sia-sia jadinya. Silahkan diskusi.

      Jika memang ok, maka ada baiknya anda banyak membaca tentang beton pracetak. Ini ada link jurnal tentang pracetak yang gratis. Silahkan dipilih. Mungkin dari segi D3 maka tentunya pada proses pengerjaan akan menjadi fokus menarik.

      O ya tentang bincang-bincang teknis via email, saya tidak menyediakan waktu. Via blog ini saja ya.

      Ok cukup dulu ya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s