temu ahli baja Jepang – Indonesia


Hari Selasa – Rabu, 22-23 November 2016 bertempat di Hotel Century Park, Jakarta, telah selesai dilakukan diskusi keahlian bertema Expert-Japan Program on Steel Construction for Indonesia. Kegiatan diskusi tersebut dari pihak Jepang diinisiasi oleh The Overseas Human Resources and Industry Development Association (HIDA), Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). Adapun dari pihak Indonesia diinisiasi oleh Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI).

Untuk kesuksesan acara, pihak AMBI mengundang pula ahli-ahli baja Indonesia yang lain, yaitu dari unsur Pemerintah (Kementrian PUPR, Puslitbang Puskim), asosiasi profesi (HAKI, APJEBI atau Asosiasi Pabrikan Jembatan Baja Indonesia), perusahaan / fabrikator baja, dan perguruan tinggi . Saya dalam hal ini tentu saja mewakili dari unsur perguruan tinggi. Pada konteks tersebut, mestinya juga bersama-sama dengan bapak Ir. Muslinang Moestopo, MSEM, Ph.D (ITB). Sayang beliau berhalangan hadir. Untung saja dari pihak HAKI dapat diwakili oleh bapak Dradjat Hoedajanto, M.Eng., Ph.D, seorang senior di dunia konstruksi Indonesia, sehingga diskusi yang terjadi di acara tersebut menjadi menarik untuk disimak.

Pihak AMBI selaku pihak pengundang, hadir lengkap dipimpin langsung Ketua Umum-nya, bapak Ken Pangestu, juga Wakil Ketua Umum, bapak Singgih Wasesa, beserta anggota-anggota pengurus (bapak Sjafei Amri, Agus Hermawan, Guntur Suwantoro dan Lukmanu Kurnia). Pihak Jepang yang hadir adalah Mr. Masahiro Nagata (Japanese Society of Steel Construction, JSSC), Dr. Hikaru Senda (Japan Steel Fabricators Association, JSFA), Mr. Shinji Matsushita (Japan Steel Constructors Association), Mr. Keiji Ando (PT. Nippon Steel and Sumitomo Metal Indonesia), Mr. Tanaka dan Ms. Saito (HIDA).

Paparan yang disampaikan oleh pihak Jepang adalah:

  • Project progress under the supervision of Ministry of Economy, Trade and Industry (METI), Japanese Gevernment (download PDF 4 Mb)
  • Overview of Developing Steel Structures in Japan (Mr. Masahiro Nagata – download PDF 3 Mb).
  • Introduction of Specifications related to Building Steel Construction in Japan (Mr. Shinji Matsushita – download PDF 8.5 Mb).
  • Qualification of Engineers & Technicians for Structural Steelworks and Certification of Steel Fabrication Plants in Japan (Dr.-Eng Hikaru Senda – download PDF 3.9 Mb)

Paparan makalah di atas disampaikan via penerjemah. Jika anda men-download makalah dan membacanya, maka informasi atau pengetahuan yang didapat akan sama saja seperti jika datang ke hotel. Sama seperti isi makalah, tidak lebih dan tidak kurang.😀

Apa yang disampaikan teman-teman Jepang di atas, rasanya familier sekali bagi saya. Maklum sebagian besar materinya mirip dengan materi seminar HIDA- HAKI tahun 2015 lalu. Jujur saja, hal yang menarik dari pertemuan dua hari di hotel tersebut adalah pada sesi tanya – jawab dari para pesertanya. Ini mungkin perlu diungkapkan dan dapat menjadi pembelajaran bersama bagi kita.

Peserta diskusi dua hari di hotel tersebut memang tidak banyak, kurang dari 30 peserta. Meskipun demikian semuanya berlatar belakang “baja”. Ada yang direktur pabrik baja, direktur fabrikator atau kontraktor baja, ketua asosiasi, dosen struktur baja, peneliti litbang PU. Pokoknya orang-orang yang tertarik dengan masalah baja, penelitian atau bisnis dan aplikasinya di dunia konstruksi. Hal ini tentu sesuatu yang menyenangkan, maklum selama ini kalau ketemu ahli konstruksi kebanyakan fokus di beton, dan kalaupun baja hanya sekali-kali. Nah di acara kemarin tersebut bahkan banyak ketemu dengan orang yang hidup setiap harinya adalah di dunia “baja”. Pas sekali dengan topik yang beberapa tahun terakhir ini menjadi fokus penelitian maupun penulisan saya.

Meskipun para peserta yang hadir di hotel kemarin adalah orang-orang yang sama-sama tertarik atau hidup di dunia baja, tetapi setelah terjadi beberapa kali diskusi kelihatan yang hadir tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu [a] teoritis/ilmuwan/idealis; dan [b] praktisi/bisnis/realistis. Jelas motivasi keduanya akan berbeda dalam menanggapi pertemuan kemarin. Adapun di sisi Jepang, motivasi utama yang ingin dicapai adalah penetrasi pasar produk mereka di Indonesia. Strategi mereka untuk acara seperti di hotel tersebut adalah dapat menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya tentang keunggulan teknologi di bidang baja yang mereka punyai. Sesuatu yang sah-sah saja sebenarnya.

Pada sisi tersebut, maka terdapat banyak kesamaan antara Jepang dengan para peserta dari golongan [b]. Istilah kerennya adalah edukasi pasar. Teknik marketing yang aku gunakan untuk menjual buku-buku karyaku. Intinya jika pembeli mendapat informasi tentang hal-hal yang dapat menguntungkan mereka, maka tentunya mereka tidak segan untuk mengeluarkan duit untuk mendapatkannya.

Oleh sebab itu di kalangan peserta Indonesia sendiri masalah yang disampaikan bisa berbeda. Bagi peserta Indonesia dari golongan [b] praktisi/bisnis/realistis, maka keberadaan SNI baja yang terbarupun, yaitu SNI 1729:2015, ternyata masih menjadi masalah. Itu terjadi karena di SNI 1729 tersebut tidak mencantumkan material bajanya dalam SNI tetapi ASTM. Mereka menyampaikan bahwa produk Indonesia harus mengacu SNI dan mencantumkannya pada produk yang dijual, bukan ASTM. Tiadanya petunjuk pada code untuk memakai produk SNI tentu akan menjadi masalah untuk pemasaran produk baja yang berlabel SNI. Bisa saja nanti dalam kontrak pakai ASTM, yang merupakan produk impor dari luar. Jadi produk dalam negeri (yang ber-SNI), bisa kalah dong di tahap tender. Kalau yang berlabel SNI khan hanya produk dalam negeri. Yah, masalah bisnis ujung-ujungnya.

Tentang masalah di atas, saya bisa memahaminya. Pihak pemerintah tentunya perlu mengakomodasi hal tersebut dan memikirkan jalan keluarnya. Memang sih jika strategi adopsi penuh, memang dalam code tersebut tidak boleh ditambah-tambahkan informasi lain selain seperti yang ada di sumber aslinya. Karena sekali ada modifikasi, maka tentu maknanya “tidak penuh” lagi.

Pak Wir, koq bisa-bisanya diskusi tentang SNI 1729 dengan pihak Jepang. Gimana itu ?

O ya tidak dengan pihak Jepang. Itu terlontar dari peserta golongan [b] yang kebetulan produk-produk yang dibuat banyak mengacu pada JIS (Jepang). Jadi mumpung ada dukungan dari Jepang (kesannya) maka jika ASTM yang tercantum itu bisa digantikan dengan JIS. Atau dengan kata lain, daripada mengacu ke AISC dan ASTM (Amerika) maka jika bisa ke JIS (jepang) tentunya akan lebih cocok untuk mendukung penjualan produk mereka, yang notabene selama ini adalah sudah mengacu ke JIS tersebut.

Apakah itu berarti code kita yang mengacu AISC (Amerika) diragukan oleh teman-teman kita dari golongan [b] ?

Saya kira, tidak sejauh itu. Fokus mereka bukan pada isi code, tetapi pada mengapa di ketentuan baru (SNI 1729:2015) itu tidak mencantumkan SNI atau JIS. Code yang selama ini menjadi rujukan utama produk mereka. Itu bisa dimaklumi, karena dari diskusi yang terjadi merekapun bahkan tidak memahami aspek kata ASD code AISC lama (1989 dan sebelumnya) dengan ASD code AISC baru (2005 dan setelahnya) adalah berbeda. Mereka tahu jika pada materi AISC 2005 dan 2010, keduanya mencantumkan LRFD dan ASD. Boleh dipilih salah satu saja, sehingga merekapun berpikir, ilmu mereka tentang ASD (AISC 1989) adalah sama dengan yang code baru. Jadi ketika hal itu aku jelaskan ke beliau, bahwa meskipun sama-sama ASD tetapi sebenarnya keduanya berbeda, maka agak kaget juga. Jadi memang terbukti, meskipun sehari-hari bergelut di bidang baja, maka aspek teori atau keilmuan baja sendiri belum tentu ditekuni.

Pada pembicaraan tentang SNI baru, ada pendapat juga yang menyatakan bahwa code yang ada sekarang ini adalah suatu kemunduran. Bagaimana tidak, isinya hanya mencontek mentah-mentah code dari luar, yang dalam hal ini adalah AISC (Amerika). Padahal alasan mereka kondisi di Indonesia khan berbeda. Ketika aku menanyakan dimana yang berbeda, maka tidak ada penjelasan lebih lanjut. Mereka lebih menyukai untuk merefer pada code yang terdahulu, yang berbeda dari code luar. Ada ciri khan nasionalisme, begitu alasan mereka.

Berdiskusi soal seperti di atas, lama-lama bisa timbul perdebatan.  Untunglah hadir di acara tersebut bapak Dradjat Hoedajanto, Ph.D, yang diundang mewakili HAKI. Dalam hal ini, beliau dapat dimasukkan dalam peserta golongan [a], seperti penulis. Beliau menjelaskan, bahwa alasan utama code-code di bidang konstruksi merujuk Amerika adalah adanya dukungan literatur berbahasa Inggris yang begitu lengkap. Beliau menegaskan bahwa keinginan untuk memakai code yang merujuk JIS adalah tidak mungkin. Tahu sendiri, kendala bahasa dan minimnya literatur yang dapat kita akses. Itu masalahnya.

Beliau selanjutnya juga menjelaskan bahwa dukungan literatur itu perlu karena riset di dalam negeri kita adalah sangat minim. Selain itu juga diungkapkan bahwa motivasi riset kita berbeda sehingga keluaran yang dihasilkannya tentu berbeda pula. Di dalam negeri banyak sekali riset dibuat hanya sekedar untuk meraih kum kenaikan pangkat atau persyaratan lulus saja. Fokus riset lebih pada kuantitas daripada kualitas, maklum alat dan biayanya relatif terbatas. Mendengar penjelasan beliau, yang notabene dosen di ITB, yang merupakan mercusuar keilmuan rekayasa konstruksi Indonesia, aku magut-magut saja. Gimana yang lain. Terkait hal itu, saya pada satu sisi yang lain juga berbangga akan pujian beliau tentang penulisan buku Struktur Baja, yang saat ini merupakan buku teks terlengkap yang membahas SNI 1729:2015 yang merupakan adopsi AISC 2010. Untuk itulah, saya meminta khusus LUMINA Press untuk mengirim buku teks tersebut ke beliau.😀

Ini dokumentasi peserta diskusi yang  tetap bertahan sampai akhir acara adalah sbb:

peserta

Expert-Japan Program on Steel Construction for Indonesia (Selasa-Rabu, 22-23 Nov 2016)

Peserta pada foto di atas, duduk dari kiri ke kanan adalah [1] Ir. Singgih Wasesa; [2] Dr. Hikaru Senda; [3] Shinji Matsushita; [4] Masahiro Nagata; [5] Ken Pangestu; [6] Sjafei Amri; [7]perwakilan dari Kementrian PUPR; [8] Abrar Husein. Adapun yang berdiri dari kiri ke kanan adalah [9] Ms. Saito; [10] perwakilan Ambi ; [11] Pandu Yudha Kesuma; [12] Dradjat Hoedajanto; [13] Cecep Bukhori; [14] Keiji Ando; [15] Andy P. Sukri; [16] Wiryanto Dewobroto; [17] perwakilan Ambi; [18] Lukmanu Kurnia.

Catatan : mohon dikoreksi jika ada penulisan nama yang tidak tepat, silahkan diinformasikan agar dapat dikoreksi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s