tebak-tebakan PILKADA DKI


Yang namanya tebak-tebakan adalah sesuatu yang menarik, tetapi jika ditambahkan dengan taruhan, maka judi namanya. Itu tidak baik. Jadi kalau sekedar tebak-tebakan, tentu bukan sesuatu masalah bukan.

Maklum dengan melakukan tebak-tebakan maka logika kita dalam melihat sesuatu masalah dapat juga diuji. Semakin teruji, maka tentunya akan semakin baik juga bagi kita. Minimal dapat belajar, hal apa yang sebaiknya kita pelajari lagi atau pengetahuan apa yang kita punyai yang harus kita koreksi karena ternyata sudah tidak logis lagi.

Tebak-tebakan juga kadang kita lakukan di bidang rekayasa, nama kerennya adalah trial and error. Hanya saja jika sudah banyak pengalaman dan ilmu yang kita punyai maka di bidang rekayasa seakan-akan adalah suatu kepastian. Sudah bukan tebak-tebakan lagi. Jadi sudah tidak menarik.

Oleh karena itu  adanya pilkada DKI yang akan segera berlangsung , yang hasilnya tentu tidak sama seperti di bidang rekayasa, yang selama ini aku geluti, yaitu mengandung unsur ketidak-pastian dan sesuatu yang mengejutkan, maka membahas tebak-tebakan pilkada adalah sesuatu hal yang menarik. Minimal menurut pendapatku pribadi.

Pembahasan ini tentu bukan karena aku tertarik untuk masuk dunia politik, seperti pak Anies, tetapi sekedar mengasah logika dan ingin membuktikannya nanti apakah prediksi logika yang aku punyai masih ok atau tidak. Oleh karena itu penting bagiku untuk menulisnya ini sebelum pilkada berlangsung.  Maklum jamannya Jokowi dan JK dulu, aku menulis juga. Ini makalahnya.

Bagi saya, PILKADA DKI saat ini lebih menarik daripada pemilihan presiden dua tahun lalu. Kalau yang dulu, pilihanku mantap sekali, yaitu Jokowi-JK. Maklum saya berpegang pada anggota-anggota kubunya. Waktu itu khan jelas, ada kubu nasionalis murni dan kubu nasionalis juga tetapi didukung oleh banyak kelompok yang berkesan agama sekali. Maka jelas aku memilih yang nasionalis.

Bagiku agama adalah untuk diri sendiri orang tersebut, baik atau tidaknya tergantung dari buah yang dihasilkannya.  Jadi bisa saja aku memilih seorang muslim yang berkinerja baik daripada seorang katolik yang amburadul kerjanya. Juga aku percaya bahwa Tuhan itu maha baik dan maha pemaaf. Oleh sebab itu aku tidak tertarik dengan kelompok agama yang terus menuntut Ahok untuk diproses ketika tempo hari terjadi kesalah-pahaman ketika mengutip ayat kitab sucinya. Ahok khan sudah minta maaf. Bukankah budaya saling maaf memaafkan juga diteladankan oleh agama orang yang menuntut itu setiap tahunnya.

Dengan cara pikir seperti itu maka sikapku terhadap orang-orang yang tetap ngotot dengan keyakinannya, yang menurutku tidak tepat tersebut adalah dengan cara mengabaikannya. Dulu aku sempat untuk berdiskusi, sekarang biasanya aku tinggalkan saja. Apalagi ngotot di unfriend saja. Gitu saja koq repot.

Pilkada DKI saat ini adalah sangat penting atau tepatnya sangat fenomenal. Bayangkan saja seorang mayor Agus yang diprediksi cemerlang di karir militernya, yaitu berdasarkan penilaian kinerja pribadi maupun link-nya, ternyata mau mengorbankan karirnya itu untuk ikut pilkada ini. Pilihan untuk berpindah karir dari dunia militer ke dunia politik tentunya telah dipikirkan baik-baik oleh Agus maupun bapaknya, yang dari segi kecermelangan keduanya tentu tidak perlu diragukan lagi. Maklum Agus maupun bapaknya, pak SBY adalah peraih wisudawan terbaik di angkatannya.

Mayor Agus dan pak SBY memilih berpindah jalur tentu berpengharapan hasilnya akan lebih baik lagi. Bagi orang awam seperti saya ini, tentu bingung. Apa maksudnya itu. Orang yang diprediksi akan jadi jendral beberapa tahun lagi mau meninggalkan harapan tersebut hanya sekedar jadi gubernur. Itupun belum tentu jadi, kanz-nya khan masih 50:50..

Inilah mungkin yang membedakan seorang awam seperti diriku, dengan kedua peraih predikat terbaik tersebut.    Hanya memang dari desas-desus yang aku dengar, ada permasalahan kesehatan. Di militer khan ada syarat kondisi fisik yang prima. Jadi ajang pilkada ini hanya sekedar event untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat. Mumpung semua mata rakyat di Indonesia tertuju ke situ. Nah kalau alasannya seperti ini, cukup logis. Apalagi kalau bisa menang. Itu berarti jalannya jadi mulus.

Koq hanya jalan pak ?

Lho lha iya khan, gubernur khan hanya sarana. Inginnya khan seperti pak Jokowi, yaitu RI 1. Kalau ini khan memang lebih baik dari sekedar jenderal. Tul nggak. Maklum kalau hanya sekedar gubernur, menurutku lebih baik jadi Jenderal saja.

Jadi prediksiku, karena ke dua orang hebat  itu sudah tahu, bahwa karena ada masalah yang membuatnya tidak bisa jadi jendral maka mereka membuat terobosan untuk mengatasinya. Plan A dan Plan B, begitu lho. Syukur-syukur bisa jadi RI-1. Tujuan tercapai.

Isu kesehatan itu khan hanya HOAX pak Wir ?

Wah kalau tidak ada masalah kesehatan, maka jelas kepindahan dari jalur militer ke politik adalah BLUNDER menurutku. Keduanya diyakinkan akan menyesal dikemudian hari karena kemungkinan untuk menang PILKADA ini adalah SANGAT KECIL.

Koq bisa begitu pak Wir, gimana dengan pak Anies ?

Ini juga menarik.  Saya telah mengamati pak Anies sejak dulu. Pribadi yang fenomenal. Sebelum era Jokowi atau menjelang pilpress, beliau kita kenal sebagai sosok intelektual negeri ini. Sosok yang bijak, seorang penasehat negeri ini. itu kesanku. Jadi ketika beliau diangkat jadi menteri pendidikan negeri ini. Aku setuju sekali.

Oleh sebab itu ketika beliau dicopot dari menteri pendidikan. Aku agak bingung dengan keputusan pak Jokowi. Mengapa bisa begitu. Terus terang baru sekali itu, aku tidak sepemikiran dengan pak Jokowi.  Maklum kedua-duanya adalah idolaku.

Jadi ketika pak Anies mengambil keputusan untuk ikut pilkada, masuk kubu Prabowo dan juga kubu PKS. Aku jadi mendapat jawaban akan langkah Jokowi tersebut di atas. Aku jadi sepemikiran kembali dengan keputusan yang telah diambil oleh RI-1

Jadi menurut pak Wir, nanti yang menang siapa ?

Itulah daya tariknya. Saya melihat permasalahan di DKI itu bukan soal kafir atau tidak gubernurnya, tetapi adalah soal PEMBERANTASAN KORUPSI. .Nah kalau soal itu maka jelas mayor Agus yang didukung Demokrat belum bisa membuktikan kemampuannya dalam menghapus praktek korupsi. Lihat saja dalam era kepemimpinan bapaknya saja banyak anggota partai demokrat terjerat KPK dan saat ini masih banyak yang di bui. Lalu . . .

Kalau pak Anies, memang tidak ada indikasi untuk korupsi. Tetapi latar belakangnya yang seorang pendidik,penasehat, yang selalu melihat semua secara santun maka wajar saja jika beliau tidak teliti dengan anggaran (lihat kasus dikti akan adanya kelebihan anggaran yang dihapus menteri keuangan). Itu berarti kemampuan beliau mengawasi dan mengontrol anak buah secara tegas, diragukan.

Kalau Ahok, jelas sudah ada bukti. Apalagi sudah didukung oleh mesin partai besar, PDI dan Golkar, juga Nasdem. Jadi kalau Ahok sampai kalah, itu baru luar biasa. Kita tunggu saja.

4 thoughts on “tebak-tebakan PILKADA DKI

  1. Tulisan anda sebagai ahoker boleh boleh aja…Namun Tak semua orang pakai kacamata yang sama. dengan anda. diluar sana banyak orang dengan kacamata yang punya penilaian yang beda dengan anda. Bukan berarti anda lebih baik dari mereka. Dalam Pilkada sini semua warga yang memenuhi syarat berhak maju dan yang penting jangan sara. jangan ngurus rumah tangga tetangga sebelah.. tetangga saya kayak gini , gitu,, nggak layak jadi…seharusnya dia kan lewat jalan A tapi kenapa dia lewat Jalan B ?? atau dia sakit kali maka lewat jalan B .. Ha.. ha.. . yang bagus orang saya.. lebih hebat.. nggak korupsi,,, siap bilang nggak korupsi ???? .. di luar sana dengan kaca mata meraka mungkin mereka melihat dia sudah melakukan korupsi besar besaran.. menunggu waktu pembuktian aja.. .. cukup tonjolkan kebolehan jangan burukkan orang lain.. Just be profesioanl Man…

    Suka

    • Sayang sekali, kesan yang saya tangkap : anda kesel banget dengan tulisan saya. Yah, daripada mengeluh dengan prediksi yang saya buat. Ada baiknya anda membuat prediksi atau argumentasi lain untuk menyanggah dari tulisan yang telah saya sampaikan. Itu lebih baik pak, daripada hanya sekedar menulis dengan kesan mengeluh atau merasa tersinggung dengan uraian saya.

      Saya sarankan, pikirkan apa yang telah saya sampaikan dan sampaikan saja argumentasi anda yang berbeda dari yang saya sampaikan. Biarkanlah masyarakat pembaca yang memilih. Ini adalah tanggung jawab saya sebagai salah satu anggota masyarakat untuk masyarakat lain yang belum punya pendapat atau masih ragu. Sehingga apa yang dipilih nanti adalah yang terbaik yang telah kita pikirkan.

      toh apa yang sampaikan ini akhirnya bisa kita buktikan nanti pada waktunya. Sehingga bisa diketahui apakah pokok pikiran saya di atas, salah atau benar.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s