Advanced Analysis – AISC (2010)


Sambil menunggu buku Struktur Baja Edisi ke-2 selesai dicetak, ada baiknya berbincang terlebih dahulu tentang struktur baja. Maklum, sampai hari ini atau seminggu sebelum acara HAKI tanggal 23 Agustus 2016, ternyata kabar akan progress buku : belum ada kepastian selesainya. Ini tentu kritis karena di acara tersebut LUMINA Press rencananya akan membuka stand penjualan buku. Jadi, jika sampai di hari H ternyata buku tidak selesai cetaknya, maka tentu akan banyak yang kecewa, termasuk penulis tentunya.ūüė¶

Rujukan yang digunakan buku karanganku dengan SNI 1729:2015 atau SNI baja terbaru adalah sama, yaitu AISC 2010. Bahkan untuk buku SNI kelihatanya nggak tepat kalau pakai kata rujukan, yang tepat adalah sumber terjemahan. Maklum susunan kata dan isinya pada dasarnya sama dengan AISC 2010. Adapun punyaku, jelas tidak. Aku mengeksploatasi sendiri materi struktur baja, hanya saja itu semua didasarkan pada acuan tersebut, AISC 2010. Meskipun sumber atau patokannya sama, tetapi daftar istilah yang digunakan antara bukuku dan SNI adalah tidak sama. Bagaimanapun aku lebih sreg dengan istilah aslinya daripada harus diterjemahkan.

Direct Analysis Method atau DAM di bukuku, ternyata di SNI diterjemahkan menjadi Metoda Analisis Langsung Desain. Aku nggak tahu, kata “desain” itu munculnya darimana. Jadi jelas kalau anda mencari topik tersebut di bukuku, pasti tidak akan ketemu. Jadi meskipun sama-sama AISC 2010 tetapi istilah yang digunakan tidak sama.

Direct Analysis Method adalah metode perencanaan yang baru yang dijadikan andalan dalam AISC 2010. Dengan cara tersebut maka perhitunan faktor K dan pembesaran momen akibar P-delta, yaitu B1 dan B2, tidak diperlukan lagi. Cara perencanaan struktur baja, khususnya portal rangka bergoyang akan lebih mudah dan sederhana. Adapun disisi lain dianggap lebih akurat. Keuntungan metode baru tersebut berdasarkan penelitian yang aku ungkap di buku terangkum dalam statemen berikut :

Dapat disimpulkan jika pada beban rendah, desain cara DAM akan
menghasilkan struktur lebih ekonomis, tapi pada kondisi beban
tinggi hasilnya lebih aman, dibanding desain cara lama.

O ya, cara DAM tersebut akan terlihat efektif jika diberlakukan pada struktur jenis portal bergoyang, kalau struktur rangka batang maka tidak terlihat perbedaan signifikan dengan cara lama. Pokoknya cara tersebut dibahas cukup mendalam di buku Struktur Baja karanganku, dan rasanya belum ada buku berbahasa Indonesia yang membahas tuntas seperti buku tersebut.

Jadi kalau begitu buku pak Wir paling lengkap to saat ini.

Wah nggak juga dik. Ada satu cara yang lebih maju lagi, yang di AISC 2010 disebut sebagai Advanced Analysis Method. Cara tersebut perlu memakai program yang mampu menganalisis struktur secara inelastis non-linier. Ingat kalau DAM program yang diperlukan cukup elastis non-linier.

Menariknya, istilah Advanced Analysis Method dalam SNI diterjemahkan sebagai Desain Dengan Analisis Inelastis. Padahal bagi orang yang menggeluti struktur baja tentulah itu tidak tepat. Maklum Analisis Inelastis bisa disalah artikan sebagai Metode Plastis sebagai mana terdapat pada peraturan AISC sebelum 2005. Jelas Analisis Inelastis saja tidak cukup untuk menjelaskan tentang Advanced Analysis Method. Jadi itulah mengapa, aku lebih suka memakai kata asing yang tentunya harus dicetak miring daripada menerjemahkan dalam bahasa Indonesia tetapi membatasi  artinya. Itu pula alasannya mengapa aku lebih suka memakai embel-embel AISC 2010 dari pada SNI 2015.

Karena di buku karanganku belum membahas tentang Advanced Analysis, maka bagi yang tertarik untuk lebih mendalaminya maka ada baiknya membaca sendiri ya. Ini aku menemukan buku yang bagus dan tidak terlalu tebal terkait hal itu. Ini sampul bukunya.

new-method

Jika tertarik dengan buku tersebut, silahkan download 3.6 Mb di sini.

 

 

5 thoughts on “Advanced Analysis – AISC (2010)

    • halo bapak, saya adalah salah satu penggemar bapak, semoga bapak terus berkarya, karena sangat jarang seorang ahli (khususnya di bidang struktur) yang mau membagikan ilmunya lewat tulisan seperti bapak.

      saya hanya ingin sharing sedikit, kalau kemarin pada saat mengerjakan tesis, saya juga menggunakan metode advanced analysis ini dalam penelitian saya. seperti yang bapak katakan bahwa butuh perangkat lunak yang bisa melakukan analisis inelastis non linier. kemarin saya menggunakan perangkat lunak abaqus. Satu hal yang agak istimewa di metode advanced analysis yang bikin saya pusing waktu itu adalah pada saat memodelkan efek residual stress pada elemen strukturnya pak.

      Suksees dan sehat selalu buat bapak, semoga suatu hari saya bisa memanggil bapak dengan panggilan prof (amin)

      Suka

      • Hallo Fay,
        Pengalamanmu bagus sekali. Kamu pakai Abaqus apakah telah memakai elemen solid atau shell dalam memodelkan strukturnya. Jika iya, berarti itu tidak sekedar Advanced Analysis, tetapi bahkan lebih lengkap, yaitu FEM itu sendiri.

        Adapun Advanced Analysis adalah langkah analysis yang relatif lebih sederhana dibanding FEM yang praktis dikerjakan pada tahap desain. Kalau FEM penuh seperti yang dapat dikerjakan oleh ABAQUS tentunya hanya praktis jika dikerjakan di level penelitian, kalau untuk level desain hanya cocok untuk perencanaan bagian detail saja.

        Apakah hasil penelitian kamu telah dipublikasikan, yang lain tentu ingin tahu pengalamanmu tersebut.

        Suka

  1. Iya pak, satu hal yang saya syukuri. Penelitian saya masih sangat sederhana pak, awalnya memang berencana untuk menggunakan shell element, akan tetapi keterbatasan saya dan waktu untuk memformulasikan dan mengintegasikan nilai residual stress dari bahasa pemograman fotran ke abaqus untuk shell element , maka waktu itu saya menyerah pak. Sehingga penelitian saya hanya menggunakan element frame saja. Untuk tahap design sendiri sudah ada program yang dikembangkan oleh Prof SL Chan bernama NIDA (mungkin bapak juga sudah tau) yang telah menggunakan advanced analysis. Untuk penelitian saya masih belum saya publikasikan pak, dalam waktu dekat mungkin akan saya publikasikan.

    Suka

    • wah bagus. Tentang residual stress sebenarnya simple, itu hanya berpengaruh pada elemen yang mengalami tegangan tekan, yaitu mengurangi kapasitas leleh khususnya pada keruntuhan inelastis buckling. Akibatnya sebelum mencapai leleh sudah mengalami tekuk terlebih dahulu. Kalau AISC mengatasinya dengan sederhana, yaitu menguragi kapasitas leleh jadi 0.7 Fy, apapun bentuk distribusi residual stressnya. Maklum, orientasinya khan hanya desain, konservatif dan untuk mempermudah saja.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s