Full-Day School


Bagi yang melek internet dan terhubung ke media sosial, maka judul di atas tentu tidak asing lagi. Ya, itu adalah ide baru dari menteri baru kita, bahwa pendidikan dasar sampai atas diusulkan untuk menerapkan konsep seharian penuh di sekolah. Cukup heboh juga membaca tanggapan netizen. Bagaimana dengan anda.

Bagi orang tua yang mempunyai anak-anak yang masih sekolah, di SD, SMP atau SMA tentu siap-siap menerimanya (jika ini jadi kebijakan baru). Bisa-bisa pola hidup keseharian yang telah berjalan selama ini harus diubah. Ini tentu tidak hanya bagi orang tua si anak saja, tetapi juga mempengaruhi para pelaku bisnis atau pengelola kegiatan ekstra kurikuler, seperti les-les atau juga organisasi sosial di luar sekolah, pasti terpengaruh. Les atau kegiatan yang dimaksud tentu bisa bermacam-macam, tidak hanya les mata pelajaran, tetapi juga kegiatan klub olahraga, musik, sanggar tari dan sebagainya akan terkena imbasnya.

Sebelum membahas lebih lanjut, tentu kita akan bertanya, bagaimana ide itu bisa muncul, apa yang menjadi latar belakangnya. Kebetulan pagi tadi mendengarkan radio Elshinta yang mewawancarai bapak Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan kita yang baru, beliau menyatakan bahwa ide Full-Day School adalah respon beliau dalam menerjemahkan Nawacipta Bapak Presiden, yaitu meningkatkan porsi pendidikan karakter bagi generasi muda Indonesia. Itu perlu karena dirasa karakter pemuda-pemudi Indonesia masih lembek dan perlu ditingkatkan lagi.

Anggapan bahwa generasi pemuda-pemudi kita itu lembek, tentu bisa menjadi perdebatan. Tergantung dari sudut pandang mana hal itu ditinjau. Aku sebagai guru, dosen, ilmuwan dan sekaligus orang tua murid, tentu juga bisa menilai. Aku bersaksi, baik dengan melihat murid-murid, saudara atau anak-anak muda yang aku temui, juga anakku tentunya. Bahwa anak muda yang lembek kasusnya adalah case per case, tidak bisa dipukul rata bahwa anak Indonesia itu lembek. Pernyataan saya ini mungkin saja terlalu subyektif, maklum aku bukan tipe orang tua yang sedikit-sedikit protes ke pak guru. Aku bukan tipe orang tua, yang anaknya jika dicubit akan lapor polisi. Aku adalah tipe orang tua yang kalau anakknya dicubit, akan tanya mengapa atau apa yang kamu lakukan sebelumnya, sampai kamu (anak) dicubit. Baru kalau tidak ada alasan, maka tentu aku akan menemui pak gurunya untuk mendapatkan alasannya. Juga dengan adanya UN, aku tipe orang tua yang mendukung anaknya belajar keras untuk menghadapi UN tersebut.

Menurut saya, pendidikan karakter anak agar kuat adalah kemampuan menghadapi hal-hal tersebut, bukan dengan menambah jam kelas.  Saya melihat masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia, yang lembek cara mendidik anaknya. Lihat saja kasus UN, pada heboh, takut nggak lulus. Kalau soal ini masih jadi masalah, jangan cerita mau meningkatkan pendidikan karakter anak. Karakter gurunya saja lembek, mau ngomong pendidikan karakter ke anak. Mana bisa. Guru itu digugu dan ditiru. Jadi kalau sekarang menteri pendidikan akan meminta full-day school terlaksana di seluruh Indonesia, maka dapat dipastikan, tidak akan berhasil semua. Itu bisa berhasil kalau memang gurunya berkarakter. Ingat pak, nggak semua guru itu berjiwa guru (bisa digugu dan ditiru).  Jadi guru khan karena tidak ada lapangan kerja lain.

Kata pak Mentri, tambahan waktu di sekolah itu adalah pendidikan karakter, bukan tambahan pelajaran. Bagaimana itu pak ?

Itu saya ragukan. Dari situ saja khan kelihatan bahwa pendidikan karakter adalah bukan tambahan pelajaran. Itu juga berarti gurunya tidak bisa sama. Kalau sama, apa bisa gurunya juga punya kompetisi yang sama dalam memberikan. Multi talent dong. Ini saya kira juga tidak realistis.

Apa sih pendidikan karakter itu pak ?

Nah kata pak Menteri, anak yang bekarakter sudah ada kriterianya. Jadi pendidikan karakter yang dimaksud adalah pola-pola latihan yang mengarahkan anak untuk mempunyai kriteria yang dimaksud. Salah satunya adalah misalnya olahraga, bagaimana memakai olahraga untuk mencapai prestasi, mampu bertanding secara sportif, menyiapkan pertandingan dengan melakukan persiapan yang disiplin dan akhirnya berprestasi. Jadi ikut olah raga adalah bagian dari pendidikan karakter. Pokoknya banyak lagi, misal ikut sanggar tari dan sebagainya.

Jika hal-hal itu, pendidikan karakter, diserahkan ke sekolah, apakah punya fasilitas yang memadai. Jangan-jangan pendidikan karakter yang diberikan adalah materi pengetahuan karakter itu, apa itu karakter dsb. Wah gawat itu.Itu hanya teori saja.

Kalau begitu apakah full-day school adalah jelek pak Wir ?

Nggak juga.Anakku yang nomer dua juga telah mengikuti konsep pendidikan seperti itu. Jadi di sekolah tersebut masuk dari Senin-Jumat, dari pagi sampai sore. Disana, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademis, tetapi juga kegiatan ekstra kurikuler, olahraga, musik. Anakku mengambil kelas gitar (musik), mereka menikmati sampai sore bersama teman-temannya. Di sekolahnya ada fasilitas ruang musik khusus, ada guru khusus yang didatangkan dan sebagainya. Untuk itu semua, saya sebagai orang tuanya, perlu membayar mahal.

Jadi intinya, untuk mensukseskan program full-day school itu tidak sekedar butuh dedikasi gurunya saja, tetapi juga fasilitas-fasilitas infrastruktur harus menunjang. Jadi jika itu dilakukan di Indonesia, maka tentu dokunya nggak sepele. Jika itu bisa dicukupkan seperti yang terjadi disekolah anakku, maka tentu ok-ok saja. Hanya saja, perlu dicatat bahwa kondisi disekolah anakku itu memang cukup istimewa. Maklum sering disebut di surat kabar tentang prestasinya. Jadi full-day school tidaklah jelek, sebagaimana juga UN, tetapi apakah semuanya siap ?

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s