Ada apa dengan Buku Baja Edisi ke-2


Manusia berencana, tetapi Tuhan-lah yang menentukan. Ini mungkin alasan yang dapat disampaikan terkati dengan janji beberapa bulan lalu untuk menerbitkan Struktur Baja Edisi ke-2 di bulan April 2016 yang lalu. Saat ini buku tersebut belum terbit.

Itu bisa terjadi karena apa daya, begitu banyak ide baru yang ingin dituliskan. Jadi karena menuruti kata hati, maka materinya jadi bertambah. Bahkan kalau saat ini juga masih saja mengikuti keinginan hati, rasa-rasanya belum selesai juga.

I ya pak Wir, saya sudah pra-order lho ?

Nah itu. Saya juga sudah melihat bahwa yang pra-order di http://lumina-press.com , sudah cukup banyak. Pihak penerbit juga sudah mengingatkan,  Bahkan kata beliau : “Tambahkan sedikit saja tulisan yang baru pak Wir, toh pembaca yang pesan sudah banyak. Daripada tebel-tebel, lebih baik bikin judul buku baru lagi. Itu lebih menguntungkan lho“.

Benar juga. Kalau pikiranku lebih didominasi bisnis, maka tentu akan seperti itu. Pokoknya sedikit tebal, 200 halaman misalnya, langsung saja jadi judul buku baru. Bisa-bisa kalau begitu, buku karanganku akan banyak sekali. Orang Indo itu khan kadang terkecoh dengan jumlah yang wah khan.

Tapi aku khan bukan seperti itu. Ini buku (Edisi ke-2) belum dicetak juga bukan karena kurang dana. Rencana dana masuk dari sekitar 17 sponsor yang sudah berkomitmen, dan sebagian juga sudah membayar, rasa-rasanya sangat mencukupi untuk sekedar mencetak buku teknik sipil dengan kualitas cetak terbaik. Masalahnya tinggal mendefinisikan, seperti apa buku yang dimaksud, dan mau dicetak di mana. Jadi kalau bukan dana, mengapa bisa terlambat. Ini mungkin yang perlu diungkapkan.

Penulis yang berlatar-belakang engineer, dan yang saat ini bekerja sebagai dosen yang mengajar tentang Struktur Baja tahu betul dengan kondisi perkuliahan yang ada. Materi tentang struktur baja yang berbahasa Indonesia relatif sedikit, itu alasan utama mengapa penulis perlu mencetak buku teks sendiri. Proyek-proyek gedung tinggi di Indonesia relatif sedikit yang memakai konstruksi baja dibanding beton. Lebih-lebih juga pada perhatian komunitas pendidik teknik sipil, khususnya yang tergabung dengan BMPTTSSI (Badan Musyawarah Pendidikan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia) yang terkesan menganak-tirikan mata kuliah Struktur Baja. Maklum, belum lama ini saja mereka telah memangkas sks perkuliah wajib Struktur Baja, yang dahulu sama-sama berbobot 6 sks dengan Beton Bertulang. Sekarang ini Struktur Baja hanya diberi 5 sks saja, sedangkan yang Beton Bertulang tetap, yaitu 6 sks.

Kondisi itu menunjukkan bahwa ilmu struktur baja bagi komunitas pendidikan teknik sipil di Indonesia, dianggap tidak terlalu penting. Padahal setahu saya, ilmu struktur baja itu relatif lebih kompleks dibanding struktur beton. Lebih gampang mempelajari struktur beton daripada struktur baja.Tentang hal ini, saya jadi ingat 25 tahun lalu, ketika masih yunior dan diminta untuk menyelesaikan perencanaan konstruksi baja pada proyek milik Jepang. Nggak tahu kenapa, mungkin juga karena dasar-dasar struktur baja pada waktu itu masih hijau, maka oleh supervisor disuruh perbaiki berkali-kali.Hampir frustasi waktu itu, bahkan ada pikiran mau resign dari pekerjaan.

Bertahun-tahun kemudian, setelah mengajar struktur baja, jadi ingin tertawa saja jika mengingat kondisi masa lalu itu. Dipikir-pikir masalahnya sepele, struktur baja itu gampang jika telah dipahami.

Nah adanya pemahaman bahwa struktur baja itu pada dasarnya juga tidak susah, maka ada keinginan untuk mengkomunikasikan hal itu dalam buku Edisi ke-2 yang akan terbit ini. Tapi karena buku tersebut sudah menginjak halaman ke 950. Maka ya sudah, saya akan terbitkan dulu.

Nah bagi teman-teman yang sudah membeli buku Edisi pertama, dan ingin mengetahui apakah perlu membeli buku Edisi yang ke-2, maka ada baiknya anda melihat daftar isinya. Bagian-bagian yang saya beri tanda kuning adalah materi baru yang ditambahkan.

Ini daftar isi buku Struktur Baja Edisi ke-2 yang sudah mulai masuk tahap teknis penerbitan.

p-1

p-2

p-3.jpg

p-4

p-5

p-6.jpg

Hal-sampul_2nd-9

 

p-8

p-9

p-10

Jadi bagi teman-teman yang sudah punya buku Edisi pertama dan melihat bahwa materi tambahan baru yang sekitar 200 halaman itu perlu, juga yang belum punya buku lama dan tertarik untuk membelinya, maka pastikan untuk Pra-order di http://lumina-press.com dengan harga lama Rp 250 ribu. Maklum, bagi yang membeli ketika buku sudah selesai cetak maka jelas harga-harganya nggak semurah tersebut. Ingat boo, buku setebal 961 halaman. Mana ada orang indo sebelumnya menulis tentang Struktur Baja setebal itu.

O ya, mohon maaf. Meskipun bukunya sudah setebal itu, tetapi pembahasan tentang Struktur Baja tahan gempa belum dibahas secara tuntas. Itu perlu buku tersendiri kelihatannya untuk membahasnya. Ini tentu perlu dimaklumi, lihat saja untuk beton maka dengan membaca buku ACI 318M maka bahasa tahan gempa sudah ada di Chapter 21. Adapun di baja , nggak bisa seperti itu. Buku AISC 360 hanya membahas yang prinsip, untuk gempa perlu buku AISC 341,  buku terpisah. Itu menunjukkan materi struktur baja jelas lebih banyak variasinya. Adanya kondisi-kondisi seperti ini kadang nggak habis pikir, mengapa teman-teman BMPPTSSI yang membahas materi kuliah Struktur Baja hanya memberikan 5 sks, yang lebih sedikit dari beton (6 sks). Maksudnya apa ya. Bisa-bisa mereka yang merapatkan itu, nggak ngerti tentang baja.😀

Eh pak Wir, di Bab 1 daftar isi buku bapak yang baru ada artikel tentang “Teknologi Rekayasa Konstruksi Baja dari Jepang”. Cukup banyak juga lho pak, saya hitung kira-kira ada sekitar 36 halaman sendiri, cukup tebal untuk suatu artikel.  Padahal omong-omong, pak Wir khan nggak punya pengalaman di Jepang khan ?

Maksudnya ?

O aku tahu, kamu meragukan tulisanku tentang Jepang ya, dengan alasan karena aku belum pernah ke sana ya. Menarik sekali. Keraguan kamu itu benar jika ditujukan kepada orang awam biasa. Tetapi kepada orang yang mengaku diri engineer (bukan tukang) dan author (penulis) maka tentu sangat berbeda.

Ingat, seseorang bisa disebut engineer sejati jika mereka dapat meyakini dan membuktikan tentunya, bahwa mereka dapat mengerjakan “suatu bangunan” yang belum pernah dibangun sebelumnya. Dengan demikian engineer tidak bisa  sekedar bersandar pada pengalamannya saja, tetapi juga harus berpegang pada ilmu dan pengetahuan yang ada. Itu engineer saja sudah ampuh, apalagi author (penulis), yang mampu menciptakan fantasi sedemikian sehingga orang lain yakin bahwa fantasi itu adalah kebenaran adanya. Penulis yang paling top itu adalah penulis kitab suci. Jadi yang namanya penulis itu luar biasa, bahkan kadang kala karena ternyata orang dapat membuktikan bahwa dikemudian hari apa yang ditulisnya itu terbukti, menyebabkan sang penulis disebut sebagai peramal.

Nah gabungan karakter engineer dan penulis itu khan yang selalu aku sampaikan ke pembaca. Jadi mengapa harus diragukan jika aku menulis artikel di atas.

Kalau penjelasan saya di ataspun masih diragukan, maka ada baiknya saya sampaikan screen shoot email dari Dr. Senda Hikaru, Direktur Teknik Nippon Steel and Sumitomo Metal Indonesia, yang kebetulan menjadi salah satu sponsor dari buku Struktur Baja Edisi ke-2. Orang Jepang itu lugas, jadi kalau sampai menulis seperti di bawah ini, maka tentunya artikel yang dimaksud tidak sekedar biasa-biasa saja, pastilah istimewa.

komentar-senda

 

 

6 thoughts on “Ada apa dengan Buku Baja Edisi ke-2

  1. Bukunya sangat bagus pak wir, semoga cepat beredar di toko buku terdekat dengan lokasi saya seperti gramedia, uranus dsb… amin
    Siap siap nabung buat buku ini

    Suka

    • Itu kalau pra-order Afret. Setelah dicetak maka harga akan dievaluasi lagi. Harga itu bisa Rp 250 dengan asumsi, itulah harga untuk sebuah kepercayaan, pembaca percaya bahwa buku itu baik dan mau dengan sabar menunggunya. Itu yang bisa bikin seperti itu.

      Disukai oleh 1 orang

  2. Tulisan yang baru ada pada buku Struktur baja dan menjadi penulis pertama yang menulis buku dengan kualitas pembahasan yang memiliki nilai bobot luar biasa.
    Ngomong2 pak Wir, boleh donk ceritain sedikit pengalaman bapak waktu 25 tahun lalu gambarnya di tolak berkali-kali oleh Insinyur Jepang itu pak. Kira2 bagian mana yang beliau tolak detailnya???

    Suka

    • waktu itu saya masih yunior, sehingga mendapat banyak pembelajaran terkait struktur baja, seperti konsistensi antara analisis, desain dan gambar kerja, khususnya pada bagian detail sambungan. Juga detail sambungannya sendiri terkait dengan garis kerja atau as elemen batang khususnya jika ketemu profil single simetri. Hal-hal dalam pembuatan detail, maklum hal sepert itu tidak diajarkan pada perkuliahan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s