Renungan hari Jumat


Anda mungkin mengenal saya karena buku-buku yang saya tulis. Oleh sebab itu wajar saja ada yang melabeli saya adalah pakar di bidang struktur, seperti halnya kalau saya menerima surat-surat undangan untuk dijadikan nara sumber. Saya menikmati saja.πŸ˜€

Tentang kepakaran yang dimaksud, jelas itu hanya sebutan, atau tepatnya panggilan saja dari mereka-mereka. Memang sih dalam satu dua tulisan saya, saya kadang juga menyebut diri : pakar. Eh nggak ada yang protes, bahkan banyak yang mengamini. Ya sudah.πŸ˜€

Hanya saja kalau ditanya soal sertifikasi profesi, saya nggak punya itu. Itu berarti saya nggak ada bukti tertulis yang menunjukkan kepakaran yang dimakdus. Paling yang aku punya hanya gelar akademik semata, doktor teknik sipil dari UNPAR (dalam negeri). Selanjutnya terserah anda, mau mengakui kepakaran yang dimaksud, tentu saja saya senang. Kalaupun tidak, nggak masalah. Emangnya ngaruh padaku.πŸ˜€

Semua kepakaran yang dimaksud di atas, tentu saja tidak berguna untuk anak-anakku.Kecuali memang, rejeki akibatnya.πŸ˜€

Di depan anak-anakku, maka aku bukanlah seorang pakar struktur, nggak penting itu. Mungkin itu pula yang menyebabkan anak-anakku tidak ada yang mengikut jejak keilmuan yang aku geluti. Hanya satu pesan yang aku sampaikan ke anak-anakku, yaitu jangan takut, kejarlah mimpimu dalam kehidupan ini. Jadilah berkat bagi orang lain, sehingga oleh karena itu maka nama Bapa di Surga akan dimuliakan.

Ha, ha, ha, kayak pendeta saja ya, pesan yang aku sampaikan. Sama sekali nggak ada hubungannya dengan kepakaran yang saya usahakan.

Meskipun sepintas terlihat berbeda, antara materi yang biasa aku seminarkan, dengan materi yang aku gunakan untuk memberi nasehat anak-anakku, tetapi sebenarnya ada kesamaannya juga.

Apa itu ?

Kesamaannya bahwa semuanya itu juga bersumber pada buku. Jika ilmu struktur, buku-bukunya adalah terbitan McGraw-Hill, CRC-Press dan lain sebagainya, maka untuk nasehat ke anak-anakku aku biasanya berpedoman pada buku terbitan LAI. Anggota IKAPI No. 067/DKI/97 Jakarta.

Alkitab ya pak Wir ?

Betul sekali. Itulah yang disebut kitab suci oleh orang-orang beragama kristen. Hanya saja bagiku, itu seperti buku biasa, seperti buku-buku keilmuan yang aku pelajari lainnya.

Lha koq begitu pak, bapak nggak menghormati ya ?

Koq kamu bisa bilang begitu, bahwa saya tidak menghormati buku tersebut. Bagi seorang guru atau penulis, maka yang namanya buku adalah sangat penting dan sangat dihormati, karena itulah hartanya. Itu pula yang aku pesankan pada orang-orang yang pinjam buku, agar buku dapat dikembalikan lagi dengan baik. Hanya saja kitab suci tersebut mempunyai tingkat yang sama seperti buku-bukuku yang lain. Itu juga berarti, bahwa pada kitab suci itu akan ada stabillo warna hijau atau kuning. Yah kaya buku-bukuku yang lain, yang aku pelajari. Maklum, buku bagiku adalah untuk dipelajari, dimengerti tidak sekedar dipajang. Saya yakin sekali, bahwa aku bisa disebut pakar karena aku suka seperti itu, men-stabillo materi buku dan memaknainya secara tepat.

Adapun kitab suci, bisa disebut suci karena pertama itu ada kaitannya dengan agama yang aku anut, yaitu Katolik. Bahwa materi buku tersebut ternyata mendukung dan memberikan petunjuk yang berkesesuaian dengan tujuan dan maksud beragama tersebut. Nah penjelasan lebih lanjut tentang hal itu tentunya hanya cocok untuk yang mempunyai agama yang sama. Tetapi ternyata, setelah saya pelajari lebih mendalam, sebagaimana aku mempelajari ilmu baja dan ilmu-ilmu struktur lainnya, ternyata kitab suci yang aku maksud tersebut juga berisi ilmu kehidupan, yang tidak terbatas pada agama saja. Sifatnya universal.

Wah pak Wir, promosi agamanya ya ?

Ini lagi, koq begitu sih pikirannya. Agama yang aku anut sih nggak perlu dipromosiin. Itu agama yang sudah ratusan tahun ada. Juga nggak bisa terlalu dibangga-banggain. Kenapa, karena fakta menunjukkan bahwa manusia yang mempunyai agama seperti itu, ada yang memang ditinggikan, tetapi ada juga yang dicemooh. Ada yang baik, dan ada juga yang buruk. Manusia, begitulah. Adanya pemikiran seperti itu, maka aku juga tidak terlalu kaget kalau ada orang-orang yang menyajikan fakta, bahwa orang yang seagama dengan aku : ternyata negatif. Juga di sisi lain, kalaupun ada yang sukses, maka itu juga biasa.

So apa pentingnya kalau begitu, agama bagi Bapak ?

Waduh apa ya. Saya ini khan pakar struktur, mengapa kamu tanya seperti itu. Kalau ke pak pendeta khan jelas jawabannya, yaitu dengan adanya agama maka dapat penghasilan, yaitu persepuluhan dari umatnya. Juga kalau ngomong (kotbah) ada yang mendengarkan. Coba kalau nggak ada agama, maka jelas itu nggak bisa dijadikan profesi. Jadi menganut agama lebih kepada pribadi yang bersangkutan, bagaimana orang tersebut menyikapi hidupnya dan juga kematiannya nanti. Maklum, yang namanya masti khan suatu kepastian. Hanya kapan, itu yang tahu hanya Tuhan. Gitu lho.

So kalau begitu agama apa saja, nggak ada masalah dong pak ?

Ya memang nggak ada masalah, apalagi dengan agama Katolik yang aku anut, yang juga mengakui akan keberadaan agama lain, yaitu untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa. Pernyataan ini tentu susah dipahami, apalagi bagi orang-orang yang melihat bahwa orang yang tidak seagama dapat disebut kafir. Salah satu fakta yang menarik tentang Katolik dapat dilihat dari ucapan Paus, pimpinan utamanya, yaitu :

Tuhan bukan Katolik. Tuhan adalah universal, dan kita adalah umat Katolik karena cara kita memuja Dia,” ujar Paus. [dikutip dari Kompas.com]

O begitu, pantas kemarin saya lihat foto-foto beberapa biarawati bersama orang-orang dari agama lain. Begitu ya pak. Tapi omong-omong saya jadi ingin tahu, apa sih keistimewaan bapak dengan beragama yang sekarang ?

Kamu itu mendesak terus ya. Jelas agama yang saya anut, saya pelajari dan akhirnya saya imani betul agar bisa memahami dan mengamini akan kata-kata yang pernah diucapkan pak Ahok. Itu salah satunya. Waktu itu pak Ahok menyitir ayat di alkitab sebagai berikut :

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.[Filipi 1:21-22]

Nah, yang depan dipakai pak Ahok, untuk menjawab mengapa beliaunya tidak takut mati, adapun aku tambahkan yang belakang untuk menunjukkan bagaimana aku dalam kehidupan ini, yaitu menghasilkan buah-buah yang dapat membawa kesejahteraan pada manusia. Amin.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s