PHK . . . akhirnya !


Berita akan terjadinya PHK, lagi merembak dimana-mana. Pagi tadi ketika dalam dalam perjalanan di mobil menyetel radio, maka lagi seru dibahas tentang PHK. Lalu membaca berita bahwa yang melakukan PHK nggak tanggung-tanggung, yaitu perusahaan Toshiba dan Panasonic. Ini beritanya dari Kompas.com.

Bagi orang yang telah merasa settle bekerja, dan sedang menikmati kehangatan berkeluarga, maka yang namanya PHK tentu seperti mendengar petir di siang hari bolong, mengagetkan. Masih mending kalau punya tabungan, untuk hidup beberapa bulan ke depan, sambil cari pekerjaan baru. Nah, yang tidak bagaimana, apalagi kalau punya utang, cicilan rumah atau kendaraan yang harus dilunasi setiap hari. Maka kagetnya tentu seperti mendengar bom bali. Menakutkan.

Intinya itu, kalau yang namanya PHK itu tentu tidak enak, tidak sekedar menyedihkan tetapi menakutkan. Hanya saja, yang namanya PHK biasanya lebih ditekankan pada kerja atau pekerjaan. Nah manusia itu umumya mempunyai dua lingkungan dalam kesehariannya, yaitu Kerja (pekerjaan) dan Keluarga. Jadi kalau kena PHK di kerja masih bisa disyukuri jika punya keluarga. Itu akan menjadi penghibur. Amit-amit kalau PHK kedua-duanya, Kerja dan Keluarga. Gawat itu.

makamphk-2-140103

Illustrasi sedihnya buruh yang kena PHK (Sumber : Liputan 6)

Pengalamanku menunjukkan bahwa keberadaan keluarga dapat menjadi jaring-jaring sosial mengatasi permasalahan yang timbul jika terjadi PHK. Ingat aku juga pernah merasakan PHK ketika krisis 98 dulu. Moga-moga nggak ketemu lagi. Jadi nasehat saya, pada saat sukses di bidang Kerja, maka jangan lupa juga membina kesuksesan di bidang Keluarga. Itu dua dunia yang terpisah, bisa saling sinerji tetapi bisa saling meniadakan, tergantung kitanya bagaimana. Maklum, terlalu produktif menulispun kadang keluarga jadi protes, kesannya nggak punya waktu.😀

Kalau mendengarkan argumentasi tentang PHK kayaknya mudah ditebak. Lihat saja dari mana dia berasal.Kalau dari sisi pengusaha atau yang pro maka yang selalu dipermasalahkan adalah iklim usaha yang tidak enak karena banyak buruh yang demo dan UMR yang tinggi. Kalau dari sisi buruh maka kalau ada PHK seperti itu maka langkah pertama adalah meminta pendengar jangan menyalahkan buruh, lalu mereka menyuruh untuk melihat kondisi perusahaan. Intinya nggak mau disalahkan. Kalaupun yang elegan mereka berkilah bahwa itu perusahaan, yang kebetulan Jepang telah kalah bersaing dengan Cina. Bilang bahwa produk yang dihasilkan tidak kompetitif lagi. Lalu tidak lupa juga mengatakan bahwa masalah tidak kompetitif adalah bukan disebabkan oleh buruh. Maklum buruhnya khan sudah pengalaman lebih dari lima tahun. Lalu dari sisi birokrat pemerintah, selalu mencari celah yang seimbang diantara keduanya. Cari amanlah.

Kalau pak Wir bagaimana ?

Wah saya nggak ngerti, khan nggak punya buruh. Meskipun demikian terlepas dari mengerti betul secara inderawi (mengalami langsung) tetapi melihat berita-berita yang beredar dan juga informasi istri yang juga terlibat dari manajemen perusahaan yang mempunyai buruh yang banyak maka dapatlah ditarik suatu benang merah yang siapa tahu menjelaskan peristiwa tersebut.

Contoh sederhana, ini terjadinya di Tangerang dan saya kira juga berlaku umum. Bahwa pada prinsipnya tidak semua buruh itu setuju dengan yang namanya demo-demo. Kalaupun ke ikut kadang juga karena ada rasa takut, diantara buruh itu sendiri. Istriku kalau kerja pakai baju seragam perusahaan. Nah kalau ada berita besok akan ada demo, maka pihak perusahaan memberitahu agar tidak perlu pakai seragam. Takut. Istriku juga bilang, bahkan kalau ada demo besar, kantor di liburkan. Ini tentu mengganggu produktivitas perusahaan. Pada sisi ini aku setuju, bahwa demo buruh yang ada adalah salah satu penyebab tidak produktifnya perusahaan. Tentang hal ini, aku diceritakan bahwa tetangga perusahaan tempat istriku bekerja, juga perusahaan Jepang di daerah Tangerang juga tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Padahal dulunya dilihat ramai sekali oleh pekerja. Ini beritanya tidak seheboh yang Toshiba dan Panasonic. Untuk yang berhenti ini memang tidak jelas, apa karena demo atau tidak, tetapi secara umum kutangkap bahwa demo buruh adalah mengganggu produktivas perusahaan.

Nah silahkan dipikir sendiri apakah hal itu tidak menganggu faktor kompetitif produk. Padahal kalau melihat cara kerja perusahaan tempat istriku bekerja, yang menentukan kompetitif atau tidak dari perusahaan adalah bukan buruh, tetapi para pimpinan mereka.

Lho koq bisa pak. Buruh dong pak !

Jangan marah. Tetapi ini adalah fakta. Produk yang kompetitif atau tidak, kayaknya tidak tergantung dari buruh, tetapi dari pihak pimpinan (produk kreatif, R&D dan marketing). Itu jelas bukan di level buruh, orang tertentu dan sedikit. Merekalah yang menentukan produk apa yang dipertahankan, dan apa yang harus dibuang dan diganti baru. Macam produk baru apa yang harus diluncurkan. Sekali lagi itu bukan buruh !

Lho lalu buruh perannya dimana ?

Mereka mengerjakan pekerjaan yang bersifat s.o.p, sesuai instruksi. Mereka trampil karena proses terbiasa, atau orang bilang bisa karena biasa. Jadi yang diperlukan dari mereka adalah mau mendengarkan dan memahami instruksi yang diberikan, dan cermat mengerjakannya. Lagi-lagi bisa bekerja sesuai s.o.p. Itu sudah cukup.

Lalu kalau produk yang dihasilkan tidak laku, gimana pak ?

O kalau itu, pasti yang disalahkan bukan buruh pak, tetapi bagian produk kreatif, R&D atau marketing-nya. Jadi kalau buruh sudah bekerja sesuai instruksi atau standar baku mutu tertentu, aman.

Jadi kayak mesin dong pak ?

Memang. Itulah makanya ada serikat pekerja dan lain-lain yang mengusahakan agar jangan dianggap seperti mesin, barang mati. Mereka manusia !

Lho jadi benar dong pak, kalau mereka demo-demo ?

Bisa ya, bisa juga tidak. Yang jelas demo yang mereka lakukan dan juga UMR yang mereka perjuangkan sudah pada suatu tahap yang mungkin memberatkan perusahaan. Ini tentu masih sebatas hipotesis pribadi saya, maklum tidak disertai data.

Mari coba kita pikirkan, UMR buruh di Jakarta tahun 2016 adalah 3.1 juta, lalu di Bekasi adalah sebesar 3.3 juta perbulan. Lalu berdasarkan survey teman-teman pekerja konstruksi, atau dari murid-murid alumni yang baru lulus, maka rentang penghasilan mereka antara 3 – 5 juta rupiah, tidak berbeda jauh dari para buruh. Itu sarjana lho. Jadi bisa kebayang, jika gaji sarjana saja tidak berbeda jauh dari dengan buruh, sedangkan jumlah yang dipekerjakan jelas berbeda jauh. Untuk sarjana paling bisa dihitung tangan, nggak sampai puluhan, sedangkan buruh bisa ratusan bahkan ribuan. Padahal kinerja mereka (buruh) jelas tidak bisa disamakan dengan para sarjana tersebut (tanggung jawabnya). Jadi bisa khan dibayangkan.

Jadi menurut saya, ada PHK seperti yang sekarang ini terjadi, wajar saja. Mana kuat perusahaan-perusahaan tersebut. Kalaupun kuat, mikir dong untuk apa mengeluarkan uang begitu banyak, yang hampir sama dengan sarjana. Perusahaan khan cari untung, bukan lembaga sosial.

Intinya, kalau kita hanya ngotot, bahwa buruh adalah benar. Ya sudah, keseimbangan sedang berjalan. Que sera-sera.

3 thoughts on “PHK . . . akhirnya !

  1. Iya, Pak Wir, saya setuju dengan pendapat Pak Wir, memang buruh kita kebablasan minta UMR nya , 3.3 juta. Meraka harusnya mikir, selain di Indonesia, kita punya saingan misalnya vietnam. Di sana gaji buruh murah, produktivitas bagus dan nggak banyak demo kayak kita. Para buruhpun harus sadar bukan di Indonesia aja, tenaga kerja banyak, di Vietnam, Bangladesh, Thailand buruh pun banyak, murah nggak banyak demo lagi.

    Saya sendiri bekerja di Malaysia sejak 2010-sekarang sebagai engineer, saya baca dari newspaper (koran) UMR mereka hanya RM900 untuk daerah semenanjung (Kuala lumpur, selanggor), daerah lain hanya RM 700-800, jadi range gaji mereka antara 2.7 juta sampai 2.5 juta, itu kotor dan harus dipotong EPF (semacam Jamsostek) sebesar 5 %, bisa dihitung sendiri lah.

    Saya pikir memang gila buruh kita, masak minta gaji 3.3 juta, padahal hal gaji buruh di Malaysia, yang notabene lebih makmur dari kita hanya RM700-900, itupun kotor.

    Suka

  2. Mereka Para buruh demo
    Coba lihat kendaraannya Harga di atas 20 jutaan. Pakai Moge pakai Ninja dll. Minta naik upah untuk kebutuhan itu diantaranya pak. Mungkin saja … Dugaan dng data Visual mata saya pribadi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s