menulis perlu memiliki tujuan, antusiasme, dan kreatifitas


Banyak sekali anak-anak muda zaman sekarang, termasuk saya, meremehkan apa yang disebut dengan “menulis”. Banyak yang mengatakan bahwa menulis itu melelahkan, ditulis pun tidak akan dibaca, apa yang kita tulis pun tidak akan membuat kita menjadi terkenal, dan masih banyak lagi keluhan yang diutarakan banyak orang. Tetapi kita tidak sadar bahwa apa yang kita pelajari dari kita kecil sampai sekarang adalah hasil dari tulisan-tulisan orang terdahulu kita, Saya membayangkan jika saya dilahirkan dan tidak ada buku pelajaran (tulisan), saya hanya bisa meraba-raba dan tidak tahu apakah hal yang dibicarakan itu benar atau tidak.

Ketika saya masih SMP, saya dan teman-teman diberikan tugas untuk membuat sebuah blog dan menuliskan apapun di dalam blog tersebut. Awalnya kami menulis sebuah pengalaman biasa saja, namun hal itu menjadi menarik karena saya dan teman-teman saling membuka blog satu sama lain dan membaca isi blog tersebut. Ada perasaan senang yang saya rasakan karena tulisan saya dibaca dan orang lain terhibur karena hal tersebut. Kami pun mencari potensi yang lebih dari sebuah blog, dan mendapatkan fakta bahwa blog bisa menghasilkan uang, dan semakin tinggi rangking blog juga akan semakin terkenal dan sebagainya. Lalu kami pun termotivasi untuk terus memperbaiki blog kami dengan Widget (sebuah fitur tambahan diblog seperti Jam, kalender dll), berbagai aplikasi, dan postingan-postingan yang bermanfaat (Copy – Paste dari website tentang info info unik yang ada didunia). Seiring berjalannya waktu, saya merasa saya kehilangan esensi dari blog tersebut yaitu Menulis, karena isi blog saya bukanlah murni hasil tulisan saya melainkan Copy-Paste dari website seseorang dengan harapan saya dan blog saya terkenal dan menghasilkan uang.

Singkat cerita, saya berhenti blogging karena pada akhirnya hal itu tidak membuat saya terkenal dan menghasilkan uang, tapi saya tetap menulis keseharian saya di blog walaupun saya tidak yakin ada yang membacanya (sekarang sudah berhenti total dan lupa nama blog saya). Kemudian saya membaca berita bahwa seorang penulis mengeluarkan novel yang pada akhirnya menjadi Best-Seller. Penulis tersebut memulai karirnya dari sebuah blog dan nama penulis tersebut adalah Raditya Dika. Yang unik dari novel tersebut adalah Raditya Dika menulis tentang keseharian hidupnya namun dengan cara yang unik dan kreatif. Berita tersebut membantah opini teman saya tentang apa yang kita tulis tidak akan menjadikan kita terkenal juga. Raditya Dika adalah salah satu bukti dan inspirasi saya terhadap menulis, dan sekarang Raditya Dika pun masih sangat terkenal sampai sekarang dan itu semua bermula dari sebuah tulisan di blognya.

Setelah melihat Raditya Dika, saya menyadari bahwa Menulis bukanlah hal yang mudah, karena untuk menulis dibutuhkan tujuan, niat/antusiasme, dan kreatifitas. Mungkin ketika saya rajin menulis blog, saya tidak memiliki tujuan, antusiasme, dan kreatifitas yang sama besarnya seperti yang dimiliki oleh Raditya Dika. Walaupun menulis bukan hal yang mudah, bukan berarti kita harus menghindarinya, yang kita butuhkan hanyalah niat/antusiasme untuk menulis sehingga kita bisa membuat tulisan yang baik dan layak untuk dibaca masyarakat luas. Seperti yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer yaitu “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”, Kutipan tersebut yang menyadarkan saya tentang betapa pentingnya menulis, dan memotivasi saya untuk mulai membangun antusiasme terhadap menulis.

Catatan : Ini adalah karya tulis sdr. Jo Johnson, mahasiswa kelas “Capstone”, di Jurusan Teknik Sipil, FaST, Universitas Pelita Harapan. Aku mengajar di kelas itu untuk sesi “Pentingnya menulis bagi seorang insinyur“.

Saya menampilkan karya tulisnya di blog ini dengan maksud mempopulerkan sekaligus untuk menguji apakah ini karya orisinil atau tidak. Silahkan dinilai.

2 thoughts on “menulis perlu memiliki tujuan, antusiasme, dan kreatifitas

  1. Salam Sejahtera untuk Pak Wir dan keluarga.
    Saya adalah salah satu “murid online” bapak. (istilahnya maksa banget ya hehe)
    Tahun lalu sempat bertemu bapak di UK Maranatha Bandung di KJI/KBGI 2015, kebetulan sy salah satu finalis yg Bapak jurikan.

    Saya tunggu review tentang KJI dan KBGI 2015 ya pak, terima kasih.

    Salam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s