salam jumpa di Medan (26 – 27 Nov 2015)


Banyak memberi, banyak menerima. Itulah nats yang sering aku gunakan untuk memberi nasehat kepada anak-anakku. Ekstrimnya lagi, bahkan aku pernah mengatakan bahwa jangan harap menerima jika tidak mau memberi.

Konsep agar mau memberi seperti di atas pada dasarnya bukan sesuatu yang baru. Itu sih nasehat lama yang sering dikatakan orang tua-tua kita. Sering kali itu dihubungkan dengan perilaku beragama, yaitu bersedekah bagi teman-teman Muslim, atau persepuluhan bagi teman-teman Kristen. Itu dihubungkan dengan sikap untuk berbuat baik yang nantinya akan mendapatkan balasan (pahala) dari Tuhan.

Tentang itu sih aku mengamini, karena memang logis adanya. Hanya saja aku akan melihatnya secara lebih luas, tidak hanya ketika kolekte di gereja seperti konsep persepuluhan, atau bersedekah pada fakir miskin atau kaum duafa bagi teman-teman Muslim, tetapi pada semua hal.

Dasar pemikirannya adalah semua orang melakukan sesuatu karena punya harapan, atau tujuan. Harapan dan tujuan yang dimaksud bisa saja berupa materi, tetapi bisa juga berupa non-materi. Oleh sebab itu untuk memberipun tidak mesti harus berupa materi, bisa yang non-materi saja, yang penting adalah pemberian tersebut dapat diterima oleh orang lain, apalagi jika dapat menimbulkan kepuasan. Jika yang terakhir itu terjadi, wah luar biasa, si pemberi itu bisa-bisa tercukupi semua kehidupannya. Mengapa itu bisa terjadi. Itu sih sederhana, persis seperti membeli sepiring makanan. Jika anda suka dan puas dengan sajian yang diberikan, maka anda tentunya tidak keberatan untuk membayar lebih dari yang lain.

Konsep itu juga yang saya berikan pada blog ini. Jadi jangan berpikir bahwa apa yang saya lakukan dengan menulis di blog ini sejak 2006 atau hampir 8 tahun lalu adalah karena saya berjiwa sosial yang murah hati. Pendapat itu sih sah-sah saja, tetapi kalau mau berterus terang itu karena bisa dijadikan pancingan untuk menangkap “ikan” besar, yang membuat saya senang. Ikan disini bisa berupa apa saja, mulai dari pujian bahkan yang terkait materi pula. Hanya memang, untuk mendapatkan balasannya jangan ditunggu. Bisa kecewa😀

Dalam konsep memberi dan menerima, maka menulis yang dipublikasikan adalah pada posisi memberi. Oleh sebab dari menulis di blog atau di buku maka mendapatkan kehormatan untuk duduk bersama dengan orang-orang besar, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Seperti besok bulan November di kota Medan, ada kesempatan bersanding dengan tokoh-tokoh terhormat di bidang teknik sipil untuk memberi pengajaran. Asyik bukan.

Ini acara yang dimaksud :

poster-hastag

Saya yakin, tanpa mau memberi terlebih dahulu, maka tentu kesempatan seperti di atas tidak akan diberikan kepada saya. Tertarik, maka mulailah memberi kepada orang lain.

Semoga kita bisa bertemu nanti di kota Medan bulan November ini.

8 thoughts on “salam jumpa di Medan (26 – 27 Nov 2015)

      • Mhon maf pak , bisakah saya pesan buku bapak disini, judul aplikasi rekayasa konstruksi dengan sap2000, saya cari-cari blm dapet pak, kalo bisa mhon hubungi sya 081298891233 , terimakasih, mhon maaf sblumnya.

        Suka

        • Sudah tidak diterbitkan lagi dik. Saya tidak melayani penjualan buku komersil secara langsung, silahkan kunjungi penerbit di http://lumina-press.com

          Jika anda kesulitan, bisa menghubungi teman-teman saya di Jogja (bapak Faqih Maarif) atau di Medan (bapak Daniel Teruna). Tentang alamat silahkan lihat blog saya, di bagian kanan informasinya.

          Suka

  1. Ping balik: Sabtu 14 November 2015 di UNY, Jogjakarta | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s