ini Mobnas-nya versi dosen UPH !


Judul yang dibuat bisa membuat ambigu, apalagi jika dibayangkan bahwa artikel ini akan membahas mobilnya seorang dosen. Kalau itu sih tentu akan kecewa. Maklum, mobil dosennya UPH bisa kalah jauh deh dengan mobil mahasiswanya.😀 Jadi meskipun judulnya Mobnas tetapi nggak ada itu mobil dalam artian fisik. Mobnas disini adalah dalam arti kata kiasan yaitu pada sesuatu yang merujuk pada hasil karya bangsa sendiri yang dapat dibanggakan dan yang penting akan dapat diberlakukan secara nasional bagi anak-anak bangsa di Indonesia. Apa itu ? Mengapa mobnas, karena hal itu baru saja disinggung dengan keberadaan berita dengan pak Jokowi. Tepatnya karena ada berita kerja sama industri dengan Proton. Lalu sebagian besar orang mengkaitkan itu dengan mobnas. Jadi ini ikut-ikutan juga nih ye.

Jadi mumpung pak Jokowi berbicara tentang mobnas, maka ini dosennya juga tidak mau kalah. Sebagaimana orang tahu (dari tulisan dan komentar yang aku buat), saya adalah salah satu pendukung dan pemilih pak Jokowi yang saat ini telah sukses menjadi presiden Indonesia. Salah satu hal yang membuat saya tertarik memilih beliau (saat itu) adalah adanya kepercayaan diri dari beliau yang sangat tinggi dan tidak minder ketika dilawankan dengan seorang jenderal, keturunan orang besar dan sekaligus yang mendapatkan pendidikan timur dan barat yang sangat lengkap.

Padahal yang kita tahu tentang pak pak Jokowi, beliau hanyalah produk lokal dan keturunan orang biasa saja, bahkan gelar kesarjanaannyapun hanya S1 dari lokal (UGM). Tapi meskipun demikian beliau ternyata mampu melangkah sukses mulai dari kemandirian dalam memimpin ekonomi keluarga (menjadi wiraswasta tangguh importir mebel kelas dunia) maupun memimpin birokrasi pemerintaha secara lengkap, mulai dari tingkat regional (walikota solo) dan tingkat nasional (gubernur DKI) untuk akhirnya terbukti juga pada level international (presiden negara besar yang diakui dunia).

Kalaupun sekarang ini, ada keraguan akan beliau, khususnya dalam menetapkan Kapolri, maka saya pribadi tidak kecewa atau berkurang rasa hormatnya. Karena yang saya rasakan, ini bukan dari sisi beliau, tapi dari sisi institusi partai pendukungnya yang menurut saya kurang pada tempatnya. Mengapa saya bilang institusi, karena kita lihat sendiri orang-orang partai (yang mendukung pak JKW sebelumnya) dengan terstruktur terlihat ngotot sekali membela dan berusaha dengan segala upaya memenangkan BG. Saya sebagai seorang awam, yang memang tidak ada hubungan dengan politik (ini mungkin yang membuat saya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya) merasa bahwa yang berkepentingan memilih BG adalah orang-orang partai tersebut.

Sebagai orang non-politik tentu saja saya tidak paham, mengapa suatu partai yang mengiklankan diri sebagai partainya wong cilik, bisa membela mati-matian pejabat (jelas ini bukan wong cilik) yang ditengarai korupsi dan dilabeli sebagai jenderal berekening gendut. Selain itu, juga terlihat sekaligus melawan mati-matian ke KPK, yang saat ini kita anggap sebagai satu-satunya institusi yang secara konsisten berusaha membasmi korupsi, sehingga mendapat stigma (tapi positip) sebagai musuh koruptor. Itu khan jelas lawannya wong cilik.

Jadi pertanyaan yang perlu dijawab oleh orang-orang partai tersebut, apa motivasinya mengawal dan ngotot mempertahankan jenderal berekening gendut tersebut, sekaligus mengapa ngotot menjatuhkan musuh koruptor. Jadi jika si BG berhasil “naik”, maka rasanya label partainya wong cilik perlu dikoreksi lho.

Pak Wir koq ngomong politik. Mana mobnas-nya dosen UPH, jadi nglantur !

Eh sorry ya. Maklum nih, kalau ngomongin pak Jokowi jadi bersemangat. Jadi tentang diri pak Jokowi yang penuh percaya diri itulah yang sebenarnya penting dan ingin aku sampaikan. Terkait mobnas, bayangkan saja, di Indonesia ini mobil apa saja sih yang nggak ada. Di Jakarta ini maka yang namanya mobil Hummer, Ferari dan segala macam dapat anda lihat. Bagi yang tinggal di Singapore, bahkan tidak semudah itu. Jadi bagi orang-orang Indonesia, kalau hanya sekedar ingin punya mobil, maka sebenarnya nggak usah pusing-pusing untuk mikirin untuk membuat pabrik terlebih dahulu . Ada duit, pasti terpenuhi.

Adapun mobil mewah bagi orang Indonesia adalah untuk menunjukkan bahwa mereka kaya (terlepas dari korupsi atau halal). Itu saja sebenarnya. Konsumeris. Tidak ada hal lain yang dapat dibanggakan. Pak Jokowi tahu itu. Ia ingin masuk pada level lain, bahwa kita bangsa besar tidak hanya kaya (duit banyak) tetapi memang berbudaya dan berilmu tinggi sehingga disegani (dihormati), yaitu mampu membuat mobil sendiri.

Keinginan untuk menunjukkan bahwa bangsa kita itu hebat, disegani dan dihormati dengan cara mampu secara mandiri menyiapkan mobil bagi rakyatnya adalah suatu hal yang patut dibanggakan. Konsep serupa tentu dapat terjadi juga bagi dosen. Dalam hal ini memang bukan mobnas, tetapi textbook-nas yang dibuat secara mandiri tidak hanya bagi bahan ajar mahasiswa-mahasiswa di kampusnya sendiri, tetapi juga kampus-kampus lain di Indonesia. Nah itu maksudku, textbook-nas.

Mengapa hal itu perlu aku sampaikan. Jujur saja, untuk bidang teknik sipil di Indonesia ini sudah banyak ahli-ahli teknik, baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri, baik bergelar Master, Doktor ataupun Profesor. Bisa ratusan atau bahkan ribuan. Banyak khan. Sayangnya, meskipun banyak setahu saya bahan ajar atau textbook yang digunakan masih mengandalkan produk manca negara.

Kalaupun ada textbook dari dalam negeri, khususnya bidang struktur baja maka jika dibandingkan dengan textbook asing, belum bisa dibandingkan. Kebanyakan mereka sekedar mendaur-ulang materi luar yang ada. Tidak ada unsur kebaruan yang ada.

Memang sih, ada dosen struktur baja yang aku temui memakai textbook yang dimaksud. Aku tanya mengapa, jawabnya hampir sama : maklum nggak ada yang lain pak Wir. Nah lho. Saya sendiri juga mengalami. Saya tidak puas dengan materi struktur baja yang ada. Untuk itulah, dan juga dengan semangat seperti yang pak Jokowi sampaikan, yaitu mandiri, sekaligus agar disegani dan dihormati maka aku juga akan membuat mobnas eh textbook-nas sendiri tentang struktur baja. Jadi meskipun latar belakang pendidikan formalku adalah lokal (UGM-UI-Unpar) yang tentunya kalah wawasan dengan ahli-ahli lain yang lulusan luar negeri, maka seperti pak Jokowi juga maka aku percaya diri juga bahwa itu semua mencukupi untuk menyusun suatu textbook yang nantinya tidak kalah juga dengan produk luar. Sorry ini bukan nyombong lho, tetapi memang perlu aku sampaikan seperti seorang penjual kecap yang selalu melabeli kecapnya sebagai kecap No.1. 😀

Koq bisa pak Wir. Padahal bukunya sendiri belum terbit sehingga belum tahu apakah materinya itu nanti bisa berlaku secara nasional di Indonesia. Itu namanya kepedean pak. Yah kayak pak Jokowi juga khan, belum jadi presiden sudah merasa yakin jadi. Tetapi karena itu pula, maka semua impian yang dimaksud jadi adanya. Demikian pula buku yang aku tulis itu, juga demikian adanya. Pasti akan jadi referensi secara nasional. Argumentasi logis yang mendukung hal itu adalah :

  1. Buku yang aku tulis itu akan mengacu penuh pada AISC (2010) yang merupakan rujukan utama dari SNI Baja 20XX yang terbaru nanti. Padahal seperti diketahui, sampai saat ini belum ada buku berbahasa Indonesia yang ditulis mengacu pada code tersebut (setahuku lho).
  2. Materi yang aku tulis jelas lebih berbobot dari materi berbahasa Indonesia yang ada. Berbobot disini adalah dari jumlah halaman. Setahu saya buku yang ada kurang dari 400 halaman. Nah buku yang aku tulis itu nanti materi utamanya terdiri dari 740 halaman. Bahkan lebih tebal. Dalam buku tersebut lebih ada puluhan bahkan ratusan illustrasi bergambar, yang sebagian besar adalah orisini hasil karyaku sendiri.
  3. Karena mencoba merujuk AISC (2010) secara lengkap, yang mana pada code tersebut diperkenalkan metode baru yaitu Direct Analysis Method (DAM) maka untuk menjelaskan secara lengkap perlu disusun dua bab khusus untuk menjawabnya. Tentang hal ini jelas aku belum pernah membaca karya serupa yang berbahasa Indonesia.
  4. Dalam menulis buku tersebut, posisiku tidak sekedar penulis biasa, tetapi juga sebagai seorang peneliti. Oleh sebab itu ada perbandingkan antara simulasi numerik dengan hasil uji empiris di laboratorium yang pernah aku kerjakan. Tentang hal ini, aku juga belum pernah melihat buku berbahasa Indonesia yang memuat hal yang sama. Memang sih, banyak ahli yang telah melakukan uji empiris di Indonesia, tetapi umumnya hasilnya diberikan pada jurnal dan bukan pada buku seperti textbook ini.
  5. Terakhir, meskipun secara resmi bukuku belum terbit dan terpublikasi secara luas. Tetapi sebenarnya ketika menulis itu aku mengundang teman-teman praktisi dan akademisi untuk menelaah materi yang aku punya, sekaligus menampung masukan tentang isi buku tersebut. Itu aku sebut sebagai testimoni ahli. Memang sih, tidak setiap orang yang aku hubungi tersebut menanggapi positip, bahkan ada yang meragukan aku. Yah seperti kepada pak Jokowi itulah, memandang remeh produk lokal. Dikiranya aku meminta testimoni itu seperti mengemis dukungan, takut kalau nanti bukuku tidak laris. O whalah, meremehkan sekali. Untuk itu jelas, bukan itu maksudku, tetapi sebenarnya itu adalah suatu kehormatan bagi mereka karena saya mengenalnya sebagai ahli. Ini seperti kulonuwun begitu lho. Bahkan yang menuliskan testimoni tersebut akan terabadikan di halaman sampul bukuku. Abadi karena saya yakin sekali orang yang membeli buku tersebut akan menyimpannya baik-baik. Itu pula mengapa aku perlu mencetak buku itu secara lux.

Inilah testimoni final yang akan tampil di halaman belakang buku Struktur Baja yang akan terbit itu, yang harapannya akan jadi mobnas eh textbook-nas bagi komunitas teknik sipil kekhususan struktur di Indonesia. sampul-belakang Adanya nama-nama besar dari kampus-kampus besar di Indonesia yang telah memberikan dukungan moril seperti di atas jelas adalah suatu hal yang mendukung buku itu untuk menjadi textbook-nas.  Itu berarti buku tersebut akan tersebar dan menjadi buku pegangan calon-calon insinyur Indonesia di mana saja. Adanya materi mandiri buatan orang lokal dan dikhususkan juga untuk orang lokal (yang berbahasa Indonesia), itulah yang membanggakan. Jadi buku Struktur Baja itulah yang aku maksud sebagai mobnas-nya dosen UPH, yaitu produk mandiri bagi kemajuan insinyur Indonesia. Bagi yang tertarik, dan ingin mendapatkan harga discount silahkan pra-order dulu di http://lumina-press.com

Prestasiku terkait menulis buku tentu tidak perlu diragukan lagi. Ini daftarnya :

  1. Wiryanto Dewobroto. (2015).”Struktur Baja – Perilaku, Analisis & Desain – AISC 2010“, LUMINA Press, Jakarta
  2. Wiryanto Dewobroto, Lanny Hidayat dan Herry Vaza.(2013).”Bridge Engineering in Indonesia”, in : Chapter 21 of the Handbook of International Bridge Engineering by Wai-Fah Chen , Lian Duan, CRC Press (release October 11, 2013)
  3. Wiryanto Dewobroto.(2013).”Komputer Rekayasa Struktur dengan SAP2000“,LUMINA Press, Jakarta
  4. Wiryanto Dewobroto . (2007). “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000 – EDISI BARU“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
  5. Wiryanto Dewobroto. (2005). “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan Visual Basic 6.0 : Analisis dan Desain Penampang Beton Bertulang sesuai SNI 03-2847-2002“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
  6. Wiryanto Dewobroto . (2004). “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
  7. Wiryanto Dewobroto. (2003). “Aplikasi Sain dan Teknik dengan Visual Basic 6.0“, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
  8. Dewobroto, W.; Reineck, K.-H. (2002). “Beam with indirect support and loading”, in: Reineck, K.-H. (2002): (Editor): Examples for the Design of Structural Concrete with Strut-and-Tie Models, ACI SP-208 (2002), ACI, Farmington Hills, MI, 145-161.

 

10 thoughts on “ini Mobnas-nya versi dosen UPH !

  1. Ping balik: buku STRUKTUR BAJA-nya telah jadi ! | The works of Wiryanto Dewobroto

  2. Ping balik: respons pembaca buku Struktur Baja | The works of Wiryanto Dewobroto

  3. Keren & bangga karena secara ndak sengaja baca cara p’ Wir nulis soal Jokowi – partai – BG yg bapak tulis secara gamblang terus terang pd hal p’ Wir bukan politikus (apalagi politikus versi Prof. Sahetapi, beliau ngotot hanya mau pakai istilah POLITIKUS dan bukan politisi !)

    Tentu p’ Wir akan makin sebel ngikuti cerita2 Novel B. sejak Jumat dinihari, “Untunk” pak Jokowi yg selesai Jumatan di Solo langsung kasih perintah tegas ke Kapolri + Wakapolri pun terima sekaligus teguran . . . .sy ikutan happy ngedengerinnya pak.

    Nah balik ke buku Mobnas soal Baja. . . .sy pasti akan baca pak. Thanks braat unt infonya, tapi pertanyaan nya kapan p’ Wir buat juga panduan sejenis unt “Konstruksi Beton” nya pak (ato sdh nulis tapi sy aja yg ndak tahu he he?).

    Akan lebih komplit dan “keren abis” nanti kalau p’ Wir juga berkenan bikin buku / materi buat anak didik Bpk di UPH untuk kasus Konstruksi / Rekayasa Aluminium untuk Tall Building. . . . . . .

    Komplit deh dengan 3 mobnas yg lahir dalam era Jokowi yg saya juga kagum karena begitu pede mirip2 cara p’ Wir juga mengagumi beliau.

    Kita sekarang sama2 berdoa saja semoga kepemimpinan Jokowi berhasil merubah mental Indonesia yg penuh harapan ini pak. Amen

    Suka

    • @Biantoro :
      Saya pernah menulis tentang pemrograman Visual Basic untuk aplikasi perencanaan penampang beton bertulang. Penerbitnya PT. Elexmedia Komputindo.Jadi belum secara komprehensif membahasnya. Ini tentu berbeda dengan buku Struktur Baja di atas, yang ditulis secara lebih komprehensif dan ditujukan untuk jadi buku teks perkuliahan bersaing dengan buku bajanya Segui dan semacamnya.

      Buku Struktur Baja telah selesai terbit (pertengahan April 2015), ini threat yang aku buat untuk mengumpulkan testimoni pembaca.

      https://wiryanto.wordpress.com/2015/04/21/respons-pembaca-buku-struktur-baja/

      Hasilnya masih selaras dengan isi tulisan di atas. Laris manis.

      Selanjutnya belum ada rencana menulis tentang Konstruksi Beton dan Konstruksi Aluminum. Bahkan tidak terpikir untuk masuk ke situ. Maklum untuk yang Konstruksi Beton sudah banyak teman-teman yang masuk di situ. Persaingan ketat, apalagi saya secara formal memang bukan pengajar struktur beton. Kalaupun ada, maka fokus yang lebih dibahas adalah aplikasi dengan program ETABS. kalau itu mungkin bisa terjadi dan belum banyak pakar yang masuk di situ.

      Saat ini yang kepikir adalah topik “Struktur Baja Tahan Gempa”. Ini topik cukup elite. Tidak banyak pakar di Indonesia masuk dan mempelajari hal ini. Saya lihat yang getol membahas adalah teman-teman ITB. Saat ini saya sedang mempersiapkan satu paper moga-moga bisa dipresentasikan di Seminar HAKI Agustus 2015 besok.Maklum, tahun lalu nggak iktu seminar tersebut. Moga-moga tahun ini bisa berpartisipasi..

      .

      Suka

      • Thanks pak atas instant response nya. Memang aku sendiri saat misik poenya kesempatan sekolah sipil juga lebih suka baja dari pada beton. Tapi dibandingkan mata kuliah “Poly-thicus pak Sahetapi” aku tetep jauh lebih suka beton dan mekanika tanah juga.

        Hanya saat semalem aku baca, kan pak Wir sempet tulis issue penempatan besi untuk siswa yang salah penempatan sekalipun jumlah pembesian yang bener hitung2 annya [untuk kasus kantilevel] dengan nilai “Zero” sedangkan siswa lain yg perhitungan jumlah besi nya kurang tepat sedangkan penempatannya bener akan Bapak nilai sebagai lumayan dan bukan nol.

        Itu saja dan have a nice Monday. . .Sukses selalu, may God will always blessing you all the time.

        Suka

  4. Ping balik: Sabtu 14 November 2015 di UNY, Jogjakarta | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s