complaint !


Complaint !

Suatu bentuk untuk mengobati kekecewaan adalah melakukan complaint. Ini ibarat melepaskan uneg-uneg atau kedongkolan hati. Padahal dulunya, ini biasa terjadi ada orang yang beli sesuatu, dan ternyata tidak sesuai dengan janji awal atau seperti yang dipromosikan, maka complaint jadinya.

Bisa juga dengan keputusan pimpinan yang merasa kita, dia jadi karena pilihan yang telah kita buat. Serperi pak JKW ini sekarang yang sedang ditunggu-tunggu keputusannya. Sudah banyak orang yang tidak sabar, dan merasa gondok, kecewa. Tapi kalau mau complaint gimana, emangnya apa yang kita coblos kemarin memang mengantarnya ke kursi tersebut.

He, he, ini mungkin bentuk complait itu juga ya, sebagai saluran pelepas kedongkolan. Eh, tunggu. Ini mungkin juga strategi pak JKW, maklum saat ini khan masih panas, belum kebakar. Jadi kalau kebakar khan efektif air untuk memadamkannya. Kalau hanya panas, dituang juga belum tentu dingin juga, apalagi kalau airnya juga panas. Jadi kalau kebakaran, sudah keluar apinya, maka dituang air panas juga akan padam. Jadi situasinya kayak penghuni perumahan liar, yang jumlahnya banyak, ya udah nunggu terjadinya kebakaran agar dapat bersih-bersih. Nah pada sisi ini, aku percaya dan jadi penghibur untuk menutup kekecewaan yang terjadi.

Ini complaint ya pak Wir.

He, he, introduction tentang complaint. Kalau mau complaint tentang perpolitikan kita, nggak ada gunanya. Nggak ada yang dengar. Jadi tulisan di atas itu memang sekedar pembuka saja.

Ngapain sih pak koq nulis complaint. Emangnya dosen juga pernah dapat complaint ?

Hush bisa saja kamu. Ya bisa saja, selama ada yang bikin janji dan ada orang merasa apa yang dijanjikan tidak ditepati, maka disitulah awal mula terjadinya keinginan untuk melakuan complaint.

Seperti tempo hari, ada orang tua mahasiswa yang menelpon tentang bagaimana kondisi anakknya yang kuliah di sini (UPH). Nah aku yang kebetulan jadi PA (Pembimbing Akademik) mahasiswa yang dimaksud, maka tentunya perlu menampung keluhan yang dialami orang tua murid tersebut.

Orang tua ini complaint, mengapa sudah menginjak semester ke-2 ini dianya koq belum dapat informasi mengenai nilai anaknya. Nah dengan percaya diri aku sampaikan , bahwa nilai anak-anak itu oleh Adak (Administrai Akademik) pasti dikirim ke rumah. Itu aku sampaikan dengan sopan. Eh ternyata apa jawabnya ditelpon. “Nggak pak, saya sudah check dirumah, tidak ada kiriman sama sekali tentang hasil belajar anaknya. Gimana itu pak, katanya khan dulu waktu dipembukaan perkuliahan pihak UPH sudah berjanji tentang hal itu”.

Nerocos, panjang mengutarakan kekecewaan. Nah karena ini menyangkut institusi, bukan tindakan pribadi. Maka yang aku lakukan adalah mendengarkan terlebih dahulu. Cukup lama aku mendengarkan complaint yang dimaksud. Untuk sudah kenyang, kalau lapar bisa-bisa nggak tahan itu. Setelah menunggu lama omongan orang tua siswa, yang diawali dengan pertanyaan mengenai kemajuan belajar anaknya, koq akhirnya complaint dengan nada menyalahkan karena pihak Adak tidak mengirim lembar hasil pembelajaran yang terjadi. Jawaban terhadap complaint semacam itu, adalah “baik bu, informasinya kami tampung. Untuk itu saya akan mencari tahu terlebih dahulu kondisi sebenarnya, sekaligus mengkonfirmasi ke bagian Adak, apakah kiriman sudah dikirim masing-masing ke orang tua siswa. Dan akhirnya ditutup dengan pernyataan mohon maaf. Beres.

Jadi kalau ada complaint, kita mau mendengarkan dengan sabar, dan tidak berusaha langsung menolak complaint tersebut, maka biasanya suasana jadi dingin. Kalau secara otomatis, kita membela diri tanpa mau mendengarkan lebih lanjut complaint yang dimaksud, maka suasan jadi panas. Nggak enak semua.

Complaint lain yang sering aku terima, adalah prosedur pembelian buku di Lumina Press, yang saat ini khusus menjual buku-buku karyaku. Jadi terkesan, bahwa Lumina Press itu adalah aku. Jadi kalau ada permasalahan yang terjadi terkait pembelian buku tersebut, maka larinya ke aku. Kalau kasusnya seperti ini, maka tugasku hanya menampung complaint, dan menyampaikan kemudian ke pihak Lumina Press. Jika aku nyatakan hal itu, tanpa memberi solusi langsung, nyatanya beres juga. Maklum orang-orang yang complaint tersebut merasa uneg-unegnya telah ditampung. Bahkan kadang, tenpa solusi khususpun, permasalahan jadi beres. Maklum sesuatu itu khan butuh waktu. Setelah cool-down beberapa lama ternyata kiriman buku telah sampai. Orangnya dari kecwa jadi berbalik 180 derajat karena telah menerima harapannya.

Complaint ternyata tidak itu saja. Kemarin Sabtu siang, saat diundang oleh client yang bergerak di perencanaan pelabuhan, sempat juga dalam diskusi dengan direkturnya tentang mutu pendidikan engineer di Indonesia.

Sekilas sih bukan complaint langsung ke saya, tetapi secara umum. “Bagaimana isih pak Wir, tempo hari saya menerima lulusan S1 dari perguruan tinggi ternama. Saya suruh menghitung yang prinsip, sederhana. Eh ternyata tidak tahu. Gimana sih cara mendidik calon insinyur di jaman sekarang ini sih pak. Jaman dulu, ketika pak Rosseno mengajar, koq beda“.

Itu sedikit keluhan atau complaint engineer senior, yang memimpin konsultan tersebut terhadap perilaku atau tepatnya kompetensi lulusan S1 teknik sipil di jaman di sekarang ini.

Wah-wah, complaint atau keluhan yang sangat umum, tetapi menohok. Maklum mengajar, atau mendidik calon insinyur adalah memang pekerjaan yang aku geluti. Jadi mestinya aku bisa menjawabnya secara tuntas. Gimana ya menjawabnya.

Akhirnya aku hanya menanggapi dengan cara :” o begitu ya bu“. Selanjutnya mulailah dengan argumentasi-argumentasi yang dapat aku berikan, yang tentu saja harus cool. Kalau yang bikin panas ini khan jika ditanggapi dengan : “lulusan UPH bukan bu“. Padahal sebenarnya sudah tahu institusi yang dimaksud. Tapi jika itu pertanyaannya, maka tentu jawabannya adalah “bukan koq pak Wir“. Dan jika jawaban itu yang terjadi (seperti yang diharapkan), tentu pernyataan selanjutnya akan bersifat subyektif, sehingga tidak kondusif menjawab esensi pertanyaan yang dimaksud.

Jawaban tentang hal itu memang macam-macam. Bagiku, sudah jelas bahwa sebagai dosen tidak bisa menjamin bahwa muridnya akan dapat memuaskan para bos nantinya kalau sudah bekerja.

Loh koq bisa begitu pak Wir. Khan bapak sebagai dosen yang bertanggung jawab mengajarkan kepada para calon engineer tersebut. Koq nggak bisa menjamin sih. Katanya dosen senior.

He, he, pertanyaan yang berkesan complaint. Tapi bagaimana lagi, memang itu yang aku yakini, bahwa aku tidak bisa menjamin dengan pasti bahwa anak-anak muridku akan pasti dapat menyelesaikan masalah yang timbul ketika bekerja nanti. Kalimat yang mungkin lebih menohok lagi adalah tidak siap pakai.

Padahal kalau merujuk pada para pembuat kebijakan negeri ini, adalah agar para dosen di perguruan tinggi dapat mendidik para lulusannya agar siap pakai. Nah lho bagaimana itu.

Bagi orang-orang tertentu, mungkin juga kaget dengan keyakinan yang aku pegang tersebut. Kalau dosen seperti aku saja tidak bisa (berani) menjamin anak didiknya seperti yang diharapkan masyarakat. Lalu siapa lagi yang dapat diandalkan, menteri pendidikan kali.

Tentang anak didik, memang aku tidak berani menjamin, bahwa mereka pasti OK. Yang aku bisa janjikan, adalah bahwa aku akan mengajarkan kepada mereka (anak didik), proses pendidikan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Bagiku, yang namanya mendidik dan mengajar, tidak sekadar terbatas pada tempatku bekerja (karena dapat gaji), tetapi telah melekat erat dalam diriku. Tidak hanya di kampus, di kelas, dimana saja pada prinsipnya apa yang aku sampaikan adalah dalam konteks menjalankan tuga mendidik dan mengajar. Dalam tulisan-tulisan yang aku buat, juga rasanya begitu. Aku berusaha memberikan yang terbaik bagi para pembaca, meskipun demikian tidak berarti aku dapat menjamin para pembaca yang membaca tulisan-tulisanku pasti akan mendapat ilmu yang terbaik. Nggak bisa itu. Pasti ada-ada saja yang merasa, bahwa apa yang aku berikan adalah biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Adanya hal seperti itu, adalah biasa saja. Aku tidak peduli, yang penting disini yang ingin aku katakan, bahwa aku yang akan berusaha memberikan yang terbaik. Hasil akhir tergantung pembacanya.  Kadang-kadang bahkan aku merasa bahwa tulisanku biasa-biasa, tetapi ada yang mengucapkan terima kasih karena telah membacanya. Jadi dalam hal mendidik dan mengajar itu, peranku bahkan hanya sebatas seperti seorang penabur. Ingat bacaan nash berikut.

lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu [Markus 4:27].

Jadi yang bisa aku jamin, adalah benih-benih yang aku siapkan, harus yang terbaik yang bisa dibuat. Karena konteks materi yang diberikan di perguruan tinggi adalah perubahan pola pikir, atau kesiapan untuk mengolah pikiran (mau berpikir) dan bukan asal siap pakai. Mengubah pola pikir, adalah tidak gampang. Salah satunya yang aku yakini dalam proses belajar mengajar agar dapat mengubah pola pikir adalah dengan cara melakukan diskusi atau juga bercerita.

Mengajar dengan bercerita untuk materi teknik sipil itu tidak gampang lho. Apalagi jika anak-anak muridnya pasif terhadap pertanyaan. Nggak tahu kenapa, kelas-kelas yang aku ajar, biasanya relatif sedikit pertanyaan yang timbul. Ini aku sedang berusaha mencari tahu kenapa. Anak-anak sudah tahu sekali akan materi yang aku ajarkan, atau bahkan tidak tahu sekali. Jadi untuk bertanya saja juga bingung.😀

So . . .kembali ke pertanyaan direktur konsultan tadi. Bagaimana dengan mutu lulusan S1 sekarang. Jadi memang tergantung dosennya, bagaimana caranya menumbuhkan minat mahasiswa untuk menggeluti bidang yang diajarkan. Ini menurutku yang paling penting. Masalah bahwa mahasiswa dapat nilai A, bagiku tidak penting, itu aspek sampingannya. Karena bagiku, bisa saja dia dapat nilai C, tetapi kalau berminat sekali dengan ilmu tersebut, maka di kemudian hari orang tersebut yang sukses menggeluti atau memakai ilmu yang aku ajarkan.

Lho koq bisa begitu.

Yah bisa saja, yang dapat nilai A rajin sekali menghabisi materi pelajaran meskipun tidak ada minat lebih lanjut. Jadi ibarat hangat-hangat tahi ayam, karena baru saja dibahas pelajarannya, ketika dilakukan ujian juga masih fresh (mengingat semua), tetapi karena tidak ada minat, setelah jauh hari berlalu. Ilmu yang fresh tadi menjadi tidak berbekas.

Jadi langkah penting aku sekarang mengajar, adalah menunjukkan kepada murid-muridku bahwa materi yang aku sampaikan kepada mereka adalah yang terbaik yang bisa aku dapat. Bukan sekedar kodian. Itulah mengapa, materi-materi yang aku ajarkan di kelas, juga aku buatkan bukunya, yaitu untuk membuktikan bahwa karena materinya baik, maka juga laku di luar kampus.

Itulah yang aku jelaskan kepada direktur konsultan tersebut. Bahwa untuk menghasilkan calon insinyur yang sukses itu tergantung ke dua belah pihak, satu sisi dosen harus bekerja keras memberikan yang terbaik, bahkan dapat menjadi teladan akan pengamalan ilmunya, maka di sisi mahasiswa harus ada minat kuat untuk menggelutinya lebih lanjut. Tanpa kedua belah saling berusaha, maka nothing. Itu mungkin yang menyebabkan direktur konsultan tersebut kecewa akan lulusan salah satu institusi yang terkenal itu. Sisi mana yang salah, aku tidak tahu.😦

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s