komunitas ahli analisa struktur – Jateng


Kegiatan menulis itu ternyata dampaknya luar biasa. Bagaimana tidak, banyak orang yang lebih tahu namaku, tapi kalau ketemu belum tentu kenal. Maklum bukan pejabat publik, bukan siapa-siapa, hanya seorang guru atau istilah kerennya dosen.

Memang sih, anugrah menulis yang aku punya ini rasa-rasanya membuatku lebih pede, bahkan untuk itu aku tidak perlu mencantumkan gelar formal yang dipunyai. Maklum, namaku sudah cukup panjang, jadi kalau ditulis tanpa gelar terkesan lebih mudah dibaca. Untuk tulisan-tulisan yang kubuat, tidak pernah aku cantumkan gelar. Maksudku dari isi tulisan yang kubuat, pembaca sendiri tentunya dapat menilainya, apakah bobotnya memang sepadan atau tidak dengan gelar yang kupunya. Tentang gelar tersebut, umumnya yang memasang adalah teman-teman yang mengundangku.

gambar1

Pak Wir koq geer sih. Nama di baliho Itu khan ditujukan untuk pesertanya.

Benar juga, adanya gelar yang dicantumkan di atas tentunya lebih ditujukan kepada para peserta, bahwa mereka tidak salah untuk duduk di situ mendengarkan. Maklum, di negeri ini gelar akademik dapat memberi kesan bahwa yang menyandangnya adalah orang yang berbobot. Jadi tidak hanya di dalam ruang, maka di luar ruangpun nama bergelar itu perlu dicantumkan. Lihat saja ini.

gambar2

Berbobot, apa betul seperti itu, tentu setiap orang punya pendapat sendiri-sendiri. Bisa sama atau tidak, nggak masalah itu. Bagiku, adanya gelar itu hanya menunjukkan bahwa seseorang telah menyelesaikan suatu tahapan pendidikan tertentu. Nggak lebih, nggak kurang. Yang lebih penting dari itu adalah buahnya, hasilnya gitu lho.

Nah kalau dosen itu hasilnya apa pak Wir. Banyak yang teoritis doang.!?

Maksudnya bagaimana. Kalau bukan teoritis, lalu apa. Kalau produk yang diharapkan maka namanya bukan dosen lagi itu, namanya adalah pengusaha. Jadi yang bisa diharapkan dari seorang dosen adalah dapat membuat orang lain “pintar”, baik dari penjelasannya secara langsung maupun melalui buah pikiran melalui tulisan. Itu khan memang teoritis. Tapi jangan salah dengan istilah teoritis yang orang awam menganggapnya adalah lawan dari praktis. Karena yang dimaksud dengan teoritis di sini adalah petunjuk atau rencana yang dapat digunakan agar suatu pekerjaan praktis dapat dilakukan pengulangan. Jadi adanya wacana teoritis tersebut maka suatu rencana dapat terwujud secara praktek.

Pak Wir, dari bicara menulis koq menjelaskan soa lokakarya sih. Pembicara begitu maksudnya ?

He, he, mungkin agak kaget ya, kenapa dari cerita penulis sekarang jadi pembicara. Betul, jangan kaget, ternyata dari menulis itu pula dapat mengantar seseorang jadi pembicara. Memang aneh, banyak orang yang pintar berbicara belum tentu jadi penulis. Tetapi kalau seorang penulis lalu bisa juga berbicara, tentu bukan sesuatu yang aneh. Eit, jangan langsung ditelan saja pernyataan itu, pada waktu sekitar tahun 2003 yaitu ketika bukuku yang pertama terbit maka aku adalah salah satu yang tidak mempercayai pernyataan itu. Maklum, aku itu pada prinsipnya orang introvet, tidak menyukai keramaian, sampai aku lulus S2 di UI. Bayangkan, itu berarti sudah cukup senior (tua), pada kondisi itu untuk berbicara di depan publik masih saja menjadi kendala. Maksudnya, masih menjadi beban. Kalau bisa tidak berbicara maka lebih baik tidak berbicara. Tetapi setelah bertahun-tahun menjadi penulis, maka sekarang statusnya berbeda, ketika disuruh berbicara di depan banyak orang, maka rasanya adalah suatu kehormatan.

Jika awal bulan kemarin di undang ke Malang, maka hari kemarin (23 Oktober 2014) adalah kehormatan juga mendapat undangan dari teman-teman di Semarang, tepatnya di Universitas Negeri Semarang atau UNNES. Ada dua acara menarik yang mereka selenggarakan, Acara pagi hari adalah Lokakarya Mata Kuliah Analisa Struktur yang mengundang dosen-dosen yang memegang mata kuliah tersebut, saya bersama Dr. Ir. Sri Tudjono (dari UNDIP) didapuk menjadi nara sumber. Ini brosur yang mereka buat.

10700534_1522895454615959_4144471489479692555_o

10604472_1522895371282634_7589697273995531306_oTerus terang warna brosur di atas menarik sekali, eye catching. Kelihatannya karena brosur itulah maka acaranya banyak yang datang. Lihat aja ini suasananya.

gambar4

Pembukaan acara – menyanyikan lagu Indonesia Raya

gambar3

Saat acara Lokakarya berlangsung

Menurut panitia, kapasitas ruang adalah sekitar 150 orang. Cukup banyak yang datang, ada pak Hardi Wibowo dari UNDIP (Semarang), juga Dr. Sumirin dari Unissula (Semarang) beberapa aku lupa namanya, tetapi yang jelas dari Universitas Pandanaran (Semarang), Untag (Semarang), dosen dari Surakarta bahkan dosen dari Unsoed (Purwokerta). Maklum aku sempat berbincang-bincang dengan mereka. Yang jelas banyak dari mereka adalah murid-murid Dr.Ir. Sri Tudjono yang kebetulan diajak bersama dengan saya sebagai narasumber pada acara lokakarya tersebut.

gambar5

gambar6

Nah kalau sudah ngomong begini, maka introvet-nya jadi hilang. Ini adalah dampak dari menulis. Dulu sebelum suka menulis, maka rasanya nggak kebayang berani tampil seperti foto di atas. Benar lho, bagi yang masih pemalu tampil, maka mulailah belajar menulis.Jika kemampuannya menulis sudah sampai pada tahap diapresiasi, maka yakin deh introvet-nya hilang.😀

gambar7

Narasumber, moderator dan ketua program studi teknik sipil UNNES, pak Hanggoro.

Apalagi ketika istirahat, jadi ramai seperti ini lho.

gambar8

gambar9

sesi makan siang, bersama mahasiswa/i peserta seminar

Kegiatan di UNNES relatif padat. Pagi hari ada Lokakarya, siangnya mereka juga tertarik untuk mendengar sedikit paparanku tentang materi buku yang aku tulis, yaitu metode terbaru AISC (2010), yaitu Direct Analysis Method. Ini brosur untuk acara siang hari, setelah makan siang.

gambar10Nah acaranya banyak diikuti mahasiswa. Menariknya, tidak hanya dari UNNES atau mahasiswa dari kota Semarang, ada juga dari kota lain setahuku adalah dari Magelang (Univesitas Tidar) juga ada yang dari Sukabumi. Ini kata panitianya lho. Wah menarik juga brosur di atas, banyak yang datang.

gambar12

Perhatikan – baliho di belakang pembicara juga diganti baru. Bandingkan dengan baliho acara lokakarya. Panitianya memang detail sekali.😀

gambar11

Sesi kedua setelah makan siang – pesertanya tidak kalah dari sesi pagi. Hanya memang, anak-anak mudanya lebih banyak.

gambar13

Untung pak Henry selaku moderator yang juga dosen struktur baja UNNES membantu memberi pertanyaan-pertanyaan agar menjadi hidup. Maklum dari peserta kelihatannya tidak begitu familiar dengan bajanya AISC, jadi pada banyak yang diam. Kelihatannya buku Struktur Baja-ku memang diperlukan.

gambar15

Bapak Hanggoro selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil UNNES memberikan kenang-kenangan kepada pembicara (saya) dan juga moderator (paka Henry).

gambar14

Menarik khan jadi penulis itu. Ini plakat yang aku peroleh dari kegiatan di Semarang kemarin.

gambar16

Jadi selama bulan Oktober 2014 ini, aku telah berbicara atau mengajar tentang struktur baja di dua tempat, yaitu di S2, Magister Teknik Sipil, Universitas Petra, Surabaya dan di S1 Jurusan Teknik Sipil, Unnes, Semarang. Dari dua kegiatan tersebut salah satu kesimpulan yang aku peroleh bahwa tulisan tentang buku Struktur Baja memang diperlukan.

Jadi kesimpulannya saat ini adalah Kerja, Kerja dan Kerja agar bukunya cepat diselesaikan. Mohon doanya ya. Semoga itu semua akan membawa kebaikan bersama.

O ya, ini adalah buah pemikiran yang aku tuliskan dan aku sampaikan kepada para ahli analisa struktur di kota Semarang kemarin. Judulnya : “Pemanfaatan software Structural Analysis Program (SAP) sebagai media pembelajaran dalam mata kuliah Analisis Struktur“, PDF (2MB). Tertarik download aja di sini.

19 thoughts on “komunitas ahli analisa struktur – Jateng

  1. Atas nama panitia Lokakarya dan Kuliah umum, kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi Bapak sebagai Pembicara. Semoga acara tersebut memberikan manfaat untuk perkembangan di dunia teknik sipil Indonesia. Dan semoga bisa bekerja sama lagi dikesempatan yang lain.

    Suka

  2. keren jiga komunitas nya…

    yu mampir juga ke komunitas dan situs berbagi gratisan Indonesia… keren jiga komunitas nya…

    yu mampir juga ke komunitas dan situs berbagi gratisan Indonesia…
    babacucu.com

    Suka

  3. salam kenal pak wiryanto.🙂,, saya baru pertama kali mengunjungi blog bapak. ternyata banyak sekali ilmu yang saya dapatkan disini. trims pak.🙂
    oh ya pak, saya merupakan mahasiswa semester akhir yang akan mengambil TUGAS AKHIR mengenai struktur. dan yang akan saya jadikan skripsi saya adalah perencanaan jembatan gantung. Adakah referensi buku dari bapak ataupun Link yang dapat saya jadikan referensi untuk skripsi saya pak. mulai dari perhitungan awal hingga akhir. Soalnya saya sangat kesusahan mendapatkan referensi tentang suspension bridge. mohon dibalas ya pak. Terimakasih sebelumnya ^_^

    Suka

  4. Pagi pak Wir,
    saya ingin bertanya tentang perkuatan struktur beton.
    yang saya tau kalo perkuatan kolom & balok beton karena perubahan beban akibat renovasi adalah menggunakan fiber karbon sbg penambah tulangan struktur yang kurang.
    nah, baru2 ini saya liat ada proyek yang perkuatan balok dan kolomnya menggunakan baja IWF. bukannya itu kurang tepat pak wir? karena jika balok beton di perkuat baja iwf dibawahnya akan berubah sifat perletakannya?

    Mohon pencerahannya.

    Thanks

    Suka

    • proses perkuatan struktur pada prinsipnya harus melihat perilaku sistem yang ada. Kalau fiber karbon, jika dibungkus lengkap (wraped) maka perkuatan terjadi dari fungsi confinement dan penambahan tulangan tarik. Ini seperti pasir di dalam karung padat yang mampu menahan beban lebih. Tetapi kalau sekedar melapis satu sisi (tidak membungkus penuh) maka sifat perkuatannya adalah menambah tulangan tarik saja.Yang terakhir ini baru bekerja jika ada tambahan beban luar.

      Jika perkuatannya berupa balok dan kolom baja IWF ini perlu dikerjakan seperti menambah struktur baru yang bekerja paralel. Agar struktur lama dapat berinteraksi dengan struktur baru maka kadangkala perlu diberikan initial prategang, misalnya dengan cara pendongkrakan. dan struktur baru menumpu atau menahan hasil dongkrakan tersebut. Nah itu baru disebut perkuatan. Tetapi jika balok dan kolom baja IWF tanpa dilakukan pendongkran dan tidak diberikan suatu pengisi (filler) antara keduanya, maka fungsinnya hanya berjaga-jaga sampai terjadi deformasi yang besar.

      Tentang sifat perletakan, kurang jelas maksudnya. Dengan ukuran profil IWF tentu paling gampang jika didudukkan di luar kolom, tepatnya disebelah luarnya menumpu pada pondasi atau balok. Adanya kondisi ini tentu perlu diperhitungkan juga karena akan membebani.

      Suka

      • maksud saya berubah nya sifat perletakan adalah sbb :
        – Balok sebelum di perkuat perletakannya jepit2. maka dipasang reinforcement pada serat tertarik beton (kasus sederhana)
        – Dan setelah balok tersebut di perkuat oleh balok baja IWF, kan otomatis perletakan yang tadinya ujung2nya jepit jadi berubah (jika balok baja terpasang rapat dengan balok beton). maka bidang momen akan berubah juga. tentunya ini harus di tinjau juga kan pak? bagaimana menurut pak Wir? 🙂

        Suka

    • Syukurlah berarti anda sudah lulus. O ya, terima kasih telah memberi apresiasi pada buku baja yang sedang ditulis. Saat sekarang baru 620 halaman yang selesai. Memang sih, untuk sejumlah halaman tersebut, kuantitas materi memang tidak sebanyak buku-buku baja lain, tetapi kalau dari segi kedalaman makna atau kualitas isi, saya sangat yakin sekali berani diadu dan akan memberi warna yang berbeda. Doakan semoga cepat selesai ya. Thank you.

      Suka

      • Sudah tiga tahun yang lalu, Pak😀 saya juga pernah bertemu bahkan berfoto bertiga, dengan Pak Wir dan pak Suradjin (Univ. Tris Sakti ) saat seminar dan workshop SAP 2000 tahun 2011 silam di UPH. Ditunggu buku terbarunya tentang Baja . apakah dengan penerbit yang sama, Pak ? saya sekalian mau beli buku SAP2000 yang terbaru. Buku yang ku punya, diminta temanku untuk kenang2an, berhubung dia memang mendalami tentang struktur dan terlihat kemauannya sangat tinggi, ya akhirnya saya berikan. kok malah jadi curhat, hehe.. sukses terus dan sabar menanti buku bajanya. salam.

        Suka

  5. hmmm sudah lama kutinggalkan dunia analisa sipil dengan naif… kalaupun kugunakan seadanya tanpa “spirit” dan minat lagi bertahun-tahun…
    Tapi ternyata Pak Wir masih semangat 45 aktif di dunia analisa struktur dan dosen dalam 5 tahun terakhir, salam sehat selalu bwt Pak Wir hahaha..
    Setelah baca beberapa tulisan blog ini saya mulai tambah yakin untuk pertimbangkan kembali ke dunia analisa yang pernah saya cintai sepenuh jiwa dengan kedewasaan tahun depan……
    Sapa tau dapat jumpa dengan Pak Wir yang pernah saya hormati suatu hari nanti….

    Suka

  6. Salam kenal Pak Wir,
    Ini adalah kali pertama saya menemukan dan membaca blog pak Wir, dan ternyata saya langsung jatuh hati (tertarik) dengan ulasan-ulasan bapak. Dan kebetulanya lagi, yang diulas kali ini menyangkut Almamater saya. Bu Endah Kanti dan Pak Hendry Apriyatno adalah dosen-dosen saya yg luar biasa. Khususnya Pak Hendry, saya pernah diminta membantu beliau dalam memberikan pelatihan SAP90 dan SAP2000 di LPK yg beliau miliki. Namun itu sdh 12 tahun yg lalu, mungkin beliau-beliau sdh lupa dgn saya ( kok malah jadi curhat ya…😀 ). Salam sukses pak Wir, kami tunggu karya -karya bapak selanjutnya…

    Terimakasih

    Suka

  7. Ping balik: Masukan #3 – draft buku struktur baja | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s