mana yang benar, 52,05 : 47,95 atau 47,32 : 52,68 ?


Saya yakin jika anda pembaca media yang rutin. Maka judul threat di atas tentu akan merujuk pada hal sama, seperti yang saya pikirkan, yaitu Quick Count Pemilu Presiden 2014 ini. Betul khan. Jika sebelum-sebelumnya, keberadaannya dapat dianggap sebagai suatu sumber berita yang dapat dipercaya, tetapi saat ini menjadi kebalikannya karena membuat bingung.😦

Pak Wir ini bagaimana, koq membahas Quick Count. Kita tunggu hasil dari KPU dong, 22 Juli nanti. Jangan ikut-ikut membuat bingung. Coba baca seruan KPI ini pak.

Yah . . . betul. Pengumuman KPU tanggal 22 Juli 2014 memang yang kita tunggu. Maklum itu solusi paling gampang mengatasi kebingungan yang ditimbulkan oleh adanya discrepancy tersebut. Meskipun demikian, terlepas apa jawaban KPU maka kelihatannya discrepancy di atas akan menimbulkan dampak yang tidak ringan, apapun jawabannya. Ini bukan soal menang atau kalah seperti yang dipahami masyarakat awam, tetapi lebih mendasar yang dapat dikaitkan dengan kemajuan bangsa.

Wah pak Wir ini mau jadi politikus ya ?

Ini bukan masalah politik praktis, karena apa yang saya uraikan ini adalah dampaknya di bidang akademis, terkait kemajuan ilmu pengetahuan, yang tentunya juga kemajuan bangsa. Jadi penting dong untuk disimak.

Itu terjadi karena pelaksanaan Quick Count pada dasarnya adalah implementasi dari kompetensi tentang ilmu statistik. Jika hasil Quick Count diabaikan, tidak diakui maka itu juga petunjuk bahwa keberadaannya, dipertanyakan. Bisa-bisa discrepancy itu dijadikan bukti bahwa ilmu statistik itu tidak berguna.

Nah lho bagaimana itu. Padahal di Indonesia ilmu statistik itu keberadaannya cukup signifikan, bahkan lebih berdampak dari ilmu structural engineering yang aku geluti selama ini. Lihat saja adanya ilmu statistik itu sampai-sampai negara membentuk Badan Pusat Statistik, karena juga dianggap ilmu yang penting maka bertebaran juga sekolah-sekolah tinggi yang mengkhususkan pada bidang ilmu statistik, seperti STIS yang mandiri atau hanya bagian dari sub-jurusan di fakultas, seperti di Unpad atau di ITS, atau banyak juga ditempat lain.

Intinya ilmu statistik selama ini dianggap sebagai ilmu penting dan dipercaya untuk digunakan sebagai data pengambil keputusan, sebagaimana ilmu structural engineering yang digunakan untuk memprediksi suatu struktur jembatan atau bangunan gedung, apakah kuat terhadap beban gempa yang akan terjadi atau tidak. Bahkan seperti kita ketahui bersama, bahwa indikator kemajuan negara selalu diungkapkan pada angka-angka statistik dan itu telah dipercaya oleh masyarakat secara luas.

Jadi adanya discrepancy (perbedaan) hasil Quick Count, yang didasarkan oleh ilmu statistik dapat menjadi petunjuk bahwa penggunaan ilmu itu juga diragukan.

Eh pak Wir, emangnya ilmu statistik itu eksak, seperti halnya matematik ?

Itulah yang menarik. Jika matematik maka 1 + 1 pasti adalah 2, adapun statistik kadang tidak seperti itu adanya. Itulah maka ilmu statistik disebut juga ilmu ketidak-pastian. Jadi bisa dimaklumilah jika sampai terjadi adanya discrepancy tersebut. Tetapi masalahnya adalah bahwa yang memakai ilmu statistik (Quick Count) itu adalah lebih dari satu. Jadi jika hasil yang discrepancy hanya dua, satu iya dan satu lagi tidak, maka adanya pembanding ke tiga, yaitu hasil KPU jelas akan menjawab permasalahan. Maklum, dengan data yang relatif sedikit maka hasil ilmu statistik akan diragukan.

Koq bisa terjadi seperti itu pak.

Itulah yang menarik, dan masyarakat akademis tentu tidak bisa menutup mata. Pertama-tama memang ilmu statistik tidak benar-benar ilmu eksak. Tetapi ilmu itu penting karena itu adalah ilmu duga-dugaan yang paling ilmiah, yang lain hanya disebut ramalan yang kadang-kadang oleh orang tertentu hal itu dilarang untuk digunakan sebagai rujukan resmi. Adanya pendapat skeptis tentang ilmu statistik itu bahkan diungkapkan oleh Nassim Nicholas Taleb, profesor di bidang Ilmu-ilmu Ketidak-pastian, University Massachussetts, di Armherts, yang mendapatkan gelar MBA dari Wharton School dan Ph.D dari Universitas Paris sbb:

Hampir segala sesuatu dalam kehidupan sosial dihasilkan oleh kejutan-kejutan dan lonjakan-lonjakan yang langka tetapi berdampak nyata, sementara hampir segala sesuatu yang kita pelajari tentang kehidupan sosial terfokus pada hal-hal “normal”, khusus menggunakan inferensi “kurva lonceng” yang hampir tidak memberi-tahukan apapun kepada anda. Mengapa ? Karena kurva lonceng mengabaikan deviasi-deviasi besar, bukan menanganinya, dan itu membuat kita percaya bahwa kita telah menjinakkan ketidak-sempurnaan. (The Black Swan, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama).

Itulah sebabnya ilmu statistik itu tidak gampang, khususnya dalam menentukan kapan deviasi-deviasi besar dapat diabaikan dan kapan harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

Kalau begitu sudah jelas dong pak kalau Quick Count tidak bisa dipakai karena memakai ilmu statistik yang hasilnya saja tidak pasti tersebut.

Jika yang melakukan Quick Count hanya dua, dan satu hasilnya “ok” dan satunya “tidak ok” maka hasil akhirnya akan netral. Artinya hasil Quick Count itu tidak berguna. Tetapi masalahnya ternyata tidak seperti itu karena yang melakukan Quick Count lebih dari dua bahkan sampai sebelas, ada 4 yang “kiri” dan sisanya “kanan”. Jadi jawabannya tidak sesederhana itu. Jika ke sebelas Quick Count itu mengaku memakai dasar ilmu statistik, berarti tidak ada keraguan lagi dengan ilmu tersebut, masalahnya adalah siapa yang tidak bisa memakai ilmu itu dengan baik, itu yang perlu diungkapkan agar tidak terjadi kerancuan dalam penggunaan ilmu statistik itu sendiri.

Kira-kira hal apa yang dapat membuat itu berbeda pak Wir.

Saya bukan ahli statistik, tetapi jika itu dikaitkan dengan ilmu dan implementasinya maka ada tiga hal utama yang mempengaruhinya, yaitu [1] knowledge [2] skill; [3] attitude. Umumnya yang dipelajari di level perguruan tinggi adalah knowledge (dan sedikit skill), tentang hal ini di jaman sekarang rasanya tidak permasalahan. Apalagi didukung oleh keterbukaan dunia informasi dan internet. Saat ini tidak ada masalah untuk mendapatkan knowledge tersebut.

Jika terkait dengan discrepancy tersebut, kemudian banyak yang mengusulkan untuk melihat metodologi yang digunakan maka pada tahap knowledge itu yang hendak dilihat.

Meskipun punya knowledge yang hebat, tetapi jika penerapannya tidak tepat maka bisa juga akhirnya gagal. Ini masuk pada kategori skill, yaitu bagaimana mengimplementasikan knowledge tersebut pada ranah praktis. Skill ini termasuk juga kemampuan mengkomunikasikan ide (knowledge) kepada bawahan untuk dilaksananakan. Itu termasuk ketrampilan manajemen, sehingga terimplementasi dengan baik. Selain menguasai kemampuan manajemen (komunikasi) juga ketrampilan memakai teknologi.

Sebagai misal, dari knowledge dapat diketahui bahwa prediksi ilmu statistik akan semakin mendekati kebenaran jika datanya semakin banyak. Dari pengetahuan seperti itu, maka ketika implementasinya ada salah satu pihak hanya memakai data separo dari pihak yang lain, maka dapat diduga pihak yang datanya lebih sedikit mempunyai kecenderungan salah dibanding yang banyak.

Kesalahan dalam tahap knowledge dan skill relatif gampang dicari, dan dapat dimaklumi. Adapun untuk attitude adalah tidak gampang. Sebagai contoh, telah disebutkan bahwa Quick Count didasarkan pada sampel sejumlah 1000. Wah itu relatif cukup banyak. Tetapi jika yang 1000 itu ternyata aplikasinya memakai ilmunya Cak Lontong, yaitu jika ingin mencari tahu, misalnya partai A, lalu sampel ditujukan pada jumlah 1000 (sesuai batasan) tetapi dipilih hanya pada orang-orang yang memakai kaos bergambar partai A (pendukung) maka hasilnya tentu tidak representatif lagi. Kondisi seperti itu, jika tidak ada kejujuran maka tentu tentu tidak bisa dengan mudah terlacak.

Tidak hanya itu pak, itu ada yang sampai mengubah hasil data perhitungan suara.

Wah kalau itu sih sudah di luar konteks akademi, itu ranah pidana.

Itulah yang terjadi dengan adanya discrepancy tersebut. Apapun hasil KPU yang akan diumumkan pada tanggal 22 Juli 2014 maka akan tetap menyisakan permasalahan, mengapa terjadi perbedaaan (discrepancy). Itu penting untuk kelangsungan pemakaian dan perkembangan ilmu statistik itu sendiri. Jika tidak, maka setiap ada keraguan atau ketidak-tepatan dengan ilmu tersebut maka akan selalu dirujukkan pada hasil Quick Count. Bahwa ilmu statistik itu tidak bisa diandalkan, jadi kalau ada kesalahan harus dimaklumi.

Jika itu yang terjadi, maka BPS atau sekolah-sekolah yang terkait ilmu statistik sebaiknya dibubarkan saja, karena nggak ada gunanya. Gimana itu ?

6 thoughts on “mana yang benar, 52,05 : 47,95 atau 47,32 : 52,68 ?

  1. Statistik utk kehidupan yg lebih baik yaa Mas, menyontek semboyan PT PLN “Electricity for better Life”,
    Memang menjadi repotnya klo keilmiah-an statistik dipolitisir!
    Trimakasih pencerahannya di jaman galau ini, Gusti mBerkahi mas Wir..

    Suka

  2. Sangat setuju dengan ulasan singkatnya pak. Semoga ini memberi pencerahan bagi kita yg menikmati hasil terapan ilmu statistik juga bagi pegiat ilmu statistik. Saya lebih senang menyebut hal ini dengan sebutan Matematika sosial, karena akan sangat tergantung pada situasi serta kondisi dimana matematika sosial ini diterapkan. disinilah diperlukan attitude serta integritas yg baik para pelakunya. Salam…

    Suka

    • thanks atas pendapatnya.
      Wo matematika sosial ya, kami di bidang rekayasa rasanya nggak berani menyebut hal itu. Maklum kami juga memakainya, yang umumnya untuk mengelola data empiris dan keterkaitannya dengan besarnya risiko terhadap ketidak-pastian tersebut. Bidang rekayasa gempa sangat ahli memanipulasi data berdasarkan ilmu tersebut.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s