bangunan ambruk, bagaimana itu ?


Sedikit intermezo ya, maklum isi berita on-line kelihatannya koq hanya diskusi soal No.1 dan No.2 saja ya. Apa nggak bosen. Padahal di Samarinda baru saja terdengar kabar buruk adanya bangunan yang sedang dibangun, rubuh. Ini datanya :

Bangunan ruko Cendrawasih Permai di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, runtuh. (Foto:Awaluddin Jalil/Sindonews)

Bangunan ruko Cendrawasih Permai di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, runtuh. (Foto:Awaluddin Jalil/Sindonews)

Evakuasi korban reruntuhan gedung (foto:Jalil/Sindonews)

Evakuasi korban reruntuhan gedung (foto:Jalil/Sindonews)

Evakuasi korban reruntuhan gedung (foto:Jalil/Sindonews)

Evakuasi korban reruntuhan gedung (foto:Jalil/Sindonews)

bxaFa7brDy

Ruko tiga lantai runtuh (foto:Jalil/Sindonews)

Bangunan ruko Cendrawasih Permai di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, runtuh. (Foto: Awaluddin Jalil/Sindonews)

Bangunan ruko Cendrawasih Permai di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, runtuh. (Foto: Awaluddin Jalil/Sindonews)

Adapun pendapat terkini dari pihak berwenang di sana, adalah sebagai berikut :

SAMARINDA – Kepala Badan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPTSP) Kota Samarinda Dadang Airlangga menyebutkan, berdasarkan penglihatan langsung di lapangan, dugaan sementara ambruknya ruko tiga lantai di Samarinda itu dikarenakan konstruksi bangunan yang tidak sesuai dengan desain awal.

Pondasi dan peralatan penahan lantai tidak kuat menahan beban cor yang masih basah atau belum mengering, sehingga pada saat bersamaan langsung ambruk.

Ada perbedaan yang mendasar secara kasat mata dengan desain yang seharusnya. Kami sudah melakukan pengamatan struktur konstruksi ruko tiga lantai dengan panjang 100 meter dan lebar 50 meter itu,” kata Dadang kepada wartawan, Selasa (3/6/2014).

Dia menyebutkan, ada deviasi perencanaan dan pelaksanaan. Deviasi itu adalah perbedaan dilakukan kontraktor dengan memperkecil besi tulangan, mengurangi campuran semen. Pemkot Samarinda telah mengamankan desain bangunan yang didapat mereka dari pimpinan proyek ruko itu.  Desain struktur bangunan nantinya akan diserahkan kepada kepolisian untuk keperluan penyelidikan.

Sumber : sindonews.com

 

Bagi orang awam maka bisa saja langsung percaya akan pendapat di atas, maklum yang menyatakan itu adalah pejabat formal. Tapi bagi seseorang yang menggeluti bidang teknik sipil, apalagi yang kekhususan struktur, apakah dapat langsung mengamini. ** mikir mode on **

Saya kelihatannya termasuk yang tidak langsung dapat mengamini, bahkan ragu dengan pernyataan di atas. Untuk itu ada baiknya saya akan mengulas data-data di atas, termasuk pernyataan tersebut. Ini bisa lebih seru dari diskusi soal no.1 dan no.2 lho.😀

Dari foto-foto yang ada, terlihat bahwa terdapat reruntuhan perancah di sela-sela reruntuhan bangunannya. Selain itu juga ada informasi dari pihak berwajib bahwa keruntuhan terjadi ketika dilakukan pengecoran, dimana beton masih basah. Itu menunjukkan bahwa pada dasarnya struktur bangunan tersebut belum berfungsi.

Jika belum berfungsi, maka jelas pernyataan berikut menjadi tidak bermakna.

Ada perbedaan yang mendasar secara kasat mata dengan desain yang seharusnya . . . . . . ada deviasi perencanaan dan pelaksanaan. Deviasi itu adalah perbedaan dilakukan kontraktor dengan memperkecil besi tulanganmengurangi campuran semen.

Maklum kedua hal itu baru bisa dibenarkan jika strukturnya dalam kondisi sudah berfungsi. Oleh karena itu pernyataan yang masih valid untuk dibahas adalah yang ini, yaitu

Pondasi dan peralatan penahan lantai tidak kuat menahan beban cor yang masih basah

Nah pernyataan ini masih dimungkinkan, meskipun belum diketahui apa yang menyebabkannya : pondasi atau peralatan penahan lantai (perancah).

Untuk itu ada baiknya kita ulas saja ya. Tentang data, terus terang saya tidak punya, kecuali foto-foto di atas yang saya dapat dari internet. Kalau melihat perancah yang digunakan, yang kesannya tidak rapi, maka diduga mereka hanya memakai perancah kayu.

Jika itu dari kayu, maka jelas itulah sumber permasalahannya. Lihat jenis kayunya juga kelihatan sembarang kayu, yang murahan. Seperti diketahui, pemasangan perancah dari kayu cenderung dipasang sekedar sebagai penopang atau kolom vertikal, tidak ada di desain untuk mampu menahan gaya arah lateral. Jika demikian adanya, berarti sistem penopang tersebut tidak mempunyai kekuatan dalam menahan gaya lateral.

Struktur penopang yang bekerja sebagai kolom sederhana, sebenarnya sudah diketahui rahasia perilaku keruntuhannya oleh para ahli. Kolom langsing (seperti nampak pada foto) maka dapat dipastikan keruntuhannya adalah tekuk yang sifatnya tiba-tiba. Apa yang dimaksud dengan tiba-tiba, maka ada baiknya melihat kurva hubungan gaya-deformasi sbb:

Perilaku tekuk berbagai kolom terhadap Pcr. – (Galambos 1998)

Perilaku tekuk berbagai kolom terhadap Pcr. – (Galambos 1998)

Perhatikan kurva no.1 kondisi beban (tekan) sebelum mendekati Pcr atau P kritis atau P tekuk akan terlihat kuat, namun ketika mencapai P kritis mendadak terjadi deformasi yang besar (tak terhingga). Itu disebut kondisi bifurcation (tiba-tiba). Jadi keruntuhan yang terjadi adalah mendadak.

Mengapa itu bisa terjadi, ya karena dari kayu itu. Dari foto saja sudah terlihat bentuk kayu tidak mulus, maklum kayu murahan jadinya ya seperti itu. Padahal kondisi bentuk yang seperti itu adalah pemicu atau tepatnya menentukan kekuatan kolom. Istilah dalam ilmu kolom adalah kondisi imperfection. Bahan material kayunya sendiri tidak homogen, itu juga menjadi penyebab menurunkan kapasitas tekan, yaitu dari cacat material (kira-kira mirip dengan kondisi inelastis pada kolom baja). Karena kayu adalah produk alam, maka bisa terjadi, masing-masing mempunyai kekuatan tekan yang tidak sama.

Nah ketika ada salah satu kayu yang tidak kuat, maka terjadi keruntuhan yang berupa tekuk, yang sifatnya tiba-tiba. Karena tiba-tiba maka seakan-akan menimbulkan hentakan atau tepatnya gaya lateral. Padahal sudah seperti yang diungkapkan didepan bahwa perancah kayu hanya direncanakan terhadap gaya vertikal, dan tidak didesain terhadap lateral. Maka ketika itu terjadi, fenomena keruntuhan jadi seperti kartu domino.

Jadi sekali lagi, jika perancahnya kayu, itulah sumbernya. Bagi teman-teman teknik sipil, waspadalah jika memakai perancah, hati-hati.

O ya, besok tanggal 4 juli 2013, saya akan membawakan makalah dan juga cerita tentang kolom secara lebih detail di UK Petra Surabaya. Jika ada yang tertarik datang ya. Ini link informasi yang terkait :

<< updated 6 Juni 2014>>

Jika anda tertarik tentang tema di atas, yaitu memprediksi perilaku keruntuhan bangunan, maka ada baiknya membaca artikel saya yang lain, seperti :

29 thoughts on “bangunan ambruk, bagaimana itu ?

  1. TOP Mak nyusss Pak Wir… mencerahkan… Membaca tulisan P Wir ki keno nggo tombo kangen je… Salam ya Pak…

    Suka

    • Matur nuwun mas Him, . . . . . ya daripada membahas capres-cawapres yang memberi kesan saling ngotot. Maklum tentang hal itu, kulo sampun manteb, tinggal menunggu hari-H nya. Begitu mas Him, juga sudah mantap khan.😀

      Suka

      • setuju pak, capres dan cawapres mah sudah terlalu menjamur, tapi saya sedikit menganalisis fenomena bangunan ambrol kek gitu, bisa jadi besi ama semennya sudah dimakan sama tikus-tikus proyek om.

        Suka

  2. musibah sudah terjadi, ini pelajaran buat kita-kita semua yg berkecimpung di dunia konstruksi, mudah-mudahan semua pekerjanya sdh msk dalam asuransi Jamsostek.

    Suka

  3. Pengamatan secara langsung dilapangan, keruntuhan terjadi karena poor design. Dimensi kolom hanya 23×23 cm dg bentang 5m dan tinggi lantai 4m. Kolom tepi 10×35 cm. Diperkirakan kolom tengah terpuntir dan pelat bergeser ke tengah krn kolom tepi tdk dpt menahan beban sebelum bangunan runtuh.
    Perancah menggunakan scaffolding, hanya balok cantilever disanggah dg balok dolken.

    Suka

    • Itu berarti kolom langsing, fenomena keruntuhan kurva 1 (slender column) yaitu bifurcation yang bersifat tiba-tiba, itulah yang terjadi. Berarti desainnya. Mungkin perencananya terbiasa membangun rumah tinggal, yang mana kolom dicor bersama dengan dinding batu-bata. Dalam hal ini, dinding berfungsi sebagai pertambatan lateral, yang mempengaruhi kelangsingan. Itu biasanya terjadi jika bekerja hanya mengandalkan pengalaman dan tanpa didukung pengetahuan yang memadai.

      Suka

    • hmmm kolom tepi 10×35 dimensi kolom tepi tidak terihat pada saat finishing dinding..

      namun secara struktur –> perilaku wall yang ideal di sumbu kuat namun rawan di sumbu lemah itulah yang harus dipahami. Untuk lebih jelasnya mungkin pak Wir bisa bantu jelaskan secara detail…

      jadi kalau saya boleh kira-kira analogi sementaranya :
      1. Perancah pelat mengalami cacat material, sehingga perancah menjadi miring dengan sudut X derajat… sehingga beban yang harusnya hanya vertical dalam rencana menjadi beban horizontal dan vertical di realitas.
      2. Kolom tepi, pada sumbu lemahnya mengalami beban lateral (horizontal) yang diluar rencana dan tidak mampu memikul, akibatnya terjadi kegagalan di joint kolom tepinya.
      3. kegagalan joint di kolom tepi menyebabkan pelat semakin bergeser miring tiba-tiba membuat beban lateral dan tarik yang besar dan tiba-tiba pada kolom tengah. joint mengalami sendi plastis.. dan sepertinya kegagalan tidak terjadi strong column weak beam namun sebaliknya pada foto.
      4. Pelat runtuh sehingga memberi beban tiba2 pada pelat dibawahnya sehingga kolom-kolom mengalami tekuk di joint pada foto sehingga struktur mengalamami tragedi kegagalan total.

      Terima kasih atas masukan dan koreksi apabila berkenan.

      Suka

  4. Analisa yang luar biasa Pak. Mau nanya Pak, kalo untuk Program Master Teknik Sipil, apa saja ya bidang minatnya? Kalo bidang Struktur apakah termasuk di dalamnya Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi? Terus apakah bisa Pak, sarjana Teknik Sipil dari universitas swasta melanjutkan S2 di universitas negeri? Saya lulusan S1 Teknik Sipil dari universitas swasta dan berniat melanjutkan studi S2 di bidang Struktur. Mohon pencerahannya Pak.

    Suka

    • Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi termasuk ilmu geoteknik. Materi pelajaran di level S2 umumnya masih berupa paket, meskipun demikian sudah dikelompokkan misal peminatan struktur (konstruksi) dan peminatan manajemen konstruksi, o ya ada juga peminatan transportasi. Adapun ilmu geoteknik umumnya masih nempel pada peminatan struktur (sebagai pendukung). Masih sedikit yang langsung geoteknik saja. Kemudian dijuruskan lagi ketika ambil tesis. Maklum, ahli geoteknik umumnya tidak sama dengan ahli struktur.

      Lulusan swasta masuk ke negeri, wah itu banyak sekali pak. Maklum level S2 relatif sedikit peminatnya. Biasanya yang memang ingin mendalami bidang tersebut secara lebih profesional. Saya sarankan, pilihkan program studi S2 yang paling terkenal. Jika anda lulus dengan baik di situ (misal negeri) maka biasanya nanti anda tidak ditanyakan asal S1-nya. Paling terkenal itu indikasinya, adalah orangnya, maklum ilmu yang diberikan biasanya sudah tidak standar, tergantung kedalaman ilmu dosennya.

      Kedalaman ilmu dosennya adalah jika banyak penelitian dan tulisannya, bukan yang banyak proyek. Maklum yang banyak proyek, hanya indikasi banyak harta dan koneksi, bukan ilmu.😀

      Meskipun tidak menutup kemungkinan ada juga yang banyak ilmu dan banyak hartanya juga. Biasanya ada korelasinya juga, tetapi kalau terlalu banyak proyek, nggak sempat mengembangkan ilmu lebih jauh lagi karena kehabisan waktu, Yah, sewajarnya saja.

      Suka

  5. pak mau tanya kalo di sap2000 boleh tidak mendisain struktur dengan menyatukan seluruh komponen struktur utama dan tambahan tanpa dipisah – pisah,misalkan membuat gedung di atasnya langsung atap, lalu tangg langsung dibuat dalam gedungnya ?
    maaf jika pertanyaan ini pernah orang lain lontarkan ,tpi setau saya baca komentar trus belum ada

    Suka

    • sdr Miftah,
      di jaman serba graphical user interface yang canggih, membuat model dengan memasukkan keseluruhan bangunan secara sekaligus, sehingga sepintas seperti real, memang tidak menjadi masalah.

      Masalahnya adalah bahwa model, yang secara grafis persis seperti nyata, pada kenyataannya dalam menerima beban dapat dipastikan tidak seperti tampilannya. Kenapa bisa begitu, karena tahapan bebannya berbeda.

      Jadi jika faktor itu dapat dimasukkan juga, dan juga kondisinya bisa dibuat kontinyu, maka tentu permasalahan dapat teratasi. Hanya saja, cara itu akan lebih kompleks dibanding dengan cara terpisah-pisah.

      Jadi sekali lagi, semua yang dikerjakan pada komputer hanyalah sekedar model struktur, bukan struktur sebenarnya. Jadi harus hati-hati, apakah model yang dibuat dapat mewakili kondisi real. Dan kondisi real, tidak hanya semata-mata tampilannya sudah ok saja. Semoga berguna.

      Suka

  6. tulisan yang menarik pak Wir,
    karena “kadang” ada dosen yg membenarkan desain struktur untuk ruko 1 unit (1 kavling) digunakan untuk berunit2 ruko dan bergandeng2….
    dan kadang pihak Owner karena ingin menekan biaya perencanaan, mintanya juga begitu.
    Gimana tuh pak Wir? maklum saya Diploma Civil Engineering yg lama ndak bergelut dengan dunia struktur dan 2 tahunan ini mulai berkecimpung lagi..

    Suka

    • Pada konteks tertentu bahkan memberi kondisi yang lebih baik, paling ada kolom yang menerima beban tributari lebih besar. Tetapi itu saya kira bukan masalah besar.

      Suka

  7. Selamat siang pak,
    salam kenal dan salam sejahtera sebelumnya..
    analisa yang sangat dalam dan bagus ..
    saya sekalian mau menginfokan bahwa sedang diadakannya kompetisi blog di kompetisimenulis,com
    terima kasih sebelumnya

    Suka

  8. pagi pak wir, perkenalkan saya wawan saya mahasiswa pts di lampung. saya mendapat tugas matakuliah struktur beton 2 untuk menghitung struktur bangunan 2 lantai. dan yang ingin saya tanyakan sama pak wir adalah apakah perhitungan struktur tangga dibuat terpisah dari struktur utama bangunan?.karena kalau melihat dari contoh penyelesaian tugas dari kakak tingkat saya struktur tangga dibuat terpisah sehingga gaya” dalam dan reaksi tumpuan dari struktur tangga tidak disalurkan ke struktur utama. jadi tidak ada pengaruh sama sekali beban tangga ke struktur utama, apakah benar seperti itu pak? mohon penjelasanya

    Suka

  9. perkenalkan pak, saya kholid….jadi, kayu yang seperti apa pak yang sebaiknya digunakan sebagai tiang penyangga atau tumpuan agar bangunan tersebut tidak mudah roboh?…terutama bangunan yang ingin dibangun diatas tanah dekat pesisir pantai…. atas jawabannya terimakasih ya pak…

    Suka

  10. blog ini luar biasa
    artikelnya berkualitas dan inspiratif saya sangat suka dengan blog agan
    asli dan hasil pemikiran sendiri karena ahli dalam bidangnya
    mantap gan.. saya penggemar agan salam kenal and salam sukses

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s