rencana kompetisi ke luar negeri


Di tengah banyak beredarnya berita miring tentang anak-anak muda Indonesia, mulai dari banyaknya pelaku pelecehan seksual (korban atau pelaku), yang terjadinya ternyata di banyak tempat (!?). Juga masih saja terjadi tawuran anak-anak sekolah. Sebagai orang tua tentu kita sangat mengkuatirkan hal itu. Bayangkan, bagaimana jika itu terjadi.

Kadang-kadang timbul pertanyaan, mengapa itu sering terdengar saat ini. Dulu ketika masih muda, rasa-rasa nggak pernah terdengar hal itu. Bisa juga, mungkin dulu juga ada, tetapi karena informasi tidak seterbuka sekarang maka baru sekarang diketahui. Tetapi bisa juga saat ini memang lebih banyak dari dahulu, maklum informasi yang mudah didapat tersebut dapat juga menginspirasi orang lain (yang memang punya kecenderungan negatif) untuk melampiaskan aksinya. Mana yang benar, rasanya perlu penelitian yang serius.

Tetapi saya menyakini sekali bahwa mudahnya informasi negatif yang beredar sangat berpengaruh memicu kecenderungan negatif mereka. Maklum, namanya saja anak-anak muda, mereka sedang mencari jati diri mereka, kepribadiannya sedang dalam tahap pematangan. Oleh karena itu adanya kejadian-kejadian yang beritanya bersimpang-siur tersebut tentu masuk dalam pemikirannya. JIka itu ditambah dengan rasa keingin-tahuan yang tinggi, termasuk kurangnya kemampuan pengendalian napsu (maklum anak-anak muda khan sedang berapi-apinya) maka semua berita atau informasi tadi dapat memicu untuk terjadinya lagi. Ini khan merupakan penyakit sosial.

Salah satu cara untuk mengatasinya, rasanya tidak sekedar diberi nasehat. Kalau itu rasa-rasanya tentu sudah dilakukan. Hanya saja, saya juga yakin banyaknya nasehat baik orang tua, kadangkala atau bahkan banyak tersaingi oleh content digital yang ada (yang negatif tentunya). Jadi sebaiknya jangan sekedar diberi nasehat, anak-anak muda tersebut sebaiknya diberi kegiatan yang positip.

Kegiatan anak muda yang seperti apa pak Wir, boleh diberi contoh ?

Wah ya memang sangat bervariasi. Pertama tentu perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak-anak mudanya. Tentu yang paling mudah adalah bagi anak-anak muda yang bersekolah. Karena telah mempunyai kegiatan yang rutin, yaitu bersekolah atau kuliah, maka waktu senggangnya khan hanya setelah kepulangan dari sekolah atau kampusnya saja bukan. Bahkan bagi yang aktif, mereka sudah nggak perlu dikasih kegiatan khusus, mereka sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Tentu harapannya tidak ada pemikiran negatif yang menguasainya.

Tetapi meskipun sudah jadi mahasiswapun, dalam arti waktunya sudah habis untuk belajar dari Senin-Jumat, tetapi karena masih muda, maka enerjinya juga tidak kurang-kurang sehingga masih saja tertarik untuk adanya kegiatan yang lain. Bagi institusi pendidikan yang jeli tentu dapat memanfaatkan itu bagi kebaikan bersama, yaitu untuk meraih prestasi.

Nah kemarin ketika diundang sebagai pembicara di Universitas Brawijaya (UB), di Jurusan Teknik Sipil-nya, aku melihat hal itu.

Jika berita-berita negatif aku tahu dari berita TV atau internet, nah dengan mata kepala sendiri sekarang aku mendengar berita positip, langsung dari sumbernya. Jadi prestasi yang ingin mereka raih adalah tidak tanggung-tanggung, yaitu ingin berprestasi untuk mengikuti suatu kompetisi di luar negeri.

Wah masak, apa mahasiswanya sudah berani berkompetisi ?

Tentang kompetisi bagi mereka tentu saja aku tahu. Maklum menjadi juri nasional DIKTI untuk acara KJI atau KBGI selama beberapa tahun dapat menjadi saksi bahwa mahasiswa-mahasiswa jurusan teknik sipil UB telah menoreh banyak prestasi, khususnya di acara tersebut. Jadi dengan bekal berprestasi di ajang nasional itu maka mereka mencoba meningkatkan diri untuk mencari pengalaman di ajang international.

Usaha yang mereka lakukan untuk itu adalah tidak tanggung-tanggung. Sebagaimana yang dapat dilakukan oleh para akademisi, maka langkah pertama adalah menyamakan persepsi atau pemikiran tentang hal itu. Untuk itu dibuatlah suatu workshop berjudul “Peningkatan Daya Saing Dalam Kompetisi International Teknik Sipil”.

Jadi workshop di atas menjadi semacam seminar motivasi agar anak-anak muda (mahasiswa di jurusan teknik sipil UB) tertarik dan mantap untuk mengikuti seleksi dan persiapan kompetisi internasional. Adapun event yang jadi targetnya adalah IDEERS (Introducing and Demonstrating Earthquake Engineering Research in Schools) yang selalu diadakan setiap tahun di Taipei, Taiwan. 

kompetisi-IDEERS

Target kompetisi teknik sipil internasional di Taiwan (IDEERS) yang dituju.

Ide itu berkembang karena ternyata beberapa dosen di UB adalah lulusan dari Taiwan, salah satunya adalah pak Martin yang mempresentasikan detail kompetisi itu pada workshop kemarin.

Nah ini menariknya, idenya tentu yang pernah melihat langsung acara kompetisi tersebut, dan yang bagusnya ternyata disambut hangat oleh institusi. Itu berarti pembiayaan menjadi pemikiran bersama. Adanya dukungan institusi (administrasi dan biaya), adanya dosen pembimbing yang telah mengenal event internasional yang dimaksud (kompeten untuk membimbing), dan banyak mahasiswa yang tertarik, yang terlihat di ruang seminar ( yang akan menjalankan kegiatan) maka rasa-rasanya persyaratannya yang sudah lengkap semua agar misi international tersebut berjalan. Jika itu terjadi, bisa-bisa UB menjadi pioner pertama yang melakukannya, dan tentunya akan memicu perguruan tinggi bereputasi yang lain untuk tidak mau kalah dengan Jurusan Teknik Sipil Univesitas Brawijaya. Itu khan berarti kegiatan kompetisi secara tidak langsung akan mulai dipikirkan untuk terjadi di Indonesia. Yakin deh teman-teman pendidik di UI, ITB, ITS, UGM dan yang lain yang merasa sudah menyandang nama besar akan tidak mau kalah dengan UB. Akan berusaha juga.😀

Bagi UPH bagaimana pak ?

Yah belum tahu, maklum mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil UPH saat ini kecenderungannya agak pasif dalam mengikuti event-event nasional yang ada. Maklum saat ini diterapkan semester akselerasi, waktunya sangat mepet. Itu kemarin untuk acara workshop saja , aku harus meninggalkan kelas Bahasa Pemrograman. Moga-moga situasi dapat berubah.

 

Lalu apa pendapat bapak dengan rencana mahasiswa UB tersebut.

Pertama-tama tentu saja saya senang dapat dilibatkan dalam acara pembekalan mahasiswa UB. Untuk itu tentu aku perlu mengucapkan banyak terima kasih kepada Dekan Fakultas Teknik (yang saat ini juga rektor UB) yaitu Prof. Muhammad Bisri, juga Ketua PHK-B2, yaitu Prof. Sri Murni Dewi, yang mengundang saya sebagai pemateri pada acara tersebut. Itu semua tentu bisa berlangsung karena adanya usulan (rekomendari) dari teman sejawat saya Bapak Sugeng P. Budio, yang merupakan rekan sesama juri nasional di KJI dan sekaligus Ketua Jurusan Teknik Sipil. Tidak lupa juga bapak Indradi, bapak Hendi dan bapak Ari Wibowo, yang telah menyambut dengan sangat baik di acara tersebut.

Ke dua, saya sempat menitip-pesa kepada bapak Martin, yang kelihatannya akan menjadi pembimbing mahasiswa untuk acara kompetisi international di Taiwan tersebut. Bahwa kegiatan ini perlu didokumentasikan dengan baik. Kenapa, karena ini dapat menjadi pemicu bagi terjadinya kompetisi serupa bagi perguruan tinggi di Indonesia. Bayangkan saja, jika ada pernyataan : wah mahasiswa UB saja punya keinginan untuk berpartisipasi pada pentas international, lalu bagaiman dong perguruan tinggi lain yang mengaku diri papan atas.

By the way, proficiat untuk Jurusan Teknik Sipil, FT-UB, di Malang, atas usahanya membuat kegiatan mahasiswa yang positip.

Ini kenang-kenangan dari UB kepada penulis atas sharing motivasi pada acara workshop hari Sabtu, 10 Mei 2014 kemarin. Semoga rencana kegiatan mahasiswa untuk kompetisi ke luar negeri tersebut dapat berjalan dengan baik. Tuhan memberkati.

sertifikat-pembicara

Sertifikat sebagai pembicara di JTS FT Universitas Brawijaya, Malang

Ini ada kiriman foto sebagai dokumentasi hasil kunjunganku di UB tersebut. Untuk itu diucapkan terima kasi pada bapak Indradi yang berkenan mengambil foto. Itu pula yang menyebabkan beliau tidak terlihat, padahal beliau yang bekerja keras mempersiapkan.

Penulis bersama bapak Sugeng P. Budio selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Penulis bersama bapak Sugeng P. Budio selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, yang juga sekaligus Ketua Proyek Renovasi Jembatan Betek sebagai bentuk partisipasi langsung bagaimana perguruan tinggi berbagi bagi kesejahteraan rakyat. 

Ramah  tamah bersama pada acara makan malam bersama rekan-rekan sejawat di Jurusan Teknik Sipil UB.

Ramah tamah bersama pada acara makan malam di salah satu restoran terkenal di kota Malang bersama rekan-rekan sejawat dari Jurusan Teknik Sipil FT-UB.

gambar-3

Bapak Hendi selaku moderator sedang memberi komentar setelah penulis selesai membawakan materi.

Berfoto bersama dengan pejabat teras di lingkungan Jurusan Teknik Sipil FT-UB, yaitu dari kiri ke kanan : Bapak Ari Wibowo (Ketua Program Studi S3 Teknik Sipil), Ibu Lina  (Sekretaris Jurusan Teknik Sipil), bapak Sugeng P. Budio (Ketua Jurusan Teknik Sipil), penulis dan yang duduk Prof Sri Murni Dewi (pengajar senior sekaligus ketua Laboratorium Struktur dan Bahan di JTS FT-UB).

Berfoto bersama dengan pejabat teras di lingkungan Jurusan Teknik Sipil FT-UB, yaitu dari kiri ke kanan : Bapak Ari Wibowo (Ketua Program Studi S3 Teknik Sipil), Ibu Lina (Sekretaris Jurusan Teknik Sipil), bapak Sugeng P. Budio (Ketua Jurusan Teknik Sipil), penulis (pakai batik berkacamata) dan yang duduk adalah Prof Sri Murni Dewi, pengajar senior sekaligus ketua Laboratorium Struktur dan Bahan di JTS FT-UB.

6 thoughts on “rencana kompetisi ke luar negeri

  1. Bagaimana dengan kualitas lulusan UPH??, Apabila diadakan semester akselerasi maka umumnya lulusan yang ada cuma memiliki IPK yang tinggi tetapi dari segi keilmuan dan pemahaman teknik sipil sangat kurang, sehingga pada saat di dunia kerja mereka umumnya akan lambat untuk berkompetesi dengan yang lain..

    Regards
    Akoe

    Suka

    • Suatu pertanyaan yang menarik. Bagi yang mampu (pintar) maka kondisi tersebut tentu akan menguntungkan karena memungkinkan untuk lulus lebih cepat. Tapi bagi yang kurang, nah itu bisa jadi masalah.

      Sebagai dosen maka yang bisa saya lakukan adalah tidak mengurangi tingkat kompetensi yang telah ditetapkan. Konsekuensinya maka yang kekurangan tadi dapat berisiko tidak lulus. Maklum sebagai dosen tetap, tahu bahwa evaluasi sesungguhnya adalah ketika mereka nanti lulus. Jadi ketika lulus dan ternyata tidak kompeten dibidangnya maka mereka tentu akan complaint. Maklum, mereka (mahasiswa UPH) umumnya adalah anak-anak dari keluarga menengah, mereka (orang tua mahasiswa) mau membayar mahal tentu tidak sekedar ingin anaknya jadi sarjana. Tetapi memang bisa berkiprah di bidang yang ditekuninya.

      Suka

  2. Trimakasih P. Wir sudah memberikan presentasinya di TS FT-UB
    sayang waktu masih terasa kurang…terlalu singkat,hanya 1 jam saja..
    kami berharap semoga bapak bisa kembali berbagi ilmu dilain waktu

    Mahasiswa TS UB

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s