insinyur belajar seperti arsitek


Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Percaya atau tidak, tetapi itulah sebenarnya yang akan terjadi. Oleh karena saya mengamini hal tersebut, tentunya akan senang terhadap anak-anak muda yang mulai memikirkan atau tepatnya membayangkan apa jadinya dia nanti. Kalau sesuatu itu sudah mulai dapat dibayangkan, dan kemudian dipikirkan secara serius bagaimana caranya, maka itu akan menjadi magnet untuk pikiran-pikiran lain yang mendukung. Akibatnya apa yang dahulu hanya dapat dibayangkan saja maka lama-lama mulai menjadi nyata. Maklum, biasanya jika pikiran-pikiran tersebut dapat diungkapkan maka akibat akan banyaknya petunjuk yang berdatangan.

Salah satu pikiran yang diungkapkan adalah seperti komentar sdr Andi sbb:

Andi <on 2014/01/20 at 20:41>
Pak Wir, saya mau bertanya. Bisakah seorang insinyur sipil mendesain sendiri tampak luar sebuah bangunan – atau yang biasa disebut segi arsitektural – tanpa bantuan arsitek, selain tentunya mendesain dan menghitung komponen-komponen strukturalnya? Saya mahasiswa teknik sipil yang sebentar lagi lulus (semoga). Saya senang belajar struktur Pak, dan saya menyadari bahwa ilmu struktur adalah dasar dari berbagai ilmu/subjek yang dipelajari di bidang teknik sipil. Namun saya juga senang dengan keindahan/estetika suatu bangunan. Jika saya kelak menjadi insinyur sipil, saya ingin mendesain sendiri bentuk luar bangunan sekaligus mendesain sistem strukturnya. Apakah bisa seperti itu, Pak Wir? Terima kasih atas jawaban dan penjelasan Bapak.

Pertanyaan menarik dan relatif mudah menjawabnya. Bagaimana tidak, seorang awampun (bukan lulusan arsitektur) selama bisa menilai keindahan atau estetika suatu bangunan maka minimal tentunya bisa membangun bangunan yang indah tanpa bantuan arsitek. Membangun di sini tentunya bukan mengaduk bata sendiri, tetapi menyuruh tukang tentunya. Teknik tradisional yang digunakan untuk mewujudkan itu adalah “trial-and-error” dan keberanian untuk “meniru“. 

Untuk mendapatkan gambaran bagaimana hal itu dilakukan, maka marilah kita perhatikan bagaimana masyarakat awam membangun rumah tinggal impiannya. Tentu saja yang saya contohkan di sini adalah yang punya kemampuan finansial sehingga punya kesempatan memilih. Pertama-tama tentunya dia akan memilih bentuk rumah yang dikagumi atau mendapatkan kesan baik sebelumnya. Kagum dan kesan baik itu biasanya ditentukan oleh unsur keindahan atau estetika. Memang sih itu juga tergantung selera orang dan bersifat subyektif

Jadi kalau membangun (mendesain) rumah yang indah untuk diri sendiri maka tentunya akan lebih mudah, tetapi kalau mendesain rumah yang indah untuk orang lain maka tentu kemampuannya menilai keindahan perlu diuji, apakah cukup universal atau tidak. Kemampuan seperti itulah yang pertama-tama harus diasah jika anda ingin masuk dalam kancah profesional.

Jika sudah punya kemampuan untuk menilai keindahan dan estetika suatu bangunan secara universal, maka langkah selanjutnya adalah melengkapi dengan bank data berbagai data bangunan indah yang sudah ada, atau yang dibangun orang. Mencocokan antara suatu bangunan dan karakter orang yang memakainya. Tahapan ini tentu akan lebih mudah jika anda terjun terlebih dahulu menjadi kontraktor bangunan. Toh anda khan lulusan teknik sipil, memang sih pada tahap ini anda belum bekerja sebagai arsitek. Tapi jika hal ini dapat anda lakukan, maka minimal anda dapat melihat bagaimana anda mewujudkan gambar arsitek, dapat merasakan bagaimana suatu data gambar menjadi bangunan sesungguhnya. Maklum, untuk merasakan bagaimana bedanya rumah dengan tinggi plafon 2.5 m dan tinggi plafon 4 m maka cara paling gampang adalah merasakan langsung. Ini di dunia teknik sipil tidak diajarkan, tetapi arsitek telah dikenalkan.

Jadi dengan teknik meniru ditambah faktor pengalaman (jam terbang) maka ibarat bisa karena biasa, anda lama-lama juga akan mempunyai kemampuan mendesain bangunan yang indah tanpa bantuan arsitek.  Meskipun tentu saja bangunan-bangunan yang didesain tersebut meniru yang sudah ada. Kalaupun yang belum ada, maka sifatnya trial-and-error. Bisa berhasil dan bisa saja gagal. Nah, orang belajar arsitektur agar sifat trial and error tidak perlu dilakukan. Itu saja bedanya.

Jadi intinya, apa yang anda harapkan di pertanyaan saudara, bahwa alumni teknik sipil bisa saja membangun tanpa peran serta arsitek, adalah bisa. Apalagi jika selama proses tersebut anda juga belajar ilmu arsitek itu sendiri. Ini banyak dilakukan oleh engineer alumni dari perguruan tinggi di Eropa, atau juga Jepang. Coba pelajari riwayat hidup Santiago Calatrava, seorang yang latar belakang pendidikannya structural engineer tetapi lebih dikenal karena karya-karya arsitekturnya. Semoga bisa menjawab pertanyaannya. 

 

 

18 thoughts on “insinyur belajar seperti arsitek

  1. Kalau sebaliknya gimana ya, insinyur arsitek sekalian membuat design struktur misalnya untuk rumah 2 (dua) lantai atau ruko 4 (empat) lantai

    Suka

    • Bisa juga. Strategi “meniru saja yang sudah sukses” dan “trial-and-error” adalah sangat efektif. Itulah yang umum dilakukan para pemula, saya dulu juga memakai cara tersebut. Itulah perlunya proses “magang” bagi para lulusan baru untuk bekerja profesional di bidang rekayasa. Jadi melakukan hal itu dibawah bimbingan yang senior, sehingga terhindar dari risiko hasil “trial-and-error” yang buruk.

      Suka

      • @Amarul:
        kalau kamu memang ngotot dan mau memperjuangkan cita-citamu tak kenal lelah, maka langkah awal adalah dapat belajar atau tepatnya magang pada arsitek yang terkenal.

        Ini tentu tak mudah, karena arsitek terkenal biasanya juga akan mencari orang yang telah belajar di bidang arsitek, agar paham dengan perintah-perintah yang diberikan. Tetapi jika kamu ternyata bisa, mungkin saja arsitek terkenal itu bapak kamu atau saudara kamu yang mau mengorbankan waktunya untuk kamu “repoti”. Maka langkah ke dua yang harus kamu tempuh adalah carilah kepercayaan kepadanya. Untuk itu tentu kamu harus dapat mengerjakan sesuai harapan yang diminta. Nah jika kamu bisa mewakili apa yang akan dikerjakan arsitek terkenal itu maka tentu cita-citamu sudah mulai tercapai.

        Jika alternatif di atas tidak kamu dapatkan, maka jika kamu masih ngotot untuk jadi arsitek maka langkah lain adalah pelajari detail atau tepatnya desain-desain para arsitek yang sudah ada. Buku-buku tentang arsitek banyak bertebaran. Terus lihat dan kalau perlu kunjungi bangunan yang ada di buku arsitek tersebut. Untuk itu langkah yang paling baik adalah mempraktekkannya dengan membangun rumah sendiri. Bikinlah rumah yang mengikuti desain atau aturan arsitektur dan buktikan bahwa hasilnya tidak kalah baik.

        Jika langkah pertama tidak kamu capai, juga langkah ke dua juga tidak, dan kamu masih tetap ngotot untuk jadi arsitek, itu berarti kamu tidak “membumi” atau bisa juga disebut tong kosong berbunyi nyaring. Kemauan harus disertai usaha dan tiap-tiap usaha pasti ada konsekuensinya. Usaha yang prosentasinya cukup besar untuk berhasil jadi arsitek adalah mendapatkan pendidikan formal di bidang tersebut. Otodidak bisa secara teoritis, tetapi prosentasi hasilnya relatif kecil, kalau tidak dikatakan sangat jarang.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s