KJI 9 di UB – Malang


Kreatif dan penuh inovasi, jargon yang seringkali diharapkan ada pada anak-anak muda lulusan perguruan tinggi. Harapannya, jika nanti setelah mendapatkan pekerjaan, tentunya dapat berlanjut terus kepada pengembangan diri dan karirnya, untuk akhirnya bisa “memberi sesuatu” bagi masyarakat dan bangsa.

Suatu harapan yang kelihatannya mudah dikatakan, tetapi gampang-gampang susah jika dijalankan. Indikasi mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi saja tidak menjamin yang bersangkutan akan kreatif dan penuh inovasi. Umumnya IPK tinggi hanya menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut patuh dalam mengerjakan tugas, rajin menyimak, mempelajari dan menguasai materi dari dosennya, sehingga ketika diberi soal ujian dapat dikerjakannya dengan baik. Otomatis, IP-nya akan baik !

Dalam pengambilan mata kuliah, bisa saja isi kurikulumnya sama, tetapi ketika diajarkan oleh dosen yang berbeda, hasil yang diterima mahasiswanya bisa berbeda. Coba kenapa itu. Apalagi waktu tatap mukanya relatif terbatas (14 – 16 kali pertemuan). Itupun yang diberikan dosen umumnya hanya berfokus pada sisi pengetahuan (knowledge) akan prosedur penyelesaian saja.

Lho untuk sukses itu, pengetahuan saja tidak cukup ya pak.

Betul, mengacu petunjuk ASCE untuk menghasilkan engineer yang kompeten, perlu tiga aspek yang perlu dikembangkan, yaitu [1] knowledge; [2] skill; dan [3] attitude. Itulah mengapa IPK tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang di masa depan. Apalagi jika ternyata, IPK yang tinggi tersebut diperoleh secara tidak jujur, seperti hasil mencontek, hasil memanipulasi tugas (copy-and-paste) atau hal-hal lain yang terkait dengan moral atau sikap yang buruk.

Itulah mengapa, mendidik seorang engineer yang baik, memerlukan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler (luar kelas) yang mendukung.

Ikut organisasi ya pak.

Ya, tetapi itu hanya salah satu. Jenis kegiatan itu umumnya dipilih karena relatif tidak perlu modal yang besar, hanya perlu minat dan jaringan (network) untuk mendapatkannya. Itulah yang banyak dilakukan mahasiswa di Indonesia. Jadi jangan heran, jika banyak sarjana yang bergelar S.T (sarjana teknik) tetapi karirnya bukan di bidang rekayasa tetapi bidang non-rekayasa, bahkan banyak yang ternyata telah beralih menjadi politikus. Maklum, kompetensi organisasinya lebih kuat dibanding kompetensi di bidang rekayasa. Apalagi faktanya bahwa menjadi politikus itu bisa membuat kaya luar biasa dibanding engineer, tanpa perlu kerja keras yang sepadan. Iya khan.😦

Agar kompetensi mahasiswa di bidang rekayasa berkembang, dan dapat kreatif serta penuh inovasi, maka tentunya kegiatan ekstra kurikuler juga harus terkait dengan bidang rekayasa, bidang yang dipelajarinya. Itu logis karena hal itu akan membuat jam terbang di bidangnya akan semakin meningkat, selain itu pada kegiatan tersebut secara tidak langsung dapat dimasukkan unsur lain, selain unsur pengetahuan, yaitu skill dan attitude.

Kegiatan ekstra-kurikuler mahasiswa teknik sipil yang populer dan terbesar saat ini adalah lomba kompetisi perakitan model untuk jembatan dan gedung, atau dikenal sebagai KJI (Kompetisi Jembatan Indonesia) dan KBGI (Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia). Bayangkan, tidak terasa sampai saat ini penyelenggaraan kegiatan KJI telah menginjak tahun yang ke-sembilan. Meskipun awal mulanya kegiatan ini adalah hasil inisiatif teman-teman di Politeknik Negeri Jakarta yang didukung oleh Dikti, tetapi dalam perkembangannya KJI dan KBGI menjadi kegiatan resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, melalui Direktorat DP2M-nya Ditjen Dikti. Jadi kegiatan ini bersifat nasional dan terbuka untuk diikuti semua universitas atau institut atau sekolah tinggi yang mempunyai bidang pengajaran rekayasa teknik sipil.

Pada tanggal 28 November – 1 Desember 2013 kemarin KJI ke-9 dan KBGI ke-5 baru saja sukses diselenggarakan di Universitas Brawijaya (UB), Malang. Pada event kali ini selain sukses penyelenggaraannya, maka sukses juga cara mendokumentasikannya, dimana teman-teman UB sampai menyediakan situs khusus yang merekam secara tertulis detail kegiatan yang berlangsung. Jika belum tahu, silahkan kunjungi http://kji-kbgi2013.ub.ac.id/.

Pada acara kompetisi tersebut, saya mendapat kehormatan diundang berpartipasi sebagai salah satu Juri KJI. Tentang kepastian undangan sebenarnya telah diketahui secara lesan sebelumnya, yaitu ketika bertemu di acara Konteks-7 di UNS dengan bapak Sugeng P. Budio, Ketua Jurusan Teknik Sipil UB, selaku tuan rumah KJI-KBGI 2013 di Malang. Bagi seorang dosen, mendapat undangan untuk berpartisipasi aktif terkait kegiatan mahasiswa yang bersifat nasional seperti ini, tentu saja membuat hati merasa senang sekaligus bangga. Senang karena partisipasi yang dimaksud adalah termasuk dalam salah satu tridharma perguruan tinggi, yaitu kegiatan pengabdian pada masyarakat sekaligus dapat beranjang sana ke perguruan tinggi lain (menambah wawasan). Adapun kebanggaan yang dirasakan adalah adanya pengakuan.

Hari pertama kedatangan adalah hari Kamis, 28 November 2013, tiba dari Jakarta dengan pesawat Sriwijaya Air yang mendara di bandara Abdul Rahman Saleh, Malang. Terus terang, baru pertama kali ini naik pesawat ke kota Malang, ternyata ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Malang. Saya pikir harus ke Surabaya dulu jika naik pesawat dan ke Malang-nya pakai perjalanan darat, ternyata tidak demikian adanya. Sampai di Malang, LO mahasiswa UB yaitu dik Irawan sudah siap menjemput dan mengantarkan saya ke hotel UB di dalam kompleks kampusnya. Ternyata kampus UB cukup megah dan padat juga oleh bangunan-bangunan tinggi. Maklum baru pertama ini mengunjungi kampus UB yang ternyata tidak kalah dari kampus ITS di Surabaya, tempat penyelenggara KJI-KBGI ke-8 setahun sebelumnya. Bahkan kelihatannya UB lebih besar.

Setelah beristirahat, sore harinya diundang ke Gazebo Fakultas Kedokteran UB untuk melihat acara penyambutan peserta atau welcoming party KJI-KBGI. Ramai sekali karena diisi oleh banyak tari-tarian oleh mahasiswanya. Jadi kelihatannya, acara ini juga dijadikan unjuk kerja dari banyak kegiatan ekstra kurikuler seni mahasiswa-mahasiswanya. Ya tentu saja, kita yang diundang menghadiri acara tersebut senang, maklum banyak hiburan.

_Gbr_1

Gambar 1. Band membuka acara secara informal dan santai, sambil menunggu para peserta berdatangan.

_Gbr_2

Gambar 2. Acara selain diisi oleh band juga banyak diisi oleh tari-tarian tradisionil yang dilakukan oleh mahasiswa/i UB untuk memeriahkan suasana. Ini merupakan bentuk kegiatan ekstra-kurikuler mahasiswa di bidang seni dan budaya. Sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri bagi mahasiswa (meningkatkan kemampuan soft-skill).

_Gbr_3

Gambar 3. Prof Dr. Ir. Yogi Sugito, Rektor UB, tampil di panggung menyanyi memeriahkan acara. Ini juga suatu strategi jitu dalam memperkenalkan diri yang patut ditiru. Maklum kemampuan seperti ini jelas tidak dapat diperoleh secara mendadak, dan karena dibawakan secara percaya diri maka tentu merupakan hasil latihan-latihan beliau sebelumnya. Terus terang, tanpa beliau berdiri di depan panggung seperti ini, maka tentunya aku tidak akan mengenal beliau yang merupakan orang no.1 di UB.

Pada hari ke dua bertempat di lantai 8 Gedung Rektorat UB, yaitu Jumat tanggal 28 November 2013, diadakan acara technical meeting. Itu diperlukan untuk menyamakan pendapat atau interprestasi terkait “buku panduan lomba” yang merupakan acuan lomba model jembatan atau gedung yang akan diujikan besok.

Acara Jumat pagi ini sangat penting karena “buku panduan lomba” yang dimaksud, juga nantinya akan menjadi acuan utama bagi penentuan penilaian oleh para juri ketika memilih juara. Jadi “buku panduan lomba” adalah semacam spesifikasi teknis yang harus diikuti oleh para calon engineer tersebut. Jika ada perbedaan pendapat pada saat lomba maka yang dirujuk pertama adalah buku panduan lomba tersebut. Jika sesuatu telah disebut pada buku panduan lomba, maka harus diikuti, terlepas dari salah atau benar sesuatu itu. Kecuali tentu saja jika ada hal-hal baru hasil technical meeting. Itulah mengapa pentingnya acara Jumat pagi tersebut, yang telah selesai sebelum waktu ibadah Jumat. Setelah selesai, dilanjutkan dengan pengambilan nomer urut presentasi, nomer urut penimbangan dan nomer lokasi pertandingan.

Gambar 4. Ketua Juri  Heru Purnomo (UI) didampingi anggota juri dari tuan rumah (UB), bapak Sugeng P. Budio dan bapak Ari Wibowo, memimpin technical meeting.

Gambar 4. Ketua Dewan Juri KJI, Dr. Ir. Heru Purnomo (UI) duduk di tengah, didampingi oleh anggota juri dari tuan rumah (UB), yaitu bapak Ir. Sugeng P. Budio MS. (duduk kiri) dan bapak Ir. Ari Wibowo, MT., Ph.D., (duduk kanan) untuk memimpin technical meeting.

_Gbr_5

Gambar 5. Setiap detail pernyataan pada “buku panduan lomba” dicoba dibahas agar terjadi penyamaan persepsi antara peserta dan panitia sehingga diharapkan tidak ada diskrepensi atau kesalah-pahaman yang tidak perlu selama perlombaan.

Gambar 6. Para anggota juri dan peserta menyimak paparan technical meeting.

Gambar 6. Para anggota juri dan peserta lomba KJI terlihat sedang menyimak dengan seksama paparan materi pada technical meeting.

Gambar 7. Peserta dari Bandung, Itenas, tampak bapak Herbudiman dan mahasiswi-mahasiswi bimbingannya.

Gambar 7. Peserta menyimak dengan serius, tampak bapak Bernardinus Herbudiman, dosen pembimbing dari team Itenas, Bandung dan mahasiswi-mahasiswi bimbingannya.

Gambar 8. Peserta technical meeting

Gambar 8. Peserta mengikuti acara technical meeting secara serius.

Gambar 9. Menyimak dengan tenang.

Gambar 9. Menyimak dengan tenang dan tetap serius.

Gambar 10. Ibu Amalia, anggota juri dari Politeknik Negeri Jakarta ketika menjelaskan detail-detail kolom penilaian.

Gambar 10. Ibu Amalia, anggota juri dari Politeknik Negeri Jakarta ketika sedang menjelaskan detail-detail kolom penilaian oleh juri nantinya.

Technical meeting diakhiri dengan menampung pertanyaan-pertanyaan dari para peserta terhadap klasul-klasul pada buku pedoman yang dianggap masih membingungkan atau bila dijumpai suatu pernyataan yang bertentangan (tidak konsisten) dalam isinya. Ketidak-konsistenan dalam pernyataan pada buku panduan adalah jelas suatu kesalahan, dan itu ternyata masih saja dijumpai. Nah technical meeting itulah solusi penyelesaiannya.

Gambar 11. Peserta dari Institut Teknologi Bandung (team jembatan kayu) sedang mengajukan pertanyaan.

Gambar 11. Peserta dari Institut Teknologi Bandung (team jembatan kayu) sedang mengajukan pertanyaan.

Gambar 12.

Gambar 12. Tidak mau kalah juga tampil untuk bertanya.

Gambar 13. Peserta lain yang bertanya di belakang. Maklum pakai kamera otomatis maka fokusnya adalah yang paling depan yang terlihat.

Gambar 13. Peserta lain yang bertanya di belakang. Foto tidak fokus karena memakai kamera otomatis dimana arah fokus adalah objek yang terdepan, perhatikan.

Setelah selesai ibadah Jumat dan juga makan siang bagi para juri, maka acara berikutnya pada hari Jumat itu adalah presentasi bagi para peserta, tempatnya adalah di lantai 2 gedung Widyaloka. Para mahasiswa peserta diminta mempresentasikan isi proposal yang telah mengantarkannya masuk finalis pada lomba ini.

Bagi juri, ini juga kesempatan untuk melakukan bechmarking bagaimana kualitas dari mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan dengan jurusan teknik sipil di Indonesia. Wawasan yang diperoleh dari melihat kompetisi mahasiswa-mahasiswa ini tentu modal yang bagus, bagaimana dapat mengajar lebih baik bagi mahasiswa-mahasiswanya sendiri nanti. Jadi secara langsung, dapat mengikuti kegiatan mahasiswa yang bersifat nasional ini juga menambah wawasan tentang bagaimana kualitas pengajaran di jurusan teknik sipil di Indonesia ini juga.

Gambar 14. Para juri di presentasi jembatan kayu bersiap mendengarkan paparan para peserta.

Gambar 14. Para juri pada sesi presentasi jembatan kayu yang bersiap mendengarkan paparan peserta, dari kiri ke kanan : Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto (Universitas Pelita Harapan); Prof Dr. Ir. Sri Murni Dewi (Universitas Brawijaya), Dr. Ir. Heru Purnomo (Universitas Indonesia); Ketut Aswatama, ST., MT. (Universitas Negeri Jember); Ir. Nandang Syamsudin (Puslitbang Jalan dan Jembatan); Ir. Sumargo, Ph.D. (Politeknik Negeri Bandung).

Gambar 15. Peserta dari PNJ

Gambar 15. Team Niskala, peserta dari Politeknik Negeri Jakarta

_Gbr_16a

Gambar 16. Team Citra S-54 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya

_Gbr_17

Gambar 17. Team Sasambo, peserta dari Universitas Mataram

Gambar 18. Peserta dari Polban

Gambar 18. Team Reswara Dewa, peserta dari Politeknik Negeri Bandung

Gambaran 20.

Gambaran 20. Dengan memakai gambar 3D, peserta memaparkan rencana metode konstruksi jembatan. Strategi yang dipilih adalah sangat penting, menyangkut kesuksesan lomba sekaligus menentukan besar kecilnya biaya yang harus disediakan. Ini berlaku pada kategori jembatan kayu dan baja. Perhatikan, pada saat lomba, peserta tidak boleh keluar dari area hijau, apalagi menginjak area biru yang dalam hal ini dianggap sebagai sungai yang dalam. Memindahkan segmen jembatan sehingga dapat menyebrang area biru adalah simulasi konstruksi jembatan pada lomba ini.

Gambar 20.

Gambar 20. Team CreMona dari Universitas Negeri Malang

Gambar 21. Inovasi jembatan model dengan batang kayu berongga

Gambar 21. Inovasi jembatan model dengan batang kayu berongga

_Gbr_22

Gambar 22. Mencoba meyakinkan juri bahwa konfigurasi jembatan dengan batang berongganya adalah yang terbaik, yaitu dengan cara membandingkan dengan tipe jembatan yang lain. Strategi seperti ini tentu perlu diapresiasi karena merupakan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan. Maklum, banyak yang menyatakan bahwa pilihan jembatannya adalah yang terbaik tanpa ada data pembanding, hanya sekedar pidato tanpa bukti. Strategi sederhana ini pula yang dipakai oleh banyak engineer untuk menghasilkan karya-karya yang spectacular.

Gambar 23. Ini namanya studi parametrik  yaitu untuk menunjukkan bahwa idenya adalah yang terbaik dibanding yang lain (yang diselidiki).

Gambar 23. Ini namanya studi parametrik yaitu untuk menunjukkan bahwa idenya adalah yang terbaik dibanding yang lain, semakin banyak yang dibandingkan maka akan diperoleh hasil yang lebih baik.

Gambar 24. Sampel batang kayu berongga yang digunakan pada jembatan sedang diamati oleh para juri.

Gambar 24. Sampel batang kayu berongga yang digunakan pada jembatan sedang diamati oleh Prof Sri Murni Dewi selaku juri.

_Gbr_25

Gambar 25. Penampang kayu berongga, salah satu kreatifitas dan inovasi yang diajukan para peserta. Syukurlah pesertanya dapat menjawab dengan latar belakang ilmiah, mengapa kayu berongga dapat unggul dibanding kayu solid, yaitu untuk batang tekan karena dengan volume kayu yang sama maka faktor tekuk relatif kecil (tidak menentukan), untuk batang tarik tentunya tidak mempengaruhi, bahwa strategi penyambungannya perlu diperhatikan.

Gambar 26.

Gambar 26. Item 1 tentang batang hollow untuk jembatan cukup relevan untuk ditampilkan, adapun item 2 tentang pembangkit listrik, menurut saya tidak relevan bahkan mengganggu ide utamanya. Terus terang saya belum melihat ada jembatan yang diperlengkapi dengan pembangkit enerji secara khusus. Kreatif sih boleh saja, tetapi kalau berlebihan bahkan bisa mengganggu. Nggak tahu, apakah juri lain memperhatikan hal ini.

_Gbr_27

Gambar 27. Persiapan awal, perhatikan bahwa perakitan lengkap segmen jembatan diberikan pada sisi kiri yang dilakukan oleh tiga anggota peserta dan satu lagi di sisi kanan sebagai finalisasinya.

_Gbr_28

Gambar 28. Ketika segmen ditambahkan, maka jembatan digeser (launching) ke kanan.

_Gbr_29

Gambar 29. Ini yang dimaksud sebagai launching sistem kantilever.

_Gbr_30

Gambar 30. Pada kondisi ini maka stabilitas antara berat launcher dan jembatan adalah sangat penting. Jika tidak diperhatikan, misalnya pemberat tidak mencukupi, maka jembatan bisa terguling. Hati-hati !

_Gbr_31

Gambar 31. Untuk mencegah terguling maka pada sisi kanan juga disiapkan pengait yang membantu jembatan untuk tidak terguling. Di sinilah peran satu anggota peserta yang berada di sisi kanan “sungai”.

_Gbr_32

Gambar 32. Posisi jika jembatan telah sukses di-launching. Jika kondisi ini tercapai maka dianggap perakitan selesai.

Gambar-gambar di atas adalah salah satu dari banyak paparan yang dianggap menarik dan dapat dijadikan referensi mengenai bagaimana mempresentasikan jembatan model pada KJI ini .

Adapun peserta presentasi berikutnya adalah.

Gambar 33. Peserta dari ITB di bawah bimbingan Prof. Iswandi Imran.

Gambar 33. Team Kuya Danta Kunjara, peserta dari ITB, sdr Heru Setiadi memulai paparan tentang jembatan kayu yang direncanakannya.

_Gbr_34

Gambar 34. Peserta ITB menyimak temannya yang sedang membawakan presentasi, Sekar Mawar O, Dinan Mutiara dan Rheza Rahadian.

_Gbr_35

Gambar 35. Sdri Dinan Mutiara sedang memaparkan filosofi perencanaan yang digunakan dalam desain jembatan kayu. Tahap ini yang mungkin membedakan antara kerja seorang tukang dan seorang engineer. Jadi jika seorang engineer tidak bisa membawakan sesi seperti ini maka berarti . . .

_Gbr_36

Gambar 36. Sdr Rheza dan Sekar sedang memaparkan metode konstruksi yang akan dilakukan. Cukup pelik sehingga perlu dipaparkan secara berdua.

Di dalam mendengarkan paparan dari team ITB, ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu code design yang digunakan. Jika team-team jembatan kayu yang lain umumnya mengacu pada PKKI 1961 atau SNI Kayu 2002 maka yang digunakan oleh team ITB ini adalah NDS 2005, yang merupakan code design kayu terkenal dari Amerika.

Tentang NDS 2005 sendiri tentu tidak perlu diragukan kemantapannya sebagai code design untuk kayu, khususnya di Amerika. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa code design itu yang dipilih oleh team ITB. Ini tentu menarik sekali, maklum SNI Kayu 2002 adalah SNI kayu terbaru yang notabene disiapkan oleh pakar-pakar kayu dari ITB. Jadi menarik juga faktanya bahwa SNI kayu yang saat ini banyak dirujuk oleh teman-teman dari luar ITB ternyata di internal ITB sendiri tidak digunakan.🙂

Ketika hal itu saya tanyakan kepada team, ternyata alasannya adalah bahwa mempelajari NDS 2005 bagi mereka (team) ternyata lebih mudah dikerjakan daripada design code yang lain. Nah lho, bagaimana itu.

Fakta yang dijumpai seperti ini tentu menarik khususnya karena aku adalah dosen mata kuliah kayu di UPH, dimana materi yang kuajarkan masih mengacu pada PKKI 1961, yang relatif sederhana dan mudah dipahami daripada SNI kayu yang terbaru. Buktinya, adik-adik mahasiswa di ITB-pun tidak memakainya.😀

Wah kalau PKKI 1961 khan sudah out-of-date pak, nggak benar itu. Agar mudah dipelajari (dikuasai) dan tidak ketinggalan jaman maka tentunya lebih baik mengikuti seperti yang digunakan oleh adik-adik team ITB itu ya pak, yaitu NDS 2005. Benar khan pak Wir.

Begitu ya. Suatu argumentasi yang menarik.  Saya yakin argumentasi seperti inilah yang biasa diutarakan oleh teman-teman dalam mensikapi perubahan global yang begitu cepat. Pada satu sisi, informasi begitu cepat datang, meskipun fakta lapangan belum tentu mendukung, tetapi karena merasa ego, nggak mau kalah, maka teman-teman yang merasa sudah menguasai materi baru yang datang, cepat-cepat mensosialisasikan ke masyarakat. Dianggapnya itu sebagai respon engineer yang benar dalam menghadapi kemajuan jaman.

Lho apa yang salah pak. Khan memang harus begitu.

Benar. Tetapi kita tidak bisa melihat hanya dari satu sisi saja. Peraturan kayu lama, yaitu PKKI 1961 adalah jelas produk yang sudah kuno. Di dunia ini, di luar negeri khususnya di Eropa dan Amerika sudah beredar peraturan baru yang lebih up-to-date untuk dipelajari tentang kayu. Tetapi itu tidak berarti kita langsung bisa latah mengadopsinya. Lihat dulu, apakah kayu sebagai bahan material konstruksi di Indonesia juga telah berkembang sedemikian maju sehingga mendukung penggunaan design code yang modern. Ini yang perlu dipikirkan.

Jadi ketika melihat presentasi adik-adik mahasiswa dari ITB, dapat diketahui bahwa safety factor (SF) yang digunakan untuk kayu adalah 1.5, dianggap sama seperti bahan material konstruksi lainnya, seperti baja. Apakah hal ini berani digunakan untuk bahan material kayu yang ada. Sebagai gambaran, praktikum kayu di UPH dengan bahan kayu dari toko-toko material di sekitar Tangerang menunjukkan bahwa mutunya sebagian besar tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai kayu mutu A atau B sesuai persyaratan PKKI 61, juga kandungan airnya tidak memenuhi syarat, umumnya lebih besar. Itu menunjukkan bahwa kualitas kayu yang dijumpai di pasaran, khususnya di daerah Tangerang dan sekitarnya, lebih buruk dibanding kualitas kayu sesuai syarat PKKI 61. Jadi dalam menggunakan design code jangan sembarangan, harus melihat situasi dan kondisi.

Selanjutnya yang presentasi adalah team dari UI.

Gambar 37. Team Bhumi Naara Bayu dari Universitas Indonesia

Gambar 37. Team Bhumi Naara Bayu dari Universitas Indonesia, yang terdiri dari Muhammad Iqbal P. , Nopat Arian, Kristy Mikaelse dan Tahthowi Faroqi.

Adapun yang terakhir adalah team tuan rumah yaitu team Edelweisss dari Universitas Brawijaya.

Gambar 38. Team Edelweiss dari Universitas Brawijaya, yang terdiri dari Ribut Hermawan, Vicky Ramadhani, Reza Iqbal Ghifari dan Mamluatur Hasanah

Gambar 38. Team Edelweiss dari Universitas Brawijaya, yang terdiri dari Mamluatur Hasanah, Vicky Ramadhani, Reza Iqbal Ghifari dan Ribut Hermawan

Mungkin karena menjadi tuan rumah, maka team Edelweiss dari UB terlihat sangat bersemangat sekali ketika presentasi. Semua team berpartisipasi aktif dalam presentasi bahkan kesannya sudah terarah mengikuti skenario yang telah disiapkan. Bila content yang ditampilkan lebih mendetail maka tentunya presentasi yang diberikan akan lebih berbobot.

Keesokan harinya, yaitu Sabtu tanggal 30 November 2013 bertempat di Gedung Samantha Krida, acara dimulai dengan dibuka secara resmi, baik dalam bentuk defile para peserta maupun sambutan formal dari pihak DIKTI dan UB.

Gambar 39. Situasi panggung sesaat sebelum pembukaan resmi dimulai

Gambar 39. Situasi panggung di Gedung Samantha Krida sesaat sebelum pembukaan resmi dimulai

Gambar 40. Penari topeng yang bertugas menjemput para peserta defile

Gambar 40. Penari topeng yang bertugas menjemput para peserta defile

Gambar 41. Peserta lomba berdefile masuk menuju podium

Gambar 41. Peserta lomba berdefile masuk menuju podium

Gambar 42. Koor mahasiswa menyambut kedatangan para peserta yang berdefile ke panggung.

Gambar 42. Koor mahasiswa menyambut kedatangan para peserta yang berdefile ke panggung.

_Gbr_43

Gambar 43. Barisan para peserta lomba KJI dan KBGI 2013 di atas panggung.

Gambar 44.  Laporan ketua umum panitia KJI/KBGI 2013 yaitu Prof. Dr. Ir. M. Bisri, MS yang juga Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Gambar 44. Laporan kesiapan lomba oleh ketua umum panitia pelaksana KJI/KBGI 2013 yaitu Prof. Dr. Ir. M. Bisri, MS yang juga Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Gambar 45. Prof Yogi, Rektor UB membuka secara resmi acara perlombaan.

Gambar 45. Prof Dr. Ir. Yogi Sugito, Rektor Universitas Brawijaya selaku tuan rumah memberikan sambutan sekaligus harapan agar perlombaan KJI/KBGI berjalan lancar. 

Gambar 46. Direktur DP2M Dikti, Prof Agus Subekti, MSc., Ph.D. memberikan sambutan sekaligus pembukaan resmi perlombaan

Gambar 46. Direktur DP2M Dikti, Prof Agus Subekti, MSc., Ph.D. mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi perlombaan dengan memukul gong (tidak terlihat).

Gambar 47 Piala-piala yang diperebutkan

Gambar 47. Piala yang diperebutkan untuk kategori Jembatan Baja

Gambar 48.

Gambar 48. Piala yang diperebutkan untuk kategori Jembatan Kayu dan juga Jembatan Model Bentang Panjang

_Gbr_49

Gambar 49. Perakitan peralatan untuk launching jembatan (strategi metode konstruksi) dilakukan sebelum perlombaan dimulai. Perhatikan segmen-segmen jembatan model yang berserakan disekitarnya. Jumlah segmen minimal harus dipenuhi untuk setiap kategori, ramainya lomba pada dasarnya adalah bagaiman secepatnya merangkai segmen-segmen tersebut untuk akhirnya bisa menyebrang sungai (ditandai dengan karpet merah). Nanti dalam pelaksanaannya, peserta tidak boleh menyentuh karpet merah maupun karpet biru, hanya di daerah karpet bewarna hitam. 

_Gbr_50

Gambar 51.

Gambar 51.

Gambar 52.

Gambar 52.

Gambar 53.

Gambar 53.

Gambar 54

Gambar 54

Gambar 55.

Gambar 55.

Gambar 56. Team Balaputra Dewa dari Polban mulai beraksi

Gambar 56. Team Balaputra Dewa dari Polban mulai beraksi

_Gbr_57

Gambar 58.

Gambar 58.

<< wah masih banyak data yang dapat diunggah, tetapi karena sudah banyak web-site yang ditulis tentang KJI-KBGI 2013, aku up-load dulu threat yang belum selesai ini ya. Moga-moga sisanya dapat dilanjut >>

Ini aku up-load dulu foto-foto yang kudapat.

Bersama team jembatan kayu dari Politeknik Negeri Bandung, dimana aku menjadi Juri tetapnya.

Bersama team jembatan baja “Balaputra Dewa” dari Politeknik Negeri Bandung, dengan dosen pembimbing ibu Fisca Igustiany, SST., MT. (baju putih lengan panjang di tengah) dengan anggota : Abdullah Zaky, Gina Maulidawati, Reiza Ginanjar, Taufik Faris Ismail dengan diapit oleh dua wasit mahasiswa UB adapun aku menjadi Juri tetapnya.

team-dari-UI

Team jembatan kayu Bhumi Naara Bayu dari UI dengan dosen pembimbing bapak Dr.-Ing. Josia Irwan Rastandi, ST., MT. dan anggota Kristy Mikaelse, Muhammad Iqbal P., Nopat Arian,  Tanthowi Faroqi.

Bersama pak Ari, Juri yang berlatar belakang praktisi perencana jembatan

Bersama pak Ari, juri dengan latar belakang praktisi perencana jembatan

8 thoughts on “KJI 9 di UB – Malang

  1. Salam pak wir
    Pak mau nanya terkait acuan yang digunakan team ITB. Disitu SF yang digunakan 1.5 dianggap sama seperti material beton atau baja. Melihat kalimat selanjutnya yang dipaparkan sepertinya bapak tidak setuju ya pak ? Seharusnya menurut bapak seperti apa ?

    Untuk metoda desain, mereka menggunakan ASD atau LRFD ya pak?
    Terima kasih pak.

    Suka

    • Sdr HS,

      Anda cukup peka dengan pesan yang saya selipkan pada artikel di atas. Terima kasih, meskipun mungkin saja kepekaan tersebut juga disebabkan karena anda tidak terima dengan komentar yang saya berikan.😀

      Begini ya pak HS, yang namanya pemilihan metoda atau strategi perencanaan, apakah mengacu pada suatu code yang terbaru atau masih memakai code yang lama tentu perlu dipertimbangkan secara matang. Jangan sekedar karena uraian dari suatu code yang lebih mudah dipahami, dan kemudian bahkan setiap pernyataan atau konstanta yang disajikan, lalu dapat ditelan mentah-mentah.

      Catatan : itu saya kutip dari jawaban team ketika saya tanyakan, alasan yang mendasari pemakaian NDS 2005 sebagai petunjuk perencanaan pada laporan yang mereka sajikan.

      Kepada team ITB pada waktu itu saya hanya mengingatkan tentang dua hal yang penting, yang mungkin saja akan berpengaruh pada pemahaman kita semua, bagaimana suatu code atau peraturan perlu kita pahami.

      Pertama. Ini tentang peraturan kayu kita yang terbaru, SNI 2000 (atau 2002) yang kalau tidak salah juga mengacu pada NDS di Amerika. Memang tidak ada tulisan yang menyebut, siapa penyusunnya, tetapi karena di halaman depannya tertulis “Bandung, November 2000” maka wajar saja kalau saya beranggapan mahasiswa atau dosen kayu di Bandung akan memakainya. Dan karena di sebutkan kota Bandung pula, maka dugaan saya waktu penyusunannya juga pasti akan melibatkan teman-teman pakar kayu dari ITB (maklum gudangnya pakar khan, jadi kalau sampai tidak dilibatkan, khan kebangetan). Bahkan waktu saya tanya ke mereka (team) : “Lho bukankah SNI Kayu yang terbaru itu yang membuat adalah dosen-dosen ITB, senior anda. Mengapa anda tidak memakainya. Maklum teman-teman di luar ITB, bahkan banyak yang menggunakannya sebagai rujukan. Lucu juga khan.

      Kedua. Ini merupakan alasan yang lebih penting menurut saya. Pemakaian NDS 2005 dengan bahan material dari Amerika maka jelas tidak salah. Adapun pemakaian NDS dengan bahan material dari lokal, dalam negeri. Nah ini yang patut dipertanyakan. Maklum, kualitas kayu antara pasaran dalam negeri dan di Amerika jelas tidak sama. Jadi jika pakai kayu produk pasar Amerika, maka pemakaian S.F = 1.5 tentu tidak masalah. Tetapi jika memakai S.F yang sama untuk produk kayu Indonesia, jelas tidak cukup.

      Sebagai contoh, saya mengacu pada PKKI 1961, di sana disebutkan bahwa kukuh tekan mutlak kayu kelas I adalah >> 650 kg/cm^2. Adapun tegangan tekan yang diijinkan kayu kelas kuat I untuk perencanaan adalah 130 kg/cm^2. Itu berarti S.F-nya adalah 5. Bayangkan lima (5), yang berarti 3 kali lipatnya.

      Pada tahap ini mungkin anda dapat saja tertawa, mengapa saya mengacu PKKI 1961, itu khan kesannya sudah out-of-date. Memang kalau melihat angka tahunnya, yang berarti sudah lebih dari 53 tahun, maka memang terkesan kuno. Harapannya dengan usia seperti itu maka kondisi kayu di Indonesia akan lebih baik. Padahal, apakah seperti itu kejadiannya, lebih baikkah.

      Sebagai seorang ilmuwan maka tentu perlu data untuk menjawabnya. Kebetulan sudah dua tahun ini, mata kuliah struktur kayu di UPH, saya yang pegang. Sehingga ada kesempatan bagi saya untuk meminta mahasiswa melakukan praktikum uji material kayu (mengacu pada ASTM). Material kayu dibeli dari penjual kayu di sekitar Jabodetabek. Apa yang terjadi, dari puluhan kelompok mahasiswa yang menguji, saya mendapatkan data bahwa kondisi kayu yang dijual di sekitar Jabodetabek atau sekitar kampus UPH ternyata mempunyai kualitas yang tidak lebih baik dari yang ditetapkan PKKI. Hampir semua kayu tidak memenuhi syarat mutu A dan B dari PKKI, juga kadar airnya hampir semua > 15%. Padahal PKKI menyebutkan kadar air itulah jenis kayu di Indonesia.

      Dengan cara pikir seperti itulah maka saya meragukan jika angka S.F = 1.5 digunakan untuk perencanaan kayu di Indonesia. Pasti tidak akan cukup. Itulah latar belakang mengapa pertanyaan tentang S.F kepada adik-adik dari team ITB diajukan. Semoga berguna.

      Suka

  2. Ping balik: kenangan 2013 dan harapan 2014 | The works of Wiryanto Dewobroto

  3. Reblogged this on Caraka and commented:
    Lama sekali tidak membaca blog punya pak Wir ini… Sekarang kalau baca ini rasanay gimana gitu… Dah jauh dari dunia teknik sipil, tapi soal KJI dan KBGI, cukup membawa cerita lama muncul ke permukaan… #sok asik

    Suka

  4. selamat malam pak wir, saya sandra restu aditya dari UNIVERSITAS NEGERI MALANG,
    saya adalah satu penggemar dari buku bapak.

    saya mau tanya pak, terkait KJI-KBGI 2014.
    kapan dan dimana pelaksanaannya pak?

    mohon infonya pak.
    terima kasih

    Suka

    • Dari informasi yang saya tangkap dari para pelaksana KJI-KBGI 2013 yang lalu, yaitu JTS-UB, Malang. Saya mendapat informasi bahwa tahun ini perguruan tinggi yang ditunjuk adalah salah satu perguruan tinggi swasta di kota Malang juga. Hanya memang informasi resmi memang belum ada, bahkan teman-teman penyelenggara lamapun juga bertanya-tanya. Itu saja yang saya tahu dik.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s