Industri baja nasional dan dunia serta dampaknya


Catatan : ini opiniku mengapa konstruksi baja di Indonesia relatif lebih mahal dibanding beton bertulang. Silahkan direnungkan dengan baik, kebenarannya tentu saja tergantung data yang digunakan, yaitu yang aku ambil dari data Worldsteel Association. Jika ditunjang data yang lebih valid dari dalam negeri, tentu akan lebih mendekati kebenaran. Apa yang aku tulis ini memang keluar dari bidang keahlianku, tetapi saya kira bermodal nalar dan logika sederhana anda pasti mampu untuk mengikutinya. Moga-moga.

Tingginya peradaban bangsa (negara) pada jaman dahulu dapat diketahui dari bangunan fisik yang ditinggalkan. Lihat saja bangsa Mesir (juga bangsa Inca) dengan piramida, bangsa Cina dengan tembok besarnya, adapun Indonesia dengan candi-candi besarnya, candi Prambanan dan Borobudur. Itu tadi adalah jaman dahulu, dalam era kemajuan seperti sekarang ini dimana komunikasi dan transportasi telah menjadikan batas samudra tidak lagi menjadi halangan, maka keberadaan suatu bangunan yang istimewa dapat ditemui dimana saja, tidak tergantung dari kemampuan rekayasa bangsa itu sendiri. Bahkan jika keadaan itu digabung dengan adanya kebijakan politik mercu-suar suatu negara, maka jelas saja pemilihan bangunan fisik sebagai indikator tingginya peradaban bangsa sebagaimana di jaman dahulu, tentunya bisa menyesatkan. Jadi sekarang ini perlu indikator lain sebagai petunjuk tingginya peradaban atau kemajuan bangsa.

Jika tinggi suatu peradaban atau kemajuan bangsa dapat dikaitkan dengan kemajuan ekonomi negara, maka konsumsi baja dapat di-pakai sebagai indikator (Warell-Olsson 2009; Walters 2012). Hal ini cukup logis mengingat material baja diperlukan pada berbagai sektor industri sebagai bahan bakunya (lihat Gambar 2.1).
prosentasi-pemakaian-baja-small
Gambar 2.1 Sektor industri yang mengandalkan baja (Basson 2012)

Sektor-sektor industri di atas (Gambar 2.1) hanya berkembang di suatu negara jika sektor industri pemasok kebutuhan primernya (sandang pangan) telah tercukupi. Berbeda tentunya jika dipakai indikator minyak dan gas, yang lebih mengarahkan pada tingginya kebutuhan energi dari suatu negara. Maklum tingginya kebutuhan energi suatu negara bisa juga diakibatkan oleh infrastrukturnya yang tidak siap atau tidak efisien, misal infrastruktur transportasi yang kurang sehingga dengan kondisi jalan yang ada selalu timbul kemacetan sehingga enerji minyak banyak yang terbuang sia-sia.

Jadi negara yang banyak memakai baja bisa dianggap tergolong maju perekonomiannya, sehingga kemungkinan besar juga maju dari segi peradaban dan budayanya. Oleh karena permintaan baja dianggap sebagai indikator kemajuan perekonomian, ada baiknya melihat rekaman data yang dihasilkan Wordsteel Association.

pertumbuhan-baja-dunia_smallGambar 2. 2 Permintaan dunia akan baja (juta-ton) –  (Basson 2012b)

Adanya peningkatan pesat permintaan baja di dunia menunjukkan kondisi pertumbuhan ekonomi negara-negara yang maju industri bajanya. Jadi bukan petunjuk tentang kondisi perekonomian dunia pada umumnya. Negara yang berpotensi kuat di industri bajanya, seperti India bahkan cukup berani mengangkat pejabat setingkat menteri untuk mengelola industri-industri bajanya secara khusus. Adapun tugasnya adalah : (http://steel.gov.in)

  • Koordinasi dan perencanaan pertumbuhan dan pengembang-an industri besi dan baja di India;
  • Perumusan kebijakan dalam hal produksi, harga, distribusi, impor dan ekspor besi & baja dan produk yang terkait,
  • Pengembangan industri hulu terkait penyediaan bijih besi, bijih mangan, bijih krom dan sebagainya, yang dibutuhkan terutama oleh industri baja.

Negara-negara di dunia yang diketahui mempunyai industri baja, telah didata oleh Wordsteel Association sebagai berikut :

Tabel 2.1 Peringkat negara produsen baja (juta-ton) – (Basson 2012b)

tabel-negara-baja_smallIndia dengan menteri khususnya ada di peringkat atas (4), adapun Indonesia ternyata berada di peringkat bawah, yaitu 37 dari 50.

Melihat peringkat negara-negara produsen baja (Tabel 2.2) tentu akan menarik pula jika mengetahui kepemilikan atau nama pabrik yang memproduksinya. Maklum, material baja untuk perencanaan sangat tergantung ketersediaan di pasaran, adapun mutunya kadang dapat dengan mudah ditengarai dari pabrik pembuatnya.

Tabel 2.2 Grup kepemilikan pabrik baja dan produksinya (juta-ton) – (Basson 2012b)

pabrik-baja-dunia_smallArcelorMittal (www.arcelormittal.com) adalah group perusahaan bidang baja dan pertambangan, berkantor pusat di Luxembourg, merupakan produsen baja terbesar dunia (2013). Bahkan saat ini Bethlehem Steel Corporation, perusahaan baja terkenal Amerika dan telah berdiri sejak tahun 1857, telah diakuisisi dan menjadi milik ArcelorMittal sejak 2006. Adapun produsen terbesar ke-2: Hebei Group, dan ke-3: Baosteel Group, serta ke-5: Wuhan Group adalah perusahaan Cina, sedangkan produsen baja terbesar ke-4: POSCO adalah Korea Selatan.

Produsen baja ke-6 terbesar dunia adalah Nippon Steel, Jepang, yang banyak melakukan kerja sama dengan PT. Krakatau Steel & Group di Indonesia. Mungkin itu ada kaitannya dengan banyaknya investasi Jepang di Indonesia pada medio tahun 90-an. Akibatnya banyak diproduksi profil baja hot-rolled mengacu standar Jepang atau JIS (Japanese Industrial Standards), dan sampai sekarang juga masih menjadi jenis profil baja yang umum dijual di Indonesia.

Sampai saat ini (2013), para praktisi baja di Indonesia khususnya yang bergerak di bidang konstruksi bangunan dan jembatan, puas dengan hasil produksi dari PT. Krakatau Steel & Group. Meskipun demikian, jika dibandingkan produksi baja dunia, terlihat sekali bahwa peran Indonesia selaku produsen baja, relatif masih kecil. Bahkan terlihat tidak signifikan dalam kancah internasional, yaitu hanya sekitar 0.23% produk dunia, bahkan Malaysia yang luasnya 329,847 km2, atau hanya 17.3% luas Indonesia (1,904,569 km2), ternyata produksi baja mereka 154% lebih banyak (berdasarkan data pada Tabel 2.1).

Membandingkan produktifitas industri baja dalam negeri dengan negara tetangga Malaysia, khususnya dalam rangka melayani luas wilayahnya, dapat dipastikan kemampuannya memenuhi hukum permintaan (demand) dan penawaran (supply) adalah tidak sama.  Malaysia tentu lebih unggul, produksi bajanya saja dibanding luas wilayahnya adalah 18 ton/km2, bandingkan dengan kemampuan dalam negeri Indonesia yang hanya 2 ton/km2 luas wilayahnya. Kondisi seperti tentu menyebabkan jika ada permintaan baja yang sama besar pada kedua negara tersebut, maka industri dalam negeri (Indonesia) dipastikan tidak sanggup, dan akhirnya kebijakan imporlah jalan keluarnya. Hal itulah yang mungkin jadi penyebab, mengapa memakai konstruksi baja Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan jika  memakai konstruksi beton bertulang biasa.

15 thoughts on “Industri baja nasional dan dunia serta dampaknya

  1. Selamat pagi P. Wir

    Wah datanya bagus banget, kok dapet aja sih.
    Sekedar nambah sedikit boleh kan Pak.

    Masalah JIS memang benar pak, tapi tahu nggak kalau orang Jepang sendiri ( secara personal / pribadi) banyak yang nggak percaya terhadap produksi Indonesia ( Note : KS , GG dan CS)

    Beberapa kejadian yang merupakan pengalaman pribadi :

    1. Waktu dulu (tahun 1990) sedang mengerjakan sebuah proyek yang berlokasi di seberang Pabrik Krakatau Steel Cilegon, pernah kekurangan Stock H-beam , kemudian saya usulkan kok tidak beli di KS saja. Lalu kata Pimpronya (Japanes) “Ohh jangan, buatan KS tidak bagus jelek. Kita kirim langsung pakai tongkang dari JEPANG” begitu katanya pak. Saya jadi sebel jadinya.😦
    2. Tahun 2002 pernah mengerjakan sebuah projek dari Grup perusahaan (Jepang) , pihak QC Jepang asli begitu ketatnya memeriksa material yang kami pakai ( produk Indonesia tentunya) . Wal hasil REJECT karena ketahuan dari NDT dan X-Ray (peralatan canggih mereka) bahwa material tersebut ada Degradasi ( bolong-bolong) pada bagian dalamnya / tidak solid dan tidak sempurna alias kropos.
    3. Batasan toleransi dimensi dan ketebalan material baja ternyata benar benar dipakai untuk mengurangi volume baja oleh Produsen Indonesia. Hal ini sering menyusahkan pihak Konsultan Perencana. Semisal di design menggunakan W200 ternyata di lapangan (setelah diukur) kurang ketebalannya.
    4. Secara umum pemakaian Komponen Baja di Indonesia baru 15-20 % dibandingkan komponen konstruksi beton.

    Menurut saya pribadi sangat minimnya pengunaaan komponen Baja tersebut karena akumulasi dari beberapa hal sbb:

    • Angka toleransi ukuran disikapi negatif oleh beberapa produsen Baja lokal
    • Perhitungan Kontrak Borongan Baja dengan Tonase (Tonnage) nampaknya sih bagus, tetapi sebenarnya tidak valid. Mengapa ?? karena berat volume dihitung berdasarkan output gambar Produksi (surat Delivery order) dan bukan ditimbang di jembatan Timbang. Maka konsumen dirugikan , betul kan pak.
    • Sangat minim Applicator konstruksi Baja yang benar-benar concern dengan proses finishing, sehingga tidak ada jaminan pasti akan ketahanan terhadap karat (musuh utama baja). Tidak semua konsumen tahu bagaimana prosedurnya.
    • Di lain sisi, konstruksi beton sangat mudah dipahami masyarakat awam bahkan sampai level tukang . Contohnya paham macam-macam adukan beton 1;2:3 atau 1:3:5 dll. Saya kenal seseorang aplikator Konstruksi beton (maaf hanya tamat SMA) dan dengan bermodalkan ilmu tsb sukses bisa membangun macam gedung dari ruko sampai gedung bertingkat.

    Tetapi kedepan kita bisa berharap Konstruksi Baja akan menjadi Tuan di Indonesia dan Asia pak. Saat ini sedang dibangun Pabrik besar oleh KS-POSCO pabrik besar bernilai Trilyuan Rupiah yang diharapkan bisa memasok kebutuhan Baja di Indonesia dan Asia tenggara ( Info seorang teman di sana) .

    Kami tunggu tulisan-tulisan bermutu dari Bapak selanjutnya

    Cheer

    Eddy waluyo

    Suka

  2. Yth pak Eddy,
    Materi di atas nantinya akan menjadi introduction di Bab 2 dari buku “struktur baja” yang sedang saya tulis. Bab 2 itu judulnya “Material Baja”. dari introduction yang disampaikan di atas maka saya mendapat pembenaran bahwa untuk membahas baja, tidak bisa hanya mengandalkan fakta dalam negeri saja, maklum baja kita ini di dunia adalah minoritas. Jadi agar buku tersebut “besar” maka harus memasukkan produk manca negara. Tapi untuk memasukkannya jelas tidak bisa asal masuk, harus diberikan motivasi mengapa itu diperlukan.

    Masukkan dari pak Eddy selaku konstruktor baja seperti di atas sekaligus dapat digunakan mengevaluasi kesahihan tulisan yang dibuat. Terus terang, sayapun mendapat masukkan dari teman-teman praktisi baja seperti yang pak Eddy ungkapkan. Tetapi jelas, hal-hal seperti itu tidak bisa dijadikan sumber tulisan bagi buku saya. Maklum, diperlukan data tertulis untuk digunakan sebagai bukti-bukti, jika tidak maka bisa-bisa nanti “ditabok”. Meskipun demikian , jangan kuatir, buku tersebut memang akan saya tulis dengan semangat agar kita nanti ke depannya bisa jadi tuan rumah mengenai baja di negeri sendiri.

    Moga-moga pancingan saya dapat mengajak pakar atau konstruktor baja yang lain mau ikut berbagi pikiran di blog ini. Jadi kedepannya, materi yang sedang saya tulis ini (tentang baja) benar-benar dapat berguna. Tuhan memberkati kita semua.

    Suka

  3. Kalau menurut saya penggunaan Baja akan berkembang seiring dengan trend bangunan. Seperti misalnya pembangunan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
    Arsitek sekarang senang dengan konstruksi Baja, karena Simple dan Elegan.
    Juga memiliki kelebihan, bentang yang lebar.

    Pembangunan infrastruktur seperti Jembatan, Bandara, Pelabuhan akan banyak menggunakan Baja.

    Bangunan Factory / Warehouse yang memerlukan bentuk simple dan bentang yang lebar akan sangat membutuhkan konstruksi baja.

    Sedangkan bangunan kantor / perumahan, rasanya penggunaan baja tidak akan menggantikan konstruksi Beton bertulang. Karena harganya yang relatif lebih mahal, juga keuntungan seperti: proses pembangunan yang cepat, bentang lebar, tidak mutlak diperlukan untuk fungsi perkantoran dan perumahan. Kecuali mungkin bagian atap untuk Estetika (lagi lagi tergantung selera Arsitek dan Pemilik).

    Suka

  4. Saya bermaksud mengomentari mas Eddy Waluyo dan turut berkomentar singkat.

    Kejadian yang anda alami tahun 1990-an terjadi lebih karena pihak Jepang ingin menggunakan produk mereka sendiri. Lumrah dan sering terjadi khususnya untuk proyek bantuan Jepang.

    Perihal penggunaan baja yang masih minim, terlepas dari pertimbangan teknis dan fungsional, bangunan dengan struktur baja masih lebih mahal sekitar 20-30 persen dibandingkan penggunaan beton. Tetapi, bisa saja suatu saat berubah saat persediaan aggregat menipis, hingga beton makin mahal. Saat itu pula industri baja nasional makin efisien, sehingga harga lebih bersaing.

    Suka

    • pak Catur dan pak Eddy
      Rambut sama-sama hitam, tetapi pikiran bisa berbeda-beda. Itulah yang terjadi bagaiman pak Catur dan pak Eddy bisa mensikapi sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda. Itu sah-sah saja.

      Hanya saja apa yang diungkapkan pak Eddy, yaitu [1] insinyur Jepang yang menangani proyek di Indonesia tidak mau pakai produk baja Indonesia, maunya produk negara mereka sendiri; [2] ada diketamukan produk lokal yang di-reject. Keduanya adalah fakta, tentu saja dengan asumsi itu pengalaman langsung dari pak Eddy. Masalahnya hanya apakah fakta ini mewakili mutu produk baja lokal. Ini mungkin yang bisa dipertanyakan, maklum jika ternyata fakta-fakta lain tidak mendukung seperti itu, maka berarti itu kasus saja.

      Selanjutnya, pernyataan yang disampaikan oleh pak Catur bahwa tidak maunya orang Jepang pakai produk lokal karena mau memakai produk sendiri, bisa benar tetapi bisa juga salah. Maklum, argumentasi yang disampaikan hanya setingkat hipotesis atau dugaan. Maklum karena yang menyatakan adalah dari pihak Indonesia yang tidak menemukan orang Jepang yang menyatakan tersebut. Bisa saja pak Catur menerima informasi tersebut dari teman Jepang yang lain, bila ada. Tetapi jika demikian maka tentu dipertanyakan apakah teman Jepangnya pak Catur dengan teman Jepangnya pak Eddy saling sepakat.

      Selanjutnya jika dianalisis lebih lanjut, maka cukup menarik juga ya tentang keyakinan orang Jepang itu bahwa memakai produknya sendiri (Jepang) adalah paling baik. Padahal untuk membayar biaya transportasi tongkang dari Jepang ke Indonesia pastilah nggak sedikit. Itu hanya terjadi jika harga baja di Jepang relatif murah atau keyakinan sangat kuat bahwa mutu baja Jepang memang lebih baik dari Indonesia, sehingga kerugian keluar duit lagi untuk transportasi adalah tidak seberapa.

      Tentang kemauan kuat untuk memakai produk sendiri, seperti si orang Jepang temannya pak Eddy, saya lihat juga sebagai ciri-ciri orang yang hidup di negara maju. Waktu dulu sempat ke Stuttgart (Jerman) juga melihat semua barang produk rumah-tangganya memakai merk dalam negeri. Ini khan berbeda 180 derajat dengan orang-orang kita, yang merasa wah jika bisa memakai produk luar negeri. Lihat saja ada pemimpin yang benar-benar ngotot pengakuan dan penghargaan dari luar negeri, dan sangat mengabaikan komentar yang datang dari dalam negeri. He, he, pemimpin kita itu memang benar-benar mewakili orang Indonesia banget.😀

      Suka

  5. Tambahan untuk p Wiryanto.

    Saya pikir, secara industri beton dan baja sangat berbeda. Beton adalah produk domestik, dalam arti harga tidak dipengaruhi faktor supply dan demand secara global. Sedangkan baja merupakan industri skala dunia. Harga ditentukan oleh pergerakan supply-demand global.

    Strategi pemerintah harus sangat tajam dan pro-kepentingan nasional, karena harus menghadapi berbagai hambatan perdagangan internasional. Lebih-lebih adanya fakta, bahwa kita adalah importir bijih besi atau baja mentah dalam berbagai bentuk. Krakatau Steel juga tidak pernah lepas dari masalah. Saya baca berita mingguan Tempo bahwa KS dipermasalahkan oleh POSCO (Korea), karena malah mendahulukan kerjasama dengan Nippon Steel (Jepang).

    Belum lagi ditengarai adanya kerugian KS akibat kekeliruan strategi pembelian bahan mentah, yaitu membeli bahan untuk stock saat harga tinggi. Dengan fakta ini, hmmm…kapan ya harga baja konstruksi akan lebih murah dari beton.

    Suka

    • Mas Tjatur,
      Terima kasih atas masukkannya, khususnya terhadap pernyataan bahwa “baja merupakan industri skala dunia“. Ini penting karena akan menjadi dasar pada pembahasan tentang Material Baja (Bab 2 di buku saya nanti). Itulah mengapa perlu diungkapkan juga produk-produk baja mancanegara, minimal profil-profil apa saja yang diproduksi dan juga mutu bahannya. Karena prinsipnya, suatu produk jika semakin kodian (banyak dijumpai) maka tentunya akan semakin murah dan juga kadang bisa semakin teruji.

      Tentang keputusan pemerintah tentang penundaan pabrik baja baru dengan alasan pro-kepentingan nasional, yaitu dengan pertimbangan beton adalah produk industri dalam negeri dan baja adalah produk industri skala dunia. Saya kira adalah blunder. Harusnya mereka tidak harus berpikiran sempit, yang seakan-akan melindungi “beton”. Tahu sendiri, konstruksi beton tanpa tulangan baja maka pastilah bukan apa-apa. Juga perlu diketahui bahwa baja dipakai dimana-mana (lihat Gambar 2.1 di atas). Maka penentuan apakah diperlukan investasi pabrik baru atau tidak, adalah suatu keputusan strategi yang akan berdampak luas.

      Tentang memperbandingkan apakah konstruksi baja atau konstruksi beton, saya kira buka masalah seperti perbandingan memilih Isuzu Panther atau Innova Diesel. Saya kira bukan seperti itu, maklum keduanya bisa saling mengisi. Untuk bangunan gedung bahkan tidak diperoleh suatu keuntungan signifikan kalau memakai baja, kecuali jika kecepatan pembangunan dijadikan tolok ukurnya.

      Tentang hal itu, rasanya saya sudah menulis panjang lebar. Ini judul makalahnya :

      Wiryanto Dewobroto. (2011).”Prospek dan Kendala pada Pemakaian Material Baja untuk Konstruksi Bangunan di Indonesia”. (download PDF 10.3 Mb).

      Intinya bahwa baja itu punya keunggulan yang mana konstruksi beton pasti angkat tangan soal hal tersebut. Salah satunya misalnya adalah keunggulan baja untuk digunakan pada konstruksi jembatan bentang panjang. Maklum itu terjadi karena rasio berat dan kekuatannya sangat unggul dibanding beton, juga karena kemampuannya terhadap gaya tarik. Jadi jangan heran, jika di Cina dibangun banyak jembatan besar, itu juga karena didukung oleh ketersediaan infrastruktur penyediaan bajanya. Jadi jangan heran, jika jembatan Suramadu itu mahal adalah juga karena materialnya tidaknya semuanya produk dalam negeri.

      Suka

  6. Dear Rekan rekan semua……
    wah rame, jadi semangat nihh

    Kalau boleh kita lihat ke belakang / sejarah. Hampir sebagian besar konstruksi megah peninggalan Londo adalah konstruksi baja, contohnya :

    • Hampir semua Fasilitas Perkereta apian buatan Belanda adalah Steel Strc. ( jembatan lintas Jakarta – Bandung; Karawang dll. ) dan masih bertahan lebih 100 tahun.
    • Ehhh teman teman tahu nggak bahwa Jenis Rel KA peninggalan Belanda tsb ternyata di design dengan tingkat keausan hanya 1 mm untuk masa 50 tahun ( Saya lupa komposisinya kimianya).
    • Untuk bangunan tinggi memang waktu itu kan belum diperlukan, jadi tentu tidak ada.

    Menilai untung rugi menggunakan konstruksi baja harus di teliti secara ilmiah dari berbagai sudut dan perhitungan. Berapa hal sepanjang pengetahuan saya sbb :

    Keuntungan :
    1. Baja pasti lebih DAKTAIL jadiii cocok di negara kita yang banyak gempa.
    2. Akumulasi konstruksi baja akan menyumbangkan beban Pondasi yang lebih kecil ketimbang konstruksi beton karena stress – weight rasio baja lebih besar dibanding beton.
    3. Proses Pelaksanaan lebih mudah dan pasti lebih cepat ( Shop drawing, Nesting plan, cutting , welding , assembling , delivery dan installasi) dan semuanya dilaksanakan simultan dengan pekerjaan lapangan lainnya ( lapangan dan fabrikasi bersamaan)
    4. Baja bisa di daur ulang ( Ramah lingkungan )
    5. BoQ / RAB konstruksi baja sangat simple dan mudah , menggunakan analisa BERAT ( Tonase) . Hampir semua softwere analisa baja akan mengeluarkan informasi berat ( SAP2000, STAAD-PRO, ETAB, TEKLA ( lebih rinci) , PROCON dll)
    6. Bila gagal struktur karena Elevated temperatur , Fire, gempa dll mudah untuk di perbaiki ; sekedar info bahwa Paska Gempa KOBE sangat banyak tercetak Doktor 2 baru yang meneliti masalah Baja di jepang. ( Lihat website ASCE….)
    7. Satu lagi Baja Homogen ( walau ada yang sedikit keropos keropos kalau dilihat dngan X-ray ) . Ingat salah satu kegagalan konstruksi beton adalah Tidak bisa terjaminnya tingkat homogenitas kontruksi yang diaplikasikan di lapangan ( makanya ada test 7 , 14 dan 28 hari)

    Kerugian : –
    1. Baja tidak tahan api , kusus untuk plat lantai yang menggunakan Metal deck harus waspada bila ada kebakaran
    2. Potensi di makan karat bila tidak dilakukan Surface preparation yang baik untuk Black Steel ( HRS). Juga Finished coat sangat penting ( Lihat website JOTUN , Kansai )
    3. Proses Perencanaan ( Hitungan Struktur) lebih rumit tetapi dengan telah di canangkan nya Metode DAM ( AISI 2005 dan AS 4600 2005) maka perhitungan nampaknya akan lebih mudah ( kira kira betul gak P. wir?)
    4. Butuh tenaga lapangan yang berpengalaman untuk metode erection, membaca gambar assembling dll).

    Nampaknya memang perlu penelitian lebih dalam untuk memperbandingkan ke duanya. Mengenai masalah Import, bukan hanya baja khan. Beras saja kita juga import dari Vietnam, Burma dll.

    Nampaknya sudah Habis info yang saya ketahui tentang Baja, mungkin ada yang mau menambahkan ??

    Cheer
    Eddy ( ewal1962@yahoo.co.id)

    Suka

  7. Kayaknya Ada yg lupa nih

    Material baja nampaknya tidak berhenti sebatas gejala tegangan putus ( ultimit) saja tetapi bahkan bisa jadi sampai kepada Sifat Viscoelastis , sementara material concrete kalau terlewati batas elastic nonlinear umumnya pasti fracture , terutama pada selimut betonnya terjadi retak.
    Oleh karena itu konstruksi beton sebenarnya sangat berbahaya untuk highrise building
    1. Residential housing di jepang menggunakan material struktur yg elastis untuk mengurangi bahaya gempa. ( kayu, .baja cfs dll’) , panel pintu jendela tidak menggunakan material padat, tetapi menggunakan sejenis kertas untuk jalur evakuasi.
    2. Di Australia sudah sangat banyak bangunan medium rise sd highrise yg menggunakan material baja terutama CFS , silakan lihat majalah konstruksi, majalah catalogs Bluscope steel , atau literature BHP.
    3. Saat ini dengan menggunakan perkuatan longitudinal multiple stiffener bisa diproduksi profil C plain atau C lip dengan ukuran 300 – 350 mm
    4. Sementara untuk material Black steel ( hot roll) bisa dibuat bermacam macam sesuai kebutuhan design dngan metode PEB ,( maaf promisi sedikit nih he he he )

    Cheer

    Eddy

    Suka

  8. Ping balik: resiko atau risiko yg bikin bingung | The works of Wiryanto Dewobroto

  9. Selamat pagi🙂
    masih tentang baja pak wir, bukan tentang industri nya sih hehe.. Saya mau tanya, mengapa saat ini banyak digunakan standar Jepang dalam perencanaan struktur baja gedung bertingkat tinggi, semisal Japanese Architectural Standard Specification, Steel Structure Work (JASS 6). Apakah standar Indonesia masih kurang memadai atau bagaimana ya pak?
    Hanya pertanyaan dari seorang mahasiswa😀.
    Terima kasih pak…

    Suka

    • Standar Indonesia belum memadai, untuk itu SNI Baja kita yang terbaru akan mengadopsi penuh code Amerika, yaitu AISC (2010).

      Nah untuk merespons hal itu, saya menulis buku berjudul “Struktur Baja – Perilaku, Analisis dan Desain – AISC (2010)”. Suatu buku tentang struktur baja berbahasa Indonesia yang merujuk secara lengkap pada code Amerika tersebut. Saya tulis di buku AISC karena SNI Baja terbaru kita belum resmi dipublikasikan.

      Suka

  10. Pak, menurut Bapak, adakah baja tahan karat ? Kalo search di google memang ada, tapi kalo di bina marga kok sudah dipatok, baja pasti korosi, jadi pasti milih jembatan beton, tapi itu semua subyektif sih, lalu bagaimana tanggapan Bapak tentang High Performance Steel yg baru2 ini beredar di Amerika. Terima kasih untuk sharingnya.

    Suka

    • Monggo, materi yang lebih lengkap nanti ada di Bab 2 buku saya yang baru, yaitu “Struktur Baja – Perilaku, Analisis dan Desain”. Moga-moga tahun depan sudah bisa mulai naik cetak. Saat ini yang sudah selesai sekitar 620 halaman.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s