etika


Membaca berita-berita politik dan semacamnya itu, mestinya sudah biasa-biasa saja. Maklum berita politik di negeri ini khan memang heboh dan aneh-aneh. Tetapi nggak tahu kenapa, membaca penggalan berita berikut koq rasanya ingin berkomentar.

Ini penggalan yang kumaksud :

Dahlan mengatakan kalau dia memiliki sepenuhnya mobil listrik ‘Ferrari’ Tucuxi dengan alasan yang jelas. Pasalnya segala kebutuhan mobil listrik itu datang dari Dahlan dan bukan dari pecipta Tucuxi, Danet Suryatama.

Kalau yang ini (Tucuxi -red) yang rancangan Pak Danet Suryatama ini sejak awal risetnya yang membiayai saya. Jadi mobil ini sudah menjadi milik saya.” ujar Dahlan di Solo, Sabtu (5/1/2013).

Dahlan menambahkan, selama ini Danet hanya sekedar merakit motor dan baterai mobil listrik tersebut.

Sementara Danet mengatakan kalau Dahlan tidak memiliki itikad baik dan mencoba mencontek teknologi yang sudah dia kembangkan dan patenkan.

Hal itu terjadi karena Danet sejak tanggal 20 Desember silam sudah tidak diperbolehkan lagi melihat mobilnya. Mobil pun sudah dibongkar sendiri oleh tim Dahlan Iskan.

Sumber Detik.com

Kenapa ya.

Terus terang tentang pak Dahlan dan pak Danet, aku tidak mengenalnya secara pribadi. Adapun pak Dahlan yang buku-bukunya bertebaran, dan juga yang adalah seorang menteri, yang selalu menghiasi berita. Ya jelas tahu. Tapi sebatas berita-berita media itu saja.

Berkaitan dengan kutipan berita di atas, maka posisi pak Dahlan dan pak Danet, aku ibaratkan sebagai “pemilik modal” dan “sang penemu“. Pak Dahlan sebagai yang punya modal (dan kekuasaan serta jaringan) dan pak Danet sebagai penemu atau pencipta (kalau menurut berita di atas). Aku sebut penemu karena diberita disebutkan juga bahwa pak Danet punya patent.

Setahu saya, etika di dunia bisnisnya, hubungan antara pemilik modal dan sang penemu adalah sejajar. Keduanya ada karena ingin bersinergi. Pemilik modal punya duit dan jaringan tetapi tidak punya ide atau cara mewujudkan ide tersebut, sedangkan sang penemu diharapkan atau dipercaya (minimal oleh yang punya modal) bahwa dianya punya ide atau cara untuk mewujudkannya.  Hubungan seperti itu saya kira biasa di dunia bisnis dan profesional.

Agar hubungan itu berjalan mulus dan sukses, diperlukan kepercayaan antar keduanya bahwa mereka saling membutuhkan. Mereka harus punya keyakinan bahwa karena sinergi keduanyalah maka cita-cita mereka akan terwujud. Tidak ada yang akan bilang, itu karena modalku, atau itu karena ideku. Harus saling menghormati kekuatannya masing-masing.

Kata kunci yang mengikat keduanya itu adalah saling percaya, saling menghormati dan punya keyakinan bahwa apa yang dikerjakannya itu adalah bagi kepentingan atau kebaikan mereka bersama. Selanjutnya bisa juga ditambahkan, yaitu bagi kepentingan bangsa (yang idealis tentunya).

Kalau aku memakai kata penemu, mungkin banyak yang tidak paham hubungan yang dimaksud. Hubungan antara ide dan modal. Untuk itu akan lebih baik jika aku beri contoh hubungan antara penulis (ide) dan penerbit (bisnis). Hubungan keduanya akan berlangsung mulus jika mengikuti kaidah-kaidah di atas, saling percaya, saling menghormati dan yakin bahwa sinergi keduanya adalah cara untuk bertumbuh.

Disebut saling percaya, karena jika penerbit bilang dicetak 2000 maka penulis tentu tidak akan menghitung sendiri sejumlah itu. Percaya saja, meskipun itu sangat terkait royalti (duit). Penerbit juga percaya bahwa apa yang ditulis oleh penulis pasti akan ada yang beli. Nggak ada kepercayaan, nggak akan ada sinergi.

Saling menghormati dalam arti, apa yang ditulis oleh penulis tidak bisa seenaknya sendiri diubah-ubah oleh penerbit. Bahkan hak cipta tulisan tetap ada di tangan penulis, bukan penerbit. Jadi nggak bisa seenaknya penerbit bilang, aku khan sudah ngasih duit kepada penulisnya, jadi tulisannya adalah milikku sepenuhnya. Oleh karena itu tidak bisa diubah seenak-enaknya sendiri, misalnya dengan menyuruh penulis lain untuk memodifikasi atau mengubah tulisan penulis (pencipta) yang pertama kali. Juga di sisi penulis (penemu) tentu akan menulis hal-hal yang akan membuat penerbitnya juga diuntungkan. Nggak mungkin dong menulis sesuatu yang akan membuat penerbitnya jadi menemukan masalah, dan semacamnya itu.

Yakin adanya sinergi yang saling menguntungkan. Saya yakin seorang penulis (penemu atau pencipta) mau bekerja sama dengan harapan bisa berkembang bersama.

Hubungan di atas, jelas berbeda sekali dibanding dengan hubungan pemilik modal dan tukang, yang hanya mengerjakan berdasarkan ketrampilan yang sudah diketahui dan dibuktikan sebelumnya. Jadi kalau kamu (pemilik modal) minta dibuatkan masakan bakmi ke tukang bakmi. Lalu ketika bakmi itu sudah dibeli, lalu bakmi itu dikasihkan anjing maka saya yakin tukang bakminya nggak peduli.

Nah, dengan cara pikir yang diungkapkan di atas, apakah wajar berita yang aku kutip di atas itu, bahwa itu adalah hubungan antara pemilik modal dan sang penemu (pencipta). Bisa-bisa itu hanya sekedar hubungan antara pemilik modal dan tukang. Jadi kalau sudah dapat barangnya, tukangnya nggak perlu dipikirkan atau dilibatkan lagi (maklum khan sudah dibayar). Lihat saja komentarnya : “. . . selama ini Danet hanya sekedar merakit motor dan baterai mobil listrik tersebut“.  Koq rasanya tidak ada kesan saling menghormati.

Jadi intinya, untuk bentuk kerja-sama seperti apapun agar dapat bersinergi, maka etika diperlukan, agar tidak ada pihak yang dikecewakan. Jika hubungan dua belah pihak saja (Dahlan – Danet) bisa begitu, pak Danet merasa kecewa. Lalu bagaimana dengan hubungan berbangsa (banyak pihak/ rakyat).

7 thoughts on “etika

  1. sepertinya harus dijelaskan kronologi keduanya ketika sama-sama “berbicara” masalah mobil listrik tersebut. kedudukan masing-masing pihak seperti apa, hak dan kewajiban seperti apa. kalau kita hanya tau kulit luarnya saja, tentu akan tidak berimbang……

    Suka

  2. Saya setuju dengan masdar.. bukan rahasia umum jika berita yg beredar di negara ini tidak selalu bisa dipertanggungjawab kan isi nya.

    Suka

    • berita yg beredar di negara ini tidak selalu bisa dipertanggungjawab kan isi nya

      Bisa juga dikatakan, bahwa yang besar karena berita, maka “kebesaran yang dimaksud”, tidak selalu bisa dipertanggung-jawabkan. Bukan begitu pak.

      Suka

  3. terlihat dengan jelas siapa pa Dahlan, ketika diwawancara kemarin di salah satu stasiun TV, seluruh jawabannya sangat tidak konsisten.. dari awal hingga akhir wawancara.. DI (demi indonesia) kenapa tidak UI (untuk indonesia) ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s