devaluasi IPK sarjana


Istilah “devaluasi” umumnya merujuk pada kondisi terjadinya penurunan nilai mata uang suatu negara terhadap nilai mata uang negara yang lain. Jadi devaluasi juga berarti degradasi. Dengan arti seperti itu maka judul di atas akan merujuk pada kondisi dimana IPK sarjana tidak bisa lagi dijadikan sebagai rujukan yang akurat untuk menilaimutu sarjana tersebut.

Lucu juga ya, ternyata yang mengalami devaluasi tidak hanya rupiah kita, tetapi produk sarjana kita khususnya sarjana teknik sipil.

Tentang pernyataaan di atas tentunya masih berupa pendapat pribadi, yang dihasilkan dari adanya pertanyaan teman-teman sejawat yang disampaikan kepadaku langsung maupun tidak langsung (seperti pada FB).  Bahkan kalau dipikir-pikir, itu kelihatannya bukan pertanyaan, tetapi suatu complaint kepadaku. Maklum aku khan menyatakan diri sebagai guru dari mereka tersebut. Jadi kalau produk lulusannya tidak bermutu, maka itu tentu dihasilkan dari mutu gurunya juga.

Oleh karena itu, jika ada pertanyaan seperti itu yang disampaikan kepadaku, maka buru-buru aku juga akan bertanya : “Anak UPH ya ?“.

Tentu saja itu basa-basi, karena kalau yang menyatakan itu langsung kepadaku, tentunya bukan anak-anak didikku. Selanjut perbincangan akan diakhir dengan permintaan seperti ini: “Kalau begitu ya pak Wir, nanti mohon disampaikan ya lowongan pekerjaan di tempat kami kepada murid-murid Bapak.“.

Kita kembali ke IPK lulusan.

Jaman saya dulu, yang namanya IPK > 3.00 adalah sesuatu yang istimewa. Maklum, nggak banyak yang punyai nilai seperti itu, akupun dulu nggak sampai seperti itu. Jadi kalau sekarang bisa lulus S3, itu adalah suatu anugrah. Tapi jaman berubah, sekarang kelihatannya berbeda. Sangat banyak dijumpai lulusan sarjana dengan IPK > 3.0, bahkan kalau kurang dari itu dikatakan tidak afdol. Memang sih, itu akan baik jika nilainya memang merujuk pada kondisi seperti yang aku alami dulu. Maklum, banyak teman-teman yang kecewa ketika dihadapannya adalah anak-anak dengan IPK tinggi-tinggi, tetapi ternyata oon.😦

Nggak percaya, coba deh kita amati perbincangan saya dengan teman, manajer di suatu perusahaan besar ketika akan merekrut calon pegawai barunya:

Manajer: “wah… ikut konsensus sni ya p..
p kemarin sy wawancara orang lebih parah lagi…
sy tanya peraturan beton, baja, beban yang dipakai di Indonesia apa saja, dia gak tahu…
simbol sendi, rol, jepit saja gak tahu….”

Guru: “lulusan sipilkah ?”

Manajer: “tapi lulusan dari univ di ja*ar*a IPK 3,04 ..”
iya… bahkan ketika ditanya : sendi rol, beban terpusat, momen max berapa ? eh dia nyebut angka . . . , padahal sy kan gak ngasih angka . . . .

E beton gak tau, E baja juga nggak tahu, katanya besaran E beton 3 x Inersia, … maksudnya apa, saya juga gak tahu…
wah parah p…, kayak bukan berhadapan sama orang sipil….
p sni yg di bp, yg lama2 kalo mo download, kok website eror p….
yg ACI terbaru, bgs juga…

Guru: itu yang Univ. ***** itu  ya.

Manajer: “iya pak . . .

Guru: “itu dosennya aja mungkin juga nggak tahu apa itu sendi dan rol. dia bayangkan harus persis rol dan semacamnya itu.

Manajer : “sekarang mungkin lulusan dipermudah p…., karena lihat di ecc u*m, lulusan2 yg daftar di ecc u*m …juga IPK-nya tinggi-tinggi…, tapi kalau ditest belum tentu

Guru : itu *n*g*r* semua ya.

Manajer: “ntar sy cek lagi pak. .
oo, yg saya cek yang nglamar di tempat saya pak, lewat ecc u*m… IPK-nya tinggi-tinggi dari berbagai universitas…, mungkin sekarang dipermudah agar persaingan lebih mudah ya pak ?
ok p… mau berangkat dulu.
gbu”

06:51

Artikel lain yang terkait :

58 thoughts on “devaluasi IPK sarjana

  1. betul … namun yang jadi pertanyaan pak Wir … siapakah penyebab devaluasi nilai IPK tersebut ? apakah dosen-dosen yang ketakutan ? ataukah institusi ketakutan kehabisan mahasiswa ?

    … karena sejak saya mengajar … sepertinya saya belum pernah ketemu mahasiswa yang memiliki semangat juang untuk belajar, …

    mohon tanggapannya pak wir

    Suka

    • Nggak mudah menjawabnya pak. Ini mungkin imbas dari budaya materiil dan tidak tahu malu yang saat ini sedang melanda negeri ini. Pada budaya tersebut yang menjadi tolok ukurnya khan hal-hal yang bersifat materiil.

      Bagi mahasiswa, maka mereka lebih menghargai dapat nilai IPK tinggi meskipun untuk itu dengan cara nyontek, atau bahkan pakai joki (dikerjain orang lain). Asalkan tidak ketahuan dong. Proses bagi mereka bukan sesuatu yang penting, bahkan memandangkan dengan prinsip ekonomi, jika bisa dihilangkan saja, mengapa tidak. Toh nanti yang tercantum di transkrip nilai khan hanya nilai IPK-nya doang.

      Bagi dosen, bisa juga demikian. Lebih baik ngasih soal-soal yang mudah, termasuk penilaiannya. Kalau nilainya baik-baik, jelas nggak ada masalah, mahasiswa senang, juga jurusannya. Sekarang ngasih nilai jelek banyak repotnya, bisa-bisa diprotes mahasiswa. Kalau nggak bisa memberi jawaban yang memuaskan berkaitan dengan nilai yang jelek tersebut maka banyak yang nggak sukanya, baik dari mahasiswa juga dari jurusan. Kajurnya pasti pusing juga kalau banyak mahasiswanya yang nggak lulus. Disebutlan dosen KILLER. Jadi intinya dosen yang ngasih nilai jelek, resikonya lebih tinggi untuk tidak disenangi. Apalagi jika terbukti nggak subyektif. Jadi kalau nggak punya idealisme, nggak punya kompetensi maka memberi nilai jelek harus dihindari.

      Jadi kalau jadi dosen dan jika kriteria keberhasilannya hanya didasarkan pada “disenangi atau tidaknya oleh mahasiswa-mahasiswanya sendiri” maka tentu cenderung untuk memberi “hadiah”. Seperti misalnya, materi soalnya gampang-gampang (pernah diselesaikan di kelas, jadi cukup dihapal saja oleh mahasiswanya), juga penilaiannya sendiri relatif mudah.

      Ada penyebab lain juga, banyak dosen yang tidak mau mengembangkan materi yang diajarkan. Itu bisa terjadi karena malas, juga karena tidak kompeten, bisa juga bermaksud tidak “membebani” mahasiswa.

      Banyak motivasi deh yang menyebabkan itu semua.

      Bagi mahasiswa di UPH apakah juga termasuk yang seperti itu atau tidak, saya sendiri tidak bisa memberi jaminan. Maklum, dosennya tidak hanya saya sendiri. Itu diketahui karena dari jumlah mahasiswa yang sedikit itu ternyata banyak juga yang ketika tugas akhirnya, ternyata menghindari saya sebagai pembimbingnya. Dibilangnya pusing, kalau saya yang bimbing, mereka menghindari. Mahasiswa-mahasiswa yang seperti inilah yang tentu saja, saya tidak bisa menjamin. Adapun bagi mahasiswa yang saya bimbing, rasanya tidak saja menjamin, bahkan ada yang saya coba promosikan hasil penelitiannya. Karena bagi saya, yang disebut keberhasilan menjadi dosen adalah ketika sarjana-sarjana alumninya dapat diakui oleh masyarakat.

      He, he, cukup panjang uraiannya. Nggak tahu apakah ini jawabannya cukup memuaskan atau tidak.

      Suka

  2. Pak Wir, memang itulah kondisi sekarang mahasiswa ingin instan. Juga adanya kondisi Institusi yang mungkin takut kehilangan mahasiswa, yang mana mereka kuatir akan “Dicap Intitusi Susah Lulus”, dan juga mungkin dosen jaman sekarang mau cari “Aman” karena kalau tidak memberi nilai “Wah” atau meluluskan yang harusnya tidak lulus akan tidak populer di kalangan mahasiswa

    Hal itulah yang mungkin sebagai faktor degradasi lulusan Teknik Sipil, dan pasti ada faktor2 yang lain, demikian pak Wir,

    Salam Dari Batam

    Suka

    • @pak Teddy,
      Ternyata mirip ya pak, apalagi kalau institusi atau dosennya tidak mempunyai nilai-nilai idealisme. Jadi meskipun institusi pendidikan itu juga bisnis, tetapi harus ada nilai-nilai mulia yang melatarbelakangi.

      Jadi kesimpulannya, jangan jadi dosen kalau hanya sekedar cari sesuap nasi ya pak.

      Salam dari Karawaci.

      Suka

  3. Dari pengalaman pribadi, kayaknya IPK itu buat saringan awal saja deh, pak.
    Sehabis itu ya kompetensi, experience dan capability, yang ini ga bisa diukur pake angka.

    saran saya sih… kalo untuk job application, jangan lihat IPK-nya saja. langsung tes saja, bisa ato engga.

    Suka

    • Strateginya sudah diterapkan pak. Si pewawancara pusing juga, sudah dipilih IPK yang tinggi-tinggi tapi koq hasilnya begitu. Karena itulah pak, dianya curhat ke saya, yang notabene kerja di kampus (penghasil IPK tsb).🙂

      Suka

  4. Sebelumnya salam kenal buat pak Wir.

    Saya Frengki (sedang studi S2 di Jepang). Menarik sekali saya membaca beberapa artikel bapak (sejak saya jd follower beberapa waktu yang lalu) karena ada banyak hal yang bisa memberi pengetahuan bagi saya.

    Berbicara mengenai IPK, memang saya sependapat bahwa terjadi devaluasi. Tapi, apakah ini dari dampak diberlakukannya sistem seleksi kerja yang selalu menuntut IPK minimal, atau juga menjadikan IPK menjadi standar mutlak kepintaran seseorang, sehingga terbentuk paradigma bahwa IPK kecil identik dengan kemampuan rendah. Padahal di dunia kerja ada banyak faktor penentu, tidak hanya akademis.

    Saya ingin sedikit share mengenai kondisi di Jepang. Saya tertarik melihat budaya mahasiswa di Jepang dan juga sistem seleksi kerja di sana. Saya kadang-kadang suka melakukan riset sendiri tentang alasan mereka masuk T. Sipil, seperti misalnya karena suka dengan hal-hal yg nature (soil, rock) atau environment (Seismic, etc). Jadi, mereka sudah dibekali dengan “naluri” dulu pada umumnya sehingga mereka benar-benar menyenangi studi itu sendiri.

    Mengenai pola recruitment, di Jepang biasanya recruitmentnya 1 tahun sebelum tahun kelulusan dilakukan seleksi. dan tahap2nya sungguh luar biasa perjuangannya, dari wawancara di kampus, membuat essay, ujian tertulis yang bisa menghabiskan waktu sampai 5-6 bulan.(dan IPK tidak begitu diperhatikan). Memang kita harus akui bahwa Jepang sudah memiliki sistem yang baik.

    Dulu saya sempat berpikir, apakah “devaluasi” ini dilatarbelakangi oleh sulitnya mencari kerja dari lulusan T.Sipil semenjak krisis 98 (?) yang akhirnya membuat semua jadi berpikir pragmatis, seperti IPK harus “dimaksimalkan” supaya memperbesar kesempatan di dunia kerja apapun.
    Kalau begini, filosofi pendidikan sudah meluntur sepertinya.

    Mohon maaf buat comment saya kalau kepanjangan pak.
    (Arigatou..)

    Suka

    • Hallo pak, salam kenal juga.

      Itulah pak, di Indonesia kelihatannya orang-orang masih suka latah, yang mereka lihat tentang pilihan karir adalah yang dapat menjanjikan kesuksesan materi, seperti misalnya lulusan apa yang kalau kerja langsung dapat gaji besar.

      Kesuksesan materi tentu saja tidak salah, karena bagaimanapun juga itu semacam jaminan bahwa apa-apa yang akan digelutinya itu memang berharga. Tetapi masalahnya antara minat maupun kemampuan dasar yang dimiliki orang tersebut khan kadang tidak mesti sama. Jadi hasil akhir bisa berbeda, sekedar lolos atau benar-benar penuh passion.

      Tipe orang-orang yang mencari status “sekedar lolos” itulah yang kadang tidak peduli lagi akan “proses”, jadi kalau bisa dicari jalan pintas, maka hal itulah yang akan dilakukan. Berbeda tentunya yang “with passion”, mereka akan menikmati setiap proses yang berlangsung. Nah untuk yang “with passion” ini khan yang namanya “minat” adalah sesuatu yang signifikan sifatnya. Karena apapun juga jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh kadang hasilnya luar biasa.

      Suka

  5. Barangkali karena ipk tinggi itu sendiri dipaksakan ya, pak. Maksudnya, sekolahnya juga yang mengharuskan mhsnya lulus dengan ipk tinggi, kalau msh kurang bisa diperbaiki dengan semester pendek.

    Suka

    • maklum pak, nilai IPK tinggi mahasiswa memang unsur yang membanggakan bagi mahasiswanya sendiri maupun institusinya, seperti misalnya untuk penilaian akreditasi. Yah, suatu pembanding sederhana yang membedakan antara mahasiswa satu dengan yang lain.

      Oleh karena saat ini nilai IPK kadang meragukan, maka banyak para owner atau pemimpin perusahaan yang meminta rekomendasi secara langsung orang-orang yang dianggap tahu siapa-siapa anak-anak muda yang mempunyai potensi dan sedang mencari kerja. Permintaan seperti itu sering aku terima.

      Suka

  6. Setuju pak Wir…. fenomena ini muncul sejak era Reformasi ke sini. Pengalaman saya pribadi, bimbingan saya tak sedikit yg berlama-lama lulus demi mengejar IPK 3 keatas, karena tuntutan pasar (ktnya di syarat awal beberapa perusahaan top sdh menetapkan IPK min 3)…

    Sama pak Wir, jaman saya IPK 3 keatas dalam 1 angkatan paling cuma 4 – 5 org, dan itupun super sulit mencapainya…..

    Satu lagi, benar dampak tuntutan pasar (tuntutan standar semakin tinggi) tp tak diimbangi dg kualitas lulusan, lulusan dipermudah dan dipercepat (sebagian/beberapa)….. Juga tuntutan akreditasi, dsb… Simalakama.

    Suka

  7. sesuatu yg bisa bisa dicari di google tidak perlu dihapal. yang penting ketika butuh, tahu keyword yang dibutuhkan.

    yang penting problem solving attitude dan domain knowledge. kalkulasi sudah ada tool nya.

    pertanyaan pewawancaranya juga konyol. emang knowledge worker = ensiklopedia berjalan?

    Suka

    • Betul juga, suatu nasehat yang revolusioner. Jadi meskipun manajernya berlatar belakang teknik sipil tetapi mengapa perlu mencari pegawai dari lulusan teknik sipil. Lebih baik yang berlatar belakang IT saja yang diperlengkapi komputer yang terhubung internet. Jadi kalau ada masalah-masalah teknik sipil atau tepatnya berkaitan dengan istilah teknik, suruh googling saja, jika mentok suruh saja bertanya di blog ini.🙂

      Ikut-ikutan oon.

      Suka

    • Memang pertanyaan untuk mengetes wawasan itu kurang tepat bagi saya. Tapi wawancara untuk mengetahui dasar dan konsep untuk pemecahan masalah mungkin iya. Untuk apa cuma tau teori dan rumus tapi tidak tau fungsi rumus untuk pemecahan kalkulasi apa. Atau untuk apa teori tapi tidak tau konsep dan bagaimana proses dan manfaatnya.

      Salah satu masalah mahasiswa dan pelajar menghapalkan tanpa memahami konsep dasar yang benar karena kurangnya pemahaman.

      Suka

  8. Saya adalah mahasiswa semester akhir di universitas swasta di jakarta, untuk mendapatkan IPK 3,0 saya sangat bersusah payah. Mungkin jika saya berkomentar atas coment2 bapak-bapak bahwa beginilah mahasiswa zaman sekarang, tidak bisa dikenal kecerdasannya kalau ditanya sekedar saja, sediakan waktu untuk berfikir buat mereka, Jika sudah seperti itu lihat lah perbedaan yang sangat terlihat antara mereka yang senang dengan tekhnik sipil atau tidak senang dengan tekhnik sipil, begitulah cara dosen-dosen saya mengajar, hingga cuma 2 orang saja yang mengambil bagian struktur dalam satu angkatan.

    Suka

  9. Pengetahuan mahasiswa sekarang berbanding lurus dengan jumlah pulsa yang ada di HP mahasiswa itu sendiri pak.

    Saat ujian, isi pulsa maka terjawablah soal-soal ujian itu sendiri.
    Terlalu instan.

    Suka

  10. Pak Wir,
    Saya ingat, karena yang lalu saya kerja di Kontraktor Asing, maka selalu saya ditunjuk untuk mewawancarai pegawai baru (engineer). Karena ini perusahaan gede, maka peminatnya banyak. Jadi dari HRD milih hanya candidate dari 5 universitas terkenal di Indonesia, tentunya dengan IPK > 3.. Ternyata hasilnya mengecewakan juga (ini bukan acuan, lho…). Pertanyaan hanya berkisar di pengetahuan dasar saja, seperti momen di suatu bentang yang statis tertentu or tak tentu. Salah. Dan ini bukan karena grogi, sebab biasanya di bawa dulu komunikasi yang sangat biasa dulu, santai …., baru mengajukan pertanyaan inti…….

    Hehehe……, apa ini gejala bahwa orang yang menekuni bidang teknik sipil, adalah alternatif terakhir? karena trend pekerjaan sudah bukan ini ? Sehingga tidak heran, banyak sales guys yang punya latar lulusan teknik sipil, tapi yang dijajakannya seperti perangkat dapur…., apa ini suatu gejala yang baik? Karena namanya sipil, jadi semua bidang bisa di masuki? hehehe……, gimana nih ….

    God bless you.

    Lexie

    Suka

    • Moga-moga anak yang IP-nya 3.0 ke atas dan yang mengecewakan itu hanya oknum-oknumnya saja ya pak Lexie. Tapi nggak tahu, mungkin saja juga kebetulan. Sebagian besar mahasiswa yang mengambil skripsi dengan saya, umumnya tetap bekerja di bidangnya, bahkan banyak yang telah lulus S2 (bidang teknik sipil lagi).

      Suka

  11. Malah ada dosen nguji ke mahasiswa saja pertanyaannya salah. Gimana coba???

    Hahahahaha…Mas Wir. Saya ingat penjenengan tapi penjenengan pasti lupa saya.

    Suka

  12. saya salah satu mahasiswa semester 4 di jogja yg baru aja selesai UAS pak. eh he he.

    saya setuju bgt pak kalau IPK yg tinggi itu belum tentu mencerminkan kompetensi yg tinggi juga. Banyak temen-temen saya yg IPK nya tinggi tapi ya gitu laaah (nggak enak nyebutnya, secara masih sama-sama mahasiswa.hehehe).

    saya mau tanya pak bisakah mahasiswa “disalahkan” dalam hal ini mengingat sistem recruitment yg ada sekarang ini memaksa secara tak langsung para mahasiswa secara untuk dapetin IPK min 3.

    saya mau sedikit sok tau ni pak, kenapa orientasi para mahasiswa sekarang adalah IPK

    misalnya, IPK si A 2.2, tapi si A bener-bener ngerti ttg materi yang sudah didapet, nah sedangkan banyak perusahaan yang minta IPK > 3. Karena mau ngejar target tersebut, si A ulang lah beberapa mata kuliah biar IPK bisa 3. nah, ngulangkan butuh waktu, apalagi ngulangnya sembari bener2 ngertiin. kesamber duluan deh kesempatan si A. Jadi, si A berpikir mending waktu itu si A ngejar IPK 3 dengan cara apapun biar kesempatan nya ga ilang-ilang, apalagi nyari kerjaan susah.

    maaf pak panjang, susah bener diubah jadi lebih ringkas lagi.hehehe

    Suka

    • @Hermanto,
      saya kira artikel di atas hanya membahas oknum-oknum saja dik, jadi jangan terlalu terpengaruh. Tunjukkan saja bahwa anda tidak seperti itu. Sebagaimana ada yang mengatakan bahwa dosen itu menulis hanya sekedar untuk dapat kum, bahkan ada yang mengatakan bahwa saya adalah dosen yang suka “curhat”. Biar sajalah dan saya mencoba tidak terpengaruh dengan hal seperti itu. Maklum menulis bagi saya adalah sarana untuk menunjukkan bagi saya ada, baik yang ada kum maupun tidak, dinikmati gitu lho.

      Suka

  13. Ini tanda tanda kiamat, semua sudah berbolak balik (wolak waleke jaman)….. Budak sdh mnjadi Tuan artinya Siswa sdh menjadi Guru, atau Nafsu sdh mnjadi Tuhan atas dirinya sendiri…
    Terkadang saya pernh berfikir: Ibarat seorang koki diberi bahan baku yg busuk lalu diminta utk mengolahnya, agr tidak malu hasilnya diberi nama yg keren dan point yg tinggi shg laku utk di jual atau kebalikannya bahan baku yg bgus nmn koki yg tdk profesional, shg arah dan tujuan yg tdk kesampaian dan hasilnya rsak. Yang lebih parah lg bahan baku busuk dan koki yg tdk profesional……
    Disisi lain jg penah merenung: Misal warung (kampus, red) merencanakan akan mebuat soto, namun bahan baku yg dipilih untuk diolah tidak sesuai dgn harapan, sharusnya tdk perlu pakai bayam, kacang pnjang, atau tepung terigu (dsb….) malah ini dibeli dan ikut dicampur, maka sotonya akan rusak smuanya

    Suka

  14. Saya Mahasiswa S1 semester 2 di jurusan Sistem Informasi ,,,,
    Saya sangat setuju dengan tulisan pak wir ,,,
    Seharusnya Kampus2 mengajarkan untuk belajar ilmu kehidupan alias pengalaman ,,, Jangan hanya di beri IPK >3 saja tetapi ada tes SKILL sebelum lulus jika skillnya tidak memenuhi syarat maka tidak lulus ,,,, Nah, apa saran pak wir untuk saya agar kedepannya lebih baik dan lulusan mendapatkan pencerahan??? Mohon sarannya ya pak ,

    Suka

    • sdr Wahyu,
      Suatu pencarian yang baik, langkah pertama untuk maju adalah mendapatkan pencerahan. Mulai dulu dari mindset yang dapat berubah karena membaca, mendengar dan melihat.

      Selanjutnya tetapkan dulu visi ke depan, anda ini mau sekolah mau apa. Sekedar hidup menjadi kaya atau apa. Atau sesuatu yang lain. Setiap orang tentu mempunyai kriteria sendiri-sendiri.

      Dalam konteks teknik, seperti yang saya sampaikan di kuliah umum di UAJY(Jogja), UPI-YAI(Jakarta) dan UNRIKA(Batam) , ibaratnya mau jadi tukang atau insinyur. Jika hanya sekedar tukang, nggak masalah, mereka juga mampu membuat bangunan-bangunan sebagaimana yang sudah berdiri, sudah bisa kaya atau hidup cukup. Itu tukang, tetapi jika jadi insinyur maka tentunya punya kemampuan seperti tukang, tetapi mampu juga menjawab tantangan baru, yaitu masalah-masalah yang belum pernah ada sebelumnya. Dimana itu semua bisa diselesaikan tidak dengan ilmu “trial-and-error” atau “bisa karena biasa” (tukang pakai ini) , tetapi mampu memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan. Bahkan jika perlu, jika itupun belum ada maka mampu menciptakannya. Mereka itulah yang sebenarnya patut disebut insinyur, bukan sekedar telah lulus kuliah dan mendapat IP 3.0

      Berkaitan dengan hal itu, sebagaimana yang juga sampaikan di kuliah umum tersebut maka strategi yang perlu dilakukan, yang mengacu strategi yang digunakan juga oleh ASCE (American Society of Civil Engineering) adalah menyangkut tiga aspek penting, yaitu:
      * Knowledge
      * Skill
      * Attitude.
      Dalam hal ini, IP yang ditampilkan oleh para alumni lebih banyak mengetengahkan parameter Knowledge dan sedikit Skill atau bahkan sulit untuk mengukur Attitude tersebut. Jadi pantas saja jika IP-nya tinggi tetapi ketika bekerja kurang baik. Saya juga punya alumni seperti itu, dia ngotot sekali terhadap tugas atau ujian yang berkaitan dengan score yang menghasilkan IPK. Tapi di luar itu, malesnya nggak ketulungan, mau-maunya sendiri. IPK tinggi, tetapi jelas tidak bisa direkomendasikan untuk diajak bekerja untuk suatu target tertentu.

      Karena adanya tiga parameter tersebut, dan silabus perguruan tinggi tidak bisa mencapainya itu semua, maka jelas-jelas untuk sukses perlu kerja sama yang antara kedua belah pihak. murid dan dosennya. Kampus dalam hal ini sekedar fasilitator mempertemukan keduanya untuk saling bersinerji mengusahakan agar ke-3 faktor diatas meretas. Jika inovasi dan kreativitas menjadi salah satu kriteria yang perlu diusahakan maka itu juga harus dimulai dari dosennya juga. Jadi dalam hal ini dosen juga perlu menjadi teladan untuk mengupayakan itu. Jadi jangan harap, jika muridnya sudah punya niat, tetapi dosennya juga ogah-ogahan.

      Nah sekarang siapa yang bisa memulai. Itu permasalahannya, karena umumnya itu dimulai dari individu dan faktor attitude yang didrive oleh visi dan misi yang hebat maka itu baru dapat terjadi.

      Suka

  15. Salam Hangat Pak Wir,

    mengenai masalah IPK lulusan teknik sipil ini, saya sangat setuju dengan pak wir, sebab sekarang ini IPK ini tdk bsa dijadikan lagi sebagai barometer atau tolak ukur untuk menilai kemampuan seseorang sebagai civil engineer yang kompeten dibidangya (dalam artian tingkatan fresh graduate).

    nah disini saya mungkin sedikit bercerita tentang pengalaman saya mengikuti test disalah satu perusahaan patungan Indonesia-Jepang sebagai Structure Engineer (walaupun saya saat ini sudah bekerja, tetapi menurut saya apa salahnya untuk dicoba) nah pada saat tersebut memang test mereka tertulis, ya berkisar mengenai dasar2 teknik sipil (structure engineer) seperti Truss, Beton, Baja, Pondasi (Practice Design) dan Konsep2 Structure Portal (Diagram Momen, Geser dan Normal). nah alhamdulillah hampir semua pertanyaan tersebut dapat saya jawab (Walaupun ada beberapa pertanyaan yg tdk saya jawab yang dikarenakan tdk disertainya data2 yg cukup untuk menjawab pertanyaaan tersebut).

    singkat cerita saya alhamdulillah lulus dan dipanggil untuk mengikuti test berikutnya dan langsung untuk interview, nah disini yang mungkin membuat saya miris, sebab ternyata penawaran mereka saat itu untuk sallary sangat2 membuat saya kecewa, sebab saya berfikir, jadi structure engineer mereka samakan dengan drafter dengan gaji yang sama, nah pada saat itu saya disuruh nego dan saya tetep bertahan dengan nilai yang saya tawarkan sebelumnya dan akhirnya saya tdk dipanggil lagi.

    Hikmah apa yang dapat kita ambil disini : bahwa perusahaan perusahaan2 yang ada di negeri ini juga tidak mendukung terhadap profesionalisme sebagai structure engineer apakah itu perusahaan Kelas “KAKAP” atau Kelas “TERI” dan Kita yang Berprofesi sebagai structure engineer sudah dianggap sama dengan drafter,,,, sangat…. sangat…. sangat tidak menghargai sekali!!!!

    Suka

  16. Pak Wir.
    Menarik artikelnya, salam kenal pak, saya guru SMK di Sukabumi. hal terseut juga terjadi di jenjang sekolah menengah (mungkin juga di tingkat dasar), kalau ngobrol dengan guru – guru senior (saya baru 2 tahun jadi guru) dulu di sekolah ini nilai kecil dan gak naik kelas itu biasa, tentunya anak yang bandel dan malas. tapi setelah target-target politik masuk ke sekolah misalnya, tingkat kenaikan 100%, DO 0%, Kelulusan 100%. target – target tersebutlah yang akhirnya guru-guru mengatrol nilai sebab kalau tidak jadi ribet di tekan sana sini, belum lagi kalau siswanya sodara pejabat, anggota dewan, Oknum LSM dan Oknum wartwan. mungkin hal tersebut juga berpengaruh ke jenjang pendidikan tinggi.

    Suka

    • yah memang begitulah sebagian kondisi pendidikan di negeri ini. Sekedar ngejar target. Kuantitas yang dipentingkan. Jadi maklum saja jika suatu saat nanti level sarjana jadi office boy. Lihat saja sekarang yang jadi office boy banyak yang lulusan SMA.

      Suka

  17. Misalnya kalau kita sudah lulus dengan IPK yg jelek/rendah, apakah masih bisa diperbaiki lagi? Misalnya dgn mengambil ulang matakuliah yg jelek nilainya. Kalau memang bisa, apakah ada yg bisa menjelaskan mekanisme dan prosedurnya?

    Suka

    • Lulus mata kuliah, bukan lulus kuliah ya. Kalau itu sih tergantung kebijakan universitas. Ada yang pada saat yudisium akhir, nilai mata kuliah yang diambil adalah yang terbaik. Jadi jika pertama D (ini sebenarnya belum lulus, tapi diperbolehkan dengan jumlah terbatas), lalu dapat B, maka yang dipakai B. Tetapi ada juga suatu perguruan tinggi yang mencantumkan semua nilai yang pernah diambilnya (untuk di Indonesia saya belum pernah ketemu).

      Suka

      • Bukan mas, ini maksudnya sudah lulus kuliah, sudah lulus sidang skripsi juga, dan dapat gelar sarjana, tapi IPK nya rendah. Nah, kalau sudah begitu, apakah masih bisa diperbaiki lagi IPK nya? Apakah kita bisa kuliah ulang lagi tapi hanya mengambil beberapa matakuliah saja? Ini tujuannya demi memperbaiki IPK saja sih.

        Suka

  18. @tamu.
    Keinginan anda untuk memperbaiki IPK setelah anda lulus (di wisuda (???)) adalah aneh. Terus terang baru pertama kali ada yang menanyakan hal tersebut. Orang yang telah lulus maka secara administrasi sudah dianggap tutup buku. Fixed. Kalau itu bisa terjadi, wah bisa berbahaya itu, bisa-bisa orang yang sudah lulus dengan IPK jelek, tetapi kemudian berhasil punya kuasa, bisa kembali untuk merubah nilainya dulu. Jadi secara logika ditinjau dari sudut administrasi pendidikan hal itu akan mengacaukan.

    Tetapi mengapa keinginan seperti itu bisa timbul ?

    Jika anda lulus dengan IPK jelek (pas-pasan), tetapi kemudian bisa membuktikan bahwa kehidupan anda sukses (minimal bisa mandiri), mengapa perlu kembali ke masa lalu. Saya menduga, keinginan anda timbul karena anda belum mandiri, misal ingin melamar pekerjaan yang perlu IPK tinggi, dan anda belum dapat-dapat.

    Saya yakin, jika anda bisa mencari suatu karir atau tepatnya lapangan kerja yang tidak harus mensyaratkan IPK tersebut (toh kalau anda lulus khan berarti anda sarjana), dan kemudian anda bisa sukses pada pekerjaan tersebut. Saya sangat yakin sekali keinginan di atas tidak akan timbul lagi. Bahkan ada kemungkian anda untuk memilih melanjutkan sekolah ke level yang lebih tinggi dan berusaha keras agar mendapat IPK yang lebih baik dari sewaktu dulu sekolah pada level yang lebih rendah.

    Jika anda sudah bekerja, dan bisa menunjukkan prestasi yang lebih baik dari teman-teman yang lain. Saya yakin sekali bahwa IPK anda tidak akan dipertanyakan lagi. Contohnya saja, saya : selama ini nggak pernah tuh ada yang menanyakan IPK ketika saya menyatakan suatu pendapat, bahkan kalau ternyata IPK saya kalah baik dengan orang yang bertanya kepada saya, maka saya akan bangga. Lihat, orang yang punya IPK tinggi saja bertanya kepada saya yang IPK-nya lebih rendah. Tul khan.

    Aneh-aneh saja ya sekarang ini.🙂

    Suka

    • Ternyata memang ga bisa ya, wkwkwk. Iya, saya setuju dengan apa yg anda katakan di atas, IPK tinggi memang ga menjamin orang bisa sukses atau tidak. Sebenarnya ini pertanyaan bukan untuk saya sih, saya cuma mewakili saja salah satu kaskuser yang sedang galau karena belum dapat pekerjaan dan merasa ditolak terus karena IPK nya rendah.

      Makasih atas sharingnya.

      Suka

      • Ingin melanjutkan dari pertanyaan di atas.
        Sering kali lulusan S1 disarankan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S2) dengan tujuan : agar mendapatkan jabatan atau gaji yang lebih tinggi dan serta diikuti dengan alasan karena lulusan S1 sudah sedikit sekali dibutuhkan oleh posisi posisi yang bergengsi. Bagaimana pendapat anda tentang pernyataan tersebut?
        trimakasih.

        Suka

  19. saya termasuk dalam mahasiswa dengan IPK rendah pak,
    saya juga tidak tahu bagaimana pola pikir dosen sekarang,
    penilaian yang diberikan benar-benar tidak subjektif, bagaimana mungkin mahasiswa yang jelas-jelas ketahuan mencontek, bisa dapat nilai yang sangatlah tinggi, ini jelas dosenya sangat tidak tegas..
    saya kecewa pak.

    Suka

    • Saya mahasiswa D3 politeknik negeri padang, dan sedang menjalani semester 4, ..jd,pertanyaan saya apakah bisa menjadi mahasiswa terbaik (wisudawan terbaik) dengan ipk yang paling tinggi dijurusan tp ada nilai C nya dan semua mahasiswa dijurusan yang mempunyai IPK tinggi dibawah saya juga mempunyai nilai C…

      Suka

  20. selamat siang pak,saya dr mhasiswa swasta di jogjakarta,yg saya ingin tanyakn bagaimana kalau IPK rendah apakah bisa mengikuti wisuda,dan bagaimana menurut bapak solusinya mengatasi IP rendah trimaksih bls.

    Suka

    • IP rendah bagaimana maksudnya. Rendah dibanding teman-teman, tetapi selama masih dalam batasan minimal kelulusan, ya pasti nggak ada masalah dengan wisuda.

      Rendah itu relatif, misalnya teman-teman umumnya IP-nya 3.5 dan anda hanya 2.1, tetapi batas lulus 2.0. Ya nggak ada masalah. Solusi, ya menaikkan IP begitu.

      Agar bisa naik, maka pelajari komponen-komponen yang dinilai, seperti misalnya selain ujian ada juga tugas-tugas yang menyumbang penilaian Nah kadang meskipun prosentasinya kecil, tetapi jika diselesaikan biasanya bisa kasih sumbangan yang lumayan. Kalau untuk ujian, ada baiknya pelajari soal-soal yang pernah keluar, dari situ ketahun bentuk-bentuk soal yang umum diberikan. Juga perlu latihan soal-soal. Dan jangan lupa, rajin kuliah, aktif di kelompok belajar, dengar dari kanan kiri tentang materi pelajar / kuliah yang ada. Jika perlu tanya atau susun pertanyaan yang tepat bagian mana yang anda belum tahu.

      Suka

  21. Salam kenal, Pak Wir.
    Saya mahasiswi Pendidikan Matematika di sebuah perguruan tinggi swasta di suatu kota bagian utara Provinsi Kepulauan Riau.

    Begini pak, jika yang dibahas di atas adalah seputaran lingkungan perguruan tinggi/universitas negeri, persoalan kualitas memang yang diutamakan. Akan tetapi, coba dibandingkan dengan perguruan tinggi/universitas swasta kecil yang akreditasinya saja belum mampu menyaingi. Dalam dunia kerja, biasanya seorang pelamar sebelum interview, yang dicek terlebih dahulu adalah perlengkapan administrasinya, seperti ijazah dll. Nah, jika sang pelamar adalah seorang lulusan baru universitas negeri terakui di negara ini, tentunya pihak perusahaan pun merasa tidak perlu terlalu mempertimbangkan lebih lama –meskipun IPK pelamar < 3,00, misalnya. Tetapi, akan lain cerita jika sang pelamar hanya seorang lulusan baru universitas swasta kecil dan kurang terakui, atau sama sekali tidak terakui. Tentu pihak perusahaan perlu mengecek ulang transkip nilai dan lain sebagainya. Mungkin itulah sebabnya, banyak universitas swasta yang tidak lagi mementingkan "kualitas" namun lebih kepada "kuantitas". Karena memang kenyataan di lapangan seperti itu dan juga agar universitas tersebut dicap "baik" sehingga orang-orang merasa tidak perlu takut untuk berguru di sana. Nah, ini sudah masuk ke persoalan politik pula. Kemudian, mahasiswa yang tahu akan hal seperti ini pun, tentu akan ikut mementingkan "kuantitas"nya. Menghalalkan cara apapun untuk mendapat nilai yang tinggi. Berharap kelak, setelah lulus pun akan gampang diterima di mana saja.

    Sekiranya itu saja dari saya, pak.
    Atas tanggapannya nanti, saya ucapkan terima kasih.🙂

    Suka

    • Jika pemikiran saudari seperti itu terus. Maka kedepannya tidak akan ada yang berubah dari kebiasaan dan citra mahasiswa dengan image mahasiswa dengan ipk tinggi namun tidak berkualitas walaupun tidak semua seperti itu. Jika anda mahasiswa di universitas yang anda sebutkan tersebut. Memilihlah pilihan yg lebih baik. Kenapa tidak memilih meningkatkan kualitas dan kuantitas diri dan universitas anda. Ketika anda berkualitas dengan nilai yang baik citra universitas anda akan berubah.

      Suka

  22. Saya baru lulus dari kedokteran FK UNSRI pak. Sekedar sharing saja pak, jujur IPK Sarjana kedokteran saya hanya 3,49 dan IPK dokter saya hanya 3,32. Saya sedih melihat hal itu meskipun syarat masuk spesialis sekarang misalnya bedah dan obgyn ipk min 2,75 , spesialis anak dan penyakit dalam ipk min 3,0. Secara administrasi memang saya pasti diterima.

    Saya adalah anak fk non reguler yang masuk melalui jalur usm. Teman2 saya yang reguler banyak yang cumlaude ada 70 orang dari 115 mahasiswa dan di kelas saya yang non reguler cuma 10 yang cumlaude dan saya berada diperingkat 12 ipk tertinggi di kelas saya dari 113 mahasiswa non reguler.

    Kalau di fk pak gampang mau ipk besar pas sarjana kedokterannya pak tinggal remedial nilai naik, sedangkan saya orang yang jarang ikut remedial cuma 2 blok dan ada teman2 yang remedial 15 blok. Padahal jaman ibu saya dulu( ibu saya seorang dr spesialis anak) dapat nilai b saja sudah hebat dan kualitasnya lebih hebat dari yang lulusan sekarang. Inilah bobroknya fk sekarang pak. Seperti dipermudah saja. Apalagi pas koas( kepanitraan klinik di rumah sakit) ujian tergantung keberuntungan dapat dosen enak ya A nilainya dapat dosen susah ya C nilainya, dan secara keseluruhan memang begitu pak. Terima kasih

    Suka

  23. Isi tulisan dan komen dari tulisan ini sangat menarik sekali. saya ingin curhat sedikit heheh

    saya freshgraduate dari PTN jurusan teknik. saya mendapat IPK dapat dikatakan cukup sulit untuk masuk seleksi ke beberapa perusahaan. tetapi hal tersebut tidak memudarkan saya untuk berusaha mencari pekerjaan. saya mengikuti open recruitment atau walk interview langsung dari bagian hubungan karir n alumni di universitas saya karena bila melalui job fair atau lainnya akan sulit. jika CV saya dilihat maka tidak sesuai requirement (IPK) perusahaan.

    setelah saya mengikuti (Management Trainee), saya selalu lulus psikotes dan tes lainyya akan tetapi setelah tahap akhir saya selalu gagal dalam interview. saat interview pihak HR selalu menanyakan, kenapa IPK kamu kecil?? saya bingung untuk menjawab. kenapa HR mensyaratkan IPK sebagai pintu gerbang untuk mengikuti sebuah tes?? apakah takut akan permintaan dari perusahaan untuk mendapatkan bibit2 unggul?? bahwasanya tidak semua IPK kecil itu bodoh dan kurang berusaha. IPK akhir itu disamaratakan tidak dilihat dari jurusan. saya merasakan jurusan teknik cukup sulit pelajarannya.

    biar saya ipk kecil saya aktif dalam organisasi bukan hanya mahasiswa kupu-kupu. saya juga menjadi salah satu asisten dosen dan saya dapat lulus sesuai masa studi yaitu 4 tahun lebih 2 bulan dikit heheh Teknik mennn..

    bagi yang ipk dibawah standar berusaha terus dan berdoa pasti ada jalan. ikutilah test yang di adakan di kampus2 rata2 tidak melakukan penyortiran untuk mengikuti tes.

    segala sesuatu di dunia memiliki arti, tuhan tidak akan mempersulit hambanya.
    mohon doa nya, semoga saya cepat bekerja dengan ipk non syarat perusahaan (2,54) heheh
    saya jurusan Teknik Mesin, salam anak teknik

    Suka

    • @Bani :
      Untuk open recruitment atau walk interview memang kriterianya adalah dokumen tertulis tentang prestasi seseorang, tentu saja ditambah dengan hasil test psikologi (jika ada). Tapi kalau melihat kegiatan anda, sehingga ip kurang adalah di organisasi, maka tentunya “anda kuat di jaringan”. Jadi akan lebih baik jika anda cari pekerjaan dari itu. Jadi modalnya adalah “rekomendasi” dari seseorang yang mengetahui “prestasi” anda, mestinya kepemimpinan akan lebih kuat jika suka organisasi. Tapi kalau di organisasi hanya sekedar “bala dupakan”, wah yang kurang menjual.

      Suka

  24. saya mahasiswa teknik sipil semester akhir di suatu universitas di kalimantan barat
    saya sedang mengerjakan tugas akhir yang hampir rampung… namun tidak bisa sidang karena ipk saya masih di bawah 2.75
    saya sudah 2 semester mengulang mata kuliah untuk memperbaiki nilai. namun nilai yang di dapat sama saja dengan sebelum di perbaiki.
    yang jadi permasalahan saya adalah ada beberapa mata kuliah yang ujian tengah semester dan ujian akhir nya itu soal nya sama persis dari contoh soal hanya bentang dan BJ nya saja yang diubah dan open book. logika nya kalau kita teliti pasti 80% jawaban kita benar. namun nilai yang keluar hanya C
    dan saat di protes dosen nya tidak menunjukan hasil koreksi dari jawaban ujian kita
    untuk menyikapi nya bagaimana ya pak
    maaf kalau terlalu panjang

    Suka

  25. salam kenal pak wir…
    saya mahasiswa semester 7 yang kuliah di salah satu PT indonesia.
    saya lagi bingung pak, sekarang ini IPK saya baru 2,67 sementara saya menargetkan selesai tahun depan (biar selesai pas 4 tahun). tapi saya sadar kalo mau selesai 4 tahun saja pasti ipk saya hanya standar, mau dapat ipk 3 pun akan sulit kecuali saya bisa dapat nilai ips 4 di smester 7 dan 8.
    menurut bapak, mana yang lebih baik , saya selesai dalam 4 tahun tapi dengan ipk standar atau nambah 1 semester lagi untuk memperbaiki nilai saya yang jelek agar ipk bisa nambah (> 3 )??? mohon sarannya pak, maaf curhat…

    Suka

    • Esensi berprestasi itu adalah jika IPK tinggi dan waktu yang singkat. Jika anda sekarang sudah di semester 7 dan IPK masih sekitar 2.67 maka target untuk berprestasi itu cukup dengan persyaratan IPK terpenuhi dan waktu sesingkat-singkatnya. Fokus itu dulu, jangan terlalu muluk-muluk.

      Tetapi jika semangat di akhir perkuliahan terasa membara dan ingin disebut berprestasi dan dapat dibanggakan di keluarga atau pacar, maka pindahlah ajang berprestasinya. Misalnya, setelah lulus lalu cari kerja di kantor atau perusahaan besar dan mulailah dengan lembaran baru, yaitu mulai kerja tidak tanggung-tanggung agar dapat disebut berprestasi.

      Itu kalau dapat pekerjaan ya. Maklum biasanya IPK rendah itu nggak pede nglamar di perusahaan besar. Untuk itu kata kuncinya adalah komunikasi dan jaringan. Jika demikian ya sudah, usahakan pokoknya dapat pekerjaan. Tetapi agar dapat karir maka carilah pekerjaan yang cocok atau sesuai dengan bidang kuliah yang anda tekuni. Pekerjaan pertama jadikan portofolio, usahakan berprestasi atau minimal memberi impresi positip. JIka sudah merasa pede atau dapat mengerjakan suatu tugas atau minimal sudah merasa berkompeten maka cari perusahaan lain yang lebih bonafide. Intinya arahkan semangat untuk meningkatkan IPK tadi untuk level lain (bekerja) dan tidak sekedar berkutat pada IPK.

      O ya, kalau masih belum dapat pekerjaan (pastikan jangan ngganggur lama) dan tentunya sudah dapat lulus (meskipun IPK terbatas), isi waktu dengan belajar atau kursus yang relevan. Untuk itu mungkin perlu berani keluar daerah, cari kesempatan lain. Pokoknya harus dinamik, jangan statis. Kalau perlu sekolah lanjut pada level lebih tinggi. dll.

      Suka

  26. IPK tinggi memang tidak menjamin seseorang punya expertise tinggi perihal problem solving di dunia nyata. IPK tinggi tidak juga menjamin seseorang akan berhasil mengarungi kehidupan riil.

    Namun, apabila IPK tinggi, diraih dengan kedisiplinan dan kejujuran yang tinggi, jelas IPK mencerminkan “daya juang” Si mahasiswa dalam berprestasi scara akademik. Pendidikan level Sarjana ataupun Master, jelas salah satu jalan melatih para pesertanya belajar mandiri dan berpikir kritis, mengembangkan dasar-dasar keilmuan yang ada, berpikir secara konseptual, sambil berupaya menggunakan konsep-konsep maupun teori-teori teruji untuk problem solving dunia riil.

    Sang Manager dlm crita ini, maupun HRD yang masih berpikir IPK tinggi itu sebanding dengan expertise kerja, termasuk pribadi yang konyol. Jelas lulusan sarjana masih hijau, dan butuh dikembangkan agar selaras dengan kultur dan etos kerja perusahaan, misalnya via program management associate.

    Mengetahui banyak hal, bukan brarti seseorang itu genius atau Pinter apalagi hebat. Saya lebih cenderung memilih kandidat yang mampu beradaptasi, belajar dan mengembangkan informasi-informasi yang telah diberikan pada nya.

    1 lagi, kalau Si manager dalam crita ini hebat, kenapa masih kerja jadi karyawan orang, why not start usaha sendiri. Kalau memang punya kemampuan, harusnya meski tanpa modal uang pun bisa start usaha sendiri. Jangan sombong, di Atas langit masih ada langit lagi.

    Suka

  27. Mahasiswa jurusan pendidikan saja menyontek. Padahal mahasiswa, khususnya mahasiswa jurusan pendidikan diharapkan sebagai calon pendidik yang baik kedepannya.
    Namun di balik itu ada dosen yang tidak peduli akan kecurangan yang terjadi dan mahasiswa yang menghalalkan kan segala cara dan juga pihak yang mengetahui tapi mengabaikannya. Intinya semua tanggung jawab kita yang membentuk citra bangsa ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s