menjadi PEMBICARA dan PENULIS


Jika pertanyaan berikut disampaikan kepada anak-anak muda yang baru duduk di sekolah menengah atas, tentu menarik. Ini pertanyaannya : “Kamu nanti ingin jadi apa ?“.

Pertanyaannya pendek, meskipun demikian umumnya dapat dipahami mereka.  Apalagi jika bertanya dengan nada serius . Maklum jawabannya akan menunjukkan seberapa potensi dirinya tersebut. Adapun jawaban yang banyak disampaikan  adalah sebagai  berikut : mau jadi tentara (dalam hal ini masuk ke AKABRI), atau mau jadi DOKTER atau INSINYUR atau DIPLOMAT, dan semacamnya. Berbeda tentunya jika pertanyaan senada disampaikan kepada anak TK atau SD. Bisa-bisa jawabannya : “Mau jadi PRESIDEN pak !”🙂

Yah memang, menjadi AKABRI, DOKTER atau INSINYUR adalah jawaban tentang peran masa depan yang dianggap cukup logis dan realitis. Dalam hal ini adalah mengidentikkan diri dengan suatu profesi yang dianggap masyarakat sebagai suatu kesuksesan. Meskipun dalam praktek, definisi sukses bagi masyarakat tertentu, itu bisa berbeda-beda. Bagi sebagian besar anggota masyarakat di Indonesia,  kriteria sukses selalu diidentikkan dengan kecukupan materi. Dengan demikian kriterianya dapat diperluas lagi, seperti misalnya jadi pegawai Kantor Pajak RI atau jadi pegawai Kantor Bea Cukai RI. Nggak perlu sekolah tinggi-tinggi tapi bisa kaya, lihat saja faktanya. Betul khan.

Dengan latar belakang seperti itu maka pantas saja anak-anak muda jarang memberi jawaban bahwa kalau besar nanti mau jadi PEMBICARA atau PENULIS.

Padahal jadi pembicara atau penulis itu dihormati lho pak ?

Betul, jika sudah sukses tentunya. Tetapi yang jelas bahwa menjadi PEMBICARA atau PENULIS rasa-rasanya masih sulit untuk dijadikan sebagai tujuan pertama dalam berkarir. Kalaupun bisa maka probabilitas keberhasilannya relatif kecil dibanding profesi-profesi yang saya sebut di atas. Keberadaan menjadi PEMBICARA atau PENULIS penting manakala tahapan dasar telah terpenuhi dan ingin masuk pada tahapan aktualisasi diri,  yaitu menyangkut akan keberadaan seseorang di dunia ini. Itu berarti bahwa motivasi yang mendasari jadi PEMBICARA atau PENULIS bukan didasarkan pada “apa yang akan diterima“, tetapi lebih kepada “apa yang dapat diberi“.

Jika demikian tentunya akan timbul pertanyaan, apa yang sebaiknya diberikan. Tentunya tidak bisa berupa materi, jika demikian namanya bukan lagi pembicara atau penulis, tetapi dermawan. Jadi yang bisa diberikan adalah tentunya isi pembicaraan atau isi tulisan itu sendiri. Oleh karena itu agar pemberian tersebut berguna maka tentu saja isinya juga harus yang baik. Biasanya berupa nasehat atau ajaran yang positip, seperti misalnya ilmu atau pengalaman pribadi yang dibagikan dengan maksud untuk ditiru atau agar dapat dihindari untuk tidak terulang lagi. Jadi disinilah esensinya itu, yaitu menentukan tujuan hidup untuk mendapatkan “isi” (jadi dokter, jadi tentara, jadi insinyur dsb) selanjutnya membagikan “isi” tersebut dengan cara menjadi pembicara atau penulis dengan maksud agar keberadaannya dianggap ada atau bermakna. Jika itu dapat dilakukan dengan sepenuh hati, tanpa pamrih (maklum berkonsep memberi) maka kadang-kadang bahkan menjadi sesuatu yang tak terduga, yaitu akan menjadi pengali atau pengganda dari “isi” yang sudah dipunyainya terdahulu.

Jika sudah demikian adanya maka nats ini akan berlaku :

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu kekurangan.

Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Jadi nats itu akan berfungsi jika “isi” yang disampaikan adalah berharga (seperti halnya harta) dan dapat memberi berkat. Jika “isi” yang diberikan tidak berharga, atau berupa sampah maka tentu akan sebaliknya. Hal itu telah dipahami lama, yaitu sejak awal mula kehidupan. Lihat saja ini:

Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.

. . .

Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya. Bila kefasikan datang, datanglah juga penghinaan dan cela disertai cemooh.

. . .

Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

Jika demikian adanya maka menjadi pembicara atau penulis bukan lagi sebagai pengganda, tetapi menjadi pengakhir karir. Jadi jangan merasa bangga dulu menjadi keduanya jika tidak tahu memaknainya.

Saat  berperan sebagai invited speaker di Kampus UPI-YAI, Jakarta

Bapak sebagai PEMBICARA dan juga PENULIS bagaimana strateginya agar keduanya dapat menjadi pengganda dan bukan pengakhir. Ada masukkan pak Wir ?

Betul sekali. Pada intinya semuanya itu ada proporsinya masing-masing. Kemampuan atau tepatnya kesempatan dapat menjadi PEMBICARA atau PENULIS harus dimaknai secara holistik. Sebagaimana halnya dengan jabatan yang dapat dimaknai sebagai amanah, atau melayani, tetapi juga dapat dianggap sebagai kesempatan emas untuk mereguk keuntungan sebesar-besarnya (aji mumpung), maka demikian juga halnya dengan itu (pembicara dan penulis). Jika kita diberi kesempatan menjadi PEMBICARA dan juga kemampuan jadi PENULIS yang baik, maka gunakan itu untuk menjadi berkat bagi orang lain, jangan sekedar sarana untuk kepuasan ego pribadi. Nggak seenaknya sendiri.

Realnya bagaimana pak ?

Wah bisa subyektif itu sifatnya, tetapi ada baiknya kita baca dulu nats berikut sebagai bahan renungan.

Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat.

Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.

Nah kita coba cermati kata-kata di atas, yaitu rancangan terlaksana atau rancangan orang rajin . . , berarti yang ditekankan adalah adanya rancangan, atau rencana dan tidak perlu tergesa-gesa. Agar ada rencana maka tentunya perlu dipikirkan terlebih dahulu. Itulah kata kuncinya. Jadi agar dapat menjadi PEMBICARA dan PENULIS yang baik adalah bahwa semuanya itu (isi yang akan disampaikan) harus dipikirkan secara matang terlebih dahulu. Jangan asal bicara atau asal tulis, tanpa pemikiran yang matang.

Dengan cara berpikir seperti itu, maka tentu kita tahu semua bahwa resiko “bicara tanpa dipikirkan” lebih besar adanya dibanding “risiko menulis tanpa dipikir“. Bahkan ada yang berpendapat bahwa menulis adalah cermin pikiran. Juga karena menulis dapat dibaca berulang-ulang, berarti isi tulisan lebih mudah dirancang dengan penuh pertimbangan daripada isi materi pembicaraan. Itulah mengapa ketika aku diminta jadi PEMBICARA maka aku selalu memulai terlebih dulu peranku sebagai PENULIS.

Sebagai contoh kemarin di acara seminar UPI-YAI, ketika aku diminta berbicara tentang Gedung Super Tinggi maka semua rancangan bicaraku aku ungkapkan dulu dalam tulisan. Itulah mengapa ketika aku diberi waktu berbicara selama dua jam maka materi tulisan yang aku siapkan juga tebal, hampir seratus halaman. Itu aku lakukan agar semua materi yang aku bicarakan dapat terpikirkan dengan baik. Dengan terpikirkan dengan baik dapat dievaluasi dengan baik dan yang jelas dapat dipertanggung jawabkan setiap patah kata atau kalimat yang aku sampaikan. Itu penting untuk menghindari kebenaran pepatah “tong kosong berbunyi nyaring”. Banyak omong nggak bermakna, khususnya jika diberi waktu bicara cukup lama.

Dengan adanya materi tulisan, maka tidak ada ketakutan adanya ide yang tidak tersampaikan ketika waktunya bicara habis. Maklum, peserta seminar dapat membaca tulisan yang aku buat. Cara inilah yang membuat aku tidak mengemis-ngemis waktu atau ngotot untuk tetap presentasi, meskipun waktunya sudah habis .

Yah itulah aku ketika jadi PEMBICARA dan PENULIS, keduanya bisa menjadi satu kesatuan yang saling mendukung. Tetapi jika disuruh memilih maka aku lebih memilih disebut sebagai PENULIS saja. Sudah cukup.

He, he inilah untungnya jika punya kesempatan seperti itu. Ini ada sedikit dokumentasi selama acara seminar di YAI kemarin, maklum nggak banyak waktu foto. Tunggu kiriman dari panitia agar lebih lengkap. Ini aku up-load dulu ya.

Lucu juga, sertifikat yang ditanda-tangani bapak Dekan mencapai 200 buah, tetapi ternyata yang hadir rasanya tidak lebih dari separonya. Mungkin kemarin siang itu telah terjadi hujan deras menjelang acara. Tapi yahlumayanlah.

Beberapa mahasiswa UPH bimbingan tugas akhirku yang berkenan hadir (Thomas , Eddiek, Yeltsin dan Witra) berfoto bersama dengan panitia seminar dan teman mahasiswa dari YAI (ke-2 dari kiri mas Agus Dewantoro- Ketua Panitia).

Inilah teman-teman panitia mahasiswa teknik sipil UPI-YAI yang bekerja keras dan memberi kehormatan aku menjadi PEMBICARA sekaligus PENULIS. Untuk itulah secara tulus aku mengucapkan banyak terima kasih. Semoga kita semua mendapatkan berkat dan kasih Tuhan.  Salam.

<< foto dari Thomas >>

9 thoughts on “menjadi PEMBICARA dan PENULIS

  1. Seminar yang diberikan oleh pak Wir mengenai “GEDUNG SUPER TINGGI” sangat membuka wawasan dalam teknik optimasi merencanakan gedung. Tapi sayangnya hanya terbatas dua jam.

    Terima Kasih pak Wir atas seminarnya.

    Suka

  2. Ping balik: mengajar di Batam | The works of Wiryanto Dewobroto

  3. Ping balik: materi kuliah high-rise-nya Wiryanto | The works of Wiryanto Dewobroto

  4. Ping balik: menulis itu pribadi sifatnya | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s