detailing di rekayasa struktur


Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keruntuhan jembatan Kutai Kartanagara (Kukar) di Kalimantan merupakan bencana buatan manusia (man made disaster) terdahyat. Jika sebelumnya bencana-bencana memang telah silih berganti di negeri ini, yang menelan korban jauh lebih banyak, tetapi semua itu selalu dapat dikaitkan dengan kondisi alam, yang memang tidak dapat diduga. Untuk yang seperti itu, biasanya sudah tersedia satu jawaban ampuh untuk menerangkannya, yaitu dengan satu kata “nasib“.

Biasanya kalau sudah kata “nasib” disampaikan, maka rasanya tidak akan timbul banyak pertanyaan. Penanya sungkan, karena pasti nasehat selanjutnya selalu dikaitkan dengan himbauan untuk lebih rajin beribadah, mohon ampun dosa-dosa. Padahal kalau mau jujur, di tempat lain, di negeri yang disebutnya sekuler, kondisinya bisa lebih baik. Padahal penduduknya banyak yang mengaku tidak beragama. Jadi kalau beragama hanya sekedar ingin nasib baik, bisa kecewa.

Nah sekarang dengan adanya kejadian di Kutai Kartanagara, ada fakta bahwa buatan manusia ternyata bisa menjadi bencana tidak terduga. Untuk itu, apakah kita masih dapat dengan mudah mengatakan bahwa itu adalah nasib ?

Jika demikian adanya, malang nian rakyat negeri ini.

Buatan manusia, ini yang ingin saya ulas lebih lanjut.

Manusia siapa yang pertama-tama bertanggung-jawab sampai bisa menghasilkan bencana sebegitu dahyat seperti di atas itu. Apakah itu adalah tanggung jawab si kriminal jahat, atau koruptor yang sekarang ini dikejar-kejar KPK. Jelas tidak bukan.

Bayangkan saja, yang menjadi korban, yang mati tentunya tidak sedikit. Profesi yang digeluti manusia yang bisa menghasilkan kondisi seperti itu hanyalah tentara dalam peperangan. Kalau selain tentara, siapa hayo ?

Insinyur !

Percayakah anda bahwa profesi insinyur bisa menjadi sumber bencana dahyat. Jika demikian maka insinyur tidak jauh juga dari kata keselamatan, tidak berbeda dibanding profesi dokter, yaitu mengusahakan keselamatan.

Dengan melihat bencana Kukar, selain jatuh korban yang banyak, juga mempengaruhi ekonomi daerah tempat bencana itu terjadi maka terlihatlah bagaimana pentingnya kompetensi insinyur yang terlibat pada bangunan tersebut. Insinyur juga suatu profesi mulia sebagaimana dokter, yaitu mengusahakan keselamatan jiwa, juga keselamatan perekonomian suatu daerah.

Tetapi apakah penghargaan yang diterimanya juga sama seperti halnya dokter. He, he ini tentu merupakan suatu pertanyaan menarik.

Yang jelas, jika anda hanya berkutat pada ke ilmuan teknik, master dalam menguasai perilaku struktur, juga pengetahuan tentang tegangan dan regangan pada bahannya, kemudian bekerjanya hanya sebagai pegawai bukan pimpinan konsultan rekayasa (yang tidak tampil ke depan), dapat dipastikan tidak terlalu membanggakan (gajinya). Kecuali jika anda membuka sendiri konsultan rekayasa tersebut atau menjadi pimpinannya (berani tampil ke depan). Tentunya untuk itu anda harus tahu aspek bisnis atau manajerialnya. Jika tidak, maka profesi insinyur jelas kalah jauh daripada dokter spesialis. Itulah mengapa para insinyur kita lebih suka bekerja di perusahaan kontraktor, yang sekedar mengerjakan gambar yang dibuat insinyur dari konsultan rekayasa, dan berfokus mengatur sumber daya manusia dan alat serta manajemennya untuk segera menyelesaikan proyek dan mendapatkan keuntungan materi yang besar, tanpa harus menguasai keilmuan teknik yang mendalam, yang susah, tetapi duitnya kecil.

Memangnya ilmunya itu penting sekali pak.

Nah disinilah bedanya. Ilmu teknik sipil, atau lebih spesifiknya ilmu struktur baru kelihatan begitu pentingnya jika telah terjadi bencana.  Jika tidak, maka hasil ilmu struktur tadi bisa-bisa dianggapnya sekedar jumlah gambar yang dihasilkan. Nggak terlalu berharga. Karena itulah maka orang yang sudah terjun mendalami ilmu struktur tersebut, dan ketika dia punya potensi, ingin kenaikan karir maka yang didalami lagi bukan ilmu tersebut, tetapi lebih ke ilmu manajemen-nya sehingga harapannya bisa memimpin bisnis perusahaannya. Jadi kalau fokusnya sudah bercabang, bagaimana bisa lebih baik. Memang sih, ada yang menonjol, satu atau dua.

Bahkan dapat dikatakan pula bahwa ahli struktur kalah populer dibanding arsitek. Maklum, ahli struktur bekerja mendukung ide arsitek, itu kalau di gedung. Kalau di jembatan bahkan tidak ketahuan siapa ahli struktur yang utama.   Bandingkan, seorang arsitek bisa dengan bangga mencantumkan nama di depan desain bangunannya, mana ada ahli struktur yang seperti itu. Kondisi seperti ini jelas akan membedakan pada hasil desainnya. Masih nggak mengerti dengan uraian saya tersebut. Baik, kalau begitu bayangkan saja suatu lukisan, yang satu dilukis oleh Affandi,yang satunya oleh pelukis kampung. Apa yang anda rasakan dengan lukisan tersebut. Tanpa anda harus melihat lukisan itu sendiri, tentu anda akan tahu lukisan mana yang harus anda lihat terlebih dahulu. Betul khan.

Dalam kondisi seperti itu, maka seorang arsitek jelas mempunyai kebanggaan lebih daripada seorang ahli struktur, bagaimanapun karyanya dapat dengan mudah di apresiasi oleh masyarakat awam. Bagaimana dengan ahli struktur. Pasti orang awam akan sulit memahaminya. Baru paham jika ada kejadian besar. Tul khan. Itu kondisi umum di Indonesia.

Karena kerja insinyur dianggapnya saja sebagai tukang gambar (dihitung bobotnya berdasarkan jumlah gambar yang dibuat) dan juga fee yang diterima tidak terlalu besar (relatif terhadap nilai proyek secara keseluruhan), bahkan kontraktor besar berani menerima proyek dan menggratiskan biaya perencanaan, maka para insinyur juga punya strategi, yaitu kerja secukupnya saja, yang penting saja yang dihitung dan langsung digambar. Kira-kira kayak tukang jahit kodian gitulah, nggak usah pusing-pusing gambar modenya, contoh saja yang ada, jika belum ada tembak ditempat sajalah. Ngawur toh nggak ketahuan.

Insinyur indonesia biasanya lemah di proses detailingnya. Itu terjadi karena perhitungan perencanaan elemen struktur dapat dengan mudah dikerjakan oleh komputer, sedangkan detail hubungan antara elemen struktur karena sifatnya non-standar maka biasanya tidak banyak program komputer yang menyelesaikannya.

Ah masa pak Wir.

Coba saja sendiri lihat, jembatan Kukar itu yang gagal khan bukan element stuktur utamanya, tetapi detail sambungannya khan. Nggak usah begitu (selain jembatan Kukar),  saya juga menemukan proses detailing yang ngawur dilaksanakan. Ini contohnya.

Gambar 1. Detailing yang dipertanyakan kinerjanya

Gambar 1. di atas adalah interprestasi gaya-gaya yang bekerja pada suatu detail pembengkokan tulangan balok-perangkai  pada dinding berangkai. Itu mungkin satu-satunya detail yang ada di dunia ini lho. Itu sudah pernah saya bahas di salah satu tulisan di blog ini. Jangan bayangkan bahwa itu melalui penelitian yang  intensif, bisa-bisa insinyur perencananya tidak paham falsafah detail yang dimaksud, sehingga dapat dengan mudah melakukan modifikasi seperti itu. Maklum, “baju yang dijahit‘ terlalu banyak, sampai-sampai tidak sempat memikirkan bentuknya. Iya khan.

Padahal kalau mau jujur, perancangan detail pada desain struktur itu adalah masalah yang paling sulit dan beresiko.  Selama ini memang tidak menjadi masalah, maklum ilmu yang digunakan untuk mengatasi hal tersebut adalah ilmu nukang, yaitu meniru saja dari yang sudah ada. Syukurlah, banyak kasus memang dapat diselesaikan dengan mudah dengan cara meniru dari kasus yang sama yang telah sukses dikerjakan sebelumnya. Jika ketemu desain yang baru, maka baru ketahuan bahwa menguasai ilmu detailing itu adalah level tertinggi, dan biasanya hanya insinyur-insinyur “senior” yang bisa membahasnya. Kalau baru punya ilmu menjalankan program SAP2000 atau ETABS, wah bisa-bisa nggak dong sama sekali. Maklum, dalam program SAP2000 dan ETABS setiap hubungan element struktur khan dibuat smooth, baik yang monolith atau ada yang di release. Gampang memodelkan sambungan dalam komputer, tetapi tidak gampang mewujudkannya dalam kasus nyata. Detailnya itu lho.

Kondisi itu berbeda dengan di barat. Profesi ahli struktur di sana terkesan lebih terhormat, mereka lebih berani tampil menunjukkan kerjanya, dan masyarakat menghargainya.  Kalau di sini, mana ahli struktur yang suka tampil untuk menunjukkan karya dan ide-idenya, bisa dihitung jari, jumlahnya kalah jauh dengan profesi arsitek. Lihat saja sampai-sampai ada nama arsitek yang jadi iklan.

Untuk menunjukkan ahli struktur yang menjelaskan kerjanya, saya akan kutip dari karyanya prof. Jorg Schlaich (The Art of Structural Engineering – The Work of Jorg Schlaich and his Team, Edition Axel Menges), ahli struktur dari Uni-Stuttgart, yang juga promotor dari senior saya, yaitu Prof. Harianto Hardjasaputra (UPH).  Proyek yang ditangani adalah Munich Olympich Stadium sekitar tahun 1972. Waktu itu prof Jorg Schlaich membantu seniornya Prof Fritz Leonhardt dan Prof Frei Otto. Ini struktur yang dimaksud.

Gambar 2. Munich Olympic Stadium, Germany

Gambar 2 adalah struktur yang aku maksud, yaitu struktur tenda pada stadium Munich Olympic, yang dapat menaungi ribuan penonton. Dapat dibayangkan jika sedang ada permainan bola disana, dan atapnya roboh, seperti apa itu akibatnya. Jadi meskipun itu bukan jembatan tetapi tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh kecerobohan perencana struktur atap tersebut tentu tidak bisa disepelekan. Mau lihat detail atapnya seperti apa. Ini lihat :

Gambar 3. Struktur tenda atap Munich Olympic Stadium

Bisa dibayangkan sekarang tentunya pada Gambar 3, bagaimana besarnya atap tersebut. Jika anda sedang asyik nonton bola, lalu atap tiba-tiba ambruk. Apa yang terjadi. Jadi bisa mengetahui bagaimana proses perencanaan struktur atap tersebut khususnya detail-detailnya tentu sesuatu yang menarik bukan.

Jika di sini, yang namanya perencanaan struktur umumnya akan terkait dengan pekerjaan pemodelan struktur di depan komputer, lalu menulis di lembar kerja proses-proses yang perlu dihitung, sedikit corat-coret sini, mungkin ditambah diskusi (jika ada yang dianggap ahli yang lain), lalu hasilnya dituangkan di gambar. Proses seperti inilah yang orang awam melihatnya sebagai jumlah gambar yang berhasil dibuat. Untuk proses pekerjaan yang lain umumnya nggak ada, maklum fee yang diterima untuk perencanaan seperti itu hanya habis untuk membayar insinyur, anggaran yang lain umumnya tidak ada, riset misalnya. Coba bandingkan dengan tahapan perencanaan yang dibuat pada stadium di atas. Lihat ini.

Gambar 4. Maket perencanaan kompleks stadium Munich

Kalau maket perencanaan seperti di atas kelihatannya masih menjadi andalan para arsitek, khususnya untuk mendapatkan persetujuan dari owner tentang proyeknya. Tapi dalam proyek di atas  maket seperti itu digunakan untuk mempelajari konsep desain yang dibuat, perhatikan model atap tenda yang realistis. Apakah strategi seperti itu juga digunakan oleh engineer kita untuk memvisualisasikan idenya. Tidak heran, fee-nya nggak nutup.🙂

Ternyata maket di atas tidak cukup, dibikin lebih detail lagi tentang rencana atap tenda, dalam bentuk model. Lihat.

Gambar 5. Struktur tenda stadium dalam bentuk model

Coba lihat, bagaimana usaha-usaha para insinyur di Jerman dalam mengusahakan suatu struktur yang baru (tahun 1972 lho) yang mana belum ada komputer secanggih jaman sekarang. Saya sangat yakin sekali, insinyur kita tidak akan familiar dengan model eksperimen seperti di atas. Jadi selain di atas kertas, di coba buat model skala kecil dan di uji eksperimen. Belajar dari pengalaman saya dulu ketika jadi engineer di konsultan, rasa-rasanya engineer kita ini bisanya hanya analitik, tidak terbiasa dengan penyelesaian secara eksperimen seperti di atas. Umumnya sudah merasa jago jika dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lapangan, dianggapnya paham baik teori maupun praktek. Kondisi ini yang umumnya membuat insinyur-insinyur kita merasa pede, apalagi ditunjang bukti sudah menyelesaikan beberapa proyek. Padahal kerjanya adalah tukang insinyur, ibarat sudah bisa membuat berpuluh-puluh baju, tapi bukan ahli mode busana, hanya sekedar tukang jahit baju.

Gambar 6. Struktur tenda di bagian lain

Keuntungan penggunaan skala model seperti di atas adalah mengembangkan sisi “rasa” dalam proses desain. Kalau hanya mengandalkan hitungan di atas kertas umumnya sisi “rasa” tersebut tidak berkembang. Sisi “rasa” dalam proses perencanaan struktur adalah penting, maklum kita ini khan disebut insinyur bukan saintis. Ada sisi seni, tidak sekedar hasil perhitungan rumus matematik atau analisa numerik saja.

Ok kita berlanjut, mari kita lihat proses pelaksanaan atap tenda yang memperlihatkan bagaimana ukuran struktur dan pekerjanya. Ini terdokumentasi secara baik oleh prof Jorg Schlaich. Tentang hal itu apakah kita punya dokumentasi yang baik, yang terakses secara mudah oleh publik.

Gambar 7. Pelaksanaan tenda di bagian pinggir

Gambar 8. Detail sambungan di bagian pinggir

Selanjutnya kita melihat bagaimana sambungan kabel di bagian pinggir di atas direncanakan dan dibuat. Ternyata detail sambungan kabel di bagian pinggir dipikirkan secara matang. Tentang hal ini tentu ada yang akan berdebat, bahwa untuk kitapun juga demikian, yaitu pastilah akan dipikirkan secara matang. Hanya saja sarana berpikir matang itu tentu lain, ada harga ada rupa, dengan fee yang terbatas maka tentu cara mikirnya akan berbeda, bisa-bisa memikirnya dengan cara semedi (merenung menunggu insting dari langit). Maklum yang namanya riset di negeri ini khan dikecilkan artinya, nggak penting. Tentang hal itu maka politik adalah yang teratas. Nggak percaya, mana ada periset bisa pakai mobil impor mewah, kalau politikus khan umum. Itu menunjukkan kesejahteraan materi politikus lebih tinggi.🙂

Adapun di sana, Jerman tentunya, riset telah menjadi bagian hidup para insinyurnya, dihargai dan tentunya ada dukungan dana. Ini yang paling penting. Kalau hanya sekedar diberi penghargaan seperti jaman dulu, yaitu guru tanpa tanda jasa, wah gawat. Syukur sekarang guru (dan dosen) sudah mulai diperhatikan. Itu lho guru / dosen bersertifikasi. Maklum kalau nulis dengan perut kenyang, sekolah anak tercukupi, maka tentunya pikiran yang dapat difokuskan akan menghasilkan karya yang baik. Betul nggak. Sedangkan jika pikiran masih terkungkung untuk bagaimana mencari tambahan penghasilan, wah isi-isinya khan tidak jauh dari “ngobyek” yang kadang tidak terkait dengan ilmu yang digelutinya. Betul nggak.

Eh koq nglantur, mari kembali ke perencanaan sambungan ujung. Dengan kebiasaan riset, mencoba memecahkan masalah dengan baik, maka pada perencanaan sambungan itupun demikian pula. Dalam perkembangan proyek tersebut ditemukan beberapa alternatif sambungan yang diajukan, yang bahkan telah dilakukan uji eksperimen. Ini gambarnya.

Gambar 9. Berbagai versi desain sambungan yang diteliti untuk digunakan

Dari berbagai alternatif desain akhirnya dapat dipilih yang terbaik untuk digunakan dalam proyek ini, sebagai berikut:

Gambar 10. Sambungan pinggir yang digunakan

Apakah sampai disini pesan pentingnya proses detailing dalam rekayasa struktur sudah terpenuhi. Pada porsi tertentu sudah bisa, yaitu bahwa detailing adalah sesuatu yang tidak sederhana tetapi sangat penting, sampai-sampai dibuat beberapa alternatif untuk diketahui yang paling baik. Itu khan memakan waktu, kalau fee perencanaan kecil, apa ya mau proses tersebut dikerjakan.

Proses yang dimaksud adalah tidak sekedar membuat atau menggambar detail sambungan seperti di atas. Kalau hanya itu, maka tukang-tukang logam di Indonesia sudah pintar-pintar. Proses perencanaan detail yang dimaksud mungkin dapat diringkas dari dokumentasi gambar berikut, yang saya yakin seorang tukang tidak bisa melaksanakan, harus insinyur yang mempunyai pengalaman riset yang baik. Perhatikan para perencana stadium Munich itu juga sekaligus akademisi andal lho. Lihat berikut.

Gambar 11. The cable-saddle fatigue testing machine at the Zurich ETH

Tidak tanggung-tanggung, meskipun detail sambungan yang dimaksud adalah untuk struktur bangunan yang tidak menerima beban bergerak seperti halnya di jembatan, tetapi untuk memastikan keandalannya maka dilakukan uji fatik sebagaimana terlihat pada gambar di atas. Maklum perilaku fatik belum dapat dianalisis secara tuntas dengan cara analitis biasa, jadi uji eksperimen sebagai jawabannya. Uji fatik biasanya penting pada struktur jembatan, tetapi jarang diterapkan pada struktur bangunan.

Gambar 12. A socket instrumented for testing

Pada tahun 70-an metode FEA (Finite Element Analysis) belum umum dipakai, maklum metode tersebut memerlukan teknologi komputer pendukung. Oleh karena itu untuk analysis tegangan dan regangan pada element  solid digunakan cara eksperimental. Kalau sekarang sudah tersedia software yang bagus, yang bahkan jika memakainya pinter dapat bersaing dengan cara di atas. Software yang dimaksud misalnya adalah Abaqus, Adina dan sebagainya.

Gambar 13. The edge cable clamp prototype instrumented for testing

Dari ke tiga gambar di atas, rasanya sudah dapat diperoleh gambaran bahwa merencanakan detailing sambungan kabel adalah sesuatu yang tidak sederhana. Level tukang jelas tidak bisa mengatasi sendiri, di sinilah level insinyur yang berpengalaman riset berkontribusi bagi pembangunan proyek stadium Munich tersebut yang sampai sekarang yaitu lebih dari 40 tahun masih berdiri dengan megah. Maklum ada beberapa alternatif yang direncanakan seperti di atas, dan dapat dipilih satu yang terbaik untuk dipakai.

Bandingkan dengan jembatan kebanggaan negeri ini, Kukar, baru 10 tahun dipakai, sudah begitu dahyat akhirnya. Coba tanyakan, apakah detailing kabel yang sekarang hancur tersebut juga melalui proses sebagaimana yang di Jerman itu. Selanjutnya apakah kita masih saja bisa berteriak, bahwa insinyur kita juga tidak kalah dari mereka. Jujur sajalah, karena yang saya uraikan itu adalah kegiatan insinyur Jerman tahun 70-an.

Semoga tulisan kecil ini menggugah, bahwa riset di bidang rekayasa struktur di Indonesia perlu digalakkan. Untuk itu penulis siap berpartisipasi mendukung bagi kemajuan negeri ini.

Salam sejahtera bagi kita semua.

27 thoughts on “detailing di rekayasa struktur

  1. Terima kasih mas Wir, sangat menarik uraiannya. Sambungan bukan perkara kecil yaaa, yang disepelekan menjadi penentu dan semua hal perlu pengkajian mendalam dan detail, bukan sedekar copy paste……dan kekuatan suatu rantai berada di mata rantai yang paling lemah.

    Mohon ijin share….

    Suka

  2. Sangat setuju, Pak Wir. (Kebanyakan) Insinyur di Indonesia memang hanya analisa sebatas di depan komputer. Tidak pada permodelan.

    Suka

  3. terimakasih Pak, tulisannya sangat membuka pikiran. Melihat kenyataan ini, bagaimana nasib bangunan-bangunan lainnya di Indonesia yg ‘pasti’ banyak penyimpangan dalam realisasi pembuatannya?? apakah kita hanya menunggu bangunan-bangunan tsb hancur dan menimbulkan banyak korban??

    Suka

  4. Tulisan yang menarik pak wir, membuka mata kita semua tentang salah satu permasalahan pokok di negeri ini, khususnya di lingkup engineer. Saya melihat pada akarnya ini memang persoalan budaya bangsa kita, di mana kita lebih terbiasa dengan budaya copas (copy paste), tidak terbiasa dengan budaya riset. Secara umum ini adalah hal yang sudah lumrah, Jerman mewakili dunia sekuler barat yang lebih rasionalis (perdebatan rasional dan ilmiah begitu penting), Indonesia mewakili dunia materialisme timur (perdebatan keuntungan membuat yang lain jadi tidak penting). Di samping juga adanya isu-isu lain, seperti tentang keadaan ekonomi di negara tersebut, apakah sudah menjamin kesejahteraan pekerjanya pada titik tertentu, sehingga kemudian bisa fokus pada hal-hal yang inti dan memang sudah sepatutnya, yaitu pertanggungjawaban ilmiah, praktik, dan moral.

    Pertanyaan saya pak, kalau memang solusinya adalah membudayakan riset pada insinyur-insinyur kita, yang mana adalah urusan yang bakal panjang, bagaimana kita memulainya? ada usul pak?

    Suka

    • Salah satu tanggung jawab akademisi adalah riset. Itu sudah tertulis dalam undang-undang, apalagi yang punya sertifikasi pasti akan mengetahuinya. Sedangkan bagi insinyur tidak ada pernyataan lugas yang seperti itu. Jadi diharapkan para akademisinya yang menjadi leader dibidang itu, di Jerman juga begitu. Lihat saja Prof Firtz Leonhardt, Prof. Frei Otto, Prof Schalich, semuanya itu berpijak di dunia akademisi. Karena risetnya memang bermutu, industri mereka mengakui dan memakainya. Terjadi win-win-solution. Di Indonesia sebenarnya pada taraf tertentu juga sudah mulai terjadi, lihat saja Prof. Wiratman, Prof. Sahari Besari dan juga Dr. FX Supartono, basic mereka juga akademisi.

      Tetapi memang level riset di sini belum bisa seperti di negara barat. Mereka mudah mendapatkan dana riset yang besar untuk pengembangan keilmuannya. Sebagai bayangan saja, saat ini dengan dukungan Hibah Bersaing saya ada dana puluhan juta untuk riset, tetapi ketika diaplikasikan ternyata hanya cukup untuk riset yang terbatas. Riset saya tentang baja. Bayangkan saja, sudah puluhan juta, itupun terbatas, maklum material baja relatif mahal. Itupun dapatnya setelah mengalahkan puluhan atau mungkin ratusan kandidat lain. Jadi memang untuk melakukan riset yang besar di sini nggak mudah.😦

      Suka

  5. Kepress dan Permen tentang Biaya Konsultant juga harus dibenahi pak
    Dasar FEE hanya berdasarkan kira kira yg nilainya 1 % – 5 % saja ,tetapi tidak mengacu dari kesulitan design. Itu pun masih dipotong PPN, Pph, dana siluman dll. Artinya dari Menteri PU juga harus mikir tetang hal ini

    Suka

  6. Numpang tanya pak Wir, kalau untuk proyek bangunan strategis (mis jembatan untuk jalan raya, mall, apartement dll) apakah biasanya dilakukan proses verifikasi atau audit oleh konsultan pemeriksa? Atau hanya berdasarkan internal verifikasi dari konsultan perencana saja? Mungkin ada baiknya ini dijadikan peraturan perundang2an, bahwa perencanaan struktur2 strategis harus melalui proses verifikasi/audit independen dari konsultan auditor di luar konsultan perencana. Bagaimana tanggapan bapak? Terima kasih

    Suka

    • Setahu saya, di proyek jembatan Suramadu telah dilibatkan juga konsultan jembatan terkenal COWI Group dari Denmark yang bertugas sebagai konsultan supervisi khusus untuk bagian jembatan Cable Stayed. Adapun perencananya di bagian itu adalah dari Cina.

      Kecuali itu di proyek Suramadu, saya melihat dibentuk grup pakar nasional yang anggotanya terdiri dari para akademisi juga dilibatkan, tetapi nggak tahu sejauh mana keterlibatan yang dimaksud. Kalau Prof. Mansyur (ITB) bahkan dengan tuntas dapat menjelaskan proses pembuatan sistem pondasi yang digunakan, untuk yang lain saya koq belum tahu.

      Ada yang lebih tahu informasinya, silahkan ditambahkan.

      Suka

  7. Untuk jembatan yang besar struktur organisasinya, jangan takut untuk jembatan arsiteknya andilnya hampir ngak ada🙂

    Owner: Owner di wakili oleh Resident Engineer (RE) (atau Structure Repesentative). Fungsi Resident Engineer adalah untuk mengawasi pelaksanaan proyek agar bisa dilaksanakan sesuai: Contract Plans dan Special Provisions, Technical provisions dari project itu. Resident engineer harus meng-approve semua technical submittals yang di buat oleh kontraktor. kalau ada RFI (request for Informations) dari kontraktor, resident engineer harus menjawab dengan bantuan dari Designer. Resident engineer harus membuat semua dokumentasi pelaksaan detail pekerjaan. Jadi mestinya kalau ada peristiwa jembatan ambruk, kita bisa melihat records, diaries, atau dokumentasi dari pelaksaan proyek itu. Misalnya kalau ada yang bilang anchornya bergeser, mungkin bisa dilihat dari testing atau hal hal yang lain pada waktu anchor itu di construct.

    Resident engineer di bantu oleh beberapa ahli:

    * METS (Material and Testing); Fungsi METS ini mereka yang akan mengecek misalnya: Cast Iron untuk membuat suspender cable, main cable, high strength bolts, prestressing strands, welding biasanya orang orang ini berlatar belakang metalurgi. METS juga tugasnya mengecek kuat beton, high strength rods, bridge bearings dll. semua material harus di sampling dan harus lulus uji uji lab. Setelah METS mengapprove materials baru bisa di release for construction.

    *Ahli Falsework atau ahli temporary structures. orang orang ini yang akan mengevaluasi submittal temporary works yang akan dipakai pada proyek.

    * Ahli Geometry Control. geometry sangat penting pada pembangunan jembatan, Misalnya Main cable sebuah suspension harus berbentuk catenary, atau jembatan yang memiliki horizontal curve, vertical curve. karena layaknya jalan hal ini tidak bisa dihindari. Misalnya kalau kita bikin segmental bridge, 3-d geometrynya harus sempurna supaya segment segmentnya bisa ketemu.

    *Assistant Resident engineers adalah orang lapangan yang mengawas pelaksanaan, pengecoran, prestressing, survey, dokumentasi dilapangan, keselamatan kerja, instalasi baut mutu tinggi, welding.

    Resident engineer juga berfungsi untuk membayar kontraktor, membuat change order, mengawasi schedule proyek.

    Semua hal hal yang berubah dari Contract Plans harus di setujui oleh Desinger dan RE dan dibuat ke dalam as built

    Suka

  8. Owner mempekerjakan Desaigner dan Independent Checker. Kalau yang suramadu mungkin Designernya (China) dan Independent Checkernya (COWI).

    Designer membuat semua rancangan jembatan, lalu Contract Plansnya diberikan kepada Independent checker. Kedua team ini akan membandingkan hasil mereka dan keduanya harus yakin bahwa structure itu aman. Tahap desain biasanya mulai dari pemilihan structure, 30% submittal, 60% submittal, final submittal. jadi kedua tim ini berjalan bersama (atau Desaigner duluan lalu diikuti oleh Independent checker). Kedua tim ini bertanggung jawab atas desain jembatan tersebut. Lalu di kasih Professional Engineer Stamp. kalau anda yang bubuhkan tanda tangan anda, maka bersiaplah dipengadilan kalau jembatan anda bermasalah.

    Designer akan membantu Resident Engineer dalam pelaksanaan proyek itu dalam menjawab pertanyaan pertanyaan kontraktor. Designer harus mengapprove semua perubahan yang diajukan kontraktor atau owner.

    Designer juga harus membuat Special provision atau/dan technical provision dari proyek itu.

    Suka

  9. Kontraktor / Pelaksana:

    Kontraktor harus membuat sesuai dengan Contract Plans, special provisions, technical provisions. Kontraktor harus submit cara cara mereka untuk melakukan temporary works, shoring, guying, mock up, sebelum kontraktor melaksanakan dilapangan. Kontraktor harus mengkoordinasi semua sub kontraktor yang terlibat.

    Kontraktor dan resident engineer harus ada komunikasi yang baik untuk menyelesaikan masalah masalah yang timbul dilapangan.

    Kontraktor harus memberikan schedule proyek, menanyakan kalau ada hal hal yang konflict di contract plan, menanyakan kalau ada contract plan yang kurang jelas ke Resident engineer.

    Kontraktor dan vendor yang mengsupply material harus di berikan kepada METS untuk di uji. setelah lulus uji baru material material boleh digunakan.

    Maaf pak Wir, terlalu banyak commentnya

    Suka

    • Bagus pak Sanny, pengalaman anda di luar perlu di sharing ke kita-kita di sini. Nasehat anda itu mahal lho, jadi kalau di blog ini anda berpanjang-panjang maka jadi “berharga juga” ini blog.🙂

      Suka

  10. applaus buat pak Wir !

    barangkali tulisan ini dapat menyadarkan arsitek2 kita di indonesia, bahwa kalau merancang bangungan harus berdasarkan logika struktur, faktor geografi( daerah rawan gempa atau tidak) dan faktor lingkungan + budaya setempat ! jadi jangan hanya bentuk2 yang indah2 dan spektakuler saja yang jadi pertimbangan!

    jadi saya sarankan pada pak Wir untuk terus menulis dan mengkritik karya2 arsitek Indonesia terutama, agar karya2 tsb dapat dipertanggung jawabkan dari segi keamanannya !

    Suka

  11. Ini saya kutip dari website COWI

    Suramadu Bridge, Indonesia
    Total length: 5,000 m
    Main span: 434 m
    To be completed: 2009
    Client: P.T. VIrama Karya
    Services by COWI: Carrying out independent design check and consultancy for cable-stayed bridge and approach bridges

    Suka

  12. Setahu saya kalau jembatan itu memakai dana Bank international, seperti Asian Development Bank, maka mereka mengharuskan untuk mengikuti “standard international”, karena mereka agak “ragu” kemampuan orang local. Ini kejadian di Bangladesh dalam pembangunan Padma Bridge. http://en.wikipedia.org/wiki/Padma_Bridge
    ADB mau harus ada yang kayak COWI seperti di suramadu. Sebenarnya mungkin bukan kurang mampu, tapi mungkin lebih kurang pengalaman. ya kita harus akui sudah berapa banyak jembatan yang dibuat orang sendiri. Dulu saya pernah ketemu orang perancis, eh ternyata dia yang bikin geometry controlnya jembatan Balerang di Batam.

    Suka

  13. Pak Wir, super sekali tulisannya…, sangat inspiratif mudah2an engineer2 muda kita bisa melakukan seperti ini dan saya yakin pasti bisa kan sudah banyak peneiliti2 orang Indonesia yang berkarya di luar namun mereka sebagian besar belum mau kembali ke INdonesia, karena pemerintah kita memang belum sepenuhnya mendukung untuk kegiatan riset mudah2an dengan adanya tragedi jembatan kukar ini segera sadar betapa pentingnya riset teknologi, seperti uji model yang dilakukan pada pembuatan Stadium Munich ini….semoga.

    TETAP SEMANGAT

    Wassalam,
    Tedi

    Suka

  14. Pak wir kalo misalkan sambungan atau pun suspended cablenya terkena ledakan bom sekelas bom kuningan atau diatasnya gmana tuh, Pertanyaannya sampe sejauh mana SF untuk jembatan cable strayed ini,.. Maaf pa’ soalnya dulu gak belajar akibat ledakan, Yang ada akibat gempa, gaya angin dan seterusnya. Gak ada akibat teroris .,🙂

    Suka

  15. Artikel yg sangat bagus pak Wir….sangat memberi masukan untuk engineer2 yg msh berkembang. Memang detailing adalah hal yg sangat penting. Saya ada beberapa tanggapan juga, Engineer2 muda yg fresh graduate kebanyakan saat ini, dalam mengerjakan project cenderung spt hal nya mengerjakan tugas kuliah. Dimana tugas kuliah dengan benar 80% saja sudah bisa memberikan nilai yang memuaskan. Sedangkan project harus 100 atau bahkan 110% benar. Untuk mengantisipasi hal ini maka diperlukan senior2 yg sudah banyak pengalaman dan sangat menguasai basic harus membimbing yg muda2, dan lebih baik dari akademisi juga. Terkadang definisi senior dalam suatu dunia konsultan adalah org yg sudah ada lebih dulu dari pada org yg baru.
    Hal yg kedua..yg sangat disayangkan untuk org yg berprofesi designer, adalah jadwal project yg sangat ketat. Dimana owner2 berpendapat sudah banyak template tinggal copy aja….padahal banyak juga template yg harus direview kembali…hal lainnya keinginan owner yg serba buru2 juga didukung oleh manajer project dikonsultan perencananya..apalagi kalau manajernya tidak mengerti struktur….yg ada hanya akan mem push para engineer, sampai lembur2…dari pagi ketermu pagi lagi…yg sudah pasti dalam kelelahan tingkat tinggi ini probabilitas kesalahan bisa lebih dari 50%. Mungkin kedepannya selain dari perlunya peningkatan penguasaan thdp ilmu pengetahuan dalam bidang struktur bagi engineer, maka diperlukan juga pengarahan bagi semua org yg terlibat dalam dunia konstruksi…baik para engineer, owner, project manajer, dan kontraktor….bahwa tidak bisa mengabaikan permasalahan hanya karena sudah ada template.

    Suka

  16. Sebelumnya salam kenal Pak Wir,

    Selama ini saya hanya mengikuti tulisan2 di blog Bapak ini,
    Tulisan tentang detailing yang sangat menarik Pak, nama saya Heru, saat ini saya bekerja di sebuah konsultan spesialis concrete dan steel detailing untuk proyek2 Infrastructure di Belanda.

    Apa yang Bapak ulas disini menarik, karena itulah kenyataan yang terjadi dengan para insinyur kita di Indonesia, mahir menguunakan Structural software tapi tidak bisa menuangkannya ke dalam gambar detail yang benar. Bagi para insinyur kita S1 Sipil, kerjaan utama dalam Analisis struktur dan buat laporan (di depan komputer terus), abis itu mo detail gambarnya kayak apa ya tidak penting…. Itulah yang harus kita ubah… Sense & Art of engineering akan semakin tajam jika kita fighting dalam detail gambar (karena semua aspek harus benar2 dipikirkan, tidak hanya teori dalam analysis struktur saja).

    Salam kenal ya Pak…….

    Suka

  17. Artikel yg bermanfaat, Pak Wir..
    saya bukan Engineer pak, cuman tukang nggambar. kalo udah bicara detail gambar memang agak komplek ya pak. apalagi kalo pada gambar2 struktur baja.
    terkadang malah kebalik, si Engineer malah nyuruh gambarin detail joint nya dulu trs nanti biar di sket/modif dikit2 ama engineer. (apa males nye ket ya?ahihihi)..
    kalau bt gambar detailing, sy lebih sng detailing pada Bangunan Str. Baja…

    thanks’..

    Suka

  18. Ping balik: rekayasa pondasi lanjut « rekayasapondasilanjutnarotama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s