uts – kerja praktek di uph


Istilah “Kerja Praktek” banyak dikenal dan dilakukan para mahasiswa diberbagai bidang kependidikan. Perhotelan misalnya, disitu dikonotasikan bahwa mahasiswa akan melaksanakan praktek kerja di luar kelas, karena yang dipelajari adalah masalah perhotelan maka biasanya di luar kelas itu berupa kegiatan di hotel atau usaha wisata lainnya. Untuk mahasiswa di jurusan teknologi pangan, maka mahasiswanya akan praktek kerja di industri makanan atau semacamnya, bisa di proses pelaksanaannya (pabrik) atau juga di bidang riset (laboratorium) membantu mengevaluasi produk makanan atau membuat formulasinya.

Menurut istriku, yang ahli teknologi pangan, senang sekali dengan adanya mahasiswa yang kerja praktek. Maklum, istriku bertanggung jawab di lembaga R&D perusahaan pangan yang meneliti tentang produk pangan yang akan dibuatnya. Jadi jika ada mahasiswa yang kerja praktek di kantornya, maka mereka dapat diarahkan untuk sekaligus membantu pekerjaan yang sekaligus memberinya pengalaman nyata di bidangnya. Bahkan, adanya kewajiban mahasiswa menyusun laporan kerja praktek, adalah sesuatu yang diharapkan. Maklum ada yang membuatkan laporan tertulis tentang kegiatan riset yang dilakukannya tersebut. Win-win begitulah.

Itulah yang umum diketahui tentang kerja praktek.

Dalam kenyataannya, yang dimaksud Kerja Praktek bisa berbeda antara satu institusi pendidikan dengan institusi pendidikan lainnya terkait dengan detail pelaksanaannya. Adapun kesamaannya adalah bahwa mahasiswa akan melakukan hal itu di luar kelas, bahkan di luar kampus tempat belajarnya. Itu saja.

Kerja Praktek juga diadakan di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan, UPH. Adapun pelaksanaannya dianggap sama seperti mata kuliah – mata kuliah lainnya, meskipun sebenarnya tidak ada materi perkuliahan yang diberikan. Bobot sks (satuan kredit semeter) mata kuliah Kerja Praktek adalah 2 sks, dan dilaksanakan dalam satu semester aktif. Jadi seperti mata kuliah lainnya, mata kuliah Kerja Praktek di Jurusan Teknik Sipil UPH juga mengenal adanya UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester).

Mahasiswa yang dapat mengambil mata kuliah tersebut, disyaratkan harus sudah menempuh mata kuliah-mata kuliah lainnya di Jurusan Teknik Sipil dan minimal telah lulus 100 sks. Biasanya mahasiswa yang duduk di semester 6 atau 7.

Ide diadakannya mata kuliah Kerja Praktek adalah “agar mahasiswa mempunyai pengalaman terlibat langsung dalam suatu proyek teknik sipil“. Sehingga dapat melengkapi pengetahuan teoritis yang didapatkannya di bangku perkuliahan.

Kendala bagi kerja praktek mahasiswa teknik sipil.

Kerja praktek yang dilakukan mahasiswa perhotelan tentu tidak bisa disamakan dengan kerja praktek yang dilakukan mahasiswa teknik sipil. Jika mahasiswa perhotelan, yang umumnya telah diajarkan dan dapat menguasai suatu ketrampilan kerja tertentu, maka tentunya dapat dengan mudah mempraktekkannya di tempat “kerja praktek”-nya. Juga mahasiswa teknologi pangan, yang umumnya telah diajarkan ketrampilan analisis kimia di laboratorium, sehingga dapat dengan mudah juga mengaplikasikannya di laboratorium tempat “kerja praktek”-nya.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa teknik sipil. Apakah di tempat kerja prakteknya dapat dimanfaatkan untuk membuat campuran beton, misalnya. Rasanya saya jarang mendengar hal itu (mahasiswa kerja praktek membantu dengan membuat campuran beton). Kalaupun ada, paling-paling mahasiswa diminta untuk membantu menghitung RAB, atau perencanaan bekisting, atau tertib administrasi proyek. Jarang yang lebih dari itu.

Nah disinilah kelemahan atau bisa dibilang kendala bagi mahasiswa teknik sipil (S1) dibanding mahasiswa lain di atas. Maklum, fokus pendidikan mahasiswa teknik sipil (S1) adalah lebih kepada perubahan pola pikir (pengetahuan rekayasa, misalnya perencanaan jembatan) dan bukannya pada ketrampilan membuat jembatan secara fisik.

Selaku pembimbing kerja praktek, maka kondisi di atas tentu menjadi pertimbangan yang penting dalam memberikan pengarahan kepada anak didik tentang bagaimana kerja praktek yang perlu dilakukan oleh mahasiswa teknik sipil. Oleh karena itu skenario yang perlu dilaksanakan oleh mahasiswa dalam melaksanakan kerja praktek di proyek-proyek teknik sipil adalah “menjadi pengamat yang kritis agar dapat memahami dan menjelaskan dengan baik bagaimana proses rekayasa suatu proyek dapat berjalan“.

Jadi dapat terlibat langsung secara fisik pada suatu proses pekerjaan konstruksi (membuat campuran beton, dan semacamnya) bukan tujuan utama dari Kerja Praktek. Maklum, tidak banyak ketrampilan langsung yang dapat diajukan oleh mahasiswa tersebut. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa itu dapat terjadi. Jika ada, tentu itu akan memberi nilai tambah.

Misalnya apa hayo ?

Ya yang seperti tadi itu, seperti misalnya membantu untuk membuat BQ, estimasi biaya yang perlu dibuat kontraktor untuk suatu bagian kecil pekerjaan. Ada juga yang diminta untuk menghitung kekuatan balok untuk bekisting, bahkan ada yang diminta untuk menganalisis data statistik suatu hasil uji yang dilakukan pada proyek tersebut. Yah kira-kira masih berkaitan dengan produk otak, bukan fisik.

Jadi kalau ada hal-hal yang seperti itu, maka itu adalah nilai tambah. Nggak ada itupun, tetapi kalau dapat “memahami dan menjelaskan dengan baik bagaimana proses rekayasa suatu proyek dapat berjalan” adalah hal yang lebih utama dalam kegiatan Kerja Praktek ini.

Jadi apakah dengan begitu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang suatu proyek konstruksi adalah tidak cukup.

Ya jelas dong, di jaman sekarang ini, di era informasi yang terbuka, data kadang dapat dengan mudah dikumpulkan.  Jadi bisa-bisa segepok atau bahkan bergiga-giga data disebutkannya sebagai informasi suatu proyek tertentu.

Itu boleh-boleh saja, tetapi selama itu belum dipahami dan dijelaskan dengan baik oleh mahasiswa melalui Laporan Kerja Praktek-nya maka itu semua tidak berharga.

Kalau begitu yang penting dan utama, yang perlu dikerjakan oleh mahasiswa Kerja Praktek adalah dapat membuat Laporan Kerja Praktek dengan “baik”.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa yang menjadi fokusnya adalah Laporan Kerja Praktek dan bukan pada prakteknya di proyek di lapangan itu sendiri. Pengalaman empiris khan sangat penting.

Betul. Pengalaman empiris adalah suatu yang penting. Jadi bagi pelaksana kerja praktek mahasiswa perhotelan misalnya, bagaimana ketrampilan menata kamar hotel adalah suatu hal empiris yang penting, dan itu yang sebaiknya dinilai. Tapi bagi mahasiswa teknik sipil khan tidak bisa seperti itu. Bagi mahasiswa teknik sipil yang penting khan hanya “dapat memahami dan menjelaskan dengan baik“. Hal itu khan dapat dengan mudah dievaluasi berdasarkan tulisan yang dibuatnya.

Itulah alasan mengapa Kerja Praktek (KP) di jurusan teknik sipil, dosennya tidak berinteraksi langsung dengan proyek yang menjadi tempat KP mahasiswanya. Dosen percaya langsung berdasarkan absensi yang dibuat mahasiswa dan yang disyahkan oleh pejabat proyek tersebut. Jadi bisa saja dalam hal ini, jika mahasiswanya curang, maka bisa saja dia membuat manipulasi absensi. Itu mungkin saja terjadi. Atau bisa saja, tidak ada manipulasi, jujur, tetapi di tempat KP mahasiswa tersebut hanya pasif, tiduran aja, misalnya. Itu bisa saja terjadi, dan mungkin saja ketika UTS dan UAS bisa lulus, asalkan dianya dapat menjelaskan dengan baik, melalui Laporan KP yang dibuatnya atau presentasi yang disajikannya saat UAS.

Suatu kesimpulan yang relatif sederhana, yang seakan-akan tidak memberi apresiasi bagi mahasiswa yang melaksanakan KP dengan pengorbanan fisik dan materiil yang cukup berat ketika melaksanakannya. Jadi dalam hal ini mahasiswa yang melaksanakan KP di tempat yang jauh (KP di proyek jembatan Suramadu) dan yang dekat (di sekitar Jabotabek) dimungkinkan untuk mendapatkan nilai sama-sama A (maksimum). Nggak ada perbedaan.

Jadi kalau begitu apa untungnya dong.

Untungnya di mahasiswanya, pengalaman dan wawasannya lebih luas (tidak kuper). Kemungkinan kedepannya juga akan lebih baik, kenalan lebih banyak, keberaniannya telah diuji, dsb-nya.

O ya, fokus penilaian lebih diarahkan pada produk tulis hasil pengalaman kerja praktek dan bukan pada proses kerja prakteknya hanya dapat dimengerti kebenarannya jika anda memahami quote berikut:

Kemampuan seseorang dalam menuangkan gagasan secara tertulis merupakan representasi dari kualitas intelektualitas-nya, karena melalui tulisan atau karya tulis (dalam bentuk apapun) seseorang mewujudkan pikirannya. Dari tulisan memang akan kelihatan logika berpikir seseorang. Dengan menulis, seseorang belajar berpikir secara eksak dan padat.
Dedi Supriadi (1997)

Jika anda meng-amini pendapat Prof Dedi (alm) di atas, maka jelas argumentasi yang saya sampakan di atas dapat dipahami dengan baik.

Jadi pelaksanaan Kerja Praktek di lapangan oleh mahasiswa pada dasarnya hanyalah memberikan objek tertentu untuk dapat dipelajari dan dipahami untuk nantiknya didiskusikan langsung dengan dosen (penguji). Mahasiswa tersebut seolah-olah dianggap sebagai seorang engineer yang menjelaskan hal-hal yang terkait dengan ilmu dia (rekayasa) tentang kegiatan di suatu proyek dihadapan engineer lain yang senior (dosen penguji). Jika dalam pertemuan tersebut, dapat dihasilkan suatu “diskusi yang berbobot” sehingga dianggap mahasiswa tersebut telah dapat menjalankan peran sebagai engineer yang baik, maka nilainya tinggi, dan sebaliknya tentunya.

Dengan pertimbangan bahwa :

  • Pelaksanaan kerja praktek di UPH terbatas, hanya satu semester. Jika tidak berhasil menyelesaikannya dalam waktu itu dianggap gagal, jika meneruskannya maka harus membayar sks lagi. Dianggap baru.
  • Lebih diutamakan pada Laporan Kerja Praktek dan diskusi (presentasi).

maka disarankan pelaksanaan kerja prakteknya sendiri dilakukan pada masa-masa liburan (sebelum mengambil sks). Untuk hal itu maka diskusi dengan Dosen Pembimbing adalah sangat penting sekali. Untuk apa :

  • Untuk berdiskusi apakah proyek KP yang akan dipilih cukup baik, khususnya memprediksi hal-hal yang dapat ditulis pada Laporan Kerja Praktek nantinya.
  • Untuk menunjukkan bahwa pelaksanaan KP adalah terencana. Jadi jangan sampai terkesan bahwa data-data yang disampikan oleh mahasiswa peserta KP adalah hasil copy and paste saja dari mahasiswa lainnya.

O ya, hal yang paling penting dari proses KP adalah meyakinkan dosen pembimbing, bahwa dia telah melaksanakan KP dengan baik. Dosen pembimbing dalam hal ini tidak semata-mata berdasarkan Laporan KP yang dibuat tetapi dari proses pembimbingan yang dilaksanakannya. Bagaimanapun, proses pembimbingan memerlukan waktu, tidak bisa terjadi dalam waktu yang singkat (tiba-tiba). Nah disinilah salah satu strategi untuk menghindari adanya plagiat antara laporan KP satu dengan yang lainnya. Dosen pembimbing akan mengamati dari setiap diskusi yang terjadi, adakah konsistensi diskusi yang dikerjakan dengan Laporan Kerja Praktek yang ditulisnya. Dalam prakteknya sudah ada beberapa mahasiswa yang tertangkap tangan, dimulai dari ketidak-konsistenan diskusi yang dilakukan akhirnya diperoleh pengakuan bahwa ternyata dianya tidak melakukan kerja praktek hanya meng-copy-and-paste data dari teman lain. Kalau sudah ada kesimpulan seperti itu maka nggak lulus deh dia di mata kuliah tersbut. Ngulang !

Lho lalu kalau begitu, apa pentingnya UTS. Toh nilai utama khan di UAS, yaitu setelah Laporan Kerja Praktek dan presentasi selesai dikerjakan.

Betul. UTS adalah sarana bagi dosen pembimbing untuk membantu  mahasiswa mengevaluasi diri apakah Laporan Kerja Praktek yang disiapkannya adalah on-the-right-track. Sekaligus juga latihan presentasi. Di sisi lain, karena UTS juga ada nilai, maka ini dapat digunakan untuk mengangkat nilai ketika UAS nanti. Maklum nilai 80 adalah A minus, baru > 90 adalah A. Seperti diketahui, pada saat UAS, dosen penguji kadang menilai disekitar angka 80-90. Kalau begitu nilai A khan susah, umumnya hanya mendapat A minus.

Salah satu kelemahan praktek pelaksanaan Kerja Praktek di atas adalah bahwa Dosen Pembimbing Kerja Praktek harus tahu menulis yang benar. Jika tidak, wah kacau deh. Maklum, penilaian berdasarkan tulisan, jadi jika yang nilai tidak tahu cara menulis yang baik, khan kacau.

** up-dated **

UTS Kerja Praktek yang berupa presentasi di depan kelas, di depan mahasiswa peserta KP yang lain, dapat berlangsung lancar. Hal-hal yang dapat dicatat dan perlu perbaikan untuk UAS adalah hal-hal berikut :

  • Sebagian besar, khususnya yang melakukan kerja praktek di bangunan gedung, tidak menyertakan gambar-gambar struktur yang dapat menunjukkan konfigurasi gedung secara sistematis. Mulai dari konfigurasi balok (induk atau anak), jarak kolom-kolom, dimana ada balok prategang dan dimana yang balok beton biasa. Juga bila ada struktur bajanya, dimana lokasi dan bentuk strukturnya. Untuk itu ada baiknya setiap laporan kerja dilengkapi dengan gambar denah dari lantai-lantai tipikal, tentunya dilengkapi dengan konfigurasi balok, detail penulangan balok tipikal, kolom atau bahkan slab-nya.
  • Struktur organisasi yang perlu dicantumkan adalah di tingkat proyek (owner, pengawas, perencana, CM dan kontraktor), di tingkat lapangan, misal struktur organisasi kontraktor. Untuk menjelaskan tugas atau kewajiban di tiap-tiap unsur organisasi, pastikan yang ditulis adalah bukan hasil copy-and-paste laporan sebelumnya, tetapi diselaraskan dengan yang ada di proyek. Pastikan konsisten antara stuktur organisasi dan penjelasannya. Istilah-istilah yang digunakan harus konsisten.
  • Dalam presentasi yang disajikan, masih juga ditemui info yang sepotong-sepotong. Pastikan bahwa yang disampaikan bersifat kronologis, dimulai dari hal yang bersifat umum (introduction), lalu isi dan diakhiri dengan semacam kesimpulan.
  • Masih banyak gambar-gambar yang digunakan untuk presentasi mempunyai mutu yang kurang bagus. Asal ada gambar, adalah salah satu cara menurunkan mutu. Jadi pastikan bahwa apa yang disampaikan dalam presentasi adalah yang terbaik yang bisa dikerjakan. Jika ada gambar, sudah dicari-cari belum ketemu yang baik kualitasnya, maka perlu ditanya : ” Apakah gambar tersebut jika dihilangkan saja maka pengaruhnya tidak signifikan”. Jika ya, maka hapus saja, nggak usah dipasang.
  • Banyak peserta presentasi yang terlalu percaya diri, sehingga secara tidak sadar menjelaskan hal-hal yang sebenarnya kurang tepat (error). Jadi dalam hal ini pastikan bekerja secara  profesional: yaitu tahu apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Seorang profesional hanya mengerjakan hal-hal yang dia kuasai. Jika tidak, maka dengan legowo diminta orang lain yang mengerjakannya.

Ini ada dokumentasi peserta KP semester ini, sbb:

suasana kelas saat UTS KP  berlangsung

Karena kelas relatif kecil itulah maka strategi pembimbingan KP seperti yang diuraikan di atas dapat berlangsung dengan mudah. Coba bayangkan saja, jika kelasnya terdiri dari puluhan mahasiswa dan pembimbingnya cuma satu. Bisa-bisa nggak ada waktu kosong, dan hanya dihabiskan untuk materi KP saja.

Sesi presentasi KP sdr Thomas dan sdri Karina

Pada saat KP seperti inilah maka kompetensi presentasi setiap mahasiswa di JTS UPH dapat dievaluasi dan kalau perlu diberi petunjuk untuk pengembangannya. Bagaimanapun juga kemampuan presentasi yang baik adalah salah satu soft-skill penting yang diperlukan oleh calon sarjana untuk mendukung kesuksesan karirnya di masa-masa mendatang.

Teman-teman lain mendengar dan menyimak dengan seksama

Bersama mahasiswa peserta KP semester ganjil 2011/2012

Dari kiri ke kanan : Eddiek Ruser, Richard N. Setiadi, Sherly Mp, Dian Mayasari, Yeltsin Tan, Wiryanto, Ju Roni, Kahar Pangestu, Andreas Leonard, Thomas Wijaya, Elisabeth Jacintha, Karina Tri Gunawan, Kevin Valerian, Stephen Willy.

9 thoughts on “uts – kerja praktek di uph

  1. Saya ingin bertanya Pak Wir. Begini Pak saat ini saya ada tugas mendesain struktur baja. Saya ingin bertanya tentang perencanaan gording. Jarak antar kuda-kuda saya rencanakan 6 meter dengan penutup atap menggunakan seng. Kemiringan atapnya 20 derajat. Kombinasi pembebanan saya ikuti SNI 03-1729-2002. Berat seng saya ambil 10 kg per meter persegi sesuai ketentuan PPIUG 1983. Permasalahannya ada pada momen akibat berat sendiri gording Pak. Momennya terlalu besar, akibat jarak kuda-kudanya 6 meter. Profil gording saya pergunakan baja kanal 16. Profil ini saya pergunakan agar momen inersia gording besar sehingga lendutannya kecil. Tapi setelah saya hitung, profilnya terlalu boros. Bagaimana sebaiknya merencanakan gording yang ekonomis Pak? Terimakasih atas penjelasannya

    Suka

    • sdr Putu yang sedang belajar.
      Cara perencanaan yang paling baik untuk menguasai ilmu rekayasa adalah “meniru” rancangan lain yang mirip, yang dianggap berhasil. Mengapa saya bilang begitu, karena masalahnya adalah engineering, bukan sekedar science tetapi ada unsur art-nya. Ada seninya. Jadi tidak bisa mempelajarinya seperti belajar matematik, yang nggak harus melihat kondisi empirisnya.

      Kalau begitu maka ada baiknya anda mencoba mencari contoh hitungan atau perencanaan yang sudah jadi, atau lihat punya kakak kelas, misalnya. Saya sendiri belum mempunyai contoh untuk dipublikasikan.

      Suka

  2. memang belum selesai saya membaca artikel Pak Wir di atas. Namun, karena begitu tertariknya dengan dunia pendidikan, saya sependapat dengan Pak Wir. semoga dengan adanya KP, mata kuliah Metode Konstruksi bukan lagi sebagai Kuliah metode awang2.. hehe.. sehingga mahasiswa mampu secara aplikatif dan berpikir analitis tentang metode kerja..
    sukses selalu Pak Wir..

    Suka

  3. Ping balik: uts ? kerja praktek di uph | Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

  4. Saya mau bertanya, istri Bapak bekerja di perusahaan apa, Pak? Saya ingin KP di perusahaan pangan tapi belum menemukan perusahaan yang pas. Terima kasih sebelumnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s