dari Seminar HAKI 2011


Seminar dan pameran yang diselenggarakan HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia), merupakan salah satu event favorit yang ditunggu-tunggu para insinyur konstruksi, khususnya yang berkecipung di proyek-proyek bangunan gedung tinggi. Para peserta yang hadir kebanyakan dari kalangan konsultan, kontraktor, juga kalangan akademisi. Sedangkan teman-teman insinyur yang bekerja pada proyek jalan dan jembatan, atau PU, yang sering aku jumpai di acara KJI (Kompetesi Jembatan Indonesia) jarang yang menghadiri acara ini.

Jadi kelihatannya benar juga, jika HAKI memang kumpulan orang-orang bangunan gedung tinggi dan yang terkait. Apalagi jika dicermati, materi-materi yang diberikan juga tentang bangunan tinggi dan tetek bengeknya.

Berbicara tentang bangunan gedung tinggi, maka persoalan yang sering diungkapkan dalam seminar ini dari tahun ke tahun adalah tentang ketahanan bangunan tersebut terhadap gempa. Jadi intinya adalah mempresentasikan cara-cara atau metode baru untuk mengantisipasi suatu bangunan gedung tinggi terhadap gempa yang akan terjadi. Inilah yang mungkin menjadi penyebab sehingga teman-teman di jalan dan jembatan menjadi sedikit terabaikan sehingga menjadi tidak tertarik untuk menghadirinya. Kalaupun ada yang berbicara tentang jembatan, relatif sedikit, tahun lalu ada, yaitu tentang jembatan Suramadu oleh pak Eko Prasetyo (Virama Karya). Tahun ini kelihatannya tidak ada satupun makalah yang membahas tentang jembatan.

Banyaknya materi tentang gedung dan bukan yang lain bisa juga diakibatkan anggota yang hadir adalah dari kalangan proyek-proyek gedung sehingga yang dibicarakan juga hanya gedung saja. Akhirnya yang datang lagi, juga dari gedung juga. Yah, begitulah seperti telur dan ayam, mana yang duluan.

Jadi, kalau anda adalah insinyur yang tertarik dan bekerja di bisnis perancangan atau pelaksanaan gedung tinggi dan industrinya yang terkait maka di sinilah tempatnya. Di Seminar HAKI ini banyak banget lho yang membuka stand tentang produk-produk bahan-bahan material bangunan. Jadi bagi produser bahan yang terkait bangunan gedung dan ingin produknya dikenal maka ada baiknya mensurvey acara ini. O ya, pesertanya tidak kurang dari sekitar 400 – 500 peserta. Itu insinyur atau profesional semua. Coba kalau ikut stand pasaraya, yang datang bisa saja ribuan, tetapi belum tentu kena sasaran. Kalau di pasaraya brosur ribuan bisa habis, tapi tahunya hanya jadi bungkus kacang. Nah jangan lupa, agenda seminarnya setiap tahun, yaitu sekitar bulan Agustus, lokasi tempatnya juga selalu sama, yaitu di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Untuk seminar HAKI tahun ini memang ada anomali, diselenggarakannya pada bulan Juli tepatnya hari Selasa dan Kamis kemarin tanggal 26-27 Juli 2011. Ini tentu tidak biasanya, maklum bulan Agustus tahun ini adalah telah memasuki masa puasa. Nggak afdol khan kalau di seminar nggak ada acara makan-makan.

Lihatlah spanduk seminar terpampang dengan gagahnya di lobby hotel sisi selatan. Sepi, memang sih maklum fotonya diambil pagi hari sekali. Maklum mau memilih tempat duduk yang strategis.

Gambar 1. Lokasi :  Flores Room, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat

Tema seminarnya cukup menarik, yaitu:  “Konstruksi Indonesia Melangkah ke Masa Depan“. Tetapi kalau dari segi bahasa maka judul yang dipilih sebenarnya tidak bermakna. Coba saja dibaca ulang, yang paling mengesan khan hanya kata “Masa Depan”. Tapi itu khan sebenarnya nggak punya pengaruh apa-apa. Diam saja pasti juga akan mencapai masa depan. Harusnya ditambahkan suatu pernyataan kondisi masa depan apa yang diinginkan. Jadi kalau diubah sedikit menjadi : “Konstruksi Indonesia menuju Masa Depan yang  . . . . ” maka tentunya akan lebih bermakna.

He, he, emangnya ada yang peduli, yang penting bisa ketemu teman-teman aja. Iya khan.

Adanya tema di setiap seminar tentu dilandasi harapan bahwa setelah mengikuti sesi tersebut tentunya akan ada suatu peningkatan. Maklum dunia konstruksi di Indonesia banyak dimanfaatkan sebagai ajang permainan politik karena menyangkut perputaran uang yang lumayan besar. Ini tentu tidak mengada-ada, ingat saja kasus yang lagi hangat tentang mantan bendahara partai besar yang sedang dikejar-kejar karena tersangkut suap proyek yang gila-gilaan. Adanya bagian dana proyek yang habis, bukan untuk maksud konstruksi itu sendiri tetapi yang lain (suap politik), tentu akan berdampak.

Emangnya berdampak pak Wir ?

Bagi yang lugu, tentu tidak melihat atau mendengar tentang hal itu. Tapi coba perhatikan dengan apa yang disampaikan salah satu pemakalah di seminar HAKI kemarin, yaitu dari Bapak Dradjat Hoedajanto. Pada waktu itu beliau mempertanyakan kekuatan gedung-gedung tinggi di Jakarta berkaitan dengan persyaratan gempa yang baru, yang sekarang diperhitungkan sampai gempa 2500 tahunan (bandingkan dengan persyaratan gempa lama yang hanya memperhitungkan gempa 500 tahunan). Itu khan memerlukan persyaratan yang lebih berat, yang ujung-ujungnya memerlukan kerja keras dari insinyur-insinyur perencanannya. Tidak hanya kerja keras tetapi juga kepandaian atau kepiwaiannya juga. Insinyur bermutu gitu lho.

Nah di situ pak Dradjat menyelipkan pertanyaan tetapi dengan nada keraguan, masih pada ingat nggak. Ini pertanyaan beliau : “Bagaimana bisa begitu (red:menambah mutu) jika per meter persegi bangunan fee perencanaan hanya lima ribu saja“.

Ge . . eer. Suatu komentar yang membuat senyum hadirin. Aku juga tersenyum, tetapi kecut juga memikirkannya,  bayangkan saja fee lima ribur per meter persegi, itu rasa-rasanya familiar aku dengar saat aku masih bekerja sebagai praktisi. Padahal itu sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu. Sebelum krisis lagi, ketika itu dollar masih sekitar 2.5 ribu. Sekarang masih terdengar lagi. Itu khan menunjukkan bahwa profesi insinyur perencanaan stagnan bahkan tidak ada peningkatan. Itu penurunan namanya. Moga-moga hanya joke. Tetapi kalau dikaitkan dengan bendahara partai yang bukan insinyur, tapi bisa mendapat duit milyaran dari suatu proyek yang akan dikerjakan, maka jelas-jelas menunjukkan bahwa dunia kontruksi Indonesia saat ini memang perlu melangkah ke Masa Depan yang lebih cerah (untuk insinyur tentunya).

Ha, ha itu mungkin maksudnya tema seminar yang terpampang di spanduk itu.

Eh koq ngomongin politik. Langkah awal ada baiknya aku meng up-load dulu materi (PDF format) yang aku dapat di seminar HAKI 2011 tersebut ya. Ini yang ditunggu khan.

  1. Development of seismic design criteria for the New RSNI 03-1726-201x (I Wayan Sengara)
  2. RSNI 03-1726-201x (Bambang Budiono) – presentasi 2.56 Mb
  3. Standar Nasional Indonesia tentang Tata Cara Perancangan Struktur Beton Pracetak dan Prategang untuk Bangunan Gedung (Binsar Hariandja dan Harry Nugraha Nurjaman) – paper 111 kb
  4. Standar Nasional Indonesia tentang Metode Uji dan Kriteria Penerimaan Sistem Strutur Rangka Pemikul Momen Beton Bertulang Pracetak untuk Bangunan Gedung (Harry Nugraha Nurjaman) – paper 1.11 Mb
  5. Dampak Persyaratan Geser Dasar Seismik Minimum pada RSNI 03-1726-201x pada Gedung Tinggi Terbangun (Suradjin Sutjipto) – paper 242 kb
  6. Membrane Structure : A Modern and Aesthetic Structural System (FX Supartono) – paper 1.9 Mb
  7. Pengembangan Metoda MPA Struktur Beton Bertulang dengan Ragam Torsi dan Respon Momen Lentur (Lingga Kencana Octaviansyah) – paper 442 kb
  8. Perilaku Struktur Kolom Beton Bertulang dengan Modifikasi Pemasangan Tulangan Pengekang akibat Beban Aksial dan Lateral Siklis (Anang Kristianto) – paper 0.9 Mb
  9. Notes on 3D Multi masses Dynamic Analysis (Hadi Rusjanto Tanuwidjaja) – paper 0.6 Mb
  10. Dynamic Response of Structural Machine Foundation due to Rotating Force (Wisnu Widayat) – paper 0.7 Mb
  11. Sistem Lantai Komposit dari Bahan Pracetak Support Beam, Curve Tile dan Beton Cor di tempat (Andreas Triwiyonono) – paper 0.6 Mb 
  12. Sistem Pracetak Beton sebagai Sistem Konstruksi Hijau:  Studi Kasus Perbandingan Energi Konstruksi di Pembangunan Rumah Susun di Batam (Harry Nugraha Nurjaman) – paper 1.4 Mb
  13. Building Information System (Tekla) – presentasi 2 Mb
  14. Melangkah ke Depan: Dari Analysis Statik Linier menuju Analysis Dinamik Non-Linier (Davy Sukamta) – paper 358 kb
  15. Best Practice Guidelines for the Use of Wind Tunnel Testing in The Structural Design of Building (Mark P. Chatten) – paper 0.8 Mb
  16. Construction of Bored Tunnels in Urban Areas Essential Techniques for Succes (Peter Barnett) – paper 0.7 Mb
  17. Simulasi Numerik Penomena Progressive Collapse pada Struktur Beton Bertulang akibat Beban Ledakan Bom (Elvira) – paper 0.36 Mb
  18. Studi Kegagalan Struktur Precast pada Beberapa Bangunan Tingkat Rendah akibat Gempa Padang 30 September 2009 (Josia Irwan Rastandi) – paper 2.5 Mb 
  19. Public Safety and Seismic Rehabilitation of Existing Building due to Increased Seismic Risk (Dradjat Hoedajanto) – paper 0.1 Mb
  20. High Damping Rubber Bearing for Seismic Protection of Building (Nobua Murota) – paper 6.4 Mb
  21. Waterproofing for Roofing (Handi Prajitno) –  paper 571 kb
  22. Durability of Concrete (Jozef Van Beeck)
  23. Green Innovation in Cement Application (Dian Wydiatmoko)
  24. Rehabilitation of Infrastructures using Fibre-reinforced Polymer (FRP) Strengthening Technology (Wee Keong ONG) – paper 0.7 Mb
  25. Era Baru Perancangan Struktur Baja berbasis Komputer memakai Direct Analysis Method – AISC 2010 (Wiryanto Dewobroto) – paper 0.5 Mb
  26. Perencanaan Struktur Rangka Baja dengan Bressing Tahan Tekuk (Rhonita D. Andarini) – paper 1 Mb
  27. Perilaku link panjang dengan pengaku Diagonal Badan pada Sistem Struktur Rangka Baja Tahan Gempa (Nidiasari) – paper 1 Mb

Dari daftar makalah di atas sepintas saja dapat dilihat, bahwa materi yang terkait dengan gedung saja yang dibicarakan, bahkan kalau ditelaah lebih lanjut mayoritas gedungnyapun hanya yang memakai beton bertulang. Dari 27 makalah, yang membahas tentang baja hanya ada tiga, jadi sekitar 10% saja. Apalagi struktur kayu, tidak ada yang membahas sama sekali. Jadi mestinya seminar di atas judulnya diubah jadi “Konstruksi gedung beton bertulang Indonesia  melangkah ke . . . .

Itu tadi komentar yang bernada prihatin, tapi positip lho maksudnya yaitu mengapa teman-teman yang aktif di dunia konstruksi baja tidak berkenan berbagi cerita tentang konstruksi baja. Padahal itu khan banyak dipakai untuk jembatan maupun industri. Juga di luar negeri, seperti di Jepang, struktur bajanya khan relatif maju. Jadi kelihatannya kalau dunia konstruksi kita dapat lebih maju, maka ada baiknya perlu digiatkan tentang seminar konstruksi baja. Pakar yang jadi panitia penyusun SNI Baja, mana ini beritanya. Koq kalah sama pakar panitia untuk SNI gempa. Mereka terlihat dimana-mana dalam rangka sosialisasi progress kerjanya.

Eh kembali ke seminar lagi ya.

Selanjutnya berbekal camera pocket Canon G11 saya mencoba mengabadikan para pembicara di Seminar HAKI 2011. Ini adalah sesi pertama, hari Selasa tanggal 26-7-2011 sebagai berikut:

Gambar 2. Sesi I

Para pembicara Sesi II sedang menyimak komentar atau pertanyaan dari para hadirin. Nampak pada Gambar 2, dari kiri ke kanan adalah bapak Davy Sukamta (Ketua HAKI bertindak sebagai moderator), Prof. Binsar Hariandja (ITB), Dr. Hari Nugraha Nurjaman (IAPPI) dan bapak Suradjin Sutjipto (Trisakti).

Bapak FX Supartono yang biasanya mempresentasikan proyek-proyek jembatan bentang lebar maka pada kesempatan ini memperkenalkan struktur tenda. Beliau banyak berinteraksi dengan teman-teman engineer Tiongkok sehingga selain menampilkan proyek hasil rancangannya yang memakai tenda, seperti misalnya Stadium Kutanagara sbb:

Gambar 3 : Struktur tenda untuk atap  Stadion Kutai Kartanagara

Dari Gambar 3 di atas dapat diketahui potensi penggunaan struktur tenda, bahkan sudah dibangun di luar jawa, tepatnya di Kutai, Kartanagara.

. . .

loncat . . .

. . .

Karena berprofesi sebagai dosen di bidang rekayasa teknik sipil yang tidak hanya ingin berpengaruh di lingkungan kelas di kampusnya saja, tetapi ingin menjangkau kalangan lebih luas, maka keikut-sertaannya dalam seminar seperti ini tentu sangat penting sekali. Keikut sertaan yang dimaksud tentu tidak sekedar peserta saja, tetapi sebagai pemakalah agar ide-idenya dapat disampaikan.

Untuk seminar semacam HAKI ini, yang mana pesertanya sebagian besar adalah praktisi maka tentu yang diharapkan yang ada  kaitannya dengan dunia praktis, dunia kostruksi. Makalah-makalah yang penuh dengan rumus-rumus matematik dan statistik tentunya tidak mendapatkan perhatian yang baik. Tentang hal ini maka ketika ada pemakalah yang menyajikan rumus-rumus rumit saya melihat ke floor, ternyata memang banyak peserta yang sibuk sendiri. Nggak pada memperhatikan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka aku mencoba memilih topik makalah yang sesuai. Nggak gampang ini, maklum sebagai dosen tentu tidak seperti para praktisi yang dapat dengan mudah memasukkan foto-foto proyeknya.

Untuk seminar HAKI kali ini (ini partisipasiku yang ke-2) aku mencoba memilih topik struktur baja, khususnya metoda baru yang terdapat pada Steel code USA yang terbaru yaitu AISC 2010 yang baru keluar tahun lalu.

Metoda baru yang dimaksud adalah Direct Analysis Method, suatu analisis struktur yang memasukkan parameter P-delta sehingga hasilnya dapat langsung digunakan untuk design penampang tanpa memasukkan koefisien tekuk (K) maupun pembesaran momen (B1 dan B2). Ini tentu suatu perubahan yang signifikan pengaruhnya pada perencanaan struktur baja, tetapi rasa-rasanya aku tidak melihat orang-orang pada peduli dengan hal itu. Aku berpikir, jika aku dapat membahas hal itu (Direct Analysis Method) dan menyampaikannya pada masyarakat profesional harapannya itu akan dapat menjadi bahan pemikiran.

Dengan latar belakang itulah maka aku menuliskan makalah dengan judul seperti di atas, atau diulang lagi sebagai berikut:

Era Baru Perancangan Struktur Baja berbasis Komputer memakai Direct Analysis Method – AISC 2010
(Wiryanto Dewobroto) – paper 0.5 Mb dan presentasi 1.0 Mb

Ini dokumentasi gambarku yang diambilkan oleh sdr Dwi, trim ya pak.

Gambar 4. Aku (pegang mic) di sesi akhir

Tanggapan dari floor kurang bagus, tidak banyak yang bertanya. Eh, untung pak Suyandra Gunawan mau tampil memberikan sedikit pertanyaan kepadaku. Jadi nggak jadi ngantuk ini.  Bagaimanapun juga terima kasih ya pak.

Yah, memang lain ketika tampil di depan teman-teman yang memang bidangnya baja seperti di seminar bulan April lalu dengan PT. Krakatau. Eh mungkin juga karena yang di bulan April itu aku sebagai invited speaker, sedangkan di seminar ini khan hanya call of paper. Jadi memang berbeda. Bisa juga karena yang di atas itu dapatnya sesi terakhir, para peserta tinggal separo lebih. Atau mungkin karena topik yang populer untuk seminar HAKI itu adalah sekitar gempa. Jadi ada baiknya topik apa ya , yang dapat aku bawakan untuk tahun depan.

** mikir mode on**

42 thoughts on “dari Seminar HAKI 2011

  1. Semangat pak wir… untuk bahasan paper tahun depan harus lebih “menggigit”…!!!
    mungkin masalah retaining wall yang tidak pakai water stop pak?? bgmn mana sebab akibatnya bisa diajukan… hehehehe (untuk data, photo saya masih menyimpan).
    salam

    Suka

    • Betul pak, menggigit itu sifatnya relatif. Kalau orang precast gedung tinggi diberi materi water stop bisa jadi mengantuk itu pak.🙂

      Tentang belum ada tanggapan langsung, nggak apa-apa pak. Yang penting ide sudah dikemukakan, suatu saat diharapkan akan ada yang terinspirasi. Hanya waktu yang bisa membuktikan itu pak.

      Kalau bapak ada masukan, wah penting untuk dikemukakan pak. Pasti distributor water-stop akan tertarik. Siapa tahu mau mensponsori makalah bapak. Ayo pak, ditulis berbagi ide dan pengalaman.

      Suka

  2. Makalah2 yang di presentasi kan cukup menarik dan memang benar hampir semua menyoroti soal struktur gedung bertingkat. Hanya ada yang menjadi pemikiran sy, kok tidak ada makalah yang membahas mengenai analisa beban angin pada bangunan tinggi ya? Karena kalau kita bicara bangunan gedung tinggi (sebut saja 30 lantai keatas) tentu nya beban angin cukup dominan. Dan perilaku beban angin ini berbeda dengan beban gempa. Bagimana menurut Pak Wir?

    Suka

    • Ada pak, itu makalah No.15 yang dibawakan oleh Mr. Mark. Bahkan disebutkan bahwa analisis angin secara building code adalah didasarkan pada perilaku angin terhadap gedung secara terisolasi, dan itu tidak betul. Pada pemaparannya, disebutkan bahwa pengaruh bangunan-bangunan lain sangat berpengaruh. Gedung yang menerima beban angin secara langsung tidak berarti menerima beban terbesar, pada konfigurasi tertentu bahwa angin imbas dari bangunan di depan dapat menyebabkan bangunan di belakangnya dapat mengalami resonansi sehingga hancur. Untuk itu Mr. Mark memberi contoh pada bangunan cerobong silo raksasa, yang mana bangunan belakang ada dua pada hancur, sedangkan bangunan yang didepan yang menerima angin langsung bahkan tetap tegak berdiri.

      Suka

  3. Oiya ternyata ada juga yang membahas mengenai beban angin ya. Mungkin karena cuman 1 makalah jadinya terlawat oleh mata ini. Kebetulan sy praktisi di negeri tetangga pak, jadi disini memang lebih banyak berkutat dengan beban angin. Hanya karena mencermati konstruksi di Jakarta terutama mengenai gedung bertingkat, saya tadinya agak bingung kenapa beban angin seperti angin lalu saja. Tidak dibahas. Mungkin ke depan nya untuk praktisi gedung bertingkat perlu lebih waspada lagi dengan beban angin ini, termasuk pengaruh dari lingkungan di sekitar bangunan yang akan di bangun, karena seperti yang bapak sudah jelaskan pengaruh beban angin bisa berbeda tergantung kondisi lingkungan sekitar.

    Suka

  4. Wah senang akhirnya bisa ketemu langsung dgn Pak Wir pas seminar, selama ini hanya lewat blog dan buku… Menyimak materi bapak, metode DAM memang menarik sebagai alternatif desain baja, terutama dari segi kepraktisan dan aplikasi komputasinya. Mungkin kalau pak Wir nanti bisa ikut jadi perumus SNI baja bisa diperkenalkan, lalu bikin seminar sosialiasi dan short course, seperti tema SNI 1726-201X seminar HAKI kemarin pak, pasti ramai hehehe…

    * ngimpi mode = on *

    Suka

  5. Ketemu lagi dik Purbo, wah saya terkesan dengan rencana anda untuk menerbitkan buku sendiri tempo hari. Kabar-kabari ya tip dan trik-nya. Salam sukses untuk teman-teman di Yogya.

    Suka

    • Siip pak, Alhamdulillah juga ini kebetulan sudah bisa terbit, ada beritanya juga di blog🙂 Dalam waktu dekat ini kami ada rencana akan kontak pak Wiryanto juga, mungkin via email. Salam sukses juga buat pak Wir…

      Suka

  6. Wah, salut. Ada review tentang seminar HAKI 2011.😀
    Di awal, banyak membahas tentang SNI terbaru ya. Cukup banyak memberikan insight tentang keadaan peraturan di Indonesia. Masih di godog.

    Di hari kedua, saya tidak bisa mengikuti sesi terakhir karena ngejar kereta jam 4. #tapiakhirnyadapetyangjam7🙂 Jadi yang tentang baja saya tidak sempat melihat presentasinya.😦

    Yang cukup menarik perhatian saya adalah tentang pembebanan angin dan ledakan. Karena terlihat sekali bahwa peraturan indonesia belum ada yang membahas tentang standar beban ledakan. Untuk beban angin, bahkan di indonesia, standar SKBI 1983 yang dipake ama Mr. Mark (kirain ada yang lebih baru dari SKBI 83, ternyata gak ada ya..??)

    Sekian saja, berhubung kemarin sempat datang di HAKI, jadinya ingin ngomentar deh hehe😀 Salut buat Pak wiryanto yang punya semangat membagi dalam blog ini🙂

    Suka

  7. Selamat Pagi Pak Wir
    Semoga dalam keadaan sehat

    Sebelumnya terima kasih banyak pak wir telah berkenan sharing baik pengalaman maupun paper seminar HAKI, terus terang tidak ada sharing semacam ini yang saya temukan di tempat lain selain disini. Jadi terima kasih banyak pak, sangat membantu …

    Saya sebelumnya sempat memperkirakan bahwa paper yang akan pak wir bahas pasti berhubungan dengan AISC 2010 khususnya membahas DAM, (sempat pak wir singgung di beberapa tulisan terakhir tentang aplikasi pada menara) hehe betul kan pak

    mengenai pengalaman pak wir yang katanya kurang menyentuh hati para pendengar,hal ini mungkin dikarenakan para pendengar trendnya membahas bagaimana mitigasi bencana khususnya gempa.

    sekedar saran buat paper pak wir selanjutnya, bagaimana kalau membahas mitigasi bencana struktur baja.Terus terang saya belum menemukan paper di Indonesia yang membahas hal ini.

    Suka

  8. terimakasih committed tempo waktu untuk sharing paper HAKI ttg analisa orde kedua tulisan Bpk.

    as i know 2nd order/DAM analysis itu bukan sesuatu hal yang baru sehingga SAP2000 versi 7 terbukti mampu dan saya lihat bahkan versi lebih lama lagi yaitu SAP90 juga sudah bisa baik itu masalah local maupun global p-delta. Sehingga dapat disimpulkan bahwa program analisa struktur frame apapun baik intu yg komersil ataupun free, yg lama ataupun baru akan mampu menerapkan metode tersebut jika telah memperhitungkan matrik kekakuan geometri. Dari tinjauan pustaka buku rujukan juga terlihat Przemienniecki di tahun 1968 juga sudah menjabarkan cukup jelas mengenai ini.

    masalahnya adalah kemampuan otomatisasi perhitungan yg sudah/belum diimplementasikan oleh developernya trhadap prosedur struktur baja metode desain dgn analisa langsung. Ini kaitannya dengan beban titik untuk representasi ketidaksempurnaan geometri struktur serta reduksi kekakuan dari modulus tangen akibat variasi beban normal/aksial, pengarus tegangan sisa dll. hal ini tidak akan praktis jika dikerjakan/ditentukan manual node/element satu persatu dan lagi prosesnya iterasi re-run analysis. belum lagi otomatisasi prosedur untuk kategori portal dgn bracing/terkekang dan tidak atau portal bergoyang.

    mengenai prosedur DAM yg ditentukan AISC terlihat besar dipengaruhi dan merujuk pada suatu penelitian, yah ini merupkan buah hasil kerja keras puluhan tahun dari prof Chen dan koleganya. mohon dikoreksi/ditambahkan jika dapat memberitahukan penilitian menerus dari yg lain.

    trims, salam,

    Suka

    • Sehingga dapat disimpulkan bahwa program analisa struktur frame apapun baik intu yg komersil ataupun free, yg lama ataupun baru akan mampu menerapkan metode tersebut jika telah memperhitungkan matrik kekakuan geometri.

      Wah hebat betul pak kesimpulan anda !

      Saya dan juga para ahli yang menyusun AISC (2010)-pun tidak berani membuat kesimpulan seperti itu. Sehingga pada AISC 2005 dan juga AISC 2010 perlu diberikan sampel benchmark untuk menguji program yang akan dipakai.

      Suka

      • the big pictures are in geometric stiffness matrix, kenapa point utama yg perlu ditekankan malah ngga di buat cetak tebal (bold) oleh bpk? yang lain malah ditebel2in.

        terdengar seperti pernyataan, namun jelas dgn persyaratan “matrik kekakuan geometri” seharusnya ini bukan hanya dicetak tebal saja pak, namun perlu juga diwarnain biru kali ya..

        benchmark di AISC seperti batang tunggal pda case1 & 2 terlampir bukan uji untuk DAM tapi hanya uji kemampuan 2nd order saja. terilhat dgn tidak ditinjaunya geometric imperfection & tangent modulus. lalu benchmark untuk DAM ada dimana? trus apakah pembandingnya dgn K-factor?? saya liat2 bukan, harus ada metode lain yg dianggap lebih teliti.

        Suka

  9. @parhyang
    He, he, kalau ada orang yang seperti anda di seminar HAKI kemarin, tentu akan menarik. Ada pertanyaan sehingga ada alasan pula untuk menjawab. Program analisa struktur yang mampu menganalisis second order analysis itu tidak hanya semata-mata sudah memasukkan matrik kekakuan geometri. Memang sih, adanya matrik kekakuan geometri dapat diberikan pelemahan (tekan) atau perkuatan (tarik) akibat gaya aksial. Tetapi yang penting juga strategi pemrograman dalam mengupdated geometrinya. Ini masuk dalam kategori penulisan program. Saya kurang tahu apakah anda familiar dengan pemrograman atau tidak, kalau yang namanya numerik kadang-kadang antara teori dan praktik bisa berbeda, apalagi kalau algoritma beda. Jadi kenapa saya memberi tanda tebal pada tuilsan saya, bukan pada pernyataan anda adalah karena itu. Hasil akhir, yaitu gabungan teori-teori yang diperlukan dan cara implementasinya.

    O ya, tentang teknik pemodelan untuk second-order analysis, saya masih ada penelitian ttg hal itu dan ternyata berpengaruh. Hasil penelitian akan saya presentasikan di seminar EACEF, september 2011 di Atmajaya Yogyakarta. Jadi meskipun sudah pakai program yang teruji sekalipun, tetapi ketika pemodelannya lain, hasilnya bisa lain lho. Ini rasanya saya belum melihat tulisan secara eksplisit yang membahas lho.

    Suka

    • emang sepi response ya Pak kemarin😦 sayang sekali, padahal 2nd order ini penting sekali dan berlaku general untuk struktur baja, beton, kayu, ataupun lainnya.

      algorithm komputer pada program komersil khan closed, jadi ngga bisa liat gimana persisnya. dan lagi dari banyak sekali rujukan (Przemienniecki, Chen, Ziemian, Wilson, McKenna) hampir semua menggunakan matrik kekakuan geometri untuk analisa orde kedua, pada masalah portal memang ada metode yang lain seperti beban lateral eqivalen dan untuk konvensional perhitungan tangan juga ada beberapa metode.

      “Hasil akhir, yaitu gabungan teori-teori yang diperlukan dan cara implementasinya”

      ok, i’ll lookin’ out. thx u

      Suka

  10. Menarik sekali setelah membaca paper bapak, sehingga membuat saya yang memakai software lama (STAADPRO 2002) menjadi tertarik menguji ketersediaan analisa orde 2.sayangnya, saat ini pin dongle STAAD nya rusak,sehingga saya mencoba pakai STAADPRO 2004 demo version.

    Pada Case 1, dimana kolom dianggap 1 bentangan ternyata hasil Mmid= 235,3 Kip.in untuk semua beban.
    kemudian setelah kolom dibagi 2 bentangan dengan memberi joint di tengah bentangan (apakah ini disebut 2 Meshing pada balok?) ternyata hasil Mmid terjadi perubahan.untuk beban 150 Kip, Mmid=268 Kip.in dan untuk beban 300 Kip, Mmid=309 Kip.in( inipun dengan 5 iterasi Pdelta ).

    Mohon masukannya,apakah menurut bapak versi 2004 ini sudah cukup untuk analisa DAM ?

    Suka

    • @pak Ahmad,
      Wah terima kasih anda mau menindak-lanjuti materi yang saya tulis. STAADPro 2004 adalah salah satu program analisa struktur yang terkenal, tapi dengan melihat pengecheckan yang bapak lakukan ternyata terlihat bahwa hasilnya kalah teliti dengan SAP2000 ver 7.4.

      Jadi kalaupun mau tetap dipakai maka hasilnya juga mengandung ketidak-telitian seperti itu. Memang sih kebanyakan program yang ada sukses meneliti P-DELTA (perpindahan joint) dibanding p-delta (perpindahan batang).

      Saya kira apa yang Bapak lakukan ini juga petunjuk, bahwa tiap-tiap program meskipun mungkin strategi yang digunakan sama tetapi hasilnya bisa-bisa berbeda. Kadangkala perbedaan itu disebabkan oleh suatu hal yang memang spesifik untuk program tersebut. Maklum programmernya khan beda. Jadi seperti halnya menulis surat, maksud awalnya sama tetapi karena cara penulisannya beda. maka hasil akhirnya bisa berbeda.

      Cara berpikir seperti inilah mengapa saya memberi komentar pada tanggapan dari sdr Parhyang di atas.

      Suka

  11. Salam,
    Pa Wir dan rekan-rekan sekalian. Mohon info untuk download RSNI gempa baru,software pa Wayan untuk respon spektra dan ACI 318-11

    Terima kasih

    Suka

  12. Selamat Siang Pak Wir.
    Wahh hebat sekali dosen saya yang satu ini.🙂 Saya sudah baca bahan seminar bapak. Sangat menarik, saya langsung membandingkan antara effective length method dengan Direct analysis method. Rasanya pengetahuan tentang hal ini memang harus diberikan dari jenjang S1, karena kan memang AISC 2010 sudah mewajibkan metode ini yah pak..
    Mengenai seminar HAKI kemaren hanya membahas bangunan saja, saya juga prihatin pak. harusnya pembahasan jembatan juga masuk. Semoga saya kedepannya bisa berkesempatan juga pak partisipasi di HAKI.. heheheh..
    Pak, saya ingin tanya, apakah untuk ketentuan desain jembatan baja, ada kemungkinan digunakan juga metode direct analysis, mengingat efek P-delta mungkin relatif kecil pengaruhnya pada jembatan rangka baja, (kecuali bila tinjauannya adalah pilar jembatan yang relatif tinggi).

    Terima kasih Pak Wir.

    Salam, Gbu.

    Suka

    • Salam jumpa Tri, sekarang kamu membantu pak Jinadi dan pak Irawan ya. Salam untuk keduanya.

      Metode DAM bisa untuk apa saja, bahkan sampai saat ini tidak ada batasannya. Adapun metode yang lama ada keterbatasan, khususnya jika efek P-delta dominan.

      Kalau untuk diajarkan di level S1, saya kira belum perlu. Maklum nanti habis waktunya untuk run komputer. Toh fokusnya khan bukan di analisa strukturnya tetapi pada perilaku elemennya.

      Tentang partisipasinya di HAKI, yah, saya harapkan alumni dari UPH sudah bisa tampil dikancah nasional. Toh kamu khan sudah ambil level masternya ya. Yang penting, dosen-dosenmu sudah mengawali, memperkenalkan kepada publik ini lho Jurusan Teknik Sipil UPH.

      Suka

      • Iyah pak.. waah denger bapak saya jadi semangat kelarin nyusun jurnal nih pak.. hehehe semoga lancar dan bisa dipublikasi lahh nanti..
        Siap pak, nanti kita dari alumni2 akan perkenalkan nama UPH ke dunia sipil..🙂

        Terima kasih Pak Wir, Gbu.

        Suka

    • Terima kasih atas apresiasi saudara terhadap paper tersebut. Moga-moga ini memberikan daya tarik bagi orang lain untuk juga membaca paper saya tersebut. Maklum, kalau sudah bersusah-payah menulis dan ternyata dibaca dan diapresiasi orang lain, maka capainya hilang deh.

      Suka

  13. Aduh sayang sekali tahun ini, daftar sudah, tiket sudah dari Banjarmasin tapi 2 hari sebelum keberangkatan, gagal berangkat karena ada kendala kegiatan di Kampus. Tahun depan diusahakan ikut dan mencoba mencari ide supaya sebagai pembicara……..

    Suka

  14. Pak Wir, berhubung pembahasan blog ini mengenai beton bertulang, saya jadi ingin tahu nih, kenapa para desainer dalam merancang dimensi balok beton bertulang itu tidak pernah melakukan perhitungan Lendutan ? Kebanyakan para desainer langsung menggunakan Feeling/pengalaman dalam menentukan dimensi ( B dan H ) ,padahal kan lendutan merupakan hal penting juga, apalagi sejak diberlakukannya metode kekuatan batas ini.

    Thanx

    Suka

  15. Pak Wir, terimakasih atas infonya. Begini Pak, sekarang ini saya sedang mengambil proposal tugas akhir dan kebetulan topik yang saya ambil tentang dinding penahan tanah. Saya masih bingung Pak tentang cara pengujian kuat geser beton dan pasangan batu kali karena permasalahan yang saya angkat tentang kegagalan dinding ditinjau dari kegagalan geser bahan pembentuk dinding tersebut. Mohon penjelasannya Pak tentang tata cara pengujian kuat geser beton dan pasangan batu kali. Terimakasih Pak Wir

    Suka

  16. Ping balik: check lendutan pada balok beton bertulang | The works of Wiryanto Dewobroto

  17. Ping balik: dari Seminar HAKI 2011 | Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

  18. permisi mas, saya mau numpang promosi kegiatan kampus saya.
    Event Akbar Tahunan Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, adapun rangkaian kegiatannya, yaitu: Lomba Revetment, Lomba Karya Tulis Ilmiah, Lomba Fotografi, Pelatihan Pengadaan Barang dan Jasa, dan Seminar Nasional. Info lebih lanjutnya dapat dilihat di blog kami https://dedikasi2011.wordpress.com/

    Suka

  19. Salam kenal p. Wir
    Saya Eddy Waluyo, ingin lebih jauh berkenalan dng Bapak
    Dengan kesibukan yg ada Bapak masih sanggup sharing ilmu di dunia maya seperti ini
    Rgds

    Eddy ( 0812 8171 1960)

    Suka

  20. pak wir,
    mau tanya mengenai resonansi pada bangunan. khusunya bangunan struktur baja. bagaimana cara menghitungnya dan analisanya. karena sangat susah sekali mencari bahan tentang masalah resonansi.

    Suka

    • kalau frekuensi alami yang dicari khan f = 1/(2phi) x sqrt(k/m). Jadi hanya tergantung kekakuan bangunan dan massanya. Keduanya dapat dengan mudah dihitung dengan eigenvalue analysis pada program SAP2000. Nah dengan membandingkan frekuensi alami bangunan dengan frekuensi lain yang ditinjau tentu dapat diperoleh info apakah terjadi resonansi atau tidak. Jika ya, maka tinggal diubah parameter k atau m-nya. Mana yang paling memungkinkan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s