tambal-sulam dan compang-camping


Tidak lama lagi liburan anak-anak sekolah dimulai, bahkan kata temanku, ada beberapa sekolah yang sudah mulai. Adanya liburan seperti itu, aku selalu mengkaitkan dengan acara pulang kampung. Maklum, keluargaku berasal dari daerah yang sama, juga orang tua kami berdua masih ada. Jadi bila ada kesempatan berlibur maka keluargaku selalu memanfaatkan untuk pulang kampung. Harapannya agar anak-anakku bisa berkumpul sejenak dengan kakek dan neneknya. Kapan lagi kalau tidak seperti itu.

Untuk acara pulang kampung, aku selalu memakai kendaraan sendiri. Maklum, mengendari mobil di siang hari, melewati jalan-jalan luar kota adalah sesuatu yang menyenangkan. Strategi itu juga aku pilih karena biaya transportasi menjadi relatif murah, juga mobilitasnya lebih mudah di kampung.

Selama perjalanan pulang kampung tersebut, aku selalu memperhatikan kota-kota atau daerah tertentu, dan kemudian membanding-bandingkannya. Maklum itu semua dapat disusun menjadi cerita yang menarik.

Hal pertama yang menarik perhatianku tentunya adalah kondisi jalan-jalan yang dilalui. Maklum, kondisi jalan adalah hal pertama yang dijumpai. Jika kita memasuki suatu kota atau daerah yang baru, ketika menjumpai kondisi  jalannya adalah halus, lebar dan menyenangkan, maka dibenak kita pasti akan membayangkan bahwa kota yang akan kita lalui tersebut adalah cukup maju, pemimpinnya hebat.

Jadi kondisi jalan dapat secara langsung diidentikkan dengan kondisi pembangunan di kota atau daerah tersebut. Bahkan juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja atau tepatnya komitmen pemimpin daerah dalam mewujudkan pembangunan di daerah yang menjadi tanggung-jawabnya. Itulah mengapa untuk mendapatkan penghargaan Adipura atau semacamnya maka langkah pertama adalah memperbaiki kondisi jalan-jalan yang ada.

Dengan analogi seperti itu maka tentunya kita dapat mengevaluasi kondisi pembangunan ibukota Indonesia, yaitu DKI Jakarta. Adapun bagian jalan yang dapat merepresentasikan kota Jakarta, dan tentunya banyak dilewati orang dari luar kota tentulah ruas jalan dari arah Cawang – Tomang. Setiap orang yang memakai mobil dari arah Pantura ke arah Merak, pastilah melalui ruas jalan tersebut.

Ruas jalan Cawang-Tomang dapat dianggap halaman depan kota Jakarta. Pada ruas tersebut terdapat ruas tol dalam kota dan ruas jalan arteri, di sebelah kanan dan kiri dari ruas tol dalam kota tersebut.

Untuk kondisi jalan tol dalam kota, karena mungkin adalah dibawah pengelolaan Jasa Marga, yaitu BUMN khusus penyelenggara jalan, maka kondisinya lumayan. Mulus.

Tapi coba perhatikan kondisi jalan arteri, dikanan dan kiri tol dalam kota tersebut, baik dari arah Cawang-Tomang (ini setiap pagi aku lewati) maupun arah sebaliknya (ini tidak setiap hari aku lewati).

Coba anda perhatikan. Beranikah anda melewati pakai mobil dengan kecepatan tinggi. Kalau hari kerja biasa mungkin nggak bisa lewat dengan kecepatan tinggi, maklum selalu macet. Tetapi coba anda lewat pagi subuh atau pada saat liburan. Saya yakin kalau melewati jalan tersebut  kadang-kadang perlu secara zigzag.

Tahu kenapa ?

Ternyata ruas jalan Cawang-Tomang, khususnya jalan arterinya yang asalnya adalah jalan hotmix, perawatan jalannya dilakukan secara tambal – sulam. Mending kalau ditambal pakai aspal yang sama, ini nambalnya pakai beton. Jadi ketika ada lubang, maka di daerah lubang di gali kotak-kotak besar dan dicor dengan beton. Kelihatannya ini beton khusus yang cepat keras. Kelihatannya praktis, tapi apa yang terjadi. Jika jalan kosong, maka pada jalan arteri tersebut terlihat sebagian besar hitam (aspal hotmix) dan di sana-sini terlihat kotak-kota jalan beton berwarna hitam. Kesannya compang-camping .

Pada kondisi baru, adanya tambalan dari beton cepat keras tersebut tidak menjadi masalah (kecuali tentu penampakannya saja). Tetapi karena perilaku material jalannya berbeda, dimana jalan dengan asphalt hotmix adalah relatif elastis, sedangkan jalan dengan tambalan beton adalah keras (rigid) maka jelas perbedaan sifat material itu menjadi masalah. Perhatikan saja, didaerah-daerah tambalan dari beton, dibagian tepi di jalan dengan asphalt hotmix. Karena lebih elastis, dibanding beton, maka ketika dilalui roda kendaraan lama-lama bagian elastis rusak. Akhirnya menjadi lubang.

Adanya lubang tersebut maka kondisi jalan tersebut, selain tidak enak dilihat juga tidak enak untuk dilewati . Itu jalan ibukota lho. Bagaimana itu, katanya dipimpin oleh ahlinya.🙂

Artikel yang mendukung pendapat di atas :

10 thoughts on “tambal-sulam dan compang-camping

  1. Di sekitar saya (sekitar ibukota provinsi sebelah timur DKI ) anehnya disini perbaikan jalan hotmix yang berlubang memakai aspal taburbukan aspal hotmix. Adanya perbedaan jenis dan karakter aspal membuat kenyamanan terganggu meskipun tidak sesignifikan tambalan beton pada hotmix. Di lain lokasi ada jalan sudah lumayan baik dg hotmix di lapis ulang memakai perkerasan beton. Sepertinya diambil main praktisnya saja nih ya pak Wir… mungkin karena perkerasan beton=minim perawatan (CMIIW). Apa bisa dibilang malas merawat ya pak Wir???
    Kalau begitu kemana nih PU Bina Marga? Merujuk dari nama “Bina Marga”, kata “bina” padanannya bisa membina/merawat (CMIIW). Jadi salah satunya bertugas merawat, merawat jalan. Tapi hakikatnya sekarang apa tugas & fungsi Bina Marga sekarang ini ya pak Wir? Apa sekarang berubah jd cenderung jadi makelar projek saja menyaingi markus kah??!! Atau ada hal-hal yang lain??

    Oya Pak Wir, bagaimana penilaian bapak selama perjalanan mudik ke kampung halaman, kota manakah yang bapak temui dalam perjalanan yang menurut bapak kondisinya “lebih baik” untuk infrastrukturnya?

    Suka

  2. Ping balik: tambal-sulam dan compang-camping | Sufa Parquet Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

  3. Ping balik: tambal-sulam dan compang-camping | Wood Flooring - Parquet Lantai Kayu Terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s