perlunya KULIAH (lagi)


Ternyata, postingan ringan saya tentang “pentingnya kuliah” di blog ini mendapat tanggapan yang relatif banyak dibanding postingan lain yang bahkan perlu lebih banyak mikirnya (agak sok ilmiah). Jadi ada baiknya kita ulas lagi saja topik tersebut. Judul di atas terkesan ada nada mengajak kuliah, bahkan bagi yang pernah kuliah agar dapat mengambil lagi, tentunya untuk level yang  lanjut.

Apakah ajakan tersebut penting dan perlu ditanggapi ?

Pembaca pasti mempunyai pendapatnya sendiri, juga motivasi yang lain-lain pula. Agar ajakan tersebut mendapat tanggapan (mau kuliah lagi), pembaca perlu mencocokkannya dengan harapan apa yang akan dapat diperoleh.  Apakah hal itu ada atau tidak. Jika tidak ada, bahkan berpikir bahwa kuliah lagi itu hanya akan menghabiskan duit saja, atau waktu bagi keluarga atau diri sendiri maka tanggapan yang datang adalah sebagai berikut: apa gunanya kuliah lagi.

Menurut kamu bergunakah kuliah lagi tersebut.

Dari berbagai tanggapan pembaca tentang pentingnya kuliah di artikel saya sebelumnya, maka mayoritas dapat ditarik kesimpulan bahwa kuliah (lagi) itu dianggap dapat meningkatkan mutu suatu kompetensi yang ingin dipelajari. Mutu kompetensi meningkat juga identik mendapat ilmu baru atau minimal up-dated ilmu atau penyegaran lagi.  Itu kesimpulan yang dapat ditarik.

Apakah cukup seperti itu saja. Masihkah penting mengetahui hal yang lain tentang “perlunya KULIAH lagi”. Yah tergantung. Jika seperti aku, dosen yang kerjanya memang memberi kuliah maka pentingnya kuliah (lagi) adalah sesuatu yang menyangkut hajat hidupnya. Jadi jika ada orang yang ingin mengambil kuliah maka pekerjaannya akan tetap ada, tetapi jika kuliah sudah tidak penting lagi maka itu alamat, agar cepat-cepat ganti profesi. Betul bukan.

Jadi jika demikian , kalau ikut kuliah pak Wir maka akan dapat ilmu baru ya ?

Ha, ha, . . . .  kayak sumber ilmu saja ya kesannya. Pernyataan di atas tentang fungsi kuliah, yaitu untuk menambah ilmu, menurutku tidak hanya itu. Bahkan kalau hanya itu satu-satunya motivasi untuk kuliah (lagi) maka bisa-bisa akan kecewa. Para praktisi misalnya, kadang yang diperoleh di bangku kuliah hanyalah teori-teori dasar yang mungkin belum tentu aplikatif di lapangan. Juga ada kecenderungan bahwa materi yang diberikan dosen, relatif stabil di tiap-tiap tahunnya, jadi bisa-bisa tidak up-dated lagi dengan dunia industri. Bahkan sampai-sampai ada pameo agar terjadi “link-and-match” antara dunia kampus dan dunia kerja. Itu khan jelas menunjukkan bahwa selama ini tidak terjadi kondisi tersebut. Kalaupun ada relatif kecil.

Keraguan di atas (kuliah sebagai sumber ilmu) bahkan didukung dengan adanya kemajuan di dunia komunikasi, khususnya keberadaan jaringan internet yang semakin baik di negeri ini. Itu artinya bahwa semua informasi atau data yang diperlukan (textbooks, journal, video, photo, artikel di blog) untuk peningkatan ilmu sudah tersedia, tidak perlu datang ke kampuspun sudah dapat itu semua. Contoh sederhananya, ya seperti blog yang anda baca ini. Betul bukan.

Jadi kalau begitu, apa dong pentingnya kuliah tersebut.

Pertama-tama tentunya bagi yang belum berilmu, maka kuliah pada suatu tahapan tertentu memang benar dapat digunakan untuk menambah ilmu baru. Tentu saja dalam hal ini dengan catatan, bahwa dosennya memang berilmu. Dosennya bukan sekedar staff pengajar saja, ingat tridharma perguruan tinggi, dosen khan tidak hanya mengajar saja bukan. Juga fasilitas kampusnya harus mendukung, seperti perpustakaan kampus yang lengkap. Jika nggak lengkap dan dosennya nggak nyaho, maka ngapain harus datang ke kampus. Lebih baik di rumah saja, di depan komputer baca blog ini. Ha, ha, ha . . .  :)

dosen yang seperti ini kelihatannya cocok sebagai tempat menambah ilmu

Kedua, kuliah dapat digunakan sebagai tempat berinteraksi orang-orang yang mempunyai minat yang sama terhadap suatu ilmu, ada yang punya (harapannya adalah dosen, tetapi kadang mahasiswanya sendiri juga sudah punya, khususnya mahasiswa pascasarjana yang juga seorang praktisi di bidangnya) dan yang ingin meraih ilmu (biasanya adalah yang jadi mahasiswa, tetapi kadang-kadang dosennya memanfaatkan juga , seperti kasus kuliah kerja praktek di tempatku).

kuliah sebagai tempat interaksi orang-orang dengan minat ilmu yang sama

Adanya orang-orang yang sepeminatan tentu akan menambah gairah baru untuk berbuat sesuatu, dalam hal ini adalah untuk menambah ilmu. Kondisi ini jelas akan berbeda jika harus belajar sendiri. Situasi kebersamaan kadang menimbulkan akselerasi dalam pembelajaran. Jadi dalam waktu yang tertentu maka seseorang akan dapat dengan cepat menguasai suatu kompetensi tertentu.

Ketiga, kuliah karena disitu adalah tempat berkumpul orang-orang dengan peminatan ilmu yang sama, maka tentunya kondisi tersebut dapat digunakan untuk benchmarking terhadap ilmu atau kompetensi yang kita punya. Jadi kuliah dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur atau memetakan kemampuan kita. Ini biasanya terjadi bagi mahasiswa yang berasal dari praktisi, baik yang dulunya belum sarjana lalu ingin meraih gelar sarjana atau yang sudah sarjana lalu mengambil program studi lanjut (pascasarjana).

sama-sama disebut apel, tetapi ada bedanya bukan

Ini aku rasakan ketika aku dulu mengambil program S2, bayangkan saja aku mengambil program S2 yaitu setelah lima (5) tahun bekerja sebagai praktisi (structural engineer). Pada waktu itu aku sudah merasa ekspert dalam perencanaan gedung tinggi. Eh ketika kuliah lagi ketemu teman-teman yang juga ternyata ekspert-ekspert juga bahkan pemilik konsultan rekayasa. Jadi deh ketahuan posisi ilmu yang sudah dipunyainya itu. Yang dulunya berjalan dengan dada membusung, maka ketika kuliah lagi dan ketemu orang-orang top dibidang yang sama maka jadi deh, jalannya biasa lagi.

Ternyata di atas langit masih ada langit lagi.

Keempat, dengan kuliah lagi dan akhirnya lulus maka jika itu di perguruan tinggi maka tentunya akan dapat diperoleh pengakuan formal yang diakui oleh pemerintah atau negara dimana pendidikan tersebut diselenggarakan bahwa kita telah mencapai suatu tahapan akademis tertentu. Gelar begitulah.

Percaya nggak percaya, adanya pengakuan ini tentu akan menambah nilai jual. Punya kemampuan tanpa gelar sih pasti ada yang pakai (memperkerjakan) tapi kalau punya gelar lebih, maka bisa-bisa apresiasinya akan lebih baik. Hal ini sangat terasa sekali jika anda bekerja di lingkungan perguruan tinggi, seperti dosen. Intinya bahwa dosen yang mengambil kuliah lagi dan berhasil maka jelas prospeknya akan lebih baik dibanding yang berhenti dan tidak melakukan studi lanjut. Jadi jika anda dosen, maklum di Jakarta ini katanya ada 13 ribu dosen, tetapi yang S2 ke atas baru 50% , maka rasa-rasanya masih banyak yang perlu studi lanjut lagi. Benar khan.

Pada bagian pengakuan ini perlu juga ditambahkan, bahwa karena adanya pengakuan resmi dari negara (dimana pendidikan tersebut diselenggarakan) maka jika anda mengambil studi lanjut di negara asing maka ketika anda lulus maka secara tidak langsung anda juga diakui untuk bekerja atau mencari pekerjaan di negara tersebut. Jadi jika anda ingin kerja di luar negeri maka langkah paling gampang adalah sekolah di luar negeri terkebih dahulu. Tentu saja pilihlah bidang yang memang banyak dibutuhkan di negera tersebut. Banyak teman Indonesia yang kerja di luar negeri memakai cara ini, sekolah dulu, tunjukkan prestasi maka bisa-bisa ketika lulus akan ada yang nawarin job.

Kelima, kegiatan kuliah sebagai tempat pelarian positip. Ini penting untuk dipertimbangkan bagi para pembaca yang sudah bekerja beberapa waktu lamanya dan merasa karirnya mandek. Di tempatnya bekerja dirasa belum ada kemajuan, tetapi pekerjaan baru belum juga diperoleh. Maka jika demikian mengambil kuliah lagi akan dapat menyegarkan pikiran dan siapa tahu ada prospek kedepannya yang lebih baik, misal ketemu teman dari perusahaan lain untuk berbagai informasi dan nanti kalaupun lulus khan siapa tahu ada gacoan (gelar) untuk dapat dipromosikan.

Kalau dipikir-pikir, hal inilah yang memotivasi saya dulu  mengambil kuliah lagi di program pascasarjana UI. Itu  sekitar tahun 1994 sebelum krisis moneter terjadi . Yah bayangkan saja, jika waktu itu aku tidak kuliah lagi dan hanya melulu cari duit saja, mungkin ceritanya akan berbeda dengan yang sekarang ini. Mungkin saja aku harus tetap nglembur kerja di kantor, dan pulangnyapun harus desak-desakan naik bus. Tentang hal itu aku jadi ingat, kata-kata kenalanku : “koq ambil sekolah lagi, bidang struktur lagi, itu khan nggak populer, kenapa nggak ngambil manajemen, kayak yang lain. Dari pada seperti itu khan lebih baik ditabung saja“. Untung aku tidak terpengaruh dan tetap ngotot mengambil studi lanjut pada bidang struktur, yang memang kesannya tidak populer bagi masyarakat banyak (awam), tetapi  suatu bidang yang memang aku senangi.

Fakta yang ada bahwa ketika kuliah itu (1994) belum terjadi krisis moneter (1998), bahkan tidak membayangkan bahwa itu akan terjadi. Saya sangat bersyukur ketika terjadi krisi moneter tahun 1998, aku sudah lulus S2. Jadi ketika perusahaan tempatku bekerja collapsed , karena cash-flow-nya terganggu (orderan berhenti) maka aku bisa meloncat menjadi dosen seperti sekarang ini. Itu artinya saat itu aku tetap bekerja dan tidak menjadi pengangguran. Karena jadi dosen itu pula mak aku dapat mengembangkan diri menjadi penulis seperti ini. Bayangkan saja, itu semua bisa terjadi karena aku kuliah lagi.

Berkaitan dengan bidang struktur, bidang yang sama yang aku geluti terus-menerus sejak S1 itu, maka aku jadi ingat ada teman dosen yang ketika tahun 2004 dulu sama-sama mengajukan diri untuk mendapatkan program bea siswa, yang bersangkutan tidak diterima karena bidang studi yang diambil ternyata tidak berkesesuaian. Untunglah bidang akademis yang aku ambil adalah konsisten sehingga tidak ketemu masalah seperti itu. Tentang hal itu bahkan aku juga mendengar jika DIKTI menemukan dosen yang seperti itu, punya pendidikan yang tidak konsisten, misal S1 teknik sipil, S2 manajemen sumber daya manusia, dan S3 bidang pendidikan, maka untuk mengambil profesor-nya akan kesulitan. Jadi bertekun pada bidang tertentu secara konsisten juga banyak keuntungan yang dapat diraih.

Keenam, kegiatan kuliah sebagai ajang mencari teman baru bahkan bisa-bisa sebagai ajang mencari jodoh. Jadi bagi anak muda yang ingin dapat jodoh orang-orang dengan profesi tertentu maka kuliah menjadi tempat efektif. Ingin punya suami dokter maka kuliahlah di kedokteran atau kalau keberatan maka di bagian-bagian yang dekat-dekat dengan bidang kedokteran, seperti keperawatan, dll. Jadi dengan ikut kuliah maka seseorang dapat masuk pada komunitas masyarakat tertentu yang mungkin dianggap lebih terhormat dibanding yang lain. Ini penting, karena punya duit banyak itu bukan segalanya.

Masih ada yang lain nggak ya.

Akhirnya, bahwa hal-hal itu semua dapat tercapai jika kita kuliah di tempat yang memang baik, yang dikenal reputasinya. Jika mau kuliah jangan tanggung-tanggung carilah yang bereputasi tinggi apapun ongkosnya. Karena akhirnya nantinya pasti akan terbayarkan. Semoga.

Salam dari kampus di Karawaci.

27 thoughts on “perlunya KULIAH (lagi)

  1. Ping balik: Tweets that mention perlunya KULIAH (lagi) | The works of Wiryanto Dewobroto -- Topsy.com

  2. Bila kita bergaul dengan penjual parfum maka kita akan berbau harum, bila kita bergaul dengan penjual arang maka kita akan tercoreng hitam

    Kuliah, juga sebagai tempat pengembangan diri terutama bagi pemuda/i yang baru lulus sekolah tingkat menengah.. dimana saat ini masih banyak yang belum siap menghadapi kehidupan *ababil*

    Maka, dunia perkuliahan diperlukan untuk membentuk kepribadian. Karena hal inilah yang saya rasakan selama 7 semester kuliah S1, semakin banyak pemikiran baru yang saya kenal sehingga memberikan paradigma baru tentang suatu hal.

    Satu lagi manfaat kuliah, kita dapat belajar bersosialisasi melalui organisasi kampus dimana kita belajar menghadapi pemikiran berbeda dengan kita dan belajar bertanggung jawab terhadap tugas yang ada.

    Dampak perkuliahan pada diri seseorang tergantung dari motivasi orang tersebut dan juga lingkungan yang ia temui/pilih saat kuliah.

    Makanya, saat ini saya masih berpendapat citra kampus menentukan motivasi belajar dan kesempatan yang diterima oleh seorang mahasiswa. Karena tidak semua mahasiswa menerima hal yang sama di tiap kampus.

    Contoh: Mahasiswa di universitas negeri mungkin lebih banyak mendapat kesempatan mengenal dunia kerja melalui seminar/kegiatan lain yang belum tentu didapat oleh mahasiswa di universitas swasta.

    Trims.

    Suka

    • Mahasiswa di universitas negeri mungkin lebih banyak mendapat kesempatan . . .

      Untung kamu menambahkan kata mungkin. Jurusan Teknik Sipil UPH, meskipun perguruan tinggi swasta juga telah banyak melibatkan mahasiswa dalam penyelenggaraan seminar, bahkan mereka ada yang maju ke depan mempresentasikan makalah juga.

      Bahkan hari ini ada dua mahasiswa/i ikut salah satu dosennya untuk melihat uji pembebanan jembatan secara dinamis di Kupang, NTT. Itu dilakukannya sebagai bagian dari mata kuliah Kerja Praktek yang akan di ambil. Itu semua mereka lakukan atas inisiatif sendiri, juga biaya sendiri ketika mendengar dosen tersebut dalam perkuliahannya. Maklum dosen yang mengajar mata kuliah jembatan kepada mereka itu adalah senior dan mantan pejabat PU yang masih diminta aktif bila ada masalah jembatan. Acara yang di Kupang tersebut adalah dalam rangka evaluasi jembatan kelaykan jembatan yang ada di daerah tsb.

      Adanya hal-hal kecil di atas itu dapat dijadikan indikasi bahwa mahasiswa/i yang ikut ke Kupang tersebut beruntung mendapat kesempatan untuk mengenal dunia kerja lebih baik. Belum tentu kegiatan seperti itu juga dilakukan oleh mahasiswa universitas negeri. Kenapa bisa begitu, itu tergantung dari personel-personel dosennya dan juga peran pro aktif mahasiswa.

      Memang sih universitas negeri terkesan mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Tapi sekarang swasta juga mulai aktif koq. Oya, tahun ini UPH juga berencana akan memperebutkan dana HIBAH BERSAING dari Dikti, tidak mau kalah dengan PTN yang juga berusaha mendapatkan dana tersebut. Besok ada 7 (tujuh) proposal dari UPH yang akan maju presentasi ke DIKTI untuk evaluasi HIBAH tersebut di tahap akhir. Doakan ya.

      O ya, saya selaku dosen di PTS mempunyai mimpi, bahwa jurusan teknik sipil UPH suatu saat, baik karena kegiatan dosen maupun muridnya suatu saat nanti dapat menjadi rujukan juga bagi keilmuan teknik sipil di Indonesia. Nggak mau kalah dengan PTN. Jadi kedepannya, PTN dan PTS dapat hidup berdampingan dengan saling hormat-menghormati karena mempunyai kedudukan dan kemampuan yang seimbang. Gitu dik.

      Suka

  3. Waahhh,,, postingan yang ringan dan menyenangkan untuk dibaca Pak,, apalagi tentang semangat untuk kuliah lagi seperti ini,,,
    Saya pribadi merasakan bahwa sekolah (lagi) ini merupakan ajang untuk memperkaya ilmu dan pengalaman, tentu saja keenam hal yang telah disampaikan Pak Wir di atas sudah cukup jelas,,

    Salam dari pegiat ilmu sosial di kampus STKS Bandung🙂

    Suka

  4. pak, saya terkesan dengan tulisannya..
    cerita sedikit, pak..
    setelah saya lulus kuliah, saya keterima kerja di salah satu perusahaan swasta milik asing…
    baru skrg saya ngerasa telah membuat bnyk kesalahan waktu kuliah, karena saya ngerasa banyak sekali waktu kuliah yg terbuang sia-sia..
    saya banyak g ngerti dengan semua hitungan struktur dan yg lainnya..
    dan sekarang ketemu dengan kerjaan ini, membuat saya merasa menyesal telah tidak bener2 waktu kuliah…

    buat yg masih kuliah, terus semangat!!!!
    jangan buang waktu Anda Sia-sia…

    Pak Wir, saya boleh nanya..
    saya mau belajar membuat “Breasting Dolphin” menggunakan SAP2000.
    bisa tolong diajari pak…
    Terima kasih, Pak..

    Suka

    • Syukurlah kamu “tersadar”, tidak ada yang namanya terlambat. O ya, tentang Breasting Dolphin aku tidak punya pengalaman, tetapi selama itu bisa dimodelkan geometrinya, juga bisa diketahui beban-beban apa yang bekerja, apakah itu berupa force atau juga displacement maka mestinya tidak ada bedanya dengan analisa struktur yang lainnya.

      Suka

  5. halo pak wir.. apa kabar? wah artikel nya sungguh inspiratif dan memotivasi. terutama kata2 pak wir: “Jika mau kuliah jangan tanggung-tanggung carilah yang bereputasi tinggi apapun ongkosnya.” jadi membuat saya kepingin sekolah lagi.. mungkin setelah 5 tahun saya kerja kali ya.. jadi ada “modal’ yg cukup. hehehe..

    Suka

    • yah semoga Andy, saya doakan.

      O ya lupa, tentang modal cukup. Kadang itu relatif lho, bisa-bisa setelah lima tahun ternyata nggak cukup. Maklum, semakin lama, kebutuhan juga meningkat. Apalagi nanti jika sudah berkeluarga, punya anak dan istri yang tentunya perlu “modal” juga. Fakta membuktikan, adanya hal-hal seperti itu, yang mungkin sekarang belum terpikirkan ternyata menjadi alasan kuat untuk menunda-nunda untuk sekolah lagi. Akhirnya, cuma mengeluh, wah sudah tua anakku saja deh yang sekolah tinggi. He, he, he, tapi jangan kuatir Andi, aku hanya bercanda, saya yakin kamu bisa. Tuhan memberkati.

      Suka

  6. Setuju pak Wir…
    setelah kuliah lagi, kita tahu ternyata masih banyak yang kita tidak tahu…
    tambah penasaran saja… hahah…
    makasih pencerahannya Pak.. JLU

    Suka

  7. Ping balik: Kuliah Lagi « My Blog

  8. Saya belum membaca buku bapak yang ke-3, karena jawaban pertanyaan saya mungkin telah dibahas dalam buku tersebut, selain itu buku itu juga sudah tidak banyak beredar di toko buku.
    Dalam excel ada fasilitas “goal-seek”, akan tetapi dalam source kode vb saya belum menemukan source kode dari “goal-seek” ini. Kalo berkenan bisa bapak berikan pencerahan untuk saya.
    Terima kasih sebelumnya

    Suka

  9. Ping balik: perlunya KULIAH (lagi) « ayundabangkit

  10. wah bagus sekali pak motivasinya. bagi beberapa orang biaya memang jd hambatan, tapi saya rasa dimana ada semangat disitu ada jalan. Oya salam kenal Pak Wir, saya juga dari Jogja..

    Suka

  11. saya setuju kualitas universitas yg mumpuni adalah faktor utama. tp yg gak kalah penting adalah untuk tau tujuan kita, knapa harus sekolah lagi. saya dulu anak teknik dan saya pengen punya usaha sendiri. lepas s1, saya kuliah lagi ambil MBA. skr semua itu terbayarkan deh dgn punya kantor sendir walo masi SME. hehehe..(yang mau tau lebih banyak tentang pengalaman saya bisa kontak saya di degreenzone@gmail.com)

    Suka

  12. Tulisan yang sangat bagus dan memotivasi pak.

    Seharusnya semakin banyak orang Indonesia yang seperti anda. Seorang praktisi yang mau balik ke sekolah, memperdalam teori lagi sehingga menjadi ahli di bidangnya.

    Kebanyakan anak muda Indonesia inginnya serba instan. Lulus kuliah kerja sebentar kemudian ambil MM/MBA karena cita-citanya jadi boss/manager.

    Yang terjadi di Indonesia adalah jauh lebih susah cari engineer daripada manager.
    Kebanyakan engineer maunya kerja engineering sebentar habis itu pingin buka usaha makanan/warnet/jualan kartu Perdana atau jadi manager di perusahaan atau sekolah lagi ilmu politik untuk jadi Caleg.

    Itulah kenapa dunia industri dan infrastruktur di Indonesia nggak maju-maju. Manufaktur nggak maju, ngolah kekayaan alam nggak bisa… profesi engineer adalah profesi marginal disini.

    Kalau Indonesia punya 100.000 engineer dengan gelar master dan doktor engineering dan konsisten di bidangnya, maka Indonesia akan maju.

    Seharusnya syarat menjadi manager di perusahaan adalah memiliki pengalaman teknis minimal 10 tahun, pendidikan teknis lanjutan (S2/S3 teknis) DITAMBAH MBA/MM. jangan yang cuman bisa JUALAN dan NGITUNG DUIT.

    Suka

  13. artikel yang sangat menarik pak. Kalau ingin jadi profesional, sekolah lagi adalah pilihan yang tepat. Tapi kalau ingin jadi pengusaha, saya rasa S1 sudah lebih dari cukup. Lagipula kuliah itu lebih cenderung ke arah hardskill, padahal softskill adalah yang terpenting dalam kesuksesan seseorang dimana softskill tidak bisa didapat dari matakuliah. Banyak orang tidak berpendidikan tinggi tapi dapat meraih sukses yang luar biasa, sebaliknya banyak orang berpendidikan tinggi tapi ujung-ujungnya hanya bisa jadi budak perusahaan. Indonesia memang butuh banyak tenaga profesional, tapi peran pengusaha juga tidak kalah pentingnya buat perekonomian. Biaya kuliah S2 juga mahal, kalau saya lebih baik buat modal usaha😀

    Suka

  14. Ping balik: Jurusan Teknik Sipil di Indonesia dengan Peringkat A (versi BAN-PT) | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s