Studi Banding Jurusan Teknik Sipil UPH – 2010


Pengantar:

Terus terang studi banding yang kami lakukan di Jurusan Teknik Sipil telah terlaksana lama di akhir bulan November dan awal bulan Desember tahun lalu. Bahkan sebagian kecil pengalaman di sana telah penulis gunakan untuk melengkapi artikel di blog ini, yaitu :

Tetapi apa yang saya tulis di atas terkesan tidak secara langsung mengkaitkan dengan peranan kami selaku anggota akademisi di UPH, yang mana itulah yang menyebabkan kami melakukan studi banding. Oleh karena itu sebagai pertanggung-jawaban moral kepada yang memberi kesempatan untuk studi banding tersebut, yaitu ke institusi penulis di UPH dan juga yang di “atas” maka saya mewakili anggota studi banding menuliskan laporan perjalanan studi banding tersebut.

Pembuatan laporan perjalanan yang begitu panjang (versi resmi adalah 15 halaman) telah disampaikan dan dipresentasikan ke Jurusan kemarin pada hari Selasa 1 Februari 2011.

Ada yang mengatakan bahwa penulisan laporan seperti ini terkesan terlalu berlebihan karena ini tidak termasuk dalam kriteria penulisan ilmiah. Jadi ada juga dosen yang bahkan bertanya, ngapain menulis bukan tulisan ilmiah, khan tidak ada kum-nya. Karena tidak kum-nya itu juga maka dari institusi tidak ada insentifnya. Kalaupun nanti masuk majalah pasti artikel tersebut akan dikurangi, lima belas halaman terlalu banyak.

Memang jika hanya menulis untuk kum, maka jelas apa-apa yang saya lakukan adalah mubazir. Seperti juga menulis ratusan artikel di blog ini jelas tidak ada nilai kum-nya. Jadi juga tidak ada sumbangan real nantinya untuk menempuh jenjang profesor, yang persyaratannya adalah jumlah kum. Tetapi saya menulis ini semua sebenarnya hanya kesenangan saja. Suatu bentuk rasa syukur, berbagi info dengan pembaca. Sekaligus juga untuk belajar dan berlatih menulis sehingga nanti ketika menulis ilmiah akan lebih enak dan lebih baik.

Semoga sharing pengalaman saya bersama teman-teman di Jurusan Teknik Sipil UPH ini dapat menginspirasi rekan-rekan pembaca. Semoga.



Studi Banding Jurusan Teknik Sipil UPH – 2010
Pendidikan, Teknologi dan Budaya di kota Taipei, Taiwan

Wiryanto Dewobroto
Harianto Hardjasaputra
Jack Wijayakusuma
Merry Natalia
Fransiscus Mintar Ferry Sihotang

Abstrak : Kualitas pada suatu sistem pendidikan, apalagi jika itu pendidikan tinggi, adalah hal yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, karena suatu keharusan. Salah satu cara mencapainya adalah dengan menerapkan cara berpikir “Think Globally, Act Locally”. Meskipun, cara berpikir tersebut hanya akan efektif jika didukung oleh pengetahuan dan wawasan global yang luas dari para anggotanya. Itu tidak mudah. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan, Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam hal ini mengusahakan dengan cara mengirim dosen-dosen seniornya melakukan studi banding ke luar negeri. Strategi itu dapat terlaksana karena di tahun akademik 2010, jurusan berhasil meraih performance index tertinggi di lingkungan UPH, dan mendapatkan hadiah lumayan berupa dukungan finansial untuk mewujudkannya. Harapannya tentu saja agar dosen-dosennya secara nyata mendapatkan pengetahuan dan wawasan global yang mendukung cara berpikir di atas. Dalam usaha menyesuaikan anggaran yang ada dengan jumlah dosen yang dapat dikirim, maka Republik Cina (Taiwan) menjadi pilihan. Negeri yang relatif dekat, tapi sudah dianggap sebagai negara maju di Asia. Dalam studi banding tersebut,  berhasil  dikunjungi universitasnya yang ternama (NTU dan NTUST), pusat riset gempa nasional (NCEER) dan beberapa tempat penting di kota Taipei. Sebagai bentuk per-tanggung-jawaban akan mutu studi banding yang telah dikerjakan dan sekaligus mendokumentasikan wawasan baru yang diperoleh agar berguna juga bagi dosen-dosen lainnya maka ditulislah paper ini.

Kata kunci: Taiwan, wawasan global, think globaly – act locally

Pengantar

Kualitas atau mutu pada suatu sistem pendidikan tinggi adalah sesuatu yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, karena bagaimanapun itu sudah menjadi suatu keharusan. Banyak cara dapat diterapkan untuk mendapatkan peningkatan mutu dari suatu sistem pendidikan, salah satu cara adalah dengan berpikiran “Think Globally, Act Locally” pada setiap kebijakannya. Tetapi cara seperti itu hanya efektif bila didukung pengetahuan dan wawasan global yang luas.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan tinggi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan, UPH, juga mempunyai visi dan misi yang mengarah kepada peningkatan mutu tersebut. Karena tanpa itu maka jelas perkembangannya ke depan diragukan. Oleh karena itu konsep berpikir “Think Globally, Act Locally” jelas menjadi pertimbangannya juga, meskipun konsep tersebut tidak tersirat secara langsung. Berkaitan dengan hal itu, ternyata seperti pepatah ‘pucuk dicinta ulam tiba’, karena kebetulan juga dalam beberapa tahun ini Jurusan Teknik Sipil UPH berhasil memenangkan performance index tertinggi di level universitas. Hadiahnya berupa uang tunai dengan maksud sebagai dana ‘pengembangan diri’. Karena itulah maka usaha nyata untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan global bagi dosen-dosennya mendapatkan realisasi. Itulah yang memungkinkan jurusan secara finansial dapat mengirimkan dosen-dosennya untuk studi banding ke luar negeri.

Realisasi studi banding ke luar negeri untuk dosen-dosen di Jurusan Teknik Sipil UPH tidak menjadi masalah yang berarti, khususnya dalam menentukan siapa-siapa yang akan berangkat. Hal itu dimungkinkan karena dosen tetap jurusan memang relatif sedikit. Oleh sebab itu semua dosen tetap dapat ikut, yaitu [1] Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra (dosen tetap dan sekaligus Direktur LPPM UPH); [2] Dr.-Ing. Jack Widjajakusuma (dosen tetap dan sekaligus Ketua Jurusan Teknik Sipil UPH); [3] Merry Natalia, ST., M.Eng.Sc. (dosen tetap dan sekaligus Kepala Laboratorium Mekanika Tanah) dan [4] Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto, MT. (penulis, yang juga dosen tetap dan sekaligus Kepala Laboratorium Mekanika Teknik). Itulah empat dosen UPH yang berangkat studi banding.

Faktor peningkatan mutu merupakan motivasi diadakannya studi banding ini, sehingga kapan dan ke negara mana menjadi pertimbangan penting. Adapun hal-hal yang menjadi pertimbangannya adalah [1] Rencana Prof. Harianto Hardjasaputra untuk membawakan makalah di seminar Asian Concrete Federation di Taipei, Taiwan, November 2010. [2] Adanya alumni Taiwan yang mengajar di UPH yaitu Sdri Merry Natalia, yang mendapatkan gelar master-degree di NTUST, Taipei. [3] Adanya dosen UPH yang sedang mengambil program doktor di Taiwan, yaitu bapak Fransiscus Mintar F. Sihotang. Faktor-faktor tersebut dan juga mengetahui bahwa [4] negeri Taiwan telah dikenal secara luas sebagai negara maju khususnya bidang teknologi komputer, dan [5] jaraknya yang relatif dekat sehingga dianggap cukup eknomis, tentu menarik untuk dijadikan negara tujuan studi banding.

Acara studi banding dimulai dengan penerbangan memakai pesawat Cathay Pacific, rute dari Jakarta – Hongkong – Taipei. Rombongan berangkat pada hari Sabtu tanggal 27 November 2010 dan berakhir hari Kamis 2 Desember 2010. Sesampainya di Taiwan, selanjutnya bergabunglah bapak Fransiscus Mintar F. Sihontang, dosen tetap UPH yang sedang studi lanjut S3 di sana, dengan demikian peserta studi banding semuanya berjumlah lima (5) orang. Pada prinsipnya karena sudah ada beberapa yang mengenal Taiwan, atau tepatnya kota Taipei sebelumnya, maka acara studi banding dapat berlangsung relatif lancar dan memuaskan.

Dalam studi banding tersebut,  berhasil  dikunjungi universitas ternama di Taiwan, (NTU dan NTUST), pusat riset gempa nasional (NCEER) dan beberapa tempat penting di kota Taipei. Sebagai bentuk pertanggung-jawaban akan mutu studi banding yang telah terlaksana dan sekaligus mendokumentasikan wawasan baru yang berhasil diperoleh agar berguna juga bagi dosen-dosen lain atau pembaca umumnya, maka ditulislah paper ini

Mengapa Republik Cina (Taiwan)

Republik Cina wilayahnya terdiri dari kepulauan Taiwan, kepulauan Pescadores (Penghu), Quemoy, dan Matsu. Walaupun “Republik Cina” adalah nama resmi negara tersebut, tetapi sebutan “Cina” biasanya akan merujuk kepada Republik Rakyat Cina yang ada di Cina Daratan, dan yang menguasai pula daerah Hong Kong dan Makao. Sebagai gantinya, Republik Cina dikenal dengan sebutan “Taiwan”. Meskipun demikian Republik Cina (Taiwan) sebenarnya adalah keberlanjutan dari Republik Cina yang pernah memerintah di Cina daratan tahun 1911 – 1949.  Adapun peta wilayah Republik Cina (Taiwan) saat ini adalah sebegai berikut (Lihat Gambar 1).

Gambar 1. Peta dan Lambang Negara Republik Cina (Taiwan)Gambar 1. Peta dan Lambang Negara Republik Cina (Taiwan)

Seperti diketahui bahwa Republik Cina pertama kali didirikan di Cina daratan, setelah digulingkannya pemerintahan Dinasti Qing (1912), yang menjadi tanda era berakhirnya pemerintahan 2.000 tahun kekaisaran. Dapat berdirinya Republik Cina pada waktu itu dimulai dari ketidak-puasan penduduk dalam pemerintahan kekaisaran sehingga mulai muncul panglima-panglima perang (war lords) di daerah-daerah untuk mulai berdiri sendiri. Situasinya didukung oleh adanya pendudukan Jepang, dan akhirnya terjadilah berbagai perang saudara. Itu semua jelas melemahkan era kekaisaran. Meskipun demikian pemerintahan Repbulik Cina di Cina Daratan berakhir pada tahun 1949, ketika Partai Komunis Cina menggulingkan pemerintahan yang dikuasai oleh Partai Nasionalis Cina (dikenal pula sebagai Partai Kuomintang). Karena dikalahkannya itu mereka lari ke Taiwan sampai seperti sekarang ini.

Jika tahun 1949 dapat dianggap awal berdirinya pemerintahan Republik Cina (Taiwan), maka negara tersebut relatif masih lebih muda dibanding usia negara kita, Indonesia (1945). Meskipun demikian dalam perkembangannya terlihat bahwa negara Taiwan ini telah berada pada jalur yang benar, menjadi salah satu negara demokrasi di Asia yang maju. Kita mengenalnya dari produk komputernya yang banyak dijumpai di Indonesia, seperti merk Asus, Acer, MSI dan lainnya, dan ternyata merk-merk tersebut dikenal dibelahan dunia yang lain. Di bidang rekayasa kontruksi meskipun negeri Taiwan sendiri dikenal sebagai negeri dengan resiko gempa tinggi (gempa Chichi 1999) ternyata tetap percaya diri juga untuk membangun gedung pencakar langit, Taipei 101 (2004). Selama lima tahun gedung tersebut memegang rekor gedung tertinggi di dunia, dan baru pada tahun 2009 dikalahkan setelah gedung Burj Khalifa di Dubai selesai dibangun. Kondisi-kondisi seperti itulah yang menjadi alasan mengapa Republik Cina (Taiwan) dipilih sebagai negara tujuan studi banding bagi rombongan UPH di tahun 2010 yang lalu.

The 4th Asian Concrete Federation International Conference

Agar efisien maka acara studi banding ini dipilih bersamaan waktunya dengan rencana Prof. Harianto Hardjasaputra mempresentasikan makalah di The 4th Asian Concrete Federation International Conference, yang berlangsung pada tanggal 28 November 2010 – 1 Desember 2010, di Taipei International Convention Center (TICC), kompleks Taipei World Trade Center, Taiwan. Konferensinya sendiri bertema “Concrete for Sustainable Engineering”, yang merupakan bidang peminatan beliau di UPH selama ini. Konferensi internasional 4th ACF ini penting dalam rangka mempromosikan sekaligus mendapatkan masukan bagi pengembangan ilmu dan praktek rekayasa beton dan profesi yang terkait di kawasan Asia. Pada konferensi tersebut akan dibahas hal-hal yang meliputi : Ecology, Environment and Engineering; Sustainable Construction; Design and e–Concrete; Code  and  Standards; Life Cycle Manage-ment; Repair, Maintenance and Rehabilitation; Innovative Technology and Modern Management, dan Mega Project and International Cooperation. Penyelenggara acara adalah Taiwan Concrete Institute (TCI), bekerja sama dengan National Taiwan University (NTU); National Taiwan Ocean University (NTOU) dan  National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Jadi dalam waktu yang bersamaan team dari jurusan teknik sipil UPH dapat melakukan studi banding sekaligus berpartisipasi dalam event internasional. Suatu tindakan efektif seperti pepatah “sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui”.

Gambar 2. Prof. Harianto dan rekan-rekan Indonesia di 4th ACF, Taipei, Taiwan

Gambar 3. Prof. Harianto (UPH) dan pakar-pakar beton international, di Taipei

Nampak dalam Gambar 3, Prof Harianto Hardjasaputra (UPH) berfoto bersama dengan Prof. Yin-Wen Chan, Ph.D (ke tiga dari kanan) Chairman, LOC, 4th ACF International Conference, dan sekaligus Profesor di NTU, juga dengan Prof. Ta-Peng Chang Ph.D (nomer dua dari kanan) yang menjadi International Advisory Committees of 4th ACF Seminar dan sekaligus pimpinan Departemen Rekayasa Konstruksi di NTUST, Taipei.

Kunjungan ke Universitas di kota Taipei

Universitas-universitas di Taipei

Perguruan tinggi di kota Taipei, ternyata cukup banyak. Ada sekitar 18 (delapan belas) institusi pendidikan setingkat universitas, dan 6 (enam) institusi pendidikan setingkat sekolah tinggi (institut / college). Itu dimungkinkan karena kota Taipei merupakan ibukota, sekaligus kota bisnis dari Republik of Cina (Taiwan). Adapun perinciannya adalah  sebagai berikut :

Perguruan Tinggi di Taipei setingkat dengan Universitas

  1. National Taiwan University
  2. National Taiwan Normal University
  3. National Chengchi University
  4. National Taipei University
  5. National Yang Ming University
  6. National Taiwan University of Science and Technology
  7. National Taipei University of Technology
  8. National Taipei University of Education
  9. Taipei Municipal University of Education
  10. Taipei National University of the Arts
  11. Ming Chuan University
  12. Chinese Culture University
  13. Shih Chien University
  14. Shih Hsin University
  15. Soochow University
  16. Taipei Medical University
  17. Tatung University

Perguruan Tinggi di Taipei setingkat dengan Sekolah Tinggi (institut / college):

  1. National Taipei College of Nursing
  2. National Taipei College of Business
  3. China Institute of Technology
  4. Northern Taiwan Institute of Science and Technology
  5. Taipei Physical Education College
  6. Takming College

Dari nama-namanya saja dapat dipastikan bahwa tidak semua perguruan tinggi di atas mempunyai departemen teknik sipil atau semacamnya. Dari 18 perguruan tinggi setingkat universitas, hanya 3 yang mempunyai departemen teknik sipil atau yang setara, yaitu NTU, NTUST dan NTUT (perhatikan nama-nama pada list dengan huruf tebal). Oleh karena itu fokus kunjungan team UPH juga mengarah kepada tiga institusi tersebut. Karena keterbatasan waktu, baik antara tamu maupun tuan rumah yang dikunjungi, ternyata hanya dua institusi yang dapat ditemui, yaitu NTU dan NTUST. Meskipun hanya dua insitusi yang berhasil dikunjungi, tetapi keduanya termasuk peringkat universitas terbaik di Taiwan, dimana NTU menyandang peringkat 1 sedangkan NTUST peringkat 5 atau 6. Dengan demikian tujuan untuk mendapatkan wawasan global tentang pendidikan tinggi di Taiwan sudah dapat terwakilkan.

Departemen Teknik Sipil, National Taiwan University (NTU)

Kunjungan studi banding yang pertama kali adalah ke National Taiwan University (NTU) yang diakui mempunyai departemen terbesar dan terkemuka di antara semua departemen teknik sipil di Taiwan. Jika mengacu peringkat universitas yang mengacu QS World University Rankings 2010, NTU masuk peringkat 94 dari 500 perguruan tinggi top dunia, dan peringkat 21 dari 200 perguruan tinggi top Asia. Meskipun demikian ternyata masih kalah juga dari Singapore, khususnya National University of Singapore (NUS) yang masuk peringkat 9 (dunia) dan 3 (Asia); Nanyang of Technology University (NTU) yang masuk peringkat 36 (dunia) dan 18 (Asia).

Jika dibandingkan dengan perguruan tinggi di Indonesia, maka UI masuk di peringkat 236 (dunia) dan 50 (Asia); UGM  peringkat 321 (dunia) dan 85 (Asia); sedangkan  ITB di peringkat rank 400 – 450 (dunia) dan 113 (Asia).

Itu tadi adalah survey perguruan tinggi dalam kategori umum, adapun perguruan tinggi di kelompok Engineering & Technology maka NTU (Taiwan) ini termasuk dalam peringkat 41 (dunia). Sedangkan ITB, Bandung di peringkat 93 (dunia); Universitas Indonesia di peringkat 203 (dunia) dan Universitas Gadjahmada di peringkat 251 (dunia).

National Taiwan University khususnya pada departemen tersebut memiliki sekitar 428 mahasiswa di tingkat sarjana dan 422 mahasiswa di tingkat pascasarjana, 35%-nya adalah kandidat doktor. Departemen Teknik Sipil NTU saat ini memiliki 41 profesor, 9 asociate profesor, 4 asisten profesor, dan 16 ajunct profesor. Kegiatan penelitiannya sangat banyak bahkan dari data statistik tiga tahun terakhir, hibah penelitian rata-rata tahunan adalah sekitar 3 juta US$.

Pengajaran dan kegiatan penelitian dapat dikategorikan ke dalam empat bidang utama, yaitu rekayasa geoteknik, rekayasa struktur, rekayasa hidrolik, dan teknik transportasi. Dua bidang yang baru dikembangkan Computer-Aided Engineering dan Manajemen Konstruksi. Departemen ini telah bekerjasama dengan Institut Teknik Lingkungan, Institut Mekanika Terapan dan Institut Bangunan dan Perencanaan, dan beberapa anggota fakultas mereka adalah profesor bersama di kedua departemen tersebut. Dalam kegiatan penelitiannya, departeman juga bekerja sama dengan organisasi penelitian lainnya, seperti Hydraulic Research Laboratory, Tjing Ling Industrial Research Institute (TLIRI) Universitas Nasional Taiwan, Pusat Nasional untuk Penelitian Rekayasa Gempa, Pusat Nasional untuk High-Performance Computing, dan Lembaga Penelitian Konstruksi Taiwan. Banyak proyek konstruksi besar di negeri ini usaha telah dilakukan penelitian bersama oleh Departemen dan organisasi-organisasi tersebut.

Gambar 4. Bertukar cedera mata UPH dan NTU (Prof Liang-Jeng Leu, Ph.D)

Departement of Construction Engineering, National Taiwan University of Science and Technology (Taiwan Tech)

Tujuan studi banding ke-2 adalah ke National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) yang termasuk dalam 10 perguruan tinggi top Taiwan. Berkaitan dengan hal tersebut, berdasarkan QS World University Rankings 2010 diketahui bahwa NTUST masuk pada peringkat 370 dari 500 perguruan tinggi top dunia. Jika dibandigkan dengan peringkat perguruan tinggi kita, ternyata Universitas Indonesia lebih tinggi, yaitu masuk pada peringkat 236, UGM peringkat 321, adapun ITB masuk pada peringkat rank 400 – 450.

Untuk kelompok Asia berdasarkan peringkat QS World, maka NTUST berada di peringkat 56 dari 200 perguruan tinggi top Asia, dan masih kalah juga dengan universitas kita, khususnya Universitas Indonesia yang masuk peringkat 50, tetapi menang dari UGM yang di peringkat 85, sedangkan ITB nangkring pada peringkat 113.

Jika NTU masuk dalam peringkat 41 top dunia perguruan tinggi bidang Engineering & Technology, maka NTUST meskipun namanya memakai embel-embel Science and Technology ternyata tidak masuk. NTUST hanya masuk di peringkat 153 (dunia), kalah dibanding ITB peringkat 93 (dunia), tetapi menang terhadap UI yang di peringkat 203 (dunia), sedangkan UGM di peringkat 251 (dunia).

NTUST disebut juga sebagai Taiwan Tech, mempunyai lima kampus yang terpisah. Adapun yang dikunjungi adalah kampus Gongguan, beralamat di Keelung Road No.43, Taipei, Taiwan. Bagian yang dikunjungi adalah Departemen Rekayasa Konstruksi atau Department of Construction Engineering, suatu departemen yang didirikan tahun 1975 untuk pendidikan setingkat sarjana, dan dikembangkan untuk pendidikan program setingkat magister di tahun 1979, adapun untuk program doktor tahun 1983. Pada tahun 1999 departemen membuka program doktor paruh-waktu, khusus dosen atau guru sekolah menengah Taiwan dalam rangka menaikkan mutu pendidikan di sana.

Dalam sistem pendidikan tinggi tersebut, bahasa Mandarin digunakan sebagai bahasa pengantar untuk level sarjana, sedangkan level magister dan doktor diberikan dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu banyak sarjana lulusan luar Taiwan juga belajar mengambil studi lanjut disana. Berkaitan dengan program magisternya, ada empat (4) alumni Jurusan Teknik Sipil UPH yang berhasil menamatkan studi lanjutnya di kampus tersebut dengan beasiswa. Salah satunya bekerja kembali ke UPH menjadi dosen tetap, yaitu sdri Merry Natalia ST., MSc. Eng., dan yang kebetulan ikut dalam rombongan studi banding ini, dan satu orang tetap di Taiwan bekerja dan menikah di sana, yaitu sdri Jenny ST., MSc.Eng. yang ternyata bekerja sebagai peneliti di NCREE, salah satu laboratorium riset nasional gempa yang dikunjungi. Selain itu, satu orang lagi bekerja di Singapore dan satu lagi bekerja di kantor konsultan swasta di Indonesia. Ini secara tidak langsung merupakan bukti bahwa sistem pendidikan yang diberikan di UPH mampu mengantar mereka menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sekalipun itu dilaksanakan di luar negeri.

Gambar 5. Pertukaran cedera-mata antara UPH dan NTUST

Pada gambar tampak dari kiri ke kanan : Yu-Chen Ou Ph.D (NTUST), Professor Ta-Peng Chang, Ph.D (Head Dept. of Construction Engineering, NTUST), Dr.-Ing. Jack Wijayakusuma (Kajur Teknik Sipil UPH), Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto (UPH), dan  sdri. Merry Natalia ST., M.Sc.Eng. (UPH), dalam acara tukar menukar cedera mata.

Departemen mempunyai tujuh (7) laboratorium riset dan pengajaran, serta satu pusat pengujian, yaitu laboratorium [1] manajemen konstruksi, [2] rekayasa geoteknik, [3] struktur, [4] material, [5] mekanika batuan, [6] survey dan [7] laboratorium teknologi informatika, serta [8] pusat uji material konstruksi.

Kunjungan ke Pusat Riset Nasional Rekayasa Gempa di Taipei

Taiwan adalah negara dengan resiko gempa tinggi. Hal ini sudah disadari oleh pemerintah dan rakyatnya sejak lama, sebagai hasilnya tahun 1990 dibuat kesepakatan kerja sama antara National Science Council (NSC) dan National Taiwan University (NTU) untuk mendirikan National Center for Research Earthquake Engineering (NCREE).

Adanya kerja sama tersebut ternyata nantinya sangat berguna, khususnya ketika pada bulan September 1999 terjadi gempa berskala M7.6 di dekat kota Chichi (disebut juga gempa Chichi) yang menelan korban jiwa sebanyak 2100 orang meninggal dan sekitar 8000 orang luka-luka. Atas kejadian itu selanjutnya berdatangan dukungan pemerintah dan juga dari kalangan swasta dalam bentuk dana riset ke NCREE, sehingga lembaga tersebut menjadi semakin maju.

Adapun visi didirikannya lembaga riset ini adalah sebagai berikut:

  • Experimental Technologies and Numerical Simulation: yaitu membangun dan mengoperasikan fasilitas eksperimen canggih kelas dunia untuk para ahli, baik di tingkat domestik maupun internasional tentang gempa. Khususnya yang berkaitan dengan masalah penelitian, peningkatan kemampuan dan efisiensi penelitian eksperimental dan numerik tentang simulasi gempa.
  • Earthquake Loss Estimation Technologies and Applications on Hazard Mitigations: mengembangkan dan memperbarui piranti lunak Taiwan Earthquake Loss Estimation System (TELES), kemajuan teknologi simulasi skenario bencana gempa, kemampuan baik untuk tanggap darurat gempa bumi dan manajemen risiko.
  • Research on Seismic Code Documents and Technical Guidelines: memberikan masukan dan rekomendasi pengembangan (revisi) pada dokumen-dokumen peraturan yang ada yang dapat digunakan untuk persiapan dan petunjuk teknik untuk perencanaan bangunan tahan gempa dan rehabilitasi yang diperlukan pada suatu bangunan sehingga mengurangi dampak bahaya dan kerugian yang timbul akibat terjadinya gempa.
  • Development of State-of-the-Art Seismic Technologies: pengembangan bahan-bahan konstruksi yang inovatif, ramah lingkungan, dan cerdas, metode dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan struktur dan untuk meringankan beban lingkungan Taiwan pada waktu yang sama.
  • Educational Outreach and Consolidation of Earthquake Knowledge: promosi teknik gempa dan pengetahuan mitigasi bencana, konsolidasi temuan penelitian gempa, gempa meningkatkan kesadaran masyarakat dan kemampuan masyarakat untuk tanggap darurat.

Gambar 6. Bersama Prof Shyh-Jiann Hwang, Ph.D, Division Head of NCREE

Tampak dari kiri ke kanan pada Gambar 6 adalah : Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto (penulis), FX. Mintar F. Sihotang (UPH), Prof Shyh-Jian Hwang (pimpinan NCREE), Dr.-Ing. Jack Wijayakusuma (Kajur Sipil UPH), Merry Natalia (UPH) dan Jenny (staff NCREE).  Patut dicatat dari foto di atas, sdri Jenny (yang berdiri paling kanan) adalah salah satu staff periset di NCREE yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan tugas Prof. Shyh dalam menyambut rombongan UPH pada waktu itu, meskipun demikian yang bersangkutan menyempatkan hadir dan bergabung pada rombongan di atas dikarenakan Sdri Jenny adalah alumni UPH. Sekitar tahun 2001 sdr Jenny tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan UPH, dimana ketika lulus, bersama-sama dengan tiga mahasiswa lainnya di angkatan tersebut mendapat kesempatan beasiswa untuk studi S2 di Taiwan.  Salah satu teman angkatannya yang ketika lulus S2 Taiwan kembali ke almamater untuk mengabdi menjadi dosen tetap adalah sdr. Merry Natalia yang juga nampak pada foto di Gambar 6 juga (berdiri di samping sdr Jenny).

Adapun bapak FX. Mintar F. Sihotang (berdiri nomer dua dari kiri disamping penulis) adalah staf pengajar tetap jurusan yang saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral di Taiwan juga. Jadi foto di atas, selain dapat digunakan sebagai dokumentasi studi banding, adalah bukti nyata bahwa proses berpikir ”Think globally, act locally” telah berlangsung sejak lama di jurusan, bahkan tidak hanya “act locally” tetapi “act globally”  juga, sebagaimana telah terimplementasi pada Sdr. Jenny dengan bekerja di NCREE, lembaga riset di Taiwan yang berkelas dunia.

Kejadian di atas tentu menjadi peristiwa yang dapat dibanggakan bagi Jurusan Teknik Sipil UPH.

Riset tentang gempa sebagaimana yang dilakukan NCREE di Taiwan, tentunya penting bagi Indonesia yang juga merupakan salah satu daerah di dunia dengan resiko gempa yang tinggi. Bagi masyarakat Indonesia tentunya masih ingat kejadian gempa di Aceh (2004) dengan tsunaminya yang begitu dahyat, juga gempa di Yogyakarta (2006) yang bagi penduduknya pasti tidak akan terpikir bahwa daerah tersebut dapat mengalami gempa dahyat, karena sebelumnya, puluhan bahkan ratusan tahun tidak pernah tercatat adanya gempa sedahyat yang telah terjadi itu.

Gempa merupakan fenomena alam yang sampai saat ini belum dapat diprediksi secara tepat kapan terjadinya, tetapi jika diabaikan dampaknya dapat mengganggu stabilitas masyarakat umum karena dapat menimbulkan kerusakan atau kehancuran bangunan sehingga menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu kemampuan mengantisipasi terjadinya gempa oleh komunitas adalah sangat penting. Bangunan yang aman dan masih berfungsi ketika terjadi gempa adalah harapan masyakat pada umumnya. Tentang bangunan yang aman dan berfungsi ketika dibebani adalah salah satu kompetensi utama yang dipelajari di jurusan teknik sipil, oleh karena itu dapat dipahami betapa pentingnya kunjungan ke NCREE itu bagi rombongan peserta studi banding dari UPH .

Gambar 7. Reaction Wall untuk uji eksperimental model skala 1:1

Pada Gambar 7 diperlihatkan foto Reaction Wall, suatu perlengkapan yang terdapat di NCREE yang diperuntukan untuk pengujian skala penuh dari suatu struktur bangunan. Pada gambar tersebut terlihat bangunan bertingkat dari portal baja yang akan diuji. Pengujian seperti itu jarang dijumpai di dunia, pertama-tama adalah karena cara pengujian tersebut adalah mahal, dan juga diperlukan s.d.m yang memadai. Untuk kawasan Asia, peralatan yang sebesar itu mungkin hanya dijumpai di Jepang. Adapun para ahli di sana, yang sebagian besar atau bahkan hampir semuanya adalah lulusan dari perguruan tinggi ternama dari Amerika, seperti MIT, Berkeley, Illinois, Stanford dsb.

Adanya fasilitas uji beban struktur skala 1:1 atau skala penuh maka dapat diperoleh kepastian bahwa perencanaan bangunan tahan gempa yang dipilih dapat berhasil dengan baik. Perilaku gempa yang pernah terjadi dapat disimulasi dengan alat uji tersebut. Jadi perilaku suatu struktur ketika terjadi gempa dapat diprediksi sebelumnya dengan baik.

Selama mengunjungi laboratorium NCREE, rombongan UPH diberi kesempatan melihat protipe sistem bangunan tahan gempa sistem ”base-isolation” yang telah dikembangkan oleh mereka. Prinsip bangunannya adalah bangunan atas dan bangunan bawah terpisah secara struktur, sehingga ketika terjadi gempa yang getarannya merambat dari tanah ke bagian bangunan bawah tidak diteruskan ke bagian bangunan atasnya. Karena tidak ada getaran gempa yang diteruskan ke bangunan atas maka secara teori sistem tersebut dapat menghasilkan suatu sistem bangunan tahan gempa yang sangat efektif. Jadi ibarat seperti pepatah “lebih baik mencegah dari pada mengobati”.

Untuk membuktikan bahwa teori tersebut benar dapat digunakan maka laboratorium NCREE membuat prototipe bangunan dalam skala penuh untuk nanti dapat dipergunakan juga sebagai salah satu gedung kantornya. Bangunan tersebut dibangun tepat disamping gedung kantor pusat NCREE, di dekat kampus NTU, Taipei. Kami mengunjungi gedung prototipe tersebut dengan diantar oleh prof Shyh sehingga dapat diperoleh penjelasan yang menyeluruh.

Gambar 8. Bangunan Bertingkat dengan Sistem Base-Isolation di NCREE

Bangunan bertingkat pada Gambar 8, sepintas akan terlihat seperti bangunan tinggi yang lain,seperti halnya juga di Indonesia. Tetapi ternyata itu merupakan prototipe skala 1:1 bangunan tahan gempa dengan sistem “base isolation”. Keunikan bangunan tersebut dibanding sistem serupa yang telah dibangun, adalah bahwa isolasi atau pemisahan struktur atas dan struktur bawah bangunan tidak berada di bawah, di level pondasi sebagaimana biasa, tetapi berada di lantai dua. Jika diperhatikan dengan seksama maka lantai dua pada bangunan tersebut memang terlihat kosong. Fungsi lantai tersebut hanya digunakan sebagai lokasi penempatan “base isolation” dan kesananya tidak bisa diakses melalui lift atau tangga terbuka, tetapi tangga dengan pintu khusus terkukunci. Karena bersama dengan prof Shyh maka sistem isolasi yang digunakan pada gedung dapat diketahui.

Gambar 9. Shock-absorber pada gedung dengan sistem ”Base-Isolation”

Hal yang berbeda pada lantai dua gedung itu adalah bahwa lantainya benar-benar terlihat kosong dari fungsi lantai bangunan pada umumnya. Lantai tersebut tidak dilengkapi dinding penutup sebagaimana terlihat pada Gambar 9. Jadi keberadaan lantai tersebut hanya dikhususkan sebagai tempat memasang sistem ”base isolation”.

Sistem ”base-isolation” sendiri sebenarnya terlihat biasa-biasa, kecuali yang jelas-jelas terlihat berbeda adalah terlihat adanya semacam dashpot atau shock-absorber besar yang terpasang pada arah horizontal dan ditempatkan pada arah yang saling tegak lurus. Dashpot yang dimaksud terlihat pada Gambar 9 di atas. Adapun ”base-isolation”-nya sendiri ditempatkan pada kolom, lihat kolom di sebelah kiri dengan bentuk lekukan yang merupakan penutup dari sistem isolasi struktur-nya. Adanya isolasi tersebut maka kolom hanya bisa meneruskan gaya aksial dari atas ke bawah. Dengan demikian maka gedung secara teori dapat bebas bergerak pada arah horizontal, sebagaimana arah getaran dominan gempa yang mungkin terjadi. Perhatikan pada gambar, bahwa pipa-pipa M&E juga dibuat terpisah (tidak menyambung), sehingga ketika bagian bawah bangunan dan bagian atas bangunan terpisah maka pipa-pipa tidak mengalami kerusakan.

Jadi ketika terjadi gempa, ada getaran arah horizontal yang bergerak dari tanah dan diteruskan ke bagian bawah bangunan, karena adanya sistem base-isolation tersebut getaran gempa (arah horizontal) tidak diteruskan ke struktur atas gedung tersebut. Karena tidak ada getaran gempa yang diteruskan maka jelas tidak ada gaya-gaya yang harus ditahan oleh struktur tersebut. Itu artinya, struktur atas terbebas dari gempa.

Adanya shock-absorber atau dashpot adalah memastikan bahwa bangunan atas dan bangunan bawah ketika terjadi getaran horizontal akibat gempa masih tetap dapat kembali pada posisi awalnya secara halus. Bayangkan saja cara kerjanya seperti shock-absorber mobil ketika melewati jalanan bergelombang.

Karena gedung prototipe di atas juga digunakan sebagai sarana pembelajaran, maka di lantai tersebut juga dipasang prototipe sistem ”base-isolation” yang dalam kondisi ”terbuka” untuk dapat dipelajari, seperti terlihat berikut.

Gambar 10. Prototipe detail sistem ”Base-Isolation” yang dipakai”

Taipei 101 bangunan tertinggi ke-2 di dunia

Taipei 101 (臺北 101) atau nama resminya Gedung Finansial Internasional Taipei (臺北國際金融大樓) adalah gedung pencakar langit tertinggi di Taiwan. Ketika dibangun dahulu (2004) merupakan gedung tertinggi di dunia tetapi sekarang turun menjadi nomer dua tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa (2009) selesai dibangun di Dubai, Uni Emirat Arab. Gedung  Taipei 101 terletak di Distrik Xinyi, Taipei, Taiwan.

Menara Taipei 101 terdiri dari 101 tingkat dan lima lantai basement. Pada saat selesai dibangunnya, gedung tersebut mencatat rekor sebagai:

  • Dari permukaan tanah gedung Taipei 101 dianggap sebagai struktur arsitektural tertinggi (puncak menara): 509.2 meter yang sebelumnya dipegang oleh gedung Petronas Tower 452 m di Kuala Lumpur.
  • Dari permukaan tanah ke ke atap: 449.2 m, rekor sebelumnya dipegang oleh Willis Tower 442 m.
  • Dari lantai dasar ke lantai yang tertinggi: 439.2 m, rekor sebelumnya dipegang oleh Willis Tower 412.4 m.
  • Mempunyai lift dengan kecepatan tertinggi yaitu lift dengan kecepatan yang dirancang sampai 1010 meter per menit, atau 16.83 m / s (60.6 km / jam). Saat sekarang rekornya telah digantikan oleh Burj lift Khalifa yang kecepatan lift naik ke atas adalah 18 m / s (64 km / jam).
  • Mempunyai jam matahari tertinggi.

Luas total 450.000 meter persegi, dengan 214.000 meter persegi untuk fasilitas perkantoran, 77.500 meter persegi untuk kebutuhan komersial sedangkan 73.000 meter perseigi lainnya untuk area parkir.

Dalam banyak aspek, gedung ini adalah salah satu pencakar langit yang paling maju yang pernah dibuat sampai sekarang, memiliki keunggulan dengan fiber optik sehingga hubungan internet satelitnya mencapai kecepatan 1 gigabyte per detik. Toshiba telah menyediakan dua lift tercepat di dunia yang dapat mencapai kecepatan maksimum 1.008 meter per menit (63 km/jam atau 39 mil/jam) dan mampu membawa pengunjung dari lantai dasar ke lantai pengamat di lantai 89 dalam waktu 39 detik. Sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88, menstabilkan menara ini terhadap goyangan yang timbul dari gempa bumi, angin topan maupun gaya geser dari angin.

Gambar 11. Gedung tertinggi di Taiwan, Taipei 101

Sistem Transportasi Massal kota Taipei

Rekayasa Transportasi adalah salah mata kuliah yang dipelajari di jurusan teknik sipil pada umumnya, demikian juga tentunya di Jurusan Teknik Sipil UPH. Oleh karena itu dapat melihat dan mengalami sendiri bagaimana suatu sistem transportasi yang digunakan di kota-kota besar di luar negeri tentu merupakan pengalaman yang menarik.

Definisi kota besar ternyata tidak dapat diamati secara mudah berdasarkan jumlah kendaraan yang berlalu-lalang di jalan rayanya. Kota Jakarta misalnya, bagi orang-orang yang baru datang dari pelosok, daerah lain di Indonesia, yang tentunya relatif lebih sepi, maka kehidupan kota besar metropolitan Jakarta yang dipenuhi dengan kendaraan dan cenderung macet setiap harinya, seakan-akan mengamini bahwa itulah yang disebut kota besar. Kota besar diartikan juga besar dalam jumlah kendaraannya yang ada. Karena ada juga yang bependapat bahwa banyaknya kendaraan itu semua seakan-akan dapat dianggap sebagai indikasi aktifitas penduduknya yang banyak dan dinamik, bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya di kota tersebut. Maklum karena kotanya besar maka perlu kendaraan

Cara berpikir seperti itu, ternyata tidak dijumpai ketika berkunjung dan menginap beberapa hari di kota Taipei, yang merupakan ibukota Republik Cina (Taiwan), kota tersebut dari luar terkesan biasa-biasa saja, bahkan sepintas lalu akan nampak bahwa jumlah kendaraannya terlihat lebih di jalan-jalan relatif lebih sedikit dibanding kota Jakarta.

Gambar 12. Ruas jalan di kota Taipei

Photo suasana jalan di atas diambil pagi hari dari ruang restoran hotel tempat penulis menginap. Suasananya tampak lengang meskipun itu adalah hari kerja (hari Senin). Suasana berbeda tentunya jika dibandingkan kota Jakarta yang kondisi jalannya relatif lebih padat dan bahkan cenderung macet. Penulis yang terbiasa dengan suasana kota Jakarta tentu merasa keheranan, bagaimana itu bisa terjadi, mengapa tidak terlihat suasana orang-orang yang akan masuk kerja. Pertanyaan tersebut ternyata dapat terjawab dengan sendirinya ketika rombongan dari UPH memulai perjalanannya ke universitas untuk studi banding. Kami rombongan menuju ke National Taiwan University (NTU) yang lokasinya ada di Roosevelt Road, dilakukan tidak dengan memanggil taksi, tapi dengan berjalan kaki menuju stasiun Metro, sekaligus ingin mendapatkan pengalaman memakai transportasi publik kota tersebut.

Jika orang-orang yang terlihat di jalan-jalan raya di permukaan atas relatif lengang, sehingga terkesan seakan-akan hanya sedikit penduduknya, maka ternyata suasana di bawah kota, yaitu di dalam stasiun Metro sangat berbeda. Di stasion Metro tersebut banyak sekali orang yang berlalu-lalang. Ternyata pergerakan atau transportasi penduduk kota Taipei lebih mengandalkan pada fasilitas publik, yaitu kereta api listrik bawah tanah atau Metro, dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi sendiri di jalan raya. Pantas saja jika kendaraan yang berlalu lalang relatif lengang dan jarang dijumpai macet seperti halnya Jakarta, meskipun sama-sama disebut sebagai ibukota negara.

Gambar 13. Penulis bersama pak Jack di balkon Stasiun Metro Taipei

Pada kesempatan lain, ketika mengunjungi stasiun Metro pusat dalam rangka transfer jalur angkutan publiknya, ternyata disana juga dijadikan arena sosialisasi antar penduduk, yaitu dengan menjadikannya semacam mall, pusat perbelanjaan. Di bawah tanah, stasiun Metro tersebut terdiri dari beberapa lapis lantai yang terhubung antara satu lantai dengan lantai yang lainnya melalui tangga, eskalator maupun lift. Informasi mengenai itu dapat diketahui dari bill-board berlampu yang banyak terpampang di sekitar stasiun sehingga mudah diketahui bagaimana besarnya stasiun dan sekaligus mallnya sebagaimana terlihat pada photo berikut.

Gambar 14. Bill-board yang menggambarkan penampang mall di stasiun Metro

Penggunaan angkutan publik massal yang tersedia ternyata mudah, selain disediakan peta-peta route jalur transportasi publik, yang berupa brosur maupun dalam bentuk bill-board yang terpasang diberbagai sudut ruang publik, juga sistemnya angkutannya sendiri sangat terintegrasi. Moda transportasi kereta api bawah tanah, kereta api ringan di atas jalan maupun bis, semua langsung terkoneksi secara langsung.  Kalaupun perlu perjalanan kaki relatif dekat. Taksi juga tersedia, tapi penggunaannya umumnya untuk jarak-jarak yang relatif dekat, seperti misalnya dari hotel menuju stasiun metro atau terminal terdekat, yang mana selanjutnya digunakan moda transportasi metro atau bis. Itu terjadi karena penggunaan taksi relatif mahal dibanding metro maupun bis.

Gambar 15. Moda transportasi atas (taxi dan bis)

Adanya sistem transportasi yang terintegrasi dan tepat waktu ternyata juga didukung oleh disiplin warganya tentang kebersihan. Meskipun jarang dijumpai tempat sampah, ternyata di sana juga jarang ditemui sampah yang bertebaran bahkan ada peraturan keras bahwa jika di dalam peron kereta api Metro atau bis dan semacamnya, penumpang dilarang untuk makan dan minum, juga tentu saja dilarang membuang sampah sembarangan. Itu semua dapat dilakukan meskipun sangat jarang terlihat polisi berkeliaran, kenapa, karena ternyata kamera CCTV ada dimana-mana. Kurang jelas bagaimana jika terjadi pelanggaran atau semacamnya, mungkin ada polisi yang mendatangi atau bagaimana, tetapi ada cerita yaitu dari salah satu orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sana, yaitu ketika dia melakukan pelanggaran mengendarai kendaraan melebih kecepatan yang diijinkan. Pada saat pelanggaran memang tidak ditilang oleh polisi langsung, tetapi beberapa hari kemudian ada surat datang meminta denda. Cukup besar lagi. Ternyata, data kendaraan yang melanggar kecepatan terdata oleh kamera dan terindetifikasi pemiliknya, sehingga ketika terjadi pelanggaran langsung diproses. Dendanya cukup besar, karena tidak mungkin dilakukan proses penyuapan seperti di Indonesia, maka penduduk di sana jelas takut untuk melanggar.

Gambar 16. Suasana Interior Gerbong Kereta Listrik Metro

Gerbong kereta listrik Metro yang dinaiki rombongan UPH di atas tampak lengang, itu disebabkan rute Metro yang dinaiki berada di luar kota, daerah di pantai utara kota Taipei yang relatif jauh dari pusat bisnis. Di dalam kereta listrik, penumpang dilarang merokok, meludah, dan juga makan minum. Oleh karena itu interior kereta api tampak sangat bersih dan nyaman. Tempat duduk yang tersedia relatif sedikit, itupun dibedakan dalam dua warna, biru terang yang relatif besar, dan biru gelap yang relatif lebih kecil. Khusus yang warna biru gelap ditujukan kepada orang tua, ibu hamil, atau orang dengan anaknya. Dalam kesempatan beberapa hari menggunakan fasilitas Metro tersebut, para penumpang tidak terlihat berebutan untuk mencari tempat duduk, mereka cenderung memilih untuk berdiri, mungkin juga mengikuti himbauan agar lebih menomer satukan ibu hamil atau orang tua yang terpasang di kursinya tersebut, tetapi bisa juga dikarenakan perjalanannya relatif cepat dan singkat dalam mencapai tujuannya. Jadi dari pada berebutan mencari tempat duduk, maka mereka cenderung berdiri saja dekat dengan pintu keluar. Jadi dapat dengan cepat untuk berpindah ketika sudah sampai tujuan.

Mengorek informasi tentang transportasi publik di Taipei, yang umum disebut Metro – Taiwan ternyata keberadaan-nya belum terlalu lama. Dari informasi yang diperoleh (http://english.trtc.com.tw) dapat diketahui bahwa rencana sistem publik di Taiwan, khususnya Metro-Taiwan baru disetujui rencananya oleh pemerintah tahun 1986, dan baru dapat diwujudkan tahun 1996 dengan dibukanya jalur Muzha, transportasi publik kapasitas medium dengan kereta tanpa masinis yang pertama, yang menempuh jalur sepanjang 10.5 km. Selanjutnya jalur-jalur lain diselesaikan secara cepat, seperti di tahun 1997 dapat dibuka jalur Danshui dari Danshui ke Zhongshan, transportasi publik cepat kapasitas berat yang pertama di Taiwan. Panjang jalur operasinya bertambah 21.2 km sehingga total keseluruhan dari Metro-Taiwan menjadi 31.7 km. Selanjut mulai itu jalur berkembang, Metro-Taiwan menjadi populer sebagai alat angkut utama yang mana ditandai sampai bulan Januari 2001, tercatat kumulatif telah terangkut penumpang sebanyak 500 juta. Suatu jumlah yang tidak sedikit mengingat yang dibangun adalah suatu sistem yang baru. Itu juga merupakan bukti bahwa pembangunan dan pengoperasian sistem angkutan massal Metro-Taipei dapat menjadi solusi yang baik untuk masalah kemacetan lalu lintas lama yang ada dan dapat meningkatkan aliran jalur lalu lintas, menghidupkan kembali berfungsinya kota, dan mendorong kembali pengembangan di dalam kota dan kota-kota satelit. Saat ini Metro-Taipei memiliki sembilan jalur: The Line Wenshan-Neihu, Line Danshui, Line Zhonghe, Xindian Line, Line Banqiao, Line Nangang, Line Tucheng, Line Luzhou, dan Jalur Xiaonanmen.

Dari catatan,  dapat diketahui juga bahwa transportasi publik dengan jalur kereta bawah tanah seperti Metro-Taiwan dapat mengalami resiko banjir, yaitu 17 September 2001 dimana saat itu terjadi badai besar di Taiwan, dampaknya mengenai 16 stasiun Metro sehingga beberapa jalur keretanya sempat tertunda karena dihentikan sementara.

Terlepas dari itu semua pada akhirnya dapat dimaklumi, meskipun pembangunan Metro-Taiwan relatif lama, yaitu butuh waktu puluhan tahun, tetapi dengan keberadaan Metro-Taiwan tersebut maka sarana transportasi Taiwan menjadi efisien (cepat, tepat dan murah) serta nyaman. Sistem seperti itu tentunya diharapkan suatu saat dapat diadaptasi oleh negeri kita tercinta Indonesia, memang untuk itu pemerintahnya perlu komitmen yang kuat dan konsisten dan tidak tergantung dari siapa yang sedang memimpin. Harusnya kita tidak perlu takut, jika Taiwan suatu negara yang luasnya saja tidak lebih besar dari pulau Jawa dapat membuat prasaran transportasi publik seperti Metro-Taiwan, mengapa Indonesia yang luas wilayahnya jauh-jauh lebih besar dari Taiwan tidak bisa menirunya.

Kesimpulan

Cara berpikir “think globally, act locally” adalah tidak sesederhana seperti yang dapat diucapkan, apalagi jika orang yang akan mengaplikasikannya belum pernah merasakan langsung kehidupan yang bersifat global mendunia. Salah satu cara untuk mencapainya adalah melakukan studi banding ke luar negeri agar dapat bertambah wawasannya. Kesempatan tersebut berhasil didapatkan dosen-dosen di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Desain Teknik Perencanaan Universitas Pelita Harapan, yaitu studi banding ke Republik Cina (Taiwan), berupa kunjungan ke institusi perguruan tinggi, lembaga riset gempa dan fasilitas infrastruktur yang ada. Apa-apa yang diperoleh, baik itu berupa informasi, bahkan cara pandang baru yang diperoleh dalam studi banding tersebut telah dituliskan dalam makalah ini, sehingga hal-hal yang dianggap baik tersebut dapat ditularkan nantinya. Sehingga akhirnya, “think globally, act locally” tidak sekedar dalam cara berpikir tetapi juga dapat dirasakan sebagai akibat aksi nyata pemikir-pemikirnya.

Daftar Bacaan Tambahan

6 thoughts on “Studi Banding Jurusan Teknik Sipil UPH – 2010

  1. Selamat siang pak Wir…
    Semoga dalam keadaan sehat.
    Nice info… luar biasa… Pak
    (tamasya sambil belajar … :-)) pulang bawa oleh-oleh ilmu yang dishare secara gratis (tanpa perlu ke Taiwan)… Makasih banyak Pak.

    Mumpung pak Wir lagi bicara tentang gempa. Sekalian mau bertanya kepada bapak beberapa hal, sbb :

    1. Saya pernah baca bahwa kelakuan struktur yang dibebani beban dinamik (dalam hal ini beban gempa), supaya lebih akurat dapat digabungkan dengan test-geoteknik. Sehingga respon struktur yang lebih real (istilahnya sih soil-structure interaction) dapat terwakili. Apakah NCREE juga punya riset ini pak? Kan mahal, Reaction Wall 1:1 aja mahal, tambah test-geoteknik?Apakah pak wir punya referensi atau jurnal ilmiah untuk riset yang menggabungkan Structure-Soil dalam beban gempa (laboratorium)?

    2. Trus mau tanya pak, SNI Gempa 2010/2011 itu apakah sudah ada (dirilis), kapan sih pak wir keluarnya?

    3. Prinsip perencanaan SNI Gempa 2010/2011 berdasarkan IBC 2009. Apakah benar pak Wir?Saya baru mau skripsi pak Wir, dapatkah saya hubungkan Peta Gempa 2010 dengan IBC 2009?(Takut salah perkiraan pak)

    Semoga berkenan menjawab, mohon pencerahannya..

    Suka

    • Apakah kalau perilaku tanah dimasukkan dalam analisis pasti hasilnya lebih akurat, maka saya kira pernyataan tersebut tidak bisa digeneralisasi.

      Ingat akurat itu relatif, bisa pada suatu masa akurat, tetapi pada masa lain menjadi tidak aman. Bagaimana itu.

      Masalahnya adalah bahwa data tanah itu variasinya lebih banyak dibanding data struktur di atasnya. Jadi sebagai antisipasi maka biasanya safety factor terhadap kegagalan tanah diambil lebih besar dibanding struktur atasnya sendiri. Itulah mengapa orang-orang struktur lebih suka memisahkan struktur atas dengan struktur bawah. Sebagai misal, kenapa orang lebih suka struktur statis tertentu pada jembatan, yaitu simple beam. Ini dipilih karena sistem ini tidak terpengaruh oleh kondisi tanah, tanahnya mau turun atau naik, strukturnya ok-ok saja. Berbeda dengan struktur statis tak tentu, ini lebih terpengaruh oleh kondisi tumpuan, jadi misalnya adanya balok di atas tiga tumpuan, maka agar dapat berhasil maka ketiga tumpuan tidak boleh mengalami penurunan.

      Penurunan dari mana, dari tanahnya. Padahal fakta menunjukkan bahwa kemungkinan ada penurunan pada suatu kondisi tanah tertentu bisa saja terjadi, maka untuk itu tanah yang mengalami penurunan disimulasi juga dalam perhitungan dengan demikian terlihat bagaimana pengaruhnya pada struktur menerus tersebut. Ini adalah analisis soil-structure yang paling sederhana.

      Dengan cara berpikir seperti itu, maka kebanyakan soil struktur interaksi dilakukan sebagai suatu langkah mengantisipasi suatu kondisi yang mungkin saja terjadi, agar dapat dipastikan aman.

      Pada presentasi prof Shiyh juga diketahui bahwa mereka juga menyelidiki gempa berdasarkan kondisi geotekniknya, yang terlihat nyata adalah penyelesaian pada tanah yang beresiko terjadi likuifaksi. Ini beresiko tinggi untuk terjadi keruntuhan struktur di atasnya, jadi terlihat ada beberapa strategi mereka untuk mengatasinya. Juga ada penyelidikan tentang kadar gas tanah yang digunakan untuk memperkirakan akan adanya gempa. Pada konsep seperti in kelihatannya mereka menggabungkan dengan data IT, yaitu terkoneksi secara real dengan komputer, jadi jika dibeberapa tempat ada perubahan kadar gas (saya nggak tahu jelas gas apa) maka dapat diidentifikasi akan terjadinya perubahan geometri bumi yang ujung-ujungnya akan ada gempa. Wah pokoknya seru, nggak melulu wall -reaction saja.

      Tentang SNi gempa, terus terang sudah lama saya tidak mengulik atau memperhatikan, tetapi yang jelas saya belum punya SNI gempa yang baru. Setahu saya sekarang yang baru adalah peta gempanya saja yang tempo hari di launching oleh prof Mashyur Irsyam dari ITB. Jadi kalau memang ada peraturan gempa baru, diberi tahu ya saya.

      salam

      Suka

  2. Ping balik: studi banding, lagi-lagi studi banding ! | The works of Wiryanto Dewobroto

  3. Ping balik: Jurusan Teknik Sipil di Indonesia dengan Peringkat A (versi BAN-PT) | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s