kebohongan publik


Sebelum membaca lebih lanjut artikel ini, maka ada baiknya anda membaca terlebih dahulu artikel dari surat kabar Kompas sebagai berikut:

Dapat dipahami jika pernyataan para tokoh-tokoh tersebut kepada pemerintah tentang “kebohongan publik” telah menimbulkkan perasaan tidak enak, bahkan cukup menohok. Bagaimana tidak, selama ini yang selalu diusahakan adalah bagaimana mendapat persepsi “baik” dimata orang-orang lain. Istilah populernya adalah politik citra.

Citra di sini tentul saja adalah citra yang baik, citra kesuksesan. Karena itu merupakan modal penting bagi keberlangsungan kekuasaannya.

Oleh karena itu sangat pantas jika pemerintah berusaha keras melakukan pembelaan atau mungkin tepatnya berusaha memberikan argumentasi bahwa pada dasarnya mereka tidak berbohong.  Salah satu argumentasi yang menarik adalah yang disampaikan berikut :

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan bahwa pemerintah tidak melakukan kebohongan publik dalam melaporkan kinerja perekonomian-nya. Semua laporan tentang realisasi dari berbagai target perekonomian yang telah dicapai dan belum mampu diraih adalah berdasarkan fakta.
Kompas.com – Rabu, 12 Januari 2011 | 19:39 WIB

Yah seperti itulah, pernyataan dibalas dengan pernyataan. Pernyataan pak Menteri jelas tidak salah, beliau benar karena pernyataannya adalah mengungkapkan kebenaran dari kaca mata beliau. Coba saja lihat, tentang pernyataannya yaitu “kinerja perekonomian-nya”. Apa yang bisa anda amati, ya benar di akhiran “nya” karena dengan demikian orientasi kerjanya adalah pada dia dan bukan pada kita.

Jadi masalahnya adalah pemerintah mempunyai tolok ukur kinerja sendiri sedangkan masyarakat juga punya tolok ukur yang lain. Masalahnya sekarang kelihatannya tolok ukurnya berbeda.

Ditinjau dari sisi akademis, itu biasa. Seperti misalnya, seorang peneliti A ingin membahas tentang “kinerja struktur baja”, demikian juga peneliti B. Meskipun keduanya menggunakan kata kunci yang sama, yaitu “kinerja struktur baja” tetapi hasil penelitian keduanya bisa-bisa tidak sama satu dengan yang lainnya. Apakah itu berarti salah.

Belum tentu. Nah disini yang penting adalah batasan masalah, strategi yang digunakan dalam membahas masalah tersebut, atau tepatnya adalah argumentasi yang mendasari penelitian tersebut. Bagi orang awam tentu bisa memahami juga sebagaimana pepatah “rambut sama-sama hitam, isi kepala bisa berbeda-beda”.

Lho kalau begitu mengapa sampai timbul adanya kasus di atas pak ?

Ya jelas karena cara pikir keduanya adalah berbeda. Bagi para tokoh lintas agama, mereka melihat bahwa yang namanya kekuasaan itu adalah suatu amanah. Jadi harapannya adalah agar dapat digunakan untuk kesejahteraan masyarakat banyak. Sedangkan yang lagi berkuasa, khan lain. Kekuasaan adalah kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat (tertentu) saja.

Jadi itu saja bedanya.🙂

4 thoughts on “kebohongan publik

  1. karena ada kesenjangan das sains dengan das sollen-nya. Memang, klo menurut q, kebohongan itu benar2 terjadi. Contoh nyatanya, sampai sekarang belum ada pengadilan HAM ad hoc kasus penghilangan paksa 1997/1998. Namun, pemerintah menyatakan klo penegakkan HAm sudah bagus. Ya bagusnya dari mana…???:(

    Salam, tabik…^^

    Suka

  2. Ya …. ya… namanya Media Publik….., tanpa kebohongan yang dipelintir n diluncurkan takkan laris manis….., seperti lagu : Janjimu sumpah palsu…. rayuan pulau kelapa…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s