sampai kapan ya NKRI ini ?


Tentu aku juga heran, mengapa judul itu yang ingin aku tulis. Sepulangnya dari Taipei, dan bertemu dengan orang-orang muda Indonesia yang belajar di sana. Aku merasa bahwa mereka ternyata dapat sukses beradaptasi dan bahkan dapat juga bersaing, khususnya dalam menempuh pendidikan tinggi, dengan penduduk aslinya. Bahkan aku rasa bisa lebih baik, karena ada yang kemudian ditawari beasiswa oleh profesor tamunya untuk belajar di USA. Itu semua, tentunya harus menimbulkan rasa optimis di hati ini.

Betul, memang ada rasa kebanggaan bahwa orang Indonesia pada prinsipnya adalah tidak jelek-jelek amat dibanding bangsa lain. Intinya bisa begitu. Tetapi ketika kembali ke negeri ini, dan membandingkannya dengan kondisi di sana, ternyata tiada yang dapat aku banggakan. Padahal jika dibandingkan Indonesia, negeri Taiwan relatif lebih muda, berdiri tahun 1949 hasil pelarian dari Cina Daratan akibat kalah dalam perebutan kekuasaan dengan komunis. Negerinya juga relatif kecil dibanding NKRI yang wilayahnya dari sabang sampai merauke. Saya yakin dan seyakin-yakinnya bahwa wilayah Taiwan relatif lebih kecil. Bandingkan saja luasnya dibanding negara atau pulau-pulau berikut :

  • Singapore 710.2 km2 (2%)
  • Taiwan 35,980 km2 (100%)
  • Java 129,307 km2 (360%)
  • Sumatera 473,481 km2 (1351%)

Jadi sebenarnya dibanding luas wilayah kita, bahkan hanya sebagian pulaunya saja, Taiwan itu tidak ada yang dapat dibanggakan. Kalah jauh pisan. Tapi jika kamu pernah ke sana, pasti tidak habis pikir, negeri kita ini khususnya metropolitan Jakarta ternyata tidak ada apa-apanya.

Gambar 1. Aku dan Taipei 101, salah satu gedung tertinggi di dunia

Memang sih, kalau melihat gebyarnya, ramainya, memang Jakarta, ibukota Indonesia,  ini luar biasa, ramai sekali, sibuk sekali, bahkan cenderung hiruk pikuk (nggak teratur). Kalau nggak percaya, cobalah sekali-sekali berlalu-lalang di tengah Jakarta. Punya kendaraan (mobil) saja bermasalah, apalagi nggak punya. Suasananya jadi agak berbeda jika anda ke Taipei, ibukota Taiwan. Ini ada foto jalan di depan hotel, relatif kalah hiruk pikuk di banding ibukota negara kita, Jakarta.

Gambar 2. Jalan di depan hotel tempat menginap di Taipei, Taiwan

Pada gambar di atas, di bagian bawah nampak ada lubang dan alat-alat berat. Itu adalah suasana konstruksi pembangunan jalur metro bawah tanah yang baru. Anda tentu bisa membayangkan jika ada pelaksanaan konstruksi jalan-jalan di ibukota Jakarta, pasti macetnya akan luar biasa. Ingat waktu pembangunan jalur bus-way saja kaya begitu, bagaimana kalau jalannya sampai dilobangin seperti di Taipei.

Jadi jika lalu-lintas di Taipei tidak macet sebagaimana terlihat pada photo di atas. Itu berarti memang pemakai jalan di atas tidak banyak, atau artinya ada alternatif transportasi lain selain jalan raya.

Gambar 3. Lift menuju station Metro, sistem MRT kota Taipei

Ternyata benar, nun jauh di bawah tanah, terdapat jaringan jalan kereta listrik atau Metro sub-way. Itu aku foto pada hari Minggu, jadi relatif sepi. Sepi aja banyak orang khan. Jadi penduduk kota Taipei memang jarang menggunakan transportasi di jalan-jalan atas, mereka lebih suka pakai Metro sub-way, cepat dan tepat waktu. Murah lagi begitu katanya.

Gambar 4. Aku di salah satu station Metro MRT kota Taipei

Fasilitas transportasi publik mereka demikian baiknya, bahkan orang cacat dengan kursi roda listrik yang dapat dikemudikan sendiri, mampu secara mandiri memanfaatkan fasilitas tersebut. Mula-mula aku tidak percaya, tetapi ketika sendang antri menunggu kereta listrik metro datang ternyata di depanku ada orang cacat yang dimaksud. Jadi di kota Taipei, orang cacatpun mampu secara mandiri menikmati kemudahan transportasi massal yang disediakan. Coba jika orang seperti itu di Indonesia, bisa apa dia, pasti perlu bantuan orang lain jika ingin hidup dinamik (pergi kemana-mana) seperti itu.

Gambar 5. Orang cacat dan MRT di Taipei

Suasana di dalam kereta listrik bawah tanah atau Metro sub-way tersebut relatif bersih. Pada kesempatan sepi ketika aku naik, aku mencoba mengabadikan interior di dalamnya. Meskipun tidak ada tempat sampah di dalam, tetapi tidak terlihat sedikitpun sampah di lantai. Memang sih ada larangan makan atau minum atau merokok di dalam area kereta bahkan di peron pun juga masih dilarang. Lihat nggak ada penjaga atau polisinya tetapi mereka patuh pada peraturan. Masyarakat kita rasanya belum sampai pada tahap itu lho.

Gambar 6. Interior krl-Metro di Taipei begitu bersih

Jadi kalau berpikir, bahwa Indonesia ini adalah negeri yang sangat besar, kekayaan alamnya juga luar biasa, tetapi mengapa prasarana kotanya tertinggal. Prasarana yang memudahkan penduduknya tinggal, aman dan sejahtera untuk berkarya. Lihat saja, publik transportasi kotanya, juga banjir yang sering bahkan cenderung selalu terjadi jika ada hujan lebat melanda. Luar biasa.

Khan sudah ada busway pak. Ingat-ingat jangan mengeluh terus.

Dik, aku tidak mengeluh, hanya menyampaikan fakta. Memang ada pepatah, dari pada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Itu memang benar, menjadi pendatang jelas lebih besar usahanya dibanding penduduk aslinya. Jadi aku menulis ini juga berharap kapan negeri ini bisa seperti mereka. Padahal seperti tadi, orang-orang kita itu kalau di ‘luar’, maju-maju juga lho. Hebat. Tetapi mengapa di dalam negeri kita sendiri, nggak kelihatan kehebatannya.

Siapa bilang !

Betul, jika kamu membandingkan dengan yang ada di negeri ini, memang betul, orang-orang itu relatif lebih baik, dan cenderung kelihatan sebagai yang terbaik. Tetapi jika kamu mau membandingkan, dengan Taiwan, Singapore, tidak ada yang dapat dibanggakan dari sisi kemajuan masyarakatnya. Sebagai contoh, di ke dua negera tersebut, jumlah polisi atau tentara yang dijumpai di jalan-jalan relatif sangat sedikit dibandingkan negeri kita, yang di setiap sudut lampu lalu lintas bahkan terlihat beberapa polisi yang merunduk dan mengamati siapa tahu ada pengendara yang berani-berani melanggar lampu lalu lintas. Sedangkan di negera Taiwan atau Singapore, polisi tidak terlihat menyolok keberadaannya, tetapi nggak terlihat ada orang yang melakukan pelanggaran. Jika lampu merah, mereka berhenti dan orang dapat menyeberang dengan aman. Apa itu ada di Indonesia, khususnya di Jakarta, nggak terlihat Polisi, seperti panah lepas dari busurnya. O ya, ada informasi dari teman Indonesia yang disana, bahwa wanita dapat pergi ke luar malam sendirian dan tidak menjadi masalah. Aman. Coba, beranikah anda memberi nasehat atau informasi itu di Jakarta.

Meskipun berita-berita yang aku dengar pada saat itu, bahwa ada politikus Taiwan yang ditembak, tetapi suasana di jalan-jalan rasa-rasanya tidak berpengaruh. Maklum, suasana di sana memang sedang ada pemilu, yah semacamnya itu. Tetapi di jalan-jalan, tidak seperti di Indonesia yang penuh dengan poster atau spanduk macam-macam. Jalan-jalan di sana tetap rapi. Itu menunjukkan bahwa tidak ada pembuangan uang sia-sia untuk spanduk-spanduk itu. Nggak ada itu yang namanya pesta demokrasi seperti di sini. Kalau mau jujur, kita semua di sini ini sebenarnya terkecoh, kesannya dengan adanya pesta demokrasi tersebut maka diharapkan masyarakat secara luas akan mendapat manfaat, padahal itu khan hanya untuk elite-elite tertentu saja. Apa buktinya, yang kembali ke masyarakat, seperti faktor keamanan, kemudahan bertransportasi, kemudahan mencari pekerjaan dan sebagainya, tidak ada yang dapat dibanggakan dibanding negeri-negeri tetangga lainnya. Aku kebetulan ketemu dengan beberapa orang Indonesia yang mau ke sana, dari Tegal, Cirebon, ternyata mereka adalah TKI nelayan. Jadi ternyata TKI kita ini tidak hanya ke Arab dan sebagainya, tetapi juga sampai ke Taiwan. Jadi TKI.

Gambar 7. Ketemu TKI yang jadi nelayan di Taiwan

Nelayan-nelayan di atas ternyata orang Indonesia yang sedang jadi TKI. Aku bertemu di daerah Tamshui Fisherman’s Wharf, di pantai Tamsui, Taiwan. Mula-mula aku tidak tahu kalau mereka orang Indonesia, kapal itu memang sedang berlabuh di pinggir, dan kebetulan aku sedang berbicara dengan pak Mintar dengan bahasa Indonesia, mereka mendengar dan menyapa.

Pertama-tama berbicara dengan mereka para TKI, aku berpikir mereka pasti akan bercerita dan bangga, bahwa mereka bisa bekerja di Taiwan. Di luar negeri gitu lho.

Eh ternyata keliru, bukannya rasa bangga yang mereka sampaikan tetapi ternyata keluhan, uneg-unegnya selama ini. Intinya adalah sebagai berikut: bahwa apa yang mereka terima (gajinya) dirasa tidak adil, menurutnya gaji yang diberikan dari orang Taiwan cukup besar (katanya sampai 19 rb NT) , tetapi gaji tersebut tidak langsung ke mereka, tetapi agent, yang katanya untuk uang makan, pondokan dan keamanan, maka yang mereka terima sangat kecil (hanya 1 rb NT untuk yang baru datang, sedang yang sudah 6 tahun dapatnya sekitar 7 rib NT).  O ya, 1 rb NT kira-kira 300 rb Rp sebulan bersih. Gimana itu, apa nggak kasihan mereka itu.

Selanjutnya mereka berpesan kalau bisa ada perwakilan pemerintah Indonesia, khususnya dari kementrian tenaga kerja ada yang datang untuk mendengarkan aspirasi mereka. Selama ini mereka sudah tahu bahwa di Indonesia ada spanduk, bahwa TKI adalah pahlawan devisa, tetapi mereka merasa tidak ada dukungan bagi mereka. Wah, wah koq jadi begitu. Jadi pembaca yang puya jalur ke Kementrian Tenaga Kerja, tolong dong disampaikan, itu pesan TKI kita yang aku temui di daerah Tamsui, yang kebetulan sedang berlabuh di bawah jembatan Lover Bridge of Tamsui.

Gambar 8. Aku di Lover Bridge of Tamsui, Taiwan

Jadi ngomongin TKI ini, kita loncat dulu kembali ke topik yaitu tentang NKRI.

Kita bahkan sudah 65 tahun berdiri, tetapi terkait dengan usia tersebut ada yang mengatakan bahwa itu masih sangat muda, bandingkan saja dengan Amerika yang memerlukan waktu 234 tahun agar menjadi seperti sekarang ini. Jika dibandingkan dengan Amerika, aku memang merasa terhibur, negera kita sih memang masih seumur jagung. Jadi dapat dimaklumi jika belum bisa memberikan kesejahteraan seperti yang dinginkan oleh banyak orang, baru bagi kalangan elite tertentu saja. Fakta ini juga yang umumnya dijadikan bahan argumentasi bagi para ahli-ahli orang pintar yang kebetulan mendapatkan ‘posisi’. Aku juga sebenarnya sudah mengamini, tetapi jika kemudian dibandingkan dengan negera-negera tetangga, yang relatif lebih muda, Singapore (merdeka dari Inggris tahun 1963), Malaysia (merdeka dari Inggris tahun 1957), Cina Daratan (deklarasi 1949) dan Taiwan (deklarasi 1949) yang telah aku kunjungi, jelas-jelaslah bahwa usia 65 tahun itu sebenarnya lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kemerdekaan rakyat, yang diidentikan dengan kesejahteraan rakyat mestinya sudah dapat diupayakan. Usia kemerdekaan kita sebenarnya lebih dahulu dari negeri-negeri tersebut.

Jadi ibarat, Indonesia itu negeri yang lulus S1-nya lebih dahulu dibanding negeri-negeri tetangganya, tetapi kemakmuran yang dicapainya kalah. Gimana ya. Padahal orang-orang Indonesia secara individu nggak kalah hebatnya dibanding mereka.

Gambar 9. Aku di National Sun Yat-sen Memorial Hall, Taipei

Selanjutnya ketika aku berkunjung ke National Sun Yat-sen memorial hall, yaitu suatu monumen di Taiwan yang didirikan untuk mengingat-ingat semangat perjuangan Dr. Sun Yat-sen waktu itu dalam rangka meruntuhkan dinasti Ching, yaitu kekaisaran Cina yang telah berumur 2000 tahun lebih. Wah luar biasa.

Luar biasa dalam arti, suatu kekaisaran yang telah tegak berdiri selama 2000 tahun di Cina akhirnya tumbang menjadi Republik. Aku membayangkan yang 2000 tahun saja bisa tumbang, apalagi yang baru 65 tahun, NKRI. Membaca sejarah, menarik juga. Kekaisaran tersebut tumbang, karena pada masa-masa tersebut di kekaisaran mulai tidak memikirkan kesejahteraan rakyat, disebutkan dimana-mana terjadi korupsi, pejabat hanya memikirkan golongan-golongannya sendiri, kemudian di beberapa tempat timbul war-lord, tuan-tuan tanah bersenjata, yang bisa muncul karena didukung oleh kekuasaan dan uang. Intinya pemerintahan adalah untuk kepentingan golongannya, mereka sejahtera, tetapi di bawah tidak demikian adanya. Itulah motivasi utama mengapa Dr. Sun Yat Sen berjuang. Jadi ujung-ujungnya sama, negara ada adalah untuk kesejahteraan rakyat, kekuasaan ada adalah suatu amanah, bukan suatu kesempatan untuk mensejahterakaan golongannya saja.

Mengingat itu semua, dan membandingkan dengan negeriku sendiri, aku menjadi prihatin. Kamu tentu bisa melihat sendiri, bahwa korupsi juga terlihat dimana-mana, diproses tetapi tidak tuntas. Para penguasa berjuang untuk kepentingannya sendiri, untuk citra pribadinya. Tidak berani bersikap khususnya membantu yang minoritas lemah. Kemudian dimana-mana, timbul organisasi-organisasi yang dapat mengerahkan massa dan bersikap melawan aparat dengan berlindung pada kekuatan massa. Ini kayaknya akan menjadi cikal bakal war lord.

Meskipun baru berumur 65 tahun, kelihatannya orang-orangnya sudah melupakan sejarah berdirinya NKRI. Ingat, NKRI ini khan ada bermula dari pemikiran sekelompok orang dimulai dari Dr. Soetomo yang pada tahun 1908 mendirikan Boedi Utomo, sehingga pada tanggal 28 Oktober 1928 dapat terdeklarasi sumpah pemuda. Masih ingat isinya :

  • Pertama: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
  • Kedoea: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
  • Ketiga: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Saya kira disinilah roh adanya negara NKRI. Apakah roh itu masih kuat di negeri ini. Tentang bahasa, aku kadang jadi malu, di Negeri Taiwan yang luasnya kurang dari pulau Jawa, mereka dapat dengan bangga menuliskan di semua tempat di Taipei huruf-huruf dengan bahasa mereka sendiri. Mereka bangga memakai bahasa mereka, bahasa Cina, bahasa bangsanya.

Gambar 10. Bahasa Cina, bahasa bangsa Taiwan

Kita bagaimana.

Kita di sini khan bangga kalau nama-nama kita berbau barat. O ya, ada yang lebih memprihatinkan lho, itu di  acara Festival Film Indonesia 2010. Anda memperhatikan tidak, kelihatannya orang-orang yang duduk di KFFI mungkin saja secara faktual mereka lahir dan besar di Indonesia. Tetapi secara pemikiran kelihatannya mereka bukan bangsa Indonesia, bayangkan saja film Pencerah yang mencoba mengangkat harkat bangsa dianggapnya tidak layak di festival, alasannya sederhana katanya sejarahnya tidak lengkap. Itu khan lucu, yang namanya film, apalagi judulnya nyata Pencerah, maka wajar saja yang diambil adalah bagian-bagian kehidupan yang dianggap mencerahkan, yang tidak ya nggah usah di singgung. Konsep seperti itu saya kira juga wajar, sesuai konteks. Aku nggak ngerti cara berpikir orang-orang KFFI itu. Bahkan setahuku, film-film yang dianggap layak untuk masuk festival adalah film yang secara terang-terangan memakai judul bahasa asing, bukan bahasa Indonesia. Ini khan luar biasa, untuk membentuk negara dengan bahasa Indonesia, yaitu NKRI, itu khan butuh perjuangan  yang lama, yang mengorbankan tidak hanya materi juga darah banyak rakyat ini. Eh, setelah merdeka, melecehkannya. Saya sangat yakin, arwah para pejuang dulu tentu akan kecewa dengan sepak terjang KFFI itu. Ingat kalau tidak kita sendiri yang memperjuangkan menggunakan bahasa Indonesia, lalu siapa lagi. Karena FFI itu di level nasional, apakah ini bukan berarti sebuah tanda, bahwa semangat Sumpah Pemuda 1928 sudah mulai pudar.

Meskipun NKRI ini baru bergeser dari generasi ke dua dan ke generasi ke tiga, dan masih ada generasi pertama yang hidup, yang merasakan awal-awal negara ini berdiri. Tetapi ternyata ingatan kita ini relatif pendek, mudah lupa. Dianggapnya negeri kita NKRI ini adalah hasil kesepakatan banyak orang, yang bersama-sama bersepakat mendirikannya. Faktanya khan bukan seperti itu, tetapi hasil kesepakatan pemimpin-pemimpin masyakat yang mempunyai kearifan tinggi, yang bersepakat untuk bersama-sama mendirikan NKRI ini. Dari kesepakatan yang arief tersebut diketengahkan konsep Bhineka Tunggal Ika, suatu konsep yang sangat ideal, karena tidak hanya memenangkan yang mayoritas tetapi juga menghormati yang minoritas. Karena kearifan itu pula, maka Sri Soeltan Hamengkobuwono IX, pemimpin tradisional Jawa khususnya Ngayojokarta Hadiningrat secara sukarela menggabungkan diri dan membantu sepenuhnya NKRI yang masih muda untuk menjadi kuat. Atas itu semua, pemimpin-pemimpin yang arif pada waktu itu memberi kehormatan ke pada wilayah Sri Sultan dengan sebutan Daerah Istimewa.

Tapi apa yang terjadi, ketika NKRI sudah merasa kuat, merasa bisa berdiri tanpa siapa-siapa lalu mempertanyakan dan bahkan mempersoalkan tentang Daerah Istimewa tersebut. Bisa apa Jogya itu, mana sumbangan materinya bagi NKRI,  lalu mengapa bisa disebut istimewa. Karena hanya istimewa dalam hal pemilihan gubernur, maka itu pula yang diobok-obok. Yah, seperti “kacang lupa pada kulitnya“.

Bahkan yang lebih menyedihkan, bahwa alasan mempersoalkan daerah istimewa Yogyakarta adalah didasarkan pada hasil survey. Jelas dengan cara seperti itu, maka yang mayoritas adalah yang menang. Semangatnya jelas sudah berbeda dengan semangat pada waktu NKRI dulu di usahakan.

Dengan itu semua aku kadang jadi memaklumi dengan judul yang aku tulis di atas: “Sampai kapan ya NKRI ini, kalau begini terus !

27 thoughts on “sampai kapan ya NKRI ini ?

  1. Pak Wir,
    Semua tergantung pada pimpinan, sebagai contoh Malaysia, kebetulan saya kerja disini sebagai engineer, pemerintahnya mendorong masyarakatnya untuk sekolah yang tinggi, sebagai contoh bagi yang tak mampu pemerintah memberikan sarana berupa pinjaman untuk sekolah ke perguruan tinggi ( degree ) tidak pandang mereka pintar atau ngak asal mau aja, boleh mengajukan dan rata-rata di approved ( diberikan pinjaman ).

    Kalau kita sekolah ke jenjang master atau Ph.D, biaya sekolah kita dapat diajukan sebagai potongan pajak ( pajak pendapatan kita dikurangi dengan biaya sekolah kita), di Indonesia boro-boro, terserah lu dah yang penting pajak tetep gue pungut, malah jangan-jangan lebih gede, karena anda bisa sekolah berarti sudah makmur, pajakin aja lebih besar.

    Biaya beli buku bisa dijadikan bukti pengurangan pajak. Hal-hal seperti ini mana ada di Indonesia. Semua balik ke pemimpinnya Pak.

    Suka

  2. Kita di sini khan bangga kalau nama-nama kita berbau barat

    Nama Anak = orang tua sekarang kalau kasih nama anaknya, banyak yang di adopted dari orang luar . karena yang kita baca, lihat, dengar, pikir dan kita memilih pada nama adopted dari luar tersebut. Kita mengharapkan anak kita, berhasil, mandiri, bahagia nantinya.

    Selain itu pilihan baju, pilihan kendaraan, pilihan film dll . Tapi dalam hati kita ingin rasanya mencintai budaya sendiri. Tapi dunia modern ini , sesuatu yang lebih baik, lebih pasti, lebih nyaman, lebih unggul , lebih bervariasi, lebih unik, lebih cepat itu yang kita pilih. Walaupun dalam hati kita juga ingin rasanya bermakna, bermanfaat , berfaedah untuk bangsa dan negara.

    Tapi bagaimanapun pak Wir, saya rasa masalah kondisi sekarang, yang jelek ya diperbaiki yang nantinya supaya jadi baik.

    Sukses buat pak Wir, tulisannya oke

    Suka

  3. Iya bener pak, mestinya rakyat Indonesia tu tergerak tuk revolusi n babat abis generasi pemerintahan sekarang soalnya mau yg berbendera agama ataupun berbendera neraka mereka semua 1 tujuan : mikirin diri sendiri & parpolnya, emang ada juga yg menyuarakan hati masyarakat jg tp ya itu hati masyarakatnya mereka ambil yg menengah ke atas bukan menengah kebawah, hasilnya ya seperti skrg ini.

    Saya jg pernah ke Algeria (yg menurut pandangan saya = Indonesia th 90-an). Walaupun kabarnya sama (pejabat korup) tp untuk hal pendidikan n kesehatan gratis tu BENER-BENER GRATIS (malah sekolah dr SD-Universitas gratis total). Saya di sana ikut proyek jalan-jembatan n hebatnya (istilah saya : negri seribu jembatan) soalnya hampir tiap 1 km dibuatkan jembatan / underpass buat akses masyarakat (yg saya lihat, gara2 1-2 rumah mereka buatin jembatan) n gara2 1-2 rumah juga, pemerintahnya pasangin kabel yg panjang buat salurin listrik gratisan..

    Kalo di kita? kalo kejadian gitu bisa2 masuk rekor MURI😀. Hampir semua kebijakan pemerintah, masyarakat selalu salah persepsi (masyarakat Indonesia bodoh2 ya???) n slalu aj pemerintah cari celah pajak (warteg dipajak lah dll malahan sebentar lagi WTS_WARIA siap2 kena pajak juga).

    Padahal kalau administrasi pemerintah dibenahi bisa berapa puluh / ratus triliun yg terselamatkan tanpa mengorbankan rakyat (pajak sana-sini)..Ya HIDUP REVOLUSI lah cuma kata itu yg pantas buat Indonesia tercinta skrg ini..

    Suka

  4. coba di Indonesia juga ada kereta bawah tanah kayak gitu, pasti kemacetan dapat teratasi. Kita bisa belajar dari negri lain, tapi belajar dari segi positif. trmkasih atas postingannya.

    Suka

  5. wah saya ngga baca semua kira2 cuma setengah tapi mungkin negara2 kecil itu lebih mudah diatur jadi perkembangan juga bisa lebih cepat..
    kalo mau bandingin ya sama negara yang kira2 seukuran lah..

    gitu lah kira2

    Suka

    • @tonosaur,
      Aneh juga, mempunyai luas wilayah yang lebih luas koq dianggap menjadi masalah, bukankah itu suatu kesempatan yang lebih baik. Bayangkan saja, punya sawah yang lebih luas khan tentunya penghasilannya lebih banyak.

      O ya, sebaiknya perlu ditanya lagi, mendirikan negara itu hanya untuk bergaya-gaya saja bahwa luas wilayahnya luas, atau demi kesejahteraan rakyat banyak. Selama ini khan yang terjadi adalah kesejahteraan elitenya saja, adapun yang dibawah garis kesejahteraan lebih mayoritas.

      Satu-satunya cara agar orang-orang yang mayoritas belum sejahtera tersebut agar dapat menjadi sejahtera adalah memberi kail, bukan ikannya. Sehingga dengan kail itu mereka dapat mencari ikan sendiri. Adapun kail itu bukannya modal kerja, bukan itu, tetapi adalah pendidikan yang bukan sekedar ijazah, tetapi pendidikan yang dapat memberi hikmat agar mereka dapat bebas berpikir, berkreasi, dan berinovasi untuk mampu mandiri. Tetapi masalahnya sekarang adalah bahwa pendidikan yang baik di Indonesia itu sekarang mahal, nggak setiap orang mudah mereka mendapatkannya. Akhirnya yang survive adalah golongan yang itu-itu saja, minimal kelas menengah ke atas atau elite yang mampu memberikan anak-anaknya pendidikan yang terbaik.

      Suka

  6. ya, semoga indonesia cepat berubah dan menjadi negara makmur.. tetapi menurut saya itu membutuhkan proses dan waktu yang lama. Mari kita mulai perubahan dari indivudu masing-masing

    Suka

  7. Luar biasa… artikel bapak sangat menyadarkan kita semua.

    Semoga banyak orang yang membaca artikel ini agar menjadi manusia Indonesia yang maju. Perubahan memang menyakitkan untuk sementara waktu, namun hasilnya membanggakan dan membahagiakan dalam waktu yang lama…=)

    Suka

  8. Membaca judulnya saja aku terhenyak : sampai kapan ya NKRI ini ?

    Apa NKRI harus punya batas atau di batasi???
    Tapi ya itulah kenyataannya. Kita-kita juga yang harus berperan aktif membentuknya, jangan melulu segelintir orang. SETUJU???

    Suka

  9. aduh, miris banget rasanya kalau harus dibandingkan. gimana nggak hiruk pikuk jakarta, wong transportasi umum saja tidak nyaman, gt pun masih desak2an nggak karuan, ampe bingung mau komentar apa T_T

    Suka

  10. Ya sampai kapan NKRI ini? Seeeedih juga ya, kok kita bangsa yang besar tidak bisa sehandal tetangga kita, walaupun umur mereka jauh lebih muda.

    Tulisan ini jadi relevan juga dengan situasi perpolitikan hubungan DI Jogyakarta dengan Ibukota RI. Apa ya yang terjadi bila PemPus tetap pada mau menggolkan RUU-nya. Pa Wir, sebagai putra daerah Yogya apa perasaannya.

    Suka

    • Salam kenal Pak Harianto, bpk dlu yg pernah seminar di UBL Lampung tentang rumah kaca, dengan Bu Lilis jg pak, sy salah satu mhs Teknik Mesin dsni pak waktu itu menghadiri seminar jg.

      Sukses Pak Harianto.

      Suka

  11. Kemerosotan bangsa Indonesia adalah terutama disebabkan karena faktor “pendidikan” yang tidak tepat.

    Makna pendidikan di sini harus dibedakan dengan makna pengajaran. Pendidikan adalah menyangkut pembinaan secara akhlak (budi pekerti) dan ilmu pengetahuan. Pendidikan memerlukan panutan, tidak hanya penyampaian ajaran, yang hilang di negeri ini adalah pendidikan budi pekertinya. Karena pendidikan budi pekerti ini hilang, maka wajar saja jika hasil keluaran dari pendidikan di Indonesia banyak yang tidak memiliki kualitas kemanusiaan/akhlak dan kepedulian sosial yg tinggi, sehingga mereka selalu berorientasi pada pemenuhan ego pribadi maupun golongan.

    Kita harus membedakan bahwa iman tidak sama dengan akhlak. Orang beriman belum tentu berakhlak dan orang berakhlak belum tentu beriman. Bangsa Indonesia mayoritas adalah bangsa beriman, tapi jika melihat dari kondisi sosial kemasyarakatan maupun tingkah pemimpin2-nya ternyata rata2 bangsa Indonesia tidak memiliki kualitas akhlak yg bagus. maka dari itu sudah seharusnya pendidikan budi pekerti diajarkan sejak dini. bukannya malah dicecoki dengan ajaran agama yang cenderung konservatif.

    Ajaran agama sepantasnya diberikan pada pelajar yang telah dewasa (tingkat SMA ke atas). Pada usia tersebut diharapkan seseorang dapat menentukan pilihan agamanya berdasarkan pondasi pendidikan budi pekerti, sehingga mampu memilah dan memilih mana ajaran yg paling bermanfaat bagi kehidupannya (bukan mana yg benar dan salah, karena tidak ada satupun manusia yg bisa membuktikan keberadaan Tuhan secara “objektif”).

    Suka

  12. mantab nih..
    semua umat itu ada batas waktunya masing2 , hampir seperti itulah bunyi dari salah satu ayat yang tertulis di dalam kitab suci. mmmmmm……..kalau ngomongin kapan waktu pastinya agak tau juga tuh tapi sepertinya gak habis dengan hitung jari tangan deh…..he3…

    soale kehancuran sebuah kesatuan itukan diakibatkan karena didalamnya banyak yang bergolong-golongan sehingga timbul perselisihan dan sikap menang sendiri sehingga memecah belah. nah kalau kita analisis, pikir mateng2 liat-liat tanda2 e, dan kita cocokin dengan keadaan bangsa ini, saat ini, sekarang ini, sekiin kih, pas matab kan!……

    terus apa ni yang kudu kita lakuin, ikut bergolong2an atau bersatu padu?
    thx

    salam

    Suka

  13. Ping balik: tanggapan untuk Made Pande | The works of Wiryanto Dewobroto

  14. Ping balik: Studi Banding Jurusan Teknik Sipil UPH – 2010 | The works of Wiryanto Dewobroto

    • Aku sendiri prihatin dengan bangsaku,sampai bila tanah kelahiranku dapat sejajar dengan negara laain,oh yah aku sekarang menetap di malaysia,,setiap detik dan jam aku slalu memerhati perkembangan tanah air

      Suka

  15. Ping balik: Studi Banding Jurusan Teknik Sipil UPH – 2010 | Lisa Sugeha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s