laporan KJI ke-6 dan KBGI ke-2 2010


Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, bahwa acara akbar mahasiswa-mahasiswi teknik sipil dari perguruan tinggi (universitas dan institut) serta politeknik se Indonesia ternyata dapat berlangsung sukses. Padahal kita semuanya tentu tahu bahwa negeri ini yang sedang berprihatin dengan adanya bencana alam yang silih berganti.

Acara akbar yang dimaksud adalah KJI (Kompetisi Jembatan Indonesia) ke-6 dan KBGI (Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia) ke-2, yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, adapun dalam pelaksanaannya dibantu oleh Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Acaranya sendiri telah berlangsung kemarin dulu pada hari Jumat-Minggu tanggal 5-7 November 2010 yang lalu,  bertempat di lapangan parkir PNJ kampus UI , Depok, Jawa-Barat.

Sebagaimana seperti biasa, bila ada kesempatan terlibat langsung dalam suatu acara yang menarik, khususnya bagi komunitas teknik sipil berbahasa Indonesia, maka aku rasa-rasanya mempunyai kewajiban moril untuk menuliskannya di blog.

Sharing ! Siapa tahu memberi inspirasi bagi teman-teman yang lain agar ikut juga berpartisipasi. Intinya adalah : keinginan untuk menyebarluaskan gagasan.

Hal di atas adalah penting lho, itu juga tercantum di Rubrik – Beban Kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi Tahun 2010 yang dikeluarkan DIKTI. Disitu disebutkan bahwa menyebar-luaskan gagasan adalah salah satu kewajiban profesor yang ingin agar tunjangan profesi dari pemerintah terus berlanjut. Jadi kalau para profesor (di Indonesia) yang menerima tunjangan profesi tidak melakukan kegiatan menyebar-luaskan gagasan (ke masyarakat), maka tunjangan profesi dapat dihentikan.

He, he, berarti menulis seperti di blog ini, karena juga menyebar luaskan gagasan ke masyarakat, dapat digunakan sebagai latihan untuk nanti ketika telah menjadi profesor. Iya khan.🙂

Pada acara KJI ini aku ditugaskan sebagai juri nasional KJI. OLeh karena itulah aku mempunyai kesempatan luas untuk terlibat baik di dalam acara-acara persiapannya maupun acara utamanya pada hari Jumat-Minggu yang lalu. Ditambah dengan adanya pengalaman-pengalaman menulis sebelumnya, maka saya yakin materi tulisanku ini merupakan laporan terlengkap tentang pelaksanaan acara akbar tersebut, yang terpublikasi luas. Jadi makalah ini merupakan rujukan penting bagi yang ingin tertarik untuk mengikuti acara tersebut kedepannya. Moga-moga.

Acara kompetisi ini menurutku cukup penting untuk diikuti oleh para mahasiswa teknik sipil di Indonesia. Kalau tidak salah ini merupakan satu-satunya acara pertandingan atau kompetisi ilmiah (berlatar belakang ilmu pengetahuan yang digeluti) bagi mahasiswa-mahasiswi teknik sipil yang didukung penuh oleh pemerintah (DIKTI). Sertifikat bagi juara maupun jurinya saja di tanda-tangani langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Kemdiknas) Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. Jadi kalau digunakan untuk perhitungan KUM dosen pasti laku / diakui sebagai kegiatan pendidikan ilmiah tingkat nasional .🙂

Acara tiga hari tersebut sebenarnya merupakan puncak atau final dari kegiatan yang telah dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Finalis terdiri dari 8 (delapan) kelompok atau team, untuk masing-masing kategori [1] Jembatan Baja, [2] Jembatan Kayu dan [3] Jembatan Bentang Panjang. Untuk kategori Bangunan Gedung diikuti oleh 9 (sembilan) team. Jadi semuanya ada 33 team yang bertanding. Para finalis tersebut dipilih berdasarkan proposal perencanaan yang dikirimkan kepada panitia dan yang selanjutnya dievaluasi oleh team juri. Pada tiap-tiap kategori, biasanya panitia mendapatkan 20-30 proposal dan dipilih 8 proposal dari pergurutan tinggi berbeda untuk menjadi finalisnya.

Selama tiga hari, para finalis diundang ke Jakarta untuk dievaluasi dan berkompetisi mempertandingkan rancangan dan struktur model yang dibuatnya. Sehari sebelum acara pertandingan berlangsung, yaitu hari Kamis tanggal 4-11-2011 para team sudah diminta melakukan registrasi ulang, untuk memastikan bahwa mereka tidak terlambat dan mengikuti lomba keesokan harinya. Ini biasanya sangat berguna bagi team yang dari luar kota. O ya, untuk acara kali ini yang paling jauh yang aku ingat adalah yang dari pulau Batam, dan dari Kupang. Ini daftar lengkapnya yang tercantum pada poster besar di tempat lomba.

Gambar 1. Poster besar yang menyambut para peserta lomba

Hari pertama perlombaan, jatuh pada hari Jumat tanggal 5 November 2011, hari pendek karena siangnya khan ada jumatan. Jadi acara dibagi menjadi dua, pagi hari dimulai dengan technical meeting, yaitu acara pertemuan pertama antara dewan juri dan para finalis. Ini sangat penting untuk menyamakan persepsi tentang penilaian yang akan berlangsung pada perlombaan ini. Selain penyamaan persepsi, juga untuk memastikan hal-hal yang kurang jelas atau termasuk juga pertimbangan lain yang sebelumnya tidak diperoleh jawabannya. Tentang hal itu semua, maka rujukan pada Buku Panduan Lomba yang telah dikirim sebelumnya kepada para peserta adalah hal yang utama.

Adanya rujukan tertulis seperti yang tercantum pada Buku Panduan Lomba adalah sangat penting sekali. Maklum yang ikut lomba adalah dari kalangan kaum intelektual, jadi bisa saja mereka memandang satu persoalan dari berbagai sudut pandang. Bisa-bisa diperoleh beberapa pembenaran sekaligus berdasarkan argumentasi yang mereka buat. Jika itu yang terjadi maka tentu akan membingungkan karena bisa saja hasilnya saling bertolak belakang satu sama lainnya.

Pada acara kali ini, penulis juga mendapatkan fakta bahwa mengikuti secara konsisten apa-apa yang telah dituliskan dalam buku Panduan tersebut kadang-kadang tidak gampang, sehingga untuk memutuskannya saja sampai-sampai diperlukan voting, ujung-ujungnya kompromi, meskipun itu tidak mengikuti petunjuk yang telah dibuat. Bayangkan saja, petunjuk tertulis yang sudah dibuat berbulan-bulan lamanya, dengan pertemuan berkali-kali ternyata dapat dianulir oleh argumentasi lesan sesaat yang didukung mayoritas. Yah, maklum itulah Indonesia, semuanya bisa benar jika mendapat dukungan mayoritas.🙂

Yah pak Wir, jangan terlalu idealis lha. Anggap saja ini sebagai permainan bagi kita semua, hiburan. Gitu lho.

Betul dik. Saya pada prinsipnya juga setuju tentang hal itu. Hal itu pulalah yang mendasari saya bertindak pada acara tersebut, yaitu menjaga agar acara dapat berlangsung lancar, jangan adanya hal-hal seperti tersebut di atas lalu dibesar-besarkan sehingga mengganggu acaranya adik-adik mahasiswa kita.

Ini saya ungkapkan sebagai masukan untuk ke depannya. Sekali dewan penilai berani mengubah-ubah sendiri ketetapan yang dibuatnya, maka tentu kedepannya menjadi semakin tidak jelas. Jika demikian bisa-bisa semua orang berlomba-lomba menjadi dewan penilai hanya sekedar untuk menggolkan kepentingan pribadi atau golongannya saja. Selain itu, juga karena ternyata apa yang aku lihat masalah ternyata bagi anggota dewan penilai lain melihat masalah itu sebagai sesuatu hal yang kecil, komentarnya :”Ah, biasa itu pak, di lapangan juga umum dilakukan perubahan terhadap spek atau bahkan kontrak, yang penting ada kesepakatan aja !

Yah, maklum para penilai memang bermacam-macam latar belakangnya ada yang dosen, ada yang dari pemerintah (owner) dan ada juga yang dari unsur lapangan (kontraktor / konsultan). Jadi tentunya dapat dimaklumi adanya pernyataan seperti di atas. Kondisi di lapangan memang memungkinkan untuk terjadinya perubahan. Maklum,biasanya spesifikasinya bersifat general, sama antara proyek satu dan lainnya, umumnya hanya copy-and-paste dari proyek-proyek yang mirip, padahal untuk kasus tertentu kadangkala perlu judgement khusus agar diperoleh  penyesuaian. Berkaitan dengan lomba ini tentu kasusnya berbeda, spesifikasi lomba ini khan yang membuat para juri itu sendiri, bahkan untuk itu sampai perlu dibuatkan pertemuan khusus sampai beberapa kali. Intinya sudah disosialisasikan bersama dan diperoleh satu kesepakatan. Jadi jika kemudian diubah sendiri pada saat hari H-nya oleh para pembuatnya sendiri, meskipun untuk itu ada argumentasi lesan, tetapi itu khan seperti pepatah “menjilat air ludah sendiri“. Tidak konsisten dengan apa-apa yang telah disepakatinya sendiri sebelumnya. He, he jadi ingat peribahasa tentang ISO, yaitu tuliskan apa-apa yang akan dikerjakan dan kerjakan apa-apa yang dituliskan. Jadi jika tidak mengikuti hal tersebut maka tentu akan berpengaruh pada mutu yang ingin diraih. Betul bukan !

He, he, jadi nglantur nih, mari kita kembali ke acara technical meeting pada hari Jumat pagi .

Gambar 2. Suasana Technical Meeting KJI

Nampak anggota dewan juri yang berkesempatan hadir pada Technical Meeting, yaitu saya sendiri (paling kiri), bapak Joko Irwanto (ITS), bapak Sugeng Prayitno (Unbraw) dan bapak Syahril Rachim (UI). Acara technical meeting sendiri dibuka dengan pengantar dari ibu Nunung Martina (PNJ) mewakili Panitia KJI-6.

Gambar 3. Sambutan selamat datang dari Ibu Nunung Martina (PNJ)

Salam selamat datang dari Ibu Nunung Martina mencairkan ketegangan dari para peserta, juga bagi para hadirin peserta technical meeting. Maklum sambutannya berkesan santai bersahabat, intinya mengingatkan para panitia dan peserta semua bahwa acara ini semua pada dasarnya adalah ajang untuk meningkatkan kreativitas dan kompetensi mahasiswa melalui adu kompetisi materi yang memang nantinya menjadi keahliaa ahli-ahli teknik sipil pada umumnya, yaitu perencanaan dan pelaksanaan jembatan dan bangunan. Jadi oleh karena itu sportivitas peserta adalah utama, selanjutnya bilamana ada hal-hal yang kurang jelas dalam kompetisi tersebut ada baiknya di clear khan semua pada acara technical meeting ini.

Good. Kata pengantar yang baik dari ibu Nunung, rasa-rasanya public-relation KJI nggak perlu dari orang luar. Dengan demikian maka ibu Amalia, ST., MT dapat dengan tenang menayangkan materi-materi yang telah menjadi kesepakatan para juri sebelumnya, yaitu tolok ukur penilaiannya. Meskipun materinya tidak berbeda jauh dengan Paduan Kompetisi yang telah dikeluarkan sebelumnya, tetapi karena selama penyiapan ada-ada juga pertanyaan dari para peserta maka materi yang ditayangkan ini sudah dilakukan penyesuaian yang terbaru.

Adanya technical meeting ini maka diharapkan ada kesamaan pendapat antara dewan juri dan para peserta. Ini penting karena agar kompetisi ini dapat juga digunakan sebagai pembelajaran, maka jalannya acara harus fair, ksatria. Jadi kalaupun ada denda itu dimaklumi bersama sebagai suatu konsekuensi pelanggaran. Intinya jangan ada kata curang, atau cheating.

Bayangkan saja, jika mahasiswa dari awalnya saja sudah berani curang, maka nanti kalau jadi pejabat dan ada kesempatan, bisa apa lagi dia.

Gambar 4.  Penayangan materi teknis perlombaan oleh Ibu Amalia (PNJ)

Untunglah materi yang disiapkan ibu Amalia cukup sempurna, jadi tidak ada hal-hal khusus yang terjadi selama penayangan tersebut. Meskipun demikian, ketika selesai dan diberikan sesi tanya jawab, ternyata cukup banyak dari peserta yang menanyakan kasusnya, khususnya ketika apa-apa yang telah disiapkan ternyata tidak sama persis dengan buku paduan, intinya memastikan apakah mereka termasuk dalam kategori pelanggaran atau tidak.

Gambar 5. Ketua dewan juri KJI menjawab pertanyaan dari para peserta

Nah seperti biasa, jika ada pertanyaan maka yang bertugas menjawab adalah ketua Juri KJI, yaitu Dr. Ir. Heru Purnomo (UI). Maklum beliau jika memberi jawaban dapat adhem ayem, jadi kalau ada pertanyaan yang berapi-api, bahkan ada yang terkesan menyalahkan panduan yang kurang jelas, maka akhirnya api tersebut tidak menjadi berkobar-kobar. Karena itu pula, maka para juri yang lain tahu diri tidak saling sahut menyahut menjawab pertanyaan para peserta. Memang sih, jika ada yang kurang jelas, kita juga siap siaga membantu pak Heru dengan informasi yang diperlukan.

Gambar 6. Ibu Melia dan peserta yang sedang undian nomer tempat

Acara technical meeting berlangsung sampai menjelang isoma siang hari, ditutup dengan undian nomer tempat lomba. Kemudian dilanjutnya dengan acara paralel berupa [1] penimbangan struktur model dan [2] presentasi proposal oleh team.

Proses penimbangan struktur model terus terang saya tidak melihatnya langsung, hanya mendengar bahwa acaranya tersebut berlangsung seru. Hal itu terjadi karena saya dipatok untuk juri pada acara presentasi para peserta, khusus KJI saja. Untuk acara KBGI aku tidak sempat melihatnya langsung.

Gambar 7. Suasana menjelang presentasi jembatan kayu Team ITB

Pada foto di atas, nampak Prof Iswandi Imran (ITB), selaku dosen pembimbing mendampingi mahasiswanya menjelang acara presentasi. Kondisi seperti ini tentu baik bagi penyelenggaraan KJI, maklum jika jurinya bertanya ngawur khan bisa ketahuan profesor. Jadi kondisi seperti itu memaksa para jurinya serius, bagaimana menyusun pertanyaan secara baik untuk menguji. Jika tidak, maka bisa-bisa bukan menguji tetapi diuji sendiri. Iya khan.🙂

Gambar 8. Satu membawakan presentasi,  yang lain menyimak.

Gambar 9. Terjadi diskusi antara peserta dan juri

Gambar 10. Presentasi dengan berdiri

Pada acara presentasi team mahasiswa, saya mendapat jatah mengevaluasi kategori jembatan kayu bersama-sama dengan dua anggota juri lainnya.

Acara presentasi adalah hari Jumat, hari Sabtunya adalah acara pembukaan dimulai. Acaranya dimulai dengan defile para finalis untuk diperkenalkan kepada hadirin. Semua berbaris dipanggil satu-persatu sesuai nama teamnya dan tampil dipanggung seperti ini.

Gambar 11. Defile finalis KJI dan KBGI pada acara pembukaan

Selanjutnya dimeriahkan dengan tari-tarian yang dibawakan oleh mahasiswi-mahasiswi PNJ yang mana grup yang ditampilkan ini pernah merebut juara dalam pesta kesenian mahasiswa antar perguruan tinggi. Jadi unjuk gigi begitu maksudnya.

Gambar 12. Tari Pembuka Acara

Gambar 13. Pembacaan Surat DP2M DIKTI oleh ibu Dharnita  Chandra

Pembukaan sebenarnya akan dibawakan oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Prof. Dr.Ir. Suryo Hapsoro sendiri, tetapi karena keluarganya di Yogya dan juga karena merapi pada hari itu memang lagi seru-serunya (erupsi dahyat) maka mohon ijin, untuk itu maka pidatonya dibacakan oleh oleh Ibu Ir. Dharnita Chandra, MSi.

Gambar 14. Tari-tarian pembawa Piala Tetap KJI dan KBGI bagi juara 1

Gambar 15. Perwakilan DIKTI, ibu Ir. Dharnita Chandra, M.Si dan Piala Tetap

Gambar 16. Piala-piala  juara KJI dan KBGI yang akan diperebutkan

Pada hari Sabtu itu saya dipatok sebagai juri tetap di site no.2 mengawasi team jembatan baja dari Polban Bandung.

Gambar 17. Site No2 Jembatan Baja – Team Polban Bandung

Pada gambar di atas terlihat ada plastik persegi terbentang. Itu adalah simulasi dari sungai yang tidak boleh terinjak, jika diinjak akan mendapat hukuman pengurangan nilai. Selanjutnya juri tetap dibantu oleh juri garis, dalam hal ini adalah mahasiswa/i yang membawa bendera kuning dan merah. Juri garisnya ada dua, adapun yang terlihat membelakangi lensa adalah peserta, jika akan dimulai harus memilih dari sisi mana dia berada. Jadi ketika ada satu sisi seperti di atas maka selama segmen jembatan belum menyeberangi sungai tersebut maka tentunya dianya bisa santai, ongkang-ongkang. Jadi yang kerja keras adalah team lain yang disisi seberangnya.

Gambar 18. Metode Konstruksi Jembatan Baja Polban Bandung

Photo di atas adalah saat-saat kritis team Polban dalam melaksanakan metode konstruksi jembatan. Ternyata meluncurkan jembatan cara di atas yaitu metode kantilever dengan tambang agak riskan. Jembatan sempat menyentuh plastik, yang dalam hal ini dikategorikan pelanggaran K3, untung hanya sebentar dan kemudian dapat diangkat kembali ke atas. Jadi jika jembatan menyentuh dan tidak bisa diangkat lagi, bisa-bisa jembatan di diskukualifikasi, nilai pada metode konstruksi bisa gugur, alias dinolkan. Untung lancar. Foto-foto setelah selesai diluncurkan aku tidak ada karena sibuk koordinasi dengan juri garis untuk memutuskan waktu habisnya.

Selanjutnya setelah pelaksanaan di pit no.2 selesai aku bisa jalan-jalan ambil foto-foto jembatan model yang lain. Berikutnya adalah pit no.3 tempat team Universitas Brawijaya berlangsung di dekat pit ku. Metode pelaksanaan team Unbra adalah yang paling cepat, memakai sistem tali direntangkan kemudian jembatan digantung untuk selanjutnya ditarik dengan keran manual.

Gambar 19 Metode Konstruksi jembatan baja dari team Unbra

Itu tadi serentetan gambar tentang strategi pelaksanaan pemasangan jembatan model tanpa menyentuh sungai. Ide-ide yang mungkin dapat dikembangkan untuk mengikuti lomba tahun berikutnya.

Ini ada beberapa model jembatan lain yang kebetulan ketika aku melihat-lihat ternyata sudah pada jadi.

Gambar 20. Jembatan model dari team ITB, Bandung

Gambar 21. Jembatan Model Unjani dan dosen pembimbingnya, Bpk Yudi

Wah meskipun hanya ada 8 (delapan) team yang berlomba ternyata tidak semua berhasil saya ambil gambarnya. Mohon maaf ya teman-teman.

Selanjutnya kita lihat sesi pengujian jembatan model tersebut.

Gambar 22. Setting pengujian jembatan pertama kali (siang)

Gambar 23. Sesi pengujian jembatan Unjani

Gambar 24. Sesi uji jembatan ITB

Catatan menarik dari jembatan model ITB, karena di tengah bentang tidak ada batang vertikal, padahal sudah diketahui (buku panduan lomba) bahwa salah satu uji pembebanan adalah ditengah bentang, maka tentu saja ketika diberi beban garis terpusat ditengah bentang yang kena adalah batang tengah. Batang tersebut langsung mengalami kegagalan lokal, yaitu lentur yang displacement-nya melewati ijin. Jadi fail deh.  :(

Gambar 25. Sesi uji jembatan Polban urutan ke 6

Karena menajdi juri tetap di team Polban dimana urutan selesainya adalah no.6 maka tentu saja harus menunggu giliran pengujian. Dikarenan alat ujinya hanya satu meskipun secara teoritis pengujiannya tidak melebihi sepuluh menit, apalagi cara pencatatannya semuanya dilakukan secara otomatis (digital). Tetapi apa yang terjadi, pengujian giliran saya yaitu Polban baru bisa dimulai pukul 20.00 wib.

Bayangkan saja pengujian jembatan yang pertama telah dimulai pukul 15.00 kemudian urutan yang ke-6 pukul 20.00, lima (5) jam sendiri. Itu terjadi karena setting alatnya cukup lama. Stroke bebannya tidak fleksibel, dan ini yang memakan waktu yang cukup lama untuk mengatur dan mengatasinya.

Terus terang, sebagai juri menunggu lima jam membuat semangat jadi meredup. Jika jurinya saja seperti itu, maka saya yakin beberapa peserta yang lain juga demikian, apalagi yang tidak terkait langsung dengan pengujian tersebut. Memang sih, para peserta yang lain yang tidak terlibat dengan uji tadi sudah tidak pada kelihatan. Hanya nampak wajah-wajah kelelahan panitia yang dengan tabah ada disana. Mungkin saya juga termasuk salah satu kalau ada yang melihat.🙂

Kondisi ini perlu dijadikan catatan penting dan harus diperhitungkan untuk acara lomba berikutnya (jika mau go international lho, jika tidak bisa-bisa memalukan saja lho).

Melihat alat-alat uji yang memang wah, pertama-tama saya melihat dan memprediksi bahwa lomba tahun ini akan berlangsung lancar dan singkat, semakin maju gitu lho. Tetapi ketika menemui fakta, harus menunggu lima jam untuk urutan ke-6 saja maka rasa-rasanya perlu diperhatikan. Padahal pada waktu perlombaan saja ada sanksi, jika pelaksanaan perakitan melebihi dari 2 jam 10 menit maka jembatan modelnya tidak akan diuji. Ini khan jadi tidak sinkron / konsisten khan. Nggak logis gitu.

Selain itu, hasil pengujian lendutan yang memakan waktu lama itu ternyata bukan menjadi faktor signifikan untuk meraih juara. Porsinya hanya relatif kecil, jadi bisa saja lendutannya terkecil (score tinggi) tetapi karena faktor-faktor lain, seperti metode konstruksi atau K3 atau yang lain  mendapat score kecil maka score total menjadi tetap kecil juga (kalah dengan yang lain meskipun lendutannya besar). Ini jelas perlu dievaluasi kembali oleh para juri.

Jujur saja, jika dibandingkan dengan lomba yang pertama (2005) atau kedua (2006), meskipun tidak memakai alat yang canggih, tetapi karena waktunya cukup singkat, tidak sampai malam lagi. Juga pelaksanaan pengujian bisa dilakukan paralel karena dilakukan secara bersama-sama dua pengujian sekaligus, maka rasa-rasa acara pengujian yang lalu terkesan lebih ramai, cocok untuk acara lomba. Adapun cara pengujian yang dilakukan kali ini cocoknya untuk penelitian sebenarnya. He, he, ini pendapat pribadi lho.

O ya, terlepas dari itu semua, saya pribadi juga mengacungkan jempol kepada team penguji yang telah berusaha keras dengan segala upayanya, tetap solid dan bekerja keras melakukan pengujian tersebut. Kalau tidak salah sesi pengujian sampai jam 11 malam, saya sendiri ketika urutan ke-6 tadi selesai (pukul 9.00) langsung ngibrit pulang. Jempol untuk pak Eka dan teamnya.

Itu tadi sesi pengujian yang sampai malam, sambil menunggu sesi pengujian saya menyempatkan diri berjalan-jalan ke bagian lagi dari lomba, yaitu sesi KBGI untuk model bangunan rumah dua lantai dari kayu. Karena sebelumnya dikunci sebagai juri tetap di pit No.2 Jembatan, maka ketika melihat ke bagian KBGI ternyata sudah masuk pada bagian akhir yaitu pembebanan model rumah.

Untuk merepresentasikan gempa maka pembebanan diberikan pada arah horizontal yaitu dengan cara mengalungkan kabel ke rumah kemudian dengan alat bantu maka kabel tadi dibebani dengan pemberat 15 kg, untuk sebanyak lima tahapan pembebanan sehingga total 75 kg.

Gambar 26. Uji beban model bangunan Team Politeknik Negeri Sriwijaya

Gambar 27. Uji beban model bangunan Team Universitas Pelita Harapan

Gambar 28 Kevin, Leo dan Karina, team mahasiswa UPH

Team mahasiswa/i UPH terdiri dari sdr Kevin, Leo dan Karina tercatat sebagai mahasiswa jurusan teknik sipil UPH angkatan 2008. Meskipun untuk acara kali ini belum berhasil merebut juara tetapi keberhasilannya menjadi finalis dan mengikuti sampai tuntas acara KBGI tahun ini tentunya patut disyukuri. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih pada kalian semua. Maklum, sejak saya mengantar team UPH berpartisipasi di tahun 2005 dan 2006, dimana anggota pesertanya adalah mahasiswa angkatan 2002, 2003, 2004 dan 2005 maka sejak itu tidak nampak lagi adanya partisipasi dari mahasiswa UPH. Pada tidak tertarik, nggak tahu kenapa. Jadi ketika sudah didorong-dorong untuk ikut maka membuat proposalnya juga terkesan terpaksa, asal ikut, tidak bersemangat, jadi dapat dipastikan nggak lolos finalis. Padahal tahu sendiri khan bahwa aku sebagai dosennya selalu aktif sejak di acara KJI / KBGI ini, mulai dari menjadi dosen pembimbing sampai sekarang aktif sebagai juri. Moga-moga dengan keikut-sertakan kalian dapat mendorong adik-adik kelasmu yang lain juga mengikutinya di tahun-tahun mendatang.

Pada saat yang sama dengan team UPH berkompetisi, terlihat juga model rumah kayu tahan gempa dari team Politeknik Negeri Kupang, Nusa Tenggara. Jadi dengan membandingkannya dengan “bagaimana nggak gampangnya mendorong-dorong mahasiswa untuk berpartisipasi”, meskipun lokasi bukan menjadi masalah (sama-sama di Jabotabek), maka ketika mengetahui bahwa ada team dari Kupang yang lokasinya di luar jawa, mau bersusah payah ikut di acara ini, maka tentunya mereka itu perlu kita apresiasi bersama. Team dari Kupang bisa sampai kampus UI ini jelas tidak sekedar semangat, tetapi juga dukungan dana harus kuat. Jadi kalaupun sekarang anda belum jadi juaram jangan kecewa. Anda bisa sampai ke sini, ke kampus UI dan dapat bertanding dengan rekan-rekan yang lain maka anda itu istimewa. Kemampuan anda mengusahakan dan berupaya sehingga anda mampu ke sini adalah pengalaman yang berharga, apalagi bisa bertanding bersama-sama dengan team kota besar, saya yakin itu sesuatu yang sangat berharga dalam proses pendidikan kalian. Saya pribadi mengucapkan salute juga bagi kalian.

Gedung 29. Uji beban model bangunan Team Politeknik Negeri Kupang

Pada hari ke tiga yaitu hari Minggu diselenggarakan sekaligus kompetisi prototipe jembatan kayu dan model jembatan bentang panjang.

Untuk jembatan kayu karena aku menjadi juri tetap lagi maka strategi pelaksanaan yang dapat aku abadikan lengkap adalah yang aku awasi, dalam hal ini adalah dari Polines Semarang. Alat erection-nya cukup menarik, menurutku ini dapat menjadi cara yang paling cepat, hanya saja karena lantai jembatannya tidak disiapkan dengan baik maka kalah cepat dari team Unbra. Alat menarik dalam metode konstruksi yang disiapkan Polines adalah sebagai berikut.

Gambar 30. Metode konstruksi jembatan kayu Polines Semarang

Pada metode konstruksi jembatan kayu team Polines nampak blok beton di sisi kiri tidak terlihat digunakan, posisinya terpisah dari alat ungkit kantilever yang nampak pada gambar. Pertama kali saya melihat hal tersebut, terpikir : mengapa blok beton tersebut tidak digunakan. Mubazir begitu pemikiran saya. Tetapi setelah berjalannya waktu, terlihat keunikan alat tersebut, ternyata alat ungkit kantilever tersebut memang sengaja dibuat fleksibel, blok beton tidak dipasang. Itu diperlukan ketika alat ungkit tersebut disodorkan untuk menerima jembatan kayu di seberang. Alat ungkit di dorong dengan sedikit diungkit oleh peserta yang memang bertugas di bagian tersebut sehingga dapat masuk dan menerima jembatan kayu yang diposisikan kantilever tersebut. Setelah kena dan tepat, jembatan masing dipegang pada sisi lainnya, maka selanjutnya diungkitkan sehingga menahan sisi kantilever jembatan kayu tersebut. Baru setelah itu blok beton dipasang sebagai pemberat agar kantilever ungkit dapat bekerja sebagai tumpuan bagi jembatan kayu. Selanjutnya ditarik terus sampai jembatan sampai tumpuan besi merah di atas. Hebat, hebat idenya. Jempol untuk Polines Semarang.

Gambar 31. Jembatan Kayu team Polines, Semarang

Hanya sayangnya, meskipun caranya unik, tetapi karena deck jembatan tidak disiapkan menyatu, maka waktu pemasangan bagian atas menjadi lama, jadi waktunya kalah cepat dengan team UMM dari kota Malang yang decknya tinggal pasang.

Ini foto-foto metode konstruksi jembatan kayu Universitas Muhamadiyah Malang (UMM).

Gambar 32. Metode konstruksi jembatan kayu UMM

Idenya mirip dengan yang jembatan baja, yaitu memakai kran manual ditarik dari seberang tapi untuk jembatan kayunya ditambah dengan meja kantilever yang dapat digeser.  Gambar jembatannya setelah jadi adalah sbb:

Gambar 33. Jembatan kayu team UMM

Ini beberapa model jembatan bentang panjang yang masuk menjadi finalis.

Gambar 34.

Gambar 35.

Gambar 36

Gambar 37. Jembatan model dari Polines Semarang

Gambar 38.

Gambar 39 Jembatan Model dari Team Unbraw, Malang

Gambar 40. Jembatan Model dari Universitas Muhammadiyah Malang

 

Sebentar, melihat jembatan-jembatan melulu, tentu bosan. Jadi ada baiknya melihat juga siapa-siapa anggota panitianya. Ini salah satunya.

Gambar 41. Ibu Nunung dan panitia mahasiswa

Gambar 42 Ibu Nunung, mahasiswa PNJ penjual cidera mata dan juri-juri

Gambar 43. Pembawa acara dari dekat

.

Pada acara-acara publik seperti ini, bagi seorang penulis kadang-kadang menjadi acara yang menarik. Maklum karena ternyata di antara para pesertanya ada yang merupakan pembaca karya-karyanya. Jadi mereka telah mengenal penulisnya berdasarkan karyanya terlebih dahulu. Kebetulan aku, selain dosen, juri juga seorang penulis dengan beberapa buku yang aku anggap cukup best-seller. Jadi di acara ini terjadi juga event penulis dan pembacanya bertemu. Ini buktinya.

Gambar 44. Penulis, buku karyanya  dan pembaca dari Batam

Terus terang aku merasa senang, ternyata ada mahasiswa-mahasiswa peserta KJI/KBGI yang mengenalku sebagai seorang penulis, dari jauh lagi, yaitu dari Universitas International Batam di pulau Batam, dekat Singapore. Bahkan ada yang telah menyiapkan buku karanganku untuk di minta tanda-tangan. Wah koq jadi lupa menanyakan nama-namanya, kirim ya di ‘komentar’ biar aku tambahkan.

Pada hari ke tiga, ketemu pak Mulyono, dosen PNJ yang ketemu pertama kali pada acara KJI yang pertama dulu, kira-kira lima tahun yang lalu. Juga mahasiswanya yang kata pak Mulyono juga membaca bukuku. He, he, jadi khusus ditampilkan di bawah ini. Wah fotonya lebih tajem dari G11 punyaku.

Gambar 45. Aku , pak Mulyono (dosen PNJ) dan Ilham (mahasiswa PNJ)

Gambar 46. Pose yang sama dengan Dimas, mahasiswa PNJ

catatan : Ternyata materinya banyak banget, jadi akan ditambahkan bertahap. O ya, tidak setiap foto ada penjelasan , itu dimungkinkan karena saya lupa. Jadi jika ada yang ingin menambahkan agar informasi menjadi lengkap, tentunya diucapkan terima kasih. O ya, sebutkan Gambar berapa ya.

.

.

Tulisanku yang lain berkaitan dengan KJI dan KBGI sebelumnya :

32 thoughts on “laporan KJI ke-6 dan KBGI ke-2 2010

  1. Selamat dan sukses atas pelaksanaan KJI ke-6 dan KBGI ke-2 2010
    Kompetisi yang sangat menarik, sudah terbayangkan dari undangan, brosur, dan petunjuk yang kami terima.
    Tapi sayang kami dari ujung sumatra tidak bisa berpartisipasi, karena kompetisi ini tergolong “biaya sangat tinggi” dan belum dimasukkan penganggaran. Paling mengharapkan partisipasi alumni dan dinas. Mudaha-mudahan tahun mendatang kami dapat berpartisipasi.
    Unsyiah – Banda Aceh

    Suka

  2. Terimakasih atas ulasannya pak. Sangat menarik.
    Saya turut berbangga karena pelaksanaan KJI dari tahun ke tahun semakin baik. Semoga bisa semakin memajukan dunia perteknikan Indonesia.

    Suka

  3. mana gambar dari tim terbaik UNEJ yang menyabet 3 kategori terbaik ? kalau diperhatikan ternyata yang langganan juara masih tim tim dari PT pulau jawa, bagaimana dgn tim tim luar pulau jawa? salut utk tim dari Kupang !!

    Suka

  4. _ TRimakasih ulasannya pak..,Bagus sekali..
    Tapi ma’af ya pak itu yang di gambar untuk jembatan kayu itu bukan gambar jembatan kayu dari Unbraw..,
    Dari Unbraw warnanya coklat dan ada di site no 7.,ssaya tahu persis soalnya saya salah satu team ornamen dari Unbraw kemaren.. 🙂

    Suka

  5. maav…itu gambar jembatan kayu dari universitas Brawijaya sepertinya salah,,,bukan itu gambarnya,,
    jembatan kayu milik unbraw tidak berwarna hijau,,metode nya pun tidak sperti itu,sepertinya itu kmpus lain.

    terimakasih🙂

    Suka

  6. Saya anggota tim kji kayu umm 2010,,sebelumnya terimakasih atas koreksinya..
    Terimakasih juga kepada Pak Wiryanto atas laporan KJInya..saya sangat senang sekali atas suksesnya acara tahunan KJInya,,semoga tiap tahun akan terus selalu sukses..dan semakin memajukan dunia teknik sipil kita..

    Suka

  7. trimakasih atas laporan yg diberikan secara detail pak…sayang untuk kbgi nya tidak begitu lengkap ya pak…dan bagaimana dengan juara / pemenang lombanya pak baik dari kategori ataupun juara 1,2,3, harapan ataupun umumnya (krn s.d tgl 16 Nop 10 saya cari belum ada)…he…he…nuwun

    Suka

  8. salutdan terima kasih buat pak wiryanto atas kerja keras dan liputan KJI – KBGI 2010. saya eka, dari UB pak. ada beberapa saran dari temen temen untuk KJI-KBGI tahun depan. berkaca dari pengalaman sebelumnya, terjadi kerancuan atau salah paham tentang isi dari regulasi, bagaimana kalau sebelum melegalkan regulasi, panitia membuka forum diskusi , bisa on line atau tatap muka, tentang regulasi yang akan di legalkan untuk tahun tersebut. mungkin ada saran dan mengurangi salah paham dalam penafsiran regulasi dimata peserta.

    yah, mungkin segitu aja pak, trims🙂

    Suka

    • Usulan bagus Eka, pada prinsipnya regulasi yang digunakan adalah didasarkan dari regulasi perlombaan sebelum-sebelumnya. Tidak pernah dibuat peraturan yang dramatis berbeda dari sebelumnya.

      Kalaupun ada perbedaan, biasanya bersumber dari usulan atau komentar atau kritik dari hasil yang telah dikerjakan, yang biasanya bisa datang dari komentar tertulis para peserta maupun masukan dari panitia. Jadi tentang adanya perbedaan pendapat maka ada baiknya dibuat saja usulan tertulis kepada panitia nanti kalau ada rapat juri biasanya dipertimbangkan koq. Jadi jangan nunggu perlu sosialisasi khusus, terlalu bertele-tele dan belum tentu mendapat sambutan kecuali dari para peserta yang pernah terlibat dengan KJI-KBGI.

      Jadi jika ada usulan ditunggu.

      Suka

  9. Pak Wir, saya dari Tim Kupang….trims Pak, untuk apresiasinya. Walau belum bisa juara, kami tetap senang karena bisa menjadi salah satu finalis KBGI, namun ada beberapa hal yg masih harus kami benahi….mudah-mudahan tahun depan kami bisa tampil lebih baik lagi….

    Suka

  10. Saya Doddey, Pak. Peserta KJI Baja dari ITB. Salam kenal Pak.

    Saya mendapat banyak informasi mengenai KJI dari blog ini, termasuk tulisan Bapak mengenai KJI tahun lalu. Salut buat Pak Wiryanto yang bersedia membagikan wawasan.

    Ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan dan tanyakan Pak, semoga Bapak bersedia mendengarkan dan menjawab, hehehehe…

    Mengenai pembebanan yang dilakukan di tengah bentang, cukup menyesakkan. Seperti yang Bapak tuliskan, “Jadi bisa saja mereka memandang satu persoalan dari berbagai sudut pandang”, hal itu juga terjadi pada kami. Kami menandang bahwa pembebanan pada setengah bentang dapat di atasi dengan adanya penyalur beban pada dek jembatan (supaya beban tersalur ke joint, bukan pada elemen). Dalam panduan tidak disebutkan ada/tidaknya dek pada saat pengujian. Kami memodifikasi dek agar cukup kuat menahan beban 400 kg dengan tetap menggunakan multipleks 12 mm. Sayangnya, hal tersebut tidak dibenarkan saat Technical Meeting, padahal pada proposal kami menuliskan mengenai modifikasi tersebut dan panitia meloloskan proposal kami. Ya, walaupun tidak mendapatkan bonus (juara), kami mendapatkan banyak hal yang dalam proses persiapan perlombaan ini.

    Pak, kalau saya ingin memberikan saran untuk pelaksanaan KJI ke siapa ya?karena ada beberapa hal yang ingin disampaikan atau saya tulis di blog ini saja ya.

    Suka

    • @Doddey
      Strategi anda tidak salah, apalagi jika cara pembebanannya digunakan beberapa pelat beton sebagai beban titik sebagaimana KJI yang awal-awalnya. Hanya saja karena sistem pembebanannya kali ini pakai dongkrak hidrolik, yang lebih terpusat maka jelas cara pembebanan seperti itu akan mengacaukan sistem yang anda ajukan.

      Yah begitulah dari satu sisi ingin canggih, tapi disisi lain akan dapat merugikan peserta. Pihak juri tidak merasa bersalah karena dalam pedomannya telah disebutkan akan diberikan beban terpusat pada rangka di tengah bentang. Selanjutnya ada ketentuan bahwa deck tidak boleh menyatu. Lha itulah yang digunakan sebagai clause pembebanan tsb.

      Tentang usulan KJI sebaiknya jangan melalui blog ini karena tidak ada kepastian akan dibaca oleh juri secara keseluruhan. Sebaiknya anda menyampaikan surat dan atau email ke panitia. Jika demikian biasanya lalu di sebar ke juri dan biasanya akan dibahas pada rapat juri bersama nantinya.

      Suka

      • Ya, lendutan jembatan tidak masuk, tapi kami puas dengan proses yang kami lalui, tidak ada yang kami sesali. Semoga tahun depan ITB mendapatkan hasil yang lebih baik. Mungkin ada saran dan kritik untuk kami, Pak?

        O ya Pak, mungkin Bapak tahu karena telah mengikuti KJI sejak awal. Perlombaan ini menurut beberapa dosen saya sangat menarik karena dapat dikatakan meyimulasikan pekerjaan sipil (konsultan dan kontraktor). Bagaimana menurut Bapak? Kebetulan KJI selalu diselenggarakan di PNJ, apakah lomba ini memang di desain untuk Politeknik (lebih menguntungkan karena memiliki keterampilan lebih) atau untuk perguruan tinggi seperti yang Bapak sebutkan di atas?

        Saya telah mencoba menghubungi panitia melalui alamat email yang tersedia pada panduan berkali-kali sejak proposal kami dinyatakan lolos, tapi tidak pernah mendapat balasan. Apakah alamat emailnya salah ya, Pak?

        Suka

  11. @Doddey

    kami puas dengan proses yang kami lalui, tidak ada yang kami sesali.

    Saya terkesan dengan semangatmu. Menang atau kalah kadang-kadang tidak sekedar hasil dari suatu usaha tetapi juga karena kondisi yang memungkinkan atau mendukung. Oleh karena itu yang penting adalah berani mencoba, kemudian mau belajar dari prosesnya sehingga nantinya dapat menjadi orang yangberwawasan luas dan kaya pengalaman.

    Orang-orang yang punya keberanian untuk terus mencoba, meskipun awalnya tidak sesuai harapan dan akhirnya suatu saat berhasil akan disebut sebagai tabah, teguh pada pendirian dan akhirnya menjadi tangguh.

    Saya setuju dengan pendapat dosen anda, yaitu bahwa kompetisi ini dapat digunakan untuk mensimulasi pekerjaan konstruksi, khususnya jembatan. Oleh karena itu jika mahasiswa dapat mengikuti maka tentu dapat diperoleh wawasan yang lebih baik. Saya kira itulah tujuannya kompetisi tersebut sehingga mendapat dukungan DIKTI.

    Tentang pelaksanaannya di PNJ saya kira itu kebetulan saja karena bagaimanapun mereka lebih siap karena memang awalnya idenya dari sana dan dimulai dari sana pula. Salah satu pioner penggagasnya dan ketua panitia penyelenggaranya adalah Dr.Ir. Fauzri Fahimuddin. Tetapi karena kegiatan itu sekarang telah menjadi kegiatan DIKTI maka tentunya terbuka bagi PT lain yang berminat. Jadi bukan karena politeknik atau bukan, tetapi karena dari merekalah acara itu dimulai.

    Ada baiknya juga jika penyelenggaraannya bisa berganti tempat. Ganti suasana. Silahkan diusulkan kepada DIKTI untuk itu. Saya yakin kompetisi itu akan menjadi semakin maju.

    Suka

    • hehehe…terima kasih Pak atas pujian Bapak, semoga semangat kami dapat sampai ke adik-adik kelas kami. Ya tahun depan kami pasti lebih siap dan semoga hasilnya juga lebih baik.

      Oke, terima kasih Pak, atas pendapat dan jawaban Bapak. Tetap semangat membagikan wawasan Pak.

      Suka

  12. @Doddey

    Halo doddey, anda kuya angkatan berapa ya? hehehe..😀

    btw, salut juga utk respon nya yg tetap semangat. memang begitulah yg namanya proses, tp percaya deh, dengan semakin sering mencoba, maka kegagalan akan berubah menjadi keberhasilan..🙂 org sukses bukan org yg tdk pernah gagal, tp adalah orang yg berani bangkit setelah mengalami kegagalan..

    mudah2an doddey masih berminat berkiprah di dunia jembatan.. jangan semuanya ke oil&gas ya, biarpun di sana duitnya cepat.. hehehe di dunia jembatan juga ‘menjanjikan’ loh, yg penting selalu mau belajar, tingkatkan skill dan berani mencoba.🙂

    salam kenal,
    Robby Permata (kuya 97)

    Suka

    • Halo bos…kuya 2007 bos, hehehehe….salam kenal juga…

      semangat no. 1, temen-temen semua juga masih semangat. Terima kasih dukungan dan petuahnya bos, hehehe…. untuk informasi aja bos, HMS lolos 2 kategori, yang baja belum menang, yang kayu juara 3. Sepertinya masih banyak yang harus dievaluasi, dibenahi dan butuh dukungan dari banyak pihak. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana.

      Masalah minat, masih berpegang teguh akan tetap di jalur yang benar (baca: dunia teknik sipil), tapi belum tahu akan di jembatan atau di bidang lain bos, belum ada gambaran yang jelas. Sepertinya, teman-temen sekelompok juga akan berkecimpung di dunia yang benar, hehehehe…..

      Doddey (kuya 07)

      Suka

  13. Alhamdulillah team jembatan Baja unjani (team baraya) meraih juara ke 3. Kami sangat puas dan bangga sekali, karena ini merupakan pengalaman pertama bagi univ kami mengikuti ajang bergengsi ini. Kerja keras kami akhirnya terbayar. Mudah2an ditahun selanjutnya, universitas kami diberikan kesempatan untuk mengikuti kompetisi ini dengan berbagai katagori. Bravo kompetisi jembatan indonesia. Dan terima kasih kepada Pak wiryanto atas informasinya…….. Hatur Nuhun……..

    Suka

  14. Alhamdulillah Teknik Sipil Universitas Jendral Achmad Yani Cimahi menjadi Juara ke 3 dalam Dalam kategori Jembatan Baja. kami sangat bangga dan puas atas hasil yang telah di capai oleh team Baraya, dan kerja keras kami selama ini telah terbayar. kami baru merasakan bagaimana kemeriahan, kemegahan dan ketegangan dalam kompetisi ini. Pokoknya mantablah. pengen sekali merasakan kembali ajang kompetisi ini, tp syg tahun ini saya udah lulus. mudah2an junior2 kami dapat merasakan kembali kompetisi ini, dan mengikutinya dengan berbagai Kategori.
    Terima kasih kepada pak wir yang selalu membagikan informasi kepada kami. semoga tahun depan acara ini akan tambah spektakuler.
    Maju terus KJI dan KBGI……..
    salam hangat dari team BARAYA

    Suka

  15. Ping balik: KJI dan KBGI ala Wiryanto « Caraka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s