sejenak dalam kehidupanku


Mahluk manusia itu memang luar biasa. Hampir semuanya ingin dieksplorasi dan ditaklukkan, lihat saja gunung tinggi berhasil didaki, laut dalam diselami, bangunan tinggi pencakar langit  maupun jembatan panjang penghubung antar-pulau berhasil dibangun untuk dijadikan ikon pemukimannya .  Bahkan batu keraspun mampu di bor sampai kedalaman 700 m demi menyelamatkan sesamanya, manusia. Jadi tidak salah jika aku menyebut manusia itu luar biasa.

Tentang hal itu, rasa-rasanya  ada satu nash penting tentang manusia di kitab kejadian yang menguatkan pernyataan di atas, yaitu :

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”[Kejadian 1:27]

Jadi dapat dimaklumi jugalah bahwa itu semua berhasil dilakukan, bahkan jika tidak dicegah bisa-bisa dapat kebablasan, tidak sekedar menaklukkan tetapi juga dapat menghancurkannya. Ingat saja bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki, nggak kalah dahyat juga khan dengan cerita Sodom dan Gomorah, yang diluluh-lantakkan jadi abu.

Tentang pencapaian-pencapaian itu ada yang menarik perhatikan kita semua, yaitu bahwa semuanya itu ternyata dapat terjadi tanpa harus ada kesepakatan di antara manusia-manusia itu sendiri. Peristiwa-peristiwa itu dapat dikerjakan oleh segelintir orang saja, tidak harus manusia secara keseluruhan. Itu juga berarti bahwa kemauan dan kerja segelintir orang saja dapat menyebabkan orang lain mengalami keuntungan atau juga kerugian.

Adanya pencapaian-pencapaian manusia yang luar biasa itulah yang bagi sebagian orang sampai-sampai ada yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada, bahwa surga atau neraka itu adalah kondisi yang dibuat oleh ulah manusia itu sendiri atau mungkin juga karena faktor kebetulan yang  mengikuti hukum-hukum alam, tetapi tanpa perlu campur tangan Tuhan. Itu adalah pendapat Stephen Hawking yang diberitakan di sini.

Berfirmanlah Tuhan Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan jahat, . . . . [Kejadian 3:22]

Ingat, meskipun yang berpendapat hanya segelintir kecil orang, yang merasa tidak perlu mengenal yang namanya Tuhan, tapi pengaruhnya bisa luar-biasa, kemana-mana, sehingga membuat manusia lain yang ragu-ragu mendapatkan pembenaran. Dulunya ragu menjadi tidak ragu lain, mantap, akhirnya yang mengikuti pendapat bahwa Tuhan itu tidak ada menjadi bertambah banyak.

Itulah manusia, ada yang sedemikian pede dengan pengetahuan yang dimilikinya dan merasa bisa menjadi segala-galanya. Meskipun demikian sebenarnya adalah tidak seperti itu. Masih ada “sesuatu” yang dari dulu sampai sekarang belum (tidak) mampu dieksplorasi dan ditaklukkan. Tentang sesuatu itu maka manusia bisanya hanya mencari pengertian (memahami) dan menyesuaikan diri (tunduk) kepadanya.

Apa hayo yang disebut “sesuatu” itu ?

Yak, apa ? .  . . . . . . O ya, benar ! Sesuatu itu adalah WAKTU atau TIME. Dimensi yang saat ini, kita manusia hanya bisa tunduk kepadanya. Karena ada waktu itulah maka kita mengenal konsep awal dan akhir, yang akhirnya juga mengarah pada konsep kelahiran dan kematian.

Jadi sebenarnya kita, manusia ini hanya mampu memahami sesuatu dengan ilmu pengetahuannya pada sesuatu untuk masa-masa di antara kelahiran dan kematian itu sendiri, tidak sebelum dan tidak sesudahnya. Masa-masa di antara kelahiran dan kematian adalah kehidupan manusia itu sendiri. Mampu memahami, dalam arti  mampu mendapatkan kebenarannya karena dapat dilakukan verifikasi atau bukti empiris yang mendukungnya. Sedangkan untuk hal-hal lain, yaitu masa-masa sebelum dan sesudah kehidupannya, karena tidak dapat dicari bukti empirisnya, maka kebenarannya hanya didukung oleh iman kepercayaannya saja.

Jadi adanya keterbatasan manusia terhadap waktu,   memungkinkan konsekuensi yang luar biasa juga. Jadi meskipun manusia mempunyai kuasa yang luar biasa seperti aku ungkapkan di atas tadi, tetapi keberadaannya di bumi ini relatif begitu pendek. Tidak abadi.

Berfirmanlah Tuhan Allah :” . . . . , maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” [Kejadian 3:22]

Itu pula yang menyebabkan manusia bijak mengetahui bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghargainya adalah meluangkan waktu sejenak untuk mengingat dan menghitung, berapa lama waktu kehidupan yang telah kita arungi. Kapan kita lahirnya (hari ulang tahun), dan berapa lama kehidupan yang telah kita jalani  ini. Adakah dampak yang aku berikan di luar diriku sendiri. Baik atau burukkah. Dalam kehidupanku ini, apakah aku dapat selalu mensyukurinya, dan yang paling penting adalah ketika tiba saat nanti, ketika waktu kehidupanku telah habis, bisakah aku merasa puas dan tidak menyesali dengan apa-apa yang telah aku lakukan selama hidup ini.

Itulah esensi kehidupan manusia. Nggak penting kita ngotot studi banding ke luar negeri, tetapi ternyata itu memakai uang rakyat, yang mana hasilnya juga tidak secara jelas bermanfaat bagi rakyat. Jika seperti itu adanya, maka kejadiannya persis seperti penjajahan tempo dulu, yaitu sama-sama memeras rakyat untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Hanya ini tentunya lebih halus dan tidak terlihat vulgar, karena dilakukan atas nama rakyat, sesamanya sendiri.🙂

Juga tidak penting korupsi ratusan milyar, jika ternyata memanfaatkannya hanya terbatas, dan jika matipun tidak bisa dibawa.

Hal-hal seperti itulah yang perlu kita renungkan. Sejenak memaknai kehidupan yang telah aku jalani. Sudahkan anda juga juga melakukannya, jika tidak, bisa-bisa ketika nanti ternyata bisa saja disadari bahwa jalan yang kita tempuh berbeda dengan tujuan yang ingin kita dapat. Bisa-bisa, nanti tidak ada apa-apa yang kita capai. Jika memang tidak punya tujuan, dan sudah bisa hidup saja dapat disyukuri maka saya bilang ok-ok saja, tetapi ternyata ketika tua kita merasa menyesal, mengapa dari dulu koq tidak itu. Maka itulah sesuatu yang berbahaya, bisa-bisa menjadi arwah penasaran nantinya.🙂

Jadi itulah yang ada dalam pikiranku pada hari Kamis kemarin, tanggal 21 Oktober yang lalu, karena itu adalah hari ulang-tahunku. Hari lahirku di dunia ini beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya di kota Yogyakarta. Sejak itulah seorang manusia bernama Wiryanto Dewobroto,  mencoba mengisi kehidupannya untuk dunia ini. Meskipun hanya seorang, tetapi karena disadari bahwa pencapaian-pencapaian yang dilakukan manusia yang luar biasa dapat juga dilakukan juga oleh segelintir orang, maka dirinya cukup percaya diri juga untuk berusaha membuat pencapaian-pencapaian yang dimaksud. Hanya saja bentuknya tidak harus sama dengan yang telah ada. Moga-moga keberadaannya dapat membuat suatu perbedaan, atau bahkan pengaruh, meskipun mungkin tidak secara fisik, tetapi yang penting dapat dipahami bahwa seorang Wiryanto Dewobroto itu ada.

He, he, itulah aku dan cita-citaku di dunia ini.

Tentu saja itu semua aku maknai secara personal, pribadi, sendirian. Aku ini siapa, aku ini bisa apa, apa yang aku akan dapat berikan, dan sampai kapan itu dapat aku lakukan. Dalam perenungan itu seperti biasa pukul 4.15 aku sudah bangun dan siap-siap berangkat. Ketika aku ambil HP, aku telah mendapati SMS dari orang tuaku, mengucapkan selamat ulang tahun dan rasa bangganya punya aku sebagai anaknya, yang seorang guru.  Aku terharu, bagaimana juga aku belum dapat memberi banyak kepada mereka secara materi. Selanjutnya juga mendapatkan ucapan selamat dari istriku yang mensyukuri juga aku sebagai suami dan ibu anak-anaknya.Ketika turun bersama, ketemu anakku, aku juga mendapatkan ucapan selamat.

Terus terang dalam usiaku yang sudah separoh baya ini, aku mesyukuri kehidupanku, baik dalam karir maupun rumah-tangga. Aku bangga dengan istri dan anak-anakku. Bayangkan saja, anakku yang dalam usianya sekarang dibanding usiaku dulu, aku kalah jauh, mereka lebih percaya diri. Bagaimanapun merekalah penerus generasiku langsung, aku percaya mereka akan lebih hebat dari orang tuanya, seperti juga orang tuaku yang cukup bangga kepadaku.

Pagi yang penuh kebahagiaan, tetapi karena bukan hari libur maka seperti biasa rutinitas lalu-lintas perlu aku lalui untuk mengisi kehidupan karirku sebagai guru para calon insinyur di UPH. Terus terang, aku merasa lebih mempunyai kebanggaan disebut guru daripada dosen. Guru lebih cenderung mengarah kepada seseorang yang dapat dijadikan panutan dan teladan, sedangkan dosen lebih dipertimbangkan sebagai pengajar di perguruan tinggi. Bagaimanapun meskipun kehidupanku juga mengajar, ya seperti dosen tersebut, tetapi aku berharap bahwa apa yang aku lakukan dapat dijadikan panutan dan teladan, seperti istilah guru tersebut. Moga-moga Tuhan berkenan untuk itu.

Pukul 10.00 aku mengajar Struktur Beton II, sebagai dosen ke-2 setelah Prof. Harianto yang mengajarkan meteri tersebut juga (dosen utama). Seperti biasa, kalau aku mengajar maka banyak cerita yang mengalir dan tidak sepenuhnya hitung-menghitung, meskipun itu materi struktur beton yang umumnya penuh dengan hitungan. Aku lebih suka falsafah dibelakang suatu hitungan. Jadi kalau itu didengar oleh orang yang tidak suka materi tersebut maka akan membosankan, tetapi jika suka, maka aku bilang bahwa yang aku omongkan ini belum ada naskah tertulisnya. Seperti contohnya, bahwa ketika mengajarkan perhitungan slab, aku memberikan materi masih mengacu pada PBI-71. Mengapa itu aku berikan, padahal khan materinya sangat kuno, lebih dari 40 tahun yang lalu. Nah disitulah argumentasi aku berikan. Sehingga meskipun materi kuno, tetapi masih relevan sampai saat ini.

Di tempat kamu, apa yang dijadikan materi untuk pelajaran perencanaan pelat dua arah ?

Ketika sedang asyik-asyiknya mengajar di dalam kelas tersebut, aku mendengar ‘gedebak-gedebuk’ di luar kelas. Sekali dua kali, aku biarkan. Anak-anak muda yang iseng pikirku.

Gedebak-gedebuk makin keras, lalu ada yang teriak-teriak. Aku berpikir, itu seperti ada orang yang dikeroyok. Lalu aku juga berpikir, tadi di lorong kelas ini, kelihatannya kelas yang aktif hanya kelasku saja. Artinya, dosen yang ada di lorong di kelas-kelas ini hanya aku saja. Jadi di benak, aku berpikir keras, apa betul itu keroyokan, ada yang berkelahi, maklum mereka adalah anak-anak muda. Tapi aku ragu, apa iya. Jadi aku mencoba membiarkan dulu.

Eh, ternyata gedebak-gedebuk tidak berhenti, bahkan terdengar seakan-akan orang-orang berlari-lari di luar mendekati kelas ini, dekat sekali di pintu. Tidak berkurang, bahkan kesannya bertambah banyak, dan ketika terdengar teriakan-teriakan lagi yang bertambah keras maka dengan cepat aku berlari ke pintu dan membukanya.

Apa yang terjadi ?

Benar. Memang benar terlihat kumpulan anak-anak muda, ternyata murid-muridku angkatan 2010: “Ada apa ini ?“.

Mereka menjawab bersama-sama dengan kerasnya: “Happy birthday, happy birth day, happy birthday pak Wir !“.

Bayangkan, aku tadi berlari-lari ke luar, menengok ke kanan dan ke kiri melihat banyak anak-anak muda berkumpul (sekitar15-20 anak) dan jawabnya ternyata itu. Jadi maklum saja, aku hanya bisa terkaget-kaget. Jadi ini merupakan kali ketiganya aku dirayakan di kampus. Jadi bertambah saja bahagiaku. Aku mendapat kue ultah, bayangkan. Saya kira tidak banyak guru yang ultahnya dirayakan oleh anak-anak muridku, itu khan salah satu keistimewaan yang aku dapatkan, jadi aku sangat-sangat menyukuri mendapat profesi menjadi guru ini.

Inilah aku bersama-sama mahasiswaku di kelas Struktur Beton yang sekaligus menjadi ajang perayaan ulang-tahun bagiku.

Foto di atas diulang, agar muridku Aprideta (atas) dan Christalia (bawah) yang membuat foto tersebut dapat terlihat secara bersama-sama. Syukur-syukur dapat menjadi cerita nanti jika mereka sudah jadi semua.

Mahasiswaku dalam foto di atas adalah : Ricky Andreas, Witra Widharta , Ju Roni , Kahar Pangestu, Stephen Willy , Elisabeth Jacintha , Richard NCad Setiadi , Ivan Tandri , Lodia Semaya Amnifu , Helen Wijaya , Willy Hotama Russel , Tiara Rahmayanti Kesuma , Yosua Gunawan , Yeltsin Tan , Anita Livia, Maychelin Atan Santanankai , Thomas Wijaya, Gerry Putra Hertanu , Wendy Cassidi, Indranata Kristanto Wijaya , Christalia Lalala , William Putra , En Rico , Dian Mayasari, Sherly Mp, Evelyn, Lucky, ayo siapa yang kelupaan.

Ada acara tiup lilin juga lho. Bayangkan, waktu kecil dulu saja nggak pernah ada acara seperti ini, tetapi ketika sudah separoh baya bahkan mendapatkan event seperti di atas. Apa tidak disyukuri itu.

Waktu bergulir dengan cepat, setelah kelas perlu juga mendampingi dan melihat mahasiswa/i yang lolos finalis KBGI, melihat bagaimana persiapannya. Ketika sedang asyik melihat dan mengamati mereka bekerja, datang Rully, alumni yang baru saja lulus, bawa kue ulang tahun juga. Wah sehari kuenya double.

Bersama Rully, sdri Marry Natalia (dosen bidang Geoteknik UPH) dan aku.

He, he, menjadi guru ternyata menyenangkan juga. Itulah mengapa aku selalu bisa menyukurinya juga.

Peristiwa serupa pada tahun-tahun sebelumnya.

Itu tadi peristiwa Kamis siang di hari ulang tahunku. Ketika pulang, ternyata anak-anakku juga memberikan kado buat ayahnya. Ketika kubuka, kartunya menarik dan mengesankan juga. Terus terang aku senang sekali, punya anak-anak yang penuh perhatian juga kepada papanya. Lihatlah kartunya, aku terharu membacanya ”

8 thoughts on “sejenak dalam kehidupanku

  1. Ping balik: Tweets that mention sejenak dalam kehidupanku | The works of Wiryanto Dewobroto -- Topsy.com

  2. Happy B’Day Pa Wir..

    “Hidup Dengan Sejuta Mimpi bukan Hidup Dalam Sejuta Mimpi”

    God Bless U..

    Syallom..

    Wir’s responds: Thanks pak Donny , Tuhan memberkati kita semua.

    Suka

  3. happy b’day pak wir.
    Tuhan memberkati kta semua.
    syalom.

    by: pembaca setia blog anda

    Wir’s responds: terima kasih pak Andreas, karena anda-anda inilah yang membuat blog ini jadi ramai. Semoga Tuhan memberi damai dan sejahtera bagi kita semua.

    Suka

  4. Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!

    Kiraya Tuhan memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu!

    Selamat ulang tahun Sir

    Wir’s responds: Terima kasih R-Son atas perhatiannya, juga kepada partisipasi aktif anda dalam membaca dan memberi komentar tulisan-tulisanku.

    O ya, kata-kata pujian dan penghiburan yang anda sampaikan di atas, kalau tidak salah adalah Mazmur 128 adalah ayat-ayat yang menggambarkan kebahagiaan suatu keluarga. Ayat-ayat itu merupakan salah satu ayat-ayat favorit orang tua kami, khususnya setelah mendapatkan pengalaman pribadi ketika pergi berziarah di tanah tanah suci, di Yerusalem, dan dapat melihat sendiri apa itu pohon anggur dan tunas pohon zaitun yang dimaksud. Karena ternyata menurut beliau (orang tua kami) gambaran fisik pohon anggur di sini dan di sana berbeda jauh. Jadi saya juga berterima kasih dengan kiriman ayat-ayat tersebut, semoga keluargakupun demikian adanya. Semoga Tuhan berkenan.

    Semoga hidup anda dipenuhi berkat dan sejahtera.

    Suka

  5. Walaupun telat.. tapi lebih baik daripada tidak sama sekali… SELAMAT ULANG TAHUN Pak Wir.. panjang umur… semakin bertambah umur semakin dimatangkan dalam segala hal, sehat selalu.. seseorang akan sangat berarti dalam hidupnya karena ia memiliki teman2 dan orang2 yang dikasihi.. karena kita tidak hidup sendiri.. buatlah hidup ini penuh arti dan penuhi tujuan hidup kita.. karena benar kita meninggal tidak membawa harta atau apapun.. tapi perbuatan baik kita akan selalu dikenang dan diteruskan untuk generasi selanjutnya.. GBU

    Wir’s responds: terima kasih Dwi, lama kita tidak bersua. Semoga Tuhan memberkati, hidup anda penuh dengan damai sejahtera.

    Suka

  6. Dear Sir,

    terima kasih kembali Sir.

    Ayat-ayat tersebut tepat sekali saya kutip dari Mazmur 128, dan juga merupakan ayat-ayat favorit saya. Semoga Bapak sekeluarga boleh menjalani apa yg tercantum di dalam nats-nats tersebut.

    Demikian juga kepada Orang Tua dari Pak Wir, semoga pengalaman rohani yg telah dilalui boleh membawa berkat, damai dan suka cita yang berasal dari Bapa kepada Beliau berdua.

    GBU Sir

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s