detailnya aneh, betul nggak sih pak ?



Perhitungan perencanaan pada konstruksi beton bertulang relatif simpel dibandingkan konstruksi baja. Umumnya perhitungnya adalah mencari jumlah luas tulangan yang diperlukan, sedangkan konfigurasi penempatan tulangannya sekedar mengikuti detail yang sudah ada sebelumnya.

Detail penulangan pada penampang beton bertulang umumnya mengacu pada detail-detail yang sudah terbukti sukses, dan umumnya dari struktur satu ke struktur yang lainnya mirip,  jarang berubah, ya seperti  itu-itu saja.

Hal itu terjadi karena perhitungan penulangan pada struktur beton umumnya hanya meninjau suatu potongan penampang, memprediksi bagian mana yang mengalami tegangan tekan dan bagian mana yang mengalami tegangan tarik. Selanjutnya setelah diperoleh jumlah tulangan baja maka akan ditempatkan pada daerah yang mengalami tarik. Itu berlaku umum baik untuk struktur balok, pelat atau kolom. Sederhana bukan.

Adapun pengaruh panjang pengangkuran diatasi dengan mengikuti standard pemasangan tulangan yang terdapat pada code (SNI atau ACI atau lainnya), misalnya bahwa tulangan lapangan minimal 30% harus diteruskan sampai ke tumpuan. Tidak ada penjelasan tentang hal tersebut, dan karena itu sudah dilaksanakan lama maka umumnya para engineer akan dengan patuh mengikutinya terus. Takut ada apa-apa. Tentang hal itu, aku jadi ingat saat  masih bekerja di kantor konsultan dulu, senior-senior bilang itu sih untuk memahaminya perlu engineering judgement.

Tahu khan apa itu engineering judgement yaitu istilah yang biasa digunakan sebagai kambing hitam untuk menjelaskan hal-hal yang harus dilakukan dalam bidang engineering tanpa bisa menjelaskan secara logis dan nalar mengapa itu diperlukan. Itu dulu, tetapi sekarang tentu lain, tentang penulangan seperti itu saat ini sudah dapat dijelaskan secara rational dan nalar memakai ilmu strut-and-tie-model (s.t.m) . Ilmu itu mula-mula dikembangkan di Jerman, khususnya di Uni Stuttgart oleh prof Schlaich, juga oleh muridnya yang getol menggelutinya yaitu prof Reineck.

Jika tanpa ilmu s.t.m maka pemasangan detail tulangan umumnya didasarkan pada pengetahuan empiris sebelumnya yang sifatnya turun-temurun. Sehingga dapat dimengerti dan dimaklumi mengapa engineer muda bisa kalah pinter dalam penggambaran detail penulangan dibanding drafter struktur yang sudah lama bekerjanya (berpengalaman). Maklum, umumnya pelajaran di S1 fokus pembelajarannya adalah pada perhitungan, sedangkan cara penggambaran detailnya jarang diungkap atau dibahas. Maklum di buku-buku teks juga sedikit memberikan contohnya.

Jadi dapat dimaklumi jika ada mahasiswa yang datang kepadaku, bertanya sambil menyodorkan foto berikut :


Gambar 1. Detail penulangan yang dipertanyakan.

Adapun pertanyaan yang diajukannya adalah : “Detail penulangan baloknya koq aneh ya pak. Itu betul atau tidak sih ?

Saya senang dengan adanya mahasiswa yang bertanya seperti itu, menurutku dia termasuk mahasiswa yang kritis dan juga aktif.

Asal tahu saja, selama perkuliahan S1, pada mata kuliah struktur beton  tidak dibahas konfigurasi tulangan yang aneh tersebut  (Gambar 1). Itu artinya ketika mahasiswa tersebut menjumpai fakta ada struktur dengan detail penulangan yang tidak biasa, maka dianya tidak diam saja (pasif), tetapi terus bertanya mencari jawabannya (aktif), yaitu bertanya kepadaku. Itulah mengapa aku juga bersemangat untuk menjawabnya dan bahkan kujadikan artikel di blog ini.

Tentang pertanyaan yang diajukan sebenarnya ada dua esensi yang perlu diungkapkan, yaitu [1] mengapa detail balok itu sampai sedemikian aneh, atau tidak biasa seperti yang umum dijumpai pada balok-balok yang biasanya; dan [2] apakah detail yang ditampilkan itu sudah benar atau tidak. Oleh karena itulah maka penjelasanku juga akan aku bagi dua.

Detail balok yang berbeda dari biasa, mengapa ?

Ya karena memang berbeda fungsinya dibanding balok beton bertulang pada umumnya. Perhatikan gambar balok beton bertulang sabagai berikut:

Gambar 2. Balok beton bertulang biasa dan penulangannya.

Pada balok beton bertulang biasa, pembebanan diberikan tegak lurus pada batang sebagaimana terlihat pada Gambar 2. Pada kondisi tersebut terjadi lentur dan geser sekaligus. Jika tinggi balok dibanding bentang relatif kecil, sehingga tidak dianggap sebagai balok tinggi (deep beam) menurut code yang ada, maka perilaku lentur akan mendominasi balok tersebut. Pada kondisi tersebut maka tegangan maksimum akan terdapat pada tepi-tepi luarnya. Sisi bawah mengalami tarik, sehingga terlihat mengalami retak, dan sisi atas mengalami desak. Oleh karena itulah mengapa tulangan dipasang horizontal pada sisi bawah. Perhatikan perbedaannya dengan Gambar 1, itulah mengapa mahasiswaku menyebutnya aneh. Memang beda sih.

Jadi jika balok biasa umumnya adalah struktur utamanya itu sendiri, sedangkan balok aneh pada Gambar 1 hanya bagian dari suatu sistem struktur, yang dikenal sebagai RC-Coupled Shear Wall Structure. Adapun baloknya itu sendiri disebut sebagai Coupling beams. Dari namanya saja dapat diketahui bahwa fungsi utama balok tersebut adalah bukan memikul beban di atasnya, seperti sistem balok beton biasa, dia fungsinya adalah menyatukan dua dinding geser yang terletak sebidang sehingga diharapkannya menjadi satu kesatuan.

Gambar 3: (a) profil angin sebagai beban lateral; (b) RC Coupled Shear Wall dan deformasi akibat beban lateral; (c) Deformasi coupling beam secara detail.

Jadi konstruksi coupling beam tersebut hanya ada pada konstruksi bangunan tinggi seperti pencakar langit, dan bekerjanya hanya terhadap beban lateral saja, seperti angin atau gempa. Kalau beban tetap, yaitu gravitasi maka balok akan bekerja seperti balok biasa (tulangan atas dan bawah) dan bukan detail tulangan yang aneh tersebut.

Pada kondisi bekerjanya, yaitu akibat beban lateral maka ada dua aksi yang terjadi yaitu [1] lentur dan [2] geser.  Jika h/a (lihat Gambar 4) relatif kecil maka lentur akan dominan. Adapun bentuk keruntuhan lentur adalah sbb:

Gambar 4. Keruntuhan lentur Coupling Beam

Sedangkan jika h/a relatif besar maka perilaku keruntuhan geser biasanya yang akan mendominasi perencanaan struktur coupling beam tersebut.

Gambar 5. Keruntuhan geser Coupling Beam

Dengan mempelajari  pola keruntuhan yang terjadi, yaitu menentukan bagian mana yang mengalami tarik dan bagian mana yang mengalami tekan maka dapatlah dibuat detail rencana penulangannya. Prinsipnya adalah sama seperti balok biasa, yaitu beton menerima tekan, sedang tarik diterima atau dipikul oleh tulangangan baja.

Pada keruntuhan geser, yang mengalami keruntuhan tarik adalah berbentuk diagonal. Oleh karena agar efisien dalam memikul beban maka konfigurasi tulangannya juga ditempatkan seperti itu. Detailnya banyak mengacu pada hasil penelitian Paulay (1969) seperti ini.

Gambar 6. Prototipe penulangan diagonal coupling beam (Paulay 1969).

Bahkan perilaku gaya-deformasi balok di atas dibandingkan jika tanpa ada retak adalah mendekati. Perilaku tanpa retak adalah kondisi ideal struktur beton bertulang, artinya kekakuannya mendekati kondisi elastis. Arti lainnya bahwa konfigurasi tulangannya tepat, efisien.

Gambar 7. Perilaku gaya-deformasi dengan tulangan diagonal (Paulay 1969).

Dengan dipasang tulangan diagonal maka diharapkan coupling beam mampu menyatukan secara sempurna dua dinding geser yang sebidang tersebut. Di bawah ini diperlihatkan mode-mode keruntuhan yang mungkin terjadi dari struktur RC Coupling Shear Wall.

Gambar 8. Mode-mode keruntuhan RC Coupling Shear Wall, dimana [a] coupling beam gagal lentur; [b] coupling beam gagal geser; [c] coupling beam kuat sehingga kegagalan pada dinding shear wall-nya sendiri.

Perlu pemasangan tulangan diagonal tentunya berharap bahwa keruntuhan akan mengikuti mode Gambar 8c.  Artinya coupling beam mampu menyatukan dua dinding geser tersebut secara baik.

Referensi yang saya gunakan untuk gambar detail di atas adalah:

  • Paulay, t.” The Coupling of Reinforced Concrete Shear Walls“, Proceeding, 4WCEE Santiago, Chile, 1969, B-2, ppp 75-90
  • Paulay, T., “Some Aspect of Shear Wall Design“, Bulletin of the New Zealan Society for Eartquake Engineering, V.5, No.3, Sept. 1972, pp. 89-105
  • Nutan Kumar Subedi, “RC-COUPLED SHEAR WALL STRUCTURES. I: ANALYSIS OF COUPLING BEAMS“, Journal of Structural Engineering, Vol. 117, No. 3, March, 1991
  • Nutan Kumar Subedi,”RC COUPLED SHEAR WALL STRUCTURES. II: ULTIMATE STRENGTH CALCULATIONS“, Journal of Structural Engineering, Vol. 117, No. 3, March, 1991

Ok jadi sekarang sudah bisa dipahami khan kenapa ada balok yang diberi tulangan diagonal seperti Gambar 1 itu.

Jadi balok dengan tulangan diagonal, adalah balok penghubung dari dua dinding geser yang terletak sebidang, dan itu biasanya dijumpai pada gedung tinggi sebagai suatu sistem penahan lateral, yaitu angin dan gempa (biasanya ini yang menentukan).

Tapi mengapa ya pak, gambar detail di Gambar 1 dibengkokkan tidak seperti yang terlihat pada Gambar 6, yaitu prototipe asli yang pertama kali diteliti.

Ok, berarti penjelasanku tentang RC Coupling Shear Wall sudah dapat dimengerti ya. Adapun pertanyaanmu itu masuk ke ranah berikutnya, yaitu detail di Gambar 1 itu benar atau tidak. Berarti ini sudah masuk kasus berikutnya.

Kasus adanya tulangan yang dibengkokkan umum dijumpai di lapangan, yaitu untuk mengatasi bilamana space-nya tidak mencukupi jika digunakan tulangan yang lurus. Tulangan diagonal perlu diteruskan masuk ke dalam dinding, fungsinya adalah untuk memperoleh pengangkuran yang tepat. Ilmu tentang bagaimana memperoleh pengangkuran yang tepat itu tidak gampang.

Pada perencanaan balok biasa, umumnya hanya digunakan cara-cara empiris, intinya disediakan panjang penjangkaran tulangan yang berfungsi sebagai pengangkuran, biasanya sebagai fungsi diameter. Jadi agar suatu tulangan dapat ditarik sampai leleh, maka biasanya panjang yang harus tertanam pada beton adalah 40D atau lebih. Lolasi penanamannya juga penting, yaitu di daerah tekan. Jika ditempatkan di daerah tarik, karena beton bisa retak maka jelas pengangkurannya tidak akan efektif.

Pengangkuran tulangan itu sangat penting pada suatu konstruksi beton bertulang. Itu pula yang mensyaratkan mengapa tulangan positip (lapangan) pada balok beton bertulang biasa harus diteruskan sampai ke tumpuan, minimal 30%-nya. Itu karena syarat pengangkuran.

Selanjutnya kita melihat detail diagonal bar yang terdapat pada coupling beam pada Gambar 1. Jelas itu berbeda dengan coupling beam hasil penelitian Paulay (1969) yang umum dijadikan rujukan selama ini. Terus terang aku belum pernah menjumpai detail yang seperti itu khususnya di text book atau journal-journal yang aku baca. Kalau hasil penelitian di perencana sendiri, apalagi itu dari Indonesia, koq rasa-rasanya kecil sekali dilakukan.  Berarti detail itu memang benar-benar aneh tidak saja bagi murid, tetapi juga bagi gurunya yang telah bertahun-tahun mengajar beton. Kesimpulan awalnya adalah bahwa itu pasti hasil dari engineering judgement perencananya.

Yang namanya engineering judgement sifatnya subyektif, tergantung dari pengalaman dan pemahaman engineer-nya. Jadi bisa berbeda-beda antara satu engineer dengan engineer yang lain.

Jadi kalau begitu itu benar atau tidak pak, jika engineernya bapak ?

Wah kamu itu diplomatis sekali. Baik saya mencoba menjawabnya ya, tapi ini pendapat pribadi lho, jadi bisa saja berbeda dengan yang lain. Alasan pertama karena aku tidak mempunyai referensi pendukung yang dapat langsung membenarkan detail pada Gambar 1. Jadi aku mencoba menganalisnya terlebih dahulu berdasarkan  pengalaman dan pengetahuan yang aku punya. Mari kita mencoba menalar-logikan secara bersama-sama. Lihat Gambar 9 berikut:

Gambar 9. Estimasi gaya-gaya yang bekerja nantinya pada coupling beam

Gaya-gaya yang bekerja di atas aku susun berdasarkan teori yang ada pada strut-and-tie model, yaitu bahwa tulangan baja berfungsi menahan tarik (tie) dan beton menahan tekan (strut). Ketika coupling beam bekerja sesuai mekanisme dari Paulay (1969), karena lebih kaku dibanding tulangan horizontal biasa yang dipasang maka terlebih dahulu akan menerima gaya tarik, yaitu dalam mengatisipasi diagonal split yang terjadi (lihat Gambar 5).

Gaya tarik pada balok tentunya perlu pengangkuran, dalam hal ini adalah bagian tulangan diagonal yang masuk pada shear wall (di kiri dan kanan balok tsb). Saya tidak tahu alasan kontraktor melakukan pembengkokan seperti di atas itu. Selain mempersulit diri, maka dengan adanya pembengkokan tersebut akan menimbulkan gaya tekan di daerah pembengkokannya itu. Lihat Gambar 9 di atas. Jadi di daerah bengkokkan akibat adanya gaya resultan tarik dari tulangan baja dan agar terjadi keseimbangan timbul juga gaya tekan pada betonnya.

Lalu siapa yang menahan tekan pada beton. Dapat dipastikan hanya tulangan-tulangan pada shear wall, baik tulangan horizontal maupun vertikal. O ya, yang paling efektif tentu saja yang horizontal. Sedangkan gaya normal kolom tidak terlalu membantu, terlalu ke kanan dari titik beratnya sih.

Jadi dengan melihat mekanisme di atas, dan membandingkan banyaknya tulangan diagonal yang perlu diangkur serta jumlah tulangan horizontal yang tersedia, maka dapat dipastikan proses pengangkuran tulangan di atas tidak bekerja secara maksimal.

Jadi benar atau salah pak ?

Dengan dasar argumentasi di atas maka dapat disebutkan bahwa detail yang diperlihatkan pada Gambar 1 dan juga dijelaskan pada Gambar 9 adalah tidak benar. Salah ! Bandingkan dengan detail tulangan pada prototipe yang dapat dijadikan rujukan, lihat Gambar 6.

Wah kalau begitu jika ada gempa besar bisa runtuh ya pak ?

Wah itu soal lain, itu perlu di analisis secara menyeluruh, karena bisa-bisa tulangan diatas dihitungnya boros, atau mungkin shear wall-nya dihitung sebagai non-coupling shear wall masih memungkinkan , ya berarti nggak apa-apa. Tetapi yang jelas sekali lagi, kalau mau bikin detail hati-hati. Jika tidak tahu mekanisme yang terjadi maka mengubah sembarangan akan menyebabkan perilakunya akan berbeda dengan yang sudah ada.

Moga-moga membantu.

34 thoughts on “detailnya aneh, betul nggak sih pak ?

  1. Ping balik: Tweets that mention detailnya aneh, betul nggak sih pak ? | The works of Wiryanto Dewobroto -- Topsy.com

  2. Hallo pak wir…
    wah bagus nich kondisi kaya gini apa bisa di analisa pakai program…
    kaya program staad gitu..??
    thanks..

    Wir’s responds: tidak gampang mas. Apalagi kalau pakai semacam Element Frame di StaadPro pasti tidak bisa. Kalau pakai program semacam Abaqus baru bisa, tapi ya itu saya belum pernah melihatnya.

    Suka

  3. Kami sedang berencana membangun gedung 3 lantai, dan sekarang baru dihitungin strukturnya sama teman saya yg dari Sipil, besok kalau sudah jadi mau dicekkan ke Pak Wir deh, semoga lancar jaya.

    Suka

  4. Wah baru tahu penulangan seperti itu! Siip…
    Pertanyaannya :
    1. Pada waktu pengecoran apakah tidak susah?
    padahal min jarak tulangan yg bisa di lalui beton segar 2,5 cm?
    2. Apakah tulangan tersebut dapat di ganti dengan profil baja IWF?
    3. Kayaknya para engineer sekarang lebih menjauhi kasus seperti ini, ya ndak pak?
    Terima kasih ilmunya

    Suka

  5. mungkin consultant pada proyek ini mengacu pada cara detail pembesian seperti pada kolom di lantai dasar bangunan, berhubung tempat yang terbatas pada pondasi bangunan, besi juga dibengkokkan.

    Suka

  6. ikut nimbrung deh.. uda lama soalnya absen nimbrung d blog pak wir..
    hmm.. kaitan sama detil tulangan yg agak aneh itu mungkin maksudnya utk meyakinkan supaya gaya geser yg terjadi di ujung2 balok bisa masuk tersalur ke balok perangkai dan balok bisa menyalurkan nya ke dinding di sebelahnya sehingga dua dinding geser bisa berperilaku bersama.. tapi saya juga setuju spt yg pak wir bilang, bengkokan spt itu sgt menyulitkan utk dilakukan dan benar juga apa yg bapak sebutkan bahwa nantinya bakal tjd stress yg cukup bsr pd tulangan di daerah bengkokan tsb.

    Suka

  7. wah, klo di kampus saya ada dosen sperti pak wir. pasti dapat mengembangkan pola pikir mahasiswa sipilx, .. bahasanx bagus banget pak jadi bertambah pengetahuan saya …

    Suka

  8. nama saya Yan pak , saya mahasiswa jurusan teknik sipil ,terima kasih atas tulisan nya Pak, karna disini saya banyak mendapat ilmu pak , yang sangat saya senangi, terus berkarya Pak.
    salam sejahtra

    Suka

  9. wow..saya baru liat detail tulangan yg seperti ini…
    thx pak wir. dgn adanya blog ini , kami yang baru tamat jadi bs bnyk belajar.

    Suka

  10. Mungkin tujuan dari konsultan ato engineer yang ngitung balok ini adalah memberi tulangan tambahan akibat 3 buah pipe besar itu…sehingga otomatis kekuatan balok tersebut menjadi berkurang akibat lubang besar dari ketiga pipe tersebut..
    Btw Pak Wir ajarin cara ngitung kekuatan dari balok ato kolom yang di tengahna ada service pipe buat M&E..

    Thk

    Suka

  11. nama, aswansyah pohan, background saya adalah teknik sipil
    saya merasa masih terlalu banyak ilmu ‘teknik sipil’ yang belum saya ketahui, tetapi dgn adanya tulisan dan ilmu2 yg ada dalam situs teknik sipil ini sangatlah membantu saya utk menambah ilmu khususnya dibidang perencanaan perhitungan struktur
    Thank’s for all

    Suka

  12. Ping balik: Desain Rumah Kreatif, Alternatif Untuk Pasangan Muda - Info - Artikel Unik, Lucu, dan Menarik

  13. nama hargiyanto backgroud saya teknik sipil….saya sangat terbantu dengan tulisan dalam situs Teknik Sipil ini untuk lebih mengetahui tentang Dunia Teknik Sipil.

    Terima Kasih saya tujukan pada Bapak Wiryanto

    Suka

  14. Pak Wir.. Saya sedang merencanakan struktur beton dengan sistem rangka, dengan denah lantai tidak beraturan.
    Beban dinding bertumpu di pelat (dibawahnya tidak ada balok)
    Nah yang ingin saya tanyakan:
    1. Bagaimana cara mengitung beban dinding di atas pelat tersebut?
    2. Bagaimana penulangan pelat dibawah dinding tersebut?
    3. Adakah peraturan yang bisa saya gunakan?
    Terima kasih pak Wir.. Semoga bapak berkenan memberikan jawaban..

    Suka

  15. terimakasih Pak Wir atas ulasannya di blog ,, saya terbantu malam ini , salam sejahtera insinyur2 teknik sipil seluruh penjuru nusantara,, semoga makin jaya,,

    Suka

  16. Ping balik: detailing di rekayasa struktur | The works of Wiryanto Dewobroto

  17. Ping balik: rekayasa pondasi lanjut « komputerbisnisnarotama

  18. Ping balik: rekayasa pondasi lanjut « rekayasapondasilanjut

    • di buku saya yang baru, saya sedikit menyinggung balok tinggi, yaitu apakah hal itu ada juga di struktur baja. Kayaknya saya belum pernah membaca hal serupa ditempat lain. Menarik lho. Intinya mengapa istilah balok tinggi atau deep beam hanya ada di struktur beton.

      Suka

  19. Selamat malam pak wir…
    Artkelnya bagus pak, saya mau nanya pak untuk belajar lebih lanjut tentang strut and tie model, apa ada referensi buku yang bagus, yang berbahasa indonesia mungkin, apalagi kalo buku pak wir sendiri.
    makasih sebelumnya pak wir

    Suka

    • senior saya di UPH, yaitu Prof. Harianto Hardjasaputra, yang merupakan bimbingan langsung Prof. Schlaich (penemu metode Strut-and-Tie-Model dari Uni Stuttgart Jerman), telah membuat versi bahasa Indonesia tentang metode tersebut, yaitu :

      Harianto Hardjasaputra, Dr. –Ing., dan Steffie Tumilar, Ir., M.Eng., MBA., “Model Penunjang dan Pengikat (Strut and Tie Model) Pada Perancangan Struktur Beton”, Universitas Pelita Harapan – Press, 2002

      Sudah lama terbitnya, dan kayaknya tidak dicetak ulang. Kalau saya, ketika riset di Uni Stuttgart dulu (atas bantuan Prof. Harianto H.) sempat belajar kepada temannya Prof Har, yang sekaligus murid penerus Prof. Schalich, yaitu prof. K.H. Reineck, dan tulisannya bersama beliau tersebut diterbitkan oleh ACI (Amerika), waktu itu sedang ramai-ramainya penyusunan ACI 2002, judul bukunya

      Reineck, K.-H., ed., Examples for the Design of Structural Concrete with Strut-and-Tie Models, SP-208, American Concrete Institute, Farmington Hills, MI, 2002, 242 pp.

      Aku menulis di salah satu bab-nya.

      Ini ada contoh dari internet, siapa tahu berguna :

      http://www-personal.umich.edu/~gjpm/Journals/ci2505wight.pdf

      Suka

  20. Salam untuk Bapak, semoga selalu sehat dan sukses selalu, melihat artikel bapak saya jadi ingin menanyakan soal shear wall pak, bagaimana bila ada kasus terdapat pelat lantai dan balok (mutu beton balok dan pelat fc 30) yang tulangannya masuk ke shear wall (mutu beton shear wall fc 40), apakah pada saat pengecoran kita stop pengecoran mengikuti level pelat sehingga menjadi berlapis2 pelat dan shear wallnya sehingga shear tidak monolit, ataukah shear wall dicor monolit fc 40 dengan pelat disiapkan stek lipat dan ada block out balok, atau ada solusi yang lebih baik lagi, terimakasih atas perhatiannya , salam

    Suka

    • Shear wall selain untuk memikul gaya lateral (gempa) juga berfungsi sebagai kolom, yaitu memikul gaya aksial. Mutu beton fc 40 tentunya diarahkan untuk memikul tekan (aksial) sedangkan pelat lentur mutu seperti itu tidak diperlukan. Jadi mutu tinggi harus kontinyu pada shear wall

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s