Film Bertema Gay Boleh, Asal Tidak Porno


Inilah profil suatu negeri yang merasa mempunyai kebebasan berpendapat. Negara demokrasi, begitu katanya. Oleh karena itulah maka pihak-pihak yang berkepentingan akan berusaha memanfaatkannya untuk mengaktualisasikan diri. Untuk itu berbagai macam cara digunakan, yang penting tidak melanggar HAM.

Alasan itu juga yang menyebabkan Q!Film dapat dengan tenang-tenang menyelenggarakan festival film-nya yang bertema gay-lesbian, meskipun ada pihak yang menolak dan sampai mendatanginya, yaitu FPI. Bahkan sekarang ini kelihatannya mereka merasa di atas angin setelah ada pernyataan pihak kepolisian yang seakan-akan membelanya, ini kutipan beritanya.

Kalau ada konten pornografi, ini dilarang. Tapi kalau cuma bagaimana keseharian seorang gay atau homoseksual, apa perlu itu dilarang? Saya kira itu tidak masalah.” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar di Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (28/9/2010).
[Detik.com – Selasa, 28/09/20]

Sepintas alasan yang diajukan adalah logis dan nalar. Kesannya wajar, karena tidak ada pelanggaran hukum. Meskipun demikian ketika aku membacanya aku tercenung, ada sesuatu yang terbersit dipikiranku. Itulah mengapa aku mengutip utuh judul berita tadi menjadi judul tulisan di blog-ku ini. Boleh khan.

Kalau cuma keseharian gay atau homoseksual, apakah itu salah ?

Pernyataan atau pertanyaan pak Boy tersebut aku ulang lagi. Terlihatnya sepele, tetapi saya sangat yakin pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab, khususnya jika yang bersangkutan mau memikirkannya secara holistik akan dampaknya.

Kenapa begitu, karena jika seseorang sadar bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini adalah dimulai dari pikiran maka tentu pernyataan di atas jelas-jelas tidak akan diamini begitu saja. Festival tersebut memang tidak secara nyata menampilkan pornografi, saya tahu itu. Penyelenggaranya tidak bodoh, karena dalam penyelenggaraannya menggaet atase kebudayaan asing, hal itu pastilah sudah dipikir matang-matang. Jadi jika ada item-item yang melanggar pasal undang-undang pastilah akan disensor terlebih dahulu.

Kalau begitu apa tujuan mereka pak Wir ?

Itulah yang orang awam pada tidak paham. Sebenarnya mereka dengan dukungan perwakilan negara lain mencoba menginfiltrasi kebudayaan lokal kita, nilai-nilai budaya kita. Alasan yang digunakan adalah menegakkan nilai-nilai HAM atau kemanusiaan.

Apa itu pak.

Sederhana, mereka hanya ingin menyatakan pendapat, bahwa gay atau lesbian adalah manusia juga. Jadi sama seperti manusia yang lain, jangan dianggap sebagai ketidak-wajaran. Begitu intinya. Tata nilai yang dianggap wajar di budaya barat akan diupayakan untuk diinfiltrasikan kepada budaya kita, budaya timur.

Jika itu berhasil, maka pada akhirnya mereka (gaya/lesbian) dapat hidup secara bebas , tidak segan-segan lagi dalam masyarakat, dan bahkan mungkin saja akan mempengaruhi orang lainnya untuk menjadi ‘teman’ mereka. Lama-lama kita akan seperti di barat juga, yaitu akan terjadi perkawinan antar gay atau lesbian.

Emangnya gay atau lesbian itu salah ya pak ?

Ya susah sih menjawabnya, saya khan awam. Tetapi yang jelas menurutku gay atau lesbian adalah suatu ketidak-wajaran, sama seperti orang yang cacat phisik, hanya saja mereka cacat dalam perilaku. Kasihan mereka.

Dalam konteks HAM kita menanggapi mereka seperti menanggapi orang cacat pada umumnya, yaitu tetap menghormati keberadaannya. Meskipun demikian karena kita melihat bahwa perilakunya termasuk dalam kategori cacat, yaitu tidak baik, maka mempromosikan ke orang banyak yang lain, seperti dalam film yang dibuat di festival di atas adalah sesuatu yang tidak baik. Tidak berguna.

Kecuali jika yang menonton adalah para gay/lesbian itu sendiri, maka jika itu ditonton oleh anak muda, yang belum tahu baik dan buruk, sekedar mengandalkan rasa keingin-tahuannya yang besar maka jelas itu adalah sangat berbahaya. Bisa saja itu dicoba. Tahu sendiri bukan, orang itu mudah untuk menjadi tidak baik dibanding menjadi baik. Jadi film itu bisa menjadi alat propaganda yang efektif untuk menjadi gay atau lesbian.

Enak saja, bagaimana pak Wir bisa menyatakan bahwa gay atau lesbian itu adalah cacat perilaku. Bisa dituntut lho pak.

Wah memang susah untuk bersikap yang membuat orang lain tidak senang. Apalagi jika itu dikaitkan dengan manusia. HAM selalu dijadikan tameng. Istilah cacat perilaku sebenarnya sudah sangat halus, jika kita merujuk pada pengetahuan agama maka gay atau homoseksual bahkan bisa disebut orang berdosa. Nggak percaya, ini aku akan merujuk pada literatur kristen (Alkitab perjanjian lama).

Ini latar belakang mengapa kota Sodom dan Gomora dimusnahkan:

Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru pada Lot: “Dimanakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini ?. Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.”
[Kejadian 19:5]

Itu mungkin tidak tersirat secara jelas, coba perhatikan ini ada kutipan alkitab yang secara jelas-jelas melarang adanya homoseksual.

Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian. [Imamat 18:22]

Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. [Imamat 20:13]

Jadi tentang gay atau homoseksual sudah disebutkan lama di literatur kristen, dan telah dianggap tidak wajar. Jadi kalau ada yang menganggap itu wajar (bukan cacat) maka itu tentu perlu dipertanyakan. Jadi pendapat tidak baik tentang homoseksual tidak hanya dimengerti oleh orang Islam dengan FPI-nya tetapi juga kristen. Oleh karena itulah untuk kasus di atas, maka aku mendukung secara moril tindakan FPI ke festival tersebut. Tinggal sekarang kita berpedoman pada nilai-nilai agama atau HAM.

Kabar berita lain yang mungkin dapat dikaitkan  :

8 thoughts on “Film Bertema Gay Boleh, Asal Tidak Porno

  1. Ping balik: Tweets that mention Film Bertema Gay Boleh, Asal Tidak Porno | The works of Wiryanto Dewobroto -- Topsy.com

  2. menurut pak wir, apakah mereka2 itu (para kaum gay dan lesbian) pernah menginginkan sejak kecil untuk menjadi seperti itu?

    yang paling penting dan paling sulit adalah menghilangkan stigma buruk tentang lesbian ataupun gay.

    masalah infiltrasi menurut saya tergantung dari kedewasaan kita sbg bangsa timur untuk bisa menerima dan memilahnya.

    Suka

  3. yang seharusnya kita pikirkan adalah jika suatu perbuatan itu menyimpang seharusnya sudah tidak ada toleransi lagi….

    jika ditanya bagaimana perasaan kita ketika kita tahu anak kita gay atau lesbi, sudah pasti SHOK dan kita berusaha mengembalikan mereka seperti sediakala

    jadi apapun sesuatu yang menyimpang yang tidak sesuai kodrat kita tolak apapun itu bentuknya dan kita berkewajiban mengajak mereka menjadi sejatinya seorang lelaki atau perempuan

    Suka

  4. Menurut Saya

    “Kalau ada konten pornografi, ini dilarang. Tapi kalau cuma bagaimana keseharian seorang gay atau homoseksual, apa perlu itu dilarang? Saya kira itu tidak masalah.” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar di Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (28/9/2010).
    [Detik.com – Selasa, 28/09/20]

    Seharusnya menanyakan kepada ahli pisikologi dulu kira2 apa pengaruhnya jika hal itu dibiarkan tersebar kekalangan masyarakat luas walaupun hanya keseharian mereka, sebelum memberikan komentar seperti itu,

    “serahkan urusan pada ahlinya”, ini Pendapat saya

    Suka

  5. Itulah yang orang awam pada tidak paham. Sebenarnya mereka dengan dukungan perwakilan negara lain mencoba menginfiltrasi kebudayaan lokal kita, nilai-nilai budaya kita.

    rasanya sebagai orang yang mempelajari kebudayaan lokal kalimat ini tidaklah tepat, kebudayaan asli Indonesia sebenarnya welcome terhadap perilaku gay, salah satu contoh budaya Reog dengan warok dan gemblaknya yang justru di inffiltrasi kebudayaan luar red:kristen/islam

    sehingga kebudayaan ini nyaris punah dan bergeser dari aslinya
    kalau pak Wir berkata kita harus membuang budaya yang jelek (menurut pak Wir sebagai Kristen) ya saya tidak akan bisa berkata apa2 lagi🙂

    Suka

    • Saudara Vendi,
      Metode induksi yang anda gunakan untuk menggeneralisasi hal yang khusus rasanya tidak tepat, bahkan cenderung bias dan dapat berbahaya .

      Adanya gemblak memang tidak dapat dipungkiri, meskipun demikian hal tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa kebudayaan asli Indonesia adalah welcome terhadap perilaku gay. Sebagaimana fakta juga membuktikan bahwa prostitusi ada, tetapi itu tidak dapat dijadikan bukti juga bahwa hal tersebut memang diterima oleh masyarakat mayoritas kita.

      Bayangkan saja, prostitusi yang selalu dikaitkan dengan zinah yang merupakan dosa oleh agama sehingga menjadi tema kotbah para rohaniawan kepada masyarakat. Ternyata faktanya ada-ada saja lokalisasi prostitusi. Yah namanya dosa, dari dulu sampai sekarang ada-ada saja yang menikmatinya juga. Tapi itu khan tidak berarti diterima khan.

      Jadi coba bayangkan, jika kemudian ada kampanye-kampanye positip tentang gay dengan alasan HAM, sehingga dianggapnya hal yang biasa, manusiawi maka tentu akan terjadi penularan yang cepat sebagaimana prostitusi diatas. Bahkan dapat diidentikan, gay seperti halnya zinah juga. Karena jelas di Indonesia belum dikenal adanya perkawinan antara jenis. Padahal perilaku gay yang dimaksud tentu saja adalah hubungan badan sesama jenis.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s