kehidupan dan kematian


Sebagaimana siang dan malam, maka adanya kehidupan akan disertai juga dengan kematian pada akhirnya. Itu merupakan satu-satunya kepastian yang dapat diamini oleh semua orang, tanpa harus pusing-pusing mempertanyakan apa latar belakang kehidupan beragamanya.

Oleh karena siapapun yang hidup pasti akan berjumpa dengan kematian, maka setiap orang tentunya harus selalu ingat hal tersebut, dan berusaha menata kehidupannya secara baik agar tidak terjadi penyesalan yang perlu diungkapkan menjelang kematiannya. Untuk itulah maka setiap ada kenalan yang meninggal, apalagi jika itu saudara,  maka aku perlu menyempatkan diri untuk melayat, memberi penghormatan terakhir kepada almarhum, serta memberikan penghiburan bagi anggota keluarga yang ditinggalkannya.

Jika almarhum termasuk keluarga dekat, yang artinya dapat diketahui kabar beritanya sejak lama,  sehingga dapat diingat sepak terjang kehidupannya selama ini, maka itu menjadi buku catatan kehidupan paling bagus bagiku untuk dijadikan media introspeksi diri dan merenungkan arti kehidupan ini . Memori yang terpatri tentang almarhum, yang telah aku dapat sejak aku kecil dulu dan sampai di hari kematiannya, semuanya mengalir seperti membaca buku biografinya saja. Tentu saja, kelengkapan data tergantung seberapa dekat hubungan kita dengan almarhum. Membacanya tidak sekedar seperti membaca teori di buku-buku pengembangan diri, tetapi benar-benar ada bukti empiris bahwa itulah yang namanya kehidupan, yang bisa dijadikan teladan atau harus dihindari.

Ingat, dalam mempelajari ilmu pengetahuan sesuatu yang ada bukti empirisnya dapat dikatakan sebagai suatu kebenaran, tentu saja dalam suatu batasan tertentu.

Ketika melayat, kita akan sadar, bahwa teman atau saudara yang belum lama ini ketemu dan ngobrol ternyata bisa saja meninggal secara mengejutkan, misalnya sebelumnya tidak ada kabar sakit atau apa, sehingga kadang lupa bersilaturahmi, atau bertemu dengan teman / kenal yang kita kenal tersebut.

Malam ini baru saja saya melayat, dari situ ketahuan bahwa yang namanya saudara almarhum, meskipun dalam satu kota ternyata bisa saja saling terlupa. Dari cerita-cerita yang diungkapkan, dalam rangka ingin menunjukkan bahwa si pelayat cukup dekat dengan almarhum, banyak diceritakan kapan terakhir si pelayat bertemu dengan almarhum. Karena ceritanya kebetulan juga didengar oleh anaknya, yang kemudian menanggapi :”Jadi om pernah bertemu papa almarhum di kota A, wah kalau begitu itu terjadi sekitar 15 tahun , karena sejak tahun 1995 kami sudah pindah ke sini om“. Jadi melayat itu juga merupakan ajang untuk silaturahmi dengan saudara-saudara yang selama ini jarang bertemu.

Ketika ‘membaca’ dan merenungkan ‘buku catatan’ kehidupan almarhum, dan membandingkan persepsi kita dulu  tentang beliau, dengan suasana yang ditangkap saat ini (ketika meninggalnya) ada beberapa hal yang dapat dicatat :

  • Kehidupan itu begitu singkat, bayangkan saja aku pertama kali ketemu almarhum ketika anak-anaknya masih kecil (waktu itu aku ikut orang-tuaku). Sekarang anak-anak almarhum sudah menjadi orang tua juga dengan beberapa cucu kepada almarhum. Ingatan dulu yang aku tangkap kesannya baru terjadi beberapa minggu yang lalu. Padahal ketika mengingat itu, pikiranku tidak merasa tua (dulu dan sekarang rasanya sama saja), hanya saja ketika melihat di kanan-kiriku kepada saudara-saudaraku yang seumuran, terlihat semuanya sudah beruban rambutnya, jadi akupun mestinya juga demikian (sudah tua).
  • Kehidupan itu dapat dibagi dua, yaitu karir (cita) dan keluarga (cinta). Kadang-kadang keduanya bisa berjalan bersama, paralel, tapi kadangkala  berjalan sendiri-sendiri, tidak paralel bahkan saling bertolak belakang. Jadi selama kita masih hidup ini, keduanya, karir dan keluarga harus selalu diusahakan keseimbangannya. Berkehidupan dalam komunitas masyarakat luas, seperti tetangga atau juga lingkungannya seimannya dapat dikategorikan dalam karir juga. Adapun tingkat partisipasinya banyak ditentukan oleh aktifitas almarhum ketika hidupnya (dikenal) oleh komunitas tersebut.

Merenungkan tentang karir (cita) dan keluarga (cinta) ini adalah sangat menarik. Dalam banyak hal, kesuksesan materi banyak ditentukan oleh kesuksesan orang dalam karirnya, sedangkan kehangatan cinta kasih (lawan dari kesepian) lebih banyak ditentukan oleh kesuksesannya dalam membina keluarga dan perkawinannya.

Pada kasus tertentu jika karirnya mendapat respek positip masyarakat maka darinya (karir) akan memberikan tambahan jaringan masyarakat / kenalan yang menyebabkannya tidak mengalami kesepian.

Dengan melihat suasana pada rumah duka dan juga pemakamannya maka seseorang dapat dilihat bagaimana kehidupannya, sukses (patut ditiru) atau tidak (dihindari).

Jadi kehidupan manusia dapat dipelajari dari melihat sisi kematiannya. Luar biasa. RIP.

Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.
[Lukas 20:37-38]

2 thoughts on “kehidupan dan kematian

  1. Ping balik: Tweets that mention kehidupan dan kematian | The works of Wiryanto Dewobroto -- Topsy.com

  2. dalam film legendaris Joan of Arc dikatakan bahwa kematian itu tidak menyakitkan namun sangat indah..awal kita mati semuanya terasa begitu cepat, lalu tubuh kita akan membusuk, dan beberapa minggu setelah itu barulahh kita bisa melihat itu menjadi sesuatu yang indah dan awal yang baru bagi makhluk hidup lainnya..bunga2, embun dan makhluk hidup lain ikut serta dalam keindahannya

    pointnya adalah jalani kehidupan dengan baik sesuai kehendak-Nya sehingga kita dapat merasa bahwa kematian bukan kesengsaraan melainkan karya maha esa yang memilih kita untuk terlibat didalamnya. memberi kehidupan baru bagi dunia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s