kekerasan !


Anda mendengar televisi, radio, koran, twitter, facebook , yah sesuatu yang lain yang menunjukkan bahwa anda terhubung dengan komunitas pada umumnya. Apa yang anda bayangkan dengan judul tulisan ini, yaitu KEKERASAN.

Hati-hati jika yang anda bayangkan dengan kata kunci di atas adalah sesuatu kejadian yang adanya di luar negeri, berarti anda out-of-dated. Ketinggalan berita. Bisa-bisa kena akibatnya.

Pemahaman saya tentang kekerasan yang terjadi di Jakarta, kadang-kadang dapat dilihat langsung, dengan mata kepala sendiri. Kalau yang seperti ini kasusnya kebanyakan akibat permasalahan di jalan, akibat tidak hati-hatinya mereka berkendaraan ditambah adanya pikiran yang mudah emosi. Karena aku tidak suka yang namanya kekerasan, maka ketika menjumpai hal ini maka aku cenderung menghindarinya. Jadi ada gelagat akan terjadi kekerasan, langsung belok menghindari. Cari slamet aja, begitu orang jawa bilang. Yah gimana lagi nggak ada untungnya.

Yang terjadi dijalan, kadang-kadang aku bisa memakluminya, bayangkan saja kondisi lapar, lalu macet, maka jika ada yang menyerobot, mentang-mentang seperti jalannya sendiri, maka timbul rasa dongkol dan kecewa. Jadi dengan kasus yang serupa bisa saja hal itu yang menyebabkan emosi yang menyulut kekerasan. Tetapi sekarang dari berita yang ada, kekerasan juga telah merambat ke hal yang lain, tidak hanya di jalan, tetapi juga terjadi di pengadilan.  Baca dengan baik berita-berita berikut :

Kejadian bentrokan ini bukan yang pertama kalinya terjadi, kalau tidak salah, sebelumnya juga pernah terjadi kekerasan di pengadilan itu juga. Dari cuplikan judul berita di atas, bahkan tanpa membacanya lengkap, kita pasti sudah menduga bahwa jumlah yang terlibat bentrok tidak sedikit (minimal ada 8 orang yang terlibat), juga ada korban yang jatuh, seorang Debt Collector. Dari itu semua maka tentunya dapat dipahami bahwa kasusnya tidak sekedar emosi, seperti terjadinya kekerasan di jalan. Bahkan jika anda membaca berita lebih lanjut, ternyata orang-orang yang berbuat kekerasan tersebut sampai-sampai perlu diangkut dengan bis, dua buah bis. Bayangkan itu, kesannya khan seperti terorganisasi. Kekerasan terorganisasi telah terjadi di ruang publik ibukota. Bayangkan di depan pengadilan lagi, itu khan juga  merupakan simbol penegakan keadilan terhadap terjadinya kekerasan. Luar biasa beraninya si pembuat kekerasan tersebut.

Adanya kekerasan yang terjadi di ibukota, juga menunjukan bahwa keamanan negeri ini tidak terjaga baik. Padahal katanya keamanan telah menjadi tanggung-jawab polisi, bahkan yang aku dengar dari berita mereka tidak mau menerima bantuan tenaga dari TNI. Kalau ini sih kasus di Medan (Sumatera Utara) itu lho, dimana ada kantor polisi di serang.

Jadi jika di ibukota, tempatnya para polisi berada saja bisa sampai terjadi kekerasan, ditempat yang seharusnya bebas dari kekerasan, yaitu pengadilan, maka tidak heran jika di daerah juga dapat saja terjadi kekerasan yang mungkin intensitasnya lebih dahyat. Ini ternyata tidak sekedar dugaan-dugaan  saja, tetapi telah menjadi fakta. Tidak percaya, baca berita ini.

Sadarkan anda, bahwa jika menurut undang-undang yang bertanggung jawab terhadap keamanan adalah kepolisian, tetapi mengapa kejadian yang di Tarakan (Kalimanta Timur) tersebut sampai-sampai melibatkan TNI AU sehingga harus turun tangan, untuk mencegah konflik yang meluas. Itu menunjukkan bahwa kasus kejadiannya tidak hanya sekedar seperti yang terjadi di ibukota, pasti lebih dahyat. Itu juga menunjukkan bahwa kepolisian ternyata tidak mampu mencegah terjadinya tindakan kekerasan.

Berkaitan dengan yang di Tarakan (Kalimantan Timur), aku jadi tahu atau tepatnya menduga apa yang sedang terjadi, yaitu setelah sore ini disapa oleh salah satu pembaca blog ini melalui Facebook. Dari bincang-bincang umum, sampai akhirnya menyampaikan kasus yang terjadi di kotanya, dan pada akhirnya meminta saya juga mendoakan agar dianya  masih ada untuk menyapaku lagi. Permintaan itu disampaikan karena situasinya menurutnya cukup mengkuatirkan. Bayangkan saja.

Dalam mencermati adanya kekerasan yang terjadi, tentu kita perlu melihat secara holistik (keseluruhan). Apa yang sebenarnya terjadi. Jika mau dirunut secara jujur dan terbuka, pastilah ujung-ujungnya adalah karena duit. Kesejahteraan rakyat yang tidak mencukupi. Jadi kekerasan-kekerasan yang terjadi itu hanya asapnya saja, karena yang namanya kesejahteraan itu menyangkut peri kehidupan masyarakat luas, menyeluruh dan akhirnya pasti akan merambat atau merujuk pada kepemimpinan pemerintahnya.

Yah, apa-apa yang ditakuti oleh para sesepuh yang eling dan waspada dengan kejadian di negeri ini, mulai terjadi. Pahami juga tulisan berikut :

http://www.vivanews.com/embed/video/11182/

5 thoughts on “kekerasan !

  1. Ping balik: Tweets that mention kekerasan ! | The works of Wiryanto Dewobroto -- Topsy.com

  2. Terima kasih Pak Wir,
    Ada berita yg mengatakan mereka yang bentrok di Ampera itu ada yang menggunakan Pistol.
    Perambok Bank yg katanya Teroris Juga pakai Pistol.
    Pihak keamanan Militer dan Polisi pakai Pistol..
    sehingga hanya sedikit perbedaan Penjaga keamanan dengan Penjahat..
    Polisi dengan Teroris. Mereka sama-sama pakai Pistol.
    Adakah kesamaan yang lain?..
    Sungguh Menakutkan..
    Kapan ada kenyamanan di Indonesia ini?..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s