DPR dan studi banding ke luar negeri


Sebagian besar orang kalau diajukan pertanyaan :” Anda mau ke luar negeri ?“. Apalagi jika dikaitkan dengan negeri-negeri indah di Eropa atau mungkin bisa saja hanya Singapore atau Hongkong, maka jawabannya pasti mau. Saya yakin. Kenapa, karena di dalam benaknya, yang dibayangkan adalah kesempatan untuk jalan-jalan mengunjungi tempat baru dan foto-foto. Kapan lagi, apalagi jika tanpa harus mengeluarkan duit sendiri (gratis).

Tetapi coba kalau disuruh ke luar negeri untuk tugas, seperti misalnya membantu orang kelaparan di Somalia. Maka dapat dipastikan banyak yang akan menolaknya. Yakin itu. Bahkan nggak perlu ke Somalia, ke Malaysia saja, misalnya disuruh ngurus TKI yang kena masalah, maka pasti akan saling tunjuk, “kamu saja, saya sedang sibuk menyelesaiakan masalah di sini“.

Dengan cara berpikir seperti di atas maka ketika melihat banyak anggota DPR kita yang bersemangat untuk melakukan studi banding ke luar negeri, meskipun banyak yang mempertanyakan, tentulah itu didasari oleh motivasi yang tidak jauh berbeda dengan penjelasan saya di atas.

Tentang bagaimana ngototnya mereka, agar dapat ke luar negeri, maka kita bisa melihat dari bagaimana para pemimpinnya memberi argumentasi :

Hal di atas tentu tidak menjadi masalah jika digunakan uang mereka sendiri. Masalahnya adalah : ternyata mereka menggunakan uang rakyat (yang tentunya ditarik dari pajak), dan ternyata tidak sedikit jumlahnya. Bayangkan :

Terlepas dari silang pendapat di atas, adanya kesempatan bepergian  ke luar negeri bagi seseorang yang belum pernah ke luar negeri memang memberi kesempatan untuk menambah wawasan. Positip. Bahkan itu tidak hanya berlaku bagi yang ke luar negeri saja, di dalam negeri saja dapat dibandingkan bahwa anak muda yang berani keluar dari kampungnya tentu mempunyai wawasan yang lebih luas dibanding anak muda yang kuper,  yang nggak berani kemana-mana. Bahkan ada pepatah: “Jangan seperti katak dalam tempurung“. Itu khan peribahasa yang mengakui bahwa bisa melihat ke ‘luar’,  memang akan memberi pengalaman positip.

Jadi alasan yang selalu digunakan para anggota DPR bahwa itu diperlukan agar undang-undang yang mereka buat akan lebih baik maka tentu tidak salah juga. Memang pintar juga mereka.🙂

Masalah yang perlu diajukan kepada mereka sebenarnya adalah seberapa signifikasinya antara manfaat yang mereka dapat dan banyaknya uang yang mereka habiskan. Ini sebenarnya yang perlu dibuka bersama.

Itu perlu dipertanyakan karena tidak setiap orang mampu menangkap wawasan yang terlewat di depannya secara efektif. Jangan-jangan bukan wawasan positip yang didapat sesuai dengan kriteria umum tetapi hanya sekedar romantisme perjalanan akibat melihat daerah baru yang indah. Sampai-sampai terlena tugas utamanya, yaitu untuk kepentingan rakyat banyak.

Menangkap wawasan adalah kemampuan pikiran dalam mengolah data yang diterima indera untuk mendapat makna yang berguna bagi tindakan selanjutnya. Saya yakin tidak semua anggota mempunyai kemampuan sama.

Oleh karena itu, agar dapat mempertanggung-jawabkan apa-apa yang diperoleh selama keluar negeri maka ada baiknya mereka diminta untuk membuat artikel atau laporan transparan apa saya yang mereka kerjakan di sana dan apa saja yang positip yang dapat mereka bawa untuk kita. Dengan melihat laporan perjalanan yang mereka lakukan dan kita bandingkan dengan biaya yang telah mereka habiskan maka tentunya kita dapat mengevaluasi lebih lanjut, apa perlu “studi banding” tersebut.

Membuat laporan yang berbobot memang tidak gampang, tetapi karena adanya persyaratan itu maka tentunya mereka akan mikir-mikir dulu dan mempertimbangkan dengan baik, tidak asal-asalan minta duit untuk pergi.

O ya, laporan tersebut sebaiknya dievaluasi oleh pakar independen, tidak sekedar sudah mengumpulkan saja. Jika itu benar-benar dilakukan maka kita semua akan maklum bahwa mereka keluar negeri adalah dalam rangka studi banding betulan.

Coba aja, siapa tahu ini cara sederhana untuk menghemat devisa.🙂

12 thoughts on “DPR dan studi banding ke luar negeri

  1. Klo saya disuruh bikin laporan dan dinilai tim independent… hadooo….

    Ide bagus Pak Wir… walaupun nanti akan timbul protes klo benar-benar dilaksanakan. Bikin laporan perjalanan dan diperiksa?… Hm…

    Suka

  2. Setuju pak..
    Sebenarnya jika niat para anggota DPR memang positif, pasti sudah dari dulu mereka membuat laporan yang transparan ke masyarakat. Ide itu pasti saja sudah terlintas di segelintir anggota DPR yang berpendidikan, mengingat membuat artikel ato laporan adalah mutlak kewajiban seorang yang merasa punya tanggung jawab.

    Gemes juga liat tingkah laku anggota DPR kita.. Tidak pernah saya dengar tindakan anggota DPR yang dapat menyentuh hati, membuat masyarakat bangga..

    Suka

  3. sama saja apak. wong nantinya yg bikin report juga staf ahlinya kok.

    Wir’s responds: kalau begitu yang disuruh pergi staf ahli-nya saja.🙂

    Suka

  4. publik sudah tidak percaya sama wakilnya.

    setelah berbagai skandal (sebut saja pemilihan ex-Gub. BI, bank century yang menguap, berbagai praktik korupsi, video mesum, dll), setelah dana aspirasi, rumah aspirasi, pembangunan gedung baru..
    sekarang ‘studi banding’ ato mlaku2 nang luar negeri….

    hmm..cuma bisa mengelus dada… kapan wakil2 kita di Dpr bertobat nih ???
    malah bersikap seperti anak kecil (mengadukan dana perjalanan lembaga lain yang lebih besar)..

    pelajaran apa yang bisa d ambil rakyat dari semua peristiwa ini bahwa lain kali kalo milih wakil, jangan sembarangan..(gimana gak sembarang milih, pilihannya cuma itu2 aja…) hmm…kompleks masalah negri ini…

    mari kita bersikap seperti anak kecil yang dengan bahagia dan antusiasnya menunggu oleh2 yang dibawa pulang ayahnya setelah dinas ke luar kota…wkwk

    Suka

  5. Bener bgt Pak..
    Mestinya mereka sadar betul apa tugas dan kewajiban mereka selaku anggota Dewan yg katanya mewakili rakyat..

    Orang yg d sebut2 terhormat…Kalo cuma bisanya menghambur2kan uang rakyat. Buat apa ?? Apa yang harus dihormati dr mereka?

    Seharus ny mereka yg menghormati rakyat ny,.Karena mereka kan d bayar oleh rakyat…
    Salut untk Pak Wir, semoga tulisan Bpk dpt menyadarkan orang2 yg “terhormat” tersebut..

    Suka

  6. Sekarang kita hitung ratusan anggota DPR yang berani menulis artikel bermutu di surat kabar berapa sih?
    Kebanyakan kok malah ngetopnya di infotainment, berita kriminal dan perebutan kekuasaan politik

    Suka

  7. Ping balik: www.grosirkita.com

  8. Betul sekali pak, memang sudah seharusnya membuat laporan kegiatan apa saja yang dilakukan di luar negri. Saya jadi mikir memang selama ini tidak ada leporan kegiatan yang dilakukan disana ya? Tidak bawa sesuatu yang menguntungkan buat rakyat Indonesia donk.

    Suka

  9. sungguh ironi memang.. tp demikianlah perilaku wakil2 anda (maap, krn saya tidak pernah ikut pemilu)..

    tidak pernah melihat realita rakyat Indonesia yg sangat memprihatinkan, krn masih byk (di tv pun ada serialnya) orang2 miskin yg hanya makan ubi talas + daun singkong, tp mereka tak pernah mengeluh..

    Suka

  10. http://www.nytimes.com/2010/10/17/world/asia/17indo.html

    JAKARTA, Indonesia — Indonesia’s House of Representatives barely passed any laws in the first year of its current term, placing critical pending legislation on matters related to national security, welfare and natural resources on the back burner. Still, lawmakers recently managed to squeeze in trips to South Africa, Japan and South Korea for what they said were fact-finding missions to research a bill on this country’s Boy Scouts.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s