prajurit dan tulisannya


Pada hari-hari menjelang mudik ini, ternyata media diramaikan dengan diskusi menanggapi tulisan pak Adjie yang dimuat pada harian Kompas hari Senin kemarin. Jika belum membaca silahkan langsung ke sini saja.

Dari berbagai diskusi atau komentar yang ada, sebagian besar menyayangkan tulisan tersebut, meskipun jika aku amati lebih lanjut tulisan pak Adjie hanya mencoba mengingatkan kita semua bahwa pada era sekarang ini, yang mana katanya semuanya dapat diatasi dengan semangat “kita bersama” ternyata masih saja tidak bergeming di soal korupsi.

Jadi sebenarnya yang dibicarakan itu adalah masalah bersama, tentang korupsi. Khususnya tentang bagaimana sikap presiden kita, bapak SBY berkaitan dengan tata-cara penanganan korupsi.

Saya tidak tahu apa yang ada dibenak pak Adjie ketika menulis artikel tersebut, saya mencoba memahami apa yang ada ditulisannya. Meskipun saya awam tentang korupsi ternyata saya langsung bisa “connect“.

Pertama-tama dengan melihat atau mendengar, dari beberapa orang kecil yang dijumpai sehari-hari, bahwa meskipun orang-orang DPR terkesan mampu membangun rencana gedungnya yang bermilyar-milyar harganya ternyata menurut orang-orang kecil yang aku temui tersebut, di era sekarang ini mencari rejeki relatif susah dibanding jaman dulu. Kesan atau komentar seperti itu tidak sedikit, tetapi maklum karena orang kecil maka gaungnya pasti tidak didengar atau sampai ke atas. Tetapi yang jelas adanya keributan-keributan yang gampang tersulut di masyarakat menunjukkan bahwa emosi masyarakat pada dasarnya labil. Ini jelas fakta.

Fakta ke dua, jika itu sisi masyarakat bawah, tetapi ternyata pada sisi lain dijumpai juga ada sebagian kecil orang yang ternyata dapat bergelimang dengan duit. Jika dilihat statusnya sih biasa-biasa, tetapi karena bekerja pada bagian yang mempunyai autorisasi dengan duit maka ternyata mereka menjadi luar biasa, khususnya jika dikaitkan dengan duit. Coba lihat tentang pegawai pajak yang tempo hari diungkap pak Susno Duaji. Ketangkep sih, ketangkep, tapi koq sampai hari ini aku tidak melihat tindak lanjut yang ada.

Fakta ke tiga. Ini tentang pak Susno yang kata orang yang tahu disebutnya sebagai whistle blower, peniup peluit, orang dalem yang berani tampil menunjukkan kebrobrokan di institusinya sendiri.  Kata kunci, info dari orang dalem, itu khan jelas sesuatu yang luar biasa untuk suatu tindak lanjut yang efektif. Tetapi apa yang terjadi, ternyata info tersebut duduk di tempat, bahkan sang peniup peluit sendiri ditangkap sehingga tidak berkutik lagi.

Fakta ke empat. Silang sengketa atau apa itu namanya hubungan yang terjadi antara anggota-anggota DPR, dengan KPK, dengan MA atau dengan lembaga-lembaga lain. KPK khan jelas berfokus korupsi, tetapi mengapa ada sebagian anggota DPR terkesan dari sepak terjangnya tidak mendukung kegiatan KPK tersebut. Saya rakyat, tentunya akan senang jika ada lembaga yang bekerja melawan korupsi, adapun DPR khan hanya wakil rakyat, mestinya cara pemikirannya juga seperti saya, yang rakyat ini. Tetapi mengapa lain, atau memang mungkin ada rakyat yang senang korupsi. Pasti ada, yaitu yang menikmati korupsi tersebut.

Tentang hal tersebut aku jadi merenung-renung, meskipun mereka itu wakil rakyat, tetapi pada kenyataannya untuk mencapai hal tersebut juga semata-mata karena dukungan dana (duit), yang tentu saja tidak sedikit. Tentang hal ini, rasanya sudah menjadi rahasia umum. Jadi kalau sudah jadi, mestinya khan harus break event. Jadi jelas orang-orang yang di atas yang dianggap mewakili kita pada dasarnya tidak sama dengan kita yang di bawah. Yang jelas, modal yang sudah keluar khan harus kembali.

Fakta ke lima, ada kasus petugas perbatasan kita katanya ditangkap polisi malaysia, dilucuti, ditahan untuk sementara meskipun kemudian dikembalikan. Ingat yang ditangkap itu petugas lho, bukan orang kebanyakan. Kita yang orang awampun merasa tertampar, merasa kita sebagai bangsa tidak dihargai. Tetapi apa yang terjadi, yang punya kuasa, yang punya wewenang, adem ayem saja. Mungkin pikiran mereka, khan tidak kena aku. Bahkan terakhir, yang aku lihat di televisi tentang hasil pertemuan di Kinabalu dinyatakan bahwa Malaysia berjanji tidak akan menangkap petugas Indonesia lagi.

Coba baca baik-baik hasil pertemuan di atas, “berjanji tidak menangkap petugas Indonesia lagi“. Aku koq merasa kalimat tersebut sepertinya ditujukan untuk tidak menangkap kancil atau apa gitu. Rasanya koq makin terhina. Yah moga-moga aku salah.😐

Artinya hinaan dari tetangga yang begitu, kita santai-santai saja. Jadi orang sabar itu baik, tetapi kalau terus menerus kesannya seperti orang tidak berdaya.

Fakta-fakta yang aku sampaikan tersebut jelas tidak mengada-ada, dan tentunya telah menjadi rahasia umum karena datanya tersebar luas, baik di media koran maupun elektronik. O ya, rasanya kalau mau jujur maka mestinya tidak terbatas pada fakta-fakta di atas, masih banyak yang dapat diungkap tentang ketidak-adilan yang terjadi di negeri ini.

Dengan latar belakang seperti itu, aku bisa memahami mengapa seorang dengan latar belakang prajurit menjadi tidak sabar, dan mencoba mengungkap uneg-uneg-nya.

Tetapi apa yang terjadi, komentar yang beredar di masyarakat semuanya menyayangkan, bukan pada materi korupsi yang dibawakannya, tetapi karena dirinya seorang prajurit. Mengapa seorang prajurit berani mengkritisi atasannya.Di Amerika juga nggak, bisa-bisa dipecat tuh“, begitu salah satu bunyi komentar yang aku baca, bahkan ada yang bilang “bisa ditembak tuh“.

Tetapi yang aku cermati lebih lanjut, sebagian besar yang berkomentar itu adalah orang-orang yang sedang di atas, yang sedang punya gawe. Aku jadi merenung dan pada akhirnya mampu memahami juga mengapa demikian adanya. Speechless.

Dari kondisi di atas aku mencoba berpikir dengan baik. Memang benar prajurit adalah harus patuh pada atasannya. Tetapi patuh tentunya pada konteks, nggak setiap kasus harus begitu. Jika itu menjadi argumentasi, maka tentunya akan tahu kapan seorang prajurit harus patuh pada atasan,  pada bangsanya, atau pada Tuhannya. Jelas prajurit khan bukan robot.

Bagi pak Adjie, saya tidak tahu apa yang ada dibenak bapak ketika menulis artikel tersebut, tetapi jika itu semua adalah diharapkan bukan untuk diri sendiri tetapi bagi kebaikan bangsa dan negara, maka jangan takut. Tuhan akan beserta saudara. Ingat, jabatan, duit dan materi yang berlimpah ruah adalah hanya sementara, yang penting anda telah berani menyampaikan sesuatu hal yang anda anggap baik selama hidup di dunia ini, minimal dapat bersaksi bagi Tuhan.

Bagi pak SBY, presidenku yang terhormat. Nasehat memang kadang-kadang menyakitkan awalnya, tetapi jika kemudian dapat dipikirkan dengan baik dan dihindari bercampur dengan emosi, siapa tahu itu akan menjadi petunjuk untuk dijadikan tindakan nyata, yang membawa kejayaan Anda, tanpa harus melakukan suatu pencitraan khusus. Jika demikian maka nama Bapak akan diingat dalam sejarah dan dihormati oleh rakyatnya. Bagaimanapun jabatan Bapak waktunya terbatas, jadi ada baiknya waktu berharga yang sedang Tuhan titipkan kepada Bapak dapat diemban dengan baik. Hati-hati dengan komentar-komentar yang seakan-akan menjunjung tinggi Anda, karena ingat yang memberi komentar tersebut tentu mempunyai maksud dan kepentingan dibelakangnya juga. Karena Anda orang Jawa, tentunya akan tahu falsafah huruf jawa, bahwa kalau huruf tersebut “ditaling akan hidup, tetapi jika dipangku akan mati“. Menurut para sesepuh, falsafah tersebut juga dapat dimaknai pada kehidupan ini, jika waspada (karena ada tantangan) maka kita hidup, tetapi jika terbuai dengan kesenangan atau puja-pujian, bisa-bisa membuat kita terlena (tidak waspada) dan akhirnya jatuh (mati).

Saya menulis ini dengan maksud agar kejadian-kejadian di atas dapat dimaknai dengan baik bagi kemajuan bangsa dan negara ini dan bukan sekedar dijadikan pameran kekuasan bahwa kekuasaan itu adalah tujuan dan tidak dapat diganggu-gugat. Kekuasaan negara adalah titipan bagi kesejahteraan rakyat banyak secara luas.

Semoga Tuhan memberkati bumi nusantara ini dengan damai dan sejahtera. Amin.

8 thoughts on “prajurit dan tulisannya

  1. Salut untuk tulisan pak Wir yang kritis ini.

    Sedikit koreksi untuk pengunaan kata “bergeming”, arti kata ini adalah tidak bergerak (tetap diam), jadi kalau tidak bergeming adalah, tidak tidak bergerak (bergerak).

    Suka

  2. Wah, saya semakin kagum dengan bapak, tidak hanya sebagai structural engineer tapi bapak pemerhati yang baik, komentar bapak pun benar-benar mewakili keadaan kita sebagai rakyat Indonesia yang sudah jengah atas kebobrokan di pemerintahan dan di kepemimpinan negeri ini.

    Suka

  3. Tulisan yang bagus Pak…
    Saya yakin harapan bapak pada tulisan ini merupakan harapan dari rakyat Indonesia juga..
    Membaca tulisan ini membuat saya teringat pada lagu Iwan Fals (Negeri ku)..

    Suka

  4. dear Sir,

    setuju dg isi tulisan di atas…setuju dg kegelisahan rakyat banyak.

    Saya mendukung bila masanya nanti Ibu SMI (ex-Menkeu) mencalonkan diri jadi RI-1, semoga beliau dpt membawa perubahan menuju Indonesia yg jauuuuuuuhhhhhhhh lebih baik dlm semua strata dan semua aspek

    regards

    Suka

  5. saya kagum dengan tulisan bapak, terutama karena engineer yang lebih condong untuk berfikir secara holistik dan keseluruhan. ada ungkapan ” engineer designs system”. mungkin ada baiknya juga yaa pak, pemerintahan dapat memakai orang-orang yang berfikir secara sistem sehingga dapat dipadukan dengan bidang lainnya. semoga para atasan dapat berfikir tidak hanya untuk “local optimization” atau memperkaya dirinya tetapi juga “system optimization” atau memperkaya bangsa dan negaranya dalam hal ekonomi ataupun juga moral dan budinya.

    Suka

  6. Komentar lagi untuk tulisan pak Adjie ini,

    Pribadi seperti pak Adjie, yang mampu membuat tulisan seperti itu, pasti juga memahami dengan jelas mengenai apa yang membatasi seorang prajurit dalam menyatakan pendapat dalam tulisannya, dan pasti memahami juga segala risiko yang bakal dihadapinya.
    Dengan segala pemahamannya itu tetap dibuat juga tulisan tersebut.
    Pak Wir juga sudah mengulas mengenai hal ini.
    Paling tidak, pak Adjie ini memiliki keberanian yang dibahas dalam tulisannya.
    Keberanian yang sangat dibutuhkan untuk melakukan perubahan positif pada negeri ini.

    Suka

  7. Salut pa atas pendapat bapak untuk persoalan terkait masalah “non engineering”.’Kekecewaan saya semakin bertambah kalau kita menyimak 8 komentar SBY
    dengan gamblang tadi malam di TV yang salah satunya berkaitan dengan kasus p Adji dimana sang presiden dengan “GAMBLANG dan JUMAWA” tetap menyalahkan dan tidak bisa menerima adanya prajurit aktif komen miring terhadap atasannya. Kalimat bapak diatas “Kapan seorang prajurit patuh pada atasan,pada bangsa dan pada TUHAN” sebenarnya sudah menjawab hal tersebut.Saat ini saya sebagai warganegara biasa cuman bisa miris, apatis atau apapun yang mirip dan tidak bisa berpikir lagi kedepan ini mau dibawa kemana bangsa ini. Salam.

    Suka

  8. Ping balik: kekerasan ! | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s