ini belum ada bukunya lho !


Hidup di dunia akademis itu juga menarik lho. Memang sih variasinya tidak selengkap atau sebanyak dengan teman-teman yang hidup di dunia politik. Itu aku tahu karena dengar dari teman yang tempo hari  reuni. Maklum temanku itu background-nya ilmu sosial politik di salah satu PTN terkenal di daerah, yang mana beberapa teman kenalannya telah menjadi orang dan sering diberitakan di detik.com. Beritanya sih lebih seru dibanding detik.com, flamboyan begitulah aku menyebutnya.

Jika di dunia akademis, ketemu teman-teman dosen, maka jelas jalan ceritanya ya seperti itu-itu saja. Seperti pengalamannya dalam  mengajar, atau jadi pembicara, bepergian ke kota lain dalam rangka tugas sebagai tenaga ahli, atau juga tentang religiusitas. Sangat jarang membicarakan hal-hal yang sering dijadikan bahan tertawaan jika ketemu dengan teman-teman non-akademisi, seperti acara reuni misalnya. Intinya kalau ketemu teman akademisi, mereka mencoba menceritakan betapa ‘guru’-nya mereka itu.

Dalam suatu diskusi tentang pengalaman mengajar, ada teman dosen yang begitu bangga menceritakan apa yang dia ajarkan ke murid-muridnya. Katanya :” Ya begitulah, ketika muridku bertanya apa buku referensinya maka aku jawab saja. Materi ini adalah baru bahkan belum ada bukunya. Jadi kamu harus menulis / mencatat dengan baik-baik !“.

Dari penjelasan beliau, yang memang lebih senior dari sisi umur, ungkapan di atas adalah sangat membanggakan sekali. Beliau ingin menunjukkan kepada teman-teman dosen lain bahwa materi yang dia sampaika kepada murid-muridnya adalah benar-benar state of the art. Sampai-sampai begitu state-of-the-art-nya maka maka belum ada buku yang mendukungnya.

Teman-teman dosen yang lain, yang relatif memang lebih yunior (dari sisi umur) tampak manggut-manggut mengiayakan.

Aku sih tanggapannya ini :”Jadi materi yang bapak berikan belum ada bukunya ya pak ?“. Suatu pertanyaan mengkonfirmasi. Aku lanjut: “Jadi kalau begitu selanjutnya tinggal membuat bukunya dong pak. Betul bukan.

Jawab beliau :” Yah, betul. Itu memang sudah aku pikir lama, yaitu menuliskan bukunya. Tetapi koq ya sampai sekarang belum bisa, waktunya itu habis untuk ngajar, sampai di rumah sudah lelah.

Lho koq jawabannya jadi begitu. Saya pikir jawabannya adalah kira-kira beliau sedang menuliskannya. Begitu. Ternyata sampai sekarang saja juga belum ditulis. Aku bertanya lagi :”Kalau begitu di seminarkan saja, buat makalahnya. Apa itu sudah dilakukan pak ?“.

Jawab dia dengan serius:” Wah nanti ditiru pak. idenya“.

Lho ?????   Akhirnya pembicaraan tentang hal yang belum ada bukunya itu surut sudah. Ganti topik lain. Ha, ha, hi, hi tapi nggak ada isinya.🙂

Jadi topik tadi yang pertama-tama memberi kesan hebat karena materinya begitu state-of-the-art (maju) sampai tidak atau belum ada bukunya akhirnya kempes sudah. Aku berpikir, apakah tindakan temanku ini adalah typical dosen kita, yaitu memberikan hal-hal yang hebat kepada muridnya yang bahkan tidak pernah ada di buku. Hal-hal hebat karena dianggapnya ide atau pendapatnya itu asli sehingga sebelum diberikan kepada ‘orang lain’ maka diberikan kepada muridnya dulu.

Jika dipandang bahwa idenya seperti jurus rahasia yang diberikan guru pencak silat kepada murid kesayangannya. Maka artinya murid-muridnya ini adalah yang pertama mendapatkannya, langsung dari dosennya dan bukan dari orang lain. Wah kesannya sih dosen tersebut punya dedikasi yang hebat.

Tapi jika dikaitkan dengan ilmu, maka tentu argumentasinya bisa lain. Apakah ilmu yang diberikan dosen tersebut “sudah terbukti”. Wah ini jadi lain khan.

Terus terang caraku berpikir berbeda dengan teman dosenku tadi. Aku kalau memberikan materi perkuliahan selalu didukung oleh buku-buku yang membahas juga tentang materi tersebut. Intinya materi ini di luar memang sudah ada, bahkan sudah established sifatnya. Hanya materi-materi yang di luar sudah diakui keabsahannyalah yang aku berikan. Bukan sesuatu yang adanya hanya dibenak dosennya saja.

Itu aku berikan karena aku menyadari bahwa perkuliahan yang aku berikan ini adalah sekedar pembuka wawasan, dengan demikian dengan aku tunjukkan buku-buku pendukung maka mereka yang aktif dapat merujuk langsung di buku lain. Alasan itu pula yang mendasari materi struktur baja yang aku berikan adalah mengacu pada AISC (Amerika) dan bukan yang ke SNI (lokal). Kenapa aku pilih, karena AISC menjanjikan literatur yang lengkap dibanding SNI.

Menurutku, ide yang orisinil seperti yang diberikan oleh teman dosenku di atas, tidak pada tempatnya jika disampaikan kepada murid-muridnya yang notebene sedang belajar. Mana tahu mereka jika materi ‘orisinil’ tersebut benar atau ada kelemahanannya. Menurutku, materi orisinil tersebut harus disampaikan dulu ke teman-teman seprofesi misalnya dibawakan dalam jurnal atau seminar nasional atau tingkat nasional untuk mendapat tanggapan.

Ketakutan bahwa idenya akan ditiru saya kira tidak beralasan. Bahkan dengan dibawakan ke publik orang akan tahu bahwa itu idenya orisinil atau tidak. Jika ditiru orang lain, tanpa merujuk sumber aslinya maka bisa saja dianggap plagiat. Sekarang kegiatan plagiat telah mendapat koq, jadi nggak bisa seenaknya melakukan plagiat, orang lain bisa mengetahuinya.

Itu pula yang mendasari alasanku menerbitkan beberapa buku, yaitu untuk membuktikan bahwa materi yang aku berikan di mata kuliahku adalah dapat dipertanggung jawabkan.

Jadi pendapatku : “memberikan materi perkuliahan kepada mahasiswa murid-muridnya tanpa bisa menunjukkan bahwa materi tersebut sudah pernah dibahas orang sebelumnya, sebagai makalah ilmiah atau buku“, adalah meragukan. Jadi itu bukanlah sesuatu yang dapat dibangga-banggakan bahkan dapat dipertanyakan.😦

Untuk itulah maka dosen mempunyai kewajiban tri-dharma-perguruan tinggi, yaitu selain mengajar juga meneliti dan menulis serta pengabdian pada masyarakat.

Jadi kesimpulannya, temanku tersebut untuk mengajar memang ok, tetapi di bidang penelitian dan publikasi kelihatannya belum dapat memanfaatkan secara maksimal. Dosen tidak hanya sekedar dapat mengajar tetapi juga harus bisa menuliskannya, membuktikan tidak hanya dengan omongan, tetapi tulisan sehingga dapat dipahami secara mandiri.

8 thoughts on “ini belum ada bukunya lho !

  1. dear Sir…

    saya gak tau karakter dr beliau yg dimaksud pd tulisan di atas….tapi dr cerita di atas satu hal yg saya yakin adalah bahwa beliau ini belum pernah masuk di blog-nya Pak Wir….

    seandainya saja bapak tersebut sudah masuk di blog ini, saya yakin dia tidak akan berani bercerita seperti itu di hadapan Pak Wir … suatu saat nanti bila bapak ini sudah surfing di blog ini, pasti deh bakalan mokal dg statement-nya seperti tertulis di atas heheheheheheeeee

    Suka

  2. Ha ha betul mas er son, kynya bpk tersebut kaga pernah surfing ke blog nya p wir atau blog lain yang mirip . Mangkenye gaul dong kata benyamin suaeb dulu. Salam.

    Suka

  3. Setuju pak, kalau ilmu tidak disebar luaskan bagaimana kita bisa tahu bahwa pendapat kita itu benar apa tidak. lagian kalau hanya diberikan pada mahasiswa, bagaimana mungkin dapat masukan. mahasiswa kita kan kebanyakan hanya menerima saja tidak mau mengkritik hehe

    Suka

  4. kalau menurut saya sih, tugas seorang pendidik adalah memancing rasa ingin tahu peserta didik dan mengarahkan dan memotivasinya untuk memahami ilmu dengan titik akhir timbulnya kecintaan peserta didik pada ilmu tersebut.

    kalau, hal itu sudah dipenuhi sih metodologi apapun yang ditawarkan oleh pendidik saya rasa tidak masalah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s