Kaji Ulang SNI bidang Permukiman


Istilah SNI atau Standar Nasional Indonesia pasti sudah sering kita dengar. Bagi orang awam itu tentu akan dikaitkan dengan standardisasi mutu suatu barang produk.  Ada kesan jika memakai produk ber SNI maka kualitasnya pasti dijamin. Itu pula yang mendasari mengapa sampai ada perintah untuk memakai helm yang ber-SNI. Mungkin ada anggapan, bahwa jika mutunya dapat dijamin maka itu berarti bahwa keselamatan pengendaranya juga dapat dijamin.

Nggak salah sih, tapi itu tidak berarti bahwa jika telah memakai helm ber-SNI maka itu dapat diartikan bahwa kita boleh saja memutar gas pol seenaknya saja. Betul nggak.

Itu jika dikaitkan dengan barang produk. Tapi bagi kita, structural engineer, maka SNI juga berarti code atau peraturan perencanaan yang harus ditaati. Jadi SNI merupakan rujukan untuk membuat suatu structural design di wilayah Indonesia.

Jika ingin mengetahui SNI itu juga semacam code, maka ada baiknya berkunjung ke halaman web-ku yang ini. Disitu ada beberapa SNI versi ebook yang dapat di down-load. Gratis, karena itu juga pemberian teman-teman engineer lainnya .

Jadi mengetahui dan menguasai SNI tentunya adalah penting sekali. Meskipun dalam prakteknya, mungkin karena SNI tidak tersedia atau tidak mencukupi (meskipun sudah ada) maka digunakan code perencanaan  dari negara lain.

Karena SNI perencanaan adalah sesuatu yang penting, maka bisa mengetahui bagaimana itu dihasilkan tentunya adalah suatu pengalaman yang menarik untuk diceritakan. Maklum, bayangannya SNI pastilah akan disusun oleh orang-orang yang dianggap pakar di bidangnya. Orang-orang penting, begitu khan.

Dengan latar belakang pemikiran seperti itu, yaitu akan bertemu dengan pakar-pakar, maka tentu saja senang dan merasa terhormat ketika mendapatkan email dari mbak Hanna tentang kesediaan hadir di acara Kaji Ulang SNI di Puskim, Bandung. Dalam kesempatan tersebut saya mewakili unsur akademisi dari UPH. Dari undangan yang ada dapat diketahui bahwa akan ada 5 SNI perencanaan yang akan ditinjau ulang keberadaanya, yaitu Beton, Baja, Kayu dan Gipsum (2 buah). Acaranya hari ini. Jadi pagi-pagi aku berangkat langsung dari Jakarta (Bekasi tepatnya), dengan bayangan akan bertemu para pakar-pakar tersebut.

Acaranya berlangsung di ruang seminar I dan II di gedung Puskim, di Panyawungan, Cileunyi, Bandung. Harapannya sih akan bertemu dengan banyak orang-orang baru, para pakar. Tetapi pada kenyataannya, ada banyak yang kenalan lama.

Pertama-tama tentu adalah bapak Ajun, ibu Hanna, dari Puskim yang pertama-tama mengontak kami. Selanjutnya yang aku jumpai adalah rekan jauh, dari Surabaya yaitu bapak Dr. Tavio (ITS), disusul oleh rekan dari Puskim sendiri ibu Silvia Fransisca (Puskim), bapak Sutadji (Puskim), juga rekan dari Bandung, yaitu Prof Bambang Suryoatmono (Unpar), Dr. Adhiyoso (Unpar), bapak Joni Simanta (Unpar), selanjutnya dari Jakarta, bapak Steffie Tumilar (HAKI), bapak Suradjin Sutjipto (Usakti), Dr. Hari Nugraha (UPI-YAI). Ada juga yang lain kelihatannya perwakilan pakar dari IPB, UK Maranatha, dan lainnya yang secara personal belum pernah ketemu sebelumnya.

Terus terang, aku koq tidak melihat teman-teman pakar dari ITB, padahal lokasinya khan dekat di Bandung juga. Yah moga-moga nggak ada apa-apa, hanya karena kesibukan saja sehingga beliau-beliau tersebut tidak dapat, atau juga mungkin saja ada tetapi aku belum mengenal sebelumnya.

O ya, pada kesempatan tersebut saya sempat bertemu dengan dosen saya di UGM yang sudah lebih dari 21 tahun tidak bertemu, yaitu Prof. Morisco. Untunglah beberapa saat yang lalu pernah berkontak dengan beliau di blog ini, jadi meskipun mungkin sudah ada ratusan alumni yang diluluskan selama waktu yang lama tersebut maka ketika beliau datang dan kusambut sambil memperkenalkan diri maka beliau masih mengingatku. Ada gunanya juga blog ini, bahkan beliau berkenan untuk duduk di sampingku. Selanjutnya aku dan pak Tavio (yang juga duduk disebelahku)  mendapatkan secara khusus kartu nama beliau dan brosur penelitian beliau tentang bambu. Website beliau yang hebat tentang bambu dapat dilihat di sini. Wah pokoknya seru bisa bertemu, maklum beliau dulu guruku di UGM dan sekarang bisa duduk bersama-sama.

Yah menarik bukan, bertemu pakar-pakar yang ternyata sebagian besar adalah teman-teman yang dikenal secara pribadi.

O ya, judul SNI yang akan dikaji adalah :

  1. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (NI-5 PKKI 1961)
  2. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk bangunan gedung (SNI 03-2847-1992)
  3. Tata cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI – 1729 –2002)
  4. Metode Pengujian Fisik Panel Gipsum dan Papan Gipsum (SNI 03-6434-2000)
  5. Spesifikasi Panel atau Papan Gypsum (SNI 03-6384-2002)

Jadi SNI di atas itulah yang resmi yang diakui oleh pemerintah. Bagi para praktisi di bidang kontruksi tentu mengetahui bahwa untuk beton ada yang lebih baru (sebagaimana yang ada di halaman code-ku di sini), yaitu SNI beton bertahun 2002. Saya yakin, versi itulah yang menjadi rujukan banyak teman-teman untuk memakainya. Saya pikir itu juga yang paling up-to-dated. Ternyata baru tahu, kalau yang versi tersebut sampai sekarang belum mendapatkan nomer SNI-nya dari BSN. Kebangetan bukan, sudah dipakai lama sejak 2002 yaitu sudah 10 tahun ternyata nomer standardisasinya belum ada.

Itulah fakta yang ada tentang per-SNI-an kita selama ini. Tapi untunglah PUSKIM mengambil inisiatif membentuk Sub Panitia Teknik yang diketuai oleh ibu Dr. Ir. Anita Firmanti, E.S., MT. untuk melakuan evaluasi tentang SNI-SNI di atas. Adapun pertemuan kali ini adalah mendapatkan kesepakatan untuk menentukan sikap terhadap SNI-SNI di atas. Karena SNI adalah peraturan yang akan dipakai bersama-sama maka dalam mengambil keputusan tentangnya perlu mendapatkan pengesahan dari unsur-unsur yang mungkin akan terlibat dengannya. Unsur yang dimaksud adalah pemerintah (diwakili Puskim), ada unsur asosiasi bahan produk (asosiasi perusahaan dalam hal ini gipsum) yang memanfaatkan SNI tersebut, ada unsur akademisi (universitas) dan unsur asosiasi profesi (HAKI).

Terus terang, saya sering mengikuti acara sidang, tetapi sidang yang dibuka pagi ini oleh ibu Dr. Ir. Anita Firmanti, MT. cukup mengesan di hati, bagaimana tidak, sebelum memulai beliau menyapa para hadirin yang hadir yang duduk di depan dengan nama-namanya. Yang membuat aku heran, terus terang aku belum pernah bertemu langsung secara pribadi, tetapi ternyata beliau menyebut namaku, bapak Wiryanto.

Ternyata Shakespeare dengan pepatahnya itu “apa artinya sebuah nama”. Itu adalah salah saya kira. Nama itu adalah penting. Jadi ketika nama saya disebut maka rasa-rasanya saya jadi familiar dengan komunitas yang hadir di acara sidang tersebut. Salut bu !

Strategi pelaksanaan kaji ulang adalah sebagai berikut. Pertama-tama disajikan presentasi tentang SNI yang akan dikaji (ada lima). Selanjutnya dari floor ditetapkan kesepakatan apa yang harus dilakukan: abolisi (dihapus); direvisi atau dipertahankan.

SNI beton dipaparkan oleh ibu Silvia Fransiska dari PU. Dari pemaparan beliau jadi tahu bahwa code beton 2002 adalah informal karena belum ada SNI-nya. Meskipun demikian sudah bertahun-tahun orang memakainya. Tetapi untungnya karena code beton mengacu secara jelas ke ACI 318M maka karena orang-orang banyak mengacu substansinya ke code luar tersebut maka dalam prakteknya menjadi tidak masalah. Jadi mengadopsi ACI sama juga mengadopsi SNI.

Dalam kesempatan tersebut karena SNI gempa kita sudah diperbarui, dan itu juga mengacu pada code terbaru dari Amerika pula. Maka SNI beton agar dapat menyesuaikan juga akan melakukan revisi mengikuti ACI 318M-2008.  O ya berkaitan hal tersebut ada info baru dari bapak Steffie bahwa versi 2011 di Amerika akan segera keluar. Moga-moga SNI kita juga bisa up-dated dengan yang versi 2011 toh sekarang khan sudah Agustus 2010. Tahun 2011 khan sebentar lagi.

Pemaparan SNI Baja oleh bapak Joni Simanta (Unpar). Dari pemaparan beliau dapat diketahui bahwa SNI baja kita tersebut adalah hasil kombinasi peraturan baja yang lama, code AISC dan juga sekaligus code Australia.

Jadi kesimpulannya adalah itu code gado-gado yang menurut bapak Joni “isinya  banyak yang tidak konsisten“. Jadi harus diganti.

Tentang hal ini, aku setuju sekali. Toh selama ini di UPH tidak memakai SNI tersebut sebagai dasar pengajaran. Aku khan mengadopsi AISC langsung.

Jadi diperoleh kesepakatan bahwa SNI baja tersebut akan direvisi , tepatnya sih sebenarnya diganti, karena selanjutnya SNI kita hanya akan mengadopsi satu sumber saja, yaitu AISC 2005/2010.

Berpindah secara total ke AISC pada prinsipnya aku setuju-setuju saja. Meskipun demikian kelihatannya ada yang dapat diperdebatkan dari usulan pak Joni, yaitu bahwa SNI kita inipun juga akan mengadopsi dua konsep sekaligus yang juga terdapat pada AISC yaitu cara ASD dan cara LRFD.

Adanya rencana mengadopsi dua cara sekaligus dalam SNI dijadikan bahan pertanyaan oleh Prof. Bambang Suryoatmono. Apakah tidak sebaiknya dipilih salah satu saja, toh yang di AISC juga hanya berupa pilihan bukan suatu keharusan.

Ide pak Joni bahwa ASD dan LRFD sekaligus pada SNI baja kelihatannya juga mendapat dukungan dari bapak Steffie Tumilar dan bapak Suradjin dengan argumentasinya.

Menurutku itu bukan isu yang sepele, perlu dipikirkan matang. Tetapi karena ketua sidang ibu Dr. Anita Firmanti, MT.  mengingatkan bahwa acara hari adalah mendapatkan kesepakatan apakah direvisi atau tidak dan belum masuk pada masalah substansi detail, maka aku juga menahan memberikan komentar.

Lho emangnya ada masalah tentang ASD dan LRFD tersebut.

Bagi penyusunnya nanti, memasukkan ASD dan LRFD sekaligus adalah tidak masalah, karena dari sononya AISC memang terdiri dari dua format. ASD dan LRFD. Jadi tinggal menerjemahkan saja. Bagi mereka menghilangkan salah satu (ASD atau LRFD)  memang membuat resiko, karena bisa saja ketika dihapus konteks ke kalimat yang lain yang mungkin ada bisa saja hilang.   Artinya kalau menghapus salah satu berarti penyusunnya perlu kerja lebih keras.

Tetapi kalau opsi kedua-duanya dipilih, padahal kedua-duanya mempunyai bobot yang sama. Apakah itu tidak berarti membuat bingung masyarakat pemakai.

Mengapa tidak belajar dari survei yang dipaparkan oleh ibu Silvi tentang SNI beton yang hanya mempunyai satu cara saja yaitu LRFD, tetapi dalam kenyataannya sosialisasi kemasyarakat Indonesia belum juga berhasil dengan baik. Apalagi jika masyarakat diberi dua pilihan yang sama-sama bobotnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, saya setuju sekali dengan petunjuk dari ketua sidang, ibu Dr. Anita bahwa dalam mengadopsi peraturan kita harus bijak, harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat kita.

Menurut saya, karena mungkin bapak-bapak yang setuju tadi adalah anggota penyusun code baru tersebut maka pilihan tersebut dipilih adalah karena paling gampang. Tidak beresiko. Tetapi belum memikirkan dampaknya jika diaplikasikan ke masyarakat Indonesia, yang mana ketimpangan sdm masih terlihat dengan jelas.

Dampak negatif jika diaplikasikan dua cara sekaligus  (ASD dan LRFD).:

  • Untuk sosialisasinya saja maka diperlukan dua pembahasan sekaligus. Jika mengacu pada yang beton, satu saja susah, emangnya kalau dua lebih gampang.
  • Biaya berati juga meningkat, ada kelas ASD dan ada kelas LRFD.
  • Saya setuju dengan pendapat pak Surajin, bahwa ASD dan LRFD tidak diajarkan sekaligus di tingkat universitas. Jika demikian mengapa tidak dipilih salah satu saja. Argumentasi bahwa universitas bisa memilih salah satunya saja akan membingungkan. Kenapa ? Karena kualitas tiap universitas di sini belum bisa mandiri seperti di luar. Misalnya jika ITB dan UI milih LRFD, apakah swasta berani milih ASD. Ini bukan masalah asal berani lho.
  • Publikasi di Indonesia relatif belum banyak di Indonesia, dibanding di USA. Jadi dengan memilih dua opsi, maka saya yakin salah satu akan terabaikan. Jika terabaikan mengapa tidak sekaligus saja dihapus. Jadi benar-benar ada standardisasi yang sama, di pusat dan di daerah sama pilihannya.
  • JIka diajarkan sekaligus ke mahasiswa baru, maka dengan waktu yang diberikan bisa-bisa si mahasiswa menjadi bingung.

Jadi meskipun baja sudah diputuskan akan mengadopsi AISC tetapi usulan untuk memasukkan ASD dan LRFD sekaligus kelihatannya perlu dipikirkan lebih lanjut khususnya dampaknya kepada para pemakai. Saya mendukung sekali pendapat prof Bambang Suryoatmono bahwa keberhasilan penyusunan SNI bukan dinilai dari buku yang dihasilkan tetapi implementasinya di masyarakat. Adanya pernyataan bahwa SNI baja lama isinya banyak yang tidak konsisten dari bapak Joni Simanta dan juga fakta bahwa SNI tersebut tidak aku diaplikasi pada mata kuliah baja di tempatku sebenarnya adalah petunjuk bahwa SNI baja lama gagal menurut kriteria Prof Bambang.

Tentang kayu kasusnya juga hampir sama, pak Adhiyoso dalam paparannya juga merencanakan untuk menampilkan dua format ASD dan LRFD sekaligus. Wah hebat ini, tetapi saya yakin nantinya pasti akan gagal disemaikan di kalangan perguruan tinggi secara luas. Kalaupun berhasil paling-paling yang ada di Jawa, atau tepatnya di sekitar Bandung saja, ditempat pengusulnya berada. Kecuali tentunya kemudian selain code tersebut dapat diterbitkan buku-buku lain yang mendukung. Tapi adalah fakta juga bahwa pakar-pakar Indonesia yang menulis buku engineering yang populer adalah masih dapat dihitung dengan jari, sangat sedikit, kebanyakan hanya canggih dalam berwacana atau bekerja langsung pada proyek. Apalagi tentang struktur kayu. Buku-buku engineering populer karya pakar Indonesia masih kalah jumlah dengan buku-buku terjemahan dari luar. Lihat saja. Itu artinya kita belum mandiri lho.

Maklum sekarang ini saja, mata kuliah kayu telah menjadi mata kuliah sekunder, kalah oleh baja dan beton. Sorry aku berani ngomong begini karena memang faktanya begitu, bahkan Prof. Morisco (UGM) dalam bincang-bincang tadi pagi juga mengakui hal tersebut. Tidak hanya itu saja, Prof. Suryono (IPB) saja yang juga telah menggeluti lama soal kayu dalam diskusi yang disampaikan kemarin mengakui bahwa masih banyak teman-teman di perguruan tinggi yang memakai diktat Ir. Soewarno (alm) dari UGM.

Jika masih saja tidak percaya, lihat saja di banyak perguruan tinggi, mata kuliah kayu hanya mendapat jatah 2 SKS saja, yaitu 1 (satu) mata kuliah. Coba bandingkan dengan mata kuliah beton atau baja yang sampai 6-7 SKS, itu biasanya terdiri dari 3(tiga) mata kuliah, misalnya di UPH tempatku mengajar terdapat Struktur Baja I (2 sks); Struktur Baja II (3sks) dan Struktur Baja III (2sks) . Porsi betonnya juga sama dengan baja.

Dalam prakteknya juga demikian, konstruksi kayu tidak populer, kecuali hanya sebagai konstruksi non-permanen (nggak penting). Coba cari tahu proyek penggunaan kayu untuk bangunan permanen dengan bentang besar di Indonesia. Umumnya khan untuk struktur relatif kecil dan non-permanen, paling-paling sebagai bahan finishing, non-struktur.

Dengan kondisi seperti itu maka struktur kayu kita ini sebenarnya implementasinya masih di atas kertas doang. Jadi kalau kemudian diberikan dua alternatif ilmu yang harus dipelajari (ASD atau LRFD) padahal aplikasinya belum tentu dipakai maka pasti akan disimpan saja (jadi kertas doang). Toh jatah 2 SKS di perguruan tinggi akan sulit untuk menerima kedua cara perencanaan tersebut.

Tentang perkembangan konstruksi kayu di Indonesia. Aku jadi ingat salah satu teman dosen yang mengajar kayu, saya tanya apa pernah punya proyek struktur kayu yang besar, dia bilang pernah, tetapi kontraktornya dari Jerman dan teknologinya juga dari sono. Jadi . . .

O ya tentang SNI kayu yang baru, prof Suryono (IPB) mengusulkan untuk memasukkan kayu kelapa (glugu), tetapi usulan prof Morisco (UGM) untuk memasukkan bambu ditolak. Sebagai gantinya ketua sidang, Dr.Ir. Anita, menjanjikan tahun depan untuk membuat SNI bambu secara tersendiri.

Terus terang saya bukan orang kayu, tetapi menjadi bertanya-tanya mengapa usulan prof Morisco tidak dipertimbangkan saja. Toh beliau juga bersedia jika itu berupa addendum, tambahan , atau mungkin sisipan saja. Minimal dapat ditampilkan dulu dan dapat disosialisasikan. Saya yakin tidak mengganggu yang utama (kayu). Mumpung prof Morisco masih bersemangat, beliau khan sudah sepuh, padahal ahli bambu di Indonesia yang berlatar belakang teknik sipil rasa-rasanya sangat-sangat jarang. Ini setahu saya lho.

Yah gimana lagi, yang dapat dilakukan adalah mendoakan beliau agar tetap sehat sehingga ditahun depannya lagi masih bersemangat dengan SNI bambunya.

** up-dated ide kecil**

Eh ada usulan baru yang win-win dibidang kayu. Begini, ini mengingat lagi pesan Dr. Anita (ketua sidang) di pembukaan, bahwa SNI yang kita susun kalaupun adopsi jangan sekedar adopsi dari luar. Dengan semangat seperti itu, dan juga dengan argumentasi keberatan jika dibahas dua cara sekaligus apa nggak sebaiknya biar semua pihak ok menjadi seperti ini:

  1. Cara perencanaan yang dipilih untuk struktur kayu adalah satu (1) saja. Idenya: meskipun hanya satu cara tetapi jika engineer-nya lebih matang (ahli) menggunakannya maka tentunya akan lebih baik daripada bisa banyak cara tetapi tanggung. Fokus adalah kata kuncinya. Konsekuensinya dengan memilih satu cara saja (apakah itu ASD atau LRFD), maka para penyusun memang tidak bisa sembarangan dalam menerjemahkan code luar. Harus mikir. Saya kira hal tersebut bukan suatu masalah yang sulit.
  2. Dengan hanya memilih satu cara maka berarti akan diperoleh penghematan yang signifikan nantinya. Penghematan yang dimaksud tidak hanya sekedar bukunya lebih tipis, tetapi juga tidak perlu dibuatkan pelatihan yang double. Ingat untuk memakai kedua cara tersebut khan tidak boleh dicampur-adukkan.
  3. Dengan hanya dipilih satu cara saja maka sosialisasinya jelas akan gampang. Kalaupun ada masalah yang dijumpai maka mudah diatasi karena fokus semuanya.
  4. Karena ada penghematan ruang, dan tenaga maka porsi yang kosong tadi dapat di isi materi kayu kelapa (glugu) yang diusulkan prof Suryono (IPB) dan materi bambu yang diusulkan prof Morisco (UGM). Jika ini saja dapat dilaksanakan maka dapat dipastikan SNI baru tersebut akan menjadi rujukan wajib di IPB dan UGM karena mengakomodasi suara mereka.
  5. Akhirnya dengan materi SNI seperti di atas maka kita dapat bangga dan mengatakan bahwa SNI kita tersebut tidak sekedar materi hasil penerjemahan belaka. Akan menjadi rujukan bagi engineer soal kayu, glugu dan bambu.

Moga-moga ide terakhir di atas dapat menjadi pertimbangan team penyusun SNI kayu tersebut. Kecuali tentunya ada alasan lain, bahwa jika dapat dibuat SNI lain yang mandiri (SNI Bambu yang terpisah) maka dapat diusulkan anggaran baru. He, he, kalau alasannya itu sih aku nggak bisa komentar lagi.🙂

Gitu dulu ya laporannya. Sudah panjang sekali ya. Moga-moga nggak bosan.

**updated foto-foto dari tempatku duduk**

Bapak Joni Simanta (depan kedua dari kanan) dan bapak Steffie Tumilar (depan paling kanan) terlibat dalam diskusi menjelang acara dimulai. Di ujung kiri kalau tidak salah adalah Dr. Aminullah, peneliti bambu dari UGM yang datang bersama dengan Prof. Morisco (pakar bambu UGM), adapun disampingnya adalah Dr. Indah, peneliti kayu dari Trisakti.  Pada baris belakang terlihat ibu wakli dari asosiasi pengusaha gipsum, juga bapak Dr. Adhiyoso, peneliti kayu dari Unpar.

Terlihat dari kiri ke kanan bapak Ir. Arief Sabaruddin, CES (puskim), Prof. Riset. DR. Ir. Soeprapto, MSc (puskim), Prof Ir H M Suryono Suryokusumo, MSF PhD (IPB), Dr. Ir. Naresworo Nugroho, M.Si (IPB).


Presentasi team revisi SNI Beton dibawakan oleh ibu Ir. Silvia Fransisca Herina, MT. (Puskim).

Setelah mempresentasikan materi revisi SNI Baja, maka bapak Joni Simanta duduk bersama Dr. Ir. Anita Firmanti, MT., kepala Puskim yang bertindak pula sekaligus sebagai ketua sidang Kaji Ulang SNI. Ibu Anita terlihat sedang memoderatori pertanyaan.


Suasana ketika Dr. Ir. Johannes Adhijoso Tjondro (UNPAR) sedang mempresentasikan materi revisi untuk SNI kayu menggantikan PKKI 1961 yang telah kuno. Terlihat ibu Dr. Anita menyimak dengan serius sedangkan mbak Hanna Hernanti sedang tekun mengetik notulen rapat.

Prof Morisco, pakar bambu sekaligus dosen penulis ketika kuliah di jurusan teknik sipil FT-UGM, terlihat sedang memberikan komentar terhadap rencana SNI kayu yang baru saja dibawakan. Komentar penting tentu saja bagaimana beliau mengusahakan materi bambu dapat diikut-sertakan pada SNI yang baru ini. Komentar lainnya yang kelihatannya sepele tetapi penting adalah tampilan gambar-gambar di buku SNI yang kering atau tidak dilengkapi dengan gambar-gambar yang mendukung. Kalau ada, kesannya kurang ‘bagus’. Jadi beliau menghimbau kedepannya nanti gambar-gambar di buku SNI sudah lebih bagus. Maklum gambar itu khan sejuta kata.

Sebagai engineer penulis sekaligus drafter bagi gambar-gambar di buku yang aku tulis, maka aku sangat setuju dengan saran prof Morisco tersebut. Kita ini sewaktu kuliah dulu khan diberi pelajaran gambar teknik tetapi mengapa pada SNI yang diterbitkan PU yang dapat dijadikan tanda bagi kedalaman ilmu engineer kita, ternyata mendapatkan kualitas gambar dari dokumentasi pentingnya ternyata jelek banget. Lihat saja di SNI gipsum yang lama, kelihatannya itu seperti sketch asal jadi saja. Padahal menurutku, menggambar jenis atau tipe yang ada di buku SNI tersebut rasa-rasanya bukan sesuatu yang sulit. Jadikan saja soal tugas menggambar di kelas CAD, beres.🙂

Malu dong kalau dibaca engineer dari luar.🙂

10 thoughts on “Kaji Ulang SNI bidang Permukiman

  1. wah mantap pak, informasi berharga. saya baru tahu kalau SNI 2002 belum mendapatkan nomor di BSN (padahal dulu waktu mahasiswa saya beli SNI tersebut dari dosen saya yang katanya belum dijual bebas di luar dan akan dijual nantinya, apa mungkin sekarang sudah beredar dipasaran saya juga belum update), namun jika dilihat dan disamakan dengan ACI saya rasa banyak kesamaan (secara keseluruhan sama hanya bagian2 yang mungkin gak perlu menurut indonesia gak dimasukin), mungkin menurut saya SNI 2002 adalah bahasa indonesianya ACI CMIIW…

    namun di proyek2 masih banyak yang gak nerima SNI kita ya pak, para orang2 proyek malahan lebih memilih Standart dari luar (terutama owner), bagaimana menurut bapak tentang itu?

    padahal Standart kita kan untuk standart dengan wilayah di indonesia dengan tetap mengacu pada standart luar???

    Suka

  2. Kalau saya pribadi mungkin lebih senang pakai ASD, karena waktu saya sekolah dulu ASD yang di ajarin.

    Ini ada nasehat dari teman yang sudah lama berkecimpung di dunia desain. Dia bilang kalau hitung pakai LRFD, hati hati terhadap serviceability (Excessive deflection, Vibration, Local deformation).
    Karena biasanya LRFD itu menghasilkan penampang yang lebih kecil dari ASD.

    Wah, salut juga dengan dosen dosen saya di Unpar: pak Bambang, Joni dan Adijoso

    Suka

  3. Selamat Siang Pak ….

    Saya mahasiswa sipil yang sedang menempuh tugas akhir… saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya dengan adanya web Bapak ini… yang sangat sangat membantu tidak hanya dari sisi pengetahuan dunia teknik sipil yang sedang saya pelajari … tetapi juga motivasi dan “pelajaran kehidupan” yang sangat penting… web ini sudah menjadi menu wajib saya setiap hari ..

    Saya juga telah mengkoleksi buku-buku Bapak… yang sangat MANTAP …

    Maturnuwun Sanget Pak ..

    Suka

  4. Pak Wir, boleh tanya sedikit ya pak…
    Untuk besi BJTD-40 standar batas ulur dan kuat tariknya brapa sih pak?
    saya lihat di SNI 07-2052-2002 tentang Baja Tulangan Beton pada Tabel Sifat Mekanis kok yang tercantum hanya nilai untuk BJTP saja…yg BJTD-nya tidak tercantum, mohon pencerahannya pak. Terimakasih.

    Suka

  5. Selamat pagi pak wir..kalau ada foto2 pak morisco yang lain boleh saya dikirim ke email pak, buat kenang2an…saya ingat pertemuan di litbangkim bandung itu karena saya yang mendampingi bapak, karena semenjak sakit bapak harus didampingi kalau bepergian jauh, dan saya baru menemukan blog pak wir ini. Terima kasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s