Laporan dari Hotel Borobudur – HAKI 2010


Sejak lusa kemarin, Selasa 3 Agustus 2010 dan juga kemarin, Rabu 4 Agustus 2010 telah berlangsung perhelatan besar masyarakat profesi konstruksi, yang diselenggarakan oleh asosiasi Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia atau HAKI. Acara yang berlangsung meriah tersebut diadakan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, berupa seminar nasional dua hari. Sebenarnya hari ini juga masih diselenggarakan short-course, tetapi karena penulis tidak mengikutinya maka laporan yang disampaikan berfokus pada acara seminar saja.

O ya, sebagai catatan, karena ini personal blog maka tentu saja yang ditulis relatif subyektif dari sudut pandang penulisnya saja. Tetapi meskipun demikian sedikitnya dapat memberi sumbangan tertulis bagi teman-teman anggota HAKI maupun bukan yang tertari dengan perkembangan sdm yang berprofesi di bidang konstruksi.

Seperti biasa, acara seminar yang diselenggarakan oleh HAKI pada tiap-tiap bulan Agustus, merupakan acara seminar yang dihadiri oleh banyak peserta, kalau tidak salah kemarin mencapai lebih dari setengah juta hadirin. Bayangkan itu, pada waktu rehat minum kopi /teh diperlukan empat tempat, yang tiap tempatnya saja sampai antri berkepanjangan. Bahkan ada teman yang hadir sampai-sampai  mengeluh: “Sudah membayar  koq  minum atau makan saja harus antri cukup panjang, nanti dikira antrian raskin.  He, he, aku hanya tersenyum dalam hati, maklum baru sekali ini aku ikut seminar HAKI secara gratis. Jadi karena itulah maka aku dapat mengantri panjang makanan dan minuman dengan rela tenang-tenang saja.🙂

Gratis !   Koq bisa.

Itulah hebatnya HAKI. Selama ini kalau ikut seminar dengan cara menulis call-paper, saya masih diminta tetap membayar sebagai pemakalah. Bahkan kadang-kadang biayanya lebih besar dibanding yang hanya jadi peserta. Dalam acara HAKI ini karena kau menanggapi call-paper mereka, yaitu dengan mengirim makalah, dan diterima serta diundang mempresentasikan di acara tersebut maka aku mendapat undangan gratis. Jadi dengan demikian, call-paper di HAKI setingkat lebih tinggi dari call-paper seminar-seminar yang biasanya. Bandingkan dengan invited paper, pembicara yang diundang, pulangnya diberi amplop penghargaan. Karena gratis, maka cukup banyak biaya yang dapat dihemat, bayangkan saja biaya mengikuti seminar HAKI ini tidak murah lho. Biayanya lebih dari setengah juta. Lumayan khan.

Berkaitan dengan fakta di atas, dan juga untuk menyambut himbauan ketua HAKI, bapak Davi Sukamta dalam  pidatonya yang mengajak para anggota HAKI, khususnya di daerah-daerah untuk aktif menulis (di seminar HAKI tentunya), maka minimal jika kita dapat hadir di seminar HAKi dan mempresentasikan makalah, maka tentunya ada penghematan ongkos sehingga ada kelebihan untuk membeli oleh-oleh untuk pulang nantinya. Tapi ingat, itu kalau makalahnya diterima dan diundang panitia untuk mempresentasikan ke depan. Karena seminarnya hanya dua hari, dan waktunya juga terbatas, maka tentunya jika makalah yang masuk cukup banyak akan diperlukan seleksi.

Daya tarik utama mengikuti seminar ini adalah karena pesertanya banyak. Bahkan paling banyak dibanding seminar-seminar nasional yang pernah aku ikuti. Saingannya adalah seminar-seminar yang diselenggarakan PU yang umumnya pesertanya banyak, karena kelihatannya pimpro dan anggotanya dari daerah-daerah diwajibkan ikut.

Karakter dari seminar HAKI ini agak berbeda dibanding seminar PU. Peserta seminar HAKI sebagian besar dari kalangan swasta, khususnya konsultan atau kontraktor yang terlibat dalam pembangunan proyek-proyek bangunan gedung tinggi dan mungkin juga proyek-proyek industri. Jarang saya bertemu dengan teman-teman yang banyak bergerak di proyek-proyek jembatan atau infrastruktur, yang terakhir ini sering ditemui pada seminar-seminar yang diselengarakan PU. Maklum proyek-proyek jembatan dananya dari pemerintah, sedangkan proyek-proyek gedung tinggi dari kalangan swasta.

Ada dua motivasi utama mengikuti seminar HAKI, yaitu [1] mengikuti perkembangan paling ter-up-dated di bidang konstruksi, dan [2] silaturahmi, bertemu dengan teman-teman komunitas atau juga teman-teman di bisnis yang sama. Kedua hal tersebut saya kira mewarnai motivasi masing-masing sebagian besar perserta. Pertama-tama kali saya mengikuti seminar tersebut, yaitu sekitar hampir dua dekade yang lalu, maka kebutuhan mendapatkan informasi terkini yang mendominasi. Tetapi sekarang berbeda, faktor silaturahmi menjadi utama, bahkan dengan semakin lama bergelut dibidang penelitian dan publikasi, seminar tersebut merupakan suatu ajang untuk mensosialisasikan ide dan pendapat yang paling efisien. Maklum jumlah peserta banyak, dan bidang ilmu yang digeluti adalah sebidang, sehingga ide-ide kita tentang bidang kita tentu mendapat pemahaman yang lebih mudah.

Dilandasi oleh semangat tersebut di atas, dan juga keinginan untuk mengenalkan keberadaan institusi kami, yaitu Universitas Pelita Harapan, maka dalam acara tersebut dua anggota civitas akademi Jurusan Teknik Sipil, UPH, juga turut serta berpartisipasi aktif pada seminar tersebut, dengan cara membawakan makalah yang dipresentasikan. Anggota yang dimaksud adalah Prof Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra, yang membawakan makalah tentang elemen struktur yang transparan dengan kaca dan kabel, dan saya sendiri yang membawakan makalah tentang pentingnya engineer mempunyai kompetensi dalam memakai program komputer rekayasa struktur (suatu studi kasus).

|

Presentasi acara di sesi ke-2 hari pertama, terlihat dari kiri ke kanan Prof. Harianto Hardjasaputra (guru besar Teknik Sipil, Universitas Pelita Harapan) di antara moderator ( Dr.Ir. Muslinang Moestopo) dan para presenter lain di session dua, yaitu antara Mr. M.J. Glanville (Wind Engineering Consultant dari Australia) dan bapak Ir. Davy Sukamta (ketua umum HAKI).  Mereka membawakan presentasi di hari pertama sesi ke dua (8.30-10.30).

Pada sesi kedua tersebut materi yang dibawakan adalah:

Jam Design, Testing and Innovative Construction Pembicara
08.30 – 08.55 Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Gedung Tinggi dan Besmen Dalam Davy Sukamta
08.55 – 09.20 Wind Engineering Large Structures In Indonesia. A State Of The Art Review M.J. Glanville dan L.S Cochnar
09.20 – 09.45 Struktur Transparant-Dimensi Baru Dalam Konstruksi Bangunan Harianto Hardjasaputra

.

Prof Harianto membawakan makalah tentang bangunan-bangunan transparan khususnya karena mendapat akses langsung dari Prof Werner Sobek dari Jerman yang banyak terlibat dalam penelitian dan perencanaan bangunan transparan dengan kaca dan kabel. Prof Werner Sobek adalah salah satu profesor di Jerman yang terkenal, yang menjadi profesor dari tiga universitas, dua di jerman dan satu di amerika. Hanya disayangkan konsep bangunan transparan di Indonesia masih sesuatu yang asing, dan mungkin bisa saja ditakuti, khususnya menyangkut kata-kata transparan. Seperti diketahui apa-apa yang transparan di Indonesia saat ini dapat saja dikonotasikan dengan hal-hal yang negatif.🙂

Jika prof Harianto mendapat kesempatan presentasi di hari pertama, maka saya mendapatkannya pada hari ke-2, yaitu hari Rabu, tepatnya acara setelah makan siang. Karena makannya saja berantri-antri panjang, dan juga karena takut terlambat pada sesi presentasi maka pada acara makan siang tersebut ditemui hal yang lucu. Takut kelaparan maka makannya bukannya mengambil nasi dan lauk terlebih dahulu, tetapi roti dan buah-buahan penutup. Pokoknya perutnya mendapat ganjalan yang memadai (tidak kelaparan).

Presentasi acara di sesi ke-3 pada hari ke-2, dari kiri ke kanan adalah Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto (Universitas Pelita Harapan), bapak Ir. Eko Setyanto (PT. Virama Karya, CM pada proyek jembatan Suramadu), bapak Sindu Rudianto, PE., GE (moderator), bapak Dr.Ir. Nathan Madutujuh M.Sc. (pencipta program Sanspro) dan prof Dr.Ir. Yoyong Arfiandi  (universitas Atmajaya Yogyakarta).

Materi yang dibawakan pada sesi di atas adalah:

Jam Design, Testing and Innovative Construction Pembicara
13.00 – 13.25 Jembatan Nasional Suramadu, Konstruksi Approach Bridge Eko Prasetyo
13.25 – 13.50 Aspek Penting Dan Petunjuk Praktis Dalam Perencanaan Struktur Gedung Di Dekat Pusat Gempa Nathan Madutujuh
13.50- 14.15 Resiko Otomatisasi Komputer Pada Perancangan Struktur Wiryanto Dewobroto, Wawan Chendrawan
14.15 – 14.40 Perencana Dan Optimasi Struktur Beton Prategangan Statik Tak Tertentu Yoyong Arfiadi

.

Catatan : Format yang ada pada makalah saya di atas ternyata berubah, berbeda dibanding yang telah disiapkan. JIka anda tertarik dengan makalah versi asli penulis silahkan down-load di sini. Bagi saya, suatu makalah itu baik harus ditinjau dari sisi format tampilan dan isi. Kedua-duanya saling mendukung.

Itulah salah satu partisipasi UPH bagi dunia konstruksi, yaitu dengan cara berbagi informasi, pengetahuan dan juga ide bagi teman-teman seprofesi di bidang structural engineering.

Tentang presentasi seperti di atas, mungkin bagi teman-teman yang sudah berpengalaman kelihatannya hanya sepele, tetapi bagi penulis tentu tidaklah demikian. Agar dapat berbicara di depan publik secara pede dengan lebih dari setengah juta peserta, dan yang terdidik pula seperti seminar HAKI kemarin, saya perlu waktu kira-kira 20 tahun sejak lulus dari S1. Bayangkan waktu lulus S1 dari UGM dan S2 dari UI, saya tidak pernah atau berani membayangkan bisa tampil ke panggung seperti di atas. Pada dasarnya saya ini seorang introvet, tidak berani tampil, tapi ya memang, hal di atas dapat dijadikan bukti jika kita mengikuti kata hati, dan berserah pada Tuhan, dan selalu berpikiran untuk dapat memberikan yang terbaik maka kadang-kadang apa yang tidak pernah kita bayangkan dapat terjadi pula. Mengingat itu semua, kadang-kadang saya juga dapat berpikir, jika saya bisa seperti ini, apakah ini hanya untuk keperluan pribadi saja. Saya yakin pasti itu semua pasti ada maksudnya. Apa maksudnya, terus terang sampai hari inipun saya belum mendapat pemahaman yang jelas, hanya saja saya baru berpikir bahwa apa-apa yang telah saya pelajari dan menurut pribadi cukup baik rasanya perlu disharingkan ke teman-teman lain yang belum mengetahui dan siapa tahu membutuhkannya. Mungkin karena motivasi seperti itulah maka saya dapat berbicara pede seperti di atas.

Dengan cara pemahaman seperti di atas, terus terang saya salut pada engineer-engineer muda yang ternyata cukup berani maju ke depan dan mempresentasikan karya ilmiahnya secara berbobot.

Pada acara seminar kemarin secara resmi disosialisasikan peta gempa terbaru yang baru saja diresmikan oleh mentri PU. Presentasinya langsung dibawakan oleh ketua tim sembilan dan wakilnya yaitu oleh bapak Prof. Dr.Ir. Masyhur Irsyam dari ITB dan juga bapak Dr.Ir. Wayan Sengara. Peta gempa yang baru tersebut ternyata berbeda sama sekali dengan peta gempa lama. Ini perbandingannya.

Peta gempa lama dan baru di Indonesia.

Ini materi lengkap dari presentasi prof Masyhur Irsyam yang berjudul:

DEVELOPMENT of SEISMIC HAZARD MAPS of INDONESIA for REVISION of HAZARD MAP in SNI 03-1726-2002

Masyhur Irsyam, Wayan Sengara, Fahmi Aldiamar, Sri Widiyantoro, Wahyu Triyoso, Danny Hilman, Engkon Kertapati, Irwan Meilano, Suhardjono, M. Asrurifak, M. Ridwan

download presentasi beliau di sini, format file *.pdf size 2.4 MB

<< up-dated 6/8/2010 >>

Untuk menanggapi salah satu pembaca, maka ada baiknya materi yang disampaikan pada Seminar HAKI 2010 di atas akan saya up-load semua. Semoga informasi pada seminar tersebut dapat tersebar luas sesuai dengan tujuan seminar tersebut yaitu pengembangan sumber daya manusia profesi konstruksi di Indonesia. Semoga berguna.

DESIGN, TESTING AND INNOVATIVE CONSTRUCTION
  1. Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Gedung Tinggi dan Besmen Dalam
    Davy Sukamta (down-load PDF 856 kb)     *** menang di kategori terpopuler ***
  2. Wind Engineering Large Structures In Indonesia. A State Of The Art Review
    M.J. Glanville dan L.S Cochnar (down-load PDF  378 kb)
  3. Struktur Transparant-Dimensi Baru Dalam Konstruksi Bangunan
    Harianto Hardjasaputra (down-load PDF 581 kb)

STANDARD AND CODES

  1. Seismic Performance Evaluation & Retrofit Approaches Of Irregular Gravity Load Designed Reinforced Concrete Frame Buildings
    Jimmy Chandra (down-load PDF 1678 kb)
  2. Keandalan Formula Kekuatan Tekan Rata-Rata Perlu Beton Normal Berdasarkan SNI 03-2847-2002
    Muhamad Abduh dan Yoyo Lukiman (down-load PDF 197 kb)
  3. Implikasi Konsep Seismic Design Category (SDC) – ASCE 7-05 Terhadap Perencanaan Struktur Tahan Gempa Sesuai SNI 1726-2002 & 2847-2002
    Rachmat Purwono dan Takim Andriono (down-load PDF 225 kb)
MATERIALS AND TESTING
  1. Perilaku Lekatan Baja Tulangan U-50 Tempcore Terhadap Beban Monotonik Dan Siklik
    Annie Retika dan Iswandi Imran (down-load PDF 1153 kb)
  2. How To Make High Performance And Green Structural Concrete
    Hadi Rusjanto. T (down-load PDF 145 kb)
  3. HOLCIM
  4. Waterproof And Durable Concrete Protection With Hydrophobic Impregnation
    Handi Prajitno dan Dr. Hartmut Ackermann (down-load PDF 485 kb)
  5. Silent Piling Technologies For Sustainable Construction In Indonesia
    GOH Teik Lim (down-load PDF 1492 kb)
STRUCTURAL PERFORMANCE AND BEHAVIOUR
  1. Evaluasi Kinerja Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus Bercoakan 40% Di Wilayah Beresiko Gempa Tinggi Di Indonesia
    Ima Muljati dan Benjamin Lumantarna (down-load PDF 424 kb)
  2. Pengaruh Bentuk Dan Orientasi Serat Terhadap Perilaku Cabut (PullOut) Serat Baja
    Sholihin As’ad (down-load PDF 796 kb)
  3. Kajian Numerik Perilaku Link Panjang Dengan Pengaku Diagonal Badan pada Sistem Rangka Baja Berpengaku Eksentrik
    Nidiasari dan Bambang Budiono (down-load PDF 758 kb)
MC ANALYSIS AND DESIGN
  1. Peta Gempa Baru Untuk Indonesia
    Masyhur Irsyam (down-load PDF 2458 kb)
  2. Analisis Response Bangunan ICT Universitas Shiah Kuala Yang Memakai Slider Isolator Akibat Gaya Gempa
    Daniel Rumbi Teruna Dan Hendrik Singarimbun (down-load PDF   541 kb)
  3. Apakah Jakarta Sudah Aman Terhadap Gempa ?
    Dradjat Hoedajanto (down-load PDF 1027 kb)
STRUCTURAL PERFORMANCE AND BEHAVIOUR
  1. Perilaku Aktual Bangunan Gedung Dengan Sistem Pracetak Terhadap Gempa Kuat
    Hari Nugraha Nurjaman, Lutfi Faisal dan H.R. Sidjabat (down-load PDF 509 kb)
  2. Passive Fire Protection On Structural Steel Buildings
    PT. International Paint Indonesia (down-load PDF  1471 kb)
  3. Perkuatan Lentur Balok Beton Bertulang Dengan Glass Fiber Reinforced Polymer (GFRP)
    Fikri Alami (down-load PDF 768 kb)
STRUCTURAL PERFORMANCE, DESIGN AND CONSTRUCTION
  1. Jembatan Nasional Suramadu, Konstruksi Approach Bridge
    Eko Prasetyo (down-load PDF 582 kb)
  2. Aspek Penting Dan Petunjuk Praktis Dalam Perencanaan Struktur Gedung Di Dekat Pusat Gempa
    Nathan Madutujuh (down-load PDF  331 kb)
  3. Resiko Otomatisasi Komputer Pada Perancangan Struktur
    Wiryanto Dewobroto, Wawan Chendrawan (down-load PDF 556 kb)
  4. Perencana Dan Optimasi Struktur Beton Prategangan Statik Tak Tertentu
    Yoyong Arfiadi (down-load PDF 1154 kb)
SEISMICITY AND EARTHQUAKE ENGINEERING
  1. Padang Earthquake Of September 30, 2009 Why It Is So Devastating
    Sindur P. Mangkoesoebroto (down-load PDF 727 kb)     *** menang di kategori paling sesuai  tema ***
  2. Site-Specific Seismic Response Analysis (SSRA) On Liquefiable In Jakarta
    Sindhu Rudianto dan Bobby Soedjono (down-load PDF 502 kb)
  3. Studi Seismoteknik Daerah Muria Untuk Kelayakan Dan Keselamatan Rencana Pusat Listrik Reaktor Daya PLRD-Ujung Lemah Abang-Ula-Jepara-Jawa Tengah
    Engkon K. Kertapati, Sukahar, Eka Adi Saputra (down-load PDF 860 kb)

Sebagaimana yang diungkapkan di atas, bahwa menghadiri seminar selain untuk meningkatkan pengetahuan juga diperlukan untuk memperluas jaringan, khususnya dengan teman-teman sejawat. Dari berbagai pertemuan yang berhasil dilakukan maka ada salah satu dokumentasi yang patut dilestarikan yaitu foto bersama dengan mitra penulis, praktisi dan juga pakar  konstruksi nasional. Foto ini yang saya maksud.

Dari kiri ke kanan adalah bapak Wawan Chendrawan (mitra penulis sekaligus Direktur PT. Gistama Intisemesta Consulting Engineer), bapak Hardizal Bahar (praktisi konstruksi), Prof Iswandi Imran (guru besar ITB, Bandung), Prof. Harianto Hardjasaputra (guru besar UPH, Lippo Karawaci), dan saya sendiri Wiryanto Dewobroto (dosen UPH, Lippo Karawaci).

15 thoughts on “Laporan dari Hotel Borobudur – HAKI 2010

    • Ide yang bagus, dan langsung saya up-load sebagaimana terlihat di atas. Semoga sesuai harapan dan dapat dipelajari untuk kemajuan bersama.

      O ya, bagi teman-teman pemakai SAP2000 dan ETABS jangan lupa ya membaca makalah kami. Orisinil lho dari kedua penulisnya.

      Suka

  1. Kemarin saya di Hotel Borobudur Juga Pak, mau bicara sama pak Wir tapi kayaknya bapak sibuk melayani banyak orang. Just Share Untuk hari ke 3 Short Course membicarakan tata cara perhitungan SNI Gempa 2010, Performance Base Design dan Desain Coupling Beams. sayangnya tidak ada CD untuk Prosiding, nampaknya akan diupload di WEB HAKI.

    Suka

    • O satu grup dengan prof Hamid. Saya kenal baik dengan beliau, beberapa tahun yang lalu juga kami bertemu di seminar HAKI.

      Lho mas Arie belum ketemu saya, lalu yang kemarin ngobrol di dekat toilet itu siapa ya. Koq jadi lupa, tempo hari yang bersama prof Hamid juga.

      Suka

  2. Selamat atas kelancaran mengikuti seminar HAKI sbg salah satu pemakalah

    Semoga tambah semangat dalam berkarya dan tetap terus memberikan pencerahan di bidang konstruksi bagi kami semua

    Suka

  3. Pak,
    kemarin saya lihat di csi, mereka udah ada yang buat menganalisa typical jembatan di california, sap 2000 bridge design.
    majoritas bridge designers di sini lebih sering mengunakan imbsen programs untuk typical bridge us. ini mungkin bisa mencuri market sharenya imbsen.
    Oh iya, kok seminar bridge south east asia bisa tabrakan sama seminar HAKI?
    saya lihat pak Eko juga jadi pembicara di acara bridge itu, cuma ngak tau dia dapat hari yang mana.

    Suka

  4. Suramadu?

    Pak, apakah ada studi perbandingan kalau segmentnya di cor di yard sama dengan yang di cor cast in place.

    Saya pernah terlibat selama 2 tahun di proyek skyway sfobb, dimana kita pakai cor di yard. Kelebihan kalau cor di yard, lebih mudah untuk di monitor kualitasnya, lebih mudah pengaturan rebar, post tensioning ducts, MEP dan lebih mudah di lakukan dimensional controlnya juga.

    California DOT ngak terlalu suka sama segmental, karena semua pertemuan segments itu menjadi weak point yang kalau gempa bisa terbuka, meskipun ada continuity tendons yang mengikat segment segment itu. Tapi khusus kasus sfobb itu ya seperti suramadu yang berada di atas laut yang besar, jadi konstruksi perancah jadi mahal dan rumit.

    Suka

    • Informasi dari pak Sanny Khow tentu sangat menarik. Terus terang teman-teman yang berpengalaman banyak dengan penelitian jembatan saya kira sangat kurang di Indonesia. Sedangkan yang punya pengalaman membangun jembatan , saya kira sudah cukup banyak. Hanya saja tentu cara pandang para pembangun dan peneliti pasti berbeda.

      Para pembangun lebih berfokus apakah proyeknya sesuai dengan spek (tertulis dan gambar) dan mendapat keuntungan. Sedangkan peneliti tentu pada hal-hal yang seperti pak Sanny tanyakan.

      Jadi jawabannya adalah kelihatannya belum ada yang melakukan perbandingan antara cor di yard dan cor cast-in-situ.

      Jadi jika ada, sharing dong ke komunitas engineer di Indonesia.

      Suka

  5. Pak,

    Saya pikir pak Eko pasti tau, biasanya proyek skala begini, mereka ada type selection, yang mana mereka bandingkan beberapa cara konstruksi. Mungkin ada dari pembaca yang berkecimpung di suramadu yang tau ttg hal ini.

    Suka

  6. Halo Pak Wir dan Sanny,

    Memang sulit untuk membandingkan segmental cast in place dan precast dari sisi desain karena memang waktu desain semua asumsi joint segmentnya sempurna.

    Saya pikir teknologi match casting untuk precast sudah sangat baik jadi bila ditinjau dari kinerjanya, precast akan lebih baik untuk digunakan. Namun pemilihan precast dan cast in place dasarnya bergantung pada ukuran jembatan dan batasan lingkungan.

    Kalau baca bukunya Muller dan Podolny hal 18 dibilang kalau jembatannya bentang nya sedikit tp panjang, cast in place lebih baik (yang pakai traveler, bukan MSS) tp kalau bentangnya relatif lebih pendek dan repetitifnya banyak kaya viaduct, precast lebih menguntungkan. Yang sekarang cukup ngetrend buat viaduct malah float in &lift in construction dan berbagai modifikasinya kaya di Confederation Bridge dan Incheon.

    Selain itu kalau berhubungan dengan lingkungan dan keselamatan kerja precast kliatannya lebih unggul dari cast in place dalam kondisi ideal.

    Semoga membantu.

    Suka

    • Halo Pak Wir dan rekan-rekan semuanya,
      Salam kenal,
      Nama saya Suharto Sastrowiyono, saya praktisi Teknologi Informasi.
      Saya akan membangun suatu Data Center satu lantai seluas 400 meter persegi pada sebuah Office Building di lantai 3 untuk menempatkan Server dan Storage.
      Bagaimana cara yang paling ekonomis untuk memperkuat lantai 3 Office Building tersebut sehingga mampu menahan beban hingga sekurangnya 750 Kg per meter persegi?

      Atas informasinya saya ucapkan terima kasih.

      Salam,
      Suharto Sastrowiyono.

      Suka

  7. terima kasih telah mengirimkan informasi perdebatan di hotel borobudur pak wir sehingga saya juga dapat mengetahui perkembangan

    Suka

  8. Saya pikir ini jawabannya

    1. Q: What should I consider when determining if I should use Precast or Cast-in-Place segments?
    A: In order for precast segments to be economical you need have a large number of segments to offset the initial cost of constructing a casting yard. In general you need over 150 segments. Secondly, you need to have segment dimensions and weights that can be transported to the site. If transportation is required over land, the maximum precast bridge span length is around 400 feet to meet height and weight restrictions for transporting the segments to the site. For normal lifting equipment, the maximum precast segment weight is approximately 80 tons.

    Suka

  9. @Sanny Kow: Thankyou mate, you are real professional engineer. Untuk Suramadu kenapa menggunakan cast in situ ada suatu analisa tersendiri terutama terhadap penyelesaian kasus lingkungan.
    @Mas Wir: Salam sejahtera. Ketemu kembali. Saya ada makalah tentang aplikasi SHMS Suramadu dan referensinya bagi jembatan bentang panjang di Indonesia yang lain tapi ini lebih saya tujukan kepada optimalisasi gadget sebagai perangkat early warning system terutama untuk kontrol jembatan bentang kecil sehingga tetap mencapai optimal lifetime. Seminar sudah saya sampaikan di ITB, Politeknik Negeri Malang, menyusul Politeknik Negeri Jakarta.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s