duit dulu atau yang lain ?


Bagi pembaca berbahasa Indonesia, judul di atas merupakan suatu pertanyaan yang mungkin saja dianggap bloon. Seperti tidak tahu saja, pasti deh, sebagian besar akan menjawab : duit dong !

Berbicara tentang duit atau semacamnya, rasa-rasanya menjadi sesuatu yang penting. Bahkan pada sebagian besar orang, jika tidak ada duitnya maka mereka tidak mau mengerjakan sesuatu. Untuk apa, begitu alasannya.

Pendapat seperti itu rasanya telah menjadi sesuatu gejala yang serius. Itu tidak hanya berlaku bagi pedagang, atau juga beberapa oknum politikus (yang kabar-kabarnya dapat bermandi duit), tapi juga sudah masuk di kalangan akademikus, pendidik. Sorry, ini tidak mau ngomongin yang negatif, tetapi bahkan yang dikaitkan dengan kemajuan ilmu. Pernah saya mendapat komentar dari seorang dosen senior, yang ahli di bidang gempa. Kebetulan dianya mempunyai koneksi dengan rekan dari luar, berupa asosiasi, yang punya rencana untuk mensosialisasikan buku tentang bangunan tahan gempa untuk bangunan rendah (housing). Selanjutnya dosen tersebut menyampaikan ide kepada jurusannya, untuk membuat semacam kursus singkat. Waktu ide tersebut disampaikan ke dosen senior yang lain, yang kebetulan juga merangkap praktisi (konsultan), maka tanggapan mereka yang pertama-tama adalah : “emangnya punya anggaran berapa“. Maksudnya, jika mereka mengajar, dapat bayaran berapa.🙂

Karena belum apa-apa sudah merujuk pada “berapa duitnya”, maka dosen yang punya inisiatif pertama tadi jadi mikir berat. Jadinya sampai sekarang belum terlaksana, karena ternyata pendapat tersebut juga didukung oleh sebagian besar dosen yang lain. Padahal jika mau berpikir sejenak, kegiatan seperti itu khan dampaknya positip. Baik bagi institusi penyelenggara dan juga bagi pelatihan sendiri, yaitu image positip, siapa tahu bisa diundang ke tempat lain. Jadi ternyata pada sebagian rekan akademis, duit atau materi semacamnya telah menjadi motivasi utama mereka dalam bertindak.

Jika itu dikaitkan dengan anak-anak muda yang mau berkarir, rasa-rasanya ada suatu benang merah yang dapat diungkap. Terus terang pendapat yang saya sampaikan ini memang masih bersifat subyektif, bukan berdasarkan survey ilmiah. Tetapi memang, sebagian besar mahasiswa memilih jurusan di universitas adalah didasarkan pengetahuan “bidang apa yang langsung dapat kerja, dan digaji tinggi“.

Jadi alih-alih memilih bidang yang menjadi kesukaan mereka, maka bagi mereka yang lebih penting adalah cari duitnya gampang nggak , terlepas mereka suka atau tidak suka. Alasannya : “kalau tidak ada duit, bagaimana bisa kembali modal. Sekolah khan sekarang mahal.

Logis juga ya.

Itu tadi para calon mahasiswa, coba tanya motivasi para calon politikus menjelang pemilihan umum. Apa motivasi mereka sehingga mereka mau mengeluarkan uang, yang setahu saya tidak hanya puluhan juta, tetapi bisa ratusan, bahkan milyaran rupiah. Tentulah jawaban mereka tidak sejujur seperti anak muda, mahasiswa-mahasiswa baru tersebut. Jawaban-jawaban mereka nggak mungkin :”biar dapat duit yang banyak dari  kekuasaan yang diraihnya nanti“, pastilah dalam hal ini rakyat kecil dijadikan topeng penutupnya : “mengangkat derajat hidup orang banyak“.🙂

Filosofi orang tentang duit, memang bermacam-macam. Nggak punya duit memang menyedihkan, tetapi rasa-rasanya duit bukanlah tujuan. Itu adalah makna nasehat orang tuaku dulu waktu muda yang kira-kira adalah “belajar dan bekerjalah dengan baik, nanti duit itu akan mengikuti“. Oleh karena itu saya bisa berfokus pada bidang yang memang saya senangi.

Setelah menginjak usia kepala empat seperti sekarang ini, ternyata saya dapat mengerti dan akhirnya mensyukuri makna kalimat di atas. Selama  ini, aku belajar dan bekerja hanya pada bidang-bidang yang membuatku senang saja, tidak semata-mata karena bidang tersebut dapat menghasilkan duit yang banyak. Mungkin caraku ini terlihat bloon, tetapi aku menikmatinya.

Berkaitan dengan soal duit di atas, kebetulan aku membaca bukunya Joe Vitale “The Attractor Factor”, dihalaman 43 ada cerita menarik tentang alasan mengapa amerika utara lebih maju dibanding amerika selatan. Ada yang pernah dengar ?

Ceritanya Roger Babson di bukunya “Fundamental of Prosperity” (1920), bertanya kepada presiden Republik Argentina: “mengapa Amerika Selatan dengan semua kekayaan alam dan keindahannya sangat tertinggal dibanding Amerika Utara dalam hal kemajuan dan kesejahteraan“.

Sang Presiden menjawab: “Saya sampai pada kesimpulan bahwa Amerika Selatan diduduki oleh orang-orang Spanyol yang datang ke sana untuk mencari emas, tetapi Amerika Utara diduduki oleh The Pilgrim Fathers yang datang ke sana untuk mencari Tuhan“.

Jadi pada uang (duit) atau pada spirit.

Betul nggak sih.

9 thoughts on “duit dulu atau yang lain ?

  1. Ping balik: Tweets that mention duit dulu atau yang lain ? « The works of Wiryanto Dewobroto -- Topsy.com

  2. Betul pak wiryanto, saya jg sering dibilangin orang. Dah sekolah ngitung terus tpi kerjanya duitnya dikit.
    Sekarang sya kerja jg kuliah, py pikiran lain…..
    Jika qta niat cari duit, mka duit akan jadi sulit didapat dan qta makin terlilit.
    Tetapi jk qta enjoy bekerja, kuliah tanpa mikir duit, tiba2 duit datang.
    Jadi bekerjalah dengan baik, supaya qta dikejar duit…..btul ga?
    Oia pak mau tanya sya kesulitan cari software PLAXIS 8.2 untuk TA sya. Mohon diberi referensi dimana software tersebut bisa didptkan. Kirim ke alamt email sya ya: alessa_smart85@yahoo.co.id.
    Thanks before

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s