proficiat to DR Nathan Madutujuh


Bagi pembelajar program SAP2000, yaitu program rekayasa untuk analisa struktur dengan komputer, maka saya kira cukup banyak juga yang mengetahui bahwa program semacam itu sudah ada yang dibuat oleh anak bangsa. Program yang dimaksud adalah SANSPRO, yang telah dikembangkan sejak tahun 1989 dan sampai sekarang masih eksis. Bayangkan sudah ada sejak 21 tahun yang lalu.

Anda tahu siapa yang membuat atau mencipta program tersebut ?

Pencipta tunggal dari program SANSPRO yang melegenda selama 21 tahun tersebut adalah bapak Nathan Madutujuh, yang lahir di pulau Alor 45 tahun yang lalu, relatif masih muda (bandingkan dengan prof E.L. Wilson). Jadi program tersebut dibuat ketika pak Nathan masih berumur 24 tahun.

He, he, jadi ingat Bill Gate, yang bikin Microsoft ketika masih muda juga.

Mungkin karena masih muda itulah maka program SANSPRO  dapat dikembangkan dengan idealisme yang menyala-nyala sampai kini. Programnya yang baru bahkan dapat digunakan untuk analisa struktur non-linier, untuk melacak perilaku pasca keruntuhan dari struktur baja cold-formed.

Struktur baja cold-formed tersebut meskipun kelihatan kecil (ringan) dibanding baja hot-rolled, tetapi dalam analisis dan desainnya ternyata lebih rumit, bahkan program SAP2000 hanya mendekati dari sudut desain, berdasar code-code yang ada.

Kesulitan analisis baja cold-formed adalah karena profil baja tersebut cenderung mengalami tekuk lokal, karena tipisnya elemen-elemen. Tekuk lokal adalah masalah stabilitas dan bukannya masalah tegangan, dan analisa struktur elastis tidak bisa mendeteksinya. Ingat stabilitas struktur yang dievaluasi dengan cara elastis adalah stabilitas struktur secara keseluruhan, khususnya terhadap penempatan tumpuan. Pada baja hot-rolled hal tersebut (tekuk lokal) diatasi dengan mengevaluasi rasio b/t, dimana profil dapat digolongkan compact, non-compact dan slender.

Jika pakai ketentuan baja hot rolled maka profil baja cold-formed termasuk profil slender. Karena rumitnya mengevaluasi baja cold-formed tersebut itulah mungkin yang menjadi penyebab kita belum punya SNI perencanaannya. Maklum SNI untuk yang baja hot-rolled pun kelihatannya belum dijadikan rujukan secara mayoritas, karena umumnya untuk proyek-proyek baja yang besar dan berafiliasi asing maka steel-code dari luar negerilah yang digunakan. Maklum, literatur yang dikembangkan berdasarkan SNI baja kita relatif terbatas, karena alasan itu pula maka pembelajaran baja di Jurusan Teknik Sipil UPH dengan rasa terpaksa juga mengacu pada steel code luar negeri.

He, he, ini tidak menyangkut masalah tidak cinta produk dalam negeri lho, ini bahkan bentuk pemberdayaan untuk peningkatan sdm dalam negeri, karena jika belajar dan didukung oleh banyaknya literatur tertulis, maka jika telah menguasai maka mestinya nanti juga akan mudah mempelajari yang versi SNI.

Kembali ke program SANSPRO.

Jadi setelah 21 tahun keberadaan program tersebut, ternyata idealisme mengembangkan program tersebut masih menyala-nyala. Bayangkan, itu artinya pengembangnya seorang yang FOKUS, KONSISTEN pada bidang awal yang digelutinya. Adanya idealisme yang begitu besar itu pula yang kelihatannya, yang membuat bapak Nathan Madutujuh kembali ke dunia akademik, yaitu mengambil program doktor di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, tempat dulu beliau mengambil program S1-nya.

Sebagai seorang praktisi di dunia konstruksi (bukan staff pengajar) maka bagi pak Nathan, mengambil program doktor tentunya bukan sekedar mencari gelar belaka, tentunya ada hal lain yang dicarinya. Ingat tanpa gelar doktorpun, karya beliau yaitu program SANSPRO telah tersebar dan dipakai oleh berbagai engineer di berbagai belahan dunia. Jadi idealisme yang mendasari pak Nathan mengambil program doktor adalah sesuatu yang jarang ada, dan tentunya ini patut menjadi contoh bagi anak-anak bangsa yang lain.

Tentu ini bukan suatu kebetulan  jika saya ternyata dapat mengenalnya lebih dekat, yaitu ketika sama-sama mengambil program S3 di UNPAR, adapun NIM saya 2003832003, sedangkan pak Nathan  2003832005, hanya selisih satu. Adapun yang nomer 2003832004 itu adalah ibu Nurindahsih, praktisi geoteknik  dan yang juga mengambil bidang geoteknik untuk disertasinya.

Tentu cukup menarik menjadi teman satu angkatan / kelas di program S3 bersama pak Nathan, pencipta program SANSPRO yang melegenda tersebut. Meskipun saya dengan computer programming tidaklah asing, bayangkan sudah ada dua buku karyaku yang membahas tentang bidang tersebut, tetapi kalau dibandingkan dengan pak Nathan dengan program SANSPRO-nya, maka tentu memerlukan strategi khusus ketika akhirnya harus mengambil topik penelitian disertasi S3. Ini penting, karena kalau salah-salah mengambil topik, seperti misalnya pemrograman juga, maka nanti jika dibandingkan bisa-bisa dianggap yunior oleh dewan penguji. Oleh karena itulah maka diawal mula aku memang menghindari topik pemrograman, dan ternyata siasatku berhasil, aku telah wisuda doktor setahun yang lalu.

Pak Nathan mengambil topik yang masih konsisten, yaitu bidang pemrograman, tepatnya mengambil topik penelitian yang nantinya dapat ditambahkan bagi opsi program SANSPRO. Itu khan luar biasa, peribahasanya “sambil menyelam minum air”. Judul disertasinya adalah:

Perilaku Pasca Tekuk Inelastik Penampang Baja Giling Dingin dengan Pengaku Tengah: Studi Analitis dan Eksperimental.

Jadi pada intinya, program SANSPRO setelah 21 tahun malang melintang di Indonesia, ternyata dapat ditingkatkan kembali, bahkan itu sudah diuji pada level akademis sampai-sampai pembuatnya (pak Nathan) dapat meraih gelar doktor di bidang ilmu teknik sipil. Doktor khan menunjukkan bahwa ada hal yang baru yang dihasilkan. Jadi opsi SANSPRO yang ditambahkan adalah baru dan belum tentu ada juga di program seperti SAP2000 atau yang lain. Dengan kondisi seperti itu maka tentunya program tersebut dapat diharapkan dapat lebih baik / maju lagi.

Proficiat ya pak Nathan atas gelar Doktornya. Semoga bangsa ini mendapat banyak manfaatnya dengan orang-orang yang seperti bapak, dan semoga juga memotivasi anak-anak muda untuk menirunya.

Kenang-kenangan bersama pak Nathan setelah acara sidang terbuka hari ini di kampus UNPAR Merdeka, Bandung.

Dr.Ir. Nathan Madutujuh, MSc. dan Dr.Ir. Wiryanto Dewobroto, MT.

13 thoughts on “proficiat to DR Nathan Madutujuh

  1. Selamat Pak Dr. Nathan Madutujuh

    Semoga kami yang lebih muda bisa terpacu utk belajar dan berkarya..

    Salut buat pak Nathan atas karyanya SANSPRO..

    Salam

    Suka

  2. Pak Wir apakah SANSPRO sudah diuji validitasnya, terutama untuk struktur non linier atau elemen non linier.

    Disamping itu, apakah dapat dipergunakan dalam merencanakan beton dan baja, seperti SAPCON dan SAPSTELL

    Suka

  3. Apakah sudah diuji validitas

    Pertanyaan serupa seperti yang anda sampaikan kemarin sewaktu ujian disertasi terbuka sudah ada, bahkan ditanyakan pula berapa prosen hasil komputer dan empiris. Juga jika beda apa alasannya.

    Tapi itu yang terkait dengan disertasi pak Nathan. Jadi untuk SANSPRO secara keseluruhan maka ada baiknya ditanyakan langsung ke pak Nathan. Dalam prakteknya, pemakai program tersebut pada umumnya telah melakukan pengechekan, jadi jika usia program sudah lama seperti itu maka rasa-rasanya pasti sudah teruji. Jika ternyata ada satu dua yang kurang baik, atau istilahnya ada ‘bug’ maka rasa-rasa tinggal diinformasikan ke pembuatnya, toh beliaunya ada di Indonesia.

    Kondisi tersebut jelas berbeda dng program SAP2000, meskipun sebenarnya juga ada representative-nya di Indonesia.

    Suka

  4. Pak, adakah buku / referensi perencanaan struktur dengan menggunakan program SANSPRO tersebut? Seperti halnya buku-buku lain yang menggunakan SAP2000 dll.

    Atau mungkin pak Wir tergerak untuk membuat buku tersebut (dengan “gaya” khas Pak Wir di buku SAP2000).

    Suka

  5. Menyambung pertanyaan pak Arif di atas:

    “Atau mungkin pak Wir tergerak untuk membuat buku tersebut (dengan “gaya” khas Pak Wir di buku SAP2000).”

    Lebih bagus andaikata pak Wir berkolaborasi dengan pak Nathan untuk menulis sebuah buku yang membahas tentang SANSPRO. Itung2 untuk melambungkan karya anak bangsa….

    Suka

  6. Selamat pa Nathan atas gelar Doktor (DR) yang disandang saat ini.

    Kenapa ya, SANSPRO tidak wajib diperkenalkan kepada mahasiswa Indonesia, agar sedari sedini mungkin mengenal software produk dalam negeri ini (kalo perlu disepakati oleh DIKTI) dan rasanya tiap organisasi profesi wajib mendukung (HAKI, PII, dll).

    Terus terang, waktu menjadi mahasiswa, saya hanya kenal software produk CSI, Staad, etc.

    Salam sukses pa Nathan.

    Syallom..

    Suka

  7. Salam sukses Pak Nathan, saya pernah mengikuti short course SANSPRO beliau di UGM, dengan harga SANSPRO yang relatif murah dibanding SAP2000, seharusnya program ini sudah mulai diperkenalkan di dunia akademis

    Suka

  8. Selamat pak Nathan. Sudah lebih dari 30 building kami desain meggunakan program cantik “Sanspro” bapak. Semua OK ! Termasuk “Sekolah Jubilee” (8Lt) di Sunter sana. Tentu saja program Ini sudah terbukti secara teori maupun Empiris. Juga untuk desain beton n baja.Dengan harga yang sangat2 terjangkau, mestinya pak Nathan didukung oleh Pemerintah.Juga thank,s Bpk Wiryanto Dewobroto untuk artikel ini.
    Salam.
    User “Sanspro”

    Suka

  9. Selamat Pak Nathan, saya melihat design struktur dengan Sanspro sangat menakjubkan. Saya ingin mencoba sanspro, tp bagaimana mendapatkan software nya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s