sipil UPH dan beton mutu sangat tinggi


Enam belas (16) tahun sudah keberadaan Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan, Universitas Pelita Harapan berada, yaitu sejak tahun 1994. Dari tahun itu sampai sekarang, kampusnya tetap di Lippo Karawaci, Tangerang, Banten, dan ternyata saya sudah ada bersamanya sejak tahun 1998 (ketika krisis moneter terjadi). Jadi sejak itu, saya juga telah menjadi anggotanya selama 12 tahun, waktu paling lama saya bekerja pada satu institusi yang tetap. Selama menjadi anggotanya tersebut, tahun 2004 saya mendapat kesempatan untuk studi lanjut pada program doktor, di Unika Parahyangan, Bandung, dan puji Tuhan, pada bulan Februari tahun 2009 saya berhasil lulus, dan berhak menyandang gelar Doktor di depan nama saya.

Jadi selama hidup dan bekerja di UPH ini, saya tidak sekedar dapat hidup, tetapi bahkan dapat tumbuh dan berkembang, yang salah satunya adalah diberi kesempatan untuk berbagi melalui tulisan-tulisan yang saya tulis, baik via blog ini, atau di makalah-makalah ilmiah yang saya sampaikan, atau juga melalui buku-buku yang telah diterbitkan oleh ACI Int., maupun PT. Elex Media Komputindo.

Bagaimana dengan rekan lainnya di Jurusan Teknik Sipil UPH itu sendiri ?

Jika yang dapat tumbuh dan berkembang hanya sendirian, sedangkan yang lain stagnan, maka tentunya tidak dapat dikatakan bahwa institusinya juga bertumbuh-kembang. Oleh karena itu ada baiknya saya juga bercerita tentang teman-teman yang lain, khususnya di Jurusan Teknik Sipil UPH, bahwa mereka juga bertumbuh-kembang, sama seperti yang aku alami, meskipun tentunya dengan jalan mereka masing-masing.

Staf pengajar tetap di Jurusan Teknik Sipil UPH tidaklah banyak, saat ini Jurusan tersebut dipimpin oleh Dr.-Ing. Jack Wijayakusuma selaku Ketua Jurusan, beliau adalah alumni dari Uni-Stuttgart, Jerman, satu almamater dengan Prof. Harianto Hardjasaputra. Kecuali beliau berdua, staf pengajar tetap lain adalah sdri. Merry Natalia, ST., MSc.Eng., alumni Jurusan Teknik Sipil UPH sendiri yang telah selesai mengambil studi lanjut bidang statistik dan geoteknik di NTUST, Taiwan. Teman staf dosen yang paling baru adalah sdr Vincent Hansen, ST., alumni UPH yang tertarik membantu sebagai asissten dosen , menggantikan kakak kelasnya sdr Joey Tirtawijaya, ST., MT. yang telah sekitar dua tahun ini berpartisipasi membantu almamaternya dan berencana pindah ke dunia praktisi. O ya, yang telah purna waktu adalah bapak Ir. David B. Solaiman Dipl.HE karena usia beliau yang telah menginjak lebih dari 70 tahun.

Jadi itulah staf-staf inti di Jurusan Teknik Sipil UPH. O ya, aku tentu termasuk di dalamnya ya.

Gimana dengan pak Mintar dan sdri Merryana pak ?

O pak Mintar dan sdri Merryana, saat ini mereka berdua tidak ada di kampus, statusnya sedang tugas belajar. Pak Mintar sedang mengambil program S3 di NTUST, Taiwan, sedangkan sdr. Merryana mengambil program S2 di TU Leuven, Belgia. Semoga mereka cepat selesai dan bergabung kembali di Jurusan.

Jadi saat ini yang aktif untuk dosen tetapnya, ada satu (1) orang Profesor Doktor, yaitu Prof. Harianto Hardjasaputra ;  ada dua (2) orang doktor, yaitu saya sendiri (Dr.Ir. Wiryanto Dewobroto) dan ketua jurusannya (Dr.-Ing. Jack Wijayakusuma). Adapun master satu orang di bidang Geoteknik, yaitu sdri Merry Natalia, ST., M.Sc.Eng., dan satu sarjana baru sebagai asisten dosen yaitu sdr Vincent Hansen, ST.

Wah, koq sedikit banget pak, dibandingkan di tempat lain yang kadang-kadang sampai puluhan. Apa berani bersaing pak, Jurusan Teknik Sipil UPH dibanding jurusan-jurusan teknik sipil yang lain ?

Suatu pertanyaan yang menarik.

Pada bidang pengajaran sehari-hari, tentu jika hanya dosen tetap maka belumlah mencukupi, untuk itu kami dibantu oleh dosen-dosen tidak tetap, yaitu dosen yang datang pada saat mengajar saja. Personnya memang kadang-kadang berubah dari waktu ke waktu, tergantung dari kesanggupan waktu mereka untuk memberi kuliah, saat ini yang rutin membantu perkuliahan di Jurusan Teknik Sipil UPH adalah bapak Ir. Hendra Gunawan, untuk bidang gambar teknik dan ACAD, bapak Ir. Haryono Sukarto, MS., dibidang drainase, juga konstruksi kayu, bapak Dipl.-Ing. Wirianto Rusli di bidang analisa struktur, ibu Ir. Minawaty Tanujaya, MT., di bidang manajemen konstruksi, ibu Ir. Lanny Hidayat, MS., di bidang jembatan dan juga struktur baja, bapak Andreas Kurniawan Djukardi, M.Const.Mgt. di bidang transportasi dan jalan raya (untuk sementara dalam menggantikan bapak FX Mintar yang sedang tugas belajar di Taiwan), ibu Ir. Nurindahsih, MSc., di bidang mekanika tanah dan geoteknik, dan ada beberapa lagi. Juga bapak Ir. Tulus Hendrayana, MT. untuk bidang dinamik dan matriks, o ya untuk teknik pondasi juga dibantu oleh bapak Ir. Sudioto Soesilo, MSc. O ada yang hampir lupa, yaitu bapak Dr.Ir. Ika Bali, yang mengajar teknik gempa. Banyak juga khan yang back up di bidang pengajaran di JTS UPH. Itu tadi yang kusebut untuk materi teknik sipil, untuk materi universitas seperti Leadership, Perbandingaan Agama, Fisika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dijadikan satu yang dikeloloa oleh tingkat universitas.

Jadi jelaslah, adanya dosen tetap dan dosen tidak tetap maka tidak ada permasalahan di bidang pengajaran dan pendidikan, di Jurusan Teknik Sipil UPH. Belum lama ini  Jurusan  baru saja di visitasi dalam rangka akreditasi Dikti. Asesor yang hadir , satu dari UNS, Solo dan satu dari Udayana, Bali. Sayang sekali saya pada saat visitasi tersebut tidak dapat ikut berpartisipasi, maklum jatuh sakit terkapar kena paratipus. Untunglah semuanya dapat berjalan dengan baik. Untuk kegiatan seperti itu, seperti persiapan  proses akreditasi maka yang paling sibuk adalah ketua jurusan dan dosen-dosen tetapnya, serta beberapa petugas administrasi. Dosen tidak tetap, karena hanya datang pada saat mengajar jelas tidak dapat membantu proses persiapan tersebut.

Nah begitulah kegiatan pendidikan dan pengajaran di tempat kami, di Jurusan Teknik Sipil UPH, jika tiap kelas rata-rata hanya berjumlah sekitar 25 – 35 orang mahasiswa maka jelas komposisi yang terjadi adalah sangat bagus sekali.

Lha kelasnya koq kecil sekali ?

Lho memang begitu, mahasiswa di angkatan teknik sipil UPH relatif kecil, apalagi kalau wawasan anda adalah PTN yang jumlah mahasiswa setiap angkatannya sampai ratusan. Di awal-awalnya, jurusan teknik sipil dianggap jurusan dengan jumlah mahasiswa yang paling kecil, dalam perjalanannya kita konsisten bertumbuh dan tidak lagi menjadi jurusan dengan jumlah mahasiswa yang paling kecil. Sekarang ternyata ada jurusan lain yang jumlah mahasiswanya lebih sedikit.

Kenapa bisa begitu pak ?

Di awal-awalnya kita memang agak minder karena jumlah mahasiswanya yang sedikit, tetapi dalam perjalanan waktu, dengan usaha keras di bawah arahan Prof Harianto kita sepakat, mumpung mahasiswanya masih sedikit maka dosen tetapnya harus meningkatkan diri, dan tidak sekedar fokus pada bidang pengajaran saja. Langkah pertama adalah meningkatkan segi pendidikan untuk meraih gelar setinggi-tingginya, sekolah lanjut.  Itu yang terjadi pada saya di awal tahun 2004 dulu, juga sdr. Merry, dan sekarang adalah waktunya pak Mintar dan sdr Merryana.

Jadi langkah pertama adalah membuat agar dosen-dosen tetap Teknik Sipil UPH menjadi MANDIRI, khususnya dibidang ilmu dan pengetahuan, mula-mula dengan tindakan formal melalui pendidikan lanjut, selanjutnya setelah itu mereka dipacu  untuk melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang semuanya nantinya harus bermuara pada penulisan. He, he, apa yang sedang kutulis ini juga salah satu bagian tersebut.

Hanya itu saja pak ?

Lha itu suatu kegiatan lho, yang tidak berhenti-henti, itu dapat berjalan dengan mulus karena kebetulan Prof. Harianto Hardjasaputra diangkat menjadi direktur LPPM UPH, yang mengurusi bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di tingkat universitas. Jadi mula-mula di tingkat jurusan dan sekarang di level universitas. Itu semua kemudian ditunjang oleh aktifitas jurusan teknik sipil UPH dalam berpartisipasi aktif menyelenggarakan pertemuan ilmiah di tingkat nasional dan internasional, baik apakah itu diselenggarakan sendirian maupun berkolaborasi dengan jurusan-jurusan lain. Yang pernah  berkolaborasi dengan kita antara lain, Uni Stuttgart (Jerman), Universiti Technology Malaya / UTM (Malaysia), Universitas Atmajaya Yogyakarta (dua kali, yaitu acara Konteks3 dan Konteks4) dan Universitas Udayana Denpasar (Konteks4). Pada acara-acara seperti semua dosen tetap diminta untuk berpartisipasi secara aktif membawakan makalah.

Kegiatan-kegiatan sederhana seperti itulah yang membuat dosen-dosen UPH dikenal dan mengenal dosen-dosen jurusan teknik sipil yang lain, dan pada suatu tahapan tertentu dapat menghasilkan kepercayaan diri yang kuat di bidang ilmunya. Jika demikian yang terjadi maka secara tidak langsung mereka akan lebih percaya diri dalam mengajarkan ilmunya kepada mahasiswanya di kelas.

Mungkin karena adanya kepercayaan diri di dalam diri dosen-dosennya maka itu juga berimbas pada mahasiswanya untuk juga mempunyai kepercayaan diri di bidang ilmunya. Bahkan dalam beberapa kegiatan ilmiah tersebut, mahasiswa-mahasiswa UPH diberi kepercayaan untuk mempresentasikan penelitian tugas akhirnya yang dikerjakan bersama-sama dengan dosennya.

Lulusannya bagaimana pak ?

Ini pertanyaan penting, karena kualitas suatu pohon dapat dilihat dari buahnya. Tetapi itu tidak berarti bahwa kami dapat menjamin bahwa semua mahasiswa pasti sukses, karena sukses atau tidak pada dasarnya adalah hasil kemauan mahasiswa itu sendiri. Tetapi yang jelas dengan suasana di jurusan yang mana dosen-dosennya punya keinginan kuat untuk mandiri maka sedikit banyak itu juga berpengaruh. Dan tidak tahu, apakah ini ada hubungannya atau tidak, bagi mahasiswa-mahasiswa yang berusaha mandiri maka ketika lulus, koq rasa-rasanya mereka juga tidak kesulitan dalam memperoleh pekerjaannya. O ya, tidak lupa pekerjaan yang mereka peroleh sebagian besar di bidang engineering juga.

Pak maksudnya mahasiswa-mahasiswa berusaha mandiri ?

Ini terlihat pada akhir-akhir menjelang menyelesaiakan tugas akhirnya. Cukup banyak mahasiswaku yang mengambil tugas akhir eksperimen penelitian di laboratorium. Nah usaha-usaha mereka di laboratorium secara mandiri itulah yang kumaksud.

Wah eksperimen, emangnya ada pak di UPH ?

Kamu koq nggak percaya saja. Aku khan sudah jelaskan, bahwa dengan jumlah mahasiswa yang relatif kecil tetapi ingin dianggap keberadaannya di antara jurusan-jurusan teknik sipil yang lain maka satu-satunya jalan bagi Jurusan Teknik Sipil UPH adalah mampu mandiri di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Itu telah dicanangkan awalnya mulanya oleh Prof Harianto, dan sekarang telah menjadi komitmen bersama bagi dosen-dosen tetap jurusan sipil UPH. Karena kalau tidak begitu maka kita tidak bisa eksis dan bahkan bisa-bisa saja jika tidak dilaksanakan maka akan tidak ada kelanjutannya lagi.

Untuk yang eksperimen, maka yang paling getol adalah riset payungnya Prof. Harianto Hardjasaputra. Beliau saat ini banyak melakukan penelitian tentang beton ramah lingkungan. Pelaksanaan risetnya dilaksanakan bersama-sama dengan tugas akhir mahasiswa. Nah disinilah kaitannya mahasiswa yang melakukan riset dan risetnya prof Harianto.

Riset di bidang material beton khan banyak juga pak dilakukan di perguruan tinggi lain.

Memang betul, dan kelihatanna prof. Harianto juga menyadari hal tersebut. Oleh karena itu kelihatannya beliau sekarang risetnya agak bergeser sedikit yaitu melakukan riset tentang UHPC (ultra high performance concrete), yaitu tentang riset beton mutu sangat tinggi. Riset seperti ini rasa-rasanya masih jarang dilakukan di Indonesia, targetnya adalah untuk mendapatkan beton mutu tinggi yang hampir sekuat baja.

Ah masa pak ?

Jika melihat institusinya, UPH yang relatif muda dan jumlah mahasiswanya sedikit maka saya bisa memaklumi pernyataan kamu tadi. Tetapi kalau melihat pribadi beliau, yaitu lulusan Uni Stuttgart Jerman, maka rasa-rasanya tidak perlu diragukan. Apalagi beliau masih sering mengikuti program DAAD untuk melakuan riset penelitiandi Jerman. Tempo hari khan sempat bekerja di lab0ratoriumnya prof Schmidt  di Uni Kassel yang memang spesialis penelitian tentang beton mutu tinggi tersebut. Jadi saat ini yang dilakukan beliau adalah menerapkan ilmu yang diperoleh di Uni Kassel untuk menghasilkan beton mutu sangat  tinggi dengan material-material lokal Indonesia.

Gimana hasilnya pak ?

Di bantu oleh anggota team penelitian beliau, sdr. Merry Natalia, ST., MSc.Eng., dan sdr Joey Tirtawijaya, ST., MT., yang notabene alumni Jurusan Teknik Sipil UPH, maka beliau mampu menghasilkan mutu beton sangat tinggi sampai mencapai kuat tekan sekitar 140 MPa.

Ini hasil kuat tekan beton mutu sangat tinggi tersebut, yang sifatnya sangat brittle.

Informasi lebih lanjut lihatlah :

http://harianto.wordpress.com/2010/06/30/the-first-ultra-high-performance-concrete-uhpc-in-indonesia/

Komentar:

Jadi tidaklah mengherankan jika kemarin ada lomba beton mutu tinggi dan ketika team UPH ikut maka mereka hampir menyabet gelar juara semua. Itu dikarenakan mahasiswa-mahasiswa tersebut dibantu oleh anggota team penelitian dari Prof . Harianto tersebut.  Informasi tentang hal tersebut dapat dilihat disini:

https://wiryanto.wordpress.com/2010/06/09/sipil-uph-juara-lomba-beton-2010/

9 thoughts on “sipil UPH dan beton mutu sangat tinggi

  1. Wah saya jadi tertarik untuk jadi dosen di UPH pak. Apa bisa saya jadi dosen tidak tetap pak. Tapi kayanya semua posisi sudah terisi nih hehe.

    Suka

    • Iya Prof, khan targetnya mau menyamai mutu baja, yaitu minimum 240 MPa. Kalau begitu tetap semangat ya Prof.

      Anak-anak sipil UPH yang mau ambil tugas akhir, itu jalannya masih panjang jadi masih banyak kesempatan untuk ikut riset lagi bersama Prof. Har.

      Sedangkan untuk teman-teman lainnya yang tertarik bidang material beton, siapa yang tertarik untuk bersama-sama mengembangkan material tersebut. Silahkan kontak langsung beliaunya.

      Suka

  2. Ping balik: sipil UPH dan beton mutu sangat tinggi « The works of Wiryanto … | Cari Judul Skripsi, Makalah, Laporan

  3. wuiiiiiihhhhhhhhh…..suatu gambaran yang luar biasa Sir. Tapi kalau melihat management kampus serta orang2 yg ada di cerita di atas, saya kira kemajuan yg dicapai oleh Teknik Sipil UPH adalah wajar adanya. Malah masih luas kemungkinan utk lebih berkembang lagi. Dalam hal ini saya ikut berdoa agar semua kemajuan itu dapat terwujud.

    Selain research di bidang Teknologi Beton yang dipimpin oleh Prof. Harianto, apakah ada research di bidang Teknik Sipil lainnya yang dilakukan oleh Jurusan Sipil UPH Sir?

    Sebagai usulan Sir, kalau memungkinkan hasil research yang “segar”2 tersebut diupload juga. Menurut saya Blog ini sudah menjadi salah satu referensi buat banyak orang yg berkecimpung di bidang teknik sipil (walaupun ini bukan blog tentang teknik sipil🙂 )

    o iya, dari sekian nama yang ada di atas, saya kenal sekali dengan satu nama, Dr. Ika Bali🙂

    Jaman saya kuliah Beliau ini dulunya asisten dosen untuk mata kuliah Mekanika Teknik 1 ( dosennya Ibu Jenny) dan Struktur Beton 1 & 2 (dosennya Pak Tulus). Saat saya Sidang Sarjana, Beliau juga salah satu penguji. Di situ saya sempat “mandi keringat” juga dibuat oleh Beliau hehehehehehe. o iya saat itu Pak Ika Bali baru pulang dari Asian Institute menyelesaikan Masternya.Sekarang ternyata beliau telah menjadi Doktor di bidang gempa (kalo gak salah dari Taiwan ???). Proficiat Pak Ika Bali🙂

    waaahhhhhh…..maaf Pak Wir,saya jadi ngelantur bernostalgia niiihhhh…..

    Suka

  4. Salam hormat Bapak Dewobroto,

    apakah sudah ada penelitian di Indonesia mengenai textile concrete dimana tulangan beton yang selama ini dikenal digantikan dengan anyaman textil? Anyaman textil ini terbuat dari serat Carbon, AR-Glass dan Aramid. Bedakan textile concrete dengan faser conrete!
    Bahan-bahan ini biasanya digunakan dalam produksi pesawat terbang, mobil dan roket.
    Anyaman Textil ini memiliki gaya tarik (tensile strength / Zugfestigkeit) yang sangat besar, melebihi tulangan beton biasa. Alhasil, dimensi yang dihasilkan dari kombinasi antara beton dan anyaman textil adalah lebih kecil (milimeterwise) daripada ukuran beton bertulang biasa.
    Sudah ada prototype jembatan-pejalan-kaki di Perancis dan di kota kecil di Jerman sebelah timur (dekat Dresden), namun belum ada peraturan resmi yang mengatur mengenai bearing capacity ( Grenzzustand der Tragfähigkeit und Gebrauchtauglichkeit) dan tata pelaksanaan di lapangan.
    Apakah Bapak Prof. Dr.-Ing. Hardjasaputra memiliki informasi mengenai penelitian di bidang ini?
    Terima kasih.

    Lieyanto

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s