tu’ menghindari ZINA


Kalimat “menghindari ZINA” bagi yang sering membuka media pasti sering mendengar, selain itu juga sering dituliskan pada artikel-artikel tentang perkawinan. Apalagi yang jika dikaitkan dengan kata kunci poligami atau kawin siri. Itu tadi adalah kata-kata penting bagi orang-orang tertentu untuk menyusun argumentasi yang mendukung idenya.  Kesan yang dapat ditangkap adalah bahwa telah diperoleh suatu pembenaran dari segi agama.🙂

Perkawinan adalah sesuatu hal yang penting dalam pikiran sebagian besar anak muda, sama pentingnya juga dengan pendidikan. Bagaimanapun juga, kedua unsur tadi benar-benar dapat mengarahkan kondisi kehidupan seseorang untuk menuju kebahagiaan atau kesedihan. Kadang-kadang antara perkawinan dan pendidikan dapat saling bersinerji, tetapi juga dapat saling berlawanan. Itulah seninya suatu kehidupan, setiap orang mempunyai pengalaman yang khas, yang berbeda satu dengan yang lain.

Jika artikelku hari ini ingin membahas tentang perkawinan, maka itu bukan dikarenakan oleh keahlian profesiku. Jelas itu tidak ada hubungannya sama sekali. Jika aku berani menuliskannya, mungkin dikarenakan aku telah mempunyai pengalaman empiris, bagaimanapun perkawinan bagiku adalah bukan sesuatu yang asing. Sudah sembilan belas tahun aku menyelaminya. Jadi kalau itu seperti pekerjaan maka tentunya aku sudah disebut ‘senior’.🙂

Mengapa aku tertarik membahas perkawinan ?

Pertama-tama aku sering melihat atau mendengar (dari infotainment tentunya) bahwa kehidupan perkawinan ternyata dapat dijadikan berita-berita di media. Lihat saja jika ada kasus perselingkuhan yang melibatkan ‘selebriti’ atau ‘pejabat publik’, media sangat suka sekali mengeksposed-nya. Alagi jika dapat dikaitkan dengan zina. Seru itu.

Kalau perselingkuhan memang jelas nggak bener. Tetapi kalau kawin cerai, talak dan semacamnya, seakan-akan sesuatu yang biasa, yang dianggap sebagai hak tiap-tiap orang secara bebas, yang penting bahwa jika itu semua dilakukan sesuai prosedur formal maka itu adalah sesuatu yang wajar. Coba saja perhatikan, ada artis beken, ada pejabat menteri dan mungkin saja banyak juga terjadi dikalangan awam yang tidak layak tayang.

Jadi jika saya boleh berkesimpulan sementara bahwa perkawinan adalah sama seperti halnya pekerjaan, atau bahkan bisa juga seperti memilih mobil. Jika tidak cocok maka coba yang lain, yang penting adalah pokoknya harus mengikuti prosedur yang bener.

Jika demikian maka perkawinan bukan sesuatu yang sakral, yang suci. Perkawinan hanya dilihat sekedar sudah memenuhi hukum, baik hukum negara maupun hukum agama yang tertulis di kertas.

Terus terang kondisi seperti itulah yang membuatku prihatin.😦

Aku tidak tahu, apakah karena aku sekarang kuper, manusia yang tidak melihat jaman, atau apa ?!

Apalagi ketika kemarin ketika seorang Mario Teguh mempunyai sedikit nasehat yang menyangkut perkawinan. Langsung heboh. Sebenarnya yang membuat heran lagi, mengapa seorang Mario Teguh karena melihat respond orang terhadap pernyataannya di Twitter, langsung terlihat takut dan cepat-cepat menutup account-nya tersebut. Mengapa jadi begitu ?

Hal-hal seperti itulah maka rasanya aku perlu membahasnya, minimal sebuah sharing yang membuat orang lain dapat berpikir tentang sesuatu yang namanya perkawinan. Tentu saja meskipun aku telah lama hidup dalam suatu perkawinan, tetapi tidak berarti aku ingin menunjukkan bahwa kehidupan perkawinankulah yang paling baik. Jelas tidak, tetapi minimal aku dapat menyampaikan pemikiranku tentang makna suatu perkawinan yang sedang aku usahakan. Tentu saja berhasil atau tidaknya, maka sang kala yang akan membuktikannya. Ok.

Kecuali keprihatinanku di atas, juga saatnya aku perlu mendeskripsikan secara tertulis karena sekarang anak gadisku juga sudah menjelang dewasa, siapa tahu bisa menjadi pembanding untuk menuju perkawinan yang lebih baik.

Tentang kehidupan perkawinan, saya yakin sebagian besar anak muda juga ingin memasukinya nanti pada waktunya. Bagaimanapun juga, yang namanya perkawinan tentunya tidak sekedar perpanjangan dari rasa jatuh cinta pada pandangan pertama saja. Meskipun kata sebagian orang, jika bisa maka sejuta rasanya.

Ha, ha, ha, jadi ingat mantan pacarku dulu (yang sekarang menjadi istriku), yang sudah kudekati sejak masih smu dulu.

Adanya perkawinan karena cinta pada pandangan pertama, tentu tidak salah. Wajar bahkan. Tetapi kalau adanya perkawinan karena alasan untuk menghindari zina, maka bagiku itu cukup mengherankan. Meskipun itu tidak salah, tetapi bagiku ada sesuatu yang tidak pas. Bagaimanapun juga kehidupan perkawinan tentu berbeda dengan kawin. Kalau kawin itu memang bisa dikaitkan dengan urusan syahwat, perkawinan tanpa itu memang tidak menarik. Tetapi jika berbicara tentang suatu perkawinan khan tidak bisa hanya berbicara soal kawin saja bukan, ada hal-hal lain yang perlu dibicarakan bahkan ditindak-lanjuti juga, seperti juga bertanggung jawab terhadap akibatnya dikemudian hari. Bagi kalangan tertentu, seperti misalnya orang yang mengaku beriman kristiani, maka perkawinan adalah suatu pilihan hidup, sekali dan selamanya.

Sorry aku lebih suka menyebutkan orang yang beriman krisitiani, karena ternyata aku banyak menjumpai orang-orang yang ber-KTP agama, yang dapat dianggap secara tradisional sebagai orang beriman kristiani, ternyata tidak menganggap perkawinan adalah seperti yang aku ungkap di depan. Sekarang ini rasanya aku melihat, agama banyak  dianggap hanya seperti baju saja, untuk kepantasan belaka.

Untuk orang-orang yang menganggap bahwa perkawinan adalah sekali seumur hidup seperti itu, maka alasan untuk kawin hanya sekedar untuk menghindari zina maka tentu itu suatu tindakan sembrono. Memang sih, tidak semua orang mempunyai persepsi sama tentang apa yang namanya kehidupan perkawinan tersebut. Ada bahkan yang menganggap bahwa kehidupan perkawinan hanya sekedar pelengkap, sebagaimana halnya kehidupan berkarir. Jika dirasa tidak ada kemajuan, maka cari karir yang lain yang dianggap dapat cocok.🙂

Sebagian orang pada umur-umur produktif menganggap bahwa pekerjaan adalah lebih utama dibanding berkeluarga, bahkan banyak juga menyesuaikan istri atau suami terhadap tingkatan kehidupannya berkarir. Jadi kalimat kasarnya, ketika telah sukses maka istrinya yang dikampung ditinggalkan, dan diganti istri baru yang lebih sesuai dengan lingkungan pekerjaan / pergaulan yang ditemuinya saat ini. Jadi kesan yang aku lihat, adalah banyak yang menyamakan istri dengan mobil. Jadi benar juga jika ada yang pendapat bahwa ‘mempunyai istri’ dan ‘mempunyai keluarga’ , itu tidak selalu identik.

Ada kesan bahwa orang yang berganti istri, adalah sesuatu hal yang biasa-biasa saja, yang penting bahwa persyaratan formal sudah dipenuhi, yaitu catatan sipil atau pengadilan agama dan juga kewajiban yang harus dipenuhinya, seperti menafkahi anak yang ditinggalkan. Adalah fakta bahwa kawin cerai banyak dijumpai mulai dari level bawah sampai atas. Mulai dari alasan desakan ekonomi, atau ego pribadi karena tidak menemukan kecocokan. Bahkan bisa saja karena alasan ‘sudah bosan’. Gawat itu.

Menurut bapak , apa sih sebuah perkawinan tersebut ?

Jelas, perkawinan adalah tidak sekedar sebagai cara untuk menghindari zina. Lebih dari itu. Perkawinan adalah suatu pilihan hidup.

Sebagai suatu pilihan hidup maka resikonya adalah ditanggung sendiri.

Jangan ditanya, apa literaturnya. Itu pendapatku pribadi, yang belum tentu sama dengan orang-orang lain.

Terus terang, pendapat di atas tidak secara jelas aku dapatkan dari mana. Apa karena aku orang kristiani, atau karena aku orang jawa, atau karena perenunganku.

Jika dari kaca mata kristiani, perkawinan adalah sekali dan seumur hidup. Dari kaca mata orang jawa maka perkawinan adalah sesuatu yang serius, yang perlu dipertimbangkan dari banyak segi. Ingat bibit, bebet, dan bobot, yang umum dipakai oleh masyarakat jawa yang memegang teguh budayanya. Ingat , jika anda lahir di jawa, dari bapak dan ibu jawa tetapi tidak tahu tiga hal di atas, maka berarti anda belum orang jawa, karena tidak tahu filosofi hidup jawa.

Dengan menggabungkan nilai-nilai kristiani dan falsafah kehidupan jawa, maka rasa-rasanya memandang perkawinan hanya sekedar untuk mengindari zina adalah sesuatu yang aneh, yang kesannya sangat merendahkan arti perkawinan itu sendiri.

Perkawinan sebagai suatu pilihan hidup , karena memandang hal itu adalah sesuatu yang sangat penting, sebagaimana kehidupan itu sendiri. Perkawinan penting bagi kehidupan, baik ditinjau dari sisi filosofi maupun dari sisi empiris, karena dari perkawinan yang baiklah maka proses kawin secara badani dapat terjamin keberlangsungannya dengan menghasilkan keturunan manusia penerusnya.

Jadi hanya dari perkawinan yang baiklah, maka dapat dijamin bahwa nilai-nilai utama yang dipahami oleh manusia yang terikat dalam perkawinan tersebut dapat diteruskan kegenerasi berikut. Nilai utama yang dimaksud adalah kehidupan yang memuliakan Tuhan-nya.

Jelas itu sangat berbeda dibanding kawin hanya sekedar untuk menghindari zina, itu hanya dikesankan agar dapat kawin tanpa dimarahi Tuhan. Bahasa lainnya adalah tidak dianggap dosa.

Jadi meskipun tidak ada yang salah, tetapi jelas levelnya lain.😐

<<up-dated 12/3/2101>>

sedang membaca-baca kita suci, ada nats yang mendukung artikel di atas

Seorang ayah dapat memberi anak-anaknya rumah dan harta benda, tetapi hanya TUHANlah yang dapat memberi mereka, istri yang berakal budi.
[Amsal 19:14 FAYH]

Itu merupakan salah satu nasehat-nasehat Solomo ribuan tahuan yang lalu, yang ternyata masih relevan untuk diaplikasikan saat ini. Membaca Amsal atau nasehat-nasehat Solomo perlu karena pada introduction-nya dimaksud ‘untuk mengerti kata-kata yang bermakna‘ [Amsal 1:2].

Fakta menunjukkan bahwa memahami makna dari suatu kata-kata adalah tidak mudah, gelar dan jabatan tidak dapat dijadikan ukuran, jika tidak percaya bacalah artikel ini.

27 thoughts on “tu’ menghindari ZINA

  1. ini benar-benar mencerahkan Pak, terlepas saya seorang Muslim tapi saya kira alasan menghindari zina dalam pernikahan seperti banyak diwacanakan saat ini terlalu rendah.

    Bagaimanapun saya memandang hal ini saja sebagai dinamika bumi manusia a la bung Pram, karena Indonesia sendiri terdiri dari banyak budaya dan masuknya pengaruh luar seperti dari Eropa, Arab, dan Cina. Indonesia sendiri yang notabene mayoritas Muslim menurutku kurang bisa membedakan antara yg mana dari budaya Arab (spt kasus TKW,FPI,dlsb?) dan mana yg dari Islam.

    Terkait nikah sendiri dalam Islam sudah jelas sebagai sarana penentram jiwa, penyempurna separuh agama, melanjutkan keturunan
    sbg pemakmur bumi. Bukan sbg pelampiasan syahwat belaka untuk menghindari zina…

    Tuhan lebih maha tau…
    salam.

    Suka

  2. Setuju sekali Pak. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menggugah banyak orang.

    Jika Bapak memiliki akun FB, sudilah kiranya menjadikan ini catatan (Note) di sana. Saya akan berikan acungan jempol tanda saya menyukainya.

    Sekali lagi terima kasih Pak atas renungannya.

    Salam.

    Suka

    • Syukurlah mas Kemas, jadi kita mempunyai frekuensi yang sama.🙂

      Saya punya FB, nanti saya up-load ke Note-nya. Apresiasinya ditunggu ya.

      Suka

  3. Menikah sudah menjadi pilihan hidup, baik buruk dari pasangan jg merupakan baik & buruk bersama. Hidup, mati & Jodoh sudah ditentukan oleh Tuhan, so kalo sudah menjadi pilihan hidup… kenapa harus disia-siakan…ya nikmati & jalani saja, perbedaan dlm rumah tangga hal biasa, ibarat bumbunya lah.
    Artikelnya bagus, terima kasih & salam kenal

    Suka

    • ** jalani saja**

      Boleh-boleh, tetapi jika itu baik.

      Jika ternyata tidak baik, maka adalah tanggung jawab kedua insan yang terikat dalam perkawinan tersebut untuk mengusahakan agar dapat menjadi baik adanya. Jangan pasrah saja. Terus terang, ini memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan, apalagi kalau pasangan dalam perkawinan tersebut tidak pernah melakukan dialog, karena mungkin ketika bertemu dulu (sebelum perkawinan) tidak berani mencoba berdialog karena takut ke arah zina.🙂

      Suka

  4. Pak…di ajaran Kristen.pernikahan diatur ngak sih? kalo emang diatur…saya penasaran…dasarnya apa? apa ada ayat-ayat atau sumber terpercaya yang berasal dari alkitab atau apapun…atau hanya sekedar terobosan tokoh-tokoh kristen aja? Karena perundangan pernikahan merupakan salah satu kebutuhan peradaban manusia…saya rasa harus ada yang mengaturnya dalam bentuk undang-undang. Saya termasuk yang tertarik mempelajari perbandingan agama…btw saya Muslim. Sekian Terima kasih

    Suka

  5. sebagai orang beragama kita harus taat pada doktrin agama yang dianut, tapi itu jangan disalah artikan hanya karena nafsu birahi.memang orang laki-laki…….kuuuu..rang aaa..jar baaa..nget.mbok ya tobat dunia sudah mendekati kiamat

    Suka

  6. Uraian Pak Wir :

    Kalimat “menghindari ZINA” bagi yang sering membuka media pasti sering mendengar, selain itu juga sering dituliskan pada artikel-artikel tentang perkawinan. Apalagi yang jika dikaitkan dengan kata kunci poligami atau kawin siri. Itu tadi adalah kata-kata penting bagi orang-orang tertentu untuk menyusun argumentasi yang mendukung idenya. Kesan yang dapat ditangkap adalah bahwa telah diperoleh suatu pembenaran dari segi agama.🙂

    “perkawinan adalah suatu pilihan hidup, sekali dan selamanya”

    jelas sekali secara tendensius menunjuk kepada praktek yang dilakukan orang Islam, dan sebagai Muslim saya merasa perlu menjelaskan.

    Saya rasa pernyataan tersebut sangat baik, namun kita harus cermat memahami permasalahan yang ada.

    Menyikapi perkawinan / pernikahan sebagai sesuatu yang satu kali dan selamanya dalam hidup itu adalah merupakan sesuatu yang sifatnya ADA DALAM HATI. Saya rasa semua agama menghendaki semua pemeluknya bertekad sedemikian rupa.

    Namun perkawinan itu sendiri merupakan tindakan fisik yang bersifat kasat mata. Oleh sebab itu untuk menjaga ketertiban dalam sebuah komunitas, perkawinan perlu di lembagakan dan peraturannya perlu diperjelas untuk mengantisipasi berbagai hal yang berhubungan dengan perkawinan, seperti perceraian misalnya.

    Jika dalam ajaran Islam di atur mengenai tata tertib perkawinan maupun perceraian (SUMBERNYA JELAS DAN BERASAL DARI AYAT QURAN MAUPUN HADITS) bukan berarti Islam mendukung tindakan kawin cerai kawin cerai, sebaliknya justru Islam pun menginginkan pernikahan yang berdasarkan kasih sayang….namun sekali lagi…karena sikap seperti itu bersifat tekad/ perasaan /ADA DALAM HATI, maka sikap seperti itu menjadi PILIHAN HIDUP yang tak dapat di atur/dilembagakan.

    Yang bisa di atur /dilembagakan hanyalah tindakan fisik /perkawinan itu sendiri…..

    dan betul apa yang dikatakan Pak Wir bahwa ada perbedaan level…namun saya melihat bahwa yang levelnya lebih tinggi adalah yang mengatur masalah perkawinan / perceraian sedetil-detilnya sehingga kehidupan bermasyarakat tetap tertib, bukan yang sekedar menyerukan seruan moral tanpa ada penjelasan / panduan dalam menjalankan segala hal yang menyangkut kehidupan bermasyarakat termasuk di dalamnya masalah perkawinan.

    Sekian Terima Kasih

    Suka

  7. @Maulana
    Wah mohon maaf Pak Maulana sudah memberi komentar dua kali dan belum saya tanggapi.

    Sebenarnya saya akan menyiapkan suatu artikel tersendiri tentang perkawinan kristen, yah semacam sharing pengalaman memahami hal tersebut, tetapi kelihatannya Bapak ingin mendapat tanggapan lebih cepat.

    Pertama bahwa pada prinsipnya beragama adalah bukan lembaga. Kalaupun ada yang disebut lembaga agama, adalah lebih pada administrasi.

    Kedua, karena agama bukan ditekankan pada lembaga maka istilah agama lebih merujuk pada “jalan menuju ke hadirat-Nya”. Jadi intinya agama bukan tujuan. Kitab Suci dalam hal ini adalah petunjuk-petunjuk ilahi tertulis yang dapat dijadikan jalan tersebut.

    Jadi seperti halnya petunjuk, jika menginterprestasikan salah, maka bisa-bisa akhirnya tidak sampai ketujuan yang dimaksud.

    Di kaitkan dengan level, dimana anda berpendapat bahwa yang memberikan detail selengkap-lengkapnya adalah yang levelnya paling tinggi, maka untuk menjawabnya saya bisa memberi perumpamaan sebagai berikut :

    Katakanlah kita mau memberi petunjuk lokasi kepada seseorang tertentu. Bentuk atau ragam petunjuk yang kita berikan tentu beragam, tergantung kepada siapa kita akan berikan.

    Katakanlah ini dikaitkan dengan salah satu penduduk di Bekasi yang sudah dewasa dan sudah sering ke Jakarta. Jika kita suruh “untuk pergi ke Monas”. titik. Maka yang bersangkutan sudah tahu dan bisa ke sana, tanpa petunjuk yang lengkap.

    Tetapi dengan perintah yang sama kita sampaikan kepada anak kecil, belum dewasa, dan belum pernah kemana-mana, meskipun kita kasih uang cukup, belum tentu bisa kesana. Agar bisa ke sana maka diperlukan penjelasan lain yang lebih detail.

    Itu adalah contoh sederhana, bisa juga dikembangkan pada hal-hal yang lain, seperti misalnya “kamu kalau kerja yang baik ya”. Bagi seorang dewasa itu sudah cukup, tetapi bagi yang . . . maka jelas perlu didefinisikan lagi, apa kriteria yang baik, dll.

    Jadi saya kira pernyataan pak Maulana belum tentu bersifat general (umum).

    Tentang seruan moral, tanpa ada pejelasan. Ini dasar pemikirannya adalah bahwa semua itu dimulai dari pikiran. Jika pikirannya positip, maka akhirnya akan dihasilkan tindakan positip. Strategi ini juga diterapkan Tuhan dengan firman-firman-Nya. Itu pula yang mendasari mengapa orang diminta membaca Kitab Suci.

    He, he, he begitu yang dapat saya sampaikan. Saya tidak dapat memaksa untuk setuju atau tidak, karena saya sadar apa yang saya sampaikan ini belum tentu dipahami oleh semua orang, karena memang level orang macam-macam. Saya nggak tahu level pak Maulana dengan saya, mungkin sama, mungkin di atas, atau mungkin yang lainnya.

    Yah, rambut sama-sama hitam, pendapat bisa berlainan. Tuhan memberkati.

    Suka

    • “Pertama bahwa pada prinsipnya beragama adalah bukan lembaga. ”

      Keluarga adalah lembaga terkecil di dunia, selanjutnya ada RT, RW, Kelurahan, Kecamatan seterusnya sampai sebuah negara…(mungkin kalau seluruh dunia bisa bersatu di bawah suatu pemerintahan, akan terbentuk sebuah super negara/emperium seperti terjadi pada masa lampau).

      Tentu saja fungsi agama harus dapat mengatur lembaga tersebut dari lembaga yang paling kecil(keluarga) sampai lembaga yang terbesar (pemerintahan).

      Dari sini jelas bahwa agama sangat erat dengan lembaga , karena fungsinya adalah memberi arahan pada lembaga agar semua tertib, juga tercipta kemakmuran keadilan kesejahteraan dsb.

      Yang relevan dalam diskusi ini adalah masalah perkawinan. Agama harus menyediakan perangkat yang mengatur perkawinan sehingga tercipta ketertiban, perlindungan hak wanita, kejelasan status anak, dsb. Semua harus diatur dengan jelas. Tidak cukup dengan sekedar seruan moral : “Perkawinan hanya sekali dalam hidup..bla..bla..bla.” Itulah sebabnya proses perkawinan diatur dalam Islam begitu juga perceraian..karena perceraian adalah suatu keniscayaan dalam dinamika kehidupan manusia.

      Jadi pernyataan Pak Wir “Bahwa beragama adalah bukan lembaga” tidak dapat dipertahankan.

      Pak Wir membantah dengan analogi “Antara Memberi Instruksi Pada Orang Dewasa dengan Memberi Instruksi Pada Anak Kecil”

      Kalau boleh di perjelas…Pak Wir mengibaratkan umat Kristen sebagai orang Dewasa sehingga tidak perlu di beri perintah detail pun mereka sudah mengerti. Sebaliknya orang Islam oleh Pak Wir di ibaratkan sebagai anak kecil yang belum banyak mengerti sehingga harus diberi instruksi detail barulah mereka bias menjalani hidup ini.

      Analogi Pak Wir dapat saya terima, dan mungkin betul sekali. Namun apakah Pak Wir tidak sadar, bahwa kenyataannya adalah (kalau menurut Analogi tersebut) bahwa Islam lah yang menganggap kita/umat manusia sebagai orang dewasa, sedangkan Kristen menganggap kita sebagai anak kecil.
      Mengapa saya katakan demikian?

      Coba kita lihat Bible…umat Kristen selalu mengklaim bahwa Bible sangat terperinci dalam memberikan tuntunan hidup untuk manusia sehingga Bible itu menjadi sedemikian tebal dan tulisannya pun kecil-kecil (saya jadi teringat dengan buku GBHN di masa pemerintahan Orde Baru dulu…ada yang rela membaca GBHN? Hehehe). Dari klaim seperti itu, lahirlah istilah seperti Autocad Bible (buku yang membahas autocad dari A sampai Z) serta banyak buku2 lain yang di embel-embeli kata Bible untuk menunjukkan sifat terperincinya…dan yang sudah pasti : tebal sekali buku tersebut.

      Kita bandingkan dengan Al Quran umat Islam yang ringkas…karena memang yang di berikan hanya garis besar saja, tidak perlu terperinci agar lebih mudah di hafal sehingga keasliannya dapat terjamin sepanjang masa dan sudah terbukti selama 1400 tahun mushaf utsmani tidak berubah sedikitpun.Di sini dengan menurunkan Al Quran Tuhan memerintahkan manusia untuk mendalami ilmu pengetahuan sehingga ayat-ayat/tanda yang sudah disampaikan oleh Al Quran dapat terungkap dan menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia.

      Lalu bagaimana tuntunan detail dalam menjalankan aktivitas manusia dari bangun tidur sampai tidur lagi? Ada hadits2 yang memberikan semua tuntunan detail dan itu menjadi buku lain yang tingakatannya di bawah Al Quran karena buku hadits bukan dari Tuhan, melainkan usaha2 ulama Islam terdahulu untuk merangkum kisah-kisah maupun perkataan pembawa Al Quran (Muhammad). Buku2 hadits inilah yang di jadikan pegangan dalam melaksanakan sesuatu yang tidak terdapat dalam Al Quran dan sifatnya pun tidak Mutlak sebagaimana ayat Al Quran. Tingkatan hadits pun tidak sama, ada yang terpercaya, ada yang lemah, dan ada pula yang ternyata palsu. Namanya juga kitab buatan manusia.

      Jadi jelas Pak Wir…bahwa Pak Wir memberikan analogi yang tepat namun menerapkannya dengan cara yang salah alias tidak sesuai kenyataan.

      Suka

  8. Dear PA Wir,

    Secara Universal, perkawinan dilakukan oleh manusia untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

    Menurut Kitab Suci Kristiani, Perkawinan itu suci dan kudus di mata ALLAH.

    Namun seringkali Perkawinan “dipermainkan” untuk kenikmatan sesaat manusia itu sendiri.

    Jadi kalau perkawinan itu dilakukan dengan niatan yang tidak KUDUS (ada udang dibalik batu), maka perkawinan itu bisa jadi SAH dimata manusia namun belum tentu syah di mata TUHAN.

    Saya tidak mau terjebak dalam wacana Poligami ataupun perkawinan Siri, karena dalam Kitab Suci perkawinan itu dapat diakhiri oleh PERZINAHAN (suami/istri) dan KEMATIAN (suami/istri).

    Saya menghormati saudara kaum Muslim yang berpoligami maupun melakukan Pernikahan Siri sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing.

    Syallom…

    Suka

  9. ‘ Saya menghormati saudara kaum Muslim yang berpoligami maupun melakukan Pernikahan Siri sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing.’

    ini terdengar seperti stereotypes, personally i disagree.

    Suka

  10. Dear Pak Wir,

    Artikel Bapak bagus sekali,tentang ‘tuk menghindari zina”, saya setuju sekali juga atas tanggapan bapak akinabagas 8/3/10 .

    Ini tanggapan saya: memang dalam mengarungi bahtera perkawinan pasti ada pasang dan surut,..banyak kerikil2…tergantung bagaimana visi misi kita menjalani menjalani kehidupan perkawinan kita, bagaimana kita mengusahakan kebahagiaan, saling melengkapi, saling menghargai dengan pasangan kita. Jangan telan mentah2 istilah “rumput tetangga lebih hijau”…karena tidak ada yang sempurna pada diri kita maupun pasangan..ambil hal yang postif dari pasangan, bantu dia menghilangkan kekurangannya,jangan jadi alasan mencari yang lain..pasti nggak akan habis.jika kita selalu cari-cari kekurangan pasangan. Buang energi..kenapa tidak kita bantu pasangan kita mengembangkan diri bersama kita?..wow , passti hidup berkeluarga semakin indah..

    Jadi menurut saya, kalau sudah menentukan pilihan pasangan hidup kita, maka komitmen untuk saling membahagiakan,saling setia, saling menghormati, saling berbagi, dan “saling mengembangkan” menurut saya harus selalu dipupuk setiap saat..sampai kakek nenek….bak iklan ‘ rexona..selalu setia setiap saat’.

    O ya di atas tanggapan saya, sekarang saya ingin berbagi sedikit sharing saya dg sahabat saya, yang saya sangat kenal dia sejak lama. Dia seorang istri yang sangat pengertian dan lembut hati, karirnya bagus,tapi tidak berarti dia lupakan keluarga, karena dia bekerja untuk back up ekonomi keluarganya juga,menarik juga orangnya. Selama ini mereka hidup bahagia. Dia bangga dan sayang akan suaminya, dan mereka sudah dikarunia anak yang sehat dan manis-manis. Dia bercerita, menurut dia, “mungkin karena egonya, dia keberatan suaminya sering dibarengin pulang teman kantorya (putri),notabene lebih muda, cantik, dan luwes lagi orangnya (jadi mungkin ada rasa jealous juga). hanya berdua saja semobil, alasan karena sejalan dan dekat rumah. Mungkin karena si istri menyadari, dia sendiri haruspulang naik ompreng, karena tidak mungkin memaksa suami menjemputnya ke kantor, yang memang kelewatan route , ..tapi macet dan agak memutar utk menuju kantornya. Kondisi ini membuat perasaan istri tidak nyaman. Apalagi suatu saat dia telpon suaminya,dan minta dijemput ( saat itu suami sedang berdua di mobil,bersama temannya tadi ).Si suami keberatan karena masih kena macet di tol. Hal ini mencabik perasaan si istri yang semula masih dia pendam,dan membuat si istri jadi peka, meski dia tahu selama ini suaminya tidak “neko2”, kata orang jawa.

    Bagaimana pendapat pak wir yang lama sudah berkeluarga , menanggapi cerita sahabat saya tadi. Apakah permintaan sahabat saya ke suaminya tadi berlebih..dia tahu suaminya selama ini baik2 saja, tapi dia juga ingin preventif terhadap hal2 yang tidak diinginkan..dan tentunya dia ingin perasaannya dihargai suaminya…sederhana tapi rumit..karena menyangkut perasaan pasangan.
    Ok bapak, ditunggu sharingnya..juga dari pembaca lainnya….Terima kasih.

    salam,

    Suka

    • Perkawinan itu unik. Kiat yang cocok untuk satu orang, belum tentu juga cocok bagi orang lain. Meskipun demikian kiat bahwa suatu perkawinan itu memerlukan kondisi “saling mempercayai satu dengan yang lain” rasa-rasanya dapat diaplikasikan ke semua orang.

      Oleh karena “kondisi saling percaya” adalah suatu hal yang penting, maka bila ada masalah itu umumnya disebabkan oleh “kesalah-pahaman”. Cobalah dialog antar pribadi, dari hati ke hati antar pasangan, jangan libatkan dulu orang ke-tiga, saya yakin itu semua dapat di atasi. Adanya orang ketiga itu kadang-kadang menyebabkan masalah kecil jadi besar.

      Tapi ingat jangan ‘menangan‘ sendiri, mau ego-nya juga, coba tempatkan diri jika anda pada posisi pasangan anda, dan carilah solusi bersama.

      Suka

  11. Trims Pak Wir atas komennya…memang kalau mau diteruskan akan jadi panjang debatnya…satu poin yang perlu kita jaga (dan saya lihat dari komen Pak Wir sepertinya sesuatu itu sudah berjalan) adalah bahwa semangat dialog terbuka dengan tetap saling menghargai satu sama lain harus terus kita pupuk. saya sering berdialog dengan rekan saya yang Kristen mengenai keyakinan masing-masing. Yang penting tetap saling menghargai. Untuk bidang agama saya boleh jadi mengambil sikap peer to peer dengan Pak Wir…tapi dari sudut pandang ilmu teknik sipil, saya rasa saya harus memposisikan Pak Wir sebagai guru saya. Izinkan saya berguru ya Pak….hehehhe
    Salam Persaudaraan

    Suka

  12. O Iya Pak Wir, saya pernah baca sebuah buku (yang sangat menarik bagi saya dan saya senang mendiskusikannya dengan seorang yang highly educated semacam Pak Wir.)
    Jika Bapak pernah baca atau tertarik untuk membacanya nanti, saya ingin tahu komen bapak terhadap buku itu . Itu pun jika Bapak tidak keberatan.
    Bukunya bisa di download di sini kalau Bapak ingin tahu :

    http://rapidshare.com/files/259715477/Jesus.Interrupted-Bart.D.Ehrman.pdf

    http://rapidshare.com/files/223005689/Misquoting.Jesus-The.Story.Behind.Who.Changed.the.Bible.and.Why-Bart.D.Ehrman.pdf

    Terima kasih sebelumnya.

    Suka

    • @Maulana
      Buku apa itu pak. Kelihatannya buku yang meragukan tentang Yesus ya.

      Ha, ha, kalau melihat judulnya sih koq nggak bikin tertarik. Apa untungnya ya baca buku seperti itu. Buku yang ditulis orang yang meragukan sesuatu yang bagi orang lain sudah diyakini akan sesuatunya. Kenapa meyakini, ya karena punya kesaksian pribadi sendiri, dan kalaupun jadi minoritas, nggak ada masalah, karena sebenarnya minoritas itu akan membuat menjadi istimewa. He, he . . . Peace.🙂

      Suka

  13. Pak Wir, kebenaran itu harus selalu di cari, karena yang menurut kita benar belum tentu itu benar. Saya pun demikian, selalu saya baca buku tentang keyakinan saya dan keyakinan orang lain dan rasanya semua orang berpendidikan harus selalu bersikap ingin cari tahu, tidak peduli apapun agamanya. Karena jika sudah merasa benar tanpa berusaha mencari tahu, terlebih jika sudah disodorkan “sesuatu” yang luar biasa (saya katakan luar biasa karena buku itu di tulis oleh seorang yang keahliannya bisa di acungi jempol two thumbs up alias ahli di bidangnya).

    Mungkin Pak Wir merasa lebih tahu dari sang penulis buku…silahkan saja.

    Analoginya: Sebagai seorang ahli teknik sipil tentu Pak Wir akan tertarik jika ada yang menulis buku tentang pushover analysis yang berlainan dengan teori pushover yang selama ini Pak Wir tahu. Namun jika Pak Wir merasa lebih tahu tentang Pushover…okelah kalau begitu…itu memang keahlian bapak.

    Tapi dalam masalah ke-Kristenan apakah Pak Wir sudah sedemikian mumpuni hingga merasa sudah merasa menganut kebenaran yang tak bisa digugat?🙂

    Suka

    • Tapi dalam masalah ke-Kristenan apakah Pak Wir sudah sedemikian mumpuni hingga merasa sudah merasa menganut kebenaran yang tak bisa digugat?

      He, he, ketahuan deh. Mau diskusi agama ya. Baik kalau begitu, saya perlu menjawab.

      Siapa mengira saya tidak mumpuni dengan pengetahuan agama yang saya anut. Seperti halnya design engineering yang saya buat. Jika saya tidak mumpuni maka jelas design tersebut tidak akan berani saya laksanakan. Bunuh diri itu namanya kalau sampai terjadi keruntuhan. Itulah mengapa saya belajar tentang bidang engineering sehingga harapannya dapat semakin mumpuni.

      Design engineering hanyalah masalah profesi, agama lebih dari itu, karena mengatur kehidupan saya secara keseluruhan. Lihat visi dan misi yang saya toreh di pojok kanan atas. Itu dihasilkan dari pemahaman saya tentang agama.

      Artinya jika untuk profesi saja, saya berusaha untuk menjadi mumpuni, maka jika itu menyangkut kehidupan saya secara total maka tentu saja saya akan berusaha keras untuk menjadi lebih mumpuni.

      Kenapa anda meragukan saya?

      Ya, mungkin karena saya tidak gembar-gembor menyatakan tentang agama saya. Kenapa ?

      Karena saya sudah mantap, tanpa perlu orang lain untuk menemanipun saya tetap melangkah pada jalan tersebut. Kalaupun ada yang mau sejalan, syukurlah karena ternyata tujuannya sama.

      Pernyataan anda di atas kesannya mirip dengan orang-orang yang gembar-gembor menyatakan keyakinannya adalah yang benar, yang lain adalah salah. Mungkin saja mereka bermaksud memperingatkan “orang agar tidak terperosok”. Kelihatannya niatnya positip, tetapi saya melihatnya lain. Kesan yang saya tangkap, bahwa orang-orang tersebut ragu akan apa yang sedang dijalaninya jadi ‘takut sendirian’.

      Kenapa takut sendirian, ya seperti naik gerbong kereta api, sudah naik koq kosong. jadi timbul pertanyaan: “ini gerbongnya koq kosong, jadi berangkat atau tidak sih“. Jadi kalau gerbongnya rame, khan ayem, ada temannya. Jadi berkesan itu benar. Jadi kalau begitu kasarnya adalah “anda berusaha mencari teman sejalan”.

      Kenapa ? Ragu ya.

      Ingat !

      Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.
      [Roma 14:5].

      Kenapa harus sendiri ?

      Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberikan pertanggung-jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.
      [Roma 14:12].

      Jadi begitulah mas Maulana. Seperti halnya bidang engineering, yang mana saya yakin seyakin-yakinnya bahwa hasil design saya akan dapat bekerja dengan baik, sehingga saya tidak takut untuk melaksanakannya di lapangan. Demikian juga dengan keyakinan agama yang saya lakukan, saya yakin-seyakinnya itu akan mengantar saya ke tujuannya.

      Jadi kalau ada orang bilang saya tidak mumpuni, dengan keyakinan yang saya jalani.
      . . . . . . maka . . . . . .
      he, he, he, . . . “emangnya gue pikirin“.🙂

      by the way. Jika buku yang anda sarankan itu ternyata membuat iman anda lebih baik. Syukurlah. Bacalah terus. Jika iman anda mantap, saya yakin anda akan bersibuk diri membuat dunia ini aman, damai dan sejahtera; dan bukannya membuat orang lain ragu terhadap apa yang diyakininya.

      Suka

  14. Terima kasih Pak Wir atas tanggapannya.

    Saya mau klarifikasi dulu bahwa saya tidak pernah menyembunyikan niat saya untuk mendiskusikan agama…dari posting saya terdahulu sudah saya kemukakan hal itu bahwa saya sering berdiskusi dengan teman saya yang Kristen (semoga Pak Wir ingat).

    Saya tidak akan meragukan jika memang Pak Wir mengklaim sudah cukup mumpuni dalam masalah ke-Kristen an ….tapi rasanya kalau sekedar klaim tanpa ada kriteria yang di patok, maka cuma jadi debat kusir. Kita tentukan saja kriterianya :

    Menimbang Bahwa : kitab suci suatu agama adalah dasar pokok dari ajaran agama itu sendiri yang mengatur semua kehidupan sesorang secara keseluruhan (seperti sudah di kutip Pak Wir)
    “Design engineering hanyalah masalah profesi, agama lebih dari itu, karena mengatur kehidupan saya secara keseluruhan.” dan bahwa untuk menjadi mumpuni dalam ajaran agama tersebut seseorang harus mengetahui kitabsuci tersebut seluas-luasnya terutama pengetahuan tentang kitab suci itu dalam bahasa aslinya.

    Memperhatikan Bahwa : Kitab Suci umat Kristiani adalah Bible.

    Memutuskan Bahwa : Tingkat kemumpunian seorang kristiani dalam hal ke-Kristenan dapat di peringkatkan sesuai pengetahuan mereka akan Bible, terutama penguasaan mereka akan bahasa asli bible itu sendiri.

    Sekarang sudah jelas bahwa kriterianya adalah pengetahuan terhadap Bible dalam bahasa aslinya.
    Pak Wir merasa lebih tahu bible dalam bahasa aslinya? MONGGO Pak, saya akan beli dan baca jika bapak menulis buku tentang Kristen.

    Klarifikasi kedua saya: Saya tidak mengatakan saya ragu terhadap keyakinan saya…dan dalam berdiskusi saya rasa tidak lucu kalau salah satu pihak atau bahkan kedua pihak menyatakan keraguan akan pendapatnya. Dan Pak Wir juga
    mengatakan

    “by the way. Jika buku yang anda sarankan itu ternyata membuat iman anda lebih baik. Syukurlah. Bacalah terus. Jika iman anda mantap, saya yakin anda akan bersibuk diri membuat dunia ini aman, damai dan sejahtera; dan bukannya membuat orang lain ragu terhadap apa yang diyakininya.”

    Saya rasa tujuan diskusi salah satunya adalah membuat pihak satu menerima pendapat pihak lain. Sebelum akhirnya menerima pendapat pihak lain, tentu diawali dengan keraguan terhadap pendapatnya sendiri. Jadi memang tujuan diskusi bisa dikatakan untuk membuat orang lain ragu terhadap pendapatnya sendiri.Tidak ada yang aneh dengan hal itu selama diskusi berjalan dengan argumen yang baik dan saling menghormati satu sama lain.Tidak juga dengan cara memanfaatkan kekurangan/kesusahan orang lain untuk merubah keyakinan mereka.

    Pada akhirnya saya ingin katakan: Pak Wir telah berusaha mengutip ayat-ayat Bible pada saya, Padahal buku yang saya referensikan secara tegas menyatakan bahwa Bible tidak bersifat Divine dan diragukan kemurniannya sehingga karena mengandung banyak kesalahan dalam penulisanya baik secara sengaja maupun tidak. Buku itu merupakan pukulan telak terhadap pondasi ke-Kristenan karena menyerang langsung ke sumbernya / Bible. Jika pondasinya sudah rapuh, maka bangunannya sedikit lagi runtuh tuh Pak Wir. Mudah-mudahan gak ada gempa besar ya.
    Terima kasih

    Suka

    • @Maulana

      Buku itu merupakan pukulan telak terhadap pondasi ke-Kristenan karena menyerang langsung ke sumbernya / Bible.

      Syukurlah, jadi anda mendapat dukungan bahwa apa yang anda yakini sudah betul, sedangkan yang diyakini orang lain salah.

      Suka

  15. Damai… agama bukan hanya untuk di pelajari tapi jg untuk diamalkan… apapun yang kita kerjakan Allah SWT yg tau. tapi Tuhan yang mana yg benar… hal tsb tserah anda. piece.

    Suka

  16. Damai… agama bukan hanya untuk di pelajari tapi jg untuk diamalkan… apapun yang kita kerjakan Allah SWT yg tau. tapi Tuhan yang mana yg benar… hal tsb tserah anda. piece.

    Suka

  17. Senang membacanya..
    Diskusi oleh beberapa pihak akan menghasilkan persetujuan bersama atau satu suara, satu definisi jika:
    terminologi kata kata yang digunakan semua pihak adalah memiliki definisi yang sama.
    Contoh dasar: sebuah balok arang A (dulu sebagai bahan energi untuk menyetrika di rumah rumah). Pihak X menggunakan kata kata sebagai berikut: : balok arang A warnanya adalah hitam (general accepted), pihak Y menggunakan kata kata ” balok arang A berwarna kuning” (general rejected).

    Apa yang dimaksud dengan general accepted? general rejected?
    Apakah karena pihak Y memiliki populasi sekian persen di planet bumi sehingga pihak Y dengan yakin menyatakan itu berwarna kuning?
    Atau apakah karena pihak X meniliki populasi sekian persen di planet bumi ini,sehingga mereka menyatakan itu berwarna hitam?

    Intinya adalah, terjadi Manipulasi. hitam adalah hitam (generally accepted) dan kuning adalah kuning (generally accepted). Terlebih dengan kemajuan peradaban, dengan bantuan pemahaman komputer graphic, maka case diatas dapat ditelanjangi, pihak mana yang memanipulasi.

    terkait the way of life , saya yakin, step by step, seusia dengan pencerahan pikiran maupun kemajuan science, maka pihak yang memanipulasi akan semakin jelas terlihat.

    Semoga membantu, berfikir secara basic untuk membedah suatu case.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s