link-and-match


link and match

Suatu istilah yang menarik, karena istilah tersebut dapat dikonotasikan dengan berbagai hal, seperti misalnya untuk mengaitkan tentang dunia teori dengan dunia praktek, tentang dunia idealis dengan dunia nyata, tentang dunia pendidikan dan dunia kerja (industri), juga tentang masyarakat awam dengan golongan pakar, dan sebangsanya.

Jika kita berbicara tentang dunia pendidikan, maka tentu istilah tersebut ingin dikaitkan tentang teori yang dipelajari dan prakteknya di lapangan. Jadi link-and-math adalah sesuatu hal yang penting dipikirkan atau diterapkan di jurusan teknik sipil, agar ilmu yang diberikan di lembaga pendidikan tersebut mempunyai dampak nyata bagi alumninya, yaitu civil engineer. Maklum civil engineer memang bertugas untuk mewujudkan rencana (ide) menjadi sesuatu hal yang nyata atau real, baik itu berupa suatu bangunan fisik atau sistem yang mempengaruhi alam lingkungan.

Bagaimana cara jurusan teknik sipil UPH mewujudkan link-and-match di lembaganya.

Langkah pertama adalah tentu menetapkannya dalam silabus mata kuliah yang diberikan di jurusan tersebut. Cara ini pastilah secara umum di hampir semua lembaga pendidikan. Bacalah silabusnya, pasti hampir semuanya mengatakan bahwa materi kuliah yang diberikan relevan dengan masa depannya nanti di dunia kerja. Link and match.

Apakah pasti seperti itu pak ?

Yah mestinya begitu, khususnya bagi penyusun silabus yang proaktif. Bagaimanapun silabus mata kuliah adalah hal yang pertama untuk dilihat apakah materi pembelajaran yang diberikan adalah up-to-dated, sesuai dengan kebutuhan pasar.

Jadi susah juga pak nyusun sillabus.

Ah nggak juga. Khan bisa aja nyontek dari tempat lain. Tinggal copy and paste, lalu sedikit di modifikasi disesuaikan dengan kondisi yang ada, betul khan.

Wah kalau begitu untuk tahu link-and-match yang benar jadi nggak mudah ya pak.

Ya begitulah, gampang-gampang susah. Membaca silabus memang berguna, minimal ada dokumen tertulis yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan tersebut berkomitmen untuk suatu hal tertentu yang dapat dikaitkan dengan link-and-match, tetapi apakah pelaksanaannya sudah seperti itu atau tidak, itu memang sangat tergantung pada orang-orang yang bertanggung-jawab melaksanakannya. Para dosen tentunya, bagaimana mereka menginterprestasi silabus dan mengaplikasikannya pada perkuliahan yang mereka berikan.

Jadi dalam hal ini kata kuncinya adalah [1] silabus mata kuliah yang berorientasi link-and-match; dan [2] dosen yang mengaplikasikan silabus tersebut. Kedua-duanya harus saling menunjang.

Gimana contohnya pak.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sillabus dan materi kuliah yang diberikan harus selalu up-to-dated. Nggak jamannya lagi, materi kuliah yang diberikan adalah sama dari tahun ke tahun. Memang sih, untuk itu dosennya jadi repot. Apalagi jika dosennya adalah dosen tidak tetap, yang dibayar hanya jika yang bersangkutan datang mengajar. Pasti deh, kalau tidak ada idealisme yang lebih besar dibanding honorarium yang diterima maka dapat dipastikan materinya itu-itu saja, yang penting sudah memenuhi standard minimum sesuai dengan sillabus yang ada. Memang sih, belum ada evaluasi secara khusus dari jurusan untuk mengetahui apakah materi yang diberikan dosen sudah up-to-dated atau tidak. Tentang ilmunya, dosennya akan lebih tahu dibanding ketua jurusan, khususnya jika bidang konsentrasi yang digeluti berbeda, misal kajurnya keahliannya strength of material, disuruh mengevaluasi materi hydrolic, secara luarnya mungkin bisa, tetapi kedalamannya pastilah nggak semudah itu.

Lalu bagaimana dong pak.

Memang begitu, untuk menyatakan bahwa telah link-and-match secara umum adalah tidak gampang, tetapi kalau secara lokal, setempat, sesuai dengan pengalaman dosen maka jelas itu bisa. Sebagai contoh, semua materi yang aku berikan kepada mahasiswaku pada dasarnya bisa aku pertanggung-jawabkan bahwa itu berguna bagi mereka di masa depan. Bahkan mata kuliah analisa struktur klasikpun dapat saya susun argumentasi kegunaannya bagi mahasiswa meskipun dalam prakteknya di dunia nyata analisa sturktur klasik sudah tidak dipakai lagi.

Lho gimana gitu pak, sudah nggak dipakai lagi koq masih diberikan. Apa itu tidak salah pak.

Itulah yang aku bilang bahwa semua materi yang kuberikan adalah dapat link-and-match, bahkan analisa struktur klasik, yang nantinyapun tidak lagi dipakai di dunia industri karena sudah digantikan komputer, masih dapat aku berikan argumentasi mengenai pentingnya tetap diberikan di level pendidikan tinggi. Nggak percaya, silahkan saja baca sendiri paperku ini

Dewobroto, W. (2005c). “Masih perlukah mempelajari Mekanika Teknik Klasik dalam Era Serba Komputer ?”, Presentation and Proceeding at the Lokakarya Pengajaran Konstruksi Beton dan Mekanika Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, 13-14 July 2005. (down-load PDF 180 kb)

Serius khan. Terus terang materi-materi kuliah yang kuberikan selama ini pada dasarnya adalah datang dari pemahamanku pribadi, jarang aku menggunakan materi dari orang lain. Bahkan bisa berbeda. Maklum, kalau materi tersebut belum mengendap, aku terus terang belum berani menjadikannya sebagai bahan ajar. Itu penting, karena jika sudah mengendap maka ketika mahasiswa bertanya maka aku dapat dengan santai menanggapinya. Percaya diri begitu.

Itu tadi tentang materi analisa struktur, untuk materi tentang bahasa pemrograman-pun juga demikian. Dosen-dosen sebelum aku, mereka memberikan berdasarkan bahasa Fortran. Ketika aku mendapat tugas untuk memberikan materi tersebut maka aku menggantinya menjadi bahasa Visual Basic. Pertama-tama sih waktu itu ada yang meragukan, bahkan membawa hal tersebut pada rapat dosen, kebetulan waktu itu ada dosen yang bergelar doktor dari USA yang terpancing menanggapinya, beliau secara tidak sadar menceritakan pengalamannya bahwa bahasa pemrograman untuk teknik sipil adalah juga Fortran. He, he, waktu itu aku ngotot, ya sudah aku bisanya VB, kalau Fortran ya silahkan saja berikan ke dosen tsb. Untunglah ada yang bela, selain itu kebetulan aku dosen tetap, dan si doktor tsb dosen tidak tetap, jadi jika diberikan kepada yang tidak tetap maka tentu perlu anggaran lagi, akhirnya ya tetap diberikan kepadaku materi bahasa pemrograman. Memang sih waktu itu masih ada keraguan, maklum materiku tidak didukung pendapat si doktor dari usa tadi. Tetapi itu tidak berlangsung lama, setelah bukuku yang pertama terbit, yaitu :

buku wiryanto pertama

Aplikasi Sain dan Teknik dengan Visual Basic 6.0
ISBN 979-20-4304-7
Penerbit PT Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia, Jakarta

maka rasanya sekarang teman-teman di Jurusan Teknik Sipil UPH tidak ada lagi yang meragukan, bahwa bahasa pemrograman Visual Basic juga layak diberikan sebagai bahasa pemrograman bagi mahasiswa teknik sipil.

Kenapa bapak koq bisa yakin seperti itu.

Lagi-lagi itu karena link-and-match. Kebetulan aku hobby komputer, sejak sebelum lulus S1 aku sudah mengotak-atik pemrograman komputer. Waktu itu sekitar tahun 1987 sewaktu komputer masih sedikit, skripsi yang aku buat adalah tentang aplikasi analisa stuktur 3D cara matrik dengan bahasa pemrograman Turbo Basic. Lengkap dengan grafiknya segala lho, padahal semuanya itu aku pelajari dari buku-buku saja. Maklum karena waktu itu itu buku-bukunya kebanyakan memakai bahasa pemrograman Fortran, maka aku sudah memulai mengkonfersikan ke bahasa Turbo Basic. Ternyata nggak ada masalah tuh, dari bahasa Fortran juga bisa dialihkan ke Turbo Basic.

Selanjutnya aku tidak hanya bergelut pada Turbo Basic saja, waktu ambil S2 di UI dibawah bimbingan prof. Katili aku ambil juga masalah pemrograman tentang masalah non-linier, bahasa pemrograman waktu itu yang kugunakan adalah Microsoft Fortran. Jadi kalau mau dibilang, aku juga familiar dengan Fortran.

Kemudian ketika didunia industri, banyak juga program-program komputer yang kubuat untuk membantu tugas-tugasku, waktu itu bahasa pemrograman favoritku adalah Turbo Pascal.

Dari pengalaman-pengalaman yang kualami tersebut aku sebenarnya ingin bilang : jika satu program sudah bisa dikuasai, sudah tahu logika-logika kerjanya maka masuk pada pemrograman yang lain rasanya lebih mudah. Jadi motivasi mengapa aku memilih visual basic adalah agar mahasiswa-mahasiswa, yang notebene mengenal pertama kali bahasa pemrograman, dapat menyenanginya. Jika sudah senang, maka harapannya dia mampu menguasainya, jika sudah menguasai satu bahasa pemrograman maka berpindah ke bahasa yang lain maka itu tinggal soal kemauan. Itu dasarnya.

Wah sudah ada dua mata kuliah yang mandiri ya pak.

Koq hanya dua, aku bilang semua mata kuliah yang aku berikan pada dasarnya mandiri. Itu baru dua yang aku ceritakan, ada juga mata kuliah “Komputer Rekayasa Struktur” (2 sks), itu juga adanya hanya di UPH, khususnya waktu dulu dibuat, yaitu untuk mengakomodasi kompetensiku di bidang analisa struktur dengaan komputer. Untuk menepis keraguan orang terhadap kompetensi yang kupunyai maka kususun buku yang mendukung mata kuliah tersebut. Buku tersebut sangat populer lho ternyata setelah diterbitkan, kamu khan pasti sudah tahu khan. Ini buku yang kumaksud.

Kedepannya ada materi kuliah yang belum aku sampaikan kepada publik melalui publikasi, yaitu Struktur Baja. Maklum mata kuliah tersebut sekarang di UPH sepenuhnya telah menjadi tanggung jawabku. Jadi suatu saat nanti, aku juga wajib menyampaikan dampaknya ke publik. Dari situ akan kelihatan apakah jurusan teknik sipil UPH telah dapat berkembang secara mandiri dan bahkan dapat dijadikan rujukan, atau tidak.

O ya, tentang link-and-match ada satu mata kuliah lagi yang pas untuk mendukung hal tersebut. Mata kuliah yang dimaksud adalah Kerja Praktek. Di sini peran link-and-match-nya rasanya lebih aktif, mahasiswa-mahasiswa yang mengambil mata kuliah diminta secara aktif melihat dan terjun ke lapangan. Dengan proses pembimbingan maka mahasiswa diminta untuk mengakses informasi-informasi yang terjadi di dunia konstruksi, khususnya yang dapat dilihat oleh indera, selanjutnya hasilnya setelah ditulis dalam bentuk Laporan Kerja Praktek lalu dipresentasikan dihadapan dosen-dosen senior UPH, sebanyak tiga orang. Disitulah terjadi interaksi, mahasiswa dengan wawasan lapangan terkini dan dosen dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Pertanyaan baik yang karena tidak tahu atau karena ingin menguji akan dijawab secara jelas oleh mahasiswa, jika argumentasi mahasiswa menyakinkan maka nilai baik, sekaligus dosennya mendapat informasi baru. Itu khan win-win solution sekaligus link-and-match. Ditempat anda, sudah begitu belum.

Ada satu hal yang menarik dari hasil pemaparan mahasiswa kerja praktek kemarin, yaitu ketika ada yang kerja praktek di salah satu proyek apartemen di Jakarta. Mahasiswa yang bersangkutan sedang menceritakan detail pemasangan cladding dari beton pra-cetak. Foto-foto yang ditampilkan tentang pemasangan cladding cukup detail. Tetapi karena cukup detail maka Prof. Harianto sampai pada satu kesimpulan bahwa penggunaan cladding untuk bangunan tinggi sudah ada di Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu, yaitu untuk proyek Ratu Plaza. Kontraktornya pada waktu itu adalah dari Jepang, Kajima. Jadi jika dibandingkan antara proyek yang beberapa puluh tahun yang lalu dengan yang dilaksanakan sekarang maka pemasangan cladding saat ini dapat dikatakan lebih ‘kasar’, atau tepatnya kemunduran. Gimana lagi, jika dulu sambungan cladding ke struktur utama memakai baut, lalu di tiap cladding dipasang tali air, juga di pinggirnya ada sekat karet, maka sekarang pemasangannya langsung di las (sambungan kaku), lalu adanya celah langsung saja ditimpa dengan sealant.  Komentar prof. Harianto sih, bahwa cara yang dipakai sekarang kalau ditinjau dari segi kekuatan maka dapat dikatakan ok, tetapi karena dipasang las, sehingga kaku, maka ketika terjadi pergerakan (karena gempa) maka kemungkinan terjadinya retak adalah tinggi. Retaknya mungkin tidak mengganggu kekuatan, tetapi itu rawan menimbulkan  kebocoran. Jadi dengan detail yang kasar tersebut maka pelaksanaannya memang lebih murah, tetapi ongkos perawatan untuk jangka panjang akan lebih tinggi.

Tentang hal tersebut gurauan prof Harianto, adalah bahwa kontraktor khan nggak peduli, toh masalah baru akan terjadi jika waktu jaminan telah selesai. Kalau begitu khan jadi masalahnya owner.

Oleh karena itu waspadalah para owner, jika yang dipilih yang murah saja pada saat pelaksanaannya, maka bisa-bisa tidak murah dikemudian hari karena biaya perawatannya yang tinggi. O ya, foto-foto cladding yang kumaksud tidak kutampilkan karena dengan komentar prof. Harianto tersebut ternyata tidak membanggakan.😦

Catatan : Prof Harianto tahu betul pembangunan pada proyek Ratu Plaza, maklum pada waktu muda dulu sebelum mengambil Ph.D-nya, beliau khan terlibat bekerja pada proyek tersebut.

14 thoughts on “link-and-match

  1. Sayang sekali pekerjaan sambungan cladding mengalami “kemunduran” sejak beberapa puluh tahun lalu pada saat pembangunan ratu plaza. kokoh tapi tidak fleksibel.

    Informasi yang sangat mencerahkanku pak. Tks.

    Suka

  2. Site yangn luar biasa!
    terima kasih untuk mau membagi ilmu……semoga semangat ilmu pengetahuan untuk semua terus terpelihara!

    Suka

  3. dear sir, gak sabar jadinya menunggu hasil karya Bapak berupa buku Struktur Baja. Semoga dpt menjadi Segui-nya Indonesia. Mohon infonya Pak kl sdh diterbitkan. GBU Sir

    Suka

    • @ r_son
      Buku struktur baja belum terpegang sama sekali, saat ini yang sedang ‘dimasak’ adalah buku ttg jembatan Indonesia. Saya tulis bersama ‘orang-orang dari pemerintah, yang dapat dianggap sebagai owner-nya jembatan Indonesia’. Saat ini sedang tahap refine dan translasi ke bhs Inggris. Mohon dukungan doanya ya.

      Suka

  4. dear Sir, semoga buku ttg jembatannya segera selesai. ada info kpn launching-nya Pak? yg jelas, saya pribadi berharap setlh buku jembatan selesai, Bapak langsung punya waktu dan kesempatan utk nulis buku struktur baja (ngarep mode ON hehehe).. sukses selalu Pak. GBU

    Suka

  5. Saya juga lagi mencari buku Buku “Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP200o”-nya pak Wir, tapi di gramedia sudah kehabisan stok, gimana saya bisa tahu kalau nanti bukunya sudah diterbitkan lagi ?.Trim’s Pak Wir atas jawabanya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s