diskusi tentang code


Istilah code yang dimaksud adalah standard atau peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah atau suatu institusi profesi yang perlu dan harus diikuti dalam suatu perencanaan, dalam hal ini adalah perencanaan struktur, seperti misalnya :

  • 318M-08 : Metric Building Code Requirements for Structural Concrete & Commentary
  • ANSI/AISC 360-05 : An American National Standard Specification for Structural Steel Buildings
  • SNI 03 – 1729 – 2002 : Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung

Tentu saja ini tidak terbatas pada ketiga materi tersebut di atas, masih banyak yang lain. Sebagai seorang profesional di bidang structural engineering, tentu menjadi pertanyaan, code-code apa yang perlu dikuasai.

Kalau bisa semuanya tentu lebih bagus.

Tetapi pada kenyataannya, menguasai satu atau dua secara serius saja kadang-kadang tidak mudah, karena ternyata itu berdampak pada pengetahuan-pengetahuan lain yang harus dikuasai. Seperti misalnya code perencanaan untuk struktur beton Indonesia, yang lama PBI 1971 dengan yang baru SNI 2002, ternyata keduanya berbeda, yang satu menerapkan cara elastis, sedangkan yang terbaru mengacu pada perencanaan ultimate. Cara mendefinisikan pembebanan saja sudah berbeda. Jadi dalam penggunaannya tidak bisa dengan mudah dicampur atau dikombinasikan. Oleh karena itu mempunyai pengetahuan keduanya dengan sama kuatnya, maka bisa-bisa bingung nantinya.

Untuk itu, perlu dipilih salah satu code yang secara khusus dipelajari dan dikuasai, adapun code-code yang lain secukupnya saja sebagai perbendaharaan bila nanti ketemu suatu perencanaan yang membutuhkan memakai code tersebut.

Jadi code apa yang sebaiknya dipelajari / dikuasai.

Jika kita bekerja pada suatu konsultan rekayasa, maka code yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya sudah ditentukan oleh client. Jika client-nya awam, dan diserahkan kepada konsultan, maka selanjutnya code yang dipakai ditentukan berdasarkan aturan birokrasi yang berlaku. Seperti misalnya untuk perencanaan gedung tinggi di Jakarta, yang mana Laporan Perencanaannya dievaluasi oleh TPKB, maka untuk itu gunakan code-code, yang umum mereka pahami. Pertama-tama tentu code-code atau standard lokal yang tersedia, yaitu SNI. Baru setelah diketahui ada kasus yang tidak ada tercover oleh code lokal maka digunakan code luar (asing) yang populer. Di sini, di Indonesia, code asing yang populer adalah dari Amerika, misalnya ACI untuk struktur beton, AISC untuk struktur baja dan ASTM untuk materialnya.

Bagaimana dengan pemilihan code yang akan digunakan dalam pembelajaran di perguruan tinggi ?

Seperti diketahui, pembelajaran pada mata kuliah struktur kayu, struktur beton atau struktur baja, maka strategi perhitungan yang perlu dilakukan sangat ditentukan oleh code yang digunakan. Seperti tadi, jika digunakan code Indonesia yang lama tentang beton, yaitu PBI-71, maka perencanaan beton didasarkan pada cara elastis, atau cara N. Tetapi jika digunakan code yang baru, yaitu SNI 2002 maka cara perencanaan yang digunakan adalah cara elastis. Jelas dengan menetapkan suatu code yang berbeda, maka materi selanjutnya yang diajarkan akan berbeda pula. Jadi menentukan code yang digunakan dalam pembelajaran juga sangat penting dan tidak bisa diabaikan.

Dengan alasan link-and-match maka tentunya pemilihan code sewaktu belajar di perguruan tinggi diharapkan selaras dan saling mendukung untuk bekerjanya nanti. Apakah itu berarti bahwa code yang digunakan harus sama. Nah disinilah bisa saja terjadi perbedaan, bisa-bisa satu dosen dengan dosen yang lain, bisa berbeda. Kebetulan saya dosen struktur beton, dan sekaligus struktur baja. Untuk struktur beton, saya bersama-sama dengan Prof. Harianto, sedangkan untuk struktur baja saya mandiri (sendirian).

Untuk struktur beton materi apa yang diajarkan kelihatannya lebih mudah, lebih jelas. Pertama-tama dikarenakan code beton kita relatif maju. Juga pakar-pakarnya relatif jelas. Ingat tidak, kita telah mengenal Prof Rooseno sebagai bapak Beton Indonesia, yang selanjutnya gelar tersebut sekarang paling cocok diberikan kepada Prof. Wiratman, yang notebene salah satu penggagas code beton PBI-71.

PBI-71 saja dulu relatif lengkap, code tersebut mengacu pada code-code eropa. Kalau tidak salah beton kalender-nya Jerman (tentunya versi yang lama dong). Selanjutnya sudah disepakati bersama untuk diubah dari PBI-71 ke SNI-2002 yang kiblatnya bukan lagi eropa tetapi amerika. Itu dipahami karena publikasi-publikasi hasil kegiatan asosiasi beton amerika yaitu ACI terlihat lebih dominan, dan banyak dikoleksi oleh perpustakaan di perguruan tinggi, misalnya saya pernah membaca ACI Journal di UNTAR (dulu sewaktu masih bekerja di PT. Wiratman yang mana pada sore harinya jadi asisten dosen di UNTAR), juga di perpustakaan LIPI. Tidak itu juga, di toko-toko buku pada waktu itu cukup banyak dijumpai buku-buku struktur beton terbitan amerika, atau yang mengacu amerika, seperti Nilson, Ferguson, Wang and Salmon, dan saya masih banyak lagi. Sedangkan buku-buku beton yang berkiblat ke Eropa relatif jarang, kalaupun ada paling-paling yang mengacu ke BS (British Standard), kalau yang Jerman atau Belanda pada nggak tahu bahasanya. Selaini tu mungkin juga disebabkan nilai mata uang dollar relatif lebih murah dibanding mata uang poundsterling, maksudnya buku-buku dari Inggris lebih mahal dari buku-buku dari Amerika.

Menurut saya kondisi di ataslah yang mendukung perubahan code dari PBI-71 ke SNI-1999/2002 berlangsung lancar dan dapat didukung oleh semua pihak. Kami (saya dan prof Harianto) juga sepakat, padahal kalau mau dipikir-pikir beliau khan lulusan Jerman, maka mestinya jika hanya mengacu pada kebiasaan saja maka code DIN (misalnya Beton Kalender) dari Jerman mungkin lebih dikuasainya.

O ya, ada yang lupa, SNI-1999/2002 dapat diterima dengan mulus juga karena para penyusunnya dapat secara low-profile mau merujuk langsung kepada code Amerika, yaitu ACI 318M. Waktu itu kalau tidak salah para penyusun kita hanya merubah faktor beban yang mana katanya disesuaikan dengan code Amerika lain yang paling updated yaitu ASCE, yang lain sama persis. Jadi nggak neko-neko.

Karena tahu bahwa code kita adalah sama dengan code Amerika, maka jelas sudah literatur-literatur pendukungnya adalah sudah pasti yaitu dari ACI (American Concrete Institute) dan juga publikasi-publikasi lain yang terkait. Sebagai dosen maka jika ada bagian-bagian dari code beton kita yang tidak jelas, maka solusinya mudah. Cari saja di ACI. Beres.

Jadi dapat dikatakan materi mata kuliah struktur beton di UPH sudah nasionalis sekaligus internasionalis, ya karena itu tadi pakai code lokal yang isinya sama juga dengan code internasional. Penelitian dan pengajaran dapat berjalan lancar. Apalagi didukung oleh diadopsinya metode Strut and Tie Model (STM) oleh code Amerika, metode tadi merupakan hasil pengembangan prof Jorgh Schlaich, yang notabene adalah promotor prof Harianto di Uni Stuttgart dulu.  Metode STM sudah dimasukkan dalam appendix ACI 318-2002.

Struktur beton beres, pakai code Amerika. Anda belum punya, download aja dari link yang saya tampilkan di halaman CODE blog ini. O ya, saya baru saja up-load China Code, oleh-oleh ketika berkunjung ke negeri tirai bambu tempo hari.

Lalu bagaimana dengan mata kuliah struktur baja, apakah strategi yang digunakan juga sama, yaitu code Indonesia (SNI) dan code Amerika (AISC).

Ternyata kondisinya berbeda. Cara perencanaan SNI dan AISC tidak sama, berbeda, code Indonesia tersebut ternyata tidak sekedar suatu penerjemahan. Ada materi-materi yang berbeda, khas.

Bagus dong pak.

Saya awalnya juga berpikir demikian. Bagus. Tetapi kalau untuk mengajar khan harus tahu lebih dalam, sampai filosofi-nya. Jadi tidak hanya sekedar ngitung.

Terus terang kalau soal hitung-hitungan pada suatu perencanaan, apakah itu struktur beton atau struktur baja, aku tidak terlalu memberi porsi besar dalam mengajarkannya. Di depan kelas, aku lebih banyak cerita tentang falsafah, mengapa di code koq begitu, apa latar belakangnya. Memang sebelumnya aku memberi tahu skenario suatu metode perhitungan yang digunakan. Untung, di UPH tatap muka diberikan dua kali untuk suatu mata kuliah yang dianggap penting, seperti struktur beton atau baja. Kecuali aku, maka ada tatap muka lain yang diberikan oleh asisten dosen dengan pokok materi mengerjakan soal-soal latihan.

O ya, aku belum cerita mengapa aku tidak suka ngajar hitung-hitungan, karena menurutku itu gampang, itu ada di buku, bisa latihan sendiri. Selain itu juga itu memang bagiannya asisten dosen, seperti tadi. Juga kukatakan bahwa nanti, sebagai engineer mengenai hitung-hitungan memang kita harus ngerti, tetapi menurutku lebih dari itu harus tahu mengapa hitungan begitu, falsafahnya. Itulah mengapa aku memberikannya. Kecuali itu, biasanya kalau soal hitung-hitungan, yang bersifat rutin maka aku sudah punya programnya.

Karena aku juga harus mempelajari falsafah bagaiman suatu rumusan digunakan oleh code maka dengan code baja kita (SNI 03-1729-2002) aku kesulitan untuk melacak sumber-sumber pustakanya. Darimana rumus itu berasal. Karena itu pula saya kira terbitan yang membahas baja relatif jarang ditemui. O ya, ada satu buku baja karangan pak Agus Setiawan terbitan tahun 2008 yang dibawah judulnya dengan tegas-tegas menonjolkan kata “Berdasarkan SNI 03-1729-2002“.  Terbitan Erlangga.

Jadi kalau begitu nggak ada alasan dong pak kalau literaturnya kurang.

Yah memang ada sih. Tetapi untuk bisa mengerti dengan benar khan kadang-kadang perlu banyak buku. O ya, aku membeli buku pak Agus tadi dengan asumsi akan saya adopsi untuk perkuliahan. Hanya saja karena background pengalaman kompetensi struktur baja saya dulu adalah berbasis AISC  (American Institute of Steel Construction), jadi ketika saya membeli buku baru yang lain, khususnya karangan William T. Segui yang terbaru (2007) dan juga Louis F. Geschwinder (2008) yang berbasis AISC LRFD 2005, maka saya langsung menyimpan bukunya pak Agus. Gimana lagi, bukunya Segui dan Geshwinder lebih mudah dipahami.😐

Buku-buku koleksi pribadiku yang menjadi bahasan di artikel ini

Dengan kejadian seperti itu maka aku sekarang dapat secara mantap mengatakan bahwa pada mata kuliah struktur baja (1, 2 dan 3 ) di UPH aku mengajar berdasarkan code Amerika dan sama sekali tidak membahas code Indonesia. Biarlah nanti kalau dia (murid-muridku) sudah mantap, baik dari sisi filosofi maupun detail perhitungannya dengan cara AISC kalaupun diminta memakai code yang lain (SNI) dapat dengan mudah menyesuikan diri.

Lho jadi SNI baja tidak dipakai sebagai bahan kuliah to pak. Nggak nasionalisme dong.

Yah gimana lagi, daripada jika aku nanti ditanya bingung. Ya saya kasih saja suatu cara perhitungan yang memang dikenal dunia. Kalau SNI tadi khan hanya dikenal oleh Indonesia, bahkan saya yakin tidak semua konsultan / kontraktor Indonesia mengadopsinya. Kalau nggak percaya, coba lihat saja proyek-proyek energi atau infrastruktur yang melibatkan modal asing.

Yah begitulah kalau membuat code tanggung-tanggung. Di luar negeri seperti amerika, code dibuat bukan oleh suatu panitia Ad hoc, tetapi oleh suatu institusi yang memang mengkhususkan meneliti dan membahas materi dalam code tersebut. Jadi code dibuat berdasarkan hasil-hasil penelitian dan publikasi yang memang sudah terbukti.

Lha kalau yang di Indonesia ini khan nggak seperti itu. Masalahnya adalah, sudah tahu kita masih di bawah dari code lain yang memang telah menjadi rujukan internasional, tetapi masih saja kita ingin ‘beda’.

Ya jadinya emang beda.🙂

9 thoughts on “diskusi tentang code

  1. SALAM SEJAHTERA PAK..

    saya baru mengetahui situs ini..dan saya sangat tertarik…karena motivasi belajar saya jadi bertambah…

    saya mahasiswi semester 3 salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta..

    saya disini tidak ingin memberi komentar mengenai artikal diatas..

    tetapi saya ingin bertanya kepada Bapak..
    Apa Perbedaan Sendi,Jepit dan Roll dalam kenyataan yang ada di lapangan.?

    mohon dijawab ya Pak…saya masih perlu banyak belajar..

    Suka

  2. Artikel yang menarik, Pak Wir.

    Saya sendiri (bekerja di konsultan perencana), lebih dituntut untuk menguasai bermacam-macam code. Tidak jarang juga di beberapa pengumuman lowongan kerja khususnya bidang civil/structural engineering, perusahaan mensyaratkan calon karyawan setidaknya menguasai beberapa code yang dikenal luas.

    Menafsirkan code memang susah-susah gampang, pak. Lebih banyak susahnya dari pada gampangnya.. hehe, itupun kalo mau dibikin susah.🙂
    Sama susahnya ketika menerjemahkan kalimat sederhana “Ban mobil yang rusak”. Ada yang menafsirkan bannya yang rusak, ada yang bilang mobilnya yang rusak. Pertentangan itu akan terus ada sampai si penulis langsung memberikan konfirmasi apa maksud dari kalimat yang dia buat.

    Itulah sedikit keunggulan code luar dibanding code lokal kita. Karena tidak sulit buat kita untuk menemukan penjelasan yang valid dalam bentuk artikel, update, commentary, journal, atau sejenisnya yang memang dipublikasikan langsung oleh si pembuat code.

    Saya dukung Pak Wir untuk menjadi penterjemah code-code Indonesia (SNI)..🙂

    Suka

  3. Mengumpulkan tenaga ahli untuk membuat suatu buku code susah [semua sibuk dengan bisnisnya masing masing :D],
    adapun yang ada di indonesia sekarang buat code itu diproyek-kan, ATAU salah Perguruan Tinggi membuat code lalu dimuat karena komunikasi antar dosen yang mengupdate ilmunya terus dapat tersambung.

    Namun begitu jadi mau code, salah-salahan, jadi sampai berapa tahun masih jadi RSNI. Padahal code mestinya terupdate tiap beberapa tahun sekali.

    Saya harapkan para tenaga ahli kompak dan niat untuk membuat code indonesia, jika terjadi perselisihan gunakan ballot / vote.

    Kalau bisa dihadirkan komentar dan contoh sederhana untuk publikasi.

    Suka

  4. Membahas tentang code dan buku struktur baja, sebagai kuli sipil saya mempunyai buku andalan sendiri yang kemana mana harus sy bawa, yaitu catatan kuliah nya Ir Hannis Burhan.

    Catatan nya mungkin sudah di bukukan oleh penerbit . Walaupun buku lama dan mengadopsi peraturan lama dan masih dengan konsep tegangan ijin, Elastis. Sebelum mempelajari buku buku yang lebih advance, sy selalu membaca catatan dari Ir hannis Burhan sebagai rujukan . walaupun terlihat kuno untuk struktur baja mungkin saya masih pendukung ASD, berbeda dengan beton bertulang atau struktur komposit lainnya.

    Salam.

    Suka

  5. Saya setuju sekali dengan pak Wir mengenai pengajaran tentang falsafah atau filosofi persamaan.

    Kalau hanya menghitung saja semua orang pun sebenarnya bisa tetapi falsafah atau filosofi suatu persamaan atau hitungan itu harus dipahami , jadi kenapa harus menggunakan persamaan tersebut atau dari mana kok persamaannya bisa seperti itu ? Itulah yang harus dipelajari.

    Biasanya dosen-dosen saya dulu ngajarnya langsung masuk ke perhitungan, jadi tidak ada diajarkan mengenai filosofi perhitungannya, jadi mahasiswa harus belajar sendiri lagi untuk memahami filosofinya, sekarang SNI Beton 2002 kan ada penjelasannya tapi kadang-kadang penafsiran mengenai penjelasan tersebut kadang-kadang berbeda oleh tiap-tiap orang, sangat penting penjelasan mengenai SNI ini diberikan di kampus.

    Salut kepada pak Wiryanto

    Suka

  6. Masalah kode sebenarnya masalah konsistensi kita dalam merencanakan bangunan, code2 atau standar yang ada juga dibuat dari penelitian2 sesuai dengan kondisi di negara pembuat apakah di USA, Inggris atau Jepang..standard kita sendiri basenya dari standard2 internasional yang sudah ada dan sedikit modifikasi sesuai dengan kondisi di Indonesia..secara keseluruhan pakai standard apapun boleh, namun pertimbangan akhirnya dari cost construction, pengetahuan tentang standard lain juga mempunyai kelebihan dimana intinya adalah menunjukkan kesiapan kerja dimana saja sesuai code yang digunakan..

    menurut saya tidak perlu dipersamakan, mungkin jika negara ini mempunyai riset sendiri bisa membuat code yang benar2 sesuai dengan kondisi Indonesia dan diakui secara Internasional seperti halnya JIS.

    Suka

  7. halo pak wir.. saya sudah lama ga muncul di blog bapak. Mumpung pagi ini saya lagi ada waktu buka2 internet agak lama, saya mau menanggapi testimoni bapak soal code utk dunia sipil kita.

    Saya setuju banget bapak mengajarkan tidak hanya code Indonesia saja. Apalagi bapak juga menitik beratkan di code2 Amerika yg nota bene induk dr SNI2 kita sekarang. Rasanya mahasiswa skrg tidak boleh gaptek lagi sama code2 di luar negeri supaya di era FTA ini kita ga kalah bersaing dengan engineer luar. Saya sendiri yg sudah setahun lebih mengerjakan proyek2 di luar Indonesia merasa bahwa engineer2 kita kemampuannya ga kalah sm engineer luar asal mau terus belajar dan belajar.

    Yg dilakukan pak wir thd mahasiswa2 bapak mengenai code persis sama spt yg diingini pembimbing saya dulu. Akan tetapi susahnya org2 di Indonesia ini selalu bilang code kita sendiri saja sudah sulit dikuasai ini malah belajar code asing. Wow.. pikiran yg agak primitif saya kira (mohon maaf kalau ada yg tersinggung thd bhs saya “primitif”). Lha wong code Indonesia itu kn basicnya dr code2 asing. Maklum di Indonesia blm ada spare waktu dan uang untuk buat code sendiri. Sebenernya ini msh merupakan PR bwt para stake holder yg berkepentingan. Jadi sbny kalo kita sudah familiar dgn code2 asing maka sendirinya SNI pun mudah kita pelajari. Jadi mengingatkan saya swaktu nulis skripsi dulu. Dosen pembimbing saya selalu “mencekoki” saya dgn AISC, UBC, IBC, NEHRP, FEMA. Emang awalnya agak susah tapi krn selalu dibuka dan dibaca walaupun awalnya ga ngerti tapi ya lama kelamaan jadi familiar juga.

    Terakhir saya sih punya pertanyaan besar kenapa ya skrg code2 Amerika lebih populer dibandingan code Eropa? Apakah skrg krn kita “dijajah” Amerika? dulu wkt awal2 kita pny PBI krn msh berkiblat ke Eropa yg sblmnya kita “dijajah” Belanda,jadi PBI 71 mirip sm NEN Codenya Belanda..

    Terus yg kedua kenapa ya di SNI kita koq ga ada metode pendekatan dalam mendapatkan gaya2 momen utk menghitung kolom? atau kah saya yg msh blm menguasai SNI? as a comparation sm NEN Codenya Belanda ya pak wir, di sana itu ada perhitungan utk mendapatkan eksentrisitas (cukup kompleks tp aplikatif) guna mendapatkan momen di kolom yg bisa buat ngitung tulangan kolom. Kalau boleh jujur selama ini perhitungan gaya momen di Kolom yg sering dilakukan engineer kita diperoleh dr software. Pdhl kalau saya yg selalu diminta perhitungan manual sama atasan, saya jadi masih bingung gimana caranya utk mendapatkan M di kolom. Rasanya kalo bangunannya sederhana cuma 2/3 lantai dihitung menggunakan softwarenya CSI itu agak terlalu mahal deh.. hehehehe…

    Trims,
    Salam

    Suka

  8. Ping balik: baut mutu tinggi itu ternyata berbeda-beda, awas ! | The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s