mengintip negeri tirai bambu


Lima atau sepuluh tahun yang lalu, jika kita mendengar berita tentang negeri tirai bambu, China, maka pikiran kita tentu akan melayang jauh ke belakang, ingat akan peristiwa tahun 1989 di lapangan Tianamen. Itu lho tentang tragedi berdarah demontrasi mahasiswa melawan pemerintahnya, China,  ini ada artikelnya. Jika demikian, maka bayangan selanjutnya tentu akan mengarah kepada kondisi negeri ini sekitar tahun 1998, yang mana banyak mahasiswa-mahasiswa di sini juga turun ke jalan melakukan demontrasi juga.

Lain ladang lain belalang, jika di negeri ini, demontrasi mahasiswa diakibatkan oleh kondisi pemerintahan yang amburadul, yang berdampak pada ekonomi, ternyata tidak demikian dengan negeri China. Mula-mula memang diasumsikan bahwa itu semua diakibatkan oleh kondisi yang sama, yang terjadi juga di negeri ini, tetapi kalau melihat kemajuan negeri tersebut saat ini, yang ternyata sangat berbeda, sangat maju, maka itu tentunya tidak akan terjadi jika pemerintahnya amburadul. Apalagi sekarang banyak bukti-bukti mendukung, seperti misalnya ketika China sukses menyelenggarakan Olympiade, yang bahkan mendapat apreasiasi positip dari banyak negara lain.

Bahwa negeri China maju, kadang-kadang kita sendiri masih belum bisa menerimanya. Banyak alasan yang digunakan untuk menganulir, seperti misalnya “China khan negeri komunis, tidak mengenal Tuhan”. Buktinya motor China khan begitu, amburadul. Juga banyak terdengar produk-produk China yang menakutkan, ingat nggak tentang “susu ber-melamin”, dan banyak juga lain. Intinya masih juga juga meragukan, China mestinya identik seperti produknya yang dijumpai di sini, yaitu murahan (tidak bermutu).

Tetapi apakah demikian kondisinya.

Awalnya memang penulis akan berpikiran seperti itu. Juga meragukan. Tetapi kemudian banyak dijumpai fakta bahwa produk China ternyata juga mulai mendominasi di bidang konstruksi. Bidang yang mayoritas menjadi pengamatan penulis. Untuk itu, penulis jadi ingat dan agak kaget ketika mengetahui bahwa sistem prestressed untuk jembatan Cable Stayed Grand Wisata ternyata tidak memakai produk VSL atau Freyssinet atau produk barat semacamnya, ternyata jembatan tersebut memakai sistem prestressed dari China. Lebih murah !

Hebat juga, bayangkan, system VSL atau system Freyssinet adalah suatu produk yang dilindungi oleh patent, jika demikian maka sistem dari China tentu perlu berbeda, yang mestinya hasil dari pengembangannya sendiri. Berarti negeri tersebut kaya akan inovasi .

Tetapi jembatan Grand Wisata adalah relatif pendek untuk suatu jembatan cabled stayed, sehingga itu bisa menjadi suatu alasan mengapa perencananya berani memakai produk China. Tidak beresiko !

Adanya alasan di atas, yang digunakan untuk meragukan produk tersebut mulai tertepis, yaitu dengan keberhasilan dibangun dan diresmikannya jembatan cabled-stayed terpanjang di Indonesia saat ini, yaitu jembatan Suramadu, di Jawa timur. Bahkan untuk Jembatan Suramadu, tidak hanya sistem cable prestressed-nya saja yang digunakan, tetapi bahkan kontraktor dari China juga yang mengerjakannya.

Kalau begitu, pasti China mempunyai suatu keunggulan, sehingga terus menerus dapat tetap eksis ditemui di mana-mana. Pasti tidak hanya sekedar faktor murah.

Kecuali fakta yang dijumpai secara awam, di kancah intelektual yaitu melalui materi-materi seminar teknik, seperti yang tempo hari diselenggarakan oleh UI di hotel Borobudur Jakarta, dapat ditunjukkan bahwa China cukup mumpuni untuk membuat jembatan-jembatan bentang besar, yang bahkan lebih besar dari jembatan Suramadu yang baru saja dibangun di sini.

Dr. FX Supartono, salah satu pakar jembatan di Indonesia, dalam salah satu sesi di seminar tersebut, juga diketahui telah memanfaatkan kemajuan teknologi China dalam pembangunan jembatan Melak di P. Kalimantan, yaitu melakukan uji terowongan angin model jembatannya tersebut di negeri tirai bambu.

Waktu telah berlalu cukup lama sejak memahami keunggulan teknologi China di bangunan jembatan. Selanjutnya penulis menjumpai pula bahwa China juga telah merambah pada proyek-proyek energi di negeri ini. Dan karena itu pula, secara tidak disangka-sangka penulis mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat negeri tersebut, yaitu dengan mengunjungi kota Chengdu, di propinsi Sichuan, China bagian barat.

Itulah untungnya mempunyai kaki yang tidak hanya menginjak dunia akademisi saja. Maklum, dunia praktisi dan dunia akademisi bagi penulis tidak dibedakan, jadi selama waktunya ok, dan masih disekitar kompetisi yang ditekuninya, maka hayo. Ok, ok, saja. Maklum motivasinya sih agar terjadi link-and-match, agar nanti murid-muridnya yang diajar, tidak hanya mendapat cerita tentang teori-teorinya saja, tetapi juga aplikasi praktisnya. Sedangkan bagi teman-teman praktisinya, harapanya bahwa apa yang disampaikan ada dasar teori yang  dapat dipertanggung-jawabkan. Itu khan win-win solution bukan.

Dengan itu semua maka maunya sih tidak hanya ingin disebut sebagai dosen, atau staf pengajar saja, tetapi agar benar-benar dapat disebut sebagai GURU (the master).

Tawaran untuk ke negeri tirai bambu memang mendadak, dari teman lama yang saat ini telah mandiri mengelola biro konsultan engineering-nya. Dasar tawaran tersebut adalah sederhana yaitu kepercayaan, baik kepercayaan selaku pribadi (teman) juga kepercayaan terhadap kompetensi yang aku miliki. Ini adalah suatu bukti adanya prinsip ‘tabur dan tuai’.

Dari bandara Sukarno-Hatta, terminal 2, berangkat hari Kamis seminggu yang lalu memakai pesawat China Southern, menuju Chengdu via Guangzhou. Kondisi pesawatnya cukup bagus, Jakarta-Guangzhou ditempuh sekitar 5 jam 10 min. Di bandara Guangzhou menunggu terlebih dahulu sekitar 3 jam untuk kemudian melanjutkan kembali penerbangan ke Chengdu. Oleh karena itu sempat juga berkeliaran di bandara tersebut, yang ternyata lebih megah dibanding bandara kita.😦

Selasar Menuju Sayap utama Bandara Guangzhou

Selasar menuju bangunan utama dari bandara Guangzhou, perhatikan profil-profil baja yang digunakan, kelihatannya hanya untuk unjuk arsitektural saja. Ini lho kekayaan negeri China ini.

Bandara Guangzhou - sayap kanan tampak dari bagian Check-in

Foto di atas diambil dari bagian Check-in untuk penerbangan lanjutan ke Chengdu. Itu yang nampak belum keseluruhan lho, itu baru sayap kanan, yang terpisah oleh selasar tinggi dengan bagian sayap kirinya. Silahkan klik untuk melihat secara zoom lebih besar. Sangat megah sekali.

Bandara Guangzhou - Selasar utama tengah pemisah sayap kanan dan kiri

Bandingkan ukuran orang dengan pilar penyangga selasar, itu yang saya maksud sebagai megeh. Setuju. Kapan negeri kita ini punya bandara seperti itu. Bisa enggak ?

Ya pasti bisa, itu kalau pemerintah kita baik, maka jika dana hilang sebesar 6.5 trilyun dari Century itu dapat diusahakan lagi, khan bisa jadi seperti ini. China negeri komunis saja bisa koq kita negeri yang mengakui keberadaan Tuhan tidak bisa. Apa nggak malu itu. Padahal selalu digembar-gemborkan negeri kita ini negeri impian, penuh susu dan madu. Apa ya buktinya.

Bandara Guangzhou - Lapis bawah bandara

Ternyata yang nampak megah tadi baru lapis atas dari bandara Guangzhou, pada bagian lain terlihat bahwa masih ada basement dua lantai di bawahnya. Terus terang kami tidak masuk ke lapis bawah, gambar foto di atas diambil dari lantai dasar. Perhatikan masih ada juga pertokoan di lantai basement tersebut. Itu mungkin bagian kedatangan atau exit, seperti terminat 2 Sukarno-Hatta bagi penumpang yang baru datang. Jadi bagi yang akan berangkat naik dibagian lantai atas, sedangkan yang kedatangan dan keluar ke kota maka lewat bawah.

Akhirnya waktu transit hampir tiba, waktunya untuk berangkat ke Chengdu.

Boarding Pass : Guangzhou - Chengdu

Boarding pass Jakarta – Guangzhou dan Guangzhou – Chengdu didapatkan sekaligus ketika berangkat dari bandara Sukarno Hatta, tetapi bagasi tidak secara otomatis dipindahkan oleh maskapai penerbangan tersebut. Jadi ketika tiba di bandara Guangzhou maka langkah pertama adalah mengambil bagasi dari pesawat Jakarta – Guangzhou. Selanjutnya dengan membawa bagasi secara manual berpindah tempat dari bagian kedatangan ke bagian keberangkatan untuk check ini kembali. Jadi intinya tidak ada jadwal keberangkatan langsung dari Jakarta ke Chengdu, tetapi memang dua kali perjalanan secara seri: Jakarta – Guangzhou dan Guangzhuo – Chengdu. Untung ada selisih perbedaan sekitar tiga jam dari kedua perjalanan tersebut. Kalau tidak, maka bisa-bisa tertinggal.

China Southern Airlines : Guangzhou - Chengdu

Brosur Keselamatan China Southern Airlines

Naik pesawat China Southern Airlines ternyata berbeda dibandingkan ketika perjalanan ke Malaysia dengan pesawat Air Asia. Pada pesawat China ini, makanan diberikan secara penuh, untung itu, coba bayangkan jika selama 5 jam perjalanan dari Jakarta – Guangzhou nggak ada makanan atau minuman, wah bisa masuk angin itu.

Makanannya juga cocok di lidah orang melayu. Ada dua pilihan yang diberikan yaitu noddle dan rice, tentu saja saya memilih rice. Maklum, perut orang udik, rasanya tidak mantap kalau belum makan nasi.🙂

Menu China Southern Airline : Guangzhou - Chengdu

Lauknya adalah ikan, bagus lho nggak ada durinya. Menunya juga bervariasi, menu di atas adalah dari Guangzhou – Chengdu, dan ketika kembali yaitu dari Chendu – Guangzhou, menunya diganti, nggak pakai ikan tetapi daging. Tapi lumayanlah, kedua-duanya cukup baik. Enak begitu.

di dalam pesawat Airbus

Pesawatnya juga cukup lega, ketika di perjalanan ada LCD video di atas kursi yang bisa turun. Kecil sih, tapi LCD tersebut cukup jernih untuk dilihat oleh penumpang di kursi belakangnya. Film-nya Wolverine. O ya, earphone-nya pakai kabel khusus yang disambung di kursi penumpang. Jadinya suaranya nggak mengganggu bagi yang tidak fokus pada LCD tersebut, tetapi karena pakai earphone maka suaranya jadi nggak terlalu jelas. Yah, daripada tidak.🙂

Akhirnya baru malam hari sampai kota Chengdu, perjalanan dari Guangchou memerlukan waktu sekitar 2 jam 15 menit. Di kota tersebut, kami dijemput oleh rekan kerja teman kami, itu enaknya kalau ikut perjalanan dinas. Menginapnya di Hotel Holiday Inn – Century City Chengdu, hotel bintang lima yang bagus.

Hotel Holiday Inn Century City Chengdu : pagi menjelang berangkat meeting

Dari hotel ke gedung tempat meeting relatif dekat sehingga cukup berjalan kaki. Ternyata tidak jauh dari hotel ada taman kota yang cukup menarik, ada kolam lengkap dengan air mancurnya.

taman dengan kolam dekat hotel Holiday Inn

Bangunan kaca di sebelah kanan adalah bangunan hotel Holiday Inn, cukup asri juga. Antara hotel tempat kami menginap sampai gedung tempat meeting diadakan jaraknya sekitar 1 km, cukup dekat. Kecuali taman di atas, di sebelahnya juga ada gedung yang fungsinya seperti untuk ruang pamer raksasa, yah seperti di lapangan parkir senayan itu. Ini yang kumaksud.

gedung ruang pamer / bazar / pertemuan raksasa

Pertemuan yang dilakukan adalah semacam proses transfer teknologi, sekaligus optimasi hasil rancangan. Engineer-engineer disana bisa dikatakan lebih mandiri, bagaimana tidak, program yang digunakan untuk analisis dan desain struktur adalah program buatan negeri China sendiri. Jelas ini menguntungkan mereka, karena engineer dari indo tentu saja tidak bisa membaca huruf-huruf Cina yang digunakan pada software tersebut.

Program analisis-desain struktur yang mereka gunakan namanya PKPM, pengoperasiannya memakai bahasa China, lengkap dengan hurufnya yang unik tersebut. Jadi kitanya hanya bengong, manut-manut saja.  Meskipun saya cukup familier dengan program-program serupa, tetapi melihat cara mereka mengoperasikannya saya cukup kagum. Bagaimana tidak, pada satu sesi halaman layar seperti sedang mengoperasikan program AutoCAD (pakai bahasa cina lagi, jadi nggak tahu AutoCAD atau program PKPM tersebut), selanjutnya dengan sekali klik, layar berpindah seperti sedang mengoperasikan SAP2000. Sewaktu mengubah data, section properti yang ditampilkan cukup menarik, persis seperti penampang 3D. Selanjutnya dengan beberapa kali klik, mereka dapat mengambil kesimpulan jumlah kg/m2 baja yang digunakan pada proyek tersebut. Terus terang hebat, SAP2000 ver 11 kalah.

Tapi untung mereka cukup kooperatif, beberapa usulan dari kita, engineer indo, dapat dipertimbangkan, sekaligus di check ulang pakai program mereka. Maklum program mereka lebih meyakinkan.🙂

Kebetulan pada saat rapat, ada waktu luang, sehingga WIFI pada notebook dapat diaktifkan. Ada sambungan internetnya lho, tetapi sayang meskipun Google bisa diakses, tetapi Facebook dan WordPress tidak bisa diakses. O ini yang dimaksud dengan kebebasan informasi di negeri tirai bambu terbatas.

He, he, masih enak di Indonesia bukan. Semua dapat terakses, informasi mengenai surga maupun neraka.🙂

gedung tempat meeting

Gedung ini bentuknya unik, dibuat dari struktur baja, bahkan didalamnya terlihat struktur bracing. Tempo hari (2008)  ketika ada gempa di China, maka kota Chendu ini adalah lokasi yang paling dekat karena masih sama propinsinya, yaitu Sichuan. Lihat informasi gempa tersebut di Wiki. Berarti gedung ini sudah terbukti tahan gempa.

Akhirnya ada waktu untuk jalan-jalan ke alun-alun kota Chengdu. Ini beberapa dokumentasi yang dapat aku abadikan.

dengan latar belakang museum sain dan teknologi Sichuan

museum sain dan teknologi Sichuan dari dekat

Alat transportasi massal di Chengdu

apartemen di kota Chengdu

Sebagian besar rumah penduduk yang dijumpai adalah berbentuk apartemen bertingkat, gambar di atas diambil dari mobil, dari jauh. Sedangkan apartemen di bagian bawah difoto dari dekat ketika jalan pulang ke hotel.

Apartemen-apartemen di dekat hotel Holiday Inn

Pada hari Sabtu sempat jalan-jalan ke pasar barunya kota Chengdu, Shenshen Road (moga-moga nggak salah, karena hanya mengandalkan kuping, hurufnya sih nggak bisa baca).

jembatan pejalan kaki di pusat keramaian kota Chengdu

Pejalan kaki di sana dimanjakan, meskipun belum ada kereta api bawah tanah, dan masih mengandalkan transportasi bus dan taxi, tetapi tidak terlihat kemacetan di kota tersebut.

typical masyarakat di kota Chengdu, seperti di Eropa

Jangan harap melihat pakaian tradisionil China seperti yang umum terlihat di film-film, mungkin karena waktu itu adalah musim dingin jadi baju-bajunya mirip yang di barat.

mal tingkat menengah, yang mirip mangga-dua ramainya

Ini mal ramai sekali, saya sebut tingkat menengah karena ternyata ada mal yang lain yang relatif lebih sepi, tetapi lebih mewah, mungkin barang yang dipajang lebih murah, jadi mirip seperti mangga dua mal begitu.

Tapi jangan dibayangkan ribetnya seperti mangga dua mal yang hanya dipenuhi oleh barang jualan, di sekitar keramaian tersebut ternyata disediakan juga tempat terbuka, semacam taman seperti ini misalnya.

Patung di sekitar keramaian toko

Coba lihat, mana ada ruang terbuka seperti di atas di mangga dua mal. Jadi tidak hanya melulu bisnis, ada unsur keindahan alami yang ditawarkan. Jadi pada seniman diberi ruang untuk berekspresi, kecuali di atas ada juga patung-patung yang sifatnya fun.

patung-patung jalanan

Coba patung seperti di atas ditempatkan di Jakarta, pasti sudah tercoret-moret penuh dengan grafiti. Ini menunjukkan bahwa penduduk disana lebih ‘tertib’. Eh, yang paling kiri itu juga patung lho.

Pada saat balik ke Jakarta memakai pesawat yang pagi sehingga berkesempatan melihat-lihat bandara Chengdu yang ternyata cukup megah juga. Meskipun demikian kesannya relatif lebih kecil dibanding bandara Guangzhou.

Bandara Chengdu - bagian depan

Ini bagian depan dari bandara Chengdu, bagian pemberangkatan, untuk kedatangan maka seperti halnya bandara Sukarno-Hatta, yaitu di bagian bawah.

Bandara Chengdu, Sichuan, China

Bandara Chengdu - selasar menuju boarding pesawat

Yah, begitulah beberapa kenangan mengintip negeri tirai bambu, tempat saudara tua kita berada. Kesimpulan awal yang dapat disampaikan adalah

di atas langit ternyata masih ada langit, masih banyak yang harus dipelajari untuk menjadi the master.🙂

15 thoughts on “mengintip negeri tirai bambu

  1. sebenarnya mumpung punya kesempatan di sana, njenengan bisa lebih mengeksplorasi fakta-fakta yang selama ini cuma disampaikan ke kita lewat media mainstream. siapa tahu banyak bedanya hehe. eh iya, komunisme itu sejatinya merujuk pada masyarakat tanpa kelas loh, kalo yang tanpa tuhan itu atheisme😀

    Suka

    • komunisme itu sejatinya merujuk pada masyarakat tanpa kelas loh

      Mungkin benar juga mas Jukri, maklum membaca buku-buku politiknya belum banyak. Meskipun demikian pernyataan saya di atas didasari fakta empiris hasil bincang-bincang dengan salah satu engineer dari Chengdu ketika ditanyain siapa Tuhan-nya. Si engineer tersebut dengan jelas menjawab, tidak ada Tuhan, kalaupun ada orang yang ditakuti / dihormati yang paling tinggi, maka itu adalah presiden-nya.

      Gitu lho fakta empirisnya, jadi deskripsi yang mas sampaikan bisa-bisa perlu di up-dated.🙂

      Suka

  2. jadi kemarin saya cuma meluruskan definisi saja bukan deskripsi, kan njenengan yang ke sana🙂 mungkin bisa sekalian membuktikan ucapan dosen saya tentang populasi nasrani dan muslim yang ditutup-tutupi datanya oleh pemerintah.

    Suka

    • tentang populasi nasrani dan muslim yang ditutup-tutupi

      Yah, yah, . . . bahkan hal itu tidak terpikirkan oleh saya sekalipun ketika disana. Apakah itu suatu hal yang penting, sesuatu hal yang signifikan.

      Masalahnya adalah kita ini khan aslinya dari Indonesia, suatu negara yang bahkan bisa dikatakan 100% beragama, mengenal atau bahkan takut pada Tuhan. Tetapi nyatanya itu tidak berbanding lurus dengan keadilan yang ada, kaya dan miskin semakin jauh jaraknya, korupsi meraja-lela. Agama atau beragama hanya dijadikan tameng untuk menunjukkan bahwa orang tersebut ‘suci’. Jadi terus terang saya sungkan memikirkan hal tadi di atas di negeri tersebut.

      Jadi yang dipikirkan, apa yang mendasari mereka (China) seperti itu, lebih maju, meskipun mereka tidak mengenal Tuhan.🙂

      Suka

  3. hmm anda seakan mengesampingkan sejarah ribuan tahun cina dengan berbagai ajarannya, dan terlalu terpaku pada atheisme yang baru beberapa dekade muncul.

    Dari yang saya pelajari, filosofi yang menggerakan bangsa cina di mainland maupun perantauan banyak berkisar pada konfusianisme, tapi berhubung saya belum pernah ke mainlandnya mungkin njenengan bisa share lebih banyak tentang etos kerja mereka juga.

    Suka

  4. Ping balik: diskusi tentang code « The works of Wiryanto Dewobroto

  5. Agama atau beragama hanya dijadikan tameng untuk menunjukkan bahwa orang tersebut ’suci’

    wah, dari yang dulu saya baca pak wir ini orangnya cukup religius, semoga tidak terpengaruh dengan mewahnya gemerlap dunia di negeri tanpa Tuhan tadi..

    tapi tulisannya bagus Pak, bisa nandingin foto-foto dari kaskus tadi.. ^^

    Suka

  6. Lumayan bagus pak, info & foto-fotonya.

    Kalau bapak bilang di atas pengalaman bapak naik pesawat China Southern lebih baik daripada dengan Air Asia, itu sih perbandingan yang nggak apple to apple pak, ya pada umumnya sih “Rego nggowo rupo”. Seperti membandingkan Garuda dengan Lion Air aja. Jelas-jelas Air Asia pesawat murah meriah dengan fasilitas yang “seadanya”, coba bandingkan dengan Singapore air, Silk Air,Cathay pacific dll yg sekelas dengan China Southern, pasti lain ceritanya.

    Peaceee…..pak.

    Suka

  7. Ping balik: perlunya berprestasi « The works of Wiryanto Dewobroto

  8. info nya bagus sekali pak. photo-photonya juga bagus-bagus. dapat memberikan gambaran mengenai china

    Salam 108CSR, your CSR development partnet. Corporate Social Responsibility

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s