kekerabatan, silaturahmi = mudik


<< Jumat 18 Sept. 2009 pk 17:24>>

Pagi tadi masih saja berangkat kerja ke kampus , maklum belum libur. Jumat ini adalah hari terakhir, jadi liburannya baru setelah hari lebaran dan dilanjutkan sampai Senin depannya lagi.

Karena mengetahui hari ini sudah banyak yang mengambil cuti, maka berangkatnya tidak seperti biasanya, pagi ini agak siang, pukul 6.00.  Meskipun demikian, jalan dari arah Kalimalang ke tol Jatibening relatif lancar, disepanjang jalan tersebut banyak berpapasan dengan rombongan pengendara sepeda motor menuju ke arah timur. Kondisi itu tentu berbeda dari yang biasanya, yang biasanya seperti pacuan motor di jalan Kalimalang menunju ke arah barat, Jakarta. Itulah hari-hari menjelang lebaran, suasana mudik sudah terasa.

Ya mudik, mungkin bagi penduduk asli Jakarta, yang tidak pernah merantau maka tentu tidak bisa membayangkan, apa menariknya dengan mudik seperti itu. Ramai-ramai berbondong-bondong memenuhi jalan. MACET !

Meskipun berita tentang MACET tersebut diberitakan bertubi-tubi di radio Sonora, yang kudengar selama perjalanan pulang-pergi dari kampus ke rumah, di setiap tahun-tahun menjelang hari lebaran, tetapi magnet MUDIK tetap tidak membuat bosan banyak orang, termasuk aku dan keluargaku. Nanti malam aku gantian yang akan mudik.

Kadang-kadang dalam hati kecilku timbul pertanyaan, mengapa sih koq masih ingin pada mudik. Itu khan jelas-jelas memerlukan ekstra tenaga, waktu, dan finansial. Semangat apa yang menggerakkan hal tersebut. Bayangkan itu sifatnya massal lho.

Dari dua pertanyaan tersebut saya ingin mencoba mengungkap, alasan-alasan yang mungkin digunakan para pemudik tersebut. Terus terang saya tidak melakukan pengamatan langsung ke subyeknya, saya mencoba memakai ilmu titen, menangkap fenomena secara indera dan merenungkan di hati untuk diperoleh argumentasi yang nalar dan logi. Jadi kalau menurut anda ada yang tidak cocok mohon dievaluasi, siapa tahu ini dapat menjadi sumber penelitian lebih lanjut.🙂

** Sektor informal ** ,  seperti pedagang kaki lima, tukang parkir, pekerja bangunan, pembantu di ibukota.

Biasanya mereka tinggal di jakarta bukan di tempat tinggal miliknya sendiri, orang-orang ini bisa membawa keluarga tetapi bisa juga sendirian. Jakarta hanya dipandang sebagai tempat mencari kerja, mengumpulkan uang.  Mudik bagi mereka bisa macam-macam, misalnya :

  1. Sebagai sarana melepaskan diri dari rutinitas kerja, karena kalau mereka minta ijin meninggalkan kerja menjelang lebaran maka itu adalah suatu hal yang wajar. Ingat, bahkan itu ditunjang oleh pemerintah yaitu dengan adanya THR.
  2. Bagi pemilik usaha sendiri, karena adanya kewajaran para pekerja mengambil cuti tersebut menyebabkan bisa-bisa hampir pekerjanya semuanya cuti. Jadi dari pada pekerjaannya kocar-kacir maka lebih baik diliburkan saja. Kondisi ini dapat menyebabkan, para pekerja lain yang mungkin tidak punya rencana cuti jadi terpaksa mengambil cuti (liburan bersama). Karena mereka pada umumnya tidak punya rumah sendirim, hanya menyewa atau kontrak, maka daripada sepi lebih baik juga ikut mudik. Itu juga dimungkinkan karena pada masa-masa ini angkutan mudik banyak ditawarkan. Ini tadi pagi aku lihat truk militer bermuatan penuh orang-orang di jalan tol.
  3. Kadang-kadang ada orang yang berpikiran bahwa saat-saat mudik ini adalah saat yang tepat untuk aktualisasi diri. Setelah bekerja kerja setahun penuh, setelah punya tabungan, maka adanya waktu khusus dimana orang-orang yang dikenal dikampung pada berkumpul adalah saat yang tepat untuk tampil, untuk dapat diketahui oleh orang banyak di kampungnya  bahwa dia telah sukses merantau.
  4. Adanya kesempatan orang berkumpul bersama disuatu tempat menyebabkan situasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk saling bersilaturahmi, menjalin kembali jaringan pertemanan yang ada. Rasanya faktor ini yang menyebabkan orang ingin datang tepat pada saat lebaran saja, kalau seminggunya lagi rasanya sudah tidak afdol lagi karena sudah sepi.🙂
  5. Bagi para pekerja sektor informal yang sukses, maka acara mudik juga dapat digunakan sebagai sarana mencari tenaga kerja baru yang membantuk usahanya. Kondisi ini yang menyebabkan pemerintah  mengadakan operasi yustisi yaitu rasia ktp penduduk.🙂

Bagi penduduk jakarta yang pendatang, yang bekerja pada sektor formal maka tentu sedikit berbeda. Mereka sebenarnya mempunyai kebebasan yang relatif lebih besar untuk memilih waktu mudik. Bahkan bisa dikatakan setiap libur nasional. Tetapi mengapa mereka juga ikut berbondong-bondong mudik. Hal-hal yang menyebabkan bisa saja seperti ini kondisinya :

  1. Kesempatan untuk dapat berkumpul bersama (silaturahmi) dengan kerabat dan juga teman-teman lama. Saya kira ini suatu alasan yang universal bagi para pemudik. Ini juga bisa digabung dengan motivasi untuk aktualisasi diri, PAMER.🙂
  2. Karena terpaksa, jika keluarga maka biasanya karena ditinggal bibi-nya, maka daripada repot lebih baik juga turut mudik. Ini juga berlaku bagi pekerja formal yang masih bujang, atau yang keluarganya di daerah. Suasana menjelang lebaran khan sepi di Jakarta. Dari pada sendirian maka lebih baik kumpul keluarga di daerah.

Dari berbagai alasan-alasan yang dapat diajukan di atas, ada benang merah satu sama lain, yaitu mudik adalah untuk kepentingan menjalin tali silaturahmi antar teman dan kerabat. Kata kerabat itu menjadi kata kunci, jadi kalau hanya alasan menjaga tali silaturahmi antar teman maka rasanya tidak perlu harus sampai mudik segala. Pernyataan ini tentu saja kesimpulanku pribadi, tapi coba pikirkan emangnya ada orang mudik secara khusus tiap tahun ke tempat yang tidak ada saudaranya.

Kerabat di sini adalah yang berkaitan dengan tali persaudaraan berdasarkan keluarga, adanya hubungan darah, yang mana itu semua diawali dengan adanya perkawinan.

Jadi mudik adalah suatu bukti bahwa masyarakat yang melakukan mudik tersebut mencoba menghormati hasil suatu perkawinan, yaitu keluarga besarnya. Jadi disitu juga terlihat bahwa perkawinan adalah sesuatu yang sifatnya jangka panjang, tidak sesaat. Perkawinan menjadi suatu upaya melestarikan keturunan, dimanan selanjutnya keturunannya tersebut dapat meneruskan ide-ide idealnya.

Jika keluarga besar di daerah penting, dan cenderung orang-orang pelaku mudik tesebut mencoba mempertahankan, tetapi mengapa mereka pada berbondong-bondong ke ibukota. Hayo apa hayo ?

Itu khan upaya mereka untuk meraih cita-cita, meningkatkan kesejahteraan dengan mengumpulkan materi, meningkatkan pengetahuan, pengaruh dsb-nya.

Ingat hidup itu khan memperjuangkan CITA dan CINTA bukan. Cita ditunjukkan oleh karir, pangkat, gaji, sedangkan cinta ditunjukkan oleh keluarga, anak dan kekerabatan. Jadi mudik juga dapat dikatakan sebagai usaha untuk menyeimbangkan keduanya tersebut. Jadi jangan anggap remeh hal tersebut, karena secara rohani itu penting maka itulah alasan utama mereka mau mengorbankan tenaga, waktu dan biaya.

Lho mereka pak Wir , emangnya bapak tidak termasuk yang ikut juga ya ?

He, he, lupa, nanti pukul 2.00 pagi aku juga akan berangkat mudik. Ini sudah jam 19.00 malam. Udah dulu ya ulasanku tentang mudik tersebut.

<< Minggu 27 Sept. 2009 >>

Tidak terasa sudah balik lagi ke Jakarta. Ternyata rencanaku tempo hari untuk berangkat malam Sabtu itu diundur. Alasannya adalah karena pada hari itu, dari berita radio Sonora dan El Shinta, jalan-jalan macet luar biasa, khususnya di jalur Pantura dan jalur Nagrek. Akhirnya pulangnya jadi malam Minggu, yaitu di malam takbiran. Asumsinya adalah bahwa orang-orang mudik, bermacet-macet ria adalah untuk mengejar agar dapat bersholat IED di udik.

Ternyata betul, ketika malam takbiran pukul 2.00 pagi berangkat, jalan-jalan lenggang. Perjalanan Bekasi ke Bandung kurang dari 2 jam, jadi tiba di pintu tol Cilenyi sekitar pukul 3 lebih sedikit. Pintu tol yang dibuka saja hanya dua, satu kosong. Bayangkan, sehari sebelumnya diberitakan bahwa panjang antrian di pintu tol tersebut katanya sampai 11 km, tapi sekarang kosong ludes. Akhirnya perjalanan berlangsung lancar, sampai Banjar menjelang sholat Ied, jadi diperjalanan harus hati-hati. Selepas perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah, matahari mulai bersinar terang, jalan-jalan mulai ramai oleh lalu lintas setempat.

Kerugian berangkat mudik menjelang malam takbiran adalah restoran-restoran di pinggir jalan banyak yang tutup, juga pom bensin yaitu ketika mereka semua pada shoat ied. Jadi untuk itu perut dan tangki bensin kendaran perlu dipersiapkan dengan baik. O ya, ini ada info baik, dengan pulang mudik pakai kendaraan sendiri itu hemat banyak lho. Bayangkan untuk beli bensin hanya habis sekitar Rp 70 ribu x 2 kali, jadi total sekitar Rp 140 ribu. Itu untuk satu kali perjalanan dari Bekasi ke Jogja. Mobilnya Avanza, wah memang irit sekali .🙂

Sampai jogya sekitar pukul 13.00, yaitu sekitar 11 jam, itu sudah termasuk istirahat makan pagi / siang. Jadi mudik tahun ini berlangsung lancar, tidak mengenal macet seperti yang diberitakan oleh radio-radio atau surat kabar.

Di Jogyakarta, banyak yang dilihat dan mestinya banyak pula yang dapat diceritakan, tapi untuk itu ada baiknya di artikel terpisah saja. Ok !

Akhirnya pulangnya dipilih hari Sabtu, dari Jogja berangkatnya digunakan strategi yang sama pula seperti waktu dari Bekasi, yaitu pagi-pagi sekali. Pukul 24.00 tengah malam sudah bangun, dan akhirnya dapat berangkat tepat pukul 2.00 dini hari. Alasannya, adalah tahun kemarin yaitu berangkat pagi hari pukul 9.00 ternyata macetnya hanya sekitar Kutoarjo-Purwokerta. Waktu itu sampai purwokerto saja bisa pukul 15.00 sore. Jadi dengan digeser maka dapat dihindari keramean lalu-lintas lokal. Dan ternyata perkiraan tersebut betul, dengan berangkat pagi hari maka di perjalanan hanya kendaran-kendaran yang balik ke Jakarta atau Bandung. Perjalanan lancar, sampai Purwokerto pukul 6.00 pagi, lancar. O ya, saya kalau balik selalu pakai jalur selatan Jogja – Purwokerto, lalu ke utara ke arah Tegal / Cirebon, kemudian lewat Jalur Pantura. Saya menghindari jalur Nagrek karena menanjak.

Tahun ini ada yang menarik, jalur tol baru di cirebon sebagian telah difungsikan, perjalanan tersendat sedikit di Ciasem, setelah itu lancar. Jogja – Jakarta lewat utara ditempuh juga sekitar 11 jam, santai.

Itu sedikit catatan mudik tahun ini. Lancar habis.🙂

5 thoughts on “kekerabatan, silaturahmi = mudik

  1. Mas Wir, boleh minta pertolongannya? tapi hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan dunia teknik yang biasanya mas Wir bawakan. Bisakah saya minta link yang berisi lagu2 gregorian seprti ave Maria dsb nya dalam bentuk Mpeg3 agar dapat saya download secara gratis? Thanks.

    Suka

  2. Ping balik: orang Jogja dan negeri Malaysia « The works of Wiryanto Dewobroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s